Langsung ke konten utama

Waktu Pun Berhenti

Sutan Iwan Soekri Munaf
http://republika.co.id/

Waktu pun berhenti di sini. Jendela masih terbuka. Angin semilir menjalar dari luar, membawa aroma daun basah bekas gerimis. Iwan masih terpaku. Pikirannya mengembara ke masa itu, ketika dia bersilang tatap dengan Tisna dari jendela ini. Gadis bermata bundar itu pun menundukkan kepalanya.

Hati Iwan tersirap. Adik kelasnya, yang tinggal beberapa rumah dari kediaman Iwan itu, sedang menuju surau untuk shalat Magrib. Itu bukan kali pertama pertemuannya dengan Tisna. Setiap pertemuan pun tak ada perasaan begitu. Namun, silang tatap dari jendela kamarnya ini menimbulkan getar tersendiri."Terlalu cepat ke surau, Magrib masih setengah jam lagi," ujar Iwan sambil bangkit dari kursinya dan bergerak menuju jendela.

Tisna diam. Kepalanya menunduk, seperti tak kuasa ditengadahkannya."Aku menyusul. Aku akan mandi dulu," kata Iwan sambil menutup jendela.Tisna masih diam. Dia melangkah menuju surau. Langkah itu tak luput dari tatapan Iwan. Sehilang tubuh Tisna dari tatapannya, bersegeralah Iwan mandi dan menuju surau.

Semenjak silang tatap itu, perasaan Iwan tak nyaman jika dia tak bertemu dengan Tisna sekali saja dalam sehari. Seringkali Iwan sengaja melewati ruang kelas Tisna saat istirahat, dan biasanya Tisna sedang duduk di undakan tangga depan kelasnya, bersama beberapa siswi sekelasnya.Begitu bola mata mereka bertatapan, denyar darah Iwan bergelora. Namun, tak sepatah kata pun terucapkan, selain senyum di bibirnya. Begitu juga Tisna.

Namun, akibat gelora perasaannya itu pulalah, kemudian sikap Iwan menjadi gunjingan kawannya satu sekolah. Bahkan Oyong, kakak Tisna, sempat mendatangi Iwan."Jangan kau ganggu adikku," kata Oyong pada Iwan.Suatu sore, selepas kelulusan diumumkan, Iwan mengayuh sepedanya ke pantai. Dia ingin menikmati senja terindah dari kampung halamannya, sebelum merantau.Ketika Iwan menikmati saat mentari tergelincir di pantai, tiba-tiba Tisna menghampirinya.

Debur ombak yang berkejaran dan menghempas di pantai itu, seakan menjadi dirigen denyut jantungnya, sehingga denyar darah di aortanya semakin kencang."Aku tahu kau akan ke sini," kata Tisna seraya duduk di pasir, di sebelah Iwan.

Iwan diam. Hanya getar jiwanya bergoncang. "Maafkan ulah kakakku," sambung Tisna lagi. Goncangan itu mengakibatkan jemari Iwan bergerak menyentuh jemari Tisna. Tisna mendiamkan jemarinya disentuh Iwan. Waktu itu pun terasa berhenti. Namun, keindahan itu terpatahkan, ketika derum suara motor mendekati mereka. Dan, kemudian berhenti di depan mereka. Oyong turun dari motor dan cepat mendekati Tisna, segera menarik lengan adiknya. Bersamaan dengan itu, berhamburanlah ceracauan dari mulut Oyong.Iwan diam.Tisna mengikuti Oyong, duduk dibonceng dan tinggalkan Iwan sendiri.Ya. Semenjak itu makin kuat niat Iwan untuk kuliah di Jawa.
***

Sudah tigapuluh lima tahun berlalu. Kini, saat ini, gelora itu kembali. Ketika Iwan mendapat tugas dari kantornya untuk menyelesaikan urusan di Padang. Tadi siang dia sempatkan berkunjung ke kampung halamannya, Pariaman. Dan, menjelang matahari tergelincir ke peraduannya, seorang perempuan berkerudung mukena melewati jalan tanah pinggir rumahnya. Dari balik jendela kamarnya dulu itu, bersilang tatap dengan perempuan itu. Mata bundar perempuan itu masih memancarkan cahaya bening.

"Tisna," sapa Iwan dengan suara gemetar.Perempuan itu tersenyum."Jangan sampai Magrib terlewat. Waktunya singkat," ujar Tisna, masih dalam nada bergetar."Ya, aku segera ke surau. Aku mandi dulu," jawab Iwan.Tisna pun melangkah. Mata Iwan masih seperti dulu. Dia menatap tiap langkah Tisna. Hanya pada setiap langkah itu, kembali kenangan masa lalu bangkit.Selepas SMA, Iwan meneruskan ke perguruan tinggi di Jawa. Dan, sejak itu Iwan jarang pulang kampung, sibuk urusan kuliah dan kegiatan ekstra kampus. Hingga tiba suatu masa, menjelang akhir studinya, Iwan mendapat kabar tentang pernikahan Tisna.

Hatinya benar-benar remuk. Walaupun dua tahun berselang, Iwan menikahi Utami, koleganya di kancah ekstra universitas, hingga dianugerahi satu puteri dan dua putera; namun perasaan terdalamnya pada Tisna tak pernah hilang. Bahkan kekandasan cintanya membekas dalam. Boleh dibilang Utami hanya pelariannya.
***

Senja ini seperti senja yang dulu-dulu. Tak berubah. Pohon kelapa di pulau seberang seperti menari ditiup angin. Beberapa perahu nelayan tertambat di pantai. Burung camar beterbangan mencari sarangnya. Sedang gedebur ombak memecah pantai. Mentari bergerak lamban namun pasti, menuju peraduannya. Warna laut pun mulai orange, seperti warna langit. Iwan duduk di salah satu batu besar, di pantai. Matanya menatap jauh pada keindahan senja. "Belum berubah, kan?"
Suara itu mengejutkan Iwan. Suara yang amat dikenalnya, namun sudah lama tak pernah didengarnya.

"Tis," respon Iwan yang tak dapat menyembunyikan ketersirapan darahnya.
Tisna menjawab dengan senyum khasnya. Menyejukkan.
Tak ada yang berobah pada Tisna, kecuali ada gurat-gurat di dahinya. Matanya yang bundar tetap memancarkan cahaya bening. Sungguh menyejukkan hati.
"Tak enak dilihat orang," ujar Iwan kemudian.
"Aku hanya ingin minta maaf," sahut Tisna.
Iwan diam.
"Aku salah," tuturnya, "Sejak peristiwa itu, sekolahku tak beres. Bahkan pindah ke Padang pun tak dapat membendung kehancuran hatiku. Hari demi hari semakin tak menentu."

Iwan mendengarkan.
"Dua kali aku tak naik kelas," ujar Tisna sambil menatap ke tengah laut.
Iwan melihat mata Tisna berkaca-kaca. Namun suaranya masih terdengar bening.
"Hingga suatu hari aku terjerumus. Aku diperkosa," nada Tisna pun mulai sendu. "Aku hamil. Memang, akhirnya Si Keparat itu menikahiku. Aku pasrah saja."
Iwan kaget. Berita yang dia terima, Tisna menikah tanpa masalah. Dan sungguh di luar dugaan Iwan, Tisna yang tak pernah tinggal shalatnya, akan mengalami nasib begitu.
Senja mulai bergulir. Mentari tampak timbul tenggelam dipermainkan ombak di horizon sana.

"Aku mencoba bertahan, hingga lahir anak keduaku. Namun, pada tahun ke lima perkawinan kami, dia menceraikanku," ujar Tisna terbata.
Iwan mengeluarkan saputangan dari sakunya dan memberikan pada Tisna.
Tisna menghapus tumpahan bendungan air mata.
"Ah, aku terlalu banyak cerita tentang perjalanan hidupku. Bagaimana denganmu? Tampaknya engkau bahagia."
"Aku?" respon Iwan kaget.
"Aku ingin mendengarnya."
"Hidupku layaknya panggung sandiwara. Pertunjukan harus berlangsung."
"Sungguh beruntung perempuan itu."

Hampir setahun berlalu kunjungan Iwan ke kampungnya. Dan, kemarin dia mendapat SMS di telpon genggamnya, yang mengabarkan meninggalnya Tisna. Tadi dia masih sempat mengantarkan jenazah Tisna ke pemakaman. Sore ini, dari kamar ini, Iwan menatap ke luar jendela. Dia berharap, perempuan bermata bundar dengan cahaya bening itu akan lewat di samping rumahnya. Dan, siapa tahu dapat bersilang tatap.Hanya sepi yang menggerakkan detik demi detik, hingga adzan Magrib tiba. Tak ada mata bundar dengan cahaya bening. Namun, semuanya terasa masih ada.
Waktu pun berhenti di sini!

Bekasi, 2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com