Penulis Prancis Terbesar

Nunik Triana
http://jurnalnasional.com/

Kamis 9 Oktober lalu mungkin adalah hari paling bersejarah bagi Jean Marie Gustave Le Clezio. Lewat karyanya Desert ia dinyatakan sebagai pemenang Nobel Sastra 2008. Anugerah ini sekaligus menorehkan namanya sebagai sastrawan Prancis pertama yang memenangi Nobel sejak Gao Xingjian, sastrawan keturunan Tionghoa kelahiran Prancis, yang mendapatkan Nobel serupa pada 2000.

Desert yang diterbitkan pada 1980 bagi Le Clezio adalah karya terbaiknya. Karya tersebut bercerita tentang Lalla, seorang wanita dari suku nomaden, Tuareg di Gurun Sahara. Hal yang paling memikat dari novel ini adalah bagaimana Le Clezio menampilkan upaya Lalla beradaptasi dengan kependudukan modern masa penjajahan Prancis pada awal abad 20.

Sedangkan Akademi Swedia menyebut novel tersebut mengandung gambaran penting dari kebudayaan di gurun Afrika Selatan. Penggambaran Le Clezio kontras dengan anggapan orang-orang Eropa yang melihatnya sebagai imigran tak diharapkan. Tidak hanya itu, Akademi Swedia pun menyebut penulis yang terkenal dengan tema petualangan puitis dan kesenangan sensual ini sebagai penulis era baru, termasuk dengan banyak mengeksplorasi sisi kemanusiaan.

Darah sastrawi Le Clezio tampaknya memang sudah mengalir sejak kecil. Usia 7 tahun ia sudah menggerakkan penanya untuk kemudian melahirkan karya pertama sebuah buku tentang laut.

Pria yang mementingkan pendidikan ini, mulai tahun1958 hingga 1959 kemudian menimba ilmu di Universitas Bristol dan mengambil gelar sarjananya di Institut d'etudes Litteraires, Nice. Tak perlu waktu lama bagi Le Clezio untuk menerbitkan novel pertamanya Le Procès-Verbal (Proses Verbal), yang membuatnya terkenal. Bahkan berkat karyanya ini, ia yang kala itu berusia 23 tahun, berhasil masuk dalam seleksi untuk Prix Goncourt hingga akhirnya dianugerahi Prix Renaudot pada 1963.

Dari 1963 hingga 1975 Le Clezio menjadi penulis produktif. Dalam karyanya ia banyak menjelajahi tema-tema seperti sakit jiwa, bahasa, serta penulisan. Ia juga mengabdikan dirinya terhadap eksperimentasi formal bersamaan dengan para rekan penulis sejamannya seperti Georges Perec atau Michel Butor. Citra Le Clezio di mata publik saat itu adalah inovator dan seorang pemberontak. Maka tak mengherankan jika ia memperoleh pujian dari Michel Foucault dan Gilles Deleuze.

Namun, entah mengapa di akhir 1970-an gaya penulisan Le Clézio mengalami perubahan drastis. Ia meninggalkan eksperimentasi dan suasana novel-novelnya menjadi tidak begitu penuh siksaan. Kebalikannya ia banyak mengangkat tema-tema seperti masa kanak-kanak, remaja, perjalanan, serta tema-tema popular yang menarik minat pembaca yang jauh lebih luas.

Keputusannya untuk banting setir ternyata cukup dihargai. Tahun 1980 Le Clézio pun menjadi pemenang pertama dari Grand Prix Paul Morand, yang baru saja dibentuk, untuk karyanya Désert oleh Académie française.

Sejauh ini setidaknya, sekitar 30 buku karyanya telah diterbitkan, termasuk cerita pendek, novel, esai, buku anak-anak, serta dua terjemahan tentang mitologi Indian. Jumlah ini belum termasuk pengantar dan tinjauan serta sumbangannya dalam penerbitan bersama.

Pada 1994 sebuah survai yang diselenggarakan oleh majalah sastra Perancis Lire memperlihatkan bahwa 13 persen dari para pembacanya menganggapnya sebagai penulis bahasa Prancis terbesar yang hidup.

Meskipun karya-karyanya termasuk karya besar. Dalam proses penulisan pria berambut pirang ini mengaku tidak terlalu sulit menemukan ide karena banyak memperoleh dari kehidupan sehari-hari.

"Sastra berarti mengingatkan orang pada tragedi dan membawanya kembali ke tengah panggung. Ketika saya menulis, saya mengutamakan untuk menerjemahkan hubungan keseharian menjadi peristiwa," katanya.

Pria Nomaden

Le Clézio dilahirkan di Kota Nice, pantai Riviera, Prancis pada13 April 1940. Ia adalah anak dari seorang ayah berkebangsaan Britania dan ibu berkebangsaan Prancis. Masa kecil Le Clézio tampaknya kurang bahagia. Pasalnya, pada masa Perang Dunia II keluarganya terpaksa berpisah lantaran sang ayah, karena pekerjaan, tidak bisa bergabung dengan ibu dan saudara-saudaranya di Nice. Sedangkan usia 8 tahun ia harus pindah bersama keluarganya ke Nigeria tempat ayahnya berdinas sebagai seorang ahli bedah di militer Britania.

Usai menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Prancis, Institut d'etudes Litteraires, Nice, ia pun tinggal beberapa tahun di Kota London dan Bristol. Mulai dari sini, kehidupannya terus berpindah. Diawali dari Amerika Serikat untuk bekerja sebagai guru, ia lantas ditempatkan di Thailand pada 1967 untuk dinas militer. Namun sayang segera diberhentikan lantaran protesnya terkait praktik pelacuran anak-anak. Akibatnya, ia dikirim ke Meksiko guna menyelesaikan kewajiban militernya. Alhasil, mulai 1970 hingga 1974, ia tinggal bersama orang-orang Indian Embera-Wounaan di Panama.

Kehidupannya yang selalu berpindah juga mengimbas pada rumah tangganya. Le Clézio yang menikahi Jémia, perempuan Maroko, pada 1975 sejak 1990 terpaksa membagi tempat tinggal mereka antara Albuquerque, New Mexico, Mauritius, serta Nice.

Namun begitu, pola kehidupannya ini tak membuatnya putus sekolah. Le Clézio sempat memperoleh gelar magister dengan tesis tentang Henri Michaux dari Universitas Aix-en-Provence pada 1964, dan menulis disertasinya pada 1983 tentang sejarah awal Meksiko di Universitas Perpignan.

Kini di usianya yang menginjak 68 tahun ia memilih fokus di dunia pendidikan dengan mengajar di sejumlah universitas seluruh dunia. Ia sering berkunjung ke Korea Selatan untuk mengajar bahasa dan sastra Prancis di Universitas Perempuan Ewha, Seoul selama dua semester dari 2007 hingga 2008. Baru-baru ini ia juga diundang untuk memberi kuliah sastra di Stockholm, Swedia. (Nunik/ AP/ Reuters/ MSNBC)

Biodata:
Nama : Jean-Marie Gustave Le Clézio
Nama pena: J.M.G. Le Clézio
Tempat tanggal lahir : Nice, Perancis, 13 April 1940
Pekerjaan: Pengarang dan penerjemah
Istri: Jémia

Penghargaan:
Prix Théophraste-Renaudot (1963)
Prix littéraire Valery-Larbaud (1972)
Grand prix de littérature Paul Morand, Anugerah Académie française (1980)
Grand prix Jean-Giono (1997)
Prix Prince-de-Monaco (1998)
Stig Dagermanpriset (2008)
Penghargaan Nobel Sastra (2008)

Beberapa Novelnya yang Terkenal:
Le Procès-Verbal (1963)
Terra Amanta (1967)
The Book of Flights (1969)
War (1970)
The Giants (1973).
Desert (1980)
Lullaby (1980)
Balaabilou (1985).
Onitsha (1991)
Ballaciner (2007)

Komentar