05/10/08

Periode Jatuh Bangun Negeri Ginseng

http://www.jawapos.com/
Mohammad Eri Irawan*

JudulBuku: Laut dan Kupu-Kupu
Penulis: Ha Geun Chan, dkk
Penerjemah: Koh Young Hun dan Tommy Christomy
Editor: Hamsad Rangkuti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2008
Tebal: xix + 370 Halaman

Sastra memang melulu menjadi cermin masyarakat, meski tak bisa sama persis menghadirkan wajah masyarakat yang asli. Dalam cermin itu, sastra selalu menyisakan retakan, ketidakutuhan atas tafsir laku dan pikir--atau katakanlah budaya-- masyarakatnya. Karena itulah, selalu ada rentang antara fakta dan fiksi dalam karya sastra. Melulu ada imajinasi yang menjadi jembatan penghubungnya.

Meski demikian, tak dapat dimungkiri bahwa sastra selalu membawa semangat zaman, semangat untuk memuliakan kemanusiaan. Dalam sastra Korea (Selatan), diktum itu juga serasa mendapat peneguhan yang tak terbantahkan. Setidaknya itu terepresentasi dalam kumpulan cerpen Korea, Laut dan Kupu-kupu ini. Cerpen-cerpen dalam buku ini seakan ingin memberi kabar soal bagaimana deru napas kehidupan masyarakat Negeri Ginseng tersebut --sekalipun tidak bisa memberi gambaran yang utuh.

Bacalah cerpen Dua Generasi Teraniaya karya Ha Geun Chan (hlm 1-16). Cerpen satire ini seolah ingin menubuatkan sebuah kredo bahwa hidup ini memang layak disesali, karena penuh jejalin penderitaan bagi kaum tak berdaya. Sementara itu kematian, yang identik dengan air mata, mestinya malah disambut tawa gembira.

Karya ini menunjukkan bahwa di balik kemajuan Korea saat ini, ada fase getir yang dijalani warganya akibat Perang Korea medio 1950-an. Perang, di mana pun, memang selalu merampas nilai-nilai kemanusiaan. Korea sudah pernah merasakannya, dan mampu mengambil sari hikmahnya untuk kemudian bangkit berbenah. Namun, kenyataan hari ini, perang dan saling tikam antarmanusia masih meriah; menyeruakkan bau anyir darah manusia tak berdosa. Cerpen ini semestinya menjadi cermin yang mampu menundukkan keangkuhan manusia. Cerpen yang dibuat pada 1957 ini harusnya menempatkan Korea dan semesta bangsa di dunia pada paradigma yang sama soal perang: bahwa perang itu antikemanusiaan.

Pascaperang, Korea mampu bangkit berbenah. Sebagaimana di banyak negara lain, mantra industrialisasi pun dirapalkan untuk mengubah kehidupan warganya. Namun, industrialisasi yang diretas untuk menggapai asa kesejahteraan ala kapitalisme, selalu menyisakan paradoks.

Cerpen Jalan ke Sampho menjadi pelegitimasi bahwa di tengah kemajuan industrialisasi yang tersohor saat ini Korea memendam problema dilematis di benak warganya. Selalu ada kutub pro dan kontra soal industrialisasi (hlm. 43-71). Jurang itu mendapat peneguhan dalam cerpen Bung Kim di Kampung Kami. Bagaimana soal wajah desa di tengah derasnya kehidupan tergambar apik di sana. Hingga, soal air pun sudah dikomersialkan.

Parodi menarik soal bagaimana cara negara mendisiplinkan warganya juga tergambar lewat apel wajib militer. ''Pendisiplinan'' warga macam ini untuk memperteguh kewenangan negara, yang sesungguhnya tak mungkin bisa mengatur setiap individu warga. Tujuan serupa, dengan metode hampir sama, juga dilakukan di Indonesia lewat upacara bendera, seragam sekolah, hingga monumen di desa-desa.

Wajah industrialisasi Korea sebenarnya, sekali lagi, penuh tambal-sulam di sana-sini. Ada semacam kondisi yang terasa saling berseberangan secara diametral antara mimpi kesejahteraan kapitalisme dan realitas satire soal kesejahteraan kaum pekerja. Industrialisasi yang kian matang di dalamnya mengandung gerakan rakyat nasionalis yang mendendangkan nyanyian kemanusiaan, senandung egaliter soal kesejahteraan dan seluruh aspek kehidupan.

Cerpen Dinihari ke Garis Depan membuka mata kita, untuk kesekian kali, bahwa ''kemajuan'' yang berbusa-busa diomongkan kerap menihilkan kemanusiaan. Serikat pekerja terlunta-lunta versus elite pengusaha bertabur harta. Para pekerja di lapak-lapak sederhana berseberangan dengan pengusaha di perumahan elite bertembok tinggi nan angkuh. Itu tergambar jelas kala para buruh berunjuk rasa ke rumah sang pengusaha yang dipagari batu seperti benteng. Juga, seperti tergambar di cerpen Dinihari ke Garis Depan, kerap kali pemilik akses sumber daya ekonomi mempunyai pula akses sumber daya politik. Serikat buruh Se Gwang yang papa mesti berhadapan dengan polisi --sebagai aparatur negara dalam literatur Marxian --yang diperintahkan atas nama negara untuk membubarkan ''ketidaktertiban''.

Tak hanya polisi, instrumen negara lain juga menjadikan gugatan kemapanan dari para buruh terbentur tembok tinggi. Mulai kantor pemerintahan hingga partai politik berada di kutub sang pemilik modal (hlm. 111).

Di Indonesia, model semacam itu bahkan terasa lebih kentara. Dan, terlalu lama langgeng hingga kini. Lazim kita dengar ada aparat keamanan menjaga wilayah-wilayah tambang yang dimiliki perusahaan-perusahaan raksasa. Perusak lingkungan dan pembalak liar justru wilayahnya dijaga. Bos-bosnya melenggang santai di pusat perbelanjaan, sambil sesekali tampil tertawa di depan kamera televisi dan pewarta foto.

Di sini terlihat jelas bahwa pemilik sumber daya ekonomi dalam banyak hal kerap berkongsi dengan penguasa sumber daya politik --yang konon mendapat asupan modal untuk pelanggengan kekuasaannya.

Kegetiran Korea, sebelum kedigdayaan dan kemakmuran diraih saat ini, juga terangkum dalam cerpen Kerja, Nasi, dan Kebebasan karya Kim Nal Il dan Sungai Dalam Mengalir Jauh karya Kim Young Hyun.

Buku ini juga mengukuhkan bagaimana Korea belajar dari sejarah, menjumput hikmah masa lalu untuk menatap masa depan. Melupakan kekelaman, dengan tetap mencari kesalahannya, untuk merengkuh masa depan yang benderang. Kembali ke masa depan, istilahnya.

Semangat itu pula yang membuat Korea mampu bangkit berbenah dari alpa yang pernah terjadi. Contoh mutakhir adalah kala krisis ekonomi mengoyak Asia, termasuk Korea, medio 1997-1998. Kala itu, perekonomian Korea seperti terkena demam. Nilai tukar won melorot drastis menjadi 1.960-an, dari posisi sebelumnya di kisaran 888. Lantai bursa memerah. Cadangan devisa tergerus. Inflasi terkerek tinggi. Jelaga utang mengoyak Negeri Ginseng.

Namun, Korea mampu membalik keadaan hanya dalam waktu tak lama. Berbekal solidaritas antarwarga lewat pengumpulan emas dan transparansi negara, Korea membalik krisis dengan cepat. Pemerintahan Korea mampu merajut hubungan yang manis antara chaebol dan rakyat biasa. Kelompok-kelompok bisnis raksasa seperti Samsung, Hyundai, maupun LG guyub bersama masyarakat membangun. (*)

*)Wartawan Jawa Pos (eri@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita