Periode Jatuh Bangun Negeri Ginseng

http://www.jawapos.com/
Mohammad Eri Irawan*

JudulBuku: Laut dan Kupu-Kupu
Penulis: Ha Geun Chan, dkk
Penerjemah: Koh Young Hun dan Tommy Christomy
Editor: Hamsad Rangkuti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2008
Tebal: xix + 370 Halaman

Sastra memang melulu menjadi cermin masyarakat, meski tak bisa sama persis menghadirkan wajah masyarakat yang asli. Dalam cermin itu, sastra selalu menyisakan retakan, ketidakutuhan atas tafsir laku dan pikir--atau katakanlah budaya-- masyarakatnya. Karena itulah, selalu ada rentang antara fakta dan fiksi dalam karya sastra. Melulu ada imajinasi yang menjadi jembatan penghubungnya.

Meski demikian, tak dapat dimungkiri bahwa sastra selalu membawa semangat zaman, semangat untuk memuliakan kemanusiaan. Dalam sastra Korea (Selatan), diktum itu juga serasa mendapat peneguhan yang tak terbantahkan. Setidaknya itu terepresentasi dalam kumpulan cerpen Korea, Laut dan Kupu-kupu ini. Cerpen-cerpen dalam buku ini seakan ingin memberi kabar soal bagaimana deru napas kehidupan masyarakat Negeri Ginseng tersebut --sekalipun tidak bisa memberi gambaran yang utuh.

Bacalah cerpen Dua Generasi Teraniaya karya Ha Geun Chan (hlm 1-16). Cerpen satire ini seolah ingin menubuatkan sebuah kredo bahwa hidup ini memang layak disesali, karena penuh jejalin penderitaan bagi kaum tak berdaya. Sementara itu kematian, yang identik dengan air mata, mestinya malah disambut tawa gembira.

Karya ini menunjukkan bahwa di balik kemajuan Korea saat ini, ada fase getir yang dijalani warganya akibat Perang Korea medio 1950-an. Perang, di mana pun, memang selalu merampas nilai-nilai kemanusiaan. Korea sudah pernah merasakannya, dan mampu mengambil sari hikmahnya untuk kemudian bangkit berbenah. Namun, kenyataan hari ini, perang dan saling tikam antarmanusia masih meriah; menyeruakkan bau anyir darah manusia tak berdosa. Cerpen ini semestinya menjadi cermin yang mampu menundukkan keangkuhan manusia. Cerpen yang dibuat pada 1957 ini harusnya menempatkan Korea dan semesta bangsa di dunia pada paradigma yang sama soal perang: bahwa perang itu antikemanusiaan.

Pascaperang, Korea mampu bangkit berbenah. Sebagaimana di banyak negara lain, mantra industrialisasi pun dirapalkan untuk mengubah kehidupan warganya. Namun, industrialisasi yang diretas untuk menggapai asa kesejahteraan ala kapitalisme, selalu menyisakan paradoks.

Cerpen Jalan ke Sampho menjadi pelegitimasi bahwa di tengah kemajuan industrialisasi yang tersohor saat ini Korea memendam problema dilematis di benak warganya. Selalu ada kutub pro dan kontra soal industrialisasi (hlm. 43-71). Jurang itu mendapat peneguhan dalam cerpen Bung Kim di Kampung Kami. Bagaimana soal wajah desa di tengah derasnya kehidupan tergambar apik di sana. Hingga, soal air pun sudah dikomersialkan.

Parodi menarik soal bagaimana cara negara mendisiplinkan warganya juga tergambar lewat apel wajib militer. ''Pendisiplinan'' warga macam ini untuk memperteguh kewenangan negara, yang sesungguhnya tak mungkin bisa mengatur setiap individu warga. Tujuan serupa, dengan metode hampir sama, juga dilakukan di Indonesia lewat upacara bendera, seragam sekolah, hingga monumen di desa-desa.

Wajah industrialisasi Korea sebenarnya, sekali lagi, penuh tambal-sulam di sana-sini. Ada semacam kondisi yang terasa saling berseberangan secara diametral antara mimpi kesejahteraan kapitalisme dan realitas satire soal kesejahteraan kaum pekerja. Industrialisasi yang kian matang di dalamnya mengandung gerakan rakyat nasionalis yang mendendangkan nyanyian kemanusiaan, senandung egaliter soal kesejahteraan dan seluruh aspek kehidupan.

Cerpen Dinihari ke Garis Depan membuka mata kita, untuk kesekian kali, bahwa ''kemajuan'' yang berbusa-busa diomongkan kerap menihilkan kemanusiaan. Serikat pekerja terlunta-lunta versus elite pengusaha bertabur harta. Para pekerja di lapak-lapak sederhana berseberangan dengan pengusaha di perumahan elite bertembok tinggi nan angkuh. Itu tergambar jelas kala para buruh berunjuk rasa ke rumah sang pengusaha yang dipagari batu seperti benteng. Juga, seperti tergambar di cerpen Dinihari ke Garis Depan, kerap kali pemilik akses sumber daya ekonomi mempunyai pula akses sumber daya politik. Serikat buruh Se Gwang yang papa mesti berhadapan dengan polisi --sebagai aparatur negara dalam literatur Marxian --yang diperintahkan atas nama negara untuk membubarkan ''ketidaktertiban''.

Tak hanya polisi, instrumen negara lain juga menjadikan gugatan kemapanan dari para buruh terbentur tembok tinggi. Mulai kantor pemerintahan hingga partai politik berada di kutub sang pemilik modal (hlm. 111).

Di Indonesia, model semacam itu bahkan terasa lebih kentara. Dan, terlalu lama langgeng hingga kini. Lazim kita dengar ada aparat keamanan menjaga wilayah-wilayah tambang yang dimiliki perusahaan-perusahaan raksasa. Perusak lingkungan dan pembalak liar justru wilayahnya dijaga. Bos-bosnya melenggang santai di pusat perbelanjaan, sambil sesekali tampil tertawa di depan kamera televisi dan pewarta foto.

Di sini terlihat jelas bahwa pemilik sumber daya ekonomi dalam banyak hal kerap berkongsi dengan penguasa sumber daya politik --yang konon mendapat asupan modal untuk pelanggengan kekuasaannya.

Kegetiran Korea, sebelum kedigdayaan dan kemakmuran diraih saat ini, juga terangkum dalam cerpen Kerja, Nasi, dan Kebebasan karya Kim Nal Il dan Sungai Dalam Mengalir Jauh karya Kim Young Hyun.

Buku ini juga mengukuhkan bagaimana Korea belajar dari sejarah, menjumput hikmah masa lalu untuk menatap masa depan. Melupakan kekelaman, dengan tetap mencari kesalahannya, untuk merengkuh masa depan yang benderang. Kembali ke masa depan, istilahnya.

Semangat itu pula yang membuat Korea mampu bangkit berbenah dari alpa yang pernah terjadi. Contoh mutakhir adalah kala krisis ekonomi mengoyak Asia, termasuk Korea, medio 1997-1998. Kala itu, perekonomian Korea seperti terkena demam. Nilai tukar won melorot drastis menjadi 1.960-an, dari posisi sebelumnya di kisaran 888. Lantai bursa memerah. Cadangan devisa tergerus. Inflasi terkerek tinggi. Jelaga utang mengoyak Negeri Ginseng.

Namun, Korea mampu membalik keadaan hanya dalam waktu tak lama. Berbekal solidaritas antarwarga lewat pengumpulan emas dan transparansi negara, Korea membalik krisis dengan cepat. Pemerintahan Korea mampu merajut hubungan yang manis antara chaebol dan rakyat biasa. Kelompok-kelompok bisnis raksasa seperti Samsung, Hyundai, maupun LG guyub bersama masyarakat membangun. (*)

*)Wartawan Jawa Pos (eri@jawapos.co.id)

Komentar