Rumah
kelak bila aku rindu rumah
kelak bila aku rindu rumah mungkin hanya bisa kucium segenggam tanah dari benih pohon pacar yang dikirim ayah
apalah artinya ari-ariku yang ditanam di pekarangan bahkan air mata ibu yang meresap di lantai tanah apalagi urat darahku tak berhak memintal ikatan batin
setelah lepas tali pusar masa remaja gambar inai di tangan pun memudar lepas pula tali cambuk masa kanak yang terikat di tiang rumah kini siap melukai apa saja yang kuanggap jadi masa depan
bila aku rindu rumah harus siap selembar KTP di pelabuhan bahkan kini harus kusiapkan berlembar-lembar sejarahku untuk dilego dan dimusnahkan
tapi ayah tak kalah cerdik ia kirimkan segenggam tanah benih pohon pacar untuk bekal ingatan agar kutulis sejarah baru di tanganku sendiri! bila nanti rindu dan ingatan hanya segores pena yang habis tinta tak ada yang perlu kuakhiri keculi puisi yang meninggalkan
yogya, maret 2005
Menyingkir : pelukis abu bakar
di tepi jurang bekas jalan lahar kukenang dirimu yang berparas malam anak-anak rambutmu bagai bintang melesat menemu sajak-sajak yang tak pernah bisa kubacakan
rimbunan pucuk bambu mengipas-ngipas kenangan dan usiaku yang lama terkurung dalam ruas bambu setiap saat berjuang melubangi buku-buku untuk sampai pada parasmu dan napas hijau yang selamanya berhembus mengajakku melupakan labuhan dan muara dangkal!
jalan berbatu ke arahmu kujadikan jalan merebut malam jadi milikku, tapi tak kelam
dulu aku ingin ke suatu tempat, di mana senja membuat orang jadi dungu dan mereka kabarkan, bulan pun bisa dijangkau tapi malam selamanya kelam di situ dan adat lebih merdeka dari diriku
di sini, kuhijaukan air yang mengalir dari keningmu hingga waktu lupa melepas kulitnya dan setiap usia bertambah, jalanan memanjang meneruka asal waktuku yang berumah belukar dan duri-duri
yogya, maret 2005
Keinginan
aku biarkan diriku menemuimu petang ini kubiarkan musuh-musuh dalam diriku menggiring kuda-kudanya ke padang rumput berwarna merah –cahaya mataku yang merana, dan udara bergetar di atas rumputan
kau mungkin mengenang lambaian tangan dan pesan-pesan agar berkabar setelah sampai tujuan, lalu aku mengenang kelam jalan-jalan
adakah kau siap-siaga mengintai debar jiwaku yang kehilangan? dan selalu berhasrat menghukumku? kau menemuiku bagai cahaya yang melesat seketika alam di sekitarku padam aku telah kehilangan waktu untuk abai padamu
miri-sawit, juni 2005
http://sastra-indonesia.com/2011/02/sajak-sajak-nur-wahida-idris/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar