Kompas.com 04/02/2009
Bila boikot terhadap media cetak yang dikatakan oleh Saut Situmorang adalah dalam konteks politik sastra yang memasung karya sastra, dengan mengedepankan kelompok-kelompoknya sendiri, hal itu harus didukung.
Demikian dikatakan oleh Hudan Hidayat, cerpenis yang menjadi pembicara dalam diskusi “Sastra Internet dan Masa Depan Sastra” yang menampilkan penyair Saut Situmorang, Nurudin Asyhadie dan tokoh blogger Indonesia, Enda Nasution.
Mereka tampil dalam diskusi yang diselenggarakan dalam peringatan ulang tahun milis sastra terbesar saat ini, Apresiasi Sastra (Apsas) ke-4 di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Izmail Marzuki, Jakarta 31 Januari 2009. Selain diskusi, acara yang berlangsung meriah dengan hadirnya lebih dari 150 Apsasian (sebutan bagi anggota Apsas) dan para sastrawan, juga diisi dengan pembacaan puisi, musik, teater dan bedah buku.
Diskusi itu sendiri berlangsung meriah, penuh dengan gugatan terhadap dominasi sastrawan dan kelompok tertentu terhadap dunia sastra seperti tampak di media massa koran, terutama dari Hudan dan Saut. Enda memberi siasat bagaimana agar sastra di internet bisa memanfaatkan kekuatan yang mereka miliki dan justru tak terdapat pada media cetak, salah satunya ialah immediacy (kekinian), yang bersifat langsung, tanpa jeda dan ada link yang memungkinkan setiap hal bertaut.
Sementara uraian Nuruddin Asyhadie yang kali ini tampil dengan uraiannya yang serius untuk forum yang sudah cair oleh acara sebelumnya, dia menerangkan signifikansi sastra di media Internet, meskipun sampai sekarang tampaknya makin mirip dengan sastra cetak. Agus Noor yang memandu acara dengan celetukannya yang segar dan sering bikin ketawa, membuat suasana hidup dan setia pada jalur.
Masalah sastra cyber atau internet kembali mengemuka seperti perdebatan tahun 2002 lalu. Saat itu Saut dalam tulisannya yang terangkum dalam buku Cyber Graffiti Polemik Sastra Cyberpunk mengatakan "Pada mulanya adalah kejenuhan. Kejenuhan pada hegemoni kekuasaan media massa cetak Koran yang kebetulan punya halaman “sastra” pada edisi hari Minggu-nya, yang sebenarnya tidak lebih dari semacam “sisipan after thought” atas keberadaan apa yang disebut sebagai Sastra Indonesia Modern."
Sikap yang tak berbeda ditunjukkan oleh Saut Situmorang yang bahkan mengajak untuk melawan sastra koran dan menguatkan sastra Internet. Bahkan kata penyair berambut gimbal yang dibiarkan memanjang ini, kalau mau menguatkan sastra Internet, penulis (sastrawan) harus berani meninggalkan sastra koran, jangan menulis atau langganan harian. Dia menyatakan sastra Internet sampai sekarang masih belum diakui keberadaannya oleh sejumlah kalangan, terutama kritikus dan para redaksi sastra koran--apalagi 4-5 tahun lalu. Sebagian kritik menilai, sastra Internet ialah tong sampah. Ironik, sekarang para pengkritik itu beberapa di antaranya malah menfaatkan blog dan semacamnya, terutama situs jaringan sosial seperti milis dan Facebook.
Lain lagi dengan gugatan dari Hudan Hidayat yang begitu pedas, dengan berulang kali mengatakna bahwa Sapardi adalah pembunuh terbesar sastra Indonesia, termasuk di antaranya Agus R. Sardjono dan Putu Wijaya. Pernyatan ini mengundang tanggapan dari penyair, Suparwan G.Parikesit yang meminta Hudan menjelaskan pernyataannya yang kontroversial itu. Pada bagian lain, Saut dan Hudan secara terbuka mengecam Goenawan Mohamad, Nirwan Dewanto, juga Dewan Kesenian Jakarta.
Tumpengan
Peringatan ulang tahun ini tidak hanya menyedot kehadiran Apsasian tapi juga anggota milis lainnya seperti kemudian.com yang cukup banyak, warung puisi.com dan bunga matahari. Mereka juga turut mengisi acara seperti pembacaan puisi oleh Khrisna Pabicara dan R.Mega Ayu yang tampil cukup ekpresif di awal acara.
Saat ini anggota Apsas, yang berdiri pada 5 Januari 2005 memiliki anggota sebanyak 1.621 orang, yang tersebar di berbagai daerah hingga luar negeri. Perayaan ulang tahun baru diadakan saat menginjak usia kedua pada 2007 di toko buku Aksara dan 2008 di Japan Foundation. Saat ini milis yang aktif mengadakan diskusi dan pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen karya Apsasian ini memiliki 8 moderator, jumlah paling besar untuk sebuah milis.
Para moderator yang memiliki posisi sejajar dan bekerja secara kolektif ini terdiri dari Djodi Sambodo alias Lembayung Sepi di Arizona, Amerika, Sigit Susanto (Zurich, Swiss), Mega Vristian (Hongkong), Yahya Tirta Prawira (Salatiga), Hernadi Tanzil (Bandung), Dorsey Elisabeth Silalahi (Jakarta), Didik Eko Wahyudi atau "Cak Bono" dan Lan Fang, keduanya di Surabaya.
Menurut Ketua Panitia HUT Apsas ke-4, Ilenk Rembulan dan wakilnya, Sahlul Fuad, diadakannya acara di PDS HB Jassin mempunyai makna lebih karena PDS yang berlokasi di TIM sebagai salah satu satu sentra kegiatan sastra, merupakan pusat dokumentasi sastra terbesar. HB Jassin juga kritikus sastra yang sangat dihormati oleh semua kalangan.
Sejak pagi Apasasian mulai berdatangan. Mengisi daftar hadir, menyodorkan Rp5.000,- untuk sebuah pin yang cantik kreasi Fitri sebagai tanda masuk. Begitu juga tas yang juga dijual serta buku-buku karya anggota Apsas. Nina Yuliana, Setio Bardono, Dedy Tri Riyadi, Nana, Veve, Mila, Weni dan relawan lainnya segera sibuk menerima tamu, jajanan atau sumbangan lain dari Apsasian.
Acara yang dipandu oleh MC Budhi Setyawan (penyair yang juga penggiat Sastra Reboan) dan Feby Indriani (cerpenis) bergulir dengan mulusnya. Diawali dengan perkenalan dari masing-masing pengunjung, acara segera diawali dengan tampilan para penyair seperti Widzar Al Ghifary dari Bandung, Kuntet Dilaga dan musik oleh Band Black Pear.
Di tengah acara juga diumumkan para pemenang Lomba Kritik Buku Puisi dan Lomba Penulisan Pantun Satire. Pemenang Lomba Pantun Satire 1. Mochamad Faizun, 2. St. F. Ragilf dan 3. Sigit Susanto. Lomba Kritik Buku Puisi tidak menghasilkan pemenang, namun juri memberikan apresiasi pada Wayan Sunarta yang meresensi Dongeng Anjing Api karya Sindu Putra. Selain itu diadakan door prize berupa buku-buku sumbangan dari Apsasian serta penerbit seperti Kafi Kurnia dari Akoer dan Anton Kurnia dari Serambi.
Diskusi pertama dibuka dengan bahasan akan buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia II karya Sigit Susanto oleh Anwar Holid dengan moderator Sahlul Fuad. Buku ini, kata Anwar Holid yang penulis dan publisis, menunjukkan keseriusan Sigit Susanto dalam menuliskan pengamatannya di setiap lokasi yang dijejakinya. Pembaca tidak hanya disodori pengalaman perjalanan yang ditulis dengan bahasa jurnalistik yang enak tapi juga terselipkan bahasa sastra yang enak dikunyah.
Menginjak tengah hari suasana makin meriah dengan hadirnya para sastrawan seperti Sitor Situmorang, Afrizal Mana, Sitok Srengene, Wowok Hesti, Tulus Wijanarko, Rachmat Ali, Arie MP Tamba, Kurnia Effendi, Ana Mustamin, Dharmadi, Damhuri Muhammad, Irmansyah, Imam Maarif, Sihar Ramses Simatupang, A.Badri AQT, Kirana Kejora, Yurnaldi, Joko Sumantri, Purwiyanto hingga artis yang sekarang aktivis di Komnas Anak, Wanda Hamidah.
Apsasian yang hadir tak hanya dari Jakarta, termasuk wakil Moderator Apsas, Dorsey Elisabeth Silalahi (Ochie) tapi juga dari daerah semisal Gita Pratama dari Surabaya, Adi Toha (Bandung), Diani dan Jasmine dari Pekanbaru. “Saya penggemar sastra, dan bisa hadir di acara semeriah ini sungguh menggembirakan,” kata Jasmine yang mahasiswi di salah satu PTS di Kediri.
Penampilan Whatever band dengan pentolannya, Iwan Sulistiawan yang dikenal dengan nama Bung Kelinci makin membuat meriah suasana. Beberapa pengunjung larut dan menggoyangkan badannya ketika lagu demi lagu diluncurkan. Bung Kelinci juga menampilkan teater Pintu 310 yang menampilkan cuplikan novel Lanang karya Yonathan Raharjo dan monolog dari buku puisi Otobiografi Saut Situmorang serta cerpen karya Akmal Nasery Basral. Tak kalah segarnya penampilan penyair Slamet Widodo yang khusus menulis puisi Caleg untuk dibacakan di HUT Apsas ini.
Novelis Yonathan Raharjo sendiri di acara ini menjadi moderator saat berlangsung dialog dengan Anindita Siswanto Thayf, pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008 dengan novelnya Tanah Tabu. Yonathan menggantikan Zai Lawanglangit, penyair yang mendesain backdrop HUT Apsas dan sedang sibuk dengan pekerjaannya hingga hanya bisa hadir sebentar di awal acara. Dialog dengan Aninditia ini dibawakan dengan menarik oleh Yonathan, dengan humor-humor segarnya yang mengundang applause pengunjung.
Di tengah acara, terdapat peristiwa langka, yang menurut penyair Dharmadi merupakan sejarah, saat Saut Situmorang didaulat ke depan untuk menerima potongan nasi tumpeng dari Sitok Srengenge. Saut bersama Wowok Hesti dikenal sebagai tokoh Boemipoetra yang berpandangan dan menentang keras dominasi Komunitas Utan Kayu dengan salah satu tokohnya Sitok Srengenge.
Sitok dengan tenang diiringi tepuk tangan meriah memotong tumpeng dan sebagian lauknya, menaruh di piring dan menyerahkan kepada Saut. Keduanya lalu berangkulan, dan ditimpali oleh “Saat ini Saut bernama Saut Srengenge”, celetuk Agus Noor diikuti oleh Apsasian yang lain.
Peringatan ulangtahun ke-4 kali ini juga diisi dengan ziarah ke makam Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer di Pemakaman Karet Bielvak keesokan harinya (01/02). Mereka adalah mata kanan dan mata kiri sastra Indonesia, kata Saut Situmorang usai menaburkan bunga di makam kedua sastrawan tersebut. (yo)
https://properti.kompas.com/read/2009/02/04/02455393/kembali.menggugat.dominasi.sastra.koran?page=all
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar