24/05/20

Kritik Sastra Indonesia Kehilangan Arah?

Fadjriah Nurdiarsih
lifestyle.liputan6.com

Dasmir (50 tahun), seorang guru SMP di Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat, mempertanyakan tak adanya acuan dalam mengajarkan esai dan kritik sastra dalam kurikulum Bahasa Indonesia. Walhasil, anak-anak tak cinta dan tak suka menulis kritik dan esai. Ditambah lagi sulitnya mendapatkan novel-novel berkualitas di kotanya. “Toko buku di kota kami hanya ada satu. Itu pun koleksinya terbatas sekali,” ujarnya seraya menggugat dalam acara Seminar Nasional Kritik Sastra pada 15-16 Agustus 2017 di Aula Sasadu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Rawangun.

Namun, bukan hal itu saja yang mengemuka dalam seminar yang dihadiri para guru, sastrawan, kritikus sastra, peminat bahasa dan sastra, serta pegawai balai bahasa dari seluruh Indonesia tersebut. Soal lainnya adalah asumsi bahwa kritik sastra tengah berjalan mundur dan perlunya definisi ulang kritik sastra.

Martin Suryajaya dalam makalahnya berjudul “Tantangan dan Masa Depan Kritik Sastra Indonesia” mengatakan, “Sebagian orang menafsirkan fenomena ini sebagai mengendurnya fungsi kritik sastra.”

Ia menegaskan, hal itu bisa dipahami apabila publik menempatkan polemik sebagai gejala dari perbedaan yang fundamental tentang hakikat dan fungsi sastra. "Jika di masa lampau sempat ada perbedaan pendapat soal polemik metode ganzheit tahun 1968, pengadilan puisi tahun 1974, debat sastra kontekstual tahun 1984, polemik hadiah Magsaysay untuk Pramoedya Ananta Toer tahun 1995, kini sepertinya tak ada polemik sastra yang cukup berarti,"ujarnya seraya menyebut polemik sastra wangi sebagai polemik terakhir.

Martin berpendapat polemik-polemik ini muncul karena sifat masyarakat yang berubah. Perdebatan kini lebih sering terjadi di ruang-ruang media sosial dan berkumpul pada sosok idola. Sehingga, ujarnya, yang terjadi adalah tawuran media sosial membela idola masing-masing. Ia mencontohkan misalnya ada perbedaan prinsip mengenai mana karya sastra yang baik—katakanlah antara penggemar Tere Liye dengan Eka Kurniawan.

Melihat fenomena ini, Martin menyimpulkan kritik sastra di masa depan akan semakin beredar di media sosial dibanding di surat kabar. Apalagi kini sudah tak ada polemik yang dibuat sarasehan lantas hasil pertarungan pemikirannya dibukukan. “Saya kira mengamati perkembangan 10 tahun terakhir akan ke sana (media sosial),” ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa, 15 Agustus 2017.

Memang di masa lampau polemik sastra sempat dibukukan, misalnya dalam Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI (1995) oleh D.S Moeljanto dan Taufiq Ismail, sehingga polemik itu direkonstruksi terus-menerus. Namun demikian, Maman S. Mahayana, dosen sastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mengatakan bukan berarti kritik sastra mengendur. “Di Pikiran Rakyat ada polemik kritik sastra. Di Kompas juga kan ada polemik puisi esai,” ujarnya melalui pesan Whattapp.

Maman menyebut buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh sebagai polemik kontroversial. Berbeda dengan Martin yang menganggap buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh bukan polemik, melainkan hal yang umum dan akan terus-menerus bakal terjadi sehubungan adanya relasi kuasa. Martin mengatakan salah satu contoh perdebatan yang semacam itu adalah pembabakan angkatan dalam sastra Indonesia.

Berkebalikan, Maman S. Mahayana justru menyebut istilah sastra wangi bukanlah polemik sastra. “Itu istilah untuk ngeledek sastrawati yang cantik lalu dapat panggung di mana-mana,” tutur penulis Kitab Kritik Sastra ini.

Meski demikian, Maman setuju bahwa koran tak melahirkan perdebatan. Alasannya, selain koran tak memuat tanggapan, para medioker cenderung lari ke medsos. Lebih lanjut, ia justru mempertanyakan polemik sastra yang dimaksud itu seperti apa.

Hilangnya peran surat kabar dan majalah sastra sebagai penjaga kritik sastra pun diakui oleh Nirwan Dewanto. Pegiat kebudayaan ini dalam seminar yang sama pada Rabu, 16 Agustus 2017, mengatakan selain berkurangnya interaktivitas terkait kolom sastra dan budaya, kini banyak wartawan yang dipaksa menjadi pengulas seni. Padahal, ujarnya, redaktur seni dan budaya yang benar-benar jeli barangkali kini sudah tidak ada. Sebagai contoh, Nirwan menyebut nama Satyagraha Hoerip yang juga sastrawan dan redaktur di Sinar Harapan.

Revitalisasi Kritik Sastra dan Penghargaan yang Sepadan

Sebagai upaya untuk mendorong bergairahnya penulisan kritik sastra, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2017. Yusi Avianto Pareanom, Ketua Komite Sastra DKJ, mengatakan ajang ini digelar sejak 2007 dan direncanakan bergulir setiap dua tahun sekali, berselang-seling dengan Sayembara Novel DKJ. Namun, hingga kini DKJ baru berhasil melaksanakannya empat kali, yakni pada 2007, 2009, 2013, dan 2017.

Yusi mengatakan, “Yang menggembirakan, pesertanya dari usia belasan hingga 70 tahun, bahkan dari kota-kota di seluruh Indonesia.”

Martin Suryajaya, yang menjadi tim penilai, menambahkan, “Karena tidak dibatasi lima tahun ke belakang, maka topik yang diangkat pun bermacam-macam.”

Ignas Kleden yang menjadi pembicara dalam seminar pada Selasa, 15 Agustus 2017 mengatakan, secara umum kritik sastra adalah medan yang penuh dengan kontroversi. Dalam makalahnya berjudul “Kritik Sastra: Sastra dalam Kritik”, doktor ilmu sastra ini mempertanyakan apakah kritik sastra itu suatu disiplin ilmiah atau suatu disiplin kesusasteraan?

Pada akhir ceramahnya, Ignas Kleden akhirnya menyimpulkan bahwa kritik sastra adalah juga karya sastra. “…kritik sastra adalah suatu karya sastra dalam bentuk kritik dan bukannya suatu karya ilmiah, kecuali kalau karya ilmiah itu direpresentasikan dalam bentuk yang membenarkannya sebagai sebuah karya sastra.”

Selain itu, Ignas juga mempertanyakan apakah sebuah penulisan kritik sastra harus dilandaskan pada sebuah teori? Apalagi jika teori itu justru mengasingkan karya dari pembacanya. Dia menekankan bahwa, “tak ada seorang sastrawan pun yang menulis berdasarkan teori.”

Adapun Sapardi Djoko Damono menyatakan kritik sastra sejatinya adalah upaya untuk menjembatani antara karya sastra dan pembaca kepada pengarang, sekaligus sebagai “penasihat” bagi pembaca. Meski diragukan, jika dilakukan terus-menerus, kritik sastra juga bisa menjadi “upaya untuk memperbaiki kesusasteraan.”

”Kritik sastra adalah sebuah uraian tentang segi yang baik dan buruk dalam karya sastra,” tulisnya dalam makalah berjudul “Kritik Sastra: Sejumlah Pokok Pikiran.”

Namun, Sapardi menyatakan dalam kritik sastra itu sendiri banyak “iklan”, sehingga kritik sastra justru bisa bersifat menghalang-halangi pemahaman atas karya. Profesor sastra dari Universitas Indonesia ini menyebut bahwa,”Pemahaman akan muncul dari hubungan langsung antara pembaca dan karya sastra (close reader—pembacaan dekat, red).

Sapardi kemudian menawarkan definisi lain untuk memperluas arti kritik. Dengan cara pandang menurut Sapardi, sebuah komentar atau jempol di Facebook, atau bahkan kicauan di Twitter perihal suatu karya bisa disebut sebagai kritik sastra atau apresiasi.

Jika Sapardi menyatakan siapa saja bisa menjadi kritikus sastra, Nirwan Dewanto berpendapat hanya orang-orang tertentu saja yang secara tekun dan mengikuti terus-menerus dunia sastra bisa menjadi kritikus sastra. Adanya kritikus sastra inilah yang akan menjadi suatu indikator pertumbuhan sastra yang wajar, meski tak selalu memotivasi pengarang.

Maka, bagaimana upaya untuk menumbuhkan dunia kritik sastra yang bergairah seperti era 1970-1980-an? Nirwan mengatakan tak ada cara lain kecuali memperbanyak saluran-saluran untuk penulisan kritik sastra. Salah satunya bisa dengan mengumpulkan tulisan kritik sastra 20 tahun ke belakang dan lantas membukukannya. “Yang ada sekarang kebanyakan berteriak,” ujar Nirwan, Rabu, 16 Agustus 2017.

Yusi sendiri mengaku melalui Sayembara Kritik Sastra, ia ingin mengajak orang menulis kritik lagi. Salah satunya, perlu adanya penghargaan sepadan agar kritik tumbuh menggairahkan. Yusi menyebut hadiah 20 juta untuk pemenang sayembara termasuk kecil. “Tidak sebanding dengan kerja risetnya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengusulkan adanya situs khusus kritik sastra yang dikelola secara profesional yang bisa menghadirkan tulisan-tulisan panjang yang digarap secara serius yang tak tertampung di tempat lain.

Yusi berpendapat, pewadahan tulisan kritik di satu tempat bakal memudahkan pembaca mencari tulisan pembanding atau tulisan terkait objeknya yang sama. Hanya saja, tentu perlu dana. “Pokoknya DKJ mau bikin macam-macam judulnya enggak punya duit, gitu aja,” ujarnya seraya tertawa.

http://lifestyle.liputan6.com/read/3065719/kritik-sastra-indonesia-kehilangan-arah

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita