03/04/20

Umbu dan Bali

Wayan Budiartha *
kompasiana.com/budiartha

Bosan sebagai presiden penyair di Jogja Umbu Landu Paranggi lalu pindah ke Bali sekitar tahun 75. Bersama Gerson Poyk, Ki Nurinwa dan belasan penyair angkatan tahun 70an Umbu menggiatkan dunia kepenyairan Bali. Padahal di Jogja nama besarnya sudahpun sejajar dengan Ebiet G Ade, Emha, atau dengan yang di Jakarta seperti Sutarji dan sederetan nama besar lainnya.

Umbu malahan ke Bali, mengasuh ruang sastra di koran Bali Post sampai saat ini. Di Bali dia menjadi penjaga gawang, berkelana dari satu sekolah ke sekolah lain menggiatkan yang namanya kompetisi puisi. Dia mengambilnya dari istilah sepakbola, olahraga yang memang paling digemari Umbu. Dia berkutat di kedua dunia itu sama seriusnya. Sampai sekarang tak kurang dari 3000 penyair yang sudah berhasil ditetaskannya lewat lembar sastra koran Bali Post. Sebagian terbesar melahirkan karya yang mencengangkan bukan saja di tanah air tapi juga di tingkat Asia bahkan dunia.

Tapi Umbu sendiri tetap dengan kemisteriusannya. Berumah di awan begitu istilahnya. Tak ada yang tahu pasti dimana dia tinggal sekarang ini. Pernah secara rutin dia nongol setiap hari Rabu di pasar loak Kreneng.

“Saya mencari buku bekas, ada novel karya Barbara Taylor yang saya kejar tapi tak ketemu yang ada malahan novel Hemingway yang hard cover,” tuturnya kala itu. Setiap hari Rabu kita bisa menjumpai Umbu dengan topi sport biru, baju lengan panjang yang digulung dan sandal kulit berkeliling diantara pedagang loakan yang menggelar dagangannya di pelatarn parkir.

Umbu punya pendapat yang bagus tentang pasar loak. Yang ramai dikunjungi penduduk Bali tiap akhir pekan. “Banyak barang baru di loakan dari sandal sampai buku dan laptop menandakan dua hal, mungkin orang Bali sudah terlalu maju sampai sampai barang masih barupun di loakin, tapi bisa juga berarti banyak yang bangakrut hingga barang baru sudah dijual untuk modal,” ucapnya enteng.

Kehadirannya di hari Rabu di pasar loak sebenarnya  untuk menghindarkan pertemuan dengan sesama seniman yang datang tiap Sabtu dan Minggu. Hanya ada dua teman karibnya Bambang Wiryono seniman lukis, dan K.Prasetya yang sering mengawal sang presiden penyair Malioboro itu. Mereka memiliki kepentingan yang berbeda. Umbu berburu buku sastra yang dijual pemiliknya karena dianggap membuat sempit lemari, K. Prasetya berburu peralatan dapur antik sedangkan Bambang berbusu kaset lawas rekaman tahun 70an.

“Saya jarang ketemu buku sastra yang masih bagus kulit dan dalamannya, semuanya sudah sobek kanan kiri malahan jadi rumah kecoak dan kulitnya dikencingi kucing,” tutur Umbu menyesalkan. Bisa dibayangkan buku-buku itu dibiarkan sekian tahun lamanya di gudang kemudian dijual ke tukang loak dan dijajarkan di atas aspal di pasar Kreneng.

“Buku bekas di Bali berbeda dengan di Jogja, disana pedagangnya memberlakukan buku seperti dewa, karena yang membeli berani menawar tinggi, disini, buku sastra disejajarkan dengan sumpit, gunting kulit bahkan dengan talenan kayu,” ujarnya sambil menunjuk penataan buku bekas didepan seorang pedagang loak.

Umbu malahan sering jadi sumber inspirasi bagi kedua rekannya. Umbu sering menemukan sendok dan kaset rekaman tahun 60an. Di dunia kepenyairan dia mengasah banyak anak muda Bali yang berbakat menjadi penyair yang ciamik, tapi di dunia loak dia juga berhasil mengangkat barang yang mestinya di timbang pemulung menjadi berarti, paling tidak bagi kedua rekannya yang penggila sendok dan kaset.

Selain bertemu dengan kolektor dan pelukis dia juga sering jadi sumber inspirasi bagi seniman lainnya. Sebutlah seniman lukis Yan Beryas, yang tertangkap basah sedang mendiskusikan cara pengambilan foto yang baik dan benar untuk bisa diikutkan dalam lomba foto tingkat lokal.

“Saya Cuma memberi semacam idea dasar saja bagaimana menghasilkan foto siluet yang bagus, padahal seumur hidup saya belum pernah pegang kamera,” ujarnya terkekeh. Sangat jarang kita menemukan gambar Umbu yang dibuat tahun 2000an, karena dia termasuk yang , alergi terhadap pemotret. Seorang rekan yang berhasil menjepretnya secara sembunyi-sembunyi konon diputus pertemanannya tanpa sebab yang jelas. Padahal gambarnya tidak dipublikasikan. Sama halnya dengan kusir dokar yang dipecat sebagai langganan karena membocorkan kepada orang yang mencari alamatnya.

Begitulah Umbu, dia hanya ingin berbuat yang terbaik bagi dunia kepenyairan tanpa perlu diketahui jejak langkah berikutnya. Dia seperti legenda hidup yang tidak perlu kita tahu dari mana datangnya dan kemana perginya.

Bagi yang tak mengenalnya secara dekat Umbu mungkin termasuk nyentrik. Tapi Umbu punya ungkapan yang bagus tentang laku lajaknya selama ini. Dan dia menyebutkannya dalam bahasa Inggris yang faseh. “To be the best is great, your number one, to be unique is greatest, you’re the only one,” begitu celotehnya bercasciscus. Dan banyak yang tak percaya walau jadi penjaga gawang ruang sastra di Bali Post, beberapa mahasiswa fakultas Sastra Inggris Unud menyebutkan Umbu sering tampil sebagai dosen tamu di Universitas terbesar di Bali itu. Entah benar entah tidak Umbu sendiri tak bisa di konfirmasi tentang hal itu.

Yang pasti Umbu tak hanya memiliki pandangan kritis terhadap kehidupan dunia sastra di Bali dan Indonesia saat ini dia juga prihatin akan kemelut di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali yang sampai saatini tak kunjung ketemu jalan tengah yang terbaik.

“Lembaga seni terhormat kok memberi pertunjukan yang memuakkan begitu, semestinya seniman menjadi panutan dan cara berfikirnya selangkah dua langkah didepan orang awam kebanyakan,” ungkap Umbu bernada kesal.

Dia wanti-wanti juga mengingatkan agar Bali yang begitu indah ini melakukan rekonsiliasi di segala lini, pemimpinnya, wakil rakyatnya, pemuka agamanya, senimannya dan rakyat jelatanya juga.

“Ketika saya masuk ke Bali tahun 70an, semuanya damai, semuanya senyum hangat dan saling peduli, sekarang sepertinya hal seperti itu sangat sulit kita jumpai lagi, tapi dunia sudah terlanjur terjebak menganggap Bali sebagai yang wah, nomor wahid, hangat bersahabat dan segala yang baik lanjutannya, mestinya tinggal membalik tangan saja untuk mewujudkan segala macam kebaikan itu kembali seperti semula,” tuturnya panjang lebar.

Umbu tak hanya peduli bagaimana penyair Bali harus berkarya dengan baik hingga mengharumkan nama Bali tapi juga menginginkan Bali secara keseluruhan damai dan langgeng seperti di masa lampau.

_________________
*) Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat dijadikan sayur itu. Lahir di Bali, dan punya hobby mengumpulkan benda benda yang ada hubungannya dengan kehidupan di jaman Majapahit, seperti keris, akik, tembikar, batu dan sejenisnya.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita