19/07/13

Membo-membo Jadi Iblis di Kediri *

: Membaca Buku ‘Sekumpulan Sajak Pesantren’ bertitel “Jadzab”
Nurel Javissyarqi **
http://sastra-indonesia.com/

Dua tahun lalu pertengahan Ramadhan saya ke sini, tepatnya mengikuti kawan-kawan Kutub (para santrinya almarhum Gus Zainal Arifin Thoha); Muhammadun AS, Salman Rusydie Anwar, A. Yusrianto Elga, di antaranya agak lupa siapa saja pengisi pelatihan kepenulisan di Lirboyo, setelah itu ziarah ke makam Gus Zainal. Mungkin sepuluh tahun lampau saya di sini sekadar ngopi, seperti ke pesantren lain menikmati alam damainya. Ini mengingatkan saya masuk Pon-Pes. Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang, dua belas tahun lewat, kala menghadap Mbah Mad (Kiai Ahmad Abdul Haq) disaat beliau masih sugeng. Ditanyalah, ‘Kenapa ke pesantren?’ ‘Ingin merasai hawa pesantren,’ ; jawab saya. Dan tiga minggu lalu, ke sana kembali untuk meresapi ketenangan tersebut.

Kini saya dihadapan saudara, khususnya para penulis buku Jadzab. Ibarat pohon jati usia muda, perlu banyak keringat memeras daya dalam kemarau panjang, serta mewaspadahi banjir terlena. Saya kira keilmuan lahir-batin saudara menapaki tangga kepastian, umpama tentara abadi siap kurbankan apa saja demi cita-cita. Hanya kelemahan bibit pohon jati kerap mengganggu batang asalnya, kecuali di lepas hijrah. Maka perlulah ditanam di ladang-ladang kembara berkesiapan membaja; sedari alunan kitab-kitab terbaca, susunan mutiara hikmah di kedalamannya, restu para guru, ketawadhuan, dialog badan kasar-halus pula jenjang kesadaran setiap muwajahah kepada-Nya, itu alam maha kaya dibandingkan keterpukauan saudara ke dunia luar.

Agar membo-membo ini di jalur keselamatan atau menghindari persamaan Iblis selanjutnya. Marilah baca Surah Pembuka kepada para nabi, para rasul, para sahabat nabi, para wali, para tentara di Perang Badar, para imam, para ‘ulama, para guru, pula para orang tua, dan seluruh umat Islam dari jaman Nabi Adam sampai tamatnya dunia, Al-Fatihah…

***
Suatu hari terkisahkan; Iblis yang biasa berbohong, berdusta serta perihal buruk lain, berkata jujur lantaran terpaksa. Cerita ini diriwayatkan Mu’adz bin Jabal ra., dari Ibnu Abbas ra., dan peristiwa itu disaksikan sahabat Nabi saw., yakni Umar bin Khattab ra. Hadits tersebut banyak ditulis para ulama, sedangkan yang saya cuplik sebagian nanti dari Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya “Hikayat Iblis,” untuk membongkar antologi Jadzab, di mana saya membo-membo (berpura-pura) jadi Iblisnya.

Dikala memperkuat argumentasi, Iblis menunjukkan ayat-ayat di dalam al-Qur’an, misalnya mengabarkan firman Allah swt; Q.s. al-Hasyr: 16, Q.s al-Isra’ :64, Q.s. al-Isra’: 27. Olehnya, saya membawa ayat-ayat kitab suci demi mendalami kupasan semestinya yang terjadi, Innalillahiwainnailaihirojiun.

Ia datang sambil memberi salam, “Assalamu’alaika ya Muhammad, Assalamu’alaikum ya jamaa’atal-muslimin,” kata iblis. Nabi saw. menjawab, “Assalamu lillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluan tersebut wahai iblis?” “Wahai Muhammad, saya datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang ke sini karena terpaksa,” tutur iblis. “Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai makhluk terkutuk?” tanya Rasulullah.

Iblis menjawab, “Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Mahaagung, dimana utusan itu berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya Allah swt. memerintahmu untuk datang kepada Muhammad saw. sementara engkau adalah makhluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak-cucuk Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad dengan jujur. Maka dengan Kebesaran dan Keagungan Allah, jika engkau menjawabnya dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang.’ Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawabnya dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku.”

Lalu Rasulullah saw. melemparkan pertanyaan-pertanyaan ke Iblis. Di sini saya enggan melanjutkan hadits tersebut, saudara dapat mencarinya jikalau termasuk ahli ilmu, dan yang tak sekadar menanti-nanti datangnya laduny. Posisi saya kini, tidak lebih mengimbangi dalam membaca kemungkinan adanya terlepas atau mengurangi datangnya kecelakaan pihak pinafsir yang berangkat sedari pandangan sepihak, berkepentingan di luar kondisi ‘Jadzab.’

Endosemen di buku itu saya sukai dari Ning Qurr; “Sebagian dari mutiara-mutiara dunia yang akan menyinari dunia dengan pantulan sinarnya, menembus cakrawala dengan keindahan kata dan keindahan pribadi nyata. Puisi ini adalah jeritan dan gambaran hati. Dan Allah-lah yang maha Tahu. Wallahu A’lam bishshowab.” (Ibu Nyai Lilik Qurrotul Ishaqiyah – Pengasuh Pon-Pes. Langitan). “Wallahu a’lam bish-shawab” menggetarkan saya!

Ada larik kata-kata membuat saya canggung membaca pengantarnya, “Membaca Ayat-Ayat Lepas” oleh Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. tepatnya; “Menyelami puisi memang seperti membaca ayat suci.” Saya yang sekadar lulusan MAN Denanyar, Jombang, terganggu ujaran melangit itu. Olehnya akan mengupas terlebih dulu, sebelum memasuki kumpulan puisi yang tentu secukupnya, agar tidak memakan banyak halaman. Secara ilmu mantiq, kata-kata Suwardi sangat meyakinkan sebagai awalan, namun agak bahaya bagi insan di luar lingkaran, yang bisa mendatangkan kedholiman. Lebih parah jika ada pengutip tak mengetahui atau sengaja tak ingin tahu jauh, sehingga keluar dari kedudukan yang semestinya.

Membaca seluruh paragraf awal muqaddimah Suwardi, sepertinya tiada masalah, tampak elok bersahaja di bidang yang digeluti; “Menyelami puisi memang seperti membaca ayat suci. Puisi yang diantologikan ini, semula adalah ayat-ayat lepas, namun dirangkai dalam sebuah ‘wadah emas’. Ayat-ayat itu akan mengingatkan detak hidup manusia yang kadang-kadang serakah, kosong, zina, dan bercanda tanpa makna. Puisi-puisi antologi ini mungkin akan menjadi seberkas jawaban ketika kita ragu mengarungi bentangan hidup.”

Umpama mengguna asas universal pada fakultas hakikat, yang di kolong-kolong angkasa, lembah-lembah hayati, semua suci sedebur ombak lautan. Pun yang bertebaran di keseluruhan tujuh sab langit, segerak galaksi diteliti para ahli falak. Pula sebatang pohon; akar, serat, dan kulitnya, menanjaki batang berdahan, bercabang, meranting, membentuk daun berbuah, meski melewati penyangkokan awalnya ialah ayat suci. Tapi ketika sebuah jalur pengetahuan (puisi) mengerucutkan diri sebagai ayat suci, seolah menutup kesucian di belahan berbeda. Sejenis mengkultuskan sesuatu dengan abai perihal lain, sedangkan puisi turun di wilayah teks, yang wujudnya dapat dibaca serupa ayat-ayat suci firman-Nya.

Kemiripan wujud teks bisa saja menggelincirkan, mengira sama berkadar tingkatan terrendah atau turunan, yang memicu watak berbangga, terlepas dari kodratnya. Oleh sebabnya, Rasulullah saw. menggaritkan pembatas; “Sesungguhnya sebagian dari perkataan yang fasih itu ada sesuatu yang mempesona laksana sihir. Dan sesungguhnya sebagian dari sya’ir itu terdapat hikmah.” ini pantas didedah, agak tak lewar dari kesadarannya?

Saya petik kelanjutan hadits mengenai Iblis, “… Apabila (umat muslim) membaca al-Qur’an, maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. …” ungkapan jujur Iblis kepada Nabi saw.

Lalu bandingkan dengan puisi yang bisa jadi menulisnya berkeadaan hadats besar / kecil. Mencangkok dahan pohon dengan nafsu menumpuk kekayaan demi kesenangan diri sendiri. Sedangkan kaum muslim sebelum memegang mushaf kitab suci membaca firman-Nya, diwajibkan berwudhu atau lepas dari hadats besar-kecil, pula adab mengagungkannya secara lain.

Memang Dr. Suwardi tidak menyebut kata-kata ‘firman-Nya,’ tapi puisi serta sebagian perilaku penyair muslim, kerap memanfaatkan ayat-ayat mutasyabihat di dalam menopang gagasannya, yang sering abai asbabun nuzul-nya. Seperti terurai di buku saya; “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri” mengenai Surat Asy Syu’ara ayat 225-227. Pula temuan saya di atas melencengkan makna “Kun Fayakun” ke artian “Jadi, lantas jadilah! dan Jadi maka jadilah!” oleh SCB, yang sedang saya susun di dalam membaca salah satu esainya Ignas Kleden.

Bisa jadi para intelektual yang kurang pahami tradisi pesantren ajaran Islam, menganggap kata-kata ‘ayat suci’ seperti firman-Nya di larik itu. Sehingga jaraknya berlawanan dari ayat-ayat suci-Nya;

“(Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini) dalam hal kefasihan dan ketinggian paramasastranya (niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”) saling bantu-membantu. Ayat ini diturunkan sebagai sanggahan terhadap perkataan mereka, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya (QS 8 al Anfal, 31): Kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini (al-Qur’an). [Qs. al-Isra' (17): 88]

“(Dan Kami tidak mengajarkan kepadanya) yakni kepada Nabi saw. (tentang syair) ayat ini diturunkan sebagai sanggahan terhadap perkataan orang-orang kafir, karena mereka telah mengatakan, bahwa sesungguhnya al-Qur’an yang didatangkan olehnya adalah syair (dan bersyair itu tidak layak) tidak mudah, ada yang menyebut tidak pantas (baginya). (Al-Qur’an itu tiada lain) apa yang diturunkan kepadanya, tiada lain (hanyalah pelajaran) nasehat -peringatan- (dan Kitab yang memberi penerangan) yang menjelaskan tentang hukum-hukum dan lain-lainnya.” [Qs. Ya'sin [36]: 69).

Kritik ini, lantaran dua kata ‘memang’ dan ‘seperti’ dalam perkataan “Menyelami puisi memang seperti membaca ayat suci,” memberi dorongan kuat memaknainya sebanding ayat suci firman Allah swt. Demikian membo-membo saya sebagai Abu Murrah (julukan Iblis). Kini, ke kumpulan sajak.

***
Agar sedikit adil pun persingkat waktu, saya telaah satu-persatu karya awal dari susunan tiap penulis puisi; pertama Usman Arrumy berjudul Titik, yang lain Bersama Hujan, Aku Mencintaimu, Untuk Robi’ah Adawiyah, Al-hallaj, Jumat, Gua Hira, Kembang, Jadzab, Karena Aku Wayang dan Kau Dalang, serta Pijar. Usman lahir 6 Februari 1990 di Demak. Sejak kecil dididik di lingkungan pesantren ayahnya (Pon-Pes Miftahul Ulum). Lalu mengembara di Pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, Grobogan, di Pesantren Fadhlul Wahid Ngangkruk, Grobogan, di Pesantren Al-fadlu, Kaliwungu, Kendal. Puisinya dimuat di beberapa majalah, dan sudah memiliki tiga antologi puisi tunggal.

Yang ditempa hidup nyantri dari pesantren satu ke satunya, mungkin sampai tua suka kembara, menuntut berkah para guru yang keilmuannya bersilsilah. Tidak sekadar di bangku madrasah, menghafal kitab, mendendangkan syair dalam kitab-kitab klasik karangan ‘ulama. Juga bertekun tirakat, membaca wengi, malam melarut di gelas kehidupan, suara bergegas hendak sholat, bercengkerama di makam-makam orang utama. Di antara memaknai kitab kuning berbahasa Jawa, membuat syair demi merekam tapak jejak hayatnya.

Sajak “Titik” saya suka kandungannya, bayangan Usman seakan disematkan ke kisah para ulama’ pula nabi-nabi nan tertuang di dalamnya. Hanya kurang bersabar pemilihan kata, nada, penulisan huruf, yang itu bisa meningkatkan wibawa suatu karya. Mungkin perihal itu terikat jenjang usia, yang semoga nanti menemukan muara kebeningan didamba, kesantunan rahasia dengan pengudaran mewah. Di titik-titik persinggahan pribadi mengenal dunia, dilakoni merambahi detakan jantung memompa nafas, hingga seluruh kelenjar tubuh bekerja. Namun ada perih saya menyimaknya di sini:

Maka akulah kembara yang mengelana mengendarai titik
Dibawah huruf ba’ menuju tuju pintu surga
Akulah yang mendamba kasroh menjadi perahu nuh
Yang kelak akan bersauh
Dan kepada miim aku melabuh
Akulah musafir yang hijrah
dari entah lalu mendiam dipasrah

Kala membaca sajak Titik, ada lelompatan mengasyikkan, sedebur ombak bersantapan cahaya, tetapi garam perasan peristiwa belum memutiara, ada yang terbang begitu saja. Dalam prosesi saya berkarya, tak malu merevisi jika dirasa perlu pun lebih sesuai meski sudah diterbitkan sebelumnya. Toh sebuah karya pantas atau berpeluang langgeng daripada usia pengguratnya, pula dipertanggungjawabkan di masa lama.

Karena perangainya melompat-lompat saya menduga; di larik terjumput itu kehendaknya melukis huruf-huruf Basmalah. Sayangnya, cepat dituntaskan sampai terasai perih dibuatnya; huruf ba’ merupakan awal merendah ‘andap ashor,’ kebalikan dari huruf nun dapat dimaknai keangkuhan. Jika dilukisan antara dipangku titik, dan memangku titik. Ba’ pengertiannya ke Bismillah, sedangkan kebalikannya huruf nun dilesatkan ke nar artinya api atau neraka.

Jika Usman bertabah mengudar huruf sin, diletakkan misalnya mensucikan Nama Allah; Subhanallah, sebentuk huruf aslinya seperti orang bermunajad, tentu kehadirannya lapang sebelum memasuki miim-nya Muhammad untuk menemui la-nya Lillahi ta’ala, sampai kepada miim-muakhir sang Nabi saw. Saat dibaca ulang, kembali ke huruf ba’ sebagai pergumulan kasih sayang antara hamba dengan Sang Penciptannya; kasih-Nya pada seluruh makhluk, sayang-Nya ke segenap umat Muslim sampai akhir jaman. Miim kehadiran Rasulullah saw. dan miim pemberi syafaat bagi iman yang meski sebutir zarah. Rahmat ini bisa diudar menerus, sejumlah tingkatan pamahaman dalam jenjang diikhtiarkan, tentu atas kemurahan-Nya pengertian yang ditaburkan kepada golongan orang-orang di jalur mukhlis (laku murni).

Kedua; Devie Sarah Khan, nama pena dari Devi Maisarah. Lahir 23 Juni 1991 di Pesantren Buntet, Cirebon. Mahasiswi Fakultas Tarbiyah di IAIN Syekh Nurjati. Mulai menulis sejak di bangku Tsanawiyah. Tak hanya puisi buah penanya, beberapa cerpen dituangkannya. Salah satu redaksi kampus, dan dalam bidang kesenian banyak menuai prestasi. Sajak-sajaknya; Dunia “Akan”, Engkau Wahai Aku, Sedetik yang Beberapa Hari, Sekelebat Sesalan, Gulma Membunga, Sarkasme terhalus, Senja di Penghujung Oktober, Nyanyian Lampu Merah, dan Agama, Bukan Tanpa Cinta.

Dalam sajak “Dunia ‘Akan’,” saya menemukan corak abai, meski bangunan nalarnya bisa dikata lumayan. Terlihat kurangnya pembacaan ulang, hingga bentuk ‘keluguan’ penciptaan pertama tampak terang. Mungkin Devie, ingin menunjukkan keotentikan kilatan inspirasi awalnya dan menganggap sayang jika dirombak, atau terlalu percaya diri? Ataukah mengira suci pertemuan di alam puitik? Sampai tiada keberanian menempanya lagi sebangunan imbang kadarnya, yang secara fitri kelak mendapati peningkatan nilai -seyogyanya.

Bagi pekerja menanjaki wilayah sastra, harus rela menyingkap kandungan misteri kehadiran karya sampai sekedudukan nasibnya, seperti bersedekah tanpa pamrih di waktu tepat, atau menundukkan ego, demi kelanggengan ciptaan di alun-alun semestinya. Ketidakberanian memangkas, meringkus daya ciptaan, serupa batu berharga belum dibentuk, kala cahaya pembacaan tak memantul seterang kodratnya. Atau bebatuan mutiara lebih berharga jika dipahat berbilang sudut pandang oleh sang ahli bertekun siang-malam, meski kelak yang dikenal karyanya. Setidaknya pembuat untaian mutiara bahagia, menyaksikan kalung ciptaanya melingkari leher jenjang putri raja misalkan.

Ketiga; Amna Milladiyah, nama penanya Aam Amna. Lahir di Sidoarjo 3 September 1993. Menempuh pendidikan SD TPI, MTs Islamiyah, desa Inggir. Tamatan SMA NU Malang, yang kini belajar di PPSQ Asy-Syadzili. Kegemarannya menulis sejak sekolah dasar. Sajak-sajaknya; Dzikir Abadi, Sentuhan Kasih, Bahasa, Pemilik Rindu, Jejak-Jejak Sujud, Konser Musik, Aku dan Cahaya, Pelabuhan Rindu, Pusaran Bapak, dan sajak Ibu.

Komentar saya pada sajak “Dzikir Abadi;” terkadang bacaan meluas, serta pengalaman spiritual meresap, belum tentu mampu menuangkan dengan ketepatan bahasanya. Lebih parah cara membacanya keliru, tak paham yang sedang dibaca, atau tak mau bersuntuk-suntuk menggali makna yang terbaca lewat lelaku. Di sini saya kutip kata-kata pembuka dalam “Kitab Adab Al-Muridin,” karya Abu Al Najib Al Suhrawardi:

“…Setiap orang yang mencari sesuatu harus mengetahui esensi dan watak sejati apa yang dicarinya, sehingga keinginannya akan hal itu dapat terpenuhi. Tak seorang pun dapat mengetahui jalan para Sufi secara memadai hingga ia mengetahui keyakinan-keyakinan fundamental mereka, aturan-aturan tindakan mereka (adab), dan istilah-istilah teknis mereka. Karena besarnya jumlah pemalsu yang berpura-pura, keadaan Sufi sejati telah diabaikan. Namun, penyelewengan itu semestinya tidak meniadakan yang sejati.”

Saya tambahkan untuk Amna; bersunyi-sunyi sangat penting, berdiam diri itu baik. Dengan kesendirian teramat hening, seluruh bacaan meresapi kalbu menuntun ke jalan dirindu.

Keempat; Sekar Aisha Nahdhia, lahir 2 Desember 1994, Cirebon. Ia dikenalkan dunia buku oleh bibinya. Alam pesantren melekati dirinya, membentuk religius unik. Ia terinspirasi gaya kepenulisan Leo Tolstoy, Vladimir Nabokov, begitu biografinya. Sajak-sajaknya; Secangkir Teh Kehidupan, Puisi kakak, Senja & Sehelai Padi, Dogma Petang & Sebutir Tomat, Satria, Padang Imajinasi.

Pada sajak “Secangkir Teh Kehidupan,” kesan saya; pengulangan kadang membosan, dan kata-kata mengumbar, meluncur tanpa penggendalian diri setiap kesadaran kata, melemahkan peristiwanya. Andai keadaan meminum teh diulang-ulang, lantas tiap pengulangan dicatat berkadar seksama, maka penumpukan catatan terjadi kian matang. Seperti berulangkali jatuh cedera, rasa berperbedaan tipis menentukan lelipatan menuju pengertian lembut. Mengangkat kebeningan tangkapan panca indera ke alam puitik, laksana lamur pepagi menghadiahi bulir embun di lengan, dedaun, pegunungan.

Hawa ketinggian, uap mengepul, aroma meyakinkan menyerapi persendian, kala pengulangan ditempatkan ke alur pembacaan. Maka selain percaya diri, pengoreksian wajib bagi berjiwa maju, misalkan sebuah sajak disuntuki satu bulan lebih, di bulan selanjutkan diperiksa lagi. Sebab bertemunya formulasi terbaik berangkat dari ketekunan menyimak selain produktivitas, sekiranya hasil dapat terketahui jauh kemudian, kalau benar bersuntuk mempelajari kehidupan. Pula kudu dilayarkan, lantaran kesaksian selalu meningkatkan nilai; barangkali saksi pertama, kedua, masih terselimuti warna melenakan.

Kelima; Mawar Merah nama penanya. Ia sebutir debu diberi kesempatan hinggap, di indah matamu. Kapan saja bisa kau sibak, kau hilangkan dari pandangan. Atau ada angin memaksaku enyah darimu, tapi… kesempatan untuk mampir di alismu, dan merasakan sejuknya terbasahi linangan air matamu ialah anugrah terhormat sedari sebuah debu. Pecinta kopi sejati, belajar hidup dari pahitnya, pengagum senja dan malam. Itu- biografinya, sangat percaya diri tak menyebut nama asli, samarannya pun tersamarkan. Mungkin ini gejala kembalinya jaman lampau, tersematnya istilah anonim, atau bisa dikatakan kebebasan pengarang, disaat memasuki masa kekinian. Nama sajak-sajaknya; Rintik Rindu di Kota Sayu, Menunggu Langit Bicara?, Takbir Subuh, Senja di Ujung Malam, dan Aku Rindu Kopimu.

Komentar singkat saya pada sajak “Rintik Rindu di Kota Sayu;” lumayan, tapi saya belum berminat mendalaminya. Jikalau karyanya sekelas penyair tanpa nama pada link berikut ini, mungkin saya agak tertarik http://sastra-indonesia.com/2010/03/penyair-tak-dikenal-dari-yugoslavia/

Keenam; Cahaya Langit, nama pena dari Nur Ilmiyah, kelahiran 27 Juli 1991. Pendidikan di MI NU Maudlu’ul Ulum, MTsN 2, MAN 1 Malang, yang kini di STAIN Bengkulu. Berharap karyanya sekarang bukan karya pertama sekaligus terakhir, tetapi lainnya segera menyusul. Judul sajak-sajaknya; Abu Perjalananku, Candu Ampunan, Senandung Retak Hamba, Lekat Mengingatmu dalam Hayat, Kabut Hitam Kehidupan, Telah Gelap Rinduku, dan Mengembara Makna.

Nama pena penulis ini serupa anonim, namun mendingan menghargai tapak hayatnya. Semoga dirinya memikirkan lebih matang sebuah nama atas karya selanjutnya. Atau takdir bakal terjadi di masa datang, oleh pilihan sekarang.

Pada sajak “Abu Perjalananku”, saya tak memberi kupasan apa-apa, hanya jika boleh berpesan; perbanyaklah baca, tidak hanya membaca diri sendiri, tidak hanya merasai hembusan angin hayati, namun jua tarikan nafas dunia kata-kata. Mungkin sesekali perlu mabuk baca berhari-hari, hingga berjam-jam dikemudian hari dalam sinahu lebih terang pandangan kala penyimakan. Juga menahan kantuk, membuang malas mengamati karya orang lain, sebab betapa tidakkan tahu tingkat kemajuan belajar tanpa berkaca kepada mereka.

Itu berulang-ulang ditingkatkan, ialah kesuntukan setahun bisa lebihi yang lehan-leha sepuluh tahun, senada makolah ini; “Istiqomah lebih mulia dari seribu karomah.” Hidup hanya sebentar, tanpa kesungguhan maksimal kan menyesal, sia-sia untuk beberapa masa tidak terhitung jumlah kerugiannya!

Ketujuh; Nurul Farida Wajdi, lahir 12 Mei 1992, Sleman, Yogyakarta. Menempuh pendidikan di ndalem Bapak Muh. Dawami 1997-1999. Pada tahun 1999 hingga kini di Masjid Ash-Sholihin, dan sejak 2007 di Ma’had Islamiy Sunan Kalijaga, serta dimulai 2011 di Darus-Shalihin. Semenjak kecil suka menulis, buku teenlitnya “Say No To Pacaran” (2009), naskah komik Pahlawan Nasional ‘K.H. Zainul Arifin’ dan ‘Sultan Hasanuddin’, kerjasama dengan G.Wu (2011). Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jawa di UNY. Sajak-sajaknya; Eling Sliramu (Teringat Dirimu), Nalikaning Pajar (Ketika Fajar), Ibu (Ibu), Mungguh Wuyung (Tentang Rindu), Rama (Ayah), Ku Menerka, Aku Sadar, Marilah, Gadis Kecil, dan Si Mungil.

Membaca gurit “Eling Sliramu,” mengingatkan saya dimasa belajar kepada almarhum KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo, di bawah pohon sawo kecik, Nagan Lor 21 Yogyakarta. Geguritan Farida lumayan memikat, namun perlu pilihan kata lebih lembut. Dalam penuturannya bisa dibilang rapi, tapi daya kesastrawiannya masih patut digali. Agar bencahnya menyubur merambahi khasana guritnya kian sumarah, sumekar laksana kuntum kembang melati mewangi, di sanding sendang hangat tirta dari pegunungan asri. Atau saya lihat ketegasan sang putri menapaki tangga Ilahi, semoga nan sumambrah dari ketinggian hakiki. Dan kelembutan bahasa sajaknya “Teringat Dirimu” sepantulan guritnya. Farida boleh memasukkan kosa kata bahasa Jawa ke sajak berbahasa Indonesia, kiranya menambahi bobot nuansa serupa kata ‘kemerlip’ di sana.

Delapan; Hasan ben Aly, asal Parengan, Lamongan 15 Oktober 1995. Sejak kecil tinggal di Pon-Pes. Nuur Al Anwar. Awal pendidikan di TK Muslimat, di Ibtida’iyah ketika pagi, siangnya di TPQ Manbauddalalah. Lulusan SMP Wahid Hasjim Parengan, lantas menekuni pelajaran pesantren. Menyukai dunia tulis saat baca puisi karangan K.H. Musthofa Bisri di majalah. Sajak-sajaknya; Semacam Perasaan Rindu Padamu Muh!, Tuhan, Buat Kamu, Suluk Seorang Bodoh, Khidir, dan sajak bertitel Di.

Membaca sajak “Semacam Perasaan Rindu Padamu Muh!,” pun tidak mendedahnya. Karena Hasan warga Lamongan, maka saya tak segan melancarkan masukan; cobalah suntuki karya Gus Mus yang kau sukai, kemana-mana dibawa, disimak berulang-ulang, sambil tubuh dimiringkan, tegak berdiri, tiduran, dengan posisi berlainan, kondisi berbeda di atas teks yang sama, tentu mendapati temuan lain dari sebelumnya.

Mencoba menulis sajak dikala hujan rintik, gerimis menderas, sebelum tidur, bangun malam, pagi buta, pagi kesiangan. Membunuh kantuk dengan celak, makan buah asam jika perlu, orang-orang terdahulu lebih berani menaburkan garam lautan di mata. Teruslah berkarya diwaktu bergairah, saat kemalasan mendera, bosan, buntu, basmi itu semua sampai batas-batas memungkinkan sadar atau lebih.

Menyimak alam membaca buku, jika ingin mendapatkan tidak percuma atau sedang saja; itu kesempatan sangat tipis, hanya lewat bersusah payah serba kekurangan, ilmu pengetahuan terserap dari pelbagai penjuru, seirama; Q.s 13: 11

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa pada diri mereka.” Pegang Hadits diriwayatkan at-Tirmidzi dan Muslim, sedari Amru bin Maimun r.a.; “Rebutlah peluang lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datangnya hari tua, masa sehatmu sebelum dilanda sakit, masa kayamu sebelum jatuh papa, masa lapangmu sebelum datangnya sibuk, dan waktu hidupmu sebelum datangnya kematian.”

Satu dua makolah sudah cukup bagi mempercayainya; itulah kelemahan umat Islam sekarang, tidak menempa keyakinannya sedalam penyelidikan!

Sembilan; Ella Ainayya, nama pena dari Ella Ainayya fz. Tinggal di Balekambang, Nalumsari, Jepara. Kegemarannya menulis sejak kecil, bermula dari coretan kata-kata yang dikumpulkan untuk dinikmati sendiri, dan orang-orang sekelilingnya. Kecintaan terhadap komunitas pesantren membuatnya ringan menyumbangkan sebagian karyanya di sini. Sajak-sajaknya; Tak Taunya aku, Simpang Jalan, Kau dan Rasamu, Pujimu Padaku, Semuamu, Berteman Gelisah dan Gunda, Aku Kamu dan Rasa Itu, Laki-Laki Soleh Itu, Dalam Maya, dan A Piece of  Remember.

Pada sajak “Tak Taunya Aku,” saya belum mendapati apa-apa; kata-kata puitik, nuansa puitis, pun peristiwa makna puitika nan menggugah. Jika biografi Ella tercatat menulis sejak kecil; sebelia apakah usianya kini? Sudahkan membaca puisi-puisi di majalah? Sajak-sajak ditulis pelajar Tsanawiyah, pula Aliyah? Meski saya telah dan terus baca karya-karya mendunia, masih suka baca puisi di majalah yang memuat karya anak Ibtidaiyah, misalkan di majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA). Pesan saya; kesungguhan ialah salah satu cara menghormati atau menghargai diri sendiri, sebelum datang yang lainnya!

Sepuluh; Ufi Ishbar Noval. Terlahir 6 Desember dari keluarga sederhana. Menghabiskan belajar VI tahun di Sekolah Arrisalah Kediri. Kegemarannya bersajak diawali menulis di Mading. Pernah jadi wartawan, Pimred majalah di sekolahnya, sejak itu kemampuannya terasah. Sajak-sajaknya; Aku Masih Manusia, Orang Pesisir, Karena Aku Masih Mencintaimu, Getir-Getir Peluh, dan Demokrasi?

Meski sajak “Aku Masih Manusia” belum mapan, saya suka semangat pencariannya; upaya mengeduk dasar hening kemanusiaan, mendalami fitrohnya sebagai insan berpikir. Kesadaran terhadap bulan dan matahari, gunung pebukitan, sungai-sungai hempasan gelombang badai kemungkinan. Di atasnya, nalar puitika digerakkan berpijakan realitas, merasai tebal bayu menderui kencang menampar muka, hujan mencabik-cabik badan kesakitan.

Lewat resapan panca inderanya, manusia tangguh dimungkinkan hadir membelah samudra, mengendarai angin, mengebor kekayaan tambang kehidupan. Menyusupi cela-cela bebatuan terjal ketumpulan; jiwa-jiwa mandiri tak malu diperolok suara sebrang, terus belajar menggali kualitas kedirian hingga sumber mata air keluar selaksa pahala tak terduga. Sedang perasaan puas, merasa berhasil, aman sebagainya ialah musuh bebuyutan, patut digerus, dikendalikan, didorong memperlus kesadaran bacaan. Salam dari saya; teruslah berkarya, hidup cuman sementara, sedangkan karya-karya abadi, dinanti semua bangsa!

Sebelas; Ita Rosyidah Miskiyyah, gemar menulis sejak di bangku Sekolah Dasar. Menulis cerpen, esai dan puisi. Baginya, hujan selalu menghadirkan inspirasi, aroma tanah basahnya menyimpan makna. Hobinya menunggang kuda, menurutnya semua bisa dijadikan tulisan, selagi ada kemauan di hati. Antologi puisi pertamanya; “Menunggu Hatimu.” Begitu riwayat awalnya, dan sajak-sajaknya; Asa Membiru, Candu Ilmu, Cinta Atau Iba?, Kata Kita, Merindu Dalam Bisu, Ruang Hati, Senyummu Melerai Derai Rindu, Tersangkar Asmara,  Tiada Mungkin Tanpamu, dan Bukan Bagai Sosokmu.

Pun pada sajak “Asa Membiru” tidak mengupasnya, namun saya tertarik temuan dua kata di dalamnya; “punggung jantung.” Saya bayangkan Ita peroleh kata-kata itu kala mengendarai kuda, jantungnya berdebar di atas turangga. Di saat tapak langkah kuda berlari kencang, merasakan hentakan pengalaman puitik, peristiwa termaknai, diwakili bersitan kata-kata tersebut. Seperti ini patut digali, kesaksian murni menggugah kesadaran lain, ingatan kepada peristiwa sepadan, dimungkinkan mencipta kandungan berbeda dari penulis sajak lainnya.

Sajak bukan kumpulan kata puitik saja, tapi perlunya ikatan rasa penalaran dikandungnya. Misal berbicara senjakala; patut mengeduk warna, kondisi orang-orang dikala senja, bebayang dedaunan, corak tanahnya, perasaan pada anginnya, pesona matahari juga yang pantas dihidangkan bertepatan masa diinginkan.

Penggalian ini butuh kesuntukan, kepekatan indera, merasai perpindahan perasaan dari lingsirnya surya, detik-detik terekam, mata-mata menyimpan segenap direngkuhnya peroleh kepastian atas melesatnya daya penalaran ke jenjang penerimaan semua insan. Olehnya patas sebelum menggurat sesuatu, memegang ujung mula bayangan hendak ditangkap demi keseluruhan. Atau persiapan pemotretan penting, agar dapati hasil maksimal, bukan tempelan dicari-cari dari kondisi berbeda sejenis pengeditan berlebihan pada gambar yang sudah dihasilkan misalnya.

Dua belas; Nabila Munsyarihah, lahir di Jombang 27 Mei 1991, besar di Pon-Pes. Tambakberas, Jombang, dengan curahan kasih sayang dari Ibu Hj. Umdatul Choirot, Ayah H. Ach. Hasan. Tengah menempuh studi di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM, dan nyantri di Pon-Pes. Ali Maksum, Krapyak, Jogja. Titel sajak-sajaknya; Tanpa Sengaja Berdosa, A Voice, Peringatan Kesakitan Ibu, Sajak Untuk Mbah,  Rupa-Rupa Cinta, Tutur Ketiadaan, dan Musikalisasi Puisi.

Di sajak “Tanpa Sengaja Berdosa,” untuk kekurangannya saya abaikan dulu, mengenai bentuk tulisan dan dinaya lebih bisa dilahirkan dari sana. Suaranya protes terhadap tradisi dibalut alur ‘balada,’ teriakannya mengingatkan saya pada sosok Nawal El Saadawi, pula R.A. Kartini yang dikagumi Nabila; ia selantang keberadaan buku “Sebilik Mihrab” karya Lilik Qurrotul Ishaqiyah.

Serupa sajak protes lainnya yang dikejar tak hanya kata puitik, tapi peristiwa makna. Saya harap perkembangannya menanjak, membongkar kedirian, ke soal dihadapi, ditantang dengan pelbagai bacaan yang dikuasai; menyimak bersegenap penalaran, kepekaan rasa oleh menanggung harkat kamanusiaan -kaumnya.

Suatu makolah mengatakan, wanita adalah tiang negara. Jika perempuannya kokoh, tangguhlah tatanan pemerintah, sebaliknya lembek, bisa dibayangkan ambruk sebelum masanya. Dari mereka anak-anak bangsa dilahirkan, sejauh perhatian pada pendidikan, memperkuat penggalian di ladang kemakmuran. Namun fatal terjadi merongrong hati demi kepentingan sesaat; kalbu ibarat pemimpin condong penggeraknya, ialah kayu bakar kaum hawa, sanggup matangkan air, ataukah membakar seluruh kekayaan rumah tangga negara.

Tiga belas; Violet Angel, nama pena dari Laily Dzatinnuha, lahir di Surabaya, 31 Oktober 1986. Menjalani hidup di Pon-Pes. Langitan 12 tahun. Di dunia puisi diperkenalkan sang ibu, dan adik keduanya mendeklamasikan diberbagai even di pesantren. Mulai menulis kelas 2 MTsN Bahrul ‘Ulum, Tambak Beras, Jombang. Terlibat diberbagai media di Bahrul ‘Ulum, pada Pon-Pes. Manba’ussholihin, Suci, Manyar, Gresik, di komunitas kepenulisan saat di Kairo; SAMAS, SaPi, FLP Mesir, dan FLP Depok. Sajak-sajaknya; Hari dan Waktu, Pasang Gendang, Tuan!, Rasa dan Karsa, Mimpiku di Antara Kuasa-Mu, Curhatku Padamu, Di Suatu Malam, Inikah Malam?, dan Simfoni Lautan Pasir.

Membaca “Hari dan Waktu” saya menikmatinya:
// Hari yang menjauh / Kini bersiap-siap melabuh / Lalu kembali ke pangkuan ibu // ; sajak ini tekun menyimak masa, sejauh misteri perputaran ke muasal penyebabnya. Ada olahan pikir di baris kesadaran sejarah, waktu kerap membentuk pelbagai rupa dan Violet Angel menemukan di antaranya.

// Waktu pun menyuram / Menunggu ketakpastian / Kapankah hari untuk pulang? / Bedug bertabuh / Bisik peluh memutar kelu / Lalu hari menyapa dengan senyum bisu // ; sajak soal waktu tak lepas kebisuan, kesuraman, penantian, pertanyaan, ngambang, menggantung, tanda hadirnya sesuatu masih terselubung. Waktu nan bisa loncong, panjang, bulat, abstrak, kadang pelahan sealiran sungai, pula dihempaskan badai, sedaun-daun menguning malas. Pada angin pembawa waktu menentukan jatuhnya takdir, seranting patah ditelan arus, berlayar memunculkan hitungan matematis, filosofir, kimiawi, biologis, dan lain-lain se-Sunnatullah mengatur seluruh alam.

// Buku lima basah terbuka / Sambut tunduk sembah luka / Waktu menengadah cipta asa // ; catatan peristiwa, ingatan kehilafan, pantun hidup kemendadakan, ketidaksabaran mendatangi kecewa. Hari dibangkitkannya jiwa dari kemalasan, keras menghimpun tenaga demi menutupi kekurangan, dan doa-doa menaikan drajad insani ke gugusan kemilau. Lalu diperolehnya waktu semakin larut,

// Hari mulai menjauh / Sembunyi harap waktu menyendu / Usik karsa waktu ingin tahu // ; sekiranya kegaiban takdir atas tumpukan masa, ikatan usia merenggang-lepas, benang teramat halus digenggam jemari berhadap tidak luput sangkaan, praduka terhadap keilmuan.

// Pagi bagi waktu ia senja / Tanpa lambai tanpa sapa / Hari berlalu tanpa kata // ; semisal datang-pergi sama, kelahiran-kematian atau pagi dan senja; kelupaan menemui muara, kesadaran dapati muasalnya. Tiada siapa-siapa, sendiri dalam kebisuan nyata, beku dalam arus paling rahasia.

Empat belas; Nada Haroen, nama pena dari Qotrun Nada Haroen, kelahiran Temanggung 6 Juli 1992. Pernah di Pon-Pes Raudhatut Thulab, Tempuran, dan pelajar SMAN 1 Magelang. Selain menulis, semasa SMP menjuarai baca puisi tingkat propinsi dalam Pekan Seni Ma’arif Jawa Tengah, 2004. Kala dibangku SMA, cerpennya berjudul “Saat-saat Itu”, juara I Lomba Penulisan Cerpen tingkat Nasional, diselenggerakan majalah KaWanku, 2009. Mahasiswi Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Kini berdomisili di Surabaya. Sajak-sajaknya; Gedung, Rumah dan Gubuk, Namun Kamu, Dusta, Kunang-Kunang Kau Ku Kenang, dan Percakapan Dua Manusia Lewat Saya.

Sajak “Gedung Rumah dan Gubuk,” menyuarakan kesenjangan sosial, kritik halus seperti memukul bertenaga dalam, dengan kesederhanaan kata. Sayang belum mengaduk soal-soal melingkupi kedalamannya, tetapi dari sketsanya bisa dimasuki berpenelusuran lebih, oleh kehalusannya merambahi alam nalar ke dunia puitika. Sisi lain, mengajak merenungi diri, serta kedirian mereka yang berada di gedung perkotaan. Sepilihan hidup sunyi di dalam menata masa depan, antara keramian langkah di kota; bait ketiga / terakhir.

Sedang bait kedua menampakkan kekuatan pamor metropolis menelanjangi para insan haus berharap, juga watak konsumtif mengeruk isi nurani hingga kosong haus kembali. Di bait awal, Nada Haroen mengudarkan alam nalar dengan perasaan, bentuknya terdapat pada pilihan kata ‘gedung’ dan ‘kotak’ menuju kata ‘kota’ serupa kata ‘gedung’ dan ‘bulat’ pada kata ‘bulat-bulat.’ Ini lumayan beresiko, tapi saya menyukai keberaniannya menentukan kata-kata.

Lima belas; Lizam Kafie, nama pena dari H. Izam Kafie, Mc. Kelahiran Grobogan, 21 Agustus 1982. Pernah nyantri di berbagai pesantren, kini pengajar di Pon-Pes. Salafiyah Al Marom Menduran, Purwodadi, Grobogan, Jawa tengah. Aktif ikuti seminar, halaqoh diniyyah, dan beberapa kali jadi juri musabaqoh seni, terutama kaligrafi anak-anak tk.Asia di Jeddah, KSA. Sajak-sajaknya; Kosong, Jati Diri, Pengantin, Kelana, Sendiri, Kedewasaan, Sahabat Angin, Muhasabah, Hikmah, dan sajak yang bertitel Cinta.

Pada sajak “Kosong”, saya membaca Lizam masih dalam pencarian bentuk, atau belum pahami penuh alam puitika dengan capaian puitik. Penalarannya sebatas hitungan kasar, umpama tumpukan bebatuan bata durung dipoles sedinding keindahan rumah. Belum tampak wewarna terobosan, siratan cahaya, ada keterputusan di beberapa tempat. Namun saya yakin, jikalau berlatih keras menemukan kekhasan di kemudian hari, dalam menimbang ikhwal makna di sebalik kata antara kata, serta perasan materi-materi yang diunggahnya.

Enam belas; Azzqie Adawiyah, nama pena dari Azkiyah Nur Adawiyah, kelahiran Miji, Mojokerto 16 Juli 1989. Awal kegemarannya menulis dari memimpin redaksi di Asrama al-khodijiyyah Pon-Pes. Darul Ulum, Rejoso, Jombang. Beberapa kali menerbitkan buku, serta mengisi kolom sastra di majalah sekolah dan pesantren. Sajak-sajaknya; Menggores Bayang Tetes, Seper Sembilan Puluh Sembilan, Suasana Duka Gerhana, Rindu Meruang, dan Yang Maha Sajak.

Di sajak “Menggores Bayang Tetes,” kehendaknya mengungkap misteri hayati; apakah dambaannya kelak seperti orang tuanya? Dengan bahasa lembut mengaburkan aku lirik, serta kisah kekasihnya kurang menonjol serupa monolog prosais. Tapi di balik itu saya temukan bibit unggul yang nantinya merambahi dunia esai, cerpen, novel, pula puisi panjang. Sejenis bersimpan dinaya melimpah, gairah berkesungguhan meluas, atau berbakat. Tentu wajib berlatih keseimbangan, menyimpan energi demi nafas ke depan, lewat tekun sinahu; ada wujud tak kurang dari mimpiannya. Maka, rawatlah kesangsian mengintriki jiwa, keraguan menderai rasa, waswas menggerogoti sukma, dan selalu meyakinkan perolehan dalam kesaksian di jalan kembara.

Tujuh belas; Awy’ A. Qolawun, nama pena Alawy Aly Imran. Menghabiskan waktu dengan membaca-menulis; sekitar 30 buku (14 berbahasa Arab), beberapa di antaranya terbit secara nasional. Ratusan artikelnya di berbagai media, di samping kerap sebagai endorser. Kelahiran 16 Agustus 1983,  berasal dari Pon-Pes. Nurul Anwar, Parengan Lamongan. Koordinator staff FLP wilayah Saudi Arabia. Mengambil studi di Masyru’ Al-Maliky Lid Dirosah al-Ulya, Makkah. Begitu biografinya, dan sajak-sajaknya; Bisu dalam Deru, Ruang Suara Belulang, Tak Perlu Takut, Teriakan Bisu, Senyum Soreku.

Membaca sajak “Bisu dalam Deru,” komentar saya; sering bacaan meluas, referensi melimpah, serta keahlian merakit kata, kerap menganggap enteng kala menulisnya. Ini bisa fatal saat memasuki alam puisi, di mana kehadiran puitik sejati terpendam di dalamnya, kurang mengental semestinya. Kegiatan bersajak beda dengan menulis esai, cerpen, pun lainnya.

Dalam berpuisi, nan dituntut kepekaan ruhani menangkap peristiwa puitika, bukannya peristiwa dipuitikkan, atau diucapkan lewat kata-kata puitik yang bertumpuk-tumpuk. Namun peristiwa puisi muncul, dikala penulisnya total menerima keadaan, memasrahkan segenap kediriannya, dan atas lelaku itu diharapkan muncul bulir-bulir mata air kesadaran. Seperti tetesan air mata terhadap dosa-dosa, sesenggukan dalam kamar sempit mengisyafi keegoan.

Tepatnya alam puisi itu kesadaran jernih melewati saringan pikir perasaan dengan pertimbangan halus, selepas menggenggam soal atau masalah yang diungkap tinggal intisarinya.

***
Akhirnya, nggap buku ini pula buku-buku sebelum dan selanjutnya, sebagai kurban proses kreatif guna jenjang terbaik; hitung kerugian waktu, keluguan konyol, rasa malu di jalanan nantinya. Tiadalah faedah merawat bangga jika tergelincir lena, maka tingkatkan kesuntukan ribuan kali lipat daripada yang sudah. Karena memalukan jika tak sampai ke drajad dialog para imam, para ‘ulama tempo dulu, sang peletak dasar keilmuan dari al Kindi sampai Muhammad Iqbal misalnya. Tengok Ibnu Rusyd sangat rajin belajar, semenjak kecil hingga usianya tua, tiada waktu lowong membaca dan menyelidiki, kecuali dua malam saja; malam meninggal ayahnya, lalu malam pertama perkawinannya.

Wewaktu bertumpuk-tumpuk, padat penelitian, rapat merenung ulang, membaca tanda perubahan, menyimak nafas hayati, kepalan tekat atas kurban dilayarkan. Mengurangi istirah, memaksakan diri mencebur ke kawah candradimuka; pergumulan oleh paham-paham berbeda, bergulat berkecamuk pencarian, hingga tiba malaikat pencabut nyawa. Janganlah terlena kelebihan, tetapi manfaatkan sebagai tumbal di dalam kehidupan.

Ialah sedap maut demi pencarian ilmu; berilah ruangan itu darah setimpal, air mata sepadan, keringat mendidih bercucuran. Congkellah pepintu mata, benturkan kepala dari kemalasan, kepada kitab-kitab purna kedudukannya. Pesan singkat saya; jika tidak sungguh-sungguh, berhenti saja secepatnya!

Lamongan-Jombang-Lamongan,
Malam Jum’at Wage, 20 April 2012

*) Bahan bedah kumpulan sajak lintas pesantren “Jadzab”, terbitan Arias, tanggal 21 April 2012, di Gedung Aula Pasca Sarjana Institut Agama Islam Tribakti, Kediri.
**) Pernah nyantri di Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Di antara karyanya “Balada-balada Takdir Terlalu Dini,” “Kitab Para Malaikat,” &ll.
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2012/04/membo-membo-jadi-iblis-di-kediri/

Tidak ada komentar: