07/10/12

Belajar Sastra Bisa Cegah Tawuran

Editor: Jafar M Sidik
Surabaya (Antara News)

Seorang praktisi pendidikan menyatakan pelajaran sastra intensif di sekolah dapat mencegah siswa berperilaku keras apalagi sampai tawuran dengan pelajar lain.

“Pemanfaatan sastra untuk menghaluskan jiwa itu memang membutuhkan intensitas yang tinggi serta proses yang panjang,” kata guru sastra satu SMA di Ponorogo, Sutejo, kepada ANTARA, Sabtu.
Dosen STKIP Ponorogo itu mengemukakan, dalam teori sastra ada katarsis yang berarti sastra bisa menjadi ungkapan kata hati, baik yang menulis maupun yang membacanya.

Dalam psikologi sastra, katanya, suatu karya mencerminkan isi hati penulisnya dan sastra juga bisa menyembuhkan.

Menurut penulis produktif itu, negara-negara maju sudah melakukan pembelajaran sastra untuk penanaman karakter kepada para siswanya.

Metodenya, mewajibkan siswa membaca buku sastra, isalnya dalam satu semester per siswa wajib membaca tiga hingga empat novel. Itu belum termasuk cerpen dan puisi. Secara tidak langsung hal itu yang disentuh adalah moral dan rasa siswa.

Indonesia, kata dia, sebetulnya sudah memiliki program bagus untuk kegiatan sastra itu, yakni Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang dimotori sastrawan Taufik Ismail pada 2002. Para sastrawan itu mendatangi sekolah-sekolah di pelosok Tanah Air.

Kedatangan sastrawan besar ke suatu daerah, kata Sutejo, tentu membawa aura semangat tersendiri siswa untuk belajar sastra.

“Menurut saya, pemerintah harus memperhatikan pelajaran sastra karena berkait dengan pendidikan karakter. Misalnya Laskar Pelangi atau Negeri Lima Menara. Novel-novel itu mengajarkan moralitas dan motivasi bagi pembacanya,” katanya.

Hanya saja, kata Sutejo, melirik sastra sebagai sarana penanaman karakter bangsa yang berkeadaban menghadapi banyak kendala yakni kebijakan pemerintah yang belum mendorong sastra sebagai pelajaran bergengsi dan guru-guru yang tidak suka membaca sastra.

Hal itu, diperparah oleh realitas bahwa perpustakaan di sekolah tidak lengkap menyediakan buku-buku karya sastra yang menarik minat siswa.

“Sastra yang lentur bisa mendekatkan guru dengan siswa secara batiniah sehingga tindakan-tindakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan bisa dicegah,” katanya.

Sutejo mengemukakan bahwa kekerasan antarpelajar yang berujung tawuran itu sedikit banyak telah diajarkan oleh televisi yang banyak menampilkan kekerasan, termasuk tingkah politisi di legislatif yang bertengkar lewat kata-kata di berbagai forum.

“Salah satunya cara adalah mengokohkan fungsi keluarga. Komunikasi keluarga agar lebih baik lagi. Kalau melalui pendidikan agama dan PKn di sekolah, siswa sekarang sudah cenderung kebal. Ini karena agama hanya diajarkan secara kognitif belaka, bukan penanaman moral lewat pembiasan-pembiasaan,” katanya.

Menurut dia, konsep-konsep pendidikan di Indonesia sangat bagus tapi kemudian tak bermakna karena hanya mengedepankan aspek kognitif. (M026)

Dijumput dari: http://www.antaranews.com/berita/337252/belajar-sastra-bisa-cegah-tawuran

Tidak ada komentar: