12/03/12

Quo Vadis Budaya, Tradisi, dan Investasi

Enung Sudrajat
http://www.kabar-priangan.com/

Kebudayaan merupakan eksplorasi manusia dalam menyikapi ruang dan waktu. Sebagai hasil eksplorasi dan proses kreatif, kebudayaan dapat berwujud budaya benda dan budaya tak benda.

Secara sederhana budaya benda biasanya berhubungan dengan teknologi sederhana, dalam memanfaatkaan alam raya untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti alat perkakas rumah tangga,alat pertanian,bangunan cagar budaya dan benda yang dikategorikan purbakala.

Budaya tak benda biasanya berupa eksplorasi manusia dalam memaknai kehidupan keseharian yang diekpresikan dalam bahasa lisan dan tulisan.Ekspresi yang berupa lisan dapat dirasakan seperti dalam nyanyian, dongeng, dan legenda, sementara yang berupa tulisan muncul menjadi karya sastra. Ekspresi tulisan biasa ditulis dalam kulit, daun lontar dan dikenal dengan naskah kuno. Bentuk sastra tulisan seperti sajak, pantun, prosa , cerpen atau novel dalam naskah modern. Ekspresi dan eksplorasi sastra tulis, pada jaman modern menjelma menjadi buku dan setelah IT berkembang, ekspresi lisan dan tulisan tersebut melebar tanpa batas dan mengglobal dan pada titik-titik tertentu seolah meninggalkan kebudayaan

Potret hari ini

Sebagai proses kreatif, kebudayaan tidak stastis, tapi berkembang sesuai perkembangan dinamika sosial masyarakat. Tidak jarang satu kebudayaan atau ekspresi budaya berakulturasi dengan budaya lain dan menghasilkan kebudayaan baru, tapi tidak jarang satu kebudayaan tak bisa bertahan dan punah. Model-model budaya yang seperti inilah yang perlu dapat perhatian dan perlu pelestarian, upaya tersebut bisa melalui penyelamatan, pengembangan dan pemanfaatan.

Beberapa isu aktual yang dirasakan dalam upaya pelestarian budaya, biasanya cukup klise, seperti: kualitas SDM, organisasi budaya tak terstruktur, anggaran terbatas, data kebudayaan yang tidak akurat, komitmen dari pengampu budaya, pemikiran dari tokoh informal tentang seni budaya, rendahnya gelar seni dan atraksi seni budaya, dan pada sisi lain banyak even bisnis yang memanfaatkan seni budaya, kurang memperhatikan aspek pelestarian budaya daerah bahkan kordinasi antar stakeholder budaya dengan pelaku bisnis dirasakan lemah.

Dari beberapa isu aktual tersebut, perlu dianalisis isu aktual prioritas yang didukung dengan data-data akurat. Setelah diketahui isu aktual prioritas, bagaimana pengembangan kebudayaan tersebut dapat diselamatkan, dikembangkan dan dimanfaatkan. Dalam kasus Kota Tasikmalaya, gairah para seniman, kuantitas dan keanekaragaman ekspresi budaya dalam even-even, telah menempatkan kota Tasikmalaya sebagai ikon budaya. Sebutan Tasikmalaya sebagai kota dangdut, kota kunjungan seni pertunjukan, kota puisi, kota kerajinan tangan, hingga julukan kota investasi, kota industri kreatif dan atraktif, bisa jadi penanda atas gairah dan keanekaragaman identitas budaya kota ini.

Dari realitas tersebut, dapat diketahui bahwa isu aktual pelestarian dan pengembangan kebudayaan di kota Tasikmalaya meliputi: masih rendahnya pagelaran seni dan budaya daerah pada even bisnis di kota Tasikmalaya. Tujuan yang ingin dicapai dari pemecahan masalah tersebut, bagaimana meningkatkan kerja sama pengelolaan budaya dengan pelaku bisnis di Tasikmalaya sehingga keanekaragaman budaya tersebut dapat dimanfaatkan. Sasaran utama upaya tersebut dapat diarahkan pada pemilihan komunitas budaya yang atraktif , kontemporer dan realistis sehingga dapat diserap dan disinergikan dalam even bisnis.

Berdasarkan analisis tersebut terdapat faktor internal dan faktor eksternal yang dapat menjadi kunci keberhasilan pengembangan kebudayaan yakni: rencana strategis dinas terkait, realitas di lapangan; apa betul renstra dinas tersebut dapat diaplikasikan jika kualitas SDM pemangku kebudayaan baik fungsional maupun struktural masih lemah?

Harapan dan peluang selalu menunggu di depan. Setiap minggu di Kota Tasikmalaya selalu hadir even bisnis baik berskala lokal, regional, maupun nasional. Yang menjadi pertanyaan, sampai sejauh mana organisasi, komunitas, dan lingkung seni serta budayawan Tasikmalaya mampu memanfaatkan peluang tersebut. Apakah forum-forum kesenian seperti Forum Teater Tasik (FTT), Sanggar Sastra Tasik (SST), Komunitas Seni Rupa Tasikmalaya (KSRT), Paguyuban Kawih Sunda (PKS) Tasikmalaya, dapat membaca hal tersebut sebagai peluang, sementara ekspresi kreatif pekerja seni Tasikmalaya jeritannya cukup memilukan seperti sering terungkap dalam ekspresi seni dan even budaya lokal di Tasikmalaya.

Dari evaluasi faktor internal dan ekternal tersebut, maka perlu dilakukan proses analisis, dievaluasi dengan membandingkan faktor-faktor kunci tersebut. Apa betul renstra dinas dapat diukur sebagai faktor kekuatan? Apakah setiap pemangku budaya memaknai renstra tersebut sebagai prioritas? Sampai sejauhmana upaya mengantisipasi lemahnya kualitas SDM?

Sebagai sebuah peluang, respon komunitas-komunitas seni di Kota Tasikmalaya telah sangat baik. Eksplorasi dan kreatifitas seniman Tasikmalaya telah mencoba menciptakan hal baru. Misalnya seni tari dipadukan dengan kendang muncullah rampak kentrung, seni teater yang biasa di panggung, bisa dieskplorasi dengan seni helaran seperti badawang, seni calung yang homongen dapat dipadukan dengan kohkol dan terebang, munculah model kesenian bangkolung, puisi yang biasa dibaca dan dinikmati secara individual, menjadi sepanduk dan baligo yang berdimensi etis, walau kadang politis.

Saat rame-rame lahir KPU, muncul spanduk Komisi Pencari uang (KPU), misalnya. Ketika dalam pergulatan reformasi politik, lahirnya eforia politik dan kelangkaan sembako, muncul partai baru dengan lambang garpu dan sendok yang disebut Partai Nurul Sembako (PNS). Saat rencana strategis pemerintah daerah melahirkan isu strategis tentang visi misi, muncul spanduk tentang visi dan misi Tasik “tandingan” dengan unsur bunyi yang menggelitik, yakni “Dengan religius Islami kita masysrakatkan Poligami”.

Interaksi antar manusia dalam suatu relasi kadang melebar. Dan proses kreatif tersebut tak selalu menghasilkan kompromi yang sehat, sesuai harapan dan sinergi, malah kadang kontra produktif dan menjadi ancaman. Apakah dengan realitas-realitas tersebut komunitas dapat eksis di tengah deras ekspansi gila-gilaan ekspresi seni yang kapitalistik, di mana iklan-iklan, spanduk, dan baligo perusahaan nasional “menghiasi” malam kota Tasikmalaya dengan meriah? Ketika seni kontemporer cukup atraktif, budaya daerah seolah terasing dan tersingkir di pojok sepi.

Terintegasinya organisasi seni seperti pada zaman orba, bukanlah solusi untuk mensinergikan ekspansi seni kontemporer dengan budaya daerah. Integrasi organisas seni sebagai sebuah forum untuk menyatukan visi-misi pengembangan kebudayaan daerah, selayaknya dapat ditarik menjadi strategi ampuh. Bagaimana forum-forum komunitas tersebut mampu menangani dan menekan ancaman serta mengurangi tekanan ancaman menjadi peluang? Adakah otoritas yang mampu memanfaatkan dan melakukan pengambilan keputusan, apakah mungkin Dinas Kebudayaan? Sementara nomenklatur kebudayaan pada tahun 2012 akan dikembalikan lagi pada Kementrian Pendidikan? Sementara secara kasat mata, komunitas-komunitas seni yang ada di Tasikmalaya masih asyik memoles diri di depan cermin masing-masing.

Kekuatan lain dari keaneka ragaman seniman Tasikmalaya dalam melakukan ekpresi budaya, tidak hanya memahami seni untuk seni saja, tapi kadang menyentuh tema-tema luas dan besar seperti politik, HAM, gender, dan pluralisme. Munculnya kasus kain merah dan putih dalam even sebuah partai di Dadaha tempo lalu, seolah memberi stigma baru bagi seniman Tasikmalaya. Tidak aneh seniman Kota Tasikmalaya sering dianggap liberal, dan inilah yang menjadi alasan sampai saat ini di Kota Tasikmalaya, gagasan munculnya Dewan Kesenian (DK) sulit diwujudkan.

Meraih mimpi

Setiap kekuatan jika tidak diolah dan tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan menghancurkan sasaran dan akan menghentikan tujuan. Lalu bagaimana ancaman tersebut dapat diminimalisir ? Salah satu upayanya adalah bagaimana komunitas-komunitas tersebut duduk bersama, merendahkan hati, memusatkan pikiran dan mengasah pisau analisis. Bagaimana potensi even bisnis yang berkembang pesat dapat disinergikan dengan komunitas seni tradisi yang cenderung stagnan.
Problem yang mendasar dan menjadi kelemahan pengembangan gelar seni dan budaya daerah di Tasikmalaya adalah anggaran yang terbatas. Dengan banyaknya even di Tasikmalaya, diperlukan strategi bagaimana kelemahan tersebut diubah menjadi peluang.

Untuk memanfaatkan hal tersebut, strategi yang bisa dilakukan adalah memberdayakan kuantitas even bisnis sesuai renstra dinas. Implikasi dari pemilihan strategi tersebut, setiap elemen dari kebudayaan diharapkan dapat memberdayakan potensi kuantitas even bisnis di Kota Tasikmalaya, dengan secara langsung turun ke lapangan melakukan dialog, kordinasi dan menjalin MoU dengan setiap Even Organizer yang ada di Tasikmalaya. Hal ini dilakukan seraya melakukan upaya pengembangan budaya daerah, melalui penelitian, work shop, eksperimen budaya, yang mampu menjaga nilai tradisi tapi dapat mengeskplorasi budaya kontemporer.

Pertanyaan selanjutnya, di saat para seniman, pekerja seni, budayawan harus memeras otak, mengasah pisau analisis dan mempertajam strategi, nomenklatur kebudayaan tiba-tiba berubah dari program urusan wajib Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, dikembalikan lagi kepada Kementrian Pendidikan. Seperti kembali ke masa lalu, jaman Depdikbud, hingga pengertian kebudayaan kembali berorientasi pada nilai, sejarah tradisi dan budaya secara peodagogis dan sosiologis.

Untuk Kota Tasikmalaya entah akan seperti apa. Apa mau diserahkan pada rumput yang bergoyang? Benar-benar Quo Vadis!***

Tasikmalaya, 10-11- 2011
*) Apresiator budaya, tinggal di Kota Tasikmalaya /16 Nov 2011

Tidak ada komentar: