06/01/12

Dari Jogja – Jepara, ke Blora

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Maha Suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya minal Jogja – Jepara – Kudus – Pati – Rembang wa akhirihi ilal Blora.

Seorang penyair yang diam-diam saya kagumi pernah menuliskan; salah satu rahasia terpenting dalam hidup adalah pertemuan. Ya, karena pertemuan rupanya menyimpan kemungkinan-kemungkinan, dan kemungkinan itu tertera menjadi dan kadang terjadi di dalam sebuah ruang bernama rahasia. Begitu juga dengan ragam pertemuan dalam hidup ini.
Pertemuan dengan alam, tetumbuhan, pepohon, hewan, gemericik air di pancuran sebuah dusun nun tak terjangkau pikiran, termasuk pula pertemuan dengan sekian orang-orang. Saya menyukai pertemuan. Saya tidak begitu takut untuk melakukan pertemuan. Usai sebuah pertemuan terlewatkan, pasti akan ada kenangan, pasti akan ada inspirasi; hal ikutan lain yang tak kalah saya sukai.

Mula dibuka kisah perjalanan ini dari ”diajaknya” saya untuk bergabung sebagai Koordinator Divisi Pelatihan dan Pendampingan Komunitas Matapena Yogyakarta. Salah satunya adalah berkutat di seputar workshop penulisan kreatif wa akhowatuha. ”Sebuah pertemuan” baru dalam hidup, antara diri saya dan diri saya yang lain untuk menimba kapabilitas yang barangkali saya punyai atau pernah saya punyai. Dunia menulis! Ya, dunia menulis bagi diri saya yang jarang sekali menulis.

Ini menjadi laku pertama saya. Berkunjung ke Jepara. Dua rayon Matapena menanti untuk sebuah pertemuan belajar menulis cerita bersama; Madrasah Aliyah Walisongo (Pecangaan, kurang lebih 20 KM dari pusat kota Kabupaten Jepara) dan Sekolah Menengah Kejuruan Az-Zahra Mlonggo, kurang lebih 6 KM dari pusat kota. Yang tersebut terakhir ini ternyata lembaga pendidikan yang masih terbilang baru, SMK yang belum memiliki alumni karena baru buka 2 tahun ini dan jurusan yang dibuka adalah Jurusan Multimedia. Jurusan yang bisa dibilang ’langka’.

Akan kelewat banyak untuk dimuatkan dalam tulisan ini, bagaimana proses berkegiatan belajar menulis bersama di kedua sekolah menengah Jepara itu. Pertemuan yang membiaskan kenangan. Teman-teman remaja MA Walisongo yang ceria dan semangat, pembimbing dan kepala sekolah yang ’open full’ dan merekatkan diri secara bersahabat, Mbak Zulfa yang adiknya Mbak Nunuk telah berbaik hati bersama suaminya menyediakan tempat bermalam buat kami bertiga, lengkap dengan breakfast yang lezat dan mobilnya mengantar kami ke lokasi, fasilitator Matapena; Isma dan Sachree (saya hanya pendamping, hehe…) yang lincah, jenaka, dan menyenangkan. Teman-teman remaja SMK Az-Zahra yang sebenarnya beberapa terlihat ’setengah hati’ karena keadaan namun tetap ’lanjut’ ikuti pelatihan sampai selesai. (sebuah jalan menuju hobi dan ekspresi diri memang tak bisa dipaksakan)

Rendaman ingatan akan kegiatan belajar bersama itu tak urung mengusik saya untuk menuliskan, meski akhirnya hanya bisa berbentuk seperti ini. Saja. Pengalaman yang mengasyikkan. Membuat saya seperti kembali remaja. Yeah….

Ada kenangan ’buruk’ saat langkah pertama baru dimulai, di perjalanan, di mobil travel Jogja – Jepara saya mengalami mabuk perjalanan. Sebuah hal yang aneh dan asing. Saya memang tipikal yang tidak tahan dingin (mobil kebetulan ber-AC), sementara akomodasi perut tidak familier sama sekali. Sekali beristirahat di jalan, saya biarkan perut terisi nasi sayur yang sudah dingin, sesuatu yang saya yakini sebagai penyebab muntah di mobil. Pemicu hal itu sederhana sekali, ketika mobil melaju pelan tapi tak mengenakkan yang dikarenakan sibuknya lalu lintas Jogja – Semarang pada malam hari, penumpang di samping kiri saya memakan wafer coklat merk Tango. Dan demi membauinya, perut saya seperti terisi kincir angin, muter bergolak tak karuan dan sejurus kemudian…wuek…wuek… (saya belum berucap terima kasih kepada sahabat yang baik hati; Isma. Tengkuk saya dipijat dan diolesi minyak Kapak. Hehehe… Makasih ya, Is?). Lalu? Sudah pasti lega setelahnya… Tetapi, cara sopir membawa mobil yang terkesan ’tak ramah’ membuat saya tak bisa nyaman. Meski kemudian pesan pendek dari seseorang tiba-tiba masuk dan menuliskan puisi yang diawali kalimat ”…malam berdegup perlahan”, tak mampu usir ganjilnya keadaan diri.

Dari SMK Az-Zahra, kami berhutang budi banyak sekali kepada Hasan (Roni) dan Joni. Kedua orang ini yang ’runtang-runtung’ melayani keperluan kami. Termasuk Ibu Hasan, dengan ’katering’-nya menjamin tercukupi dan terhindarnya kami bertiga dari malnutrisi. Hehehe…

Empat hari berada di Jepara, kami bertiga lantas meninggalkan pertemuan demi pertemuan itu. Isma, lebih dulu kembali ke Jogja pas adzan Jumatan bertalu menumpang travel yang dipesannya ndadak. Sejam kemudian aku dan Sachree bareng dengan diantar Hasan, menuju pusat kota Jepara. Sachree hendak pulang ke Madiun, namun katanya mau mampir dulu ke Kadilangu Demak; ziarah di makam Sunan Kalijaga (Wuih…kang Sachree… NU banget sih sampean, dadi pengen melu?). Sementara saya sendiri hendak menuju Blora, tempat yang lama sekali hanya ada dalam niatan untuk saya kunjungi. Hmmm….

Subterminal nJetak Kudus, sekira 20 menit dari pusat kota Jepara, adalah lokasi pertama yang saya singgahi untuk berganti moda transportasi. Angkot yang saya tumpangi nge-tem lumayan lama sebelum akhirnya membawa saya keliling melewati Alun-Alun Utama Kota Kudus hingga sampai di jalur Pantura; terminal utama Kudus. Perjalanan saya lanjutkan dengan menumpang bus jurusan Surabaya sembari terus berkomunikasi dengan Mas Hisyam dan Mas Yunus (dua Mas ketemu gede yang saya sayangi) untuk mengabarkan perjalanan saya. Bus itu membawa tubuh saya melintasi panasnya udara pantura, melewati Kota Pati untuk kemudian Kota Rembang di mana saya turun atas instruksi Mas Hisyam. Tepat saat kaki menginjak dan nafas menghirup udara Bumi Rembang, gema adzan Ashar menyeru dari Masjid Agung Rembang. Diri saya yang sendirian, terasa seperti tengah memasukkan episode-episode kehidupan yang berdenyut di depan pandangan saya, ke dalam ruang ingatan pribadi yang memiliki banyak jendela.

Alun-Alun Rembang yang tepat berada di sisi depan Masjid Agung begitu ramai oleh pikuk manusia, meningkahi ucapan ”selamat datang malam” di Rembang, dengan keramaian yang sengaja diciptakan (saya tak pernah mendapati yang seperti ini di Alun-Alun Wates). Pelan saya memasuki komplek halaman masjid, sambil tak lupa mengabarkan kepada Mas Hisyam bahwa saya sudah sampai. Sembahyang Maghrib saya lakukan di dalam masjid, tidak di serambi. Nuansa nresep luar biasa mensugesti diri. Terharu. Saya seperti tengah menziarahi diri sendiri. Tak lupa saya akhiri munajat di dalam masjid dengan berdoa.

Mas Hisyam datang bersama seseorang yang dikenalkannya kepada saya. Lalu kami bertiga makan malam di warung tenda, sisi timur Alun-Alun. Mata ini tak lepas-lepas menyapu keramaian yang memusat di komplek itu. Sementara tepat sisi utara Alun-Alun adalah jalan raya Pantura yang ampun padatnya. Ruah kendaraan besar kecil menengah.

Agak berapa lama, Mas Yunus dan Dik Imam datang menjemput. Sejurus kemudian kami berempat membelah malam di jalanan Kota Rembang menuju Blora. Di dalam mobil yang dikemudikan Mas Yunus itu, kembali saya merasa kedinginan oleh AC. Seperti ada yang hendak bergolak lagi dari dalam perut. Apa boleh buat, jaket Mas Hisyam saya pakai sembari saya raih sebatang mild milik Dik Imam untuk saya hirup semerbak tembakaunya dengan menempelkannya tepat di depan hidung saya. Dan ternyata itu cara ampuh untuk membuang ingatan atas tak nyamannya tubuh saya.

Saya sempat ditunjuki sebuah gang kecil masuk ke arah komplek Pondok Pesantren Roudhotut Tholibin, di mana Gus Mus pengasuhnya. Ketika melalui jalanan arah Rembang menuju Blora, saya sempat pula dikisahkan oleh Mas Yunus (saya lupa persis letaknya) sebuah tempat makam Kyai Mutamakin (Kyai Thoriqot? Yang kesohor itu?). Membelah hutan sebentar sebelum akhirnya sampai di pusat Kota Blora. Lagi-lagi saya menemukan keramaian yang sengaja diciptakan di sekeliling Alun-Alun Blora (jadi teringat buku suntingan Puthut EA tentang tiga seniman lukis dan Alun-Alun ini). Warung tenda berderet-deret, ditingkahi pikuk manusia mendaras malam di Blora. Ada sebuah pemandangan yang tak biasa. Alun-Alun dipenuhi batang pohon palem. Ini Alun-Alun atau hutan palem, tanyaku??

Usai singgah di sebuah tempat dan kembali bertemu dengan orang banyak, sampai juga di rumah mungil yang kutuju, rumah keluarga Mas dan Adik Blora. Saudara-saudara yang dipertemukan di Jogja. Dua hari bermalam di sana, dengan sederet kisah yang sempat saya posting ”wewayang”-nya di status sebelum ini, meneguhkan arti baru di sudut hati. Betapa persaudaraan itu kadang memerlukan pertemuan yang hangat. Betapa persaudaraan itu tidak peduli usia, jenis kelamin, dan remah budaya yang terkadang terasa menjalin bangunan-bangunan tembok angkuh. Cukup membangun suasana mesra dan tulus di hati yang terus menggenang, merekatkan ruh-ruh yang terhampar di mana-mana dengan kesungguhan, maka akan terwujud pertemuan yang akan menjadi salah satu rahasia hidup yang terpenting. Dan, saya tidak pernah takut untuk melakukannya. Yeah….

Sketsakamar, 1 Juli ’09

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita