Dari Jogja – Jepara, ke Blora

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Maha Suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya minal Jogja – Jepara – Kudus – Pati – Rembang wa akhirihi ilal Blora.

Seorang penyair yang diam-diam saya kagumi pernah menuliskan; salah satu rahasia terpenting dalam hidup adalah pertemuan. Ya, karena pertemuan rupanya menyimpan kemungkinan-kemungkinan, dan kemungkinan itu tertera menjadi dan kadang terjadi di dalam sebuah ruang bernama rahasia. Begitu juga dengan ragam pertemuan dalam hidup ini.
Pertemuan dengan alam, tetumbuhan, pepohon, hewan, gemericik air di pancuran sebuah dusun nun tak terjangkau pikiran, termasuk pula pertemuan dengan sekian orang-orang. Saya menyukai pertemuan. Saya tidak begitu takut untuk melakukan pertemuan. Usai sebuah pertemuan terlewatkan, pasti akan ada kenangan, pasti akan ada inspirasi; hal ikutan lain yang tak kalah saya sukai.

Mula dibuka kisah perjalanan ini dari ”diajaknya” saya untuk bergabung sebagai Koordinator Divisi Pelatihan dan Pendampingan Komunitas Matapena Yogyakarta. Salah satunya adalah berkutat di seputar workshop penulisan kreatif wa akhowatuha. ”Sebuah pertemuan” baru dalam hidup, antara diri saya dan diri saya yang lain untuk menimba kapabilitas yang barangkali saya punyai atau pernah saya punyai. Dunia menulis! Ya, dunia menulis bagi diri saya yang jarang sekali menulis.

Ini menjadi laku pertama saya. Berkunjung ke Jepara. Dua rayon Matapena menanti untuk sebuah pertemuan belajar menulis cerita bersama; Madrasah Aliyah Walisongo (Pecangaan, kurang lebih 20 KM dari pusat kota Kabupaten Jepara) dan Sekolah Menengah Kejuruan Az-Zahra Mlonggo, kurang lebih 6 KM dari pusat kota. Yang tersebut terakhir ini ternyata lembaga pendidikan yang masih terbilang baru, SMK yang belum memiliki alumni karena baru buka 2 tahun ini dan jurusan yang dibuka adalah Jurusan Multimedia. Jurusan yang bisa dibilang ’langka’.

Akan kelewat banyak untuk dimuatkan dalam tulisan ini, bagaimana proses berkegiatan belajar menulis bersama di kedua sekolah menengah Jepara itu. Pertemuan yang membiaskan kenangan. Teman-teman remaja MA Walisongo yang ceria dan semangat, pembimbing dan kepala sekolah yang ’open full’ dan merekatkan diri secara bersahabat, Mbak Zulfa yang adiknya Mbak Nunuk telah berbaik hati bersama suaminya menyediakan tempat bermalam buat kami bertiga, lengkap dengan breakfast yang lezat dan mobilnya mengantar kami ke lokasi, fasilitator Matapena; Isma dan Sachree (saya hanya pendamping, hehe…) yang lincah, jenaka, dan menyenangkan. Teman-teman remaja SMK Az-Zahra yang sebenarnya beberapa terlihat ’setengah hati’ karena keadaan namun tetap ’lanjut’ ikuti pelatihan sampai selesai. (sebuah jalan menuju hobi dan ekspresi diri memang tak bisa dipaksakan)

Rendaman ingatan akan kegiatan belajar bersama itu tak urung mengusik saya untuk menuliskan, meski akhirnya hanya bisa berbentuk seperti ini. Saja. Pengalaman yang mengasyikkan. Membuat saya seperti kembali remaja. Yeah….

Ada kenangan ’buruk’ saat langkah pertama baru dimulai, di perjalanan, di mobil travel Jogja – Jepara saya mengalami mabuk perjalanan. Sebuah hal yang aneh dan asing. Saya memang tipikal yang tidak tahan dingin (mobil kebetulan ber-AC), sementara akomodasi perut tidak familier sama sekali. Sekali beristirahat di jalan, saya biarkan perut terisi nasi sayur yang sudah dingin, sesuatu yang saya yakini sebagai penyebab muntah di mobil. Pemicu hal itu sederhana sekali, ketika mobil melaju pelan tapi tak mengenakkan yang dikarenakan sibuknya lalu lintas Jogja – Semarang pada malam hari, penumpang di samping kiri saya memakan wafer coklat merk Tango. Dan demi membauinya, perut saya seperti terisi kincir angin, muter bergolak tak karuan dan sejurus kemudian…wuek…wuek… (saya belum berucap terima kasih kepada sahabat yang baik hati; Isma. Tengkuk saya dipijat dan diolesi minyak Kapak. Hehehe… Makasih ya, Is?). Lalu? Sudah pasti lega setelahnya… Tetapi, cara sopir membawa mobil yang terkesan ’tak ramah’ membuat saya tak bisa nyaman. Meski kemudian pesan pendek dari seseorang tiba-tiba masuk dan menuliskan puisi yang diawali kalimat ”…malam berdegup perlahan”, tak mampu usir ganjilnya keadaan diri.

Dari SMK Az-Zahra, kami berhutang budi banyak sekali kepada Hasan (Roni) dan Joni. Kedua orang ini yang ’runtang-runtung’ melayani keperluan kami. Termasuk Ibu Hasan, dengan ’katering’-nya menjamin tercukupi dan terhindarnya kami bertiga dari malnutrisi. Hehehe…

Empat hari berada di Jepara, kami bertiga lantas meninggalkan pertemuan demi pertemuan itu. Isma, lebih dulu kembali ke Jogja pas adzan Jumatan bertalu menumpang travel yang dipesannya ndadak. Sejam kemudian aku dan Sachree bareng dengan diantar Hasan, menuju pusat kota Jepara. Sachree hendak pulang ke Madiun, namun katanya mau mampir dulu ke Kadilangu Demak; ziarah di makam Sunan Kalijaga (Wuih…kang Sachree… NU banget sih sampean, dadi pengen melu?). Sementara saya sendiri hendak menuju Blora, tempat yang lama sekali hanya ada dalam niatan untuk saya kunjungi. Hmmm….

Subterminal nJetak Kudus, sekira 20 menit dari pusat kota Jepara, adalah lokasi pertama yang saya singgahi untuk berganti moda transportasi. Angkot yang saya tumpangi nge-tem lumayan lama sebelum akhirnya membawa saya keliling melewati Alun-Alun Utama Kota Kudus hingga sampai di jalur Pantura; terminal utama Kudus. Perjalanan saya lanjutkan dengan menumpang bus jurusan Surabaya sembari terus berkomunikasi dengan Mas Hisyam dan Mas Yunus (dua Mas ketemu gede yang saya sayangi) untuk mengabarkan perjalanan saya. Bus itu membawa tubuh saya melintasi panasnya udara pantura, melewati Kota Pati untuk kemudian Kota Rembang di mana saya turun atas instruksi Mas Hisyam. Tepat saat kaki menginjak dan nafas menghirup udara Bumi Rembang, gema adzan Ashar menyeru dari Masjid Agung Rembang. Diri saya yang sendirian, terasa seperti tengah memasukkan episode-episode kehidupan yang berdenyut di depan pandangan saya, ke dalam ruang ingatan pribadi yang memiliki banyak jendela.

Alun-Alun Rembang yang tepat berada di sisi depan Masjid Agung begitu ramai oleh pikuk manusia, meningkahi ucapan ”selamat datang malam” di Rembang, dengan keramaian yang sengaja diciptakan (saya tak pernah mendapati yang seperti ini di Alun-Alun Wates). Pelan saya memasuki komplek halaman masjid, sambil tak lupa mengabarkan kepada Mas Hisyam bahwa saya sudah sampai. Sembahyang Maghrib saya lakukan di dalam masjid, tidak di serambi. Nuansa nresep luar biasa mensugesti diri. Terharu. Saya seperti tengah menziarahi diri sendiri. Tak lupa saya akhiri munajat di dalam masjid dengan berdoa.

Mas Hisyam datang bersama seseorang yang dikenalkannya kepada saya. Lalu kami bertiga makan malam di warung tenda, sisi timur Alun-Alun. Mata ini tak lepas-lepas menyapu keramaian yang memusat di komplek itu. Sementara tepat sisi utara Alun-Alun adalah jalan raya Pantura yang ampun padatnya. Ruah kendaraan besar kecil menengah.

Agak berapa lama, Mas Yunus dan Dik Imam datang menjemput. Sejurus kemudian kami berempat membelah malam di jalanan Kota Rembang menuju Blora. Di dalam mobil yang dikemudikan Mas Yunus itu, kembali saya merasa kedinginan oleh AC. Seperti ada yang hendak bergolak lagi dari dalam perut. Apa boleh buat, jaket Mas Hisyam saya pakai sembari saya raih sebatang mild milik Dik Imam untuk saya hirup semerbak tembakaunya dengan menempelkannya tepat di depan hidung saya. Dan ternyata itu cara ampuh untuk membuang ingatan atas tak nyamannya tubuh saya.

Saya sempat ditunjuki sebuah gang kecil masuk ke arah komplek Pondok Pesantren Roudhotut Tholibin, di mana Gus Mus pengasuhnya. Ketika melalui jalanan arah Rembang menuju Blora, saya sempat pula dikisahkan oleh Mas Yunus (saya lupa persis letaknya) sebuah tempat makam Kyai Mutamakin (Kyai Thoriqot? Yang kesohor itu?). Membelah hutan sebentar sebelum akhirnya sampai di pusat Kota Blora. Lagi-lagi saya menemukan keramaian yang sengaja diciptakan di sekeliling Alun-Alun Blora (jadi teringat buku suntingan Puthut EA tentang tiga seniman lukis dan Alun-Alun ini). Warung tenda berderet-deret, ditingkahi pikuk manusia mendaras malam di Blora. Ada sebuah pemandangan yang tak biasa. Alun-Alun dipenuhi batang pohon palem. Ini Alun-Alun atau hutan palem, tanyaku??

Usai singgah di sebuah tempat dan kembali bertemu dengan orang banyak, sampai juga di rumah mungil yang kutuju, rumah keluarga Mas dan Adik Blora. Saudara-saudara yang dipertemukan di Jogja. Dua hari bermalam di sana, dengan sederet kisah yang sempat saya posting ”wewayang”-nya di status sebelum ini, meneguhkan arti baru di sudut hati. Betapa persaudaraan itu kadang memerlukan pertemuan yang hangat. Betapa persaudaraan itu tidak peduli usia, jenis kelamin, dan remah budaya yang terkadang terasa menjalin bangunan-bangunan tembok angkuh. Cukup membangun suasana mesra dan tulus di hati yang terus menggenang, merekatkan ruh-ruh yang terhampar di mana-mana dengan kesungguhan, maka akan terwujud pertemuan yang akan menjadi salah satu rahasia hidup yang terpenting. Dan, saya tidak pernah takut untuk melakukannya. Yeah….

Sketsakamar, 1 Juli ’09

Komentar