Langsung ke konten utama

Kuasa Kata di Atas Viaduct

Afrizal Malna
Pikiran Rakyat, 27 Juni 2009.

DUA kali saya membaca buku kumpulan puisi Di Atas Viaduct (Bandung dalam Puisi Indonesia). Dari dua kali membaca buku itu, saya merasa setelah melampaui 250 halaman, pembacaan saya terasa mulai rusak atau saya mulai berubah menjadi “pembaca yang rusak” setelah 250 halaman. Saya merasa nyaman membaca puisi di bawah seratus puisi, lebih dari itu rasanya ada kereta yang berantakan dalam diri saya. Kereta bahasa yang kehilangan sensitivitasnya, kata-kata gagal berada dalam sintaksisnya, dan pemaknaan dilumpuhkan.

Pada sisi lain (dalam pembacaan yang rusak itu), saya disadarkan juga oleh kesan betapa besarnya penyair memiliki “kekuasaan” atas kata. Kepada siapakah kata yang dikuasai penyair itu dipertanggungjawabkan? Kesan di mana “sikap atas kata” diperlakukan sebagai “kekuasaan atas kata”, terutama dalam membuat pernyataan.

Pengalaman itu membuat saya tertarik mengamati apa yang terjadi dengan diri saya sendiri ketika membaca kumpulan itu. Jadi, bukan saya yang membaca sastra, melainkan “sastra yang membaca saya”.

Pertama, saya cukup terprovokasi oleh pengenalan saya atas Bandung, terutama seringnya saya menggunakan kereta untuk pergi ke Bandung. Jalan mana pun yang saya tempuh untuk ke Bandung, selalu melalui jalan berkelok, mendaki, dan menurun.

Kedua, strukturisasi pembagian puisi yang dilakukan Ahda Imran menjadi enam pengelompokan puisi (Priangan, Angin Bandung, Sukardal, Kota Kita, Di Atas Viaduct, dan Bagi Sebuah Kenangan), ikut memprovokasi munculnya kategori tematik dalam membaca buku ini. Dengan sengaja saya tidak ingin memasuki lebih jauh identifikasi yang telah dilakukan Ahda Imran (penyunting) hingga munculnya pengelompokan-pengelompokan ini. Akan tetapi, dengan kesadaran ini pun, jalan yang telah dibuat Ahda tetap menuntun saya dalam membaca puisi-puisi dalam buku ini hingga pada kelokan tertentu saya mulai berpisah dengan kategorisasi Ahda.

Keris yang Hilang dalam Sumur

Saya tidak tahu apa perbedaan antara Parahyangan dengan Priangan. Apakah Priangan sama dengan konsep Parahyangan yang mengacu pada konteks masa lalu, konsep ruang budaya dan spiritual dalam membaca wilayah Hindu Sunda. Apabila kedua istilah ini merupakan sebuah pergeseran, untuk saya pergeseran ini sangat menakjubkan, bagaimana Parahyangan yang secara harfiah merupakan tanah para dewa berubah menjadi Priangan yang mungkin bisa dibaca sebagai para priang, riang, gembira. Istilah Priangan pun, pada beberapa puisi mengalami genderisasi di mana Priangan juga identik sebagai gadis perawan dan hampir seluruh puisi yang menyinggung perawan, memperlihatkan begitu pentingnya keperawanan, kecuali pada puisi Ratna Ayu Budhiarti yang membawa puitika paling berbeda dari rata-rata penyair yang puisinya terkumpul dalam kumpulan ini.

Kumpulan puisi Ramadhan KH (Priangan Si Jelita: 1956), 53 tahun lalu, menggunakan istilah Priangan dalam puisi yang muncul lebih awal dan hingga kini digunakan banyak penyair, terutama yang berdomisili di Jawa Barat. Kumpulan ini masih kaya menggunakan berbagai dekorasi puisi-puisi lama dari permainan rima, pantun, pilihan vokal dan konsonan, serta ikon budaya Sunda. Seruling dan pantun digunakan untuk tangisan dan dunia lama itu (Sunda sebagai personifikasi Priangan si jelita) seperti keris yang hilang di sumur. Pernyataan ini tidak hanya keras dan tajam, tetapi juga memperlihatkan begitu pentingnya keris dan sumur dalam ikon budaya Sunda. Sebuah metafora yang bisa dibaca sebagai “tenggelamnya Sunda lama”.

Kini, tidak hanya keris yang hilang dalam sumur, namun sumur pun ikut hilang. Kita hampir tidak pernah bisa menemukan lagi istilah sumur dalam puisi-puisi yang ada dalam kumpulan ini setelah Ramadhan menggunakannya pada 1956. Baru empat puluh tahun kemudian, tahun 1996, Kurnia Effendi menggunakannya kembali dalam puisinya “Sumur Bandung”.

Pengaruh Ramadhan, tidak hanya penggunaan istilah Priangan yang terus dipakai penyair dari generasi setelah Ramadhan, tetapi juga reproduksi mitologi Sunda. Yang menarik, mitologi yang paling banyak direproduksi adalah legenda Dayang Sumbi atau Sangkuriang dan Jaka Tarub. Kedua mitos ini kebetulan sangat genderistik dan seksis. Reproduksi mitos yang memperkuat identitas Priangan sebagai perempuan dan perempuan ini sebenarnya adalah perempuan yang menderita. Selalu ada unsur “petaka” dalam hubungan perempuan dan lelaki. Mitologi ini menjadi sumber reproduksi untuk Apip Mustopa, Arahmaiani, dan Acep Iwan Saidi. Terkadang, mitologi ini juga digunakan sebagai perluasan misteri.

Strategi Narasi Sunda

Sebagai strategi teks dalam puisi, muncul pertanyaan sebenarnya mau dibawa ke mana narasi Priangan ini dengan seluruh pernik-pernik masa lalu dan mitologinya? Apakah kemunculan generasi baru yang sudah tidak pernah mengalami Sunda lama lewat pengenalannya terhadap Bandung sebagai kota lama akan memunculkan strategi teks yang lain? Pertanyaan ini menarik untuk mengukur perubahan yang terjadi dalam estetika puisi yang berkaitan dengan perubahan kota.

Sebagian besar penyair yang pernah mengalami masa Bandung lama, paling tidak sampai generasi yang lahir dekade ‘50-an dan paruh ‘60-an, melihat Bandung masa kini seperti telah berkhianat kepada Bandung masa lalu. Priangan dan Sunda sebagai strategi teks untuk melawan Bandung masa kini, apakah merupakan strategi teks untuk memaksakan Bandung sebagai kota representasi budaya Sunda?

Besarnya daya tarik kota ini tampaknya memang telah membuat sekian banyak penyair mengharapkan kota ini ikut mengakomodasi indeks-indeks kesundaan. Penyair melakukan personifikasi sedemikian rupa atas kota ini, seperti yang dilakukan Ayie S. Bukhary pada (Aom Bandung): aku adalah Bandung yang dinyatakan sebagai mantra.

Garam Hitam (Priangan-Penderitaan)

“Priangan Si Jelita” Ramadhan KH, oleh penyair berikutnya kian bergeser menjadi Priangan sebagai penderitaan. Pembalikan ini eksplisit dinyatakan Acep Iwan Saidi dan Juniarso Ridwan dalam sajak mereka dengan judul yang sama, “Priangan Si Derita”. Puisi yang menyatakan kota yang bertambah ganas, Priangan tidak perawan lagi dan kerusakan ekologi kota Bandung.

Bandung yang pernah dipuja sebagai Parisnya Jawa, dalam puisi Soni Farid Maulana (Variasi Parijs van Java), dilihat seperti menelan garam hitam yang pahit. Antara Ciwidey ke Tangkubanparahu, seruling telah berganti dangdut. Indeks kemerosotan ini ditandai dengan seruling sebagai representasi primordial yang sudah tergantikan dengan dangdut.

Dalam ketegangan politik narasi antara Sunda dan Negara, puisi Soni memperlihatkan dua kali sudah Priangan dikhianati setelah keris yang hilang dalam sumur (Ramadhan KH), kini dangdut yang telah menggantikan seruling (Soni). Bandingkan dengan sebaliknya yang dinyatakan Rustam Effendi dalam puisinya: seruling dan pantun aku campakkan yang justru dilakukan untuk melawan narasi lama.

Saya tertarik untuk melihat bagaimana perubahan Bandung sebagai negatif dengan menggunakan Priangan, seruling, dan dangdut sebagai pembanding. Bagaimanakah sebenarnya indeks primordial ditempatkan dalam kota seperti Bandung yang terus mengalami berbagai proses urbanisasi dan menghadapi permintaan pasar atas produk-produk kebudayaan? Pemilihan indeks itu adalah pilihan yang tidak membuka ruang antara mana yang boleh berubah dan yang tidak boleh berubah. Priangan bukan kota modern, Bandung bukan kota Priangan, dan seruling bukan dangdut. Munculnya dangdut tidak berarti berhubungan langsung dengan hilangnya seruling.

Karno Kartadibrata memiliki strategi puitika yang berbeda untuk memperlihatkan perubahan kota dalam puisinya BRAGABRAGABRAGA: Tuan//apakah yang dibicarakan sepasang remaja itu//ketika pulang dari bioskop “Braga Sky”?// Apakah terkesan mode pakaian baru yang//dilihatnya?//Lalu janji apa dan harapan apa yang mereka//bisikkan?//Apakah yang terpikirkan oleh nyonya semuda//itu yang shopping di sini, nah dari toko ini lalu//ke toko itu?//beli majalah “Femina” dan novel “Karmila”?//

Karno hampir tidak membuat pernyataan apa pun dalam puisinya itu. Ia hanya melakukan semacam identifikasi atas yang disaksikannya dan kemudian membawanya ke strategi narasi di mana strategi ini tetap bergerak dalam lingkup strategi puitika yang ditawarkannya. Karno tidak menggunakan narasi tradisi untuk melawan narasi modern. Karno menggunakan narasi dari konteksnya sendiri, bukan dari konteks yang lain.

Mitologi dalam Strategi Teks Kontemporer

Dalam bagian lain, kita menemukan strategi teks yang berbeda, yaitu menggunakan mitologi dalam tindakan dekonstruksi terhadap mitologi itu sendiri. Dekonstruksi seperti ini dapat kita lihat dalam puisi Mardi Luhung (Sangkuriang), atau puisi Sitor Situmorang (Dayang Sumbi, Kenapa Kau Tolak Cintaku?).

Mitos dibongkar dengan mengajukan cara pandang di luar indeks mitos itu sendiri. Akan tetapi lewat pembongkaran itu pula, konstruksi makna dari mitos itu terbuka dengan gamblang. Sitok Srengenge dalam sajaknya “Libido Sangkuriang,” lebih gamblang lagi melihatnya: bahwa cinta bisa mengubah darah. Yessi Anwar dalam sajaknya “Dari Bayangan Kotaku,” Dayang Sumbi berubah menjadi “piring sumbing” untuk pada gilirannya memperlihatkan bahwa anjing lebih setia dari manusia.

Strategi teks dalam sajak mereka tidak lagi menggunakan mitologi sebagai indeks tradisi atau kepercayaan-kepercayaan primordial untuk melawan masa kini, melainkan sebaliknya. Nilai-nilai masa kini digunakan untuk mengubah atau membongkar sistem makna yang terdapat dalam mitos. Strategi teks seperti ini memperlihatkan sikap pragmatis untuk memutuskan hubungan reproduksi mitos atas waktu masa kini.

Kota, Kuasa Kata

Ketika hubungan reproduksi mitos tidak diputus, mitos tidak lagi mengandaikan adanya perjalanan waktu dan tumbuhnya sistem nilai yang lain. Kita melihat hal ini misalnya pada sajak Apip Mustopa “Telah Musnah Sangkuriang” yang menyatakan Bandung sebagai pemusnahan atas Sangkuriang. Mitos Sangkuriang di sini menjadi klaim nilai yang dipertentangkan dengan perubahan kota.

Klaim ini lebih eksplisit muncul dalam sajak Eddy D. Iskandar “Bandung” yang mengatakan Bandung telah berubah dan ingin kembali ke wajah kota lama. Diro Aritonang (Rindu Bandung): Bandung sudah linglung dan bingung. Sarabunis Mubarok (Bandung): kota yang sakit, sudah seperti WC jalanan. Yayat Hendayana (Dendang Bandung): sampah dan pengap, rumah semakin sempit. Rohyati Sofyan (Sajak Bandung (teu) Disayang): Cikapundung tempat bidadari mandi sudah berubah menjadi limbah pabrik. Juniarso Ridwan (Asap di Atas Bandung): kota membalik cerita, mengubah narasi lama. Deddy Koral (Potret Kota): rakyat kecil menderita dan pejabat korup. Beni Setia (Sajak Tengah Hari): kota yang memaksa kita menjadi tidak berdaya dan orang gila bertambah banyak. Perubahan kota Bandung yang dikecam juga terdapat dalam sajak Nandang Darana atau Dian Hartati.

Kekuasaan penyair atas kata ditempuh dalam mempraktikkan puisi untuk melawan negara atau untuk mengingatkan negara. Tidak seluruh penyair menggunakan strategi narasi yang sama untuk melawan negara. Saini KM misalnya, dalam sajaknya “Bandung” mengatakan, kota sudah berubah, menghapus kota dalam peta hidupmu. Ketika kota telah berubah, dia bukan lagi peta dalam hidupmu. Lihat lagi puisi Atasi Amin (Kota), semua telah berubah, kecuali nasihat bapak kepada anaknya: jangan ke kota.

Masih dengan semangat puisi mbeling, Remy Sylado dalam puisinya “Kota Kita,” memperlihatkan Bandung sebagai hiruk-pikuk berbagai bahasa dari berbagai indeks budaya (lokal, kolonial, dan dunia masa kini). Kota musik di mana Scott Mckenzie, John Lenon, Mick Jagger, dan lain sebagainya menjadi warga terhormat kota ini.

Perbedaan ini memperlihatkan dua kemungkinan. Pertama, penyair memang bekerja sebagai penjaga nilai-nilai lama dengan cara menguasai kata. Kedua, penyair merupakan bagian dari komunitas narasi yang tidak bisa mengakses perubahan karena dia justru memperlakukan puisi sebagai “kuasa kata” yang membuat blok budaya dalam reproduksi strategi teks dirinya sendiri.

Tubuh dan Kota

Ketika praktik kuasa atas kata berlangsung sedemikian rupa sebagai reproduksi narasi puisi, tubuh menjadi penting untuk didengar. Lewat cara pandang ini, puisi tidak lagi diwacanakan untuk membaca kota. Ahda Imran dalam puisinya “Simpang Lima, Malam,” mengatakan: tubuhku adalah pikiran, di luar semua yang pernah kuceritakan padamu. Tubuh memiliki strategi teks lain di luar pikiran yang telah menjadi cerita antara aku (pencerita), kota (cerita), dan kamu (yang diceritakan). Puisi digunakan untuk membaca diri sendiri dengan tubuh sebagai pembaca dan penulisnya sekaligus.

Acep Zamzam Noor (Lanskap Kota Bandung): tubuh yang terhuyung-huyung ditelan kota. Juniarso Ridwan (Ahoaho Bandung): tubuh yang terbenam beton. Badung (Sebuah Insomia): tubuh yang tidak pernah bisa tidur, kemudian menghadapi momen-momen yang hilang.

Pertemuan antara tubuh dan kota tidak pernah terjadi. Sebaliknya, kota menjadikan tubuh sebagai pusat konflik. Kota sebagai ruang, bangunan, dan mobilitas, tidak lagi bisa mengukur batas-batas kodrati tubuh. Kota tumbuh untuk menyakiti tubuh yang menghuninya. Ketika hubungan kota dan tubuh tidak terwacanakan dalam visi dan tata kota, kota dibiarkan tumbuh sebagai representasi ruang yang tidak melibatkan tubuh untuk berbagai aktivitas yang dilakukan sepanjang hari.

Narasi Gender

Politik identitas dalam narasi gender antara Priangan dan Bandung berlangsung secara tidak berimbang. Sepanjang itu pula, hampir tidak ada penyair perempuan yang masuk ke dalam narasi gender seperti ini. Dalam konteks ini pula, Nenden Lilis A (Rumentang Siang, Suatu Malam) dan Ratna Ayu Budiarti (Untuk Seseorang Yang Menjadikan Aku Sebagai Kekasih Gelapnya) menulis dalam ruang gender yang berbeda.

Kedua sajak itu, yang satu ditulis 1995, satunya lagi 2004, berjarak hampir sepuluh tahun. Nenden generasi kelahiran 1971 dan Ratna kelahiran 1981. Dua generasi yang berbeda 10 tahun, hampir sama persis dengan jarak waktu ke dua sajak di atas. Nenden memperlihatkan idealisme, misteri atas hubungan dan ruang, serta strategi teks yang berat dan muram. Menggunakan setting gedung teater. Sementara itu, Ratna memperlihatkan sikap pragmatis atas hubungan. Hubungan tidak dilihat sebagai misteri waktu, melainkan sebagai penawaran dan pemilikan. Menggunakan setting gedung bioskop, dan mall. Menggunakan tubuh sebagai bahasa lewat fitness body language. Menggunakan strategi teks yang cair dan gamblang. Puisi Ratna berbeda dengan kebanyakan puisi dalam kumpulan ini pada umumnya, lebih dekat dengan puisi Karno Kartadibrata. Bentuk puisi yang sebelumnya sering kita anggap sebagai prosaik.

Puisi Nenden melihat hidup sebagai teater nasib, di mana ada penonton yang tak bernama, tak terkenali yang tetap berada dalam gedung teater walau pertunjukan telah usai dan penonton lain telah pulang. Penonton tak bernama itu seperti mata yang tidak pernah tidur mengawasi teater nasib itu, sedangkan puisi Ratna melihat hidup lebih sebagai pasar tawar-menawar. Ruang hidup mereka adalah ruang di mana mereka bertindak sebagai “yang menonton” dan bukan “yang ditonton”. Tak ada misteri juga tak ada lagi yang disucikan.

Ratna bisa dikatakan generasi yang lahir sepenuhnya setelah Bandung berubah dan tidak pernah mengalami Bandung lama yang pernah disebut sebagai “kota kembang”. Apakah narasi Priangan akan tetap berlanjut dalam puisi-puisi setelah generasi Ratna?

Saya kembali mengamati diri saya setelah saya selesai menulis makalah ini. Saya terpaku pada ketegangan antara kota dan kata. Suatu saat kota adalah kata ketika kota mampu menjadikan dirinya sebagai rumah naratif yang melahirkan cerita. Suatu saat, kata adalah kota ketika kata mampu membuat ruang untuk terjadinya gerakan bahasa.***

(Artikel ini disarikan dari makalah penulis yang disampaikan dalam Bedah Buku Di Atas Viaduct, Bandung dalam Puisi Indonesia, di Aula Pikiran Rakyat, 23 Juni 2009).

Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=210370915658448

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com