Acep Zamzam Noor*
Pikiran Rakyat, 13 Jan 2007
INDONESIA International Poetry Festival 2006 yang berlangsung di Palembang beberapa waktu yang lalu, selain menghadirkan para penyair terkemuka dari sejumlah negara, juga menghadirkan seniman-seniman lokal yang menampilkan sastra tutur. Di wilayah Sumatra Selatan (termasuk Lampung dan Bengkulu) tradisi sastra tutur atau yang lebih kita kenal dengan sebutan sastra lisan terdapat hampir di setiap kabupaten meskipun yang masih benar-benar hidup hanya tinggal di beberapa tempat. Penampilan sastra tutur di arena festival menjadi menarik karena bahasa lokal bersanding dengan bahasa-bahasa internasional seperti Finlandia, Rumania, Italia, Belanda, Jerman, Arab, Turki, Cina, Inggris, yang tentu saja bagi pendengaran saya sama-sama asingnya.
Di panggung, setiap penyair asing tampil membawakan puisi dalam bahasanya masing-masing. Mendengarkan puisi-puisi yang mereka bacakan, bagi saya dan mungkin juga sebagian besar penonton, seperti mendengarkan dukun yang sedang membacakan mantra. Memang untuk puisi-puisi berbahasa asing dibacakan juga terjemahannya dalam bahasa Indonesia, namun yang menarik dari festival semacam ini justru ketika kita mendengar langsung bahasa aslinya dituturkan oleh penyairnya sendiri. Seperti halnya mendengar mantra, kita bisa menikmati apa yang mereka bacakan meski tidak mengerti apa maknanya.
Meskipun gaya membaca penyair-penyair asing ini seperti para pembaca puisi umumnya, pengucapan mereka punya irama dan aksen yang khas. Mendengar puisi-puisi Anni Sumari (Finlandia), Peter Zilahy (Rumania), Martin Jankowski (Jerman) atau Tseud Bruinja (yang menulis dalam bahasa Frisian, salah satu bahasa lokal di Belanda) seperti mendengar rangkaian bunyi tanpa makna. Begitu juga ketika Ahmad Abdul Mu’thi Hijazi (Mesir) membacakan puisi-puisinya, saya seperti mendengar seorang kiai yang sedang berkhotbah atau berdoa, dengan kemerduan bunyi bahasa Arab yang luar biasa. Atau ketika Duoduo tampil, penyair pelarian asal Cina itu seperti sedang membacakan narasi dalam sebuah film kungfu. Ya, begitulah puisi. Kekuatannya bukan hanya terdapat pada makna, namun juga bunyi kata-katanya itu sendiri.
Ahmad Bastari Suan, penutur tradisional dari Lahat, membuka festival ini dengan membawakan syair dari Guritan dan Tadut, dua jenis sastra tutur dalam bahasa Basemah. Bastari Suan bersenandung dengan suara baritonnya yang berat. Ia duduk di atas tikar sambil menundukkan kepala dengan dagu yang disangga sebilah bambu. Entah apa fungsi yang sebenarnya dari bambu ini, apakah semacam alat bantu untuk memperkeras suara atau hanya penyangga dagu agar tidak pegal jika menunduk dalam waktu yang cukup lama. Tak banyak gerak yang dilakukan oleh seniman ini selain tangan yang kadang membuka lembaran naskah atau membetulkan posisi bambu. Ia membawakan sejumlah syair dengan khidmat dan khusyuk. Ia seperti seorang dukun yang sedang membacakan mantra.
Bagi saya yang tidak mengerti bahasa Basemah, menikmati syair dari Guritan dan Tadut ini seperti halnya mendengarkan puisi-puisi Finlandia, Rumania, Jerman, Belanda atau Cina. Cerita apa di balik syair yang Bastari Suan senandungkan, jelas saya tidak mengerti. Ketika hal ini saya tanyakan kepada T. Wijaya, seorang penyair Palembang, menurutnya syair tersebut bercerita tentang kepahlawanan. Namun ia sendiri tidak paham betul karena Basemah adalah salah satu bahasa lokal yang terdapat di Sumatra Selatan. “Di sekitar Palembang banyak sekali bahasa yang tidak semuanya saya dipahami, memang mirip dengan bahasa Palembang namun sebenarnya merupakan bahasa tersendiri,” katanya sambil menjelaskan bahwa bahasa atau budaya yang berbeda-beda itu hampir semuanya berkaitan dengan Sungai Musi, baik langsung maupun tidak. Dengan kata lain bahasa dan budaya yang berbeda-beda itu seperti disatukan oleh aliran Sungai Musi, yang merupakan sumber utama kehidupan dan kebudayaan mereka.
Palembang terkenal dengan kain songketnya yang indah, yakni tenunan tradisional yang biasa dikerjakan oleh kaum perempuan sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Palembang juga terkenal dengan sastra tuturnya yang sangat kaya, mulai dari legenda, cerita rakyat sampai syair-syair yang berkisah tentang perang atau kepahlawanan. Syair-syair patriotik ini biasanya dituturkan oleh dan untuk kalangan bangsawan, sementara legenda dan cerita rakyat populer di kalangan masyarakat kebanyakan. Selain itu, Palembang juga dikenal dengan sungai-sungainya yang lebar dan panjang. Kota yang bersejarah ini konon dialiri oleh sembilan sungai yang semuanya bermuara ke Sungai Musi. Sembilan sungai ini melambangkan beragam suku dan bahasa yang terdapat di wilayah Palembang dan sekitarnya, yang dikenal sebagai kawasan Batanghari Sembilan.
Tiga ikon Palembang ini, yakni syair, songket dan sungai, diangkat oleh Lingkar Studi Teater Palembang (LSTP) menjadi sebuah pergelaran sastra tutur kreasi baru dengan judul “Tenunan Syair Batanghari Sembilan”. Tidak seperti Bastari Suan yang membawakan syair-syairnya secara tradisional, LSTP memadukan banyak unsur menjadi sebuah kolaborasi sastra tutur yang cukup menghibur. Syair yang menjadi materi pergelaran bukan hanya dituturkan atau disenandungkan, namun pada bagian-bagian tertentu juga dibawakan secara teatrikal. Jika Bastari Suan hanya bertutur sendirian tanpa pengiring, LSTP membawakannya dalam sebuah ensambel. Ada gitar, ada bass, ada jimbe, dan terebang. Tentu saja ada juga alat-alat tradisional dari bambu semacam celempung serta bambu berisi pasir yang digerak-gerakkan. Selain itu tampil pula seorang perempuan tua yang sedang menenun songket. Perempuan ini bukan hanya dipajang sebagai hiasan, namun bagian penting dari pergelaran. Bunyi-bunyian yang dikeluarkan dari alat tenunnya menjadikan musik lebih kaya. Pergelaran menjadi semakin meriah karena di samping para pemain yang memakai pakaian tradisional dari songket, setting panggungnya pun menggunakan lembaran-lembaran kain songket yang gemerlapan.
“Songket tidak hanya terdapat di Palembang tapi juga di Medan, Padang, Jambi, dan Lampung. Songket itu milik kebudayaan Melayu, jadi terdapat juga di beberapa tempat di Malaysia. Hanya songket Palembang memang lebih dikenal orang, mungkin karena kehalusannya atau entah karena apanya,” kata Anwar Putera Bayu, penyair Palembang yang lain. Di Palembang kerajinan songket ini masih hidup dan berkembang, sejumlah pengrajin bahkan mencoba mengangkatnya menjadi kain yang bergengsi dan mahal. Anna Kumari misalnya, dengan kreatif memadukan motif-motif songket dengan tenun ikat, tenun tajung (seperti tenunan untuk kain sarung), batik jumputan, dan batik prada sehingga menghasilkan corak dan warna yang indah. Fungsinya pun bukan hanya untuk pakaian tradisional, tapi untuk keperluan-keperluan yang lebih luas seperti jas, kemeja, gaun wanita, busana Muslim bahkan jilbab. “Songket juga cocok untuk gordin jendela, bed cover, taplak meja, tas tangan, kipas, bantal, hiasan dinding atau dekorasi panggung seperti ini,” ujar seorang pegawainya dengan bangga.
Pergelaran LSTP pada penutupan festival puisi internasional ini membawakan salah satu bagian dari Syair Perang Menteng yang sangat panjang. “Pergelaran ini mencoba mengangkat 22 bait bagian awal. Secara keseluruhan syair ini berisi 260 bait yang menceritakan peperangan antara Kesultanan Palembang Darussalam melawan penjajah Belanda,” kata Vebri Al-Litani yang menjadi vokalis dari kelompok ini. Menteng berasal dari kebiasaan orang-orang Palembang ketika mengucapkan nama Mutinghe, seorang komisaris yang diangkat pemerintahan kolonial untuk memimpin wilayah Palembang dan Bangka pada tahun 1817. Jadi kata Menteng diambil dari nama seorang komisaris Belanda.
Syair Perang Menteng sendiri ditulis sekitar tahun 1819-1821, ketika peperangan tengah berlangsung. Syair ini menceritakan bagaimana peperangan dimulai, yakni sewaktu Belanda dan Ambon yang dipimpin Ideler Mutinghe alias Menteng bersama-sama menyerang Kesultanan Palembang. Namun rakyat Palembang yang dipimpin oleh Haji Zein bahu-membahu mempertahankan diri sekuat tenaga. Dalam syair ini diceritakan pula bagaimana kegigihan rakyat Palembang dengan senjata apa adanya yang berjuang tanpa rasa takut berhasil memukul mundur pasukan kolonial meskipun Haji Zein, sang komandan, harus gugur sebagai syuhada.
Vebri Al-Litani juga menjelaskan, dalam pergelarannya ditampilkan berbagai gaya bertutur dari tradisi-tradisi yang ada di Sumatra Selatan, seperti Bekisoh yang merupakan gaya bertutur untuk kalangan bangsawan, Guritan dan Tadut gaya bertutur dari Basemah, Senjang gaya bertutur dari Sekayu serta Irama Batanghari Sembilan, sejenis pantun yang biasa dinyanyikan dengan iringan gitar tunggal. “Kami mencoba menampilkan kekayaan tradisi yang dimiliki Sumatra Selatan ini dalam sebuah paket pergelaran, tentu dengan upaya-upaya untuk bisa menemukan pengucapan baru yang segar,” katanya seusai pertunjukan.
Bagi saya, yang menjadi salah seorang peserta dalam festival ini, pergelaran Tenunan Syair Batanghari Sembilan merupakan sebuah terobasan yang perlu dicatat dari seniman-seniman muda Palembang, khususnya dalam mengangkat berbagai kekayaan lokal. Terobosan yang memberikan semacam aksentuasi bagi sebuah festival puisi internasional yang berlangsung di daerahnya. Yang mereka pergelarkan bukan sekadar sastra tutur, musik dengan alat-alat tradisional atau kain songket dengan beragam corak yang membalut pementasan, namun semacam instalasi yang menenun unsur-unsur budaya dengan meriah, semacam bunga rampai yang merajut tradisi-tradisi yang masih ada. Tradisi-tradisi yang tentu masih dan akan terus hidup dan dihidupi oleh masyarakat pendukungnya.
_____________________
*) Acep Zamzam Noor, Penulis, Penyair dan pelukis.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/01/esai-syair-songket-dan-sungai_13.html
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar