03/09/11

Selebrasi Sunyi sang Puisi

Wisnu Kisawa
http://www.suaramerdeka.com/

KETIKA banyak pihak masih memperbincangkan puisi lirik, Triyanto Triwikromo memunculkan istilah poslirik. Ya, belum lama ini, Balai Soejatmoko Solo dan Balai Sastra Kecapi menggelar diskusi ”Ngudarasa Sastra” bertema ”Perayaan Puisi Lirik”.

Diskusi dimoderatori Bandung Mawardi dan Triyanto sebagai pembicara dengan menyodorkan makalah ├«Poslirik: Selebrasi (Sunyi) Puisi Lirik├«. ”Puisi lirik bukan identitas tunggal puisi Indonesia. Jika tak hendak membunuh puisi lirik, ia harus dikenakan sebagai ‘zirah estetika’ yang longgar. Ia harus digugat, diberontaki, hingga kita nanti sampai ke ruang kreatif berpuisi yang untuk sementara saya sebut poslirik,” ujar dia.

Puisi tetap tak bisa menghindar dari sihir bunyi dan takdirnya yang lebih kerap menghuni ruang lirik ketimbang ruang epik atau dramatik. ”Nah, dalam ruang poslirik itu: seorang penyair bisa menyematkan mitos pembebasan terhadap puisi-puisi lirik sebelumnya, memperbarui dengan kritis agar penyair tak terbunuh oleh kelirikan puisi-puisinya,” katanya.

Puisi lirik sepertinya sedang mewabah, mendominasi. Bahkan, kata Hasif Amini, tak kunjung lekang atau lapuk oleh musim yang berganti-ganti.

Inspirasi Warisan

Munawir Aziz dari Pati memberikan ”tanda tanya dan tanda seru” terhadap puisi lirik. Dia menuturkan ketika Goenawan Mohamad belajar dari tradisi Chairil, lalu Afrizal Malna mengaji pada Anwar dan Sutardji, itu tak ubahnya inspirasi warisan jika tak bisa dikatakan tragedi warisan. ”Maka bagi saya, pertanyaan yang menarik justru bagaimana membebaskan puisi dari jubahnya,” katanya.

Triyanto sependapat tentang inspirasi warisan itu. Namun dia menggarisbawahi sebagai ironi ketika mencermati belakangan banyak yang ingin meniru Afrizal. Akan tetapi mereka tak tahu bagaimana Afrizal Malna mengarungi lautan bahasa. Itulah ironi.

Dia menyatakan puisi harus dipahami sebagai teks. Dan karena puisi adalah teks, ia tak pernah lahir dari ruang vakum sejarah. Ia tak akan pernah otonom. Lalu, dengan demikian, puisi lirik adalah sebuah keniscayaan yang menyihir. Penyair mana pun tak akan tersakiti oleh pesonanya.

”Sementara, poslirik bukanlah ruang depan atau ruang belakang puisi lirik. Melainkan sebuah ruang yang berada di lapis terluar yang hampir lepas dari lingkaran puisi lirik,” kata Triyanto.

12 Februari 2009

Tidak ada komentar: