Langsung ke konten utama

TEOLOGI PENDIDIKAN:

Upaya Pembebasan Manusia dari Alienasi Peran Kemanusiaannya
Ahmad Syauqi Sumbawi *
http://sastra-indonesia.com/

Pendahuluan

Perbincangan mengenai pendidikan tidak akan pernah mengalami titik akhir, sebab pendidikan merupakan permasalahan besar kemanusiaan yang akan senantiasa actual untuk diperbincangkan pada setiap waktu dan tempat yang tidak sama atau bahkan sama sekali berbeda. Pendidikan dituntut untuk selalu relevan dengan kontinuitas perubahan.

Dalam realitas kehidupan, sebagai kondisi riil pendidikan, dapat dilihat adanya perubahan sosial yang begitu cepat, proses transformasi budaya semakin deras dan dahsyat, juga perkembangan politik global yang tidak stabil, kesenjangan ekonomi yang begitu lebar serta pergeseran nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, mengharuskan pendidikan untuk memfokuskan arahnya pada kondisi sosial kemanusiaan di atas. Hal ini merupakan konsekuensi logis karena pendidikan harus senantiasa toleran dan tunduk pada perubahan normative dan cultural yang terjadi dalam masyarakat. Akan tetapi yang lebih penting, bahwa pendidikan merupakan lembaga sosial yang berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia yang berbudaya dan melakukan proses pembudayaan nilai-nilai.

Dengan demikian, pendidikan dan kebudayaan merupakan dua komponen penting yang saling terkait satu sama lain dalam peningkatan kualitas hidup manusia. Di satu sisi, pengembangan dan kelestarian kebudayaan berlangsung dalam proses pendidikan dan memerlukan pengelolaan pendidikan. Sementara itu, pengembangan pendidikan juga membutuhkan sistem kebudayaan sebagai akar dan pendukung berlangsungnya pendidikan tersebut. Pengembangan kebudayaan membutuhkan kebebasan kreatif, sedangkan pendidikan memerlukan suatu stabilitas budaya yang mapan.

Hubungan ketergantungan di antara keduanya mengandung pengertian bahwa kualitas pendidikan akan menunjukkan kualitas budaya, demikian juga sebaliknya. Selanjutnya, kualitas kebudayaan akan menunjukkan kualitas manusia pendukungnya. Keduanya saling berhubungan positif, di mana ketiadaan salah satunya menyebabkan stagnasi dan distorsi dalam banyak aspek.

Berkaitan dengan peran penting pendidikan dalam pembentukan kebudayaan manusia, Islam sebagai sistem ajaran yang komprehensif, tidak luput memberikan perhatian kepada pendidikan. Dalam hal ini, al-Qur’an memposisikan dirinya sebagai sumber inspirasi universal, yang selalu menyapa perubahan dan dinamika dalam masyarakat, dan secara ideal memberikan solusi-solusi dasar atas segala permasalahan kehidupan manusia.

Pengamatan terhadap situasi dan kondisi sosiologis yang terjadi di masyarakat dewasa ini menunjukkan terjadinya pergeseran nilai pada hampir setiap bidang dan sendi kehidupan manusia, terutama bidang pendidikan. Termasuk juga nilai-nilai budaya yang mulai tercerabut dari akarnya, nilai sosial yang banyak terilhami oleh rembesan atau penetrasi dunia luar, terutama melalui sekulerisasi dan westernisasi.

Dengan berbagai media yang tersaji di segala lokasi beserta informasinya, hal ini dapat memunculkan high risks bagi stabilitas kultural, di mana para generasi muda seringkali mengalami split personality. Kondisi semacam ini tampak pada fenomena di sekolah atau lembaga pendidikan mereka yang selalu disajikan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kesusilaan, dan sebagainya, namun dalam kehidupan riilnya, mereka banyak menjumpai hal-hal yang sering bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Juga, nilai-nilai ekonomi yang cenderung kepada sistem kapitalis serta pergeseran nilai-nilai kemanusian yang lain. Lebih jauh, proses distorsi nilai seperti ini juga terjadi dalam lembaga pendidikan —tidak terkecuali lembaga pendidikan Islam—. Sementara di sisi yang lain, pendidikan seringkali dipandang sebagai institusi paling strategis untuk mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang telah terdistorsi tadi. Reposisi nilai-nilai kemanusiaan ini mutlak diperlukan sebagai upaya untuk membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya dalam kehidupan.

Berdasarkan uraian di atas, kajian ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, yaitu pertama, bagaimana pengertian tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan teologi dan pendidikan? Kedua, bagaimana konsep manusia dan konsep pendidikan dalam Islam? Ketiga, bagaimana posisi teologi pendidikan dalam upaya membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya?

Pengertian Teologi dan Pendidikan

1. Pengertian Teologi

Istilah teologi lahir dalam tradisi Kristen. Secara harfiah, teologi berasal dari bahasa Yunani, berarti ilmu ketuhanan. Akan tetapi, pengertian menurut Steenbrink dianggap kurang cocok karena teologi memang tidak bermaksud membicarakan permasalahan tentang ketuhanan, baik wujud, sifat, maupun perbuatan-Nya, yang dalam tradisi Islam disebut ilmu kalam. Dalam hal ini, teologi tidak identik dengan ilmu kalam yang berusaha mempertahankan keyakinan seputar masalah ketuhanan dari serangan-serangan pihak luar dengan menggunakan pendekatan filsafat atau dalil-dalil aqli.

Encyclopedia of Religion and Religions, menyebutkan bahwa teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta, namun kerapkali diperluas mencakup seluruh bidang agama. Teologi, dengan demikian, memiliki pengertian luas dan identik dengan ilmu agama itu sendiri. Pengertian inilah yang kemudian secara umum dipakai di kalangan Kristen. Dalam diskursus ilmiah, istilah teologi biasanya mempunyai arti khusus, yaitu refleksi orang beriman tentang bagaimana bentuk atau nilai-nilai kualitas iman yang dimilikinya. Menurut Anselmus, teologi adalah iman yang mencari pengertian. Dengan pemaknaan yang hampir sama, Muslim Abdurrahman mengatakan bahwa teologi adalah interpretasi berdasarkan keimanan.

Sedangkan menurut Niko Syukur, teologi adalah pengetahuan adikodrati yang metodis sistematis dan koheren, tentang apa yang diwahyukan Tuhan. Dapat dikatakan bahwa teologi adalah refleksi ilmiah tentang iman. Teologi merupakan ilmu yang “subyektif” yang timbul dari dalam, yang lahir dari jiwa yang beriman dan bertaqwa berdasarkan wahyu. Sementara Eka Darmaputra mengemukakan bahwa teologi adalah upaya untuk mempertemukan secara dialektis, kreatif, serta eksistensial antara “teks” dan “konteks” antara “kerygma” yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual. Lebih sederhana dapat dikatakan bahwa teologi adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman pada konteks ruang dan waktu tertentu. Dapat juga dikatakan, bahwa teologi adalah pengkajian, penghayatan (internalisasi), dan perwujudan (aktualisasi) nilai-nilai ketuhanan (iman) dalam memecahkan masalah-masalah kemanusiaan.

2. Pengertian Pendidikan

Istilah pendidikan, dalam bahasa Inggris “education”, berakar dari bahasa Latin “educare”, yang dapat diartikan pembimbingan berkelanjutan. Apabila diperluas, arti etimologis itu mencerminkan keberadaan pendidikan yang berlangsung dari generasi ke generasi sepanjang eksistensi kehidupan manusia.

Menurut Mohamad Natsir, pengertian pendidikan adalah suatu pimpinan jasmani dan ruhani menuju kesempurnaan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya. Sementara Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab 1 ayat 1 menyebutkan, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Apabila dikaitkan dengan Islam, pengertian pendidikan antara lain, menurut Dr. Yusuf Qardawi sebagaimana dikutip Azyumardi Azra yaitu pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis pahitnya.

Endang Saefuddin Anshari memberi pengertian secara lebih tehnis, pendidikan Islam sebagai proses bimbingan (pimpinan, tuntunan dan usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi), dan raga obyek didik dengan bahan-bahan materi tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai ajaran Islam. Pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Muhammad Saw.

Sedangkan menurut hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai: “bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.”

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, terdapat perbedaan antara pengertian pendidikan secara umum dengan pendidikan Islam. Pendidikan secara umum merupakan proses pemindahan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perbedaan tersebut dalam hal nilai-nilai yang dipindahkan (diajarkan). Dalam pendidikan Islam, nilai-nilai yang dipindahkan berasal dari sumber-sumber nilai Islam yakni Al-Qur’an, Sunah dan Ijtihad.

3. Teologi dan Pendidikan

Dalam kalangan Muslim, Islam dipandang sebagai agama universal, di mana tidak hanya berisi ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya yang berupa ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, serta hubungan manusia dengan seluruh makhluk di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh tugas penting manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas menghidupkan dan memakmurkan bumi.

Secara sosiologis, dimensi universalitas Islam di atas, dalam tataran kehidupan manusia akan terus menimbulkan ragam pemahaman seiring dengan perbedaan situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya. Hal ini tidak lain disebabkan bahwa, ketika universalitas diterapkan dalam kehidupan manusia, maka yang kemudian muncul adalah partikularitas, di mana partikularitas ini akan terus berkembang untuk bersesuaian dengan perubahan dan kebutuhan kehidupan manusia. Meskipun demikian, universalitas Islam tetap kekal serta menjadi dasar dan sumber inspirasi dalam seluruh proses kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan.

Al-Qur’an merupakan sumber pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia dengan bahasanya yang lemah lembut, balaghoh yang indah, sehingga al-Qur’an membawa dimensi baru terhadap pendidikan dan berusaha mengajak para ilmuwan untuk menggali maksud kandungannya agar manusia lebih dekat kepada-Nya.

Petunjuk pendidikan dalam al-Qur’an tidak terhimpun dalam kesatuan fragmen, tetapi diungkapkan dalam berbagai ayat dan surat al-Qur’an, sehingga untuk menjelaskannya perlu melalui tema-tema pembahasan yang relevan dan ayat-ayat yang memberikan informasi-informasi pendidikan yang dimaksudkan tersebut.

Al-Qur’an mengintroduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, yang bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut.

Rasulullah Saw dipandang sukses dalam mendidik masyarakatnya menjadi masyarakat yang berbudi tinggi dan akhlak mulia. Pada mulanya masyarakat Arab adalah masyarakat jahiliyah, sehingga perkataan primitif tidak cukup untuk menggambarkannya, hingga datang Rasulullah Saw yang membawa mereka untuk meninggalkan kejahiliahan tersebut dan mencapai suatu bangsa yang berbudaya dan berkepribadian yang tinggi, bermoral serta memberi pengetahuan.

Al-Qur’an memberi petunjuk atau arah, jalan yang lurus mencapai kebahagiaan bagi manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 16, yaitu :

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”

Muhammad Saw sebagai utusan Allah untuk manusia di bumi ini diberi amanat oleh Allah sebagai penerima wahyu, yang diberi tugas untuk mensucikan dan mengajarkan manusia sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 151. Dalam ayat tersebut, mensucikan diartikan dengan mendidik, sedang mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dan metafisika dan fisika.

Tujuan yang ingin dicapai dengan pembacaan, penyucian dan pengajaran tersebut adalah pengabdian kepada Allah, sejalan dengan tujuan penciptaan manusia dalam surat Al-Dzariyat (51) ayat 56, yaitu:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Maksudnya Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadikan tujuan akhir atau hasil segala aktivitasnya sebagai pengabdian kepada Allah.

Manusia dan Pendidikan dalam Islam

1. Konsep Manusia dalam Islam

Perspektif dasar Islam terhadap manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Berdasarkan sudut pandang ini pula, filsafat pendidikan Islam memposisikan manusia dan segala aspeknya dalam konteks pendidikan. Dari pemikiran ini, maka perspektif filsafat pendidikan Islam akan berbeda dengan filsafat pendidikan umum, yang konsepnya berasal dari pemikiran para ilmuwan (non muslim) yang umumnya menafikan prinsip perspektif tersebut. Dalam perspektif para ilmuwan ini, manusia cenderung ditempatkan pada posisi yang netral.

Kajian tentang hakikat manusia adalah bagian dari filsafat yang disebut ontologi atau metafisika. Problem yang dihadapi filsafat tentang manusia ini, mengacu pada upaya untuk menjawab pertanyaan tentang hakikat manusia.

Paham materialisme, yang memandang hakikat manusia sebagai unsur materi, agaknya sulit untuk mengakui adanya unsur rohaniah dalam diri manusia. Sesuai dengan prinsip ajarannya, paham ini menganggap manusia sebagai unsur-unsur materialisme-mekanistis yang kompleksitasnya terdiri atas aspek-aspek fisiologis, neurologis, fisika, dan biokimia. Semua unsur tersebut bekerja di bawah satu sistem “organisasi” yang berpusat pada sistem pusat syaraf, yaitu “mind”. Akan tetapi, mind di sini lebih mendekati syaraf yang bersifat neurologis dan bukan psikis.

Sedangkan menurut paham dualisme, bahwa manusia sebagai makhluk adalah integritas antara jasmaniah dan rohaniah. Manusia diposisikan sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk dikembangkan pada kedua unsur tersebut. Adapun upaya pengembangannya dihubungkan dengan berbagai teori kependidikan yang berlandaskan kepada pemikiran filsafat rasional atau produk kemampuan optimal pemikiran murni manusia.

Kedua perspektif di atas, bagaimanapun akan berbeda dengan perspektif ilmuan Muslim yang merumuskan pendapatnya dan dasar ajaran Islam. Seperti al-Farabi (w. 950) dan al-Ghazali (w. 1111) menyatakan bahwa manusia terdiri atas unsur jasad atau badan dan ruh atau jiwa. Dengan jasad, manusia dapat bergerak dan merasa, sedangkan ruh, manusia dapat berpikir, mengetahui dan sebagainya.

Dalam al-Qur’an, manusia disebut dengan berbagai nama sebagai berikut, yaitu al-Basyr, al-Insan, al-Naas, Bani Adam, al-Ins, Abd Allah, dan khalifah Allah. Nama sebutan ini mengacu pada gambaran tugas yang seharusnya diperankan oleh manusia. Berkaitan dengan hal itu, maka untuk memahami peran manusia, perlu dipahami konsep yang mengacu kepada sebutan yang dimaksud. Pemahaman tentang peran manusia erat kaitannya dengan sebutan yang disandangnya.

Manusia dalam konsep al-Basyr, dipandang dari segi biologis. Sebagai makhluk biologis berarti manusia terdiri dari unsur materi, sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik material, berupa tubuh kasar atau ragawi. Dalam hal ini, manusia merupakan makhluk jasmaniah yang secara umum terikat kepada kaidah-kaidah umum dari kehidupan makhluk biologis, seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan. Manusia memerlukan makanan dan minuman untuk hidup, dan juga memerlukan pasangan hidup untuk melanjutkan proses pelanjut keturunan.

Penggunaan kata al-Insan sebagai kata bentukan yang termuat dalam al-Qur’an, mengacu kepada potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Potensi tersebut antara lain berupa potensi untuk bertumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun secara mental spiritual. Perkembangan tersebut meliputi kemampuan untuk berbicara, menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu, dengan mengajarkan manusia melalui kalam (baca tulis), dan segala apa yang tidak diketahuinya, kemampuan untuk mengenal Tuhan atas dasar perjanjian awal di alam ruh, dalam bentuk kesaksian. Potensi untuk mengembangkan diri ini (secara positif) memberi peluang bagi manusia untuk mengembangkan kualitas sumber daya insaninya. Dengan cara menumbuhkembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal, diharapkan manusia dapat menjadi makhluk ciptaan yang mengabdi kepada Penciptanya, melalui berbagai kemampuan kreatif dan inovatif yang dimilikinya.

Kosakata al-Naas dalam al-Qur’an, pada umumnya dikaitkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan perempuan, kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa, untuk saling mengenal di antara mereka. Manusia merupakan makhluk sosial yang secara fitrah senang hidup berkelompok, sejak dari bentuk satuan terkecil (keluarga) hingga ke satuan yang paling besar dan kompleks, yaitu bangsa dan umat manusia. Dalam konteks kehidupan sosial, peran sosial manusia dititikberatkan pada upaya untuk menciptakan keharmonisan hidup dalam masyarakat.

Manusia sebagai Bani Adam, tersebut dalam tujuh tempat dalam al-Qur’an. Dalam konteks ayat-ayat yang mengandung konsep Bani Adam, manusia diingatkan Allah agar tidak tergoda oleh syaitan, pencegahan dari makan dan minum yang berlebihan serta tata-cara berpakaian yang pantas saat melaksanakan ibadah, bertaqwa dan mengadakan perbaikan, kesaksian manusia kepada Tuhannya, dan peringatan agar manusia tidak terpedaya hingga menyembah syaitan, dengan memberi peringatan kepada manusia mengenai status syaitan sebagai musuh yang nyata. Penjelasan ayat-ayat di atas mengisyaratkan bahwa manusia selaku Bani Adam dikaitkan dengan gambaran peran Adam saat awal diciptakan. Pada saat Adam akan diciptakan, para Malaikat seakan mengkhawatirkan kehadiran makhluk ini. Mereka memperkirakan dengan penciptaannya, manusia akan menjadi biang kerusakan dan pertumpahan darah. Hal itu kemudian terbukti bahwa Adam dan istrinya (Hawa), karena kekeliruannya, akhirnya terjebak oleh hasutan syaitan, sehingga Allah mengeluarkan keduanya dari surga sebagai hukuman atas kelalaian yang diperbuat oleh keduanya.

Manusia dalam konsep al-Ins, mengacu pada hakikat penciptaannya. Dalam hal ini al-Qur’an mengemukakan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya. Oleh karena itu, manusia dalam hidupnya diharapkan akan selalu menyadari hakikat dirinya tersebut. Manusia dituntut untuk dapat memerankan dirinya sebagai pengabdi Allah secara konsisten dengan ketaatan total. Ketaatan kepada Allah merupakan peran puncak manusia dalam segala aspek kehidupannya, karena atas dasar dan tujuan tersebut, manusia diciptakan oleh-Nya.

Al-Qur’an juga menyebut manusia dengan Abd Allah, yang berarti abdi atau hamba Allah. Abd Allah, dalam arti dimiliki Allah, mencakup seluruh makhluk yang memiliki potensi berperasaan dan berkehendak. Kepemilikan Allah terhadap makhluk tersebut merupakan kepemilikan mutlak dan sempurna. Dengan demikian, Abd Allah tersebut tidak dapat berdiri sendiri dalam kehidupan dan seluruh aktifitasnya dalam kehidupan. Di samping itu, manusia disebut Abd Allah juga disetarakan dengan konteks kata tersebut. Kata Abd, juga bermakna ibadah, sebagai pernyataan kerendahan diri. Ibadah kepada Allah merupakan sikap dan pernyataan kerendahan diri yang paling puncak dan sempurna dari seorang hamba. Kemudian ibadah itu sendiri berupa pengabdian yang hanya diperuntukkan kepada Allah semata.

Konsep selanjutnya tentang manusia adalah khalifah Allah. Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sebelum manusia diciptakan, Allah telah mengemukakan kepada para Malaikat tentang penciptaan seorang khalifah di muka bumi. Untuk mengemban tugas-tugas kekhalifahan itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan berbagai potensi, salah satunya bekal pengetahuan.

Berdasarkan konsep-konsep tentang di atas, setidaknya manusia dalam kehidupannya berada dalam peran-peran yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai berikut, yaitu pertama, sebagai makhluk pribadi atau individu yang perlu untuk mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya, baik jasmani maupun rohani. Kedua, sebagai makhluk sosial yang dituntut untuk berperan dalam kehidupan sosial. Ketiga, sebagai hamba Allah yang harus mengerti tentang hakikat penciptaan dirinya. Keempat, sebagai khalifah Allah di muka bumi yang bertugas membangun dan mengelola dunia, sehingga menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya.

2. Konsep Pendidikan dalam Islam

Merujuk kepada informasi al-Qur’an, pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Konsep pendidikan Islam dipresentasikan melalui kata tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim.

Tarbiyah berasal dari kata Rabba, pada hakikatnya merujuk kepada Allah selaku Murabby (pendidik) sekalian alam. Kata Rabb (Tuhan) dan Murabby (pendidik) berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat al-Qur’an, yaitu:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik (rabbayaaniy) aku waktu kecil”. (QS. Al-Israa: 24)

Menurut Syed Naquib Al-Attas, tarbiyah mengandung pengertian mendidik, memelihara menjaga dan membina semua ciptaan-Nya termasuk manusia, binatang dan tumbuhan. Sedangkan Samsul Nizar menjelaskan kata tarbiyah mengandung arti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan dan memproduksi baik yang mencakup kepada aspek jasmaniah maupun rohaniah.

Kata Rabb di dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 169 kali dan dihubungkan pada obyek-obyek yang sangat banyak. Kata Rabb ini juga sering dikaitkan dengan kata alam, sesuatu selain Tuhan. Pengkaitan kata Rabb dengan kata alam tersebut seperti pada surat Al-A’raf ayat 61, yaitu:

“Nuh menjawab: Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan Tuhan (Rabb) semesta alam.”

Pendidikan diistilahkan dengan ta’dib, yang berasal dari kata kerja “addaba”. Kata ta’dib diartikan kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik. Kata ta’dib tidak dijumpai langsung dalam al-Qur’an, tetapi pada tingkat operasional, pendidikan dapat dilihat pada praktik yang dilakukan oleh Rasulullah. Rasul sebagai pendidik agung dalam pandangan pendidikan Islam, sejalan dengan tujuan Allah mengutus beliau kepada manusia yaitu untuk menyempurnakan akhlak. Allah juga menjelaskan, bahwa sesungguhnya Rasul adalah sebaik-baik contoh teladan bagi kamu sekalian.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Selanjutnya Rasulullah Saw meneruskan wewenang dan tanggung jawab tersebut kepada kedua orang tua selaku pendidik kodrati. Dengan demikian status orang tua sebagai pendidik didasarkan atas tanggung jawab keagamaan, yaitu dalam bentuk kewajiban orang tua terhadap anak, mencakup memelihara dan membimbing anak, dan memberikan pendidikan akhlak kepada keluarga dan anak-anak.

Pendidikan disebut dengan ta’lim yang berasal dari kata ‘alama’ berkonotasi pembelajaran yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan pendidikan ta’lim dipahami sebagai sebagai proses bimbingan yang dititikberatkan pada aspek peningkatan intelektualitas peserta didik. Proses pembelajaran ta’lim secara simbolis dinyatakan dalam informasi al-Qur’an ketika penciptaan Adam oleh Allah. Adam sebagai cikal bakal dari makhluk berperadaban (manusia) menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari Allah Swt, sedang dirinya (Adam) sama sekali kosong. Sebagaimana tertulis dalam surat al-Baqarah ayat 31 dan 32, yaitu:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”

“Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari ketiga konsep di atas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’dib dan ta’lim. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah.

Teologi Pendidikan dalam Upaya Pembebasan Manusia dari Alienasi Peran Kemanusiaannya

Rusaknya rasa kemanusiaan dan terkikisnya semangat religius, serta kaburnya nilai-nilai kemanusiaan dan hilangnya jati diri budaya bangsa merupakan sebuah kekhawatiran manusia yang paling klimaks dalam kancah global. Namun ironisnya, itulah fenomena yang terjadi dewasa ini. Tatanan kehidupan manusia mengalami perubahan yang mendasar, generasi muda yang mendewakan budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadiannya, dan sebagainya. Permasalahan ini muncul terkait dengan begitu gencar dan sistematisnya ekspansi budaya asing, yang menempatkan sarana informatika sebagai sebuah trend yang paling mutakhir dan paling digandrungi, sehingga setiap celah kehidupan manusia, yang sangat tertutup dan rahasia sekalipun, dapat dimasuki, bahkan diintervensi. Setiap sisi kehidupan sudah dihinggapi oleh apa yang dinamakan globalisasi informatika, yang berimplikasi pada transparansi dan keterbukaan di setiap aspek kehidupan manusia. Dunia telah menjadi big village, di mana apa yang terjadi pada belahan bumi yang sangat jauh, dapat dengan segera didengar dan dilihat beritanya dalam waktu yang singkat. Dengan cepat pula, berita tersebut memberikan dampaknya bagi kehidupan manusia tanpa kecuali, positif maupun negatif.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama bidang informatika di atas, menyebabkan jarak-jarak menjadi semakin pendek. Waktu dan masa menjadi lebih efisien dengan begitu mudahnya kita mengadakan hubungan dan komunikasi. Di samping itu, kesibukan dan aktivitas keseharian manusia yang luar biasa, menjadikan hari-hari terasa lebih pendek dari sebelumnya.

Menghadapi kemajuan iptek yang luar biasa itu, respon manusia ternyata masih terbelah, bahkan terkesan mendua. Di satu pihak, manusia merasa senang atas kemajuan iptek yang secara umum memberikan kemudahan-kemudahan bagi kehidupan manusia. Di lain pihak, nurani kemanusiaannya mengeluh, karena harus beradaptasi dengan situasi baru yang tidak lagi human-centric, melainkan sangat techno-centric.

Dalam situasi dan kondisi yang semakin techno-centric ini, populasi manusia yang memenuhi dunia, tidak lagi secara otonom dikontrol oleh nurani kemanusiaannya, melainkan oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang dominan, terutama sekali iptek. Manusia dalam dunianya yang makro benar-benar menyandarkan hampir segala harapannya kepada hasil iptek, meskipun belum sampai pada taraf yang serius, yakni techno-mania.

Memang, manfaat teknologi pada batas-batas tertentu membantu mempermudah manusia, dan hal ini menjadikan manusia sebagai makhluk dengan keunikan yang ironis. Lawan utamanya bukan lagi bencana alam atau sebangsa binatang buas di hutan-hutan, tetapi hasil kemampuannya sendiri dan manusia sesamanya yang menggunakan kemampuan itu. Dengan kata lain, manusia modern menjadi musuh bagi dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga, dengan tidak mengesampingkan manfaat iptek dalam membantu memudahkan kehidupan manusia, iptek juga memberi dampak negatif. Dalam batas-batas tertentu, dampak destruktif iptek itu telah menundukkan manusia menjadi sangat tergantung kepadanya. Manusia tidak lagi mampu mengendalikan hasil buatannya, tetapi sebaliknya, dia didekte oleh perangkat-perangkat canggih hasil produknya sendiri. Manusia pun menjadi robot dari makhluk raksasa bernama iptek buatannya sendiri. Dari perspektif hunamisme, perkembangan iptek seperti demikian sejalan dengan proses dehumanisasi kehidupan. Agar tidak terjadi tragedi demikian, humanisasi technosphere harus menjadi kenyataan.

Permasalahan terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi di atas, masih ditambah lagi dengan krisis kehidupan lainnya, seperti perilaku manusia yang cenderung memperoleh kekayaan material sebanyak mungkin melalui cara apapun sebagai imbas dari semakin kokohnya pandangan hidup yang positivisme-materialistik, euphoria perilaku politik demokratis dan kemunafikan politik yang diwarnai dengan fenomena “politik uang” dan “uang politik” dengan dalih hukum, asas praduga tak bersalah, Lembaga Penegak Hukum yang tidak berdaya memberantas korupsi, dan sebagainya. Munculnya terorisme dan kekejaman perilaku yang dilakukan oleh pihak “lemah” melawan pihak “kuat” akibat perlakuan tidak adil dan otoriter pihak penguasa, dan merebaknya budaya yang berkembang dari pandangan hidup hedonisme-materialistik dengan maraknya pornoisasi kehidupan sosial masyarakat, melalui menjamurnya video porno yang begitu mudah diakses dan gratis, seks bebas, tindakan mesum, pencabulan, dan sebagainya.

Bagaimanapun kompleknya permasalahan dan krisis kemanusiaan di atas, solusi yang terbaik harus senantiasa diusahakan, sekalipun dengan melakukan pendekatan melalui simbol-simbol yang amat rumit dan hanya dapat dilakukan secara gradual mengingat komprehensi tentang konsepsi dasar manusia yang turut menentukan langkah berikutnya. Untuk itu, semestinya, manusia sebagai makhluk yang berketuhanan mulai mencoba mengaktualisasikan dan mengkaji lebih dalam dan concern terhadap sinyal-sinyal konsep antropologis yang ditampilkan al-Qur’an. Dari sini, nilai-nilai etis-religius sebagai norma sentral al-Qur’an tidak hanya melangit, tetapi juga membumi, dalam arti dapat dipergunakan dan dimanfaatkan untuk membangun peradaban umat manusia untuk menjadi lebih baik dan diridlai-Nya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi lahir dan berkembang melalui pendidikan —demikian juga dengan permasalahan-permasalahan lain yang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan—, maka salah satu terapi terhadap berbagai masalah di atas, tentunya harus dilakukan dengan pendekatan terhadap sisi-sisi pendidikan pula. Oleh karena itu, dalam reorientasi pendidikan ini, pemikiran yang mengedepankan paradigma pendidikan (Islam) yang berwawasan kemanusiaan (humanistik) menjadi sangat penting dan diperlukan.

Pendidikan seringkali dipahami sebagai fenomena individu di satu pihak, dan fenomena sosial-budaya di pihak lain. Sebagai fenomena individual, pendidikan bertolak dari suatu pandangan antropologi dengan pemahaman terhadap manusia sebagai realitas mikrokosmos dengan kepemilikan potensi-potensi dasar —dalam Islam disebut fitrah— yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang. Dengan mengacu pada pandangan dasar tersebut, pendidikan difokuskan pada orientasi internal manusia, berupa pengembangan potensi dasar insaniah. Sementara pendidikan sebagai fenomena sosial-budaya, diarahkan pada orientasi eksternal dalam kerangka perkembangan budaya masyarakat, sehingga dalam realitas kehidupannya, manusia mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam tinjauan ini, pendidikan dimaknai sebagai proses kulturisasi (pembudayaan), yakni sosialisasi (pemasyarakatan) nilai-nilai, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan yang berkembang dalam masyarakat.

Dengan cakupan makna strategis pendidikan tersebut, pemikiran yang memberikan acuan konseptual yang tepat tentang manusia, juga peta perkembangan budaya, menjadi sangat penting. Kajian permasalahan manusia dalam hal ini merupakan suatu keharusan filosofis, agar pendidikan mengarah pada pola-pola pengembangan potensi manusia secara humanistik —baik lahir maupun batin—, bukan malah sebaliknya.

Dari telaah teologi-filosofis-antropologis terhadap referensi-referensi tentang manusia terutama referensi-referensi Islam, diperoleh pemahaman bahwa, selain sebagai hasil imajinasi yang sempurna dari Tuhan, manusia dalam kehidupannya berada dalam peran-peran yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai berikut, yaitu pertama, sebagai makhluk pribadi atau individu yang perlu untuk mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya, baik jasmani maupun rohani. Kedua, sebagai makhluk sosial yang dituntut untuk berperan dalam kehidupan sosial. Ketiga, sebagai hamba Allah yang harus mengerti tentang hakikat penciptaan dirinya. Keempat, sebagai khalifah Allah di muka bumi yang bertugas membangun dan mengelola dunia, sehingga menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya.

Berangkat dari kerangka konseptual di atas, serta kesadaran bahwa untuk mengembangkan potensi insaniah serta sosialisasi nilai-nilai, ketrampilan, dan sebagainya, harus melalui kegiatan pendidikan, maka manusia dituntut untuk menyelenggarakan praktik pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (humanistik). Dalam paradigmanya, pendidikan humanistis ini memandang manusia sebagai suatu kesatuan yang integralistik. Dalam hal ini, manusia harus dipandang sebagai manusia, yaitu sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, manusia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya. Sebagai makhluk, batas antara hewan dan malaikat harus dipisahkan dengan tegas, yakni antara memiliki sifat-sifat rendah dengan sifat-sifat kemalaikatan atau sifat malakut (sifat-sifat luhur). Sebagai makhluk dilematik, dia dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam kehidupannya. Sebagai makhluk moral, ia senantiasa bergulat dengan nilai-nilai. Sebagai pribadi, manusia memiliki kekuatan konstruktif dan kekuatan destruktif. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki hak-hak sosial dan harus menunaikan kewajiban-kewajiban sosialnya. Kemudian sebagai hamba Allah, dia juga harus menunaikan kewajiban-kewajiban ubudiyah.

Pendidikan humanistik diharapkan mampu memperkenalkan apresiasinya yang tinggi kepada manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan bebas serta dalam batas-batas eksistensinya yang hakiki, dan juga sebagai khalifah Allah. Dengan demikian, pendidikan humanistik dimaksudkan membentuk insan manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggungjawab sebagai insan manusia individual, namun tidak terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya hidup di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, dia memiliki tanggungjawab moral kepada lingkungannya, berupa keterpanggilannya untuk mengabdikan dirinya demi kemaslahatan masyarakatnya.

Dengan berpandangan kepada pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan (humanistik) di atas, maka terdapat harapan besar bahwa nilai-nilai pragmatis ilmu pengetahuan dan teknologi, permasalahan-permasalahan dan krisis kemanusiaan lainnya, tidak akan membunuh kepentingan-kepentingan kemanusiaan. Lebih lanjut, dengan pendidikan tersebut, dunia manusia diharapkan akan terhindar dari tirani teknologi. Di samping itu, adalah untuk mendorong terciptanya hidup dan kehidupan yang kondusif bagi manusia, serta membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya dalam kehidupan.

Penutup

Berdasarkan uraian dan analisa di atas dapat disimpulkan, antara lain sebagai berikut, yaitu pertama, Islam dipandang sebagai agama universal, di mana tidak hanya berisi ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya yang berupa ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, serta hubungan manusia dengan seluruh makhluk di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh tugas penting manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas menghidupkan dan memakmurkan bumi. Sebagai dasar ajarannya, al-Qur’an merupakan sumber pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia dengan bahasanya yang lemah lembut, balaghoh yang indah, dengan tamsil-tamsil sebagai sarana refleksi manusia, sehingga al-Qur’an membawa dimensi baru terhadap pendidikan dan berusaha mengajak manusia untuk menggali maksud kandungannya agar manusia lebih dekat kepada-Nya. Petunjuk pendidikan dalam al-Qur’an tidak terhimpun dalam kesatuan fragmen, tetapi diungkapkan dalam berbagai ayat dan surat al-Qur’an, sehingga untuk menjelaskannya perlu melalui tema-tema pembahasan yang relevan dan ayat-ayat yang memberikan informasi-informasi pendidikan yang dimaksudkan tersebut.

Kedua, perspektif dasar Islam terhadap manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Akan tetapi dalam kehidupannya, al-Qur’an menyebut manusia dengan berbagai nama sebagai berikut, yaitu al-Basyr, al-Insan, al-Naas, Bani Adam, al-Ins, Abd Allah, dan khalifah Allah, di mana kesemuanya ini mengacu pada gambaran tugas yang seharusnya diperankan oleh manusia. Setidaknya manusia dalam kehidupannya berada dalam peran-peran yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai berikut, yaitu sebagai makhluk pribadi atau individu yang perlu untuk mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya, baik jasmani maupun rohani. Kemudian, sebagai makhluk sosial yang dituntut untuk berperan dalam kehidupan sosial. Sebagai hamba Allah yang harus mengerti tentang hakikat penciptaan dirinya. Selanjutnya, sebagai khalifah Allah di muka bumi yang bertugas membangun dan mengelola dunia, sehingga menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya.

Sementara merujuk kepada informasi al-Qur’an, pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Konsep pendidikan Islam dipresentasikan melalui kata tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim. Dari ketiga konsep di atas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’dib dan ta’lim, yang menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah.

Ketiga, posisi teologi pendidikan (Islam) adalah sebagai dasar reorientasi pendidikan yang mengarah kepada nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini dilatarbelakangi oleh fenomena sosial di masyarakat yang menunjukkan begitu kompleksnya permasalahan dan krisis kemanusiaan. Dengan berpandangan kepada pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan (humanistik), maka diharapkan permasalahan-permasalahan dan krisis kemanusiaan dapat diatasi, terlebih lagi, adalah untuk membebaskan manusia dari alienasi peran kemanusiaannya dalam kehidupan. (*)

DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Endang Saefuddin, Pokok-Pokok Pikiran tentang Islam, Jakarta: Usaha Enterprise, 1976

Arifin, Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003

Azra, Azyumardi, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, Wacana Ilmu, 1998

——-, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, Wacana Ilmu, 2005

Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik: Konsep, Teori, dan Aplikasi dalam Dunia Pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003

Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: al-Husna, 1987

Mujib, Abdul, dan Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Agenda Karya, 1993

Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah, Yogyakarta: Sipress, 1993

Natsir, Muhammad, Capita Selekta, Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Nizar, Samsul, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001

Sanaji, Kasmiran Wiryo, Filsafat Manusia, Jakarta: Erlangga, 1985

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, Bandung, Mizan: 1994

——-, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996

Steenbrink, Karel A., Pesantren, Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES, 1987

Suhartono, Suparlan, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006

Al-Syaibany, Oemar Mohammad at-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979

Syam, Mohammad Noor, Filsafat Kependidikan dan dasar Filsafat Kependidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1986

Tobroni, Pendidikan Islam: Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualis, Malang: UMM, 2008

*) Penulis tinggal di Jotosanur Rt 2 Rw 3 No.319 Tikung Lamongan.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com