Model Pendidikan yang Membebaskan

Intan Indah Prathiwie
Suara Karya, 6 Juli 2011

KITA semua tentu mafhum bahwa pendidikan memiliki fungsi dasar untuk membebaskan manusia dari (freedom from) kondisi ‘kegelapan’, seperti kebodohan, kemiskinan, kejahilan dan lain sebagainya. Sekaligus, pendidikan adalah instrumen untuk membebaskan manusia supaya mampu (freedom to) mewujudkan potensinya. Oleh karena itu, pendidikan memainkan peranan strategis untuk membawa manusia kepada kehidupan yang bermartabat dan berkualitas.

Sayangnya, gambaran dunia pendidikan kita secara umum masih jauh dari ideal. Banyak sekolah di Indonesia umumnya hanya berfokus pada target kuantitatif yang bisa diukur (quantitatively measured), seperti harus lulus mata pelajaran dengan nilai tertentu, memiliki sekian trofi juara, dan lain sebagainya.

Padahal, model pendidikan seperti itu sudah dicemooh oleh pakar pendidikan sekaligus mantan pengacara Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas (1994) sebagai banking education alias pendidikan ala bank. Itulah pendidikan yang hanya ‘menabungkan’ saldo ilmu pengetahuan ke dalam kepala anak didik, yang nantinya diharapkan bisa ‘mendebet’ saldo pengetahuannya itu tatkala diperlukan. Dalam pendidikan ala bank ini, anak didik hanya dijejali ilmu secara satu arah dengan tujuan mendapatkan nilai-nilai kuantitatif yang dituju. Jelas metoda pendidikan semacam ini tak bisa dikatakan membebaskan.

Maka dari itu, kita harus mulai mencari model alternatif paradigma pendidikan di atas yang memiliki fungsi pembebasan. Salah satu contohnya adalah INS (Indonesisch Nederlandsche School) Kayutanam yang terletak di Sumatra Barat. Sekolah ini didirikan oleh Engku Mohammad Sjafei pada 31 Oktober 1926. Dasar dari sekolah itu adalah satu cetusan pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang dalam kepala Sjafei, ‘bagaimanakah corak pendidikan dan pelajaran yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia untuk mencerdaskan otaknya?’

Dengan kata lain, Sjafei ingin mencari model pendidikan yang berpijak pada kebudayaan bangsa namun juga tak terkucil dari pergaulan dunia luar. Lahirlah kemudian INS Kayutanam yang berbasiskan pada asumsi filosofis bahwa hakikat alam adalah senantiasa aktif alias bekerja. (Otobiografi AA Navis, 1995)

Maksudnya, anak didik harus dikondisikan supaya selalu aktif. Aktif di sini adalah aktif otak dan otot. Aktif otak terwujud dalam pikiran bebas yang tidak patuh buta terhadap otoritas serta tidak mengedepankan otot. Sementara aktif otot tercurah dalam keterampilan praktis yang siap guna untuk mencari penghidupan serta memecahkan masalah sehari-hari.

Singkat kata, konsep ini begitu selaras karena memadukan antara ilmu dan praktik, antara ide dan aksi, antara cerdas otak dan cerdas otot. Berbekal filosofi ini, kegiatan olahraga dan berbagai praktik kerajinan, pertukangan atau kesenian yang diajarkan di INS Kayutanam bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Semuanya itu sekadar alat untuk mengembangkan akal (intelektual), emosi, kemauan dan daya kreatif.

Selanjutnya, anak didik diarahkan untuk berdikari dan menjadi pengusaha untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia yang masih banyak menderita. Makanya, Sjafei membolehkan murid-muridnya mengambil kelas keterampilan sesuai minat dan bakat masing-masing murid, entah itu pertukangan, seni memahat, teater, seni musik, dan lain-lain. Anak didik pun merasa senang karena minatnya demikian dihargai dan diberikan kebebasan untuk menentukan nasib mereka sendiri di sekolah.

Saking luasnya kebebasan yang diberikan, para guru INS Kayutanam sampai-sampai tidak memaksakan teori atau minat tertentu, Mereka hanya memberikan bimbingan dan arahan teknis serta berperan layaknya seorang teman atau bahkan kakak. Hasilnya, murid-murid INS Kayutanam tumbuh menjadi pribadi yang pintar, terampil, mandiri dan berdikari secara ekonomi, percaya diri, prigel bekerja, dan memiliki wawasan kebangsaan yang luas. Pendeknya, mereka menjadi pribadi yang merdeka. Para alumni sekolah ini pun bukan main-main. Ada sastrawan AA Navis, mantan menteri Orde Baru Bustanil Arifin, pemikir militer Hasnan Habib, pelukis Zaini dan Mara Karma, dan lain sebagainya

Melirik model INS Kayutanam, kita dapat memeras empat prinsip pendidikan membebaskan sebagai berikut. Pertama, prinsip dialog rasional. Pendidik seyogianya mendidik murid dengan metoda dialogis berdasarkan rasio atau nalar ketimbang menjejali kepala murid dengan pengetahuan satu-arah, metoda yang dicemooh Freire sebagai pendidikan ala bank (banking education).

Kedua, prinsip learning by doing (belajar lewat praktik). Pendidik seyogianya ‘menceburkan’ murid untuk langsung melakukan aktivitas pengetahuan, lengkap dengan kemungkinan kesalahan, secara berulang-ulang sampai mereka memiliki pengalaman konkret dan belajar bagaimana melakukan kegiatan yang mereka minati secara sempurna. Sekaligus, menumbuhkan daya lenting dan sikap profesional dalam bekerja.

Ketiga, prinsip memperhatikan kebutuhan khusus murid. Mengingat setiap individu itu berbeda dan unik, pendidik harus memperhatikan masing-masing kebutuhan dan potensi siswa. Jadi, metoda pelajaran sang guru haruslah inklusif alias merangkul semua murid dengan segala keunikan dan kebutuhan khususnya masing-masing. Tidak ada metoda yang seragam. Itulah sebabnya para pendidik INS Kayutanam membebaskan murid mengambil mata pelajaran yang mereka sukai.

Keempat, prinsip pendidik sebagai teman supaya belajar itu menyenangkan (learning is fun). Belajar di INS Kayutanam begitu menyenangkan laiknya permainan sampai-sampai setiap murid tanpa disadarinya dapat dengan cepat menyerap pelajaran.

Berdasarkan keempat prinsip dasar warisan INS Kayutanam di atas, semoga dunia pendidikan kita terdorong untuk menjalankan model pendidikan yang membebaskan. Itulah model pendidikan yang memungkinkan anak didik berkembang menjadi generasi masa depan yang beradab, kreatif, aktif, mandiri, unggul, profesional, dan matang secara mental maupun fisik.

Intan Indah Prathiwie, Mahasiswi Pascasarjana UNJ alumnus Psikologi UI.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/model-pendidikan-yang-membebaskan.html

Komentar