Langsung ke konten utama

Kidung, Pencapaian Khas Majapahit dalam Sastra

Yurnaldi
http://ramadhan.kompas.com/

Di zaman Kerajaan Majapahit karya sastra yang digubah para pujangga-agamawan berkembang dengan semarak. Beberapa karya sastra penting yang disusun zaman itu adalah Nagarakrtagama, Arjunawijaya, dan Sutasoma.

Ada juga Pararaton, yang digubah dalam zaman yang lebih kemudian, tapi masih mengacu kepada kemegahan Majapahit. Namun, bentuk pencapaian yang khas Majapahit dalam bidang karya sastra adalah gubahan kidung.

Terdapat karya sastra terutama di periode akhir Majapahit yang dihasilkan oleh para pujangganya dalam bentuk kidung seperti Kidung Sudamala, Sri Tanjung, Kidung Sunda, Harsyawijaya, Ranggalawe, Sorandaka, dan cerita-ceriat panji.

Demikian Dikemukakan Peneliti dari Departemen Arkeologi Faikultas Ilmu Buddaya Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, pada Forum Kajian Integratif Pengembangan dan Perlindungan Situs Peninggalan Majapahit di Trowulan, Senin (1/12) di Kampus FIB UI, Depok.

“Sebagian besar pengubah karya satra Jawa Kuna berasal dari lingkungan kaum agamawan, sebab kemahiran tulis-menulis, pengetahuan tentang kaidah susastra, ajaran keagamaan, dan pengetahuan lain yang berkenan dengan sastra tulis dan isinya merupakan hal yang lazim dimiliki kaum agamawan,” ujarnya.

Menurut Agus, prosodi Kidung berbeda dengan yang dikenal oleh sastra kakawin yang bersumberkan kepada kavya India. Kidung lebih bersifat keindonesiaan, menceritakan tentang kejadian-kejadian di tanah Jawa di lingkungan keraton-keraton Jawa sendiri dengan suasana khas Jawa (baca: Majapahit) masa itu.

Dari sisi uraian isi, masyarakat Majapahit berhasil menciptakan kisah panji yang bersifat epik romantik yang tidak pernah dijumpai dalam karya sastra yang merujuk kisah-kisah India. “Kisah Panji menceritakan petualangan Raden Panji pangeran dari Janggala yang berupaya menemukan kembali kekasihnya Dewi Sekar Taji atau dengan berbagai namanya yang lain. Kisah pengembaraan mereka itulah yang menjadi inti cerita Panji, dan pada akhirnya mereka berdua bertemu dan hidup bersama dengan bahagia,” paparnya.

Kisah Panji, lanjut Agus, begitu populenya sehingga dikenal di luar tanah kelahirannya sendiri (Jawa bagian timur), Kisah Panji dikenal di Sumatera, Kamboja, dan Thailand.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com