Langsung ke konten utama

Sutardji Vs Nurel J

Tosa Poetra
http://sastra-indonesia.com/

Jangankan dalam kehidupan dalam dunia karya tulis, segala sesuatu memang syarat dengan kontroversi, setuju dan tidak setuju merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi, pro dan kontra lazim terjadi yang mana apapun pendapat itu hendaknya dihargai agar dapat menjadi tambahan kekayaan ilmu pengetahuan dan wawasan agar dapat menjadi semakin baik, bukannya menjadi bahan perseteruan abadi.

Dalam esai sastra berjudul “Mempertanyakan tanggung jawab kepenyairan Sutardji dan As Syu’ara (para penyair)” yang ditulis Nurel dan dipublikasikan di catatan facebooknya pada 8-9 April 2011, yang esai tersebut telah dibukukan, entah esai tersebut telah dimuat di media massa cetak atau belum, dan itu bukanlah soal bagi saya yang jelas esai tersebut terus melambaikan tangannya yang terkadang dengan genit mencubit saya dengan manja, merayu saya untuk membaca dan mencermati tiap kata yang tertulis di sana. Seolah telah menjadi Romy Ravael, menghipnotis saya agar tidak beranjak dari tempat duduk berjam-jam dan membuat mata selalu tertuju pada esai tersebut yang pada akhirnya mengharuskan otak saya untuk terhanyut dan berfikir, bergelut dalam tiap baris yang kadang tak cukup sekali membaca demi memahami maksudnya, kemudian memaksa jemari saya menuliskan beberapa kata untuk mengulas sedikit dari pengetahuan dan pemahaman seorang pencinta dan pembelajar sastra seperti saya.

Dalam esai tersebut jika kita baca akan dapat diketahui bahwa yang diuraikan penulis merupakan Gugatan kepada Sutardji dan ketidak sepakatan dengannya. Ketika kita berbicara “Sutardji”, siapa yang tidak mengenalnya, sastrawan besar yang mendapat gelar Presiden penyair (entah siapa yang menggelarinya), tidak cuma di Indonesia tapi namanya dikenal di manca negara terutama oleh kalangan penikmat, pembelajar dan penggiat sastra, sebab di bangku sekolah dan perguruan tinggi jurusan bahasa sastra diajarkan, mungkin cuma pelajar atau mahasiswa yang mengantuk di kelas saja yang tidak mengenal namanya. Lain halnya dengan Nurel, siapakah dia? Saya pun cuma mengetahui namanya, alamat dan hal lain tentang dia entah mungkin di simpan dalam dompet di saku celananya atau mungkin tertinggal di tumpukan berkas kantor kependudukan yang butuh berhari-hari untuk menemukannya.

Nama Nurel pertama kudengar dari sahabatku Misbahus Surur mahasiswa S2 di UIN Malang yang juga penggiat sastra yang esai dan puisinya sering termuat di koran, berikutnya nama Nurel kudengar dari rekan sastra di Jombang, Wong Wing King dan kang Sabrank yang selanjutnya beberapa kawanku menyebutnya juga, yang akhirnya akupun penasaran tentang siapa Nurel dan karyanya.

Mungkin baru sedikit orang yang mengenalnya atau dengan kata lain Nurel adalah semut jika dibanding Sutardji, tapi dalam esai tersebut entah setan darimana yang menclok padanya hingga dia nekat dan berani menggugat Sutardji, mungkin ini adalah hal bodoh bagi sebagian kalangan namun hal tersebut dilakukan Nurel dengan landasan dan data yang lengkap juga kuat. Mungkin ini adalah titik awal kebesaran Nurel yang mungkin akan mengungguli Sutardji atau mungkin Sutardji sudah saatnya pensiun dari presiden penyair jika tidak dapat membantah gugatan Nurel ini.

Dalam esainya tersebut Nurel memuat esai Sutardji “sajak dan pertanggung jawaban penyair” 9 September 2007 yang menyebutkan; ketika Tuhan memimpikan dirinya dikenal dan lepas dari kegelapan rahasianya ia berfirman Kun Fayakun maka jadilah alam semesta, juga mengungkapkan bahwa Sumpah Pemuda sebagai puisi dan mantra, juga terkait As Syu’ara. Dalam esainya Nurel juga memuat puisi Shang Hai (1973) dan Mantra.

Gugatan Nurel di sini terkait kekurang cermatan SCB dalam menyerap As Syu’ara, juga pada Mantra dan ketika SCB mengungkapkan tentang mengembalikan makna kata pada asal kata (mantra) atau pada eksistensi atau kekuatan atau kegunaan kata tersebut, bukan pada pencarian arti dalam kamus.

Nurel juga menggugat ketika SCB mengungkapkan ketika SCB mengungkapkan bahwa penyair adalah seperti halnya Tuhan yang tidak harus bertanggung jawab pada ciptaanya. Gugatan Nurel pada mantra diuraikan dengan mendedahkan devinisi mantra yaitu kata yang memiliki kekuatan magis yang belakangan ditulis sebagai jimat atau rajah, nah di sini Nurel mempertanyakan apakah ada puisi SCB yang memiliki daya seperti hal tersebut.

Puisi memang dapat menjadi mantra namun tentunya yang memiliki daya magis adalah yang ditulis oleh orang linuih, sedang yang ditulis pada awam biasanya memang memiliki kekuatan bukan secara magis namun sebagai daya pendorong semangat misalkan pada Sumpah Pemuda yang disebut oleh SCB sebagai puisi, sebagai mantra memang harus diakui bahwa daya Sumpah Pemuda juga syair Indonesia Raya telah membawa semangat untuk bersatu sehingga merdeka dan melahirkan bahasa kesatuan dan negara kesatuan RI, hal ini seperti halnya ketika seorang orator memetik kata Bung Karno, Bung Tomo ataupun Wiji Tukul untuk mengobarkan semangat masa.

Kembali pada eksistensi puisi mantra sebagai pengobar semangat sayapun sepakat menanyakan mana puisi SCB yang mengobarkan semangat? Atau mungkin SCB menguraikan Puisi sebagai mantra itu terkecuali karyanya atau tak setiap puisi mantra memiliki daya baik daya magis ataupun pengobar semangat?

Namun demikian harus diakui bahwa puisi SCB memang telah menjadi mantra yang menghipnotis para sastrawan di masanya dan banyak di masa sekarang sehingga menjadi pengagumnya dan karyanya.

Berikutnya gugatan Nurel terkait ungkapan SCB “pengembalian makna kata pada eksistensi kata” bukan pada pencarian dalam kamus yang dalam hal ini dulu SCB memang cenderung menulis karya gelap ketika itu, seperti halnya beberapa penulis yang lain semisal Danarto dan dulu Chairil pada masa awal menulis puisinya juga cenderung gelap seperti yang terdapat pada puisinya NISAN, hal yang perlu dipertanyakan mengapa ketika itu SCB menulis puisi gelap dan merasa tidak perlu bertanggung jawab atas karyanya karena itu adalah tugas apresiator dan kritikus namun belakangan SCB menulis puisi yang tidak gelap, entah mengapa, apakah SCB memang ingin berkreasi lain ataukah ketika menulis puisi gelap itu memang SCB masih awal menulis sehingga masih terdapat kekurangan sebagaimana pada Nisan karya Chairil yang sulit dipahami maknanya, ataukah SCB yang belakangan menulis puisi tidak gelap adalah karena SCB tidak ingin ketinggalan jaman ataupun ingin karyanya banyak diketahui umum dan diminati umum. Apapun itu hak preogratif SCB sebab bukankah dalam menulis tidak harus melulu dengan model yang itu saja.

Berkait dengan ungkapan SCB bahwa penyair seperti Tuhan, tidak perlu bertanggung jawab pada karyanya karena itu ranah milik apresiator dan kritikus untuk mengurainya, namun pada belakangan diungkapkan bahwa jika apresiator dan kritikus cuma dapat berkomentar asal saja tanpa menghargai dan memahami makna karya maka penyair wajib berbicara, sungguh dua pengungkapan yang bertolak belakang, meskipun hal tersebut memang tidak harus dipersalahkan, namun jika seorang apresiator atau kritikus hanya berkomentar asal saja dan tidak dapat mengurai makna maka itu namanya bukan apresiator, atau mungkin karya yang dihasilkan terlalu rendah untuk diapresiasi atau mungkin juga karya tersebut terlalu gelap sehingga cuma penyair sendiri yang dapat mengetahui maknanya atau dalam kata lain boleh dibilang puisi gagal yaitu maknanya tak sampai sebab apresiator tentu tidak ngawur dalam mengapresiasi karena tentu telah melakukan berbagai pendekatan untuk menggauli karya tersebut. Dan selain itu memang tak dapat dipungkiri bahwa pembaca memang hanya meraba makna karya dari sisi luar yang masing kepala dapat memiliki interpretasi berbeda sesuai daya apresiasinya masing-masing, sedang makna sesungguhnya menjadi rahasia penyair.

Kiranya sampai di sini sedikit apresiasi saya pada esai gugatan Nurel pada SCB tersebut yang dalam hal ini adalah karena keterbatasan dan kekurang pengetahuan saya juga lemahnya daya serap dan pemahaman saya, yang dalam hal ini bukan dalam arti saya melakukan pembelaan pada SCB ataupun dukungan pada Nurel, hanya saja jika dalam hal tersebut terdapat perseteruan seperti halnya dalam pertandingan semoga saya dapat menjadi penengah atau wasit dari kacamata pembelajar dan penikmat sastra.

Terakhir dengan tidak mengurangi rasa hormat, semoga SCB akan menjawab gugatan Nurel dan pada Nurel saya cuma dapat mengucapkan Selamat dan Mari terus berkarya. Salut atas keberanian dan pengetahuan atas kejeliannya dalam gugatan tersebut. Masih sangat banyak pula kesalahan dan kekurangan dalam catatan yang saya tulis ini yang itu merupakan kebodohan dan kekurangan saya sebagai pembelajar.

Sumber: http://www.facebook.com/notes/tosa-poetra/sutardji-vs-nurel-j/10150128004322609?ref=notif¬if_t=note_reply

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com