Langsung ke konten utama

YANG DIBANGUN DAN TERBANGUNKAN

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Agaknya hanya diriku yang jadi kagok, ketika berlangsung lomba pidato di kalurahan, siang itu, sehari sebelum hari perayaan Agustusan. Soalnya, pada lumrahnya pidato-pidato yang berdengung, di kampung-kampung, maka lebih dari limapuluh perkataan “pembagunan” disebut-sebut, yang teramat bersifat klise, lagipula membuat pidato itu mirip sebagai ungkapan yang verbal semata. Saya hanya menyebit tiga patah kata pembangunan, yang saya kaitkan dengan istilah “pembangunan mental spiritual”, “pembangunan bangsa dan manusia seutuhnya”, dan upaya untuk “membangun ciri budaya ethnis yang menuju Zaman Baru”, sebelum kita berbicara tentang “sesuatu etos yang terbangunkan”, begitu godam revolusi mengguntur di antariksa.
Nah, itu dia. Pak Lurah melotot tanpa makna, sedang Pak RT yang menunjuk diriku sebagai wakilnya, geleng-geleng kecil, karena ada konotasi pembangunan yang dirasanya kurang lazim, kurang sering terdengar lewat media massa. Aku berkeringat dan tak mengharapkan kemenangan. Tetapi jauh di dalam batinku, aku merasa lebih benar bila bukan hanya cringis-criwis berpidato tentang hal yang satu ini, tanpa pendalaman maknawinya. Jadi, alangkah baiknya, bila masalah community development dan personality development lebih dulu dijlenterahkan dan dimasyarakatkan seluas-luasnya, sehingga pengertian sejati tentang pembangunana bangsa jadi sesuatu yang luhur, suci dan terhormat—bukan hanya disebut berulangkali. Terlebih untuk kawula muda di kampung-kampung, di desa-desa, yang pada banyak hal menemukan kesimpangsiuran dari susuran kata bergetah ini.

2.
Alangkah baiknya kalau dipeti lagi pendapat Phillips Roupp dalam “Approaches to Community Development” (1953) menulis sebagai berikut : it is a term to which a number of ideas have become vaguely attached. One of these ideas is that of “development” toward better standards of living, more efficient use of physical resources, better helat, and more education for illiterates. A second idea stresses the community, rather than the individual as the unit to whom the approach should be made, and the means through which development should be achieved. A third idea is that the community as such be stimulated and assisted ti progress by own and initiative”. Artinya sebagai berikut : Pembangunan merupakan perkataan yang menimbulkan beberapa pemikiran (gagasan). Antara lain, ialah bahwa pembangunan dimaksudkan suatu pengarahan yang menuju perbaikan tingkat hidup yang lebih baik, penggunaan sarana fisik yang lebih efisien, kesehatan lebih terjamin, serta pemberantasan butahuruf. Kedua, menekankan kepada masyarakat di mana pembangunan direncanakn, diusahakan, dan hasilnya untuk dinikmati oleh mereka. Ketiga, bahwa pembangunan itu dirangsang dan dibantu untuk memajukan atas swadayanya sendiri.

3.
Oleh sebab itu pembangunan masyarakat—lebih-lebih masyarakat desa—harus melihat pada tujuannya, kendati dapat dianggap benar, bahwa hasilnya tergantung dalam daya-upayanya. Karena manusia dalam uapaya itu tak selamanya bisa ke tanah tepi. Justru pembangunan adalah suatu ikhtiar yang mengarah kepada tujuan yang ditentukan oleh sistem nilai suatu masyarakat. Dalam hal itulah maka terdapat sejumlah gagasan dan ide dalam pembangunan yang aktif. Dengan adanya pendapat, agar masyarakat desa didorong dan dirangsang untuk berinisiatif, maka itu berarti bahwa pembangunan meliputi pembangunan manusianya, karena warga desa diliputi serba keterbelakangan, dibandingkan dengan pembangunan kota. Maka perlu ditingkatkan kesadaran, keyakinan dan partisipasi sepenuhnya, lewat langkah disadarkan (conscienter), dibangunkan perhatiannya (sensibiliser) dan dengan demikian seluruh lapisan dapat diajak kerjasama. Laju pembangunan materi berkejar-kejaran dengan laju perkembangan pandangan rakyat terhadap nilai-nilai hidup. Sedangkan inisiatif adalah asset perjuangan hidup yang wigati. Dengarlah pula : “ It is the nature of community development that it must come from within trough the greates of the people ini accordance with needs determined by their values..” Ya, sebenarnya gagasan pembangunan masyarakat harus berasal dari kelompok bersangkutan, dengan segala kemungkinan adanya partisipasi sebagian besar dari rakyat tersebut, selaras dengan nilai-nilai yang ada. Tepat pula, apabila titik-tolak itupun bersumber dari masyarakat, ditopang kebutuhan bersama yang paling dirasakan oleh sebagian besar dari mereka, hingga dengan demikian rakyat dapat memberikan sumbangsihnya. Reaksi positif niscaya timbul dari kelompok-kelompok yang secara ethnis dan sosio-kultural berkepentingan terhadap peningkatan kualitas hidup setinggi-tingginya.

4.
Adalah suatu kisah yang menarik, bahwa menurut alkitab, pemerintahan raja Salomo yang bijaksana ternyata memberikan keamanan dan ketentraman yang memuaskan, sebagaimana diwartakan “Orang Yahudi dan Israel diam dengan tentram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya…seumur hidup Salomo” (Raja 4:25). Dikatakan, rahasia dari keamanan yang dialami oleh pemerinntahan Salomo adalah lantaran diterapkannya hukum-hukum Yehuwa (Allah) yang adil dan benar-benar, namun bukankah hal ini sesuai dengan firmanNya, bahwa tatkala memasuki Tanah Perjanjian, bangsa Israel dinyatakan : “Jikalau kamu hidup menurut ketetapanKu, dan tetap berpegang pada ketetapanKu, tanah itu akan memberi hasilnya. Dan kamu akan diam di negerimu dengan aman, tenteram. Dan aku akan memberikan damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun (Imamat 26 :3-6). Sungguh sayang, setelah Salomo tiada, Israel segera pula menyepelekan Yehuwa, berpaling pada pemujaan berhala dan penyembahan seks yang keji. Akibatnya negeri kehilangan keamanan, dan ditaklukan oleh Fir’aun Sisak dari Mesir. Para ahli mengatakan dalam bahasa puitis : kemanan yang dialami di bawah pemerintahan Salomo hanyalah terbatas sifatnya. Raja manusia ini mustahil bisa membebaskan rakyatnya dari penyakit, dosa dan kematian. Suatu hal, yang pernah dipertanyakan oleh Sang Sidharta Gautama berpuluhtahun sebelumnya, yang gelisah oleh bahaya ini.

5.
Dalam pada itu, Sir Leon Radzinowics dan Joan King dalam kitabnya, “The Growth of Crime” (Perkembangan Kejahatan) mengatakan, dalam dua puluh tahun pertama dari abad ini, bahkan selama perang dunia pertama, angka kejahatan tetap tidak berubah, hanya sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Baru pada masa depresi sesudah perang, nyata terlihat adanya kecendrungan yang bersifat tetap. Selama tahun-tahun pergolakan ekonomi, pengangguran dan perang besar lain lagi, (Kejahatan) tanpa bisa dibendung menambah kecepatannya. Satu hal yang menyolok, bila anda memperhatikan kejahatan dalam skala dunia, adalah sifatnya yang terus meningkat dan meluas di mana-mana. Sementara itu, dari hasil penelitian di AS dalam dasawarsa terakhir, nampaknya pengaturan sisikamling kurang begitu efektif lagi, sehingga kelompok-kelompok yang pada beberapa kota “lebih maju dari tahun sebelumnya” toh dibarengi dengan sulitnya mengorganisasikan kelompok-kelompok penyelenggara keamanan daerah, sementara angka kejahatan meningkat tinggi. Bertambahnya kedurhakaan yang menjamah negri-negri maju, bukan mustahil karena bangsa-bangsa yang terlibat langsung itu kurang memahami kecendrungan pembangunan “merata” di golongan akar-rumput, kalangan jelata. Atau, program yang dilaksanakan justru belum mampu mengangkat derajat kaum lemah. Jikalau demikian, apakah usaha meningkatkan siskamling yang berskala luas tidak harus pula diimbangi dengan pemekaran sumberdaya insani di berbagai sektor, yang langsung dapat memelihara ruang hidup (lebensraum) kaum kromodongso itu? Kalau ini terjadi, alamat tercapai suatu rangkuman sayuk antara iktikad pembangunan penguasa dengan dambaan kecil. Juga terutama pada masyarakat pedusunan, harap kita amati perkembangan terakhirnya. Situasi keamanan yang terpelihara, belum menjamin terpeliharanya taraf hidup ideal yang diimpikan kaum lemah.

6.
Bagaimana pula kita terbaring, tanpa diusik oleh sesuatu yang menakutkan, menggelisahkan? Biar di bawah anggur, biar di bawah pohon ara, biar di bawah pohon zaitun—sebenarnya bisa memotret desa-desa yang jauh dan dekat dengan diri kita. Cara wicara tentang pembangunan yang dijelmakan oleh masyarakat yang merasa akan teguh merebut keunggulannya, bobotnya, niscaya juga bermakna : bisa mempertahankan prinsip kemanusiaan, sejauh yang diterapkan para pendahulu pembangunan wilayah. Cuma saja, adakah perjalanan yang ditempuh dari pusat-pusat perlembagaan regional itu menuju lingkar-keliling, tetap membawa gagasan murni dari mulanya, ataukah sudah dibebani pesan-pesan yang lebih baru, lebih memenuhi gelegak waktu, kendati tak sepenuhnya dipahami?

* Tanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).