Langsung ke konten utama

Nostalgia Pengantin Sastra (nJombang)

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

Sastra, kerap seruas dengan hal tak terduga, lepas dari prediksi dan jangkauan macam apa pun, tiba-tiba ada, hadir, mengalir, nyata, kemudian hilang, senyap, muram, kelam dan remang. Keunikan apa sesungguhnya yang terjadi di balik fenomena sastra? Sehingga sedemikian ‘membatmentul-nya’diayunkan keseimbangan sejarah.

Sebagaimana perjalanan sejarah, sastra tak luput dari pertarungan ‘trik-intrik’pengibaran bendera: sebutlah yang paling dikenal dengan aliran realis dan surealis, keduanya gigih menyiapkan jala untuk menjadikan alasan mengenai siapa yang paling limited mendekati fungsi sastra ketika dihadapkan pada disiplin ilmu lain.

Namun, terlepas dari pengibaran bendera dimaksut, sastra tetap lahir laksana gaung pertapa dari dalam goa, ia nyaring dari gesekan ‘sreekk’ tapal kaki perantau di pucuk rerumputan dan bebatuan cadas, bahkan sastra terjadi pula dari clorotan jatuhnya meteor di angkasaraya.

Usahlah sastra dituntut berdisiplin dengan ilmu lain di luar sastra, sebab sastra merupakan unsur kelembutan, serupa ‘sel lentik’ dalam berbagai keilmuan. Hanya saja, sejauh mana pengudalan sastra dilakukan secara singkronik dalam ilmu lain tersebut.

Kehilangan sastra dalam berbagai lini keilmuan, samahalnya melempar segumpal kerinduan jauh ke lorong hal paling sunyi. Keadaan demikain, disadari atau tidak, pada kadar dan kurun waktu tertentu akan terserap oleh daya gravitasi pertemuan atas berlangsungnya kelayakan sebuah ekstase. Tidak ada yang terputus dalam sastra, seumpama snapsot, berdiri di tepian tebing dan beberapa detik kemudian terjungkal bersama lengkingan selamat tinggal dan terjerembab ke jurang kematian sejarah.

Di mana pun, tidak ada pedang bersilang linier yang nyata memenggal urat nadi sastra secara tragis dan menggelepar. Yang terjadi adalah tangis siklikal jabang bayi sebagai pananda kelahiran sastra garda depan dari rahim senja artistik silam.

Di Jombang, sebuah wilayah dataran kecil yang dipinggiri pegunungan, pertumbuhan sastra pernah dilanda wabah diktator orba. Sehingga kondisi pertumbuhan batang dan gagangnya ‘ndlunding ngelacir’dengan sisah beberapa helai daun. Itu pun tak hijau. Sebut saja Emha, ia adalah sisah musim kerontang orba yang tetap tumbuh dan bertahan ketika alam orba masih bercokol. Ngeri waktu itu, di desa sekecil Mentoro, Emha berani ‘misuhi’ Raja Suharto dengan lantang di hadapan 7000 manusia yang berjubelan. Saya masih merasakan ‘jithok mengkorok’ ketika Emha tegas berkoar mengkritik kebijakan rezim orba. Satu debaran kecil dengan pertanyaan apakah Emha ini tidak ditembak intelegen begundal Suharto? Akhir-akhir ini saya baru mengerti kenapa itu tidak terjadi. Ternyata di dalam buku tamu dan administrasi kepresidenan, tidak ditemukan sekecil pun dana dari presiden baik berupa uang santunan atau sumbangan atau sejenis kepada Emha. Sementara hampir semua tokoh kondang yang pernah terdengar di blantika percaturan sejarah Indonesia, tidak ada yang lolos dari dana ‘suap’ Suharto.

Selain Emha, Gus Dur juga sering turun ke wilayah kecil Jombang untuk nyambangi lahan NU-nya, sebab, NU pasti mempunya area istighosah yang tidak bisa dipandang sepeleh pengaruhnya. Namun kedatangan Gus Dur tidak ajeg setiap bulan seperti Emha. Apalagi Cak Nurcholis Madjid, ia hanya pulang jika ada undangan dari instansi dan lembaga yang membutuhkan kahadirannya. Sedang sastrawan penyambung masa di Jombang, seperti sayur sawi yang harus dijebol dari bedengnya supaya tumbuh gemuk di lahan baru. M. Shoim Anwar misalnya, lelaki berkumis tipis asal Sambong harus tertancap di Surabaya dengan buku terakhir yang saya ketahui Asap Rokok di Jilbab Santi. Begitu pula Fahrudin Nasrulloh lelaki pendek asal Lembah Pring Mojokuripan Sumobito harus ‘katut babon’ ke kota Pahlawan dengan buku terbarunya Syekh Bejirum dan Rajah Anjing. Abidah El Khaleiqy justru tidak besar di Jombang dan wajar mengalami diskontinuitas dengan generasi baru Jombang. Tangan kepenyairan Abidah seperti melambai selamat tinggal masa kecil dan tegas menggaris pengakuan sebagai pemukim Yogya. Ahmad Muhaimin Azzet, terakhir saya dengar sudah ‘ngluthuk’ dengan aliran sufinya, hanya ‘nyambangi Jombang ketika hari raya saja.

Emha yang terus riwa-riwi antar Jombang Yogya-Jombang-Indonesia-sesekali keliling dunia, tiap bulan masih menelurkan buku terbarunya: Demokrasi, Folklore Madura, Tidak Jibril Tidak Pensiun, Kumpulan cerpen BH, Istriku Seribu, Kagum Pada Orang Indonesia, Ikrar Khusnul Khotimah, Banjir Lumpur Banjir Janji. Namun bukan buku-buku Emha tersebut yang penting, ialah bagaimana konsekuensi Emha sebagai sastrawan-penulis-tetap bertanggungjawab terhadap generasi berikutnya dalam upaya melahirkan penulis, menggugah kreatifitas kaum muda. Dan hal demikian dibuktikan Emha sekeluarga dengan mengadakan Forum Silaturrakhim Pengajian Padhang mBulan yang sudah berjalan 15 tahun di rumahnya.

Selain Emha, penulis Jombang yang getol menggerakkan aktivitas literasi di tanah kelahirannya ialah Fahrudin Nasrulloh. Ia menggali kantung-kantung muara komunitas yang dialiri dari sungai kesenimanannya selama ‘mbambong’ (kuliah) di Yogya. Forum Geladak Sastra, adalah ide yang ‘berhasil’ digerakkan dengan tujuan menjembatani untuk mengapreseasi berbagai karya yang dihasilkan oleh penulis baru atau pun pendahulu dengan tiga titiktumpu agenda: membedah karya penulis lokal dan luar Jombang serta menggelar diskusi budaya dengan berbagai tema.

Dengan Geladak Sastra ini Fahrudin mengenalkan budaya: ‘acara terlaksana dengan menekan minim dana’, di mana pembicara diminta kerelaan untuk bersedia meski hanya ‘berhonor’beberapa buku sebagai rasa terimakasih. Kecuali pembicara dari luar Jawa Timur atau kota jauh dari Jombang, kadang beberapa anggota Geladak Sastra harus urunan uang sebagai pengganti biaya transportasi pembicara.

Cara demikian sertamerta menanggalkan anggapan bahwa sebuah acara hanya terlaksana dengan dana besar. Dengan kesadaran bersama untuk maju, saling berbagi, memperluas dan mempererat jaringan, merupakan entripoint tersendiri sebagai tungku penyulut kegumbrigahan proses berkesenian. Hingga tulisan ini saya turunkan, Geladak Sastra sudah menapakkan jejak pada putaran ke 15 dengan membedah cerpen Syekh Bejirum dan Rajah Anjing karya Fahrudin sendiri pada 02 April 2011yang mendatangkan Dwi Cipta (cerpenis asal Yogya). Sementara pada putaran sebelumnya membedah buku Asep Zamzam Noor yang dihadiri Kusprianto Namma (peminat sastra pedalaman dari Ngawi) dan Suyitno Ethex (penyair Mojokerto).

Selaras dengan Geladak Sastra, juga merebak berbagai komunitas baru atau lama yang mulai merutinkan kegiatannya. Dari wilayah Mojoagung, komunitas Tirtoagung pimpinana Haris dkk, ajeg dengan rutinan malam Jum’at Kliwon. Kecamatan yang paling padat seniman ini, Haris dkk berdampingan dengan komunitas lain di sekitarnya: komunitas Alief pimpinan Purwanto, teater Wadtera pimpinan Bambang Bey Irawan, komunitas Isuk-Isuk pimpinan Jainal Fuadin yang mereka lahir dari rahim kesenimanan sang sutradara MS. Nugroho dan Edy Haryoso.

Dari kawasan Jombang kota, komunitas yang mulai rutin dan mencair ialah KOMA Tambakberas. Acara ‘Malam Pituan’ yang diselenggarakan setiap bulan, mulai berloncatan ke berbagai pondok yang ada di Tambakberas. Demikian juga Lesehan Sastra yang melibatkan santri putri, sudah mengawali keajegannya tiap bulan.

Kawasan selatan kota mulai muncul Lentera Sastra yang dihandle Hadi Sutarno bersama segenap penggiat sastra mahasiswa kampus AMIK. Konsep Lentera Sastra yang tidak terlalu formil dan lebih bersifat ‘omong-omong blek’, ternyata mampu mengilhami beberapa komunitas untuk lebih berani membuka diri menggagas terlaksananya suatu kegiatan yang selama ini tabu dan iwuh dalam pandangan mereka.

Menyimak acara yang paling hangat dalam komunitas Lentera Sastra pada 30 April 2011, seolah ada yang menyentak bagi seniman Jombang, yakni berkumpulnya para pegiat senior seperti Cucuk SP, Anjrah Lelono Broto, Farid Dulkamdi (barisan teater KTI ), Cak Kepik (sesepuh teater Suket), Zeus Anggara (intelektual sastra dari Rejoso), Purwanto (Alief) dan Pak Idkhol Jempol (pecinta sastra yang pernah bermukim di Arab Saudi), Haris dan pasukannya (Tirtoagung), Jabbar Abdulloh (lurah Geladak Sastra). Tampak juga Toni Saputra dari penggerak Arisan Sastra di kawasan Trenggalek: sebuah rutinan sastra yang dikuati sesepuh Bonari Nabonenar, Nurani Soyomukti, mBah Hardho Sayoko Spd (penyair Macan Loreng dari Ngawi).

Yang menarik atas kehadiran mereka adalah ‘kesediaannya’ untuk terlibat membina kaum muda, padahal acara yang digagas hanyalah membedah puisi Mahendra PW (siswa SMAM I) dan Inung Ardiansyah (ketua BEM AMIK) yang masih tergolong anak kemarin sore dalam dunia sastra. Mereka inilah orang-orang yang berjiwa besar, tidak lantas risih dengan mempertaruhkan martabat ketika menghadiri acara anak kecil. Kelenturan jiwa semacam ini merupakan metode khusus bagi seniman yang berpotensi besar. Yakni kesediaan mengosongkan gelas kebesarannya supaya muat dituangi ilmu kembali.

Banyak sesungguhnya komunitas di Jombang yang masih melempem, individualis yang terkesan sebagai ‘santri mung gedekno konthol’: usreg dengan dirinya namun tak kunjung melahirkan karya. Karakter seniman semacam ini seperti kodok, betapa pun ia ditidurkan di kasur, akan mencolot kembali ke jublangan. Keberhasilannya hanya sebatas kebanggaan diri, menukar keberhasilan dengan tendensi agar dilihat orang tertentu, komunitas tertentu. Selesailah. Tidak ‘rahmatan lil alamin’: menang dewe enak wong akeh, dan bukan menang dewe enak coglok e dewe.

Kapan mereka jenggirat, Jombang pasti terdengar gemuruh raungan dari setiap celah. Jajaran alumni STKIP Jombang misalnya telah melahirkan komunitas Endut Ireng (Aang Fatikhul Islam), Gubuk Liat (Rahmat Sularso, M. Rifqirrahman, Rangga Obenk dkk), Liswas (Aditya Ardi Nugroho dan Agus Sulton). Dari Ikaha Tebuireng, ada Fathurrahman Karyadi dkk yang menggerakkan Majalah Triwulan Tebuireng. Dari Undar dikooptasi oleh Sanggar Sinau (Hadi S dan Anis Zamroni: dosen). Sementara dari pucuk Wonosalam terdengar Pecangkul (Junaidi Jun: dosen Ekonomi Undar). Di lingkungan PP. Darul Ulum Rejoso bercokol teater ‘Dua’yang dipegang oleh Luay.

Tidak hanya di Jombang, di seluruh wilayah Indonesia mana pun, generasi muda berhak menanyakan sejauh mana keterlibatan para seniaman besar dalam membina generasi penerusnya. Jika tidak, dan seniman besar itu hanya sibuk dengan kebesarannya, maka selesailah seniman besar itu di mata kawula muda. Tidak ada kehebatan sedikit pun kebesaran yang hanya disanjungkan untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, para seniman muda juga tidak lantas gelenggem, ngalem, sok besar, inklusif, jagakno digerakkan para seniman besar. Keduanya ibarat sepeda yang harus seimbang antara roda depan dan belakang, tidak gembos sebelah, agar nyaman dan gendring dinaiki.

Sepanjang pengalaman sejarah, Indonesia terbukti gagal dengan model kemunculan tokoh individualis. Yang diperlukan selanjutnya hanyalah kekuatan menyeluruh dari berbagai lini lapisan masyarakat. Di mana para sepuh dan kaum muda, berada dalam satu ruang untuk menyelenggarakan pengantin-pengantin pembangunan kesenian, kebudayaan, ekonomi, politik dll.

*) Penulis adalah Tim Lincak Sastra sekeluarga.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com