Imaji Yang Terbingkai Nihilisme

Denny Mizhar*
http://sastra-indonesia.com/

Nada-nada membentuk satu komposisi musik mengalun dan mengalir mendorong tubuh untuk bergerak dengan beragam tingkah. Musik yang mewakili ruang imajiner sedang dicarinya oleh sekelompok orang dengan membawa bingkai berwarna hijau. Suara itu belum diketahui dari mana asalnya. Hal itulah yang membuat sekelompok orang-orang mencari. Dengan tingkah komedian yang terbentuk lewat gerak karikatural: mengalir, patah.

Pencarian akan bayangan, suara yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan mengenakan busana warna-warni, dengan gaya bermain-main (dolanan), dengan kata-kata dan gerak tubuh hingga paduan antaranya menyatu membuat tawa sesekali mengucur dari penonton yang memenuhi gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang pada Rabu 06 April Kamis 07 April 2011 Pukul 19.00 WIB. Itulah adegan pembuka pertunjukan Teater Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) Malang yang mengarap pertunjukan teater dengan mengadaptasi dari cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” karya Seno Gumira Aji Darma (SGA), Cerpen yang ditulis pada tahun 90’an.

Permainan grouping dan komposisi di panggung tapal kuda semakin menegang ketika ditemukannya asal suara, di sanalah bermula keteganggan antar aktor untuk mamusuki ruang di mana tempat asal suara tersebut berada, bingkai menjadi metafor tempat suara berada diekplorasi oleh aktor-aktor. Dalam keheningan dan ketenangan yang dikondisikan untuk menuju dan penjernian diri aktor masing-masing munculah penari perempuan. Penari yang menghampiri setiap aktor. Para aktor pun membayangkan dalam ruang imaji masing-masing, entah apa yang menjadi imaji para aktor. Hanya aktor sendiri yang tahu. Tetapi simbol penari menarik garis imajinasi para aktor tentang perempuan. Perempuan yang menjadi pijakan tafsir imaji sebebas-bebasnya. Kutipan di booklet:

“Pak RT melihat wajah-wajah yang bergairah, bagaikan siap dan tak sabar lagi mengikuti permainan yang seolah-olah paling mengasyikkan di dunia. Lantas segalanya jadi begitu hening. Bunyi pintu yang ditutup terdengar jelas. Begitu pula bunyi resluiting itu, bunyi gesekan kain-kain busana itu, dendang-dendang kecil itu, yang jelas suara wanita. Lantas byar-byur-byar-byur. Wanita itu rupa-ruapnya mandi dengan dahsyat sekali. Bunyi gayung menghajar bak mandi terdengar mantab dan penuh semangat. Namun yang dinanti-natikan Pak RT bukan itu. Bukan pula bunyi gesekan sabun ke tubuh yang basah, yang sangat terbuka untuk ditafsirkan sebebas-bebasnya”.

Simbol imajinasi perempuan yang divisualisasikan lewat penari. Munkin inilah yang tak dilepas oleh sutradara dari naskah aslinya sebagai teks awal (cerpen) menuju teks kedua (pertunjukan teater). Hingga akhirnya para tokoh tersebut menemukan suara tersebut yang berada dalam kamar mandi. Ramai-ramai menengok, nihil hasilnya. Hal tersebut juga diungkapkan oleh sutradara pada sesi diskusi seusai pentas berakhir “Ruang imaji tak terbatas tetapi juga terbatas akhirnya dan akhirnya menemui kekosongan”.

Pertunjukan Dilarang Bernyanyi Di Kamar Mandi oleh KBKB menitik beratkan pada unsur gerak. Adapun dialog-dialog yang dilakukan para aktor kebanyakan mengarah pada komedian hanya pada kondisi pembangunan dramatik dialog-dialong menjadi tragedi dan sedikit liris bisa dibilang secara utuh garapannya adalah komedi tragedi. Seperti dialog setelah konflik kecil saat pencarian asal suara ditemukan dan salah satu aktor memberikan peringatan agar bersabar. Para aktor pun duduk, salah satu memimpin untuk mengkondisikan kesabaran dengan konsentrasi. Kalimat dialognya berbunyi “Titik membesar, titik berubah warna, ….. titik Puspa”, dialog yang awalnya serius menjadikan penonton tertawa.

Pertunjukan teater yang disutradari oleh Agus Fauzi Ramdhan telah mengalami metamoforsis dari teks cerpen aslinya. Berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh Gusmel Riyadh dalam melakukan pengadaptasian cerpen karya SGA pada judul yang sama. Gusmel hanya memindahkan teks cerpen dan memberi tambahan gambaran visualisasi di panggung: susana, latar dan pencahayaan. Dan adaptasi Gusmel yang banyak dimainkan oleh kelompok-kelompok teater. Sedangkan Agus Fauzi Ramadhan dalam melakukan adaptasi dengan cara mengabil spirit dan tema teks cerpen tersebut. Tokoh-tokoh tidak dijelaskan siapa dia, sedang teks cerpen aslinya ada beberapa tokoh diantaranya Pak RT, Hansip, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak dan Zus. Aktor yang terdiri dari delapan laki-laki dan satu permapuan penari di antaranya: Sindu Dohir Herlianto, Muhammad Zainy, Sri Wahyudi, Andrean Fahreza Nur Wicaksono, Ervin Lukmanul Hakin, Aga Shakti Kristian, Muh. Fatoni Rohman, Avan Fauzi, dan satu penari yakni Anggar Syaf’iyah Gusti. Dalam kelompok KBKB pentas mereka adalah perdana, patut diapreseasi. Pertunjukan yang juga akan dimainkan dibeberapa kota Batu (Gd. Simonstok), Pasuruan, Surabaya, Banyuwangi, dan Bali.

Adapun catatan yang perlu diperhatikan adalah pemilihan panggung tapal kuda atau U, diperlukan pembagian ruang dan bloking yang tepat. Hal tersebut menjadi sedikit kekurangan pentas Dilarang Bernyanyi Di Kamar Mandi KBKB. Adapun hal-hal lain secarah utuh adalah pemilihan bentuk gerak yang beragam menjadikan keutuhan bentuk terganggu. Secara utuh pesan tersampaikan apa yang diharapkan sutradara lewat pertunjukan teater. Meskipun, dalam setiap penonton yang memiliki latar belakang berbeda akan tidak sama karena gangguan-gangguan kecil saluran komuniksasi yang terjadi, dari penyampai kepada penerima hal ini adalah wajar.

Malang, April 2011

*Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang

Komentar