Kota Puisi

Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

Sekembali dari terowongan itu, Darja mendapati gerobak ketopraknya masih teronggok di sisi jalan. Gerobak itu seperti menunggu tuannya dengan setia. Keadaannya masih utuh. Piring, gelas, sendok, stoples plastik, cobek, ulekan, ember, semuanya masih lengkap. Letaknya tak bergeser sama sekali. Bahkan beberapa butir air sisa bilasan di punggung piring belum lagi kering. Hanya kantung plastik yang terlihat sedikit menyembul keluar, bergetar-getar ditiup angin.

Darja mengerjap-ngerjapkan matanya, celingukan tiga kali. Cuaca masih terang. Dilihatnya jam tangannya. Masih pukul setengah lima sore. Lantas dengan perasaan yang masih dirongrong kebingungan, didorongnya ia punya gerobak. Baru beberapa langkah, dari arah berlawanan dilihatnya Narti, istrinya, bejalan tergesa menuju ke arahnya.

Darja menyeka wajahnya dengan sebelah tangan. Dia tak ingin Narti mengetahui kebingungannya. Perempuan itu suka ngedumel kalau melihatnya melamun, atau tampak seperti baru sadar dari lamunan. Lantas menyindir-nyindir tentang cita-citanya jadi penyair. Meracik dan mengulek bumbu ketoprak saja belum becus, mau jadi penyair, begitu Narti pernah berkata. Dia memang keterlaluan. Apa coba hubungannya mahir ngulek ketoprak dengan menulis puisi? Padahal dulu Narti selalu bilang puisi-puisi Darja bagus. Indah tiara tara. Dan gara-gara dirayu dengan puisi pula Narti jadi pacar Darja hingga akhirnya mereka menikah. Perempuan memang selalu ada maunya.

Dari kejauhan Darja sudah dapat melihat muka Narti yang semrawut seperti kain tak disetrika. Seakan sudah tahu hari ini jualannya hanya habis separuh. Bisa ditebak sebentar lagi mulut perempuan itu bakal menumpahkan ceramah tentang cara jualan yang benar. Bagaimana memasang muka kepada pelanggan. Ceramah akan diakhiri dengan kalimat yang sama, yaitu “Abang sih jualan melamun mulu. Kalau nggak melamun pembeli diajak ngobrol puisi. Mikir dong Bang….” Dasar perempuan, kamu pikir orang melamun itu tidak pakai pikiran?

Maka sebelum dia sampai, Darja telah memutuskan untuk tidak akan pernah menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Salah-salah Narti makin mempanjang durasi acara ceramahnya. Bisa memicu migrainnya kambuh.

Benar saja, begitu sampai Narti langsung nyap-nyap. Tapi kali ini Darja bertekad tak peduli. Darja sibuk mengingat-ingat peristiwa yang baru saja dialaminya beberapa menit lalu. Ya, beberapa menit saja, tapi mengapa terasa begitu lama berlangsung? Seperti bertahun-tahun? Peristiwa yang baginya sendiri terlalu sulit dimengerti, tapi sungguh-sungguh dia alami secara begitu nyata, sangat nyata, bahkan lebih nyata dari kenyataan. Ah!

Rasanya tidak ada yang salah dengan terowongan itu. Lorong di bawah jalan tol yang menghubungkan Kampung Krapyak di sebelah utara dengan Kampung Semantak di selatan. Orang-orang di kedua kampung itu selalu melalui lorong berukuran lebar dua meter dan tinggi satu setengah meter itu. Dan sejauh yang dia tahu semua berjalan baik-baik saja. Memang pernah ada kabar berembus bahwa terdapat hantu penunggu lorong tersebut. Hantu seorang warga yang mati secara misterius gara-gara menolak pembebasan tanahnya untuk pembangunan jalan tol tersebut. Konon hantu itu gemar mengganduli orang yang melintas di terowongan.

Tapi, peristiwa yang dialami Darja sama sekali tidak ada urusannya dengan kabar tentang hantu yang diembus-embuskan orang itu. Lagi pula Darja sudah lama tidak percaya dengan cerita-cerita hantu semacam itu. Seperti orang-orang di Kampung Krapyak yang mau menyeberang ke Kampung Semantak dan sebaliknya, saban hari Darja melalui terowongan tersebut. Dinding-dindingnya dilabur cat putih susu, di sudut langit-langit terpasang lampu cukup terang. Sore tadi Darja melintas di sana, dan tidak terjadi apa-apa seandainya Darja tidak berbalik ke dalam terowongan lantaran dia merasa penasaran ingin membaca sampai habis sebait tulisan di dinding terowongan. Tulisan biasa-biasa saja yang digoreskan menggunakan arang kerjaan iseng anak muda. Huruf-hurufnya sama sekali jauh dari kesan rapi. Mana ada tulisan yang digoreskan arang terlihat rapi. Huruf r tampak seperti huruf n dan kadang k. Tapi begitulah, dia tambatkan sebentar gerobak ketopraknya di mulut terowongan demi memenuhi rasa penasarannya. Dia merasa tulisan itu seperti puisi.

Setelah dibaca secara penuh penghayatan dan berulang-ulang, tulisan itu memang puisi. Sangat indah. Penyair manakah yang iseng menggoreskannya di dinding terowongan ini? Pertanyaan ini bukan bagian penting dari kejadian yang dialami Darja. Sebab, beberapa detik berikutnya puisi itu menariknya ke dalam pusaran. Lantas, entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu Darja terempas ke sebuah gang yang lengang. Permukaan gang yang terbuat dari paving block membuat kulitnya sedikit lecet-lecet. Anda pernah melihat bagaimana Mr. Bean jatuh ke bumi? Begituah kira-kira yang terjadi pada Darja. Itulah sudut kota yang hanya dia kenal lewat bait-bait puisi seorang penyair kondang yang digandrunginya.

Lamat-lamat dia dengar puisi itu…
Kota itu tak bernama
Dinding-dindingnya sangat tua
Dan musik menggenang sepanjang jalan-jalannya
Yang sunyi.

Darja bangkit dan mempertajam pendengarannya. Lalu dia bergerak menelusuri sumber suara. Berjalan tersaruk mengikuti udara yang dirambati suara lantunan orang membaca puisi. Darja mendapati dirinya bagai mabuk oleh kebahagiaan. Dia meraba detak jantungnya untuk memastikan kejadian ini bukan bagian dari lamunan.

Dari dulu Darja memang sangat menggandrungi puisi, dan menjadi penyair merupakan cita-cita terbesarnya sejak remaja. Alangkah bahagianya menjadi penyair, begitu dia selalu berpikir. Adakah yang lebih hebat dan mulia dari seorang penyair? Cita-cita ini menghuni benaknya sejak dia terpesona melihat tetangganya yang jadi penyair. Berambut gondrong, pintar ngomong, berbaju agak kumal, dan punya banyak pacar. Apa saja yang dilakukannya orang maklum karena dia penyair.

Demi merintis cita-citanya, Darja pun masuk ke Fakultas Sastra jurusan puisi. Saban hari tak ada yang dikerjakannya selain menulis puisi dan membaca buku-buku teori tentang puisi. Berdiskusi hampir saban malam tentang puisi dengan siapa saja yang kebetulan bertemu atau berkunjung ke kamar indekosnya yang penuh dengan buku puisi. Tidak seperti penyair umumnya yang malas menata kamar, Darja menata buku-buku puisi koleksinya dengan rapi. Dia susun berdasarkan tahun terbit. Dia melarang keras jika ada yang bermaksud meminjam koleksi bukunya itu.

“Cita-cita kok jadi penyair sih, Darja. Apa tidak ada yang lain?” tanya bapaknya.

“Tidak ada artinya hidup ini selain jadi penyair, Pak.”

“Jadi orang jangan berlebihan dong, Darja. Tapi sudahlah, terserah kamu. Tapi ingat, jadilah penyair yang berguna untuk rakyat.”

“Maksud Bapak?”

“Membela rakyat, Darja.”

“O, tentu saja, Pak,” sahut Darja sekenanya lantaran tidak betul-betul paham dengan tema pembicaraan yang terjadi begitu saja. Kalau ingat percakapan ini Darja ragu sendiri, benarkah ini terjadi dalam sebuah kenyataan atau sekadar di panggung drama?
Darja terus berjalan tersaruk-saruk dengan dada dirasuki perasaan sukacita. Udara kota tua itu menyemburkan harum di penciumannya. Benar-benar kota puisi, bisiknya. Adakah puisi berbau harum? Hanya Darja yang bisa menjelaskan secara pasti. Dia sampai di sebuah kafe yang di dalamnya tengah berlangsung pembacaan puisi. Dari sinilah rupanya asal suara itu. Darja nyelonong begitu saja ke tengah-tengah hadirin yang tengah khusyuk menyimak pembacaan puisi. Cara mereka menyimak pembacaan puisi membuat Darja terkagum-kagum setengah mati. Dia celingukan tiga kali seperti kebiasaannya kalau sedang mumet mencerna peristiwa tak lazim, lantas menyadari betapa tak ada penyair favoritnya di sana. Bahkan tak ada satu pun yang dikenalnya. Astaga ini negeri mana ya? Gumam Darja, bego seperti biasa. Mendadak sepotong tangan menjawil pundaknya.

“Darja?”

“Eh, Anda siapa ya?”

“Ah Darja kenapa kamu jadi pelupa? Tinggal di mana sih kamu selama ini? Pasti di lembah kemiskinan ya? Pantes mudah lupa,” bisik seseorang yang ternyata perempuan berdada dan berbokong besar dengan leher jenjang dan bibir seksi menawan serta tatapan mata penuh rayuan.

Perempuan itu mengajak Darja menginap di kamar apartemennya di lantai 13. Pada pertemuan pertama itu mereka langsung bercinta secara dahsyat sekali. Darja sampai tak mengira dirinya masih mampu bercinta dengan begitu dahsyat. Maklum saja selama ini dia seperti telah kehilangan gairah bercinta dengan Narti. Selain pintar nyap-nyap, mulut Narti berbau amoniak.

“Kamu ternyata tidak hanya berbakat jadi penyair, Darja. Kamu berbakat jadi seorang pemain cinta yang luar biasa.” Puji perempuan yang bahkan namanya Darja belum sempat tahu.

“Sebenarnya kita pernah bertemu di mana sih sebelum ini?” Darja bertanya setelah mengenakan kembali celana jins semata wayang andalannya.

“Alah Darja, itu sudah tak penting sekarang.”

“Tapi siapa namamu? Kenapa kamu mau membawaku kemari dan bercinta denganku?”

“Darja, Darja, kenapa sih kamu selalu ingin tahu hal-hal yang penting seperti itu?”

“Baiklah, tapi apakah namamu juga tidak penting kuketahui?”

“Namaku Julia, Darja. Julia Perez, lengkapnya. Ingat pakai z, bukan s.”

“Terima kasih Julia. Terus apa acara kita selanjutnya?”

Julia Perez menjelaskan, di kota ini setiap orang tidak punya kesibukan apa pun selain menulis dan membaca puisi, kemudian bercinta sepuasnya. Semua warga kota ini dibekali kartu ATM dengan saldo yang terus bertambah.

“Semua kebutuhan hidup kita sudah ditanggung pemerintah,” ujar Julia Perez seraya menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dengan nikmat, lantas mengembuskan asapnya ke wajah Darja, membuat laki-laki itu tergeragap dan batuk-batuk.

“Menyenangkan sekali,” kata Darja mulai reda gugupnya.

“Mulanya ini memang menyenangkan, Darja. Tapi lama kelamaan kami ternyata merasa bosan juga. Ingin sesekali pulang menjenguk ke lembah kemiskinan tempat asalmu itu.” Julia Perez memungut sebotol vodka dari kulkas berdinding tembus pandang. Lantas mengangsurkannya pada Darja.

“Kami bosan menulis puisi dengan tema itu-itu juga. Pasir pantai, cangkang kerang, wayang, tali kutang. Kami ingin menulis tentang kemiskinan. Tapi mana bisa? Kami hidup dalam gelimang kemewahan. Kamu tahu Darja, kemewahan bikin orang jadi bebal.”

Namun, berada di kota puisi yang penuh kenikmatan itu tak membuat Darja melupakan hari-harinya sebagai penjual ketoprak, sebagai suami yang acap ditindas istri. Terkenang suara Narti kala perempuan itu mengajari bagaimana meracik dan mengulek ketoprak secara cepat dengan hasil yang tetap baik.

“Kemahiran meracik dan mengulek ketoprak menjadi ukuran sejauh mana kamu mampu menulis puisi yang berkualitas,” kata Narti sok tahu. Tentu saja Darja tak sudi mempercayai ocehan istrinya itu.
**

Tiga minggu sejak kejadian itu, pada suatu sore yang biasa-biasa saja, ketika angin berembus apa adanya, Narti sendirian berjualan ketoprak. Dia mendorong gerobak sendiri dengan air mata berlinangan. Dia tak mau lewat melalui terowongan itu. Tak ingin mendengar suara Darja merinith-rintih membaca puisi.
Pondok Pinang Juli 2010.

Komentar