Selina Gita

Hamsad Rangkuti
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

“SETIAP abang berada di tengah hutan, abang selalu ingat dialog awal percakapan Rafi dengan anaknya dalam sebuah film. Abang dipercayakan memegang peran sebagai Rafi dalam film ’Promise Land’ karya Holga Martina Straubinger dan Lisa Hodsoll. Film semi dokumenter itu disutradarai Andreas Pascal. Misalnya, dalam perjalanan kita menyusuri rimba lebat ini, dialog itu datang pada abang dan abang bisa mengulang omongan itu, tapi abang lupa nama peran anak lawan ngomong abang dalam film itu.”

“Anak itu lelaki atau perempuan?” tanya Yon Adlis yang menjemput kami.

“Kalau jenis kelaminnya abang selalu ingat, perempuan.”

“Ya, sudah, pakai saja nama Selina Gita.”

“Selina? Nama siapa itu? Dari mana kau punya ide memberi nama itu?”

“Tak abang lihat foto yang terpampang di sepanjang jalan dari Bandara Jambi Sultan Thaha hingga perjalanan kita sudah sampai di sini. Dia itu anak mantan Bupati Bungo memajang foto mempersiapkan diri jadi calon anggota DPR-RI Provinsi Jambi.”

“O, foto wanita muda yang cantik yang senyum kepada kita itu? Itu yang kau maksud? Abang merasa dia senyum untuk abang.”

“Sukaryo coba kau posisikan mobil kita di bawah foto Selina Gita” kata Yon kepada sopir kami. Mobil dibelokkan dan masuk ke bahu jalan ke arah foto yang dimaksud Yon. Yuli memberi kami masing-masing segelas air. Kami minum. Tampak Selina Gita senyum kepada kami. Dia memakai tudung gadis Melayu. Aku suka memandang foto wanita mengenakan kerudung seperti itu. Kepalanya terbuka memperlihatkan rambut hitamnya tergerai seperti yang sering dipakai ibu. Kerudung itu berwarna kuning tipis menutup sanggulnya hingga kedua telinga sampai ke bahu. Kedua biji matanya yang hitam berada di tengah kedua biji matanya memandang kamera waktu gambar diambil. Bibirnya terkatub mengisyaratkan gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara menunjukkan rasa senang. Dia gembira senang dan suka memandang kami.

“Satu-satunya yang punya akar di dunia ini adalah pohon. Itu sebabnya pohon tidak bisa beli tiket pesawat dan pergi.” kataku mengulang dialog yang kuucapkan dalam film itu.

“Apa itu enggak bikin pohon-pohon sedih?” Kata Selina

“Oh iya. Pohon-pohon sangat sedih. Pohon-pohon sedih karena saat manusia datang dengan kapak dan gergaji mereka, saat manusia menebang dahan dan batang mereka, pohon-pohon tidak bisa berbuat apa-apa.

“Bagaimana kalau pohon-pohon ga punya akar Ayah?” tanya Selina.

“Pohon-pohon akan tumbang.”

“Kenapa mereka tidak terbang pergi saja Yah?” katanya lagi.

“Andai saja mereka bisa begitu, Sayang. Masalahnya, mereka tidak bisa mengubah sifat alami mereka. Mereka telah tertanam kuat-kuat di tempat mereka tumbuh dan dibesarkan.”

“Oke cuma itu saja yang abang ingat.”

“Ayo mantan bodigat penyanyi dangdut, lanjutkan perjalanan,” kata Yon kepada sopir.

**

MOBIL bergerak meninggalkan Selina. Di belakangnya hutan yang lebat seakan miliknya lewat tanda foto yang dipajang itu. Fredi merokok.

“Jangan merokok, Bang,” kata Acep, melarang.

“Lihat Bang, foto Selina ketemu lagi terpajang. Dia masih tersenyum.”

Hujan turun dengan lebat. Kami masuk daerah sepi. Di depan kami tampak banyak orang berdiri di tepi jalan. Mobil-mobil sebelum kami tampak berderet menghentikan perjalanan.

“Kita berhenti saja dulu,” kata Yon. “Coba tanya apa yang terjadi.”

Karyono turun berpayung. Kulihat dia mendekati orang-orang yang berkerumun di tepi jalan.Tidak lama kemudian Karyono kembali ke mobil.

“Ada apa?”

“Ada harimau dalam jebakan penduduk, kata mereka,” kata Karyono naik ke mobil.

“Tunggu. Abang mau lihat,” kataku meminta payung.

“Bahaya Pak. Harimau itu bahaya. Sudah sepuluh orang terbunuh. Diterkam raja hutan itu.”

“Kata kau dalam lubang jebakan.”

“Iya Pak, tapi jauh ke dalam. Bukan di pinggir jalan.”

“Ya sudah. Yang berani ayo ikut bersamaku.Yang tidak berani di dalam mobil saja. Aku mau lihat harimau sumatra yang telah menerkam sepuluh warga itu.”

“Kata mereka harimau itu masuk ke dalam lubang jebakan,” kata bodigat penyanyi dangdut kota Pati itu. Payung kuminta dari tangannya. Yon sebagai tuan rumah tak tega membiarkan aku sendiri. Kulihat dia mengiringiku dengan payung sendiri.

“Hati-hati Bang. Jalan licin,” kata Yon memegang tanganku.

Kami sampai ke banyak orang yang berdiri di pinggir jalan.

“Di mana harimau itu terjebak?” tanyaku.

“Jauh Pak. Di dalam rimba.”

“Berapa jauh?”

“Ya, jauh dan becek. Kita harus menyibak belukar dan nyamuk menemukan makanannya di tangan kita.”

“Ada yang pergi ke sana?”

“Ada. Beberapa orang. Tetapi belum ada yang balik.”

“Kok tahu keadaan jalan ke sana.”

“Begitu yang kita temukan kalau kita masuk ke dalam hutan.”

“Aku mau lihat. Ayo Yon. Kau takut juga seperti sopir mantan bodigat penyanyi dangdut itu?” Aku menginjak kayu bulat melintasi parit jalan. Yon memegang tanganku melintasi jembatan.

“Hati-hati Bang.”

Terdengar kayu berderak menahan tubuh Yon. Dia melompat. Kami telah di seberang jalan. Kami terus berjalan. Hujan menyiram kami. Air mengetuk payung. Kami mengikuti jalan yang sudah dilalui pengunjung sebelum kami. Katak melompat melintasi kami. Cerita yang kudengar induk dan anak harimau itu ditangkap penebang liar yang datang dari luar Jambi. Anak harimau itu dagingnya mereka sate. Kulitnya mereka isi kapas dijadikan boneka anak Harimau. Induknya mereka jual. Harimau jantan itu marah dan menuntut balas. Mereka telah merusak habitat, tempat hidup yang alami. Binatang buas itu tak menemukan makanan mereka lagi.

“Berhenti dulu Bang.” Yon memegang tanganku. Biarkan ular itu naik memburu kodok yang melompat tadi.” seekor ular naik dari tempat kodok tadi melompat. Ular air menguber kodok makanannya. Setelah ular itu menjalar melintas jalan setapak itu, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan licin becek yang disiram hujan. Kami sampai di daerah tandus yang dipenuhi tunggul kayu. Rumput tak tampak menutupinya. Air hujan melintas membawa erosi mengaliri jalan kami.

“Masih kuat Bang? Jalan masih jauh.”

“Ayo terus. Abang tiap pagi jalan pagi. Tidak masalah. Ayo. Sekarang baru Abang merasakan hasil jalan pagi itu. Abang yakin kau yang tak kuat. Tampaknya tempat galian lubang jebakan itu masih jauh.”

Kami membelok ke kiri mengikuti tanda bekas dilalui orang sebelum kami.

“Lihat ke sana Bang! ” Yon menunjuk ke atas. Kulihat ada burung pemakan bangkai berputar-putar beberapa ekor.

“Mungkin di bawah itu.”

“Mungkin.” Kami meneruskan langkah.

“Sudah jam satu.”

“O ya, sebentar lagi gelap.”

“Ah tidak. Masih lama gelap. Waktu Jakarta dan Jambi sama.

“Hati-hati Bang, kita menurun.”

“Ya kita menurun.” Kami berjalan menuruni jalan yang licin. Hujan masih juga turun.

**

KAMI telah melihat banyak orang di bawah sana. Mereka melihat kami. Ada di antara mereka mengangkat tangan. Aku makin semangat melihat banyak orang yang mengalami perjalanan yang sama menuruni jalan setapak ini menuju tempat yang sama. Beberapa langkah yang sama kami sampai ke tempat itu. Mereka menyibak diri memberi jalan. Aku melihat lubang 3 X 4 meter dengan dalam yang tak tampak. Beberapa orang dari sebelah kiri lobang memegang kayu bulian dan tembesi yang kuat seperti kayu ulin di Kalimantan. Kayu itu sudah musnah dicuri para pemilik dana untuk dikumpul berton-ton untuk dibawa keluar pulau sehingga hutan jadi gundul.

Kulihat di dalam air yang keruh harimau yang terjebak ke dalam lubang galian itu telah mati tenggelam, tak bisa diselamatkan mereka dengan menopangnya dengan batang kayu-kayu menahan tubuh binatang buas itu.

“Kami tak bisa menyelamatkannya,” kata mereka.

“Kapan kira-kira harimau ini masuk ke dalam lubang perangkap?” tanyaku.

“Mungkin sore kemarin.”

“Mengapa tidak segera diselamatkan”

“Kami menemukannya dalam sekarat pagi harinya. Kami langsung menghubungi pihak-pihak yang ditunjuk menanganinya kalau binatang buas itu tertangkap.”

Kulihat bagian tanah bekas cakarnya untuk dia naik ketika dia masih mengapung. Hujan turun membasahi hutan yang gundul. Curah hujan mengikis tanah dan terjadi erosi, kikisan permukaan bumi oleh pengangkatan benda-benda memadatkan permukaan tanah, air begitu cepat mengalir masuk ke dalam lubang jebakan. Perlahan air naik membasahi kaki, perlahan hingga sampai lutut dan perut. Air telah mengangkatnya dan dia saat mengapung merangkul permukaan tanah yang lunak. Begitu dia lakukan mencakar permukaan tanah sampai dia lelah dan kehabisan tenaga dan mati terkulai. Tak ada yang menolongnya.

“Kami datang pagi harinya, dia telah terbenam, mati.”

“Tak ada di antara kalian yang datang menopang tubuhnya agar tidak terbenam?”

“Kami telah melakukannnya. Kami masukkan beberapa batang kayu bersilangan untuk menahan berat tubuhnya agar tidak tenggelam.”

“Malah kami telah mengangkat kepalanya untuk dia bernapas. Tapi kami terlambat. Air begitu deras masuk ke dalam lubang. Kami telah melakukan hal yang sia-sia.”

Kulihat binatang buas itu telah terbenam dan burung-burung yang berputar-putar di atas telah mencium kematian itu.

Kami pergi dari situ. Yon mengetuk pintu mobil. Mereka terbangun.

“Sudah pulang?”

“Ayo jalan. Nanti kita kemalaman. Jalanan kita masih jauh.” Mobil kami bergerak. Tempat itu telah sepi. Kedua arah tempat mobil diparkir telah kosong.

“Selina, Bang!” kata Yon menunjuk foto yang dipajang di pinggir jalan.

Hujan masih terus menderas membasahi foto yang dipajang di pinggir hutan itu. Kulihat curah hujan jatuh menimpa mata Selina. Air hujan itu mengalir dari sudut ujung matanya membasahi celah pipi dan hidungnya terus mengalir melintasi bibir dan jatuh ke dagu.***

Jambi 2009

Komentar