Langsung ke konten utama

Melirik Sajak “Perjalanan” Charles Baudelaire

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=480


Aku tak pernah mengukur suhu tubuhku dengan alat ukur. Namun dapatlah terasa, sebab telah akrab membawaku kemana pun pergi. Hampir beberapa hari ini aku tidak menulis, hanya perbaiki tulisan lama yang belum tegak berkaki-kaki kefitrohan sebagai hasil cipta.

Betapa kejiwaan tiada lepas kondisi badan, pun tidak bisa diabaikan jalinan pencernaan, yang membentuk karakter menentukan tapak-tapak langkah bathin pula yang wadak.

Yang mengintriki timbangan nasib mengakibatkan sepyuran air di depan cahaya menghasilkan lengkung pelangi, meneguhkan corak yang tengah direngkuh bersama bayang-bayang harapan.

Alam puitik sewujud uap naluri, yang peka perasaannya memandangi lelingkup sehari-hari. Mencerna lewat perenungan dalam, mengkombinasi antara materi pula yang non materi tergayuh keyakinan musti.

Keimanan bergumul dalam tungku peleburan realitas goda mencipta sesosok gagasan, atau layang-layang ditarik ulur benang-benang hawatir terus-menerus.

Ada merekah selaksa pecahnya mentari fajar di ufuk selat kemungkinan, ini seharusnya dikejar angin berkabar kesembuhan. Selesung pipit bersenyum sumringah sedari kungkungan rapuh jasad lusa.

Tidakkah peristiwa sakit serupa mengaduk bahan merekatkan lem pada kertas-kertas yang hendak dibuhulkan buku. Pula letak penyeimbang bacaan dengan yang ingin menyimak nyanyian masa depan.

Ketika menulis berkeseluruhan jiwa, terpesona tidak terkira. Ketakjuban menyerupai tangan tengada, bukan pengemis meminta. Ada jerih ikhtiar lenguhan gelisah berharap-harap cemas berkesaksian mendung bergelayutan sehitam arang, tetapi tidak juga hendak menurunkan geraian hujan.

Dia rekatkan kebetulan-kebetulan waktu demi mendukung yang diidamkan. Bersama sentakan hebat, lahirlah yang musti dirapal. Mantra tiba-tiba meluncur sedari mulut keserupan, dalam kejiwaan dirupai kemenjadian lebih daripada realitas.

Yang dituliskan sekadar menyampaikan kesaksian, tidak hendak mengguratkan tekanan urat syaraf di luar pandangan. Terkesima suara wewarna perubahan menyertai, terbentuklah alam kalimah panggilan terbaca. Diteruskan paduan nada, hukum keindahan menyetubuh mereka bersapa di atas kedudukan mempesona.

Puisi itu kumpulan padat waktu persilangan ruang peristiwa diendapkan, dileburkan ke dalam harmoni musikal dipunyai. Awal semangat mulanya pancaroba dari padatan mencair jelma hembusan bayu nyanyian.

Olehnya, penyampai patut rela kondisi apapun bergojalak demi melayarkan kata-kata, bergulung menggelombang membenturkan tubuh ke batuan karang keangkuhan; waktu-waktu kebodohan, sambillau merasa terhibur pantai emas kejayaan.

Namun menaik-turunkan melodi kecantikan, memandang sedari kejauhan berkedip terdekat; kalbu tertambatkan kilauan puitik yang ditenggak jiwa-jiwa merdeka, atau para pencari dari generasi setelahnya.

Lantas ditinggikan hasil iktisarnya atau setiap kata yang terbilang puisi, kumpulan capaian sudut kemilau tersendiri. Bilangan cerlang dipantulkan, kelembutan bersimpan kharisma masa, pamor ruang abad-abad ditelusuri.

Maka cahaya kepenyairan menyerupai jalinan sukma kenabian yang selalu ada di setiap jaman, turun-temurun mengikuti gejolak bangsa yang terkandung dalam dirinya.

Atas itu, pribadi penyair bukan hasil dicetak, namun yang terbit dari kesetiaan menggelandang melakoni hayat mencahayai sesama. Ini tanggungan umur diterima anugerah hidup pada perasaan berlipat kepekaan. Jikalau tidak melaksanakan, tertutuplah pepintu siratan yang membenderangi hidupnya.

Menyerupai kebuntuan akal, daya jangkaunya ketul tidak setajam parang diasah, tiada melahirkan rutinitan purnakan kedalaman bathinnya. Jadi batu-batu gesek perasaan dipegangnya (:prinsip), memercik kilataan menandai gairah dari tingkatan sedurungnya.

Menambahkan tekstur tulisan ini lebih kentara, serta nafas-nafasnya pada bentukan akhir. Marilah simak sajak Charles Baudelaire, bertitel
LE VOYAGE / PERJALANAN:

Maut, nahkoda tua! Sudah waktunya kita bertolak
Betapa jeleknya negeri ini, O Maut! Pasang layar!
Walau langit dan lautan hitam bagai tinta
Jantung kita mencat sinar-sinar merah berpijar

Curahkan racunmu atas kami agar kami tawakkal
Oleh sebab api ini terlalu membara dalam kepala
Kami akan menyelam ke dasar lautan, Surga atau Neraka
Ke daerah tak dikenal, di mana Yang Baru
menghembus dari hadapan.

[dijumput dari buku Sajak-Sajak Modern Perancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, Pustaka Jaya, cetakan kedua, Januari 1975].

Sang penyair diberikan kesaksian melampaui jamannya, memerindingkan penyaksi. Di mana perjalanan hidup, nasib bumi tua keriput, bakal bertolak menghadap kehadirat Maut.

Layar-layar kudu dikembangkan lekas sebelum disergap pemangsa, meski bayangan buram sehitam tinta menyamudra, oleh awan-gemawan kelam di atasnya memayungi perasaan was-was.

Tetaplah jantung mencerna kejadian menyiratkan sinar merah, memantulkan pijaran cahaya menantang yang bakalan tiba; racun kebinasaan, takut mencekam-menekan diharapkan tawakalnya menebal.

Api menyala di kepala menghanguskan fikiran tinggal intuisi semata, menyelam ke dasar ketakmungkinan, kebahagiaan dan celaka. Daerah asing paling wingit yang dulu dongengan bagi tidurnya anak-anak srigala, sehembusan bukit-bukit tua menghadapkan diri penuh percaya.

Menyerap segenap kejadian ditatanya membentuk tumpukan bebatuan waktu. Luka-luka jemari, kalbu lembut memar dipukuli masa, disayat-sayat peristiwa kian matang memaknai akhir maut tidak tergoyahkan.

Kejatuhan musti, batang kata-kata dilahirkan takdir benderang keyakinan, dia curahkan jiwa yang papa demi terbukanya hijab yang menyelimuti selama ini. Menginginkan kenyataan dirindu, serta telah lama ditinggalkan goda ayunan timbangan masa lalu.

Jikalau terjerat hukuman mati, berharap lekas dipenggal lehernya demi menuntaskan pandangan dunia yang tidak saling memberi makna, kecuali jatuhnya embun pengadilan.

Demi kedatangan benar-benar merasai, betapa yang dipanggul selama ini padat mendebar setiap waktu. Menyusuri jalan pedaskan mata, menulikan telinga, sampai perjalanan hidupnya kepada Kuasa segenap alam raya.

Insan penyair mengindit beban tambah lama memberat sebab tanjakan. Kala sampai tujuan akhir, bukan kecewa. Dia peroleh kesaksian lebih, telah tertembus lapisan yang ada dan tembuslah lelapisan tiada.

Menyusuri lorong tidak ditemukan jalan lain. Ini bukan berbicara batas kemampuan tetapi dunia terhampar telah menyatu dalam diri. Ialah ingin lenyap bersama, tertimpa cahaya di tengah malam tepat mengenai tubuh terlentang, lantas diperoleh kenikmatan ganjil yang tidak dirasai sebelumnya.

Seperti batasan lidah mencecap rasa, maut diterima rela. Seorang hamba terpesona, segera mendatangi panggilan petir gemawan. Memerindingkan dedaunan bayu, mengangkat tingkatan rahayu dalam keseluruhan bathin penyampai kepada Sang Penghulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).