Langsung ke konten utama

tentang Neo Pujangga Baru (dari Nirwan Ahmad Arsuka)

NB: nirwan arsuka, aku baru pulang dari acara Hut Apsas ke-4 di Jakarta, jadi gak sempat menjawabmu. aku gabungkan semua postingmu tentang Neo Pujangga Baru-ku itu di sini biar enak membaca dan meresponnya. aku kirimkan ini ke kau. silahkan kau tag siapapun yang kau inginkan ikut diskusi ini. aku juga akan melakukan yang sama. cheers!!! http://www.facebook.com/note.php?note_id=62953009697

1.
terima kasih, Saut. perumusanmu tentang “neo-pujangga baru” yang kau kecam itu cukup terang: meski pun belum tentu tepat, setidaknya ia memudahkan diskusi.

paling tidak empat kata atau frasa pokok yang bisa dipakai sebagai batu penjuru diskusi: pujangga baru, atavisme diksi, keindahan/labirin bahasa, dan mannerisme.

pujangga baru, angkatan … yang dianggap memulai sastra/bahasa indonesia modern ini jelas bukan kelompok yang seragam. dan kalaupun sejumlah tokohnya tampak kelewat asyik dengan yang “susastra” (apa yang keliru dengan keasyikan ini?), itu tak lantas membuat tulisan mereka jadi obskur. Takdir jelas menulis dengan sangat terang. kadang saking terangnya, tulisannya jadi “monokrom.” Amir Hamzah pun menulis dengan benderang. puisi-puisinya masih sulit ditandingi, bahkan sampai hari ini.

point pertama saya adalah: penamaan neo pujangga baru ini kurang tepat: ia berlaku tidak adil pada pujangga baru. sebaiknya kau carilah nama yang lebih kena, kalau sanggup.

=============

SS: pertama, adalah salah besar untuk mengatakan bahwa Pujangga Baru “dianggap memulai” sastra/bahasa indonesia modern! (juga siapa referensimu di sini, nirwan? kok gak kau sebutkan!) Periodesasi Sastra Modern Indonesia, secara formal, selalu dimulai dari Angkatan Balai Pustaka dalam semua pelajaran Sastra Indonesia terutama di dalam Indonesia sendiri. kalokpun mau eksentrik pandangan sejarahnya maka sejarah sastra Indonesia itu TIDAK PERNAH dimulai dari Pujangga Baru tapi dari para Pengarang Melayu Pasar ato Melayu Linguafranca menurut istilah Pram.

pemahamanmu yang kacau atas sejarah sastra Indonesia ini tentu telah melukai sisa tulisanmu di bawah. tapi baiklah akan aku jawab jugak mana yang aku rasa relevan.

kedua, dalam poin pertamamu ini aja kau udah jatuh dalam apa yang Kaum Kritik Baru namakan sebagai “the fallacy of paraphrase”. kau tergantung pada parafrase, bukan pada elaborasi detil, waktu membuat klaim-klaimmu seperti “Takdir jelas menulis dengan sangat terang. kadang saking terangnya, tulisannya jadi “monokrom.” Amir Hamzah pun menulis dengan benderang. puisi-puisinya masih sulit ditandingi, bahkan sampai hari ini.” mana bukti dari asersimu tentang STA dan Amir Hamzah ini, terutama tentang masih sulitnya menandingi puisi Amir Hamzah sampai hari ini itu!!!

ketiga, istilah “neo pujangga baru”KU itu masih sangat relevan walo aku masih belom menjelaskannya di sini. aku cuma mau bilang, sanggahanmu belom ada! kerna, data-datamu gak ada!!!

=================

2.
soal atavisme diksi itu — betul gejala ini terlihat di sejumlah nama yang kau tunjuk itu. tapi ini bukan gelaja tunggal. orang-orang itu tak cuma sibuk menggali kosa kata lama, mereka juga berupaya menyerap dan mengindonesiakan yang asing. rumusanmu itu cuma menangkap satu sisi dari sebuah upaya yang bersisi ganda. menggali yang lama, menghidupkan… kembali kekeayaan tradisi yang nyaris dilupakan, sambil menyerap ungkapan yang tumbuh dari luar; gejala ini tak bisa disederhanakan sebagai atavisme diksi belaka. lebih tepat jika disebut sebagai upaya pengayaan bahasa, perluasan kemungkinan-kemungkinannya. bahwa dalam berbagai percobaan perluasan kemungkinan bahasa ini, ada yang gagal dan ada yang berhasil, itu tentu soal biasa saja.

kau mungkin bisa menderet percobaan mereka yang gagal, tapi bagaimana dengan percobaan yang berhasil?

==============

SS: seandainyapun “rumusanku” tentang Neo Pujangga Baru kaum TUK itu “cuma menangkap satu sisi dari sebuah upaya yang bersisi ganda”, itu sudah membuktikan bahwa istilahKu itu tepat, bukan! ada barangnya, bukan omong kosong doang! satu sisi yang aku tangkap itu sudah cukup untuk mensahkan pemakaianKu atas istilah ciptaanKu itu: Neo Pujangga Baru.

kau terlalu banyak menuntut tapi kau sendiri malas bekerja! aku sudah berikan ke kau yang kau mintak kan: definisi plus contoh barang. sekarang giliran aku dong yang nuntut kau: mana buktinya bahwa percobaan kaum TUK itu “berhasil”? silahkan tunjukkan!!!

soal memperkaya ato memperluas kemungkinan bahasa yang kau sebutkan itu, aku gak peduli! chairil anwar sudah membuktikan betapa Proyek Eksotisme Bahasa oleh para Pujangga Baru ternyata kalah jauh efek estetis dan historisnya dalam sejarah Puisi Modern Indonesia. buktinya: gak ada lagi orang yang menyebut dirinya “Penyair Indonesia” menulis kayak STA, kayak Amir Hamzah!!!

==============

3.
jika ada yang mengaitkan semangat pujangga baru dengan upaya literer orang-orang yang kau sebut kaum TUKulis itu, maka itu adalah pada pengembangan bahasa indonesia sebagai bahasa modern, perluasan kemungkinan-kemungkinan bahasa yang disadari terbatas namun hendak berdialog dengan yang tak terbatas (misalnya pada Amir Hamzah). upaya literer … pujangga baru itulah, dengan segala keberhasilan dan kegagalannya, yang ikut membuka medan yang kemudian digarap lebih jauh, sangat jauh, oleh Chairil Anwar dan kawan-kawannya, juga oleh kita semua yang menulis dalam bahasa indonesia. tentu bukan hanya pujangga baru yang berperan di sini, tapi peran mereka jelas tak bisa disepelekan. jadi, ketimbang sebagai kecaman, sebutan neo pujangga baru itu justru terdengar sebagai sebuah pujian, penghormatan. jangan-jangan memang penghormatan ini yang kau maksud?

=============

SS: jangan terlalu banyak memakai parafraselah! istilahKu “Neo Pujangga Baru” itu jelas merujuk ke elemen “pujangga baru” yang diusahakan dihidupkan kembali oleh mereka, yaitu elemen “keindahan bunyi” seperti yang aku tuliskan ke kau itu. elemen “bunyi” tentu saja penting dalam Puisi, begitu juga elemen “gambar”. lihat eseikU: “Tradisi dan Bakat Individu” di buku kumpulan puisi keren “otobiografi”, hehehe… gak apa-apa kalok ada sekelompok poetaster pengen nulis syair kembali di abad 21 ini! aku sendiri kan gak bilang mereka tidak boleh toh!!! dan gak ada yang menyepelekan kaum Pujangga Baru di sini! entah dari mana kau dapat ide menarik itu, hahaha…

kalok gak silap, hehehe… (fraseKu ini intertekstual loh ke teks lain!) aku cuma membuat istilah “Neo Pujangga Baru” untuk kaum TUKulis itu, dan aku udah berikan alasanKu. nah, kenapa kau tiba-tiba seakan-akan seolah-olah melihat bahwa aku MELARANG mereka jadi Neo Pujangga Baru! apa kerna justru kaulah yang beranggapan bahwa istilah “Pujangga Baru” dalam “Neo Pujangga Baru”Ku itu “negatif”! justru kau yang anti “Pujangga Baru” despite “pembelaanmu” di atas!!! oksimoronisme ini namanya, hahaha…

=============

4.
kemudian soal keindahan berbahasa dan kedalaman makna. bagimu, labirin keindahan kata-kata dengan sendirinya akan menghasilkan makna yang dangkal dan menyesatkan. lagi-lagi ini penarikan kesimpulan yang lemah. tidak dengan sendirinya untaian kata yang indah memustahilkan kedalaman makna, menyembunyikan kebenaran. begitu juga, tak dengan sendirinya … untaian kata yang tidak ingin berindah-indah, akan otomatis membawa kedalaman makna, meyibakkan kebenaran. tentu saja ada hubungan antara untaian kata dan bangunan makna, kebenaran dan kedalamannya, tapi hubungannya bukan hubungan yang lugu seperti yang kau siratkan itu.

ringkasnya: orang bisa saja menyusun kata yang indah dan tetap dalam maknanya, bahkan membentuk makna baru; seperti halnya orang juga bisa menata kalimat yang lugas tapi maknanya dangkal-dangkal saja, miskin dan ngawur bahkan.

============

SS: kapan aku bilang bahwa “labirin keindahan kata-kata dengan sendirinya akan menghasilkan makna yang dangkal dan menyesatkan”?! ini yang aku tuliskan ke kau:

“neo pujangga baru itu adalah mannerisme obsesif kaum TUKulis atas avatisme diksi. spt kaum pujangga baru yg obsesif dgn ’su’sastra, kata2 ‘indah’ dlm retorika ‘indah’, begitu pulalah kaum neo pujangga baru ini. grammar menjadi begitu penting hingga kebebasan kreatif lisensia puitika diharamkn. para grammarian sastra ini mengganti ganti diksi kontemporer dgn yg obskur demi keindahan bunyi belaka, bukan demi memprdalam makna.

labirin ‘keindahan’ kata (kata2 arkaik n obskur dipake dgn keyakinan akn membuat tulisan jadi agak abstrak,punya efek distancing atas pembaca) diharap menimbulkn kesan ‘intelektual’ pada tulisan! catatan pinggir, esei n sajak GM, prosa ND, sajak Sitok, n prosa AU sangat kental dgn mannerisme ini.”

catatanKu: kerna belom diedit, istilah “atavisme” jadi “avatisme” di atas. salah cetak Penerbit Facebook! hahaha…

neo pujangga baruisme TUKulisme bersifat anti-lisensia puitika dalam Sastra Indonesia, seperti yang selalu dilakukan Nirwan Dewanto waktu membahas karya sastra orang Indonesia. misalnya: soal “logika bahasa” yang dia bilang rusak ato semacamnya itu pada Puthut EA. “logika bahasa” di sini kan sama ama Grammar! jadi BUKAN Logika Sastra yang dia bela, tapi Logika Grammar! karya Sastra HARUS taat Grammar bahasa baru dianggapnya karya Sastra!!! goblok banget pendapat ini kan, hahaha… liat aja judul buku kumpulan prosanya yang diklaim sebagai kumpulan “puisi” itu: Jantung Lebah Ratu. kalok kita ikutin argumen dia (kalok dia memang setia pada omongannya sendiri!) maka secara Grammar bahasa Indonesia judul bukunya itu mestinya: Jantung Ratu Lebah. nah kenapa ketidakkonsistensian ini? apa alasannya? bisa kau bantu jawab?

================

5.
tentang mannerisme dan obskurantisme itu, meski bisa saya tanggapi, tapi saya kira akan lebih baik teman-teman TUK itu yang menjawab/menyanggah.

bagaimana kalau “obrolan… ini aku taruh di note-ku, lalu aku tag kawan-kawan itu ? biar diskusi kita lebih enak, agak mendekati dikit pertukaran pemikiran dari angkatan pujanggan baru teralu kau sederhanakan itu. aku lihat di hut ke-4 APSAS kau dan sitok sudah salam-salaman. setuju ya?

atau kau ingin merumuskan ulang, merevisi dan mempertajam dulu pendapatmu ini?

============

SS: kenapa kau menolak membantu teman-teman TUKmu itu menjawab soal mannerisme yang kumaksud! bukankah yang kau lakukan di sini ini pun sudah merupakan sebuah jawaban/sanggahan atas nama teman-teman TUKmu itu kan, jadi kok tiba-tiba jadi memble?!

bukan aku yang HARUS merumuskan ulang, merevisi dan mempertajam pendapatKu, nirwan, tapi kaulah!

aku salam-salaman ama yang namanya sitok itu bukan berarti aku udah “Peace, Brother!” dengan dia ato kelompoknya! itu cuma menunjukkan betapa besar jiwa seorang penyair Saut Situmorang!!!

hahaha…

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com