Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
PESAN YANG TAK LAGI KELABU

perahuperahu telah ditambatkan
membujur ke arah matahari tenggelam
tapi angin belum selesai dengan rambutmu
sehelai yang terlepas nyangkut di wajah

dan aku akan selalu menunggumu
barangkali kau akan bertanya dan mencari
atau sekedar bertegur sapa sambil tertawa
meninggalkan butir garam pada jejak kaki

jangan kau hilangkan sayang
simpan baikbaik hurufku dalam kitabmu
bacalah berulang yang warnanya merah
yang seringkali bikin rindumu membiru

begitulah engkau setelah basah oleh laut

sebagian kangen akhirnya menemu jawab
dari sehelai rambut hitam panjang

yang kali ini pelahan menjerat leherku

29.05.2010



PURNAMA MEMUTIH

mesin lampulampu
kota yang riuh meriah
di atas motor menuju rumah
terbatukbatuk nyaris muntah

di teras sehabis mandi
rembulan tampak bersih
lama kita saling memandang
tenggelam dalam secangkir kopi

langit luas dan lapang
begitu tenang menelan kita
yang sedang kepengin sendiri
diam saling menemani

langitlah engkau kekasih
purnamalah kita

29.05.2010



SORE SEHABIS HUJAN

semoga laut masih terasa
lebih asin dari airmatamu
agar ketika menggarami masakan
aku tak harus membuatmu menangis

dan sajian malam ini
adalah sepiring besar nasi
meski tak jelas hasil jerih payah siapa
tapi yang pasti diperuntukkan bagi kita

juga sebotol air susu
terperas dari payudara yang makin keriput
warnanya yang tadinya seperti santan
kini semakin mendekat ke ungu bukan

bikin seluruh bagian tubuh
kemudian punya mata
dan nyaris mampu membaca apa saja
lalu menukarnya dengan mimpi
yang serupa harapan

duhai sepertinya
ada beberapa huruf di sebalik dada
masih menunggu untuk dieja

26.05.2010



TELAH SEMINGGU DIKENAKAN

inilah mata telanjang
siasia menembuskan pandang
kabut kali ini begitu tebal
seperti jubah panjang menutup
nyaris hingga ke mata kaki

baru selangkah dua jatuh terkapar
pada rimbunan belukar
yang telah lama kangen
pengin menjadi jalan bagi pengembara

satu arah mesti ditempuh
ketika telah ditemukan
meski baju celana telah lengket
dan tubuh nyaris tinggal tulang

tibatiba angin merah muda berdesir
ekornya yang setajam pisau
menggoreskan aroma yang tak asing
darahmukah yang berabad lalu netes
dan menggenang di sini
yang amisnya menuntun para petarung
menetapkan hati

duhai
yang mukim di peradaban
di ruang gemerlap dengan etalase
segala rupa benda yang pupur
sejengkal menuju ke liang
ke arah pulang
arah yang selalu diucap berulangulang

sepertinya memang harus melata
merangkak di hirukpikuk kota
di antara derap kaki tanpa mata
sambil tak henti berdendang
agar tak cepat bosan
agar tetap dianggap sebuah kegilaan

detik berdetak menit bergerak
jam ke jam
siang dan malam
hingga sampai ke akhir pekan
ke persinggahan saat hari hujan

sayang
sudahkah engkau mencuci pakaian

22.05.2010



TELAH MENJADI REJEKI

semalam bercinta denganmu
sembari membaca telapak kaki
dan teringat cerita lucu
yang selalu bikin terpingkalpingkal
saat persetubuhan telah melewati puncaknya

kau lenyap dalam jarak pandang
menjelma tarian yang hadir
bersama gending malam
menyelinap di tiap detak di tiap nafas
pekat dengan aroma melati dan kamboja

mengajakku pulang

rasanya seperti bertahun mengalir
lalu menjadi sederhana
menjadi sepasang noktah
yang sangat biasa apa adanya

bersama sebatang rokok dan secangkir kopi
aku di sini menjumpaimu
berbincang tertawa dan terus menyanyi

hingga lunas janjijanji

21.05.2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com