Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bersisik, dan mungkin bisa berenang. Naga bukan ular bukan burung bukan ikan, atau salah satu dari mereka, tapi sekaligus semua. (Hal. 196)

Lalu bagaimanakah jalan ceritanya? Agaknya disinilah masalah dan sekaligus kekhasan novel ini. Ia tidak memiliki plot narasi yang ”memikat” atau heroik lazimnya karya-karya sastra (prosa) lainnya seperti Cantik itu Luka (2002) karya Eka Budiawan, Ode Untuk Leopold von Sacher-masoch (2002) karya Dinar Rahayu, Saman dan Larung-nya Ayu Utami, Supernova-nya Dee, Tambo-nya Gus tf Sakai—untuk menyebut beberapa novel Indonesia mutakhir.

Membaca Cala Ibi mengesankan betapa samar dan remangnya distingsi antara prosa dan puisi yang selama ini dilekatkan pada dunia sastra. Cala Ibi bukan prosa, bukan pula puisi, tapi barangkali sekaligus keduanya.

Novel ini berkisah tentang satu tokoh dalam dua dunia yang berbeda. Saat pagi telah menjelma, maka ia bernama Maya, memulai kesibukannya layaknya wanita karir di Jakarta. Namum bila malam telah jatuh, namanya bukan lagi Maya tapi Maia.

Dalam malam–malam itulah Maia dibawa sang naga (Cala Ibi) menembus batas ruang dan waktu, mengarungi lautan mimpi tak bertepi.

Di suatu tempat entah abad berapa di tanah leluhurnya, Maluku, Maia melihat terang yang paling nyalang: sang dukun perempuan di perbukitan Tobana. Namanya Bai Guna Tobana.

”Ubun-ubunnya melepas melempar keluar sebuah tafsir, yang belum pernah ada sebelumnya. Mo-loku: perempuan-genggam.

Sebuah keadaan, tindakan, pikiran, kenangan, harapan, perubahan, kesaksian, keabadian: pemakanaan. Moloku, genggaman perempuan, genggaman atas tanah. Kuasa atas tuah tanah. Ia berhenti dimakna ini, tak ingin menguraikan lagi” (hal. 55).

Demikianlah Maia mengarungi dunianya bersama Cala Ibi. Dalam petualangan yang tak berakhir bahkan dengan berakhirnya novel ini sekalipun, Maia kemudian bertemu dengan sosok-sosok misterius lainnya seperti Ujung dan kekasihnya Tepi yang kemudian melahirkan tangisan seorang bayi dari sebuah persetubuhan yang singkat, dalam kabut pekat.

Yang menarik sebenarnya adalah cara penceritaan Nukila yang simbolik, kompleks, dan syarat dengan permainan kata. Diramu dengan bahas-bahasa liris, padat dan metaforis membuat novel ini demikian rumit dan menguras pikiran.

Namun begitu, Nukila memang berhasil melukiskan ”tumpah rauh” makna dari pengalaman manusia yang memang tak sederhana, berhasil menunjukkan bahwa pengalaman manusia itu sesungguhnya tak logis, tapi metaforis seperti mimpi.

Pada bagian pertama Bapak menamaiku, Ibu memimpikanku, novel ini diawali dengan cerita biografis tentang asal asul Maya. Dari keseluruhan cerita tentang kehidupan Maya di Jakarta, Nukila mengunakan kata ganti orang pertama ”aku” untuk subyek Maya.

Namun pada bagian lain ketika Maya telah berubah nama menjadi Maia, maka Nukila secara mengejutkan menggunakan kata ganti orang kedua ”kamu atau kau” untuk subyek Maia.

Sekedar contoh Nukila menulis demikian: ” Kau tersentak dari tidur. Mendengar bunyi nafasmu sendiri, detak jantungmu, tak teratur. Matamu membuka menatap kamar, masih gelap. Maia…” (Hal. 28).

Demikian seterusnya novel ini mengalir, bolak balik antara Maya di siang hari dan Maia di malam hari, Maya yang bermimpi menjadi Maia, dan Maia yang resah, menunggu terbitnya pagi sempurna: ”jika semua adalah metafora, lalu bagaimana dengan kenyataan”? Pertanyaan inilah yang selalu mengusik pikiran Maia.

Melelahkan, demikianlah kesan yang muncul ketika membaca novel ini. Sejumlah kritikus, seraya mengakui rumitnya mencerna karya ini, melihat bahwa debut perdana Nukila ini berhasil menyuguhkan nuansa baru dalam penulisan novel di Tanah Air. St. Sunardi misalnya, dalam salah satu ulasannya Bila Kata Menjadi Peristiwa…!? secara optimistik menilai bahwa munculnya teks Cala Ibi dapat menjadi pemacu munculnya novel des idee di Indonesia yang sangat dibutuhkan untuk pengendapan wacana-wacana teoritis dalam ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan saat ini.

Menurut Sunardi, bahasa yang dilahirkan Cala Ibi lebih dekat dengan bahasa filsafat dari pada bahasa sastra. Di samping mirip dengan Candide karya Voltaire, Cala Ibi juga mirip dengan Nousea-nya Sartre yang juga berdiri di ambang filsafat dan sastra.

Bahkan, ketika menafsirkan perkataan Maia: ”pada mulanya adalah bukan kata, tetapi rasa” (Hal. 224), Sunardi melihatnya sebagai bunuh diri sastra, yaitu membunuh sastra dengan pisau teologi. Rasa telah mengubah mimpi menjadi mimpi.

Nada yang sama juga dikemukakan Sapardi Joko Damono dalam suatu acara bedah buku Cala Ibi awal Juni lalu di UIN Jakarta. Cala Ibi menurut kritikus sastra Universitas Indonesia (UI) ini dapat digolongkan ke dalam sastra modernistik.

Sudah umum diketahui bahwa sastra modernistik di tangan para ”penggawa”-nya seperti Robert Musil, Marcel Proust, Andre Gide, Virginia Woolf dan yang lainnya datang memproklamirkan konsep estetika mereka yang terkenal, yaitu L’art Pour L’art (seni untuk seni).

Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap tradisi realisme. Perhatian mereka terhadap realitas sosial (objektif) dianggap sebagai penyalahgunaan seni.

Karena itu, menurut pandangan kalangan modernis ini, masalah sosial harus ditangani dengan jalan lain, bukan dengan seni Betapapun pentingnya dunia nyata, seni seharusnya membawa pembebasan dari realitas yang menyesakkan, persis seperti kata Maia: ”mencari indah dalam buruk rupa dunia”.

Andaipun Cala Ibi lahir dari rahim tradisi modernisme yang melihat seni bukan sebagai mirror of nature, akan tetapi agaknya penting melakukan penelitian lebih lanjut terutama tentang makna-makna dari sekuen-sekuen historis yang dipaparkan Maya tentang Maluku: juni 1999, oktober 1999, januari 2000 ketika ”Idul Fitri datang muram di awal bulan.

Tanpa Pemaafan…Manusia beramai-ramai menghabisi diri, dalam mati syahid yang tak kumengerti.” (Hal. 213), maret 2000, dan april 2000 dalam novel ini.

Last but no least. Lepas dari apakah teks Cala Ibi dapat diterima atau tidak oleh khalayak umum atau publik sastra secara khusus, sepertinya relevan mempertanyakan sosok Cala Ibi sebagai ”mencari Indah dalam buruk rupa dunia.”

Dimanakah keindahan di tengah realitas sosial yang tidak beres? Masih adakah yang indah di tengah puing-puing reruntuhan konflik? Atau jangan-jangan hal seperti inilah yang dicemaskan oleh orang semacam Theodor Adorno yang mengatakan: ”menulis puisi setelah auschwitz adalah tindakan barbar.”

*) Penulis adalah peminat sastra, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta.

Komentar