Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/
DUA PULUH LIMA tahun yang lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai, berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu, sebagai pamasok pabrik gula di M -- yang sengaja dibuat pemerintah kolonial Belanda, untuk menguras kekayaan alam C dengan memanpaatkan rakyat yang lebih suka mengalah -- hampir satu abad lampau. Maklum, dua puluh lima tahun lalu, yang namanya jalan kampung kami itu masih berupa setapak, yang melintas di atas saluran di atas empat batang kelapa yang dibaringkan berjajar begitu saja.
Tepat di mana pos kamling kini berdiri dulu tumbuh sebatang cangkring, yang gapuk dan sudah doyong miring ke setapak. Di bawah perakarannya ada rongga yang terbentuk dan menampung menampung buangan air sawah dan bermuara ke irrigais -- yang saat itu belum diberi sempadan tembok penguat. Katanya, di sana bersarang ular hitam buntung, bersama ratusan lele yang sesekali ke luar geronggang dan berkecipak bagai menantang dipancing. Tapi tak seorang yang berani menangkapnya, karena ada ular hitam buntung sehingga pohon cangkring itu dianggap wingit -- selepas Magrib tidak ada orang yang berani mendekatinya. Dan kalau lele itu mijah, menarikan gairah mau kawin, orang-orang kampung hanya berani memancingnya di siang hari, itu pun dengan melampar umpan berkail dari seberang.
Hasilnya, lumayan untuk lauk makan. Terutama ketika musim penghujan sudah memuncak dan pekerjaan di sawah dan ladang tebu tuntas, atau saat kemarau beranjak memuncak saat sawah dipusokan dan daun tebu di ladang baru mengering sebagaian -- sebagai pertanda siap dikoyak menejalang panen lima sampai enam minggu lagi.
* * *
SAMPAI sekarang orang-orang kampung selalu datang ke saluran. Menurunkan tangga kayu yang cuma memiliki dua undakan ke saluran, menyandarkan pada miring sempadan berlepa beton kering dengan permukaan paruh pecahan batu kali, lantas si bersangkutan menurunkan celana dan bertengger pada undakan pertama atau kedua -- tergantung permukaan air -- sambil tangannya memegang pathok yang ditancapkan di sepanjang irigasi. Pathok yang miring -- di sepanjang saluran banyak terdapat pathok semacam itu -- sedang pathok yang tegak dan biasanya jauh dari bibir irigasi khusus untuk mengikatkan tali penyancang kambing.
Dan karena di saluran itu banyak orang yang lewat, ke sawah, mengecek kambing atau kebelet, maka [biasanya] kaum wanita membawa payung yang kemudian dikembangkan dan dijadikan gelembung pengaling ke arah jalur inspeksi irigasi pengairan selebar 2 meter. Tapi pantat mereka terlihat dari mana-mana, dan orang-orang kampung terkadang nongkrong di jembatan -- dulu hanya batang kelapa dan cangkring ranggas -- sambil melihati setiap pantat dengan wajah manis si pemiliknya disembunyikan di balik payung -- bagai burung onta.
Sekarang terpikir, mitos ular hitam buntung itu mungkin hanya dicetuskan kaum ibu sebagai sindiran pada remaja dan bapak yang suka mengobrol di bawah cangkring ranggas di jembatan batang kelapa. Sebuah makian sayang pada fakta mata keranjang kaum lelaki kampung, dan sekaligus satu kesempatan resmi bagi mereka buat unjuk kekuatan menguji pesona seksual mereka dengan mempertontonkan bentuk bulat utuh dan warna kulit pantat mereka. Memang. Di kampung ibu-ibu berbicara tentang sedia payung sebelum bab -- bukan sebelum hujan. Dan sepanjang sore wanita kampung terkadang bagai sengaja bergilir bab. Kecuali yang sudah tua, yang mengalah dengan membiasakan diri setor di pagi buta atau malam hari. Dan banyak orang yang sengaja memberi tahu jadwal bab dari para perawan kampung, agar mereka bisa bergiliran mengawasi dan melihat pantatnya. Kemudian bertukar inpormasi, mengadu fantasi, dan saling mendorong untuk mendekati si pemilik dan berbicara tanpa pengaling.
Dulu, kata para orang tua, orang kampung masih senang mandi di saluran irigasi itu, terutama di musim kemarau ketika air di sana begitu bening dan terasa masih hangat dalam hamparan pesawahan yang dingin berangin. Sekarang tidak ada lagi yang berani mandi di saluran. Maklum, sebelum sampai di kampung kami saluran itu melalui banyak kampung, yang menggerombol jadi kesatuan kota [kecamatan], di mana mereka setia dengan kultur agraris bab di bibir saluran, dan sekaligus sampah rumah tangga dan segala sisa dibuang ke saluran secara terus terang. Lagi pula, rezim otoritarian Orba mengubah kebiasaan agraris alami itu jadi gaya artifisial perkotaan, di mana setiap rumah dipaksa harus mempunyai sumur, kamar mandi dan jamban pribadi, via program Lomba Desa atau planologi kota kecil Adipura -- program yang menuntut partisipasi penuh warga. Dengan program pelebaran jalan tanpa kompensasi ganti rugi, dan celakanya pelebaran dan aspalisasi jalan kampung itu diklaim sebagai -- selain ancang-ancang kampanye yang berikutnya -- manifestasi syukur rezim yang selalu mendominasi DPR/MPR dan didukung rakyat, lewat pemilu semu.
Sampai saat itu: sebagian dari kami masih setia bertengger. Tapi pelebaran dan aspalisasi itulah yang menyebabkan pohon cangkring ditebang -- bersamaan dengan jamban umum dibangun dan tiap rumah dipaksa berjamban dengan gerakan arisan septic tank. Tak ada yang berani menebang sesungguhnya, sehingga kamituo terpaksa turun tangan menebangnya. Kini pohon itu hilang, bekasnya ada di tengah jalan -- gua lele musnah diuruk, lele-lele ditangkapi dan digoreng atau di-bothok, tapi ular hitam buntung tidak ada --, tapi tiga bulan kemudian kamituo itu sakit parah dan meninggal. "Itulah arti peringatan orang tua," kata orang-orang kampung -- dan Syukrun, yang halaman rumahnya tergusur, sinis menyebutnya sebagai pahlawan pembangunan, dan malah mengusulkan agar nama jalan utama kampung kami itu Salkang -- penyesalan hadir belakangan. Tapi kami segera melupakan sinismenya itu, terutama karena kami harus punya pos kamling RT, yang segera saja dibangun di pinggir jembatan, karena kini kami punya pagar beton jembatan untuk duduk berjuntai sampai malam, untuk mengobrol dan tetap mengintip pantat yang membulat separuh bola dan lebih putih dari dari wajah manis dialing payung.
Kini kalau dipikir: Kami akrab sebagai komunitas guyub sekampung karena saling kenal wajah dan pantat masing-masing -- seperti aku hapal pantat istriku sejak kanak-kanak, meski baru di sepuluh tahun tahun terakhir ini itu sah diremas.
* * *
ZAMAN Orba selalu ada instruksi resmi untuk melakukan jaga malam, ronda, terutama kalau mau ada pemilu, sidang umum, atau cuma gertakan tentang gerakan subversif-seperatisme yang menyusup ke daerah, sehingga pos kamling selalu terisi dan orang-orang yang tak kabagian giliran jaga terkadang duduk menemani di pagar jembatan -- sampai jam 23.00, setelah bertengger. Mengobrol. Main catur. Dan sejak sepuluh tahun terakhir ini tidak ada lagi perintah semam itu, dan kalaupun ada orang tidak segan menghindar menolak halus dengan segala alas an tanpa takut dituduh memberontak pada negara. Kini pos kamling dan jembatan jadi tempat remaja yang tidak pergi menggarap sawah, menjadi buruh tani atau menggarap ladang tebu, dan ke pabrik di J, S, dan B. Mereka berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi sampai pagi, menenggak arak oplosan, dan berteriak-teriak mabuk -- bahkan muntah.
Terkadang kami merasa sangat terganggu tapi tak tahu harus berbuat apa lagi --karenanya terpaksa membiarkannya bernyanyi, mabuk, berteriak-teriak dan muntah. Mereka hanya anak yang lepas SMP dan ada satu dua yang lepas SMA, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah mereka lulus dan orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan mereka. Sedangkan kerja, yang cuma dengan mengandalkan tenaga otot tanpa ketrampilan, di kampung dan kota kecamatan C tidak selalu ada -- selalu sudah diambil yang lebih tua dan yang sudah menikah. Masa luang panjang menganggur itu tidak bisa ditekuk dan lunas dengan tidur sepanjang siang -- mereka terjaga di malam hari, terpaksa kembali berkumpul, menenggak arak oplosan dan bernyanyi menyerukan harapan, amarah, sumpek dan putus asa.
Mereka kehilangan motivasi karena kini tak lagi bisa menandai pantat perawan dibalik payung -- karena tiap rumah tangga mapan di kampung punya jamban pribadi -- sementara banyak gadis kampung kami menjadi babu atau buruh pabrik di J, K, B, M, atau S. Dan merekapun terus bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Di sepanjang tahun yang akan cuma bermakna sia-sia sepanjang sisa umur dan karena ulah mereka itu tak lagi membangkitkan rasa marah, malahan makin hari semakin mengiris perasaan -- karena aku membayangkan anak lelakiku yang kini berusia 8 tahun itu hanya akan bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Seakan-akan mereka hanya dilahirkan untuk bernyanyi -- senantiasa berteriak ke tengah kehampaan gurun pasir yang sesak penuh fatamorgana. Ya!***
*)Pengarang E-Mail: benisetia54@yahoo.com
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar