15/01/09

U L A R B U N T U N G

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

DUA PULUH LIMA tahun yang lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai, berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu, sebagai pamasok pabrik gula di M -- yang sengaja dibuat pemerintah kolonial Belanda, untuk menguras kekayaan alam C dengan memanpaatkan rakyat yang lebih suka mengalah -- hampir satu abad lampau. Maklum, dua puluh lima tahun lalu, yang namanya jalan kampung kami itu masih berupa setapak, yang melintas di atas saluran di atas empat batang kelapa yang dibaringkan berjajar begitu saja.

Tepat di mana pos kamling kini berdiri dulu tumbuh sebatang cangkring, yang gapuk dan sudah doyong miring ke setapak. Di bawah perakarannya ada rongga yang terbentuk dan menampung menampung buangan air sawah dan bermuara ke irrigais -- yang saat itu belum diberi sempadan tembok penguat. Katanya, di sana bersarang ular hitam buntung, bersama ratusan lele yang sesekali ke luar geronggang dan berkecipak bagai menantang dipancing. Tapi tak seorang yang berani menangkapnya, karena ada ular hitam buntung sehingga pohon cangkring itu dianggap wingit -- selepas Magrib tidak ada orang yang berani mendekatinya. Dan kalau lele itu mijah, menarikan gairah mau kawin, orang-orang kampung hanya berani memancingnya di siang hari, itu pun dengan melampar umpan berkail dari seberang.

Hasilnya, lumayan untuk lauk makan. Terutama ketika musim penghujan sudah memuncak dan pekerjaan di sawah dan ladang tebu tuntas, atau saat kemarau beranjak memuncak saat sawah dipusokan dan daun tebu di ladang baru mengering sebagaian -- sebagai pertanda siap dikoyak menejalang panen lima sampai enam minggu lagi.
* * *

SAMPAI sekarang orang-orang kampung selalu datang ke saluran. Menurunkan tangga kayu yang cuma memiliki dua undakan ke saluran, menyandarkan pada miring sempadan berlepa beton kering dengan permukaan paruh pecahan batu kali, lantas si bersangkutan menurunkan celana dan bertengger pada undakan pertama atau kedua -- tergantung permukaan air -- sambil tangannya memegang pathok yang ditancapkan di sepanjang irigasi. Pathok yang miring -- di sepanjang saluran banyak terdapat pathok semacam itu -- sedang pathok yang tegak dan biasanya jauh dari bibir irigasi khusus untuk mengikatkan tali penyancang kambing.

Dan karena di saluran itu banyak orang yang lewat, ke sawah, mengecek kambing atau kebelet, maka [biasanya] kaum wanita membawa payung yang kemudian dikembangkan dan dijadikan gelembung pengaling ke arah jalur inspeksi irigasi pengairan selebar 2 meter. Tapi pantat mereka terlihat dari mana-mana, dan orang-orang kampung terkadang nongkrong di jembatan -- dulu hanya batang kelapa dan cangkring ranggas -- sambil melihati setiap pantat dengan wajah manis si pemiliknya disembunyikan di balik payung -- bagai burung onta.

Sekarang terpikir, mitos ular hitam buntung itu mungkin hanya dicetuskan kaum ibu sebagai sindiran pada remaja dan bapak yang suka mengobrol di bawah cangkring ranggas di jembatan batang kelapa. Sebuah makian sayang pada fakta mata keranjang kaum lelaki kampung, dan sekaligus satu kesempatan resmi bagi mereka buat unjuk kekuatan menguji pesona seksual mereka dengan mempertontonkan bentuk bulat utuh dan warna kulit pantat mereka. Memang. Di kampung ibu-ibu berbicara tentang sedia payung sebelum bab -- bukan sebelum hujan. Dan sepanjang sore wanita kampung terkadang bagai sengaja bergilir bab. Kecuali yang sudah tua, yang mengalah dengan membiasakan diri setor di pagi buta atau malam hari. Dan banyak orang yang sengaja memberi tahu jadwal bab dari para perawan kampung, agar mereka bisa bergiliran mengawasi dan melihat pantatnya. Kemudian bertukar inpormasi, mengadu fantasi, dan saling mendorong untuk mendekati si pemilik dan berbicara tanpa pengaling.

Dulu, kata para orang tua, orang kampung masih senang mandi di saluran irigasi itu, terutama di musim kemarau ketika air di sana begitu bening dan terasa masih hangat dalam hamparan pesawahan yang dingin berangin. Sekarang tidak ada lagi yang berani mandi di saluran. Maklum, sebelum sampai di kampung kami saluran itu melalui banyak kampung, yang menggerombol jadi kesatuan kota [kecamatan], di mana mereka setia dengan kultur agraris bab di bibir saluran, dan sekaligus sampah rumah tangga dan segala sisa dibuang ke saluran secara terus terang. Lagi pula, rezim otoritarian Orba mengubah kebiasaan agraris alami itu jadi gaya artifisial perkotaan, di mana setiap rumah dipaksa harus mempunyai sumur, kamar mandi dan jamban pribadi, via program Lomba Desa atau planologi kota kecil Adipura -- program yang menuntut partisipasi penuh warga. Dengan program pelebaran jalan tanpa kompensasi ganti rugi, dan celakanya pelebaran dan aspalisasi jalan kampung itu diklaim sebagai -- selain ancang-ancang kampanye yang berikutnya -- manifestasi syukur rezim yang selalu mendominasi DPR/MPR dan didukung rakyat, lewat pemilu semu.

Sampai saat itu: sebagian dari kami masih setia bertengger. Tapi pelebaran dan aspalisasi itulah yang menyebabkan pohon cangkring ditebang -- bersamaan dengan jamban umum dibangun dan tiap rumah dipaksa berjamban dengan gerakan arisan septic tank. Tak ada yang berani menebang sesungguhnya, sehingga kamituo terpaksa turun tangan menebangnya. Kini pohon itu hilang, bekasnya ada di tengah jalan -- gua lele musnah diuruk, lele-lele ditangkapi dan digoreng atau di-bothok, tapi ular hitam buntung tidak ada --, tapi tiga bulan kemudian kamituo itu sakit parah dan meninggal. "Itulah arti peringatan orang tua," kata orang-orang kampung -- dan Syukrun, yang halaman rumahnya tergusur, sinis menyebutnya sebagai pahlawan pembangunan, dan malah mengusulkan agar nama jalan utama kampung kami itu Salkang -- penyesalan hadir belakangan. Tapi kami segera melupakan sinismenya itu, terutama karena kami harus punya pos kamling RT, yang segera saja dibangun di pinggir jembatan, karena kini kami punya pagar beton jembatan untuk duduk berjuntai sampai malam, untuk mengobrol dan tetap mengintip pantat yang membulat separuh bola dan lebih putih dari dari wajah manis dialing payung.

Kini kalau dipikir: Kami akrab sebagai komunitas guyub sekampung karena saling kenal wajah dan pantat masing-masing -- seperti aku hapal pantat istriku sejak kanak-kanak, meski baru di sepuluh tahun tahun terakhir ini itu sah diremas.
* * *

ZAMAN Orba selalu ada instruksi resmi untuk melakukan jaga malam, ronda, terutama kalau mau ada pemilu, sidang umum, atau cuma gertakan tentang gerakan subversif-seperatisme yang menyusup ke daerah, sehingga pos kamling selalu terisi dan orang-orang yang tak kabagian giliran jaga terkadang duduk menemani di pagar jembatan -- sampai jam 23.00, setelah bertengger. Mengobrol. Main catur. Dan sejak sepuluh tahun terakhir ini tidak ada lagi perintah semam itu, dan kalaupun ada orang tidak segan menghindar menolak halus dengan segala alas an tanpa takut dituduh memberontak pada negara. Kini pos kamling dan jembatan jadi tempat remaja yang tidak pergi menggarap sawah, menjadi buruh tani atau menggarap ladang tebu, dan ke pabrik di J, S, dan B. Mereka berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi sampai pagi, menenggak arak oplosan, dan berteriak-teriak mabuk -- bahkan muntah.

Terkadang kami merasa sangat terganggu tapi tak tahu harus berbuat apa lagi --karenanya terpaksa membiarkannya bernyanyi, mabuk, berteriak-teriak dan muntah. Mereka hanya anak yang lepas SMP dan ada satu dua yang lepas SMA, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah mereka lulus dan orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan mereka. Sedangkan kerja, yang cuma dengan mengandalkan tenaga otot tanpa ketrampilan, di kampung dan kota kecamatan C tidak selalu ada -- selalu sudah diambil yang lebih tua dan yang sudah menikah. Masa luang panjang menganggur itu tidak bisa ditekuk dan lunas dengan tidur sepanjang siang -- mereka terjaga di malam hari, terpaksa kembali berkumpul, menenggak arak oplosan dan bernyanyi menyerukan harapan, amarah, sumpek dan putus asa.

Mereka kehilangan motivasi karena kini tak lagi bisa menandai pantat perawan dibalik payung -- karena tiap rumah tangga mapan di kampung punya jamban pribadi -- sementara banyak gadis kampung kami menjadi babu atau buruh pabrik di J, K, B, M, atau S. Dan merekapun terus bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Di sepanjang tahun yang akan cuma bermakna sia-sia sepanjang sisa umur dan karena ulah mereka itu tak lagi membangkitkan rasa marah, malahan makin hari semakin mengiris perasaan -- karena aku membayangkan anak lelakiku yang kini berusia 8 tahun itu hanya akan bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Seakan-akan mereka hanya dilahirkan untuk bernyanyi -- senantiasa berteriak ke tengah kehampaan gurun pasir yang sesak penuh fatamorgana. Ya!***

*)Pengarang E-Mail: benisetia54@yahoo.com

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita