09/01/09

A r i m b i

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

AKU lebih suka memanggilmu Arimbi, meski namamu sebenarnya Arum. Bukan maksudku, rasa hatiku sulit untuk menterjemahkan aroma namamu seindah itu. Mungkin aku sulit untuk mengungkapkan—setidaknya untuk saat ini—seluruh gebalau perasaanku, otakku, jiwaku ketika menyaksikanmu duduk di pelaminan bersebelahan dengan kekasihmu.

Mungkin aku pencemburu. Sebab itu andaikata Arimbi adalah dendam rinduku akibat cemburuku, aku sama sekali tak kuasa mengelak dari tuduhan itu. Tuduhan yang sangat menghunjam, ketika melihat pesta pernikahanmu di cuaca siang yang cerah. Meski sebetulnya bulan ini adalah bulan-bulan paling rajin bagi langit untuk mencurahkan hujan ke tanah ini, juga tanah perbukitan di kampungmu.

Lagi-lagi, aku dibuat takjub, atau lebih tepatnya syak wasangka buruk. Engkau sepertinya telah mengerahkan berpuluh-puluh pawang hujan yang nyungsang di kampung, karena seantero penghuninya mengharapkan hujan datang agar benih tanaman, ternak, dan petani bisa mengumbar senyum melihat daun emasnya berkembang.

Arimbi, jangan engkau marah. Jangan lalu kau beritakan perasaanku, pikiranku, naluriku yang edan ini kepada kekasihmu—yang kini telah resmi menjadi suamimu. Jangan. Aku hanya sedang utarakan padamu perihal kembara jiwaku melihat kecantikanmu. Itu saja. Ah, andai kau tahu bagaimana tajam mataku ketika melihatmu tengah melipat bibir, justru saat duduk di pelaminan dan didoakan banyak khalayak.

Mungkin aku tidak sedang mendoakanmu, saat itu, pada waktu seluruh tamu seperti lebah memanjatkan amin. Doaku telah menyatu dalam tubuhku, kekagumanku, mimpiku, khayalku sejak sebelum engkau dipersunting lelaki yang kini engkau cintai itu. Jadi aku datang di hari pesta pernikahanmu, hanya untuk menjadi saksi kebahagianmu, juga saksi bagi kepedihan diriku sendiri. Ini sudah menjadi hakku—menjadi seorang yang pesakitan, di saat orang lain dalam kebahagiaan. Kau mungkin baru tahu, Arimbi.

Baiklah, sebaiknya kukatakan padamu perihal pesakitan yang mungkin kaupun sebetulnya sedang mengantongi di balik cemerlang gaun pengantinmu. Jangan coba-coba membohongi aku, dan sebaiknya kaupun harus jujur pada dirimu sendiri. Sebetulnya seorang wanita adalah makluk di bumi yang paling memuja pesakitannya. Hanya karena kecantikan dan senyum yang selalu ditebar, atau sikap malu-malunyalah yang membuatnya kuat sepanjang hidupnya merahasiakan itu semua.

Arimbi, di depan kekasihmu jangan bukalah tudung rahasiamu perihal sakit itu agar tahu bahwa itu semua tak berguna bagi suamimu. Sebelum pada saatnya, dengan cara yang setepatnya pula. Tahukah kamu Arimbi, bahwa di ranjang pengantinlah tempat yang paling tepat untuk menyingkap segala bentuk rahasia jiwa di depan kekasihnya.

Engkau boleh takut dan was-was kepadaku, Arimbi. Tetapi tidak pada suamimu—karena sudah barangtentu kekasihmu itu, calon ayah dari anak-anak yang bakal lahir dari rahimmu itu, akan melepaskan juga segala rahasia jiwa ke dalam sebentuk cinta di tempat yang sama. Kata kuncinya adalah saling melepaskan atau sama-sama membantu melepaskan. Sejak dari rindu dendam, hasrat, birahi, dan bahkan laknat. Saat itulah awal pengetahuanmu perihal pesakitan, mungkin juga awal pengetahuan kekasihmu soal disakiti atau menyakiti. Ah, bukan maksudku aku memandang sebelah mata dengan hati atau matahati terhadap kekasihmu, mempelaimu, suamimu.

Karena itu kusimpulkan saja engkau dan kekasihmu sama-sama terjangkit penyakit suka menyiksa diri. Engkau memuja rasa sakit lantaran rasa sakit bagi wanita adalah gerbang dari menuju kebahagiaan tatkala bercinta, saat gairah api cinta menyala dan membakar hangus seluruh tubuh dan jiwamu hingga hilang bentuk dan remuk. Demikian juga yang terjadi pada gelora meledak-ledak kuasa lelakimu yang sampai pada titik tertentu ia musti menghunjamkan kekejaman pada seluruh tubuhmu sejak permukaan kulit hingga rongga ngangga bahkan seolah sudi meremukkan tulang belulangmu hingga luluh lantak. Pada saat tertentu kalian sepasang kekasih yang saling meniadakan, saling menerbangkan jiwa seolah-olah menuju alam cita. Semua itu hanya berbatasan tipis di bibir pinggir ranjang pengantinmu, Arimbi.

Masuklah, merasuklah. Dua menjadi satu, satu menjadi dua. Selamat Arimbi, selancarlah sampai ujung terjauh, bahkan lebih jauh dari samudera yang selama ini dikunjungi para pencinta manapun. Aku bermaksud menunjukkan gerbang padamu, Arimbi. Barangkali engkau hendak memasuki sebelah mana yang kau pilih, terserah padamu. Pintu gerbang itu amatlah terbuka bagi sepasang pendatang-pendatang yang mabuk oleh segelas piala air dari Yang Maha Hidup.

Karena inilah aku memberanikan diri memanggil namamu Arimbi, meski nama sesungguhnya anugerah orangtuamu adalah Arum. Orangtuamu telah melunasi keinginannya dengan menjadikanmu bunga desa di kampung itu. Betapa engkau telah memiliki lika-liku, lekuk jalanan menanjak berbukit seperti di tubuhmu. Di puncak tertinggi engkau semacam mata memandang ke arah gunung Anjasmoro.

Arimbi, engkaulah gerbang itu. Gerbang kebahagiaan hidupmu penyatuan antara dua dunia laki-laki dan perempuan. Bekal nasehat dari tetua kampung, seorang kiai ternama keturunan Prabu Brawijaya VI atau Pangeran Benowo yang telah paham apa arti cinta bagi khalayak insan kamil menjadi gerbang lain dari perjalanan hidupmu. Doa dan harapan leluhur-leluhurmu di sisi yang lain seperti tuah yang melapisi besi berabad-abad lamanya dan menghidupi spirit penganutnya.

Apalagi, Arimbi, bukan rahasia lagi perkampungan dan bukit-bukit yang meliuk dengan pepohonan hijau membentang, adalah sebuah jalan lempang menuju dua peradaban. Terang saja, ini adalah ruh hidupmu yang lain, agar engkau tidak pernah mati obor nenek moyang leluhurmu, Arimbi. Berabad-abad yang lalu, di depan rumahmu ini membentang jalan dua kerajaan besar Majapahit dan Kediri dengan tentara-tentaranya yang disiplin, berani, tangguh dan sesekali juga kejam.

Kau perlu tahu, meski ini sedikit melantur, di bukit yang lain terbentang di utara, seorang patih yang kelak mengharumkan nama negeri lahir—Gajah Mada dari dusun Mada. Dialah seorang yang sangat patuh pada rajanya, Hayamwuruk, yang tentu tak lagi kau heran di kampungmu ini, aroma keharumannya paling sempurna—mungkinkah Hayamwuruk pernah mampir ke rumahmu, Arimbi? Lalu merokok, sambil melihat masa depan bahwa kelak di kampung ini bakal ada dara yang mendapat pancaran sinar kecantikan Dewi Parwati? Atau baginda bakal yakin bahwa kelak di suatu hari akan tiba saatnya seorang gadis punya nama Arimbi, istri sang patriot Bima itu?

Aku sudah tidak sabar Arimbi. Karena itu kupaksa kau menyandang nama itu! Kesalahanmu satu-satunya hanyalah, memaksa aku menyaksikan pesta pernikahanmu dengan Bima, di penghujung senja tahun 2008 ini. Kamulah yang memaksa aku, menghidupkan lagi arwah Ratu Tribuawana Tunggadewi, sang baginda ratu leluhur Prabu Hayamwuruk dari kremasi abunya yang disimpan di dalam bangunan candi. Betapa sunyinya sang ratu dalam kesendirian. Sepi memagut dengan ruh rambut yang hempas angina kencang atau rintik-rintik gerimis yang mulai datang.

Arimbi, lihatlah! Kau pasti diam saja dan tak beranjak dari kursi keemasanmu, ketika aku dalam bayang gerimis berlari kencang menuju altar candi dan meneriakkan keras-keras namamu. Segulir tetes airmatamu pun tidak akan meruntuhkan kesedihanmu begitu aku tahu aku sedang kesurupan hebat. Aku kesurupan oleh ruh apa saja, segala danyang-danyang penunggu candi. Aku tidak peduli sama sekali karena yang ada di kepalaku hanyalah namamu: Arimbi. Mungkin aku bersedih. Mungkin juga aku sedang gila. Apalagi puluhan penduduk kampung malah meneriaki aku. Mereka mengejar aku yang menerobos masuk halaman candi. Berputar-putar dari pintu ke pintu lalu ke bilik situs candi. Sebagian warga lainnya kudengar, mulai paham dengan kesurupanku. Beberapa yang berhasil menangkapku memaksaku untuk berbaring sebelum akhirnya menyandarkan tubuhku dinding lapis batu bata candi yang ditata miring itu.

Satu-dua orang mengintrogasi aku dengan pelbagai pertanyaan. Aku masih waras karena mustahil aku menceritakan keinginanku bercinta dengan istriku, semenjak melihat kecantikan Arimbi. Aku hanya tak bisa menjawab pertanyaanku sendiri, mengapa justru aku berlari menuju altar Candi Arimbi?

Ah, mungkin benar aku kerasukan ruh sang Ratu. Barangkali juga ruh istriku. []

kado buat atok
surabaya, 16 des 2008

Catatan:
Candi Arimbi, terletak di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari Kecamatan Bareng, Jombang. Candi ini masih kokoh berdiri di bawah kaki Gunung Anjasmoro. Namun kondisi candi dengan panjang 13,24 meter, lebar 9,10 meter dan tinggi 12 meter kian memprihatinkan dan banyak yang sudah tidak utuh lagi. Dulu, di ruang utama (kini ruangan ini sudah tak ada lagi) ditemukan Arca Parwati, istri Dewa Siwa sebagai simbol wanita dengan kesempurnaan seorang wanita, ibu dan istri. Parwati juga dianggap sebagai dewi lambang kesuburan. Arca Parwati yang ditemukan di Candi Rimbi melukiskan Ratu Tribuana Wiajaya Tunggadewi, ratu Majapahit yang memperintah pada 1328 - 1350 M.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita