Sajak-sajak Mardiluhung Perbenturan Budaya Pesisiran dan Pedalaman

Tjahjono Widijanto
Jurnal Nasional, 11 Mei 2008

Sulit membayangkan seorang penyair dan sajak berangkat dan hadir dari sebuah kekosongan, nihil ex nihilo: tidak ada sesuatu yang lahir atau berasal dari ketiadaan. Sajak lahir dari persentuhan indrawi atau rohani, antara penyair dan semesta seperti gesekan ranting dengan ranting di musim kering yang menghasilkan api, karena itu sajak ---dalam publik yang paling terbatas sekalipun--- akan senatiasa mendiskusikan, mendialogkan, dan memperbincangkan “sesuatu”.

Pada sisi lain persoalan ekspresi selalu membawa penyair pada dua ujung kontinum yang ekstrem: penyederhanan atau simplikasi dan perumitan. Kedua kutub ini dapat diibaratkan dalam cerita persilatan sebagai dua pendekar dari perguruan berbeda yang turun gunung dengan semangat yang berbeda pula. Yang pertama menulis dengan sangat memperhatikan dan memperdulikan kepentingan akan pesan dan pembaca; yang kedua bertujuan untuk kepentingan ekspresi tumpahnya kesadaran bawah sadar sehingga hajat-hajat puitiknya terpenuhi, tumpah tanpa sisa.

Penyair H.U Mardi Luhung yang lahir dan bermukim di Gresik adalah satu diantara penyair Jawa Timur yang mendapatkan perhatian lebih dari publik sastra Indonesia karena “keteguhannya” memilih warna ekspresi-estetika pada jalur pilihan kedua yang seakan-akan menafikan pesan dan menafikan pembaca seperti yang terlihat kumpulan puisinya Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007)

Bahasa dan Benturan Budaya
Bahasa dan kata dalam puisi mempunyai kedudukan yang paradoksal. Di satu titik dibebani untuk menyampaikan pengertian, di titik lain dalam puisi kata dan bahasa menjungkir-balikkan pengertian umum yang disandang olehnya sendiri. Pada titik ini penyair menggempur, memperhitungkan, bahkan mengingkari berbagai ‘atribut‘™ yang sudah lazim diemban oleh kata tersebut. Sebagai penyair Mardi Luhung terikat pada kodrat ini, namun yang membedakannya dengan Chairil atau Amir Hamzah yang begitu “serius”, Mardi Luhung dengan rilek dan santai memberlakukan dan menyikapi pemilihan kata ini. Bagi Mardi Luhung penyair tak lebih dari “pengrajin” kata-kata , tak heran dalam sajak-sajaknya sering dijumpi kata-kata “enteng” yang jauh dari lazimnya citra estetika bahasa puisi, seperti kata-kata: kosro, kakus, kecebong, dubur, kencing, kulit kadal, menjotosi, jinabat, cawat, pengutil, dan sebagainya yang meluncur begitu saja tanpa beban.

Dalam sajak-saja Mardi Luhung tampak ada paradoksal antara kebanggaan identitas budaya dan kegetiran identitas budaya. Kebanggaan dan kegetiran seakan-akan menyimpan ironi sebuah komologi budaya yang satu sisi dibanggakan dan sisi lainnya pada posisi inlandeert yang tak berdaya berhadapan dengan identitas budaya lainnya. Hal ini dapat dilacak pada sajak “Pengantin Pesisir”:Aku datang dalam seragam penganten pesisir/ Seperti arak-arakan masa silam/Jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring/ di depan para pesilat bertopeng monyet /‘¦../ dan tahukah kau yang paling aku benci?/ adalah ketika kita sama-sama sekolah/ dan sama-sama disebut: “Orang Laut”/ orang yang dianggap sangat kosro/ kurang adat dan keringatnya pun seamis/ lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai/‘¦ / dan mengharapkan lahirnya bocah-bocah pantaimu/ tapi, seperti juga mencusuar yang kini tinggal letak/ dan para nelayan kehilangan jaring dan perahu/ adakah masih sempat kita lakukan persetubuhan ombak/ sementara itu, kertas-kertas kwitansi/ telah mengubah sperma-sperma kita menjadi/ lumut-lumut yang entah siapa pamggilannya.

Dari sajak Pengantin Pesisir di atas tampak bahwa penyair ingin memperlihatkan dirinya dan identitas budayanya sebagai sosok masyarakat pantai. Gresik sebagai tempat lahir dan mukim penyair secara geografis budaya merupakan budaya pesisiran yang memiliki karakter yang berbeda dengan budaya pedalaman (Mentaraman)..Dalam sajak di atas juga terungkap kegeraman dan traumatis masa lampau akibat perbenturan dan pertentangan budaya antara budaya pedalaman dan budaya pesisiran, budaya kerataon dengan budaya rakyat dan budaya santri dengan budaya abangan. Budaya pedalaman membuat benteng budaya yang kokoh berupa kraton dan pembagian daerah kraton. Kraton dilegimitasikan sebagi sentrum budaya dan semua yang berasal dari kraton dianggap sebagi produk budaya “resmi” dan adi luhung. Sedangkan daerah pesisir (pantai) dan derah-daerah yang beruda di luar wilayah kraton (pesisran, manca nagari, brang wetan) produk-produk budayanya dianggap sebagai budaya pinggiran yang secara etik atau estetik berada di bawah kebudayaan kraton (pedalaman). Dalam bahasa Mardi Luhung kondisi ini dikatakan sebagai “dan tahukah kau yang paling aku benci?/ adalah ketika kita sama-sama ke sekolah/ dan sama-sama disebut: “Orang Laut,”/ orang yang dianggap sangat kosro/ kurang adapt dan keringatnya pun seamis/ lender kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai”/

Meski pada awalnya penyair dengan lantang, bangga dan gagah mengungkapkan identitas budayanya namun ia tak mampu memendam kegetirannya akan fakta historis bahwa pesisir selama ini selalu berada pada pihak yang “kalah” dalam perbenturan budaya dengan pedalaman dan juga kini malah semakin tergerus dengan arus budaya lainnya. Serangkaian kegetiran dan kekalahan ini oleh Mardi Luhung disimbolkan sebagai “mercusuar yang kini tinggal letak”, “para nelayan kehilangan jaring dan perahu” bahkan dengan sarkas dikatakannya “kertas-kertas kwitansi telah mengubah sperma-sperma kita menjadi lumut-lumut yang entah siapa panggilannya”.

Citra budaya pesisiran yang terbuka, urakan, ekspresif, dan sangat terbuka untuk berimprovisasi yang merupakan antitesis dari budaya pedalaman yang serba halus, hati-hati, penuh sofistifikasi dan sakralisasi menjadi semacam “kredo” bagi sajak-sajak Mardi Luhung seterusnya. Kekasaran, kenakalan, urakan, ekpresif dan bahasa yang sangat terbuka khas masyrakat pantai dapat dengan mudah ditemui pada puisi-puisi lainnya, misalnya; “‘¦./ “Kami telah putuskan untuk memotong/ alat kelamin suami-suami kami, yang telah/ membikin kami bolak-balik melakukan abortus!”/ ‘¦..” (Dari Jalanan); “‘¦Ada di reruntuhan makammu, dan kembali simpulkan:/ memang cuma lubang kakus/ sebuah pembuangan sia-sia, yang melintas/ antara mulut dan dubur, yang bergerak antara vitamin/ dan sampah akhir/ ‘¦” (Ziarah ke Reruntuhan Makammu); “‘¦untuk kemudian berdikit-dikit/ menjadi tai dan kencing, menjadi kesuraman/ yang tak bisa mencari jalan pulang/ ‘¦” (Keheningan Apakah). Bahkan ada yang sangat kurang ajar seperti dalam puisi Wanita Yang Kencing di Semak yang seperti penggalan berikut ini: Wanita yang kencing di semak/ takut apa, jengah apa?/kerumitan-rahasianya terbuka/ pada rumput, batu dan tanah/ bayangan pun tercetak lewat genangan/ /‘¦./ lalu, jalan-jalan pun berbiak/ dan karunia? Siapa yang menolak/ jika semuanya telah digenangi?/ yang jelas, kuyup dan kuncup silih-ganti/ silih-sembul, dengan sedikit guncang/ mata terpejam tapi selalu saja/ betapa lorong itu menggundang duga/ agar segera mengerut seperti kerut-jeruk/ yang telah lama terpetik/ ‘¦..//

Sajak di atas sebenarnya hanya sekedar mendeskripkan sesuatu belaka. Namun seperti halnya kesenian lain dalam produk budaya pesisiran yang serba permisif, terbuka dan menafikan keteraturan, sajak ini seperti menjungkirbalikan citra tentang estetika yang terlanjur terpatri di benak kita. “Sesuatu” yang diungkapkan dalam sajak di atas adalah “sesuatu” yang selama ini dianggap tabu dan menjijikan namun malah dideskripsikan dengan detail dan lancang oleh Mardi Luhung dengan cara yang khas pesisir. Sajak di atas dapat diibaratkan sebagai tari ronggeng, tayub, ledek, atau tandak yang meledek ke-adiluhungan tari bedhaya ketawang ---mainstreem estetika sastra Indonesia, yang selama ini dicitrakan serba rumit, teratur, canggih, serba halus, dan hati-hati.

Dari sudut linguistik, berhadapan dengan bahasa dalam sajak-sajak Mardi Luhung mengingatkan orang pada konsep Halliday (1992) yang menjelaskan bahwa teks mesti dipahami sebagai bahasa yang sedang berfungsi, atau dengan kata lain bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam situasi tertentu yang tentu saja berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin ditulis pada sebuah papan tulis. Berangkat dari penrnyataan Halliday ini maka bahasa atau kata-kata yang digunakan Mardi Luhung tidak dapat diperlakukan sebagai perpanjangan tata bahasa dan sentaksi semata-mata karena lebih berupa memperlakukannya sebagai teks yang tidak semata-mata diterjemahkan tetapi lebih kearah penafsiran. Bahasa-bahasa puisi Mardi Luhung lebih bersifat satuan makna yang harus dipandang dari dua sudut yang bersamaan, sebagai produk maupun sebagai proses.

Sebagai produk dalam arti ia merupakan output yang dapat dipelajari karena mempunyai susunan tertentu yang dapat diungkapkan secara sistematik. Sebagai proses dalam arti merupakan proses pemilihan makna terus menerus, sesuatu perubahan melalui jaringan makna dengan setiap perangkat pilihan yang membentuk suatu lingkungan bagi perangkat yang lebih lanjut. Dengan demikian puisi Mardi Luhung sarat mengemban makna sosial budaya dalam kontek situasi tertentu pada masa lampau dan masa kini. Jadilah puisi-puisi Mardi Luhung sebagai jalan setapak atau jalan kecil yang menautkan masa lalu, masa kini dan masa akan datang, puisi menjadi sebagai kegiatan sosial budaya yang terikat dengan setting sosial budaya tertentu dan berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya.

Sajak-sajak Mardi Luhung juga memperlihatkan bagaimana penyairnya berada pada kosmologi yang retak dan koyak moyak karena serbuan anasir kosmologi dan mitologi luar berkat hempasan kekuatan politik, budaya, teknologi, komunikasi dan ekonomi. Pada sajak-sajak Mardi Luhung, Jawa Pesisiran yang diakui dan diagungkannya sebenarnya makin samar dan kabur sedangkan kosmologi Indonesia yang dihadapi kini masih begitu cair dan gamang juga.Tak ayal lagi, beberapa puisi dalam antologi Ciuman Bibirku yang Kelabu ini menyiratkan kegelisahan Mardi Luhung sebagai musyafir yang berada pada kondisi yang rancu, satu sisi kosmologi dan mitologi Jawa pesisiran (masa lampau) tak lagi mampu menopang kehidupannya secara penuh, pada sisi lain kosmologi dan mitologi Indonesia juga belum mampu menopangnya, begitu pula kosmologi dan mitologi Barat tak begitu “terang”. Akibatnya beberapa sajak menggambarkan hasrat penyair untuk tak terikat dan membebaskan diri pada tarikan atau gravitasi sebuah kosmologi dan mitologi tertentu. Kegelisahan membebaskan diri dari tarikan kosmologi ini terekam pada baris-bari sajak berikut: ‘¦”Apa yang bisa aku baca dari reuntuhan makammu/ yang kini tinggal kakusnya itu”/‘¦. / dan dunia sana, duniamu tempo dulu/ yang berbinar oleh umbul-umbul kuda dan para/ syuhada jadi kecebong-kecobong/ yang rasanya begitu gerah untuk memetamorfosa/ apalagi memahat perjamuan antara aku dank au”/ “Pertemuan antra pencari dan yang di cari ‘¦.” (Ziarah ke Reruntuhan Makammu).

Bahkan kadang-kadang penyair merasakan ambiguitas dan paradoksalnya identitas dan kosmologi budaya yang mengikatnya selama ini. Jadilah dalam diri penyair keterbelahan menyikapi identitas dan kosmologi budaya pesisirnya sebagai sesuatu yang dicintai sekaligus sesuatu yang ingin ditinggalkannya. Kosmologi budaya pesisir sebagai kosmologi budaya lampaunya merupakan jejak moyangnya yang berubah menjadi memedi atau hantu yang selalu mengikatnya. Hal ini ditunjukkan pada sajak Bapakku Telah Pergi: Bapakku telah pergi/ menemui pembakaran/ ruang suci tempat selesaian/ tapi ekor-ekor yang ditinggalnya/ membelit tubuhku/ menciptakan jarak, yang ujungnya/ masih dipegangnya/ batasnya tak teraba/ maka jadilah itu: “Hantu”/ bapakku telah pergi, memang/ tapi hantunya itu demikian kuat/ demikian mendesak/ sampai bagian dalam tubuhku/ bergetar, berpusar, ‘¦./

Mitos dan Kontra Mitos
Berangkat dari kegamangan, bimbang dan paradoksal terhadap identitas dan kosmologi budayanya ini memaksa Mardi Luhung dalam perantauan budaya untuk mengolah, merekontruksi bahkan membongkar mitologi-mitologi lama untuk menghasilkan dan menggenggam pemikiran baru. Jadilah beberapa sajak Mardi Luhung mengangkat dan mengukuhkan suatu mitos tertentu (myth of concern) dan sekaligus pula menentang mitos tersebut (myth of freedom).

Dalam dua sajaknya berjudul Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu dan Malik Ibrahim mengangkat dua mitos tentang tokoh Wali yang sangat disegani dan dihormati ajarannya di Gresik, Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Namun dua mitos ini disikapi Mardi Luihung jauh dari rasa takzim bahkan ada nada cemooh, penentangan, ironi, sinisme bahkan sarkasme.

Dalam Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu tokoh Sunan Giri di gambarkan sebagiai pemburu yang membawa asosiasi orang pada sosok yang kejam dan suka memburu. Sunan Giri yang perkasa, yang begitu disegani pada masa kejayaan Demak, keheroannya dipertanyakan kembali dengan sinis: “‘¦./ yang entah datang dari sisi mana, akibat peperangan/ apa, dan membela dewa dan kitab siapa? Oh, aku pun/ Cuma sanggup mengigau sambil membayangkan sebuah/ jalan-berkelok menuju keratonmu yang hilang itu‘¦”

Dalam sajak Malik Ibrahim muncul nada yang tak kalah sinisnya: “‘¦./ mencoba kembali menyentuh lipatan-lipatan kitab/ kuningmu yang berhuruf kemuning itu, kitab-kitab yang/ telah lama terkunci di mulut-asap-jingga:/ “Tapi Malik, apakah itu memang kitab ataukah cuma/ serbuk tuak ataukah cuma kemabukan biasa”/ ‘¦.”

Tak heran dari identitas dan kosmologi budaya yang pada awalnya dibanggakannya sebagai budaya pesisiran yang berbeda dengan pedalaman tetapi yang kemudian dirasakannya menjadi koyak moyak, Mardi Luhung mencoba menggenggam mitologi kosmologi baru yang berbeda sama sekali. Keinginan untuk menggenggam kosmologi yang lain dan yang baru ini nampak dalam puisi-puisinya Zion dan Restoran & Tas Ransel. Kegairahan dan semangat untuk menggenggam kosmologi baru yang sama sekali baru itu digambarkannya : “Aku punya nabi. Si orang suci yang hanya sekali marah/ Sebab, ada yang menghunus parang sambil menggertak:/ “Aku ingin mendengar langkah kaki yang bergegas/ ke gunung dan membuat bulan yang lain, orang yang lain/ dan bumi yang lain, dari asap dan kincir yang lain!”/ Selanjutnya, tiap pipi pun dirajah seperi kegirangan/ ‘¦.” (Zion); atau secara lebih ekstrem dikatakannya: Copotlah dulu gigi-palsumu, lalu ciumlah aku,/ hisaplah nafasku, hiruplah umurku, milikku,/ segalaku, sebab aku kini tak takut lagi, jika/‘¦.” (Restoran & Tas Ransel).

Dari perantaun budaya dari satu mitologi-kosmologi ke mitologi-kosmologi yang lain itu, penyair akhirnya menemukan kesadaran bahwa dalam membentuk dan menemukan kosmologi baru, tidak ada kosmologi yang mampu secara mutlak berdiri sendiri. Kosmologi baru yang akan dibentuk dan diraih sejatinya merupakan persilangan dari berbagai mitologi-kosmologi, entah itu pedalaman, pesisiran, Barat, Timur atau yang lainnya. Persilangan antar kosmologi budaya itu diungkapkannya dalam sajak berjudul Kitaran Bersilangan yang merupakan sajak terakhir pada buku antologi Ciuman Bibirku Yang Kelabu, berikut ini: Ayahku berwarna putih, ibuku berwarna hitam/ lalu aku apa? Sebutlah, dan cari dalam jisim/ yang mengudar warna dabn nasib kulit abu-abuku/ jika berdoa, apakah aku akan mengutuk atau memuja?/ percaya pada bumi atau justru menginjaknya?/ ya, dengan sepedak-yang-mengerikan, aku kitari kampungku/ ....

Keterjebakan Kreativitas
Keasyikan bemain-main dengan bahasa membuat Mardi Luhung kelewat “bernafsu” untuk tampil “berbeda dan ‘unik‘™ sehingga dalam beberapa sajak terjebak untuk sekedar menggambarkan fantasinya semata sehingga beberapa puisi tidak berbicara apa-apa hanya menyampaikan dunia ganjil yang aneh, kelebatan liar yang menghasilkan imaji anarki semata. Seperti misalnya dalam puisi Sekilat Pikiran : Pikiran mungil dalam tempurung mungil/ berdiam si aneh-besar-kelabu/ yang separuh wajahnya penuh rambut/ separuh yang lain seperti/ khusus tercetak di ceruk kursi/ racikan manis dari dahak/ mengendap di jurang matanya, tempat lewat/ setiap mayat yang akan dihantukan/ dengan kedua lengan yang gemetar/ saat terulur di ukuran sekarat-bulan-kejang/‘¦../ aroma yang tersegel dan juga disegelkan/ pada kening tebal setiap para pemuji/ pemuji yang selalu disibukkan dengan kain, benang/ kancing dan setangkup karung kasar/ ranjang bagi tengkurap dan terlentangnya:/ “Si aneh-besar-kelabu.

Saking kelewat bernafsu, Mardi Luhung juga menjadi sangat boros untuk melebih-lebihkan sesuatu atau menyatakan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Jadilah beberapa sajaknya penuh dengan hiperbola yang menyesakkan dada pembacanya, seperti: “‘¦../ Mana ada orang-waras percaya itu?/ ada yang meledak di pasar-daging-babi!” (Pikiran Tersembunyi); “‘¦/ lalu sambil memainkan pecut, parut, dan/ pisau. Kaupun memeluki sekian pancang dan/ cerobong yang dating lewat kegelapan dan/ yang selalu mabuk/ ‘¦” (Reis), atau “‘¦selaksa gugusan dungu, yang membuat kemustahilan/ menjadi utuh, dan ingatan melulu menggigilkan jurang yang miring.”/ ( Takwil yang ke-13), akibatnya beberapa sajak itu membuat kenyang sebelum selesai mengunyahnya.

Komentar