Langsung ke konten utama

Orang-Orang Berdosa

Hudan Hidayat
http://jawabali.com/

PEMBUNUHAN-pembunuhan itu membuatku menjadi dingin. Aku jadi orang apatis. Aku tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah. Sama saja bukan? Salah atau benar semuanya ada dalam tatanan Tuhan. Direncanakan atau kebetulan, tetap saja ia adalah karya Tuhan, yang tidak bisa kita tolak. Beruntunglah orang yang ada di dalam garis Tuhan, hidup enak dan tidak berliku. Pada orang-orang seperti itu, aku tidak cemburu. Biasa saja. Tidak merendahkan atau meninggikan. Aku justru simpati dengan orang-orang yang kalah, orang-orang berdosa, yang dari awalnya sudah menempuh jalan berbeda.

Untuk menunjukkan rasa simpati itu, aku keluar dari sekolah. Kepada guru kelas SMA, yang dengan segala daya merayuku agar tidak keluar, aku hanya tersenyum. Kukatakan keputusanku tidak bisa ditawar. Ia berkata, "Mengapa? Apa yang terjadi? Tiga bulan lagi kamu ujian. Habis itu jalan terbentang. Kau bisa masuk filsafat seperti yang kau kehendaki. Atau psikologi, hukum, atau ekonomi. Pendeknya apa saja. Asal kau jangan keluar. Please, Dani sayang!" Katanya sambil menjenguk ke dalam mataku. Dapatkah kau sesuatu dari sana, Ibu? Tidak, kau tidak akan mendapatkan sesuatu. Sebab aku telah menguncinya. Aku memang punya rasa cinta. Bahkan sejak aku berpikir aku punya rasa cinta. Kadang aku begitu sayu dengan rasa cintaku. Kukenang dengan segala jiwa dan ragaku. Aku meloncat dari satu cinta ke cinta yang lain. Mula-mula aku tidak menyadari ini. Kukira cuma perasaan biasa. Aku tertarik karena wanita yang kutemui memang mengesankan. Tapi kemudian aku tahu bahwa aku memang gampang terbuai cinta. Aku tidak tahu siapa yang sesungguhnya kucinta. Mungkin seluruh perempuan-perempuan itu. Yang kukenal ketika aku masih kecil. Kelak setelah dewasa, perasaan cinta model itulah yang menjerumuskanku pada banyak wanita.

Waktu umurku 4 tahun, aku pernah melamunkan seorang yang usianya jauh dari diriku, sekitar 13 tahun. Seorang perempuan yang cantik dan lembut. Siang malam aku memikirkan perempuan itu. Kadang aku membayangkan hal-hal yang besar untuknya, yang bisa dibanggakan. Dia begitu dekat denganku. Ketika aku sakit, perempuan itu membelaiku dengan senyumnya. Aku menerima segala belaian itu, bergerak manja seperti kucing hitamku. Tapi aku tahu, bersama itu aku mempunyai geliat lain: nafsu, yang belakangan aku mengerti, adalah hasrat untuk membunuh. Kubayangkan perempuan itu membelaiku, sementara aku menusukkan belati padanya. Rasa cinta sama besar dengan rasa membunuh. Itulah hatiku. Dan kamu tidak akan tahu itu, Maya-ku. Kamu tidak akan mendapatkannya. Percuma bola matamu yang lembut itu menjenguk ke dasar jiwaku. Tak ada apa-apa di sana. Perempuan yang menjadi guruku masih sangat muda. Paling 21 tahun. Dan ia tidak hanya cantik, tapi lembut dan selalu memberi simpati. Apapun juga, aku akan tetap bergerak ke arah lain, Maya.

Aku tetap ingin keluar. Dia, dengan segala kelembutan dan rasa sayangnya, berlinang air mata. Tiba-tiba ia memeluk dan menyandarkan kepalanya ke dadaku. Ia terisak dan tetap memintaku jangan keluar. Aku melihat ke sekitar, sekolah kami sepi. Hari sudah menjelang senja. Kawan-kawanku sudah pulang. Kami ada di sudut gedung yang tak terlihat siapa pun. Entah mengapa aku membelainya. Aku cium kening wanita yang sangat baik kepadaku itu. Rambut dan tubuhnya mengeluarkan bau harum. Aku jadi terangsang. Birahiku bangkit. Kutatap wajahnya. Pelan-pelan bibirku mencium bibirnya. Ada sesuatu yang bergerak dalam hatiku, tapi aku cepat-cepat membunuhnya. Aku tidak ingin terlibat emosi. Aku memang tidak menempatkan dirinya dalam posisi pelacur-pelacur yang kusetubuhi, tapi aku tidak mau hatiku tercuri dan akhirnya berhenti. Kami keluar dari halaman sekolah seperti sepasang kekasih. Berjalan kaki menuju jalan raya. Sengaja kupilih jalan-jalan yang banyak gembelnya. Tidak sukar di Jakarta untuk mencari jalan-jalan seperti itu.

Di depan Megaria kami berhenti. Perempuan cantik anak orang kaya ini memperhatikanku, seakan-akan aku adalah makhluk asing baginya. Aku diam saja. Aku tetap memerhatikan orang-orang yang bergeletakan di stasiun kereta api. Ada loper koran yang termenung-menung sendiri. Lampu jalanan dan suasana malam membuat ia seperti mati, duduk dengan koran di tangannya. Mungkin ia terkenang kampung halamannya. Ayah yang mengusirnya. Ibu yang menyuruhnya mencari uang untuk membantu keluarga. Banyak alasan mengapa anak usia 6 tahun itu duduk di tempatnya. Aku juga memandang seorang bapak tua dengan pakaian kumal di tubuhnya. Ia seorang lelaki 60 tahunan. Wajahnya tua dan keriput. Matanya sayu tanpa harapan. Ke manakah keluarganya? Mungkin ia sendiri saja di dunia. Seperti aku. Aku juga sendiri saja. Setelah ayah dan kakek meninggal, aku tidak punya seorang pun lagi. Bebas merdeka seperti burung, terbang tinggi. Terbanglah sesuka hati. Ya, tapi ke mana? Ke mana saja. Kau dapat terbang dari sebuah pengalaman ke pengalaman lain. Dari sebuah pembunuhan ke pembunuhan lain. Ah, kalau itu bukan mauku. Benar aku mempunyai impuls-impuls ke arah situ. Tapi itu bukan segala-galanya. Setidaknya ia bukan suara yang dominan. Ia lebih disebabkan keadaan, yang membuatku harus mengerjakannya. Bagaimana kalau wanita di sampingmu? Ia jelas sungguh-sungguh mengharapkanmu. Bukan harapan seorang guru kepada muridnya lagi. Tapi penantian seorang perempuan terhadap lelaki. Mengapa kau tolak dia? Bukankah itu juga suara hatimu, meski kecil dan selalu kau ingkari. Aku tak tahu.

Kukira ada yang bergerak dalam hatiku. Entah apa. Semacam usia muda yang ingin mengelana. Fase di mana suatu saat akan berhenti. Tapi yang jelas tidak sekarang ini. Rasa-rasanya aku lebih enak sendiri. Mungkin aku inginkan ibu, tapi ibu telah lama mati. Dan aku tidak akan pernah lagi berjumpa dengannya. Mungkin perempuan ini mirip ibuku, sehingga kau tak bisa mencampakkannya. Mungkin juga. Lihat dia tersenyum mengerti dengan apa yang kau pikirkan, dan memegang tanganmu seperti ibumu yang kau rindu. Pokoknya cobalah dulu. Kalau tidak bisa baru kau tolak. Apa susahnya mengatakan tidak. Toh membunuh pun kau sanggup. Bayangan pembunuhan itu membuyarkan lamunanku. Segalanya terasa tawar kembali. Juga malam dan orang-orang yang bergeletakan. Aku mulai lagi dikuasai rasa marah pada Tuhan. Juga putus asa. Apa salahnya kami-kami ini, sampai Kau hukum dengan jalan kelam seperti ini. Mengapa tidak semua manusia Kau buat bahagia? Bukankah Kau punya kekuasaan untuk itu? Apa yang Kau sembunyikan? Mengapa?

Sebuah tangan yang hangat mendekapku. Ibu Maya berkata dengan lembut, "Kita pulang, sayang?" Aku mengangguk. Kami menyetop taksi pulang.

Aku sudah keluar dari sekolah, dan beberapa orang tetanggaku menanyakan keberadaan ayah dan kakekku. Aku berkata ayah dan kakek pergi jauh, mereka mengerti dan tidak pernah bertanya lagi. Ayah dan kakek memang suka pergi lama. Meninggalkanku sendirian. Pernah mereka pergi hampir dua tahun. Berburu ke Afrika. Dan aku mengerjakan semuanya sendirian. Menyapu, memasak, mengepel, semua kulakukan sendiri. Rumah ayah cukup besar. Dua tingkat dengan 4 kamar. Belum lagi ruang-ruang lain dan halaman. Jadi cukup memerlukan waktu untuk membersihkan rumah. Sehingga aku sering terkenang dengan ibu, saat ia sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Kukira kalau ibu ada, ibu pasti mengerjakan pekerjaan yang kulakukan. Menarik juga rasanya melihat ibu memasak nasi, memotong dan menggoreng ayam untuk kami. Atau menyapu halaman rumah saat sore. Ibu pasti senang mengerjakan pekerjaan itu. Dia seorang perempuan periang.

Dari catatan ayah aku tahu bahwa ibu sangat mencintai ayah dan aku. Ia seorang perempuan yang lembut. Ayah menulis, istri saya sangat mencintai anaknya yang baru berusia 3 tahun, sedang lucu-lucunya. Sering saya lihat ia mengajak anaknya bicara, dan selalu saya mendengar kata-kata ini: Ibu sayang kamu Nak, Ibu sayang kamu Nak. Nanti kalau sudah besar kamu mau jadi apa? Kamu harus jadi anak yang saleh. Pintar. Dan sayang sama kedua orang tuamu ya. Jangan sekali-sekali kamu membangkang. Apa artinya hidup kalau kamu keluar dari jalan Tuhan. Dan ibu selalu mengakhiri kata-katanya sendiri, dengan menciumiku sejadi-jadinya. Kadang air matanya berlinang melihat kebahagiaan yang didapatnya. Sebab ia orang miskin dan berasal dari keluarga miskin. Tapi memperoleh suami yang sangat sayang sama dirinya, dan anak yang sedang lucu-lucunya. Ayah selalu mengakhiri catatannya dengan perasaan menyesal. Saya menyesal sekali. Mungkin ini satu-satunya kekeliruan yang terbesar dalam hidupku. Mungkin waktu itu aku harus melawan kemauan ayah. Sebab bukankah kita bisa menjadi atheis tanpa harus menghabisi keluarga? Tapi mungkin juga ini hukum karma: sebab hampir sepanjang hidup saya, ibu yang kubunuh datang dalam mimpi, membawa tanda bahwa saya juga akan membunuh istri sendiri, sebelum terbunuh oleh anak sendiri. Saya menyesal. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Saya hanya bisa melakukan agar anak saya tidak menjadi atheis seperti kakek dan ayahnya. Agar ia menjadi orang baik-baik. Dapatkah keinginan saya ini terkabul? Mengapa pertanda itu selalu berulang dalam mimpi-mimpiku? Apakah aku dikejar perasaan berdosa? Tapi aku tidak percaya Tuhan? Saya tidak pernah mengakui kekuasaan-Nya. Saya juga sudah tidak memedulikan-Nya. Bagaimana orang yang tidak percaya dapat diburu dosa?

Esoknya aku kembali lagi ke Megaria. Aku ingin bertanya kepada anak kecil dan kakek itu, apa yang terjadi dengan hidup mereka. Apakah seperti yang kupikirkan kemarin, atau ada hal lain. Kukira ini penting. Setidaknya aku dapat membanding. Perbandingan apa pun, aku tahu tidak akan berguna untukku. Aku sudah mengambil sikap yang jelas. Tapi entah mengapa aku tetap melakukannya. Mungkin karena aku melihat diriku dalam diri anak kecil itu: ketika ia termenung seperti orang mati, dan aku juga melihat diriku dalam diri orang tua itu, ketika keriput wajahnya dan hampa matanya, kubayangkan sebagai keriput dan hampa mataku di hari tua. Ya, barangkali hari tuaku akan berakhir seperti anak dan orang tua itu: sendirian. Bila itu terjadi, aku berharap aku tetap saja di kota ini. Tidak pergi ke mana-mana. Sebab aku sudah merasa nyaman di sini: kota ini seperti bayanganku sendiri. Aku suka kesibukannya yang tak habis-habis. Orang-orangnya yang tak sabar dan segala-galanya centang-perenang. Aku suka karena di dalam ketidakberesannya itulah aku dapat hidup: ia seakan memberikan benteng padaku, seolah apa yang terjadi pada diriku mendapat pembenarannya, dalam kota yang keras dan tak manusiawi ini.

Aku menunggu tiga jam, tapi kakek dan anak itu tetap tidak kelihatan. Seakan mereka ditelan bumi. Beberapa orang datang dan beberapa orang pergi. Stasiun itu mulai sepi. Aku duduk mencangkung di salah satu pojoknya yang menghadap ke sebuah hotel. Aku sudah tiga jam mengamati orang-orang yang turun dan pergi dari hotel itu. Sambil menunggu satu jam lagi, aku tetap mengamati kegiatan di lobi hotel itu. Siang tadi matahari demikian panas. Tapi malam panasnya berkurang. Angin malam dan lampu-lampu jalanan membuat kota ini menjadi lain bagiku. Aku selalu terpukau dengan kota di malam hari. Sesuatu tak terkatakan ada di sini, di malam hari ini. Seakan suara orang minta ditunggu dalam sebuah perjalanan jauh dan tak pernah kembali. Seakan sebuah dunia yang damai dalam diam. Atau perang dalam keheningan. Entahlah. Semuanya mengabur. Inilah saatnya aku suka lepas kendali. Kontrolku hilang. Sudah dua jam yang lalu aku melupakan anak dan kakek itu. Perhatianku tercurah kepada mobil-mobil bagus yang memuntahkan penumpang ke hotel di depanku. Ada lima puluh perempuan, kalau aku tidak salah hitung, terserap dan keluar dari hotel itu. Siapakah mereka? Apa yang terjadi di balik bangunan megah bernama hotel ini? Saat Adam memakan buah yang kemudian disebut buah kuldi, karena terbujuk oleh ular, konon yang terjadi adalah aurat mereka terbuka. Sehingga mereka malu dan menutup auratnya dengan daun-daun surga. Jadi ini simbol perzinaan pertama. Dan simbol inilah yang melemparkan mereka ke dunia. Aku menambahkan versiku sendiri: setelah auratnya terbuka, mereka jadi bernafsu. Lalu kedua Bapa kita itu bersetubuh.

Berapa banyak orang-orang di hotel ini telah memakan buah kuldi? Sebanyak tamu-tamu yang terserap dan dilemparkannya kembali. Mereka telah memakan buah kuldi dari hari ke hari. Dilindungi tembok dan aturan. Dan ada sebuah 'kuldi' lain ketika jam ke empat aku di sana: saat aku hendak pulang, aku melihat dua bayangan berkelebat. Aku merasa itulah bayangan orang yang kucari-cari. Maka aku mengikuti ke mana mereka pergi. Mereka masuk ke dalam lorong-lorong di bawah stasiun yang gelap, karena lampu tak ada. Hanya mengandalkan bias penerangan jalan. Aku terus mengikuti mereka. Mereka terus masuk dan berkelok, sampai ke tempat yang paling tersembunyi dari stasiun itu. Aku menahan napas ketika kedua orang yang kucari mulai membuka pakaian, dan kakek itu dengan bersemangat mulai menusukkan penisnya ke pantat anak itu, lalu kudengar napas mereka memburu, sebelum terhempas ke dalam erangan yang terasa sangat menyesakkan.

Sumber : Media Indonesia Online

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com