21/10/08

BERDERAP—BERKEJARAN DENGAN TUHAN

Maman S Mahayana
Sumber, http://mahadewa-mahadewa.blogspot.com/

Menafsir puisi, tentu saja tidak sama dengan memasukkan huruf-huruf untuk mengisi kotak-kotak kosong dalam teka-teki silang. Jika jawaban pada kotak menurun atau mendatar itu salah, maka jawaban itu akan mengganggu huruf lain yang menempati salah satu kotak pada lajur menurun atau mendatar. Menafsir puisi, juga tidak semudah menyusun kembali gambar-gambar puzzle. Jika salah satu bagian gambar itu salah letak, maka keseluruhan gambar itu akan memunculkan bagian yang nyeleneh atau nyengsol, berantakan.

Dalam tafsir puisi, tidak ada yang seratus persen tepat benar. Di sana selalu ada persediaan untuk menafsir ulang, merevisi kembali makna yang pernah dijumpai, atau membuat pemaknaan baru yang sesungguhnya juga belum pernah akan selesai. Selalu hadir berbagai peluang dan kemungkinan lain atas tafsir dan makna baru, meski larik-larik dalam teks puisi tetap yang itu-itu juga. Itulah keistimewaan puisi. Ia dibangun atas prinsip penghematan bahasa, tetapi justru dengan cara itu, ia memberi banyak kemungkinan membangun tafsir, melahirkan makna.

Bahasa puisi sejatinya memang ajaib. Di sana, dalam larik yang dibangun deretan kata yang pendek, bernas, dan pekat itu, saklar memori kita (: pembaca) kerap diganggu, dibawa pada sebuah dunia yang entah, didesakpaksa membangun asosiasi. Maka, ketika teks berjuang mengejar konteksnya, memori dan asosiasi kita serempak bergentayangan mencari cantelan. Itulah puisi. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah puisi beneran. Deretan kata atau kalimat yang wujud dalam sejumlah larik yang dikemas lewat metafora, paradoks, citraan, atau bahasa figuratif lainnya, kerap digunakan penyair untuk mencipta sebuah dunia yang bernama puisi! Itulah puisi yang sejati—sebenar (truly) puisi! Itulah puisi yang memancarkan truismenya.
***

Membaca antologi puisi Tuhan, Aku Sendirian … karya Azwina Aziz Miraza, sungguh, saya seperti dihadapkan pada deretan kata—kalimat yang membangun larik-larik ajaib. Keajaiban itu bukan lantaran puisi-puisi dalam antologi ini sebagian besar menggunakan pola tipografi rata tengah (center). Juga bukan lantaran ada permainan enjambemen. Lalu, apa yang membuatnya ajaib?

Puisi-puisi Azwina Aziz Miraza –seperti juga kebanyakan puisi karya penyair lain—menawarkan beragam tema. Tetapi, tema apa pun yang diangkatnya, kita merasakan ada sesuatu yang sengaja dihadirkan, sekaligus juga disembunyikan. Di sana, ada ruh yang menjiwai segenap puisinya. Ruh itulah yang hadir dan mendekam dalam hampir sebagian besar puisinya. Maka, secara tematik setiap puisinya menyembulkan pesan dan makna tertentu, tetapi juga sekaligus menyembunyikan makna lain. Jadi, ada dua sisi yang seperti berlawanan, tetapi bukan sebagai kontradiksi. Kedua kutub yang saling berlawanan itu, justru sesungguhnya mengalir berkelindan. Di situlah keajaibannya. Ia membangun paradoks yang saling mengejar makna. Ia mungkin tak cukup puas menawarkan metafora, maka di sana, tersedia pula sayap lain untuk menghadirkan kata-kata bersayap.

Periksalah, misalnya, puisi yang berjudul: “Aku Bukan Gradasi!” Kesan yang muncul serempak dalam puisi itu adalah hasrat membuncah untuk menunjukkan kejatidiriannya. Jelas, di sana ada problem eksistensial yang dihadapi si aku liris. Secara lantang, ia berteriak bahwa posisinya, keberadaannya, bukanlah sekadar pelengkap. Inilah aku yang memayungi kehidupan, yang bisa pula bertindak sebagai pengayom, pelindung, pemberi—pendorong semangat.

Aku bukan sekadar gradasi yang jadi pelangi lantas mati!
Aku seperti langit yang memeluk bumi
bagai laut yang membusungkan janji
walau cuma sendiri!


Tampak di sana, problem eksistensial itu terjadi lantaran tidak (atau belum) adanya pengakuan subjek lain atas eksistensinya, keberadaannya, peranannya. Faktor itulah yang mendorongnya merasa perlu untuk menunjukkan jati diri: Inilah aku! Jadi, jika si aku liris merasa punya peran penting dalam kehidupan ini, mengapa ia tak percaya diri dan merasa perlu untuk berteriak lantang: inilah aku!

Tambahan lagi, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, individuasi seseorang, justru dalam hubungannya dengan orang lain, dengan masyarakat. Di situlah keajaiban puisi itu seperti hendak menunjukkan kediriannya justru dalam kaitan dengan subjek lain, orang lain, pihak lain. Eksplisit si aku liris seperti langit yang memeluk bumi/bagai laut yang membusungkan janji/walau cuma sendiri// implisit ia bagai langit yang memerlukan bumi; laut yang memerlukan janji; sendiri yang memerlukan orang lain. Inilah yang saya maksud dua kutub yang berlawanan, tetapi tetap mengalir berkelindan. Itulah keajaiban puisi.

Cermati pula puisinya yang berjudul “Bagimu Sekadar Kata Kujaga”. Puisi ini pun sesungguhnya juga memperlihatkan problem eksistensial yang ambivalensi itu. Meski demikian, kali ini si aku lirik berhadapan dengan Tuhan yang merasa diperlukan, tetapi tokh mengapa pula ia berjalan sendiri tanpa Tuhan. Dengan begitu, dua kutub itu tidak berlawanan, bukan kontradiksi. Bagaimana kita dapat merumuskan sesuatu yang diperlukan, tetapi kemudian tidak diperlukan lantaran ia merasa dapat mengatasi sendiri persoalannya?

Hal lain yang juga terasa segar dalam puisi-puisi Azwina Aziz Miraza adalah semangatnya dalam melakukan eksploitasi bahasa. Usaha penciptaan metafora dan paradoks yang coba menghindar bentuk klise itu jadi terasa tidak sekadar asal enak dibaca melalui permainan kesamaan bunyi akhir, tetapi ia justru memberi bobot pada tema-tema yang diusungnya. Di situ pula keajaiban yang lain muncul lagi. Saya berhadapan dengan begitu banyak tema yang berhubungan dengan problem eksistensial ketika Tuhan berada entah di mana, tetapi terasa begitu dekat.

Rangkaian tema spiritualitas perhubungan manusia dengan Tuhan dalam puisi-puisi Miraza agak berbeda dengan tema sejenis yang pernah diangkat penyair lain. Sebutlah kompleks kerinduan manusia dengan Tuhan yang dapat kita telusuri pada puisi-puisi Abdul Hadi WM, Amir Hamzah, Hamzah Fansuri sampai terus ke belakang memasuki puisi-puisi para penyair sufi. Kerinduan si aku liris adalah hasrat penyatuan dengan Tuhan, manungguling kawula Gusti, harapan berjumpa dengan Tuhan di dunia keabadian, keikhlasan menerima apa pun, atau ketakjuban pada misteri Tuhan. Artinya, Tuhan ditempatkan nun jauh di sana atau diyakini begitu dekat, tetapi penuh misteri dan berada di singgasananya yang dibatasi sebuah garis tipis yang juga misterius. Tuhan menjadi sebuah misteri yang menakjubkan, sekaligus mempesona. Misteri itulah yang menghadirkan gairah rindu—bersatu dengan Tuhan meski Ia tetap sebagai misteri yang selalu gagal ketika hendak dirumuskan. Ia hanya dapat dirasakan.

Nikmat-Mu segala puji
pagi yang kuhampar
siang yang menampar
untai tasbih yang kutebar
wangi malam bagai batu yang kulontar
Puji bagi-Mu, Rindu, sunyiku bergetar

(“Badai Bumi Badai Langit”)

Puisi-puisi Miraza yang lain, justru seperti tak menggambarkan itu. Ada kerinduan pada Tuhan. Ada hasrat bercengkerama dan coba menyapa-Nya melalui kegelisahan si aku liris pada fenomena sosial. Tetapi tak ada semangat untuk berjumpa –di dunia entah. Si Aku liris seperti hendak memperlakukan Tuhan sebagai sahabat, teman bermain—bercengkerama, dan misteri yang kerap tidak dapat dipahaminya, lantaran ternyata Tuhan juga tidak dapat memecahkan problem sosial. Di sinilah uniknya.

Tentu saja spiritualitas yang terasa aneh dan nyeleneh ini, bukan tanpa risiko. Implikasinya jatuh pada suasana dan tone –gema—puisi yang dibangunnya. Saya merasakan, tone dalam puisi-puisi Miraza tidak hadir sebagai nada, melainkan sebagai gema batin dari sosok manusia yang gelisah oleh berbagai-bagai persoalan yang dijumpainya, yang bertebaran di hadapannya, dan yang tidak dapat dipecahkannya sendiri. Dengan atau tanpa Tuhan atau sesiapa pun, si aku liris tetap harus melangkah. Hutan Cahaya, bertabur warna tembaga kuning kemilau/anak-anak awan berlarian mengurung Tanya/dan aku berdiri, melangkah tanpa kau// (“Di Tubuh Batinku Tumbuh Matahari”).

Di bagian puisinya yang lain, ia memunculkan serangkaian derap mendesak yang bagai hendak berkejaran dengan Tuhan:

Ia tak kunjung datang — karena hidup sudah lewat
terhempas kodrat
padahal masih kutumpuk segala ingin
oleh hatiku dingin
Mereka telah pergi, jauh sekali tinggal sisa perih
pelik batin, cuma benih tumbuh sedih
Kuberlari mengejar pusaran Cahaya
memancar ke segala arah tapi ia tak di sana
di atas sajadah kulihat ia di sebelah
Karena hidup sudah lewat bicaralah di antara sekat
aku pun sama ketika ma’rifat
di sini aku ada dan melihat

Periksa pula puisi yang berjudul “Tuhan, Aku Sendirian!” yang kemudian dijadikan judul buku ini. Menurut hemat saya, puisi ini dapat dianggap merepresentasikan keseluruhan tema dalam antologi ini. Persahabatan dengan Tuhan dalam hubungannya dengan kehidupan sosial. Jadi, di satu sisi, ada semangat spiritualitas yang mewartakan kedekatan si aku liris dengan Tuhan, dan pada sisi yang lain, ketika ia berhadapan dengan problem sosial, ia harus bertindak sendiri, tanpa Tuhan, sebab Tuhan juga dalam kenyataannya, tidak dapat menyelesaikan urusan sosial. Ia seperti hendak mengatakan: perkara manusia harus diselesaikan oleh manusia sendiri.

Dalam konteks itu, hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horisontal dengan masyarakat, bagi si aku liris, tidak dalam makna doktrin agama tentang konsep habluminanas—habluminaallah, melainkan dalam makna profanitas. Inilah yang membedakan spiritualitas Azwina Aziz Miraza dengan para penyair sufi. Kedekatan dengan Tuhan justru digunakan sebagai spirit untuk memasuki problem sosial, dan bukan sebagai hasrat hendak menyatu dengan Tuhan: manunggaling kawula Gusti. Tuhan tetap diperlakukan sebagai misteri yang menakjubkan. Tetapi tidak untuk melupakan tanggung jawabnya atas kehidupan di sekitar. Jadi, kecintaannya pada Tuhan, bukan sebagai usaha untuk berjumpa dengan Dia, melainkan agar ada spirit menjejakkan kaki dalam kehidupan sosial.

Begitulah, kesadaran spiritualitas tentang pengalaman rohaninya dalam memaknai keberadaan Tuhan, disadari sebagai kesia-siaan jika ia ikut hanyut berdiam diri, bergeming, tanpa bertindak, tanpa berbuat. Oleh karena itu, kesadaran spiritualitas itulah yang justru seperti memaksanya berbuat dalam memaknai eksistensinya sebagai makhluk sosial. Maka, membaca puisi-puisi dalam antologi ini, saya merasakan semangat si aku liris untuk berbuat, bertindak, menunjukkan keberadaannya, eksistensinya, jati dirinya dalam hubungannya dengan kehidupan di sekitar. Maka, sebelum Tuhan turun tangan, berbuatlah selagi ada kesempatan: carpe diem! Dalam hubungan itulah, tone dalam keseluruhan puisi dalam antologi ini, laksana gema batin si aku liris berkejaran dengan Tuhan. Ia berderap, berbuat, bertindak, sebelum Tuhan turun tangan!

Bojonggede, 1 April 2008

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita