Langsung ke konten utama

Fakta dan Fiksi dalam Babad Khadiri

Fahrudin Nasrulloh

Apakah Babad Khadiri dapat dipandang sebagai laporan ilmiah ataukah sebuah karya sastra? Menurut H.B. Jassin karya sastra musti memiliki gagasan, perasaan, kenangan-pengalaman, kegiatan jiwa, dan proses tertentu. Kendati karya ini secara umum dipandang sebagai laporan sejarah yang, sekali lagi, ganjilnya, berdasarkan laporan dari jin Buta Locaya.

Karena itu bagaimana cara kita, dengan berusaha sebaik mungkin, mencerna apa sebenarnya fakta dan fiksi yang menubuh dalam suatu karya. Yang pasti, fakta adalah hasil dari tindakan manusia. Karl Popper memandang bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang berasal dari otoritas yang berada di luar manusia. Pengetahuan adalah produk rekayasa manusia. Kendati pengetahuan tidak semata laporan ihwal kebenaran yang bisa dipertanggung-jawabkan, namun juga sekerumun kekeliruan dan kesimpang-siuran. Sementara fiksi adalah sesuatu yang dikonstruksikan dan dibikin menjadi ada. Meski di dalamnya terserak anasir khayalan. Maka khayalan di situ tidak menekankan segi ke-tak hadiran-nya, namun segi rancang-bangun, inventif, dan kreatif.

Di sinilah sebendel buku yang ditulis melalui tuturan sesosok jin yang berjudul Serat Babad Kadhiri: Kisah berdirinya Sebuah Kejayaan. Buku ini -- semula beraksara Jawa kuno -- ditulis oleh Mas Ngabehi Purbawidjaja (Jaksa Ageng di Kediri saat itu) dan disempurnakan oleh Mas Ngabehi Mangunwidjaja. Naskah tersebut merupakan cetakan kedua (2006) di mana sebelumnya pernah diterbitkan oleh penerbit Boekhandel Tan Khoen Swie, tahun 1932, Kediri.

Dikisahkan di sana, bertitimangsa 1832, tatkala Mas Ngabehi Purbawidjaja didesak oleh kolonial Belanda untuk melacak riwayat lahirnya kota Kediri. Dengan bantuan Ki Dermakandha dari dusun Kandairen, Mas Ngabehi Purbawidjaja berhasil merekam wawancara antara Ki Dermakandha dengan jin yang berparab Ki Buta Locaya (atau Kyai Daha) dengan cara meminjam raga Ki Sondong (dalang wayang klitik dan penabuh gamelan). Dari situlah tanya-jawab berlangsung lantas dicatat oleh Mas Ngabehi Purbawidjaja bersama Mas Ngabehi Mangunwidjaja. Akhirnya tersusunlah Serat Babad Khadiri.

Bertolak dari cerita tersebut. Jika unsur karya sastra yang utama adalah imajinasi, maka kita sering terjebak tatkala memisahkan antara imajinasi (angan) dari fantasi (khayalan). Mungkin Subagio Sastrowardoyo benar ketika mengatakan bahwa “Sastra dibangkitkan dari daya imajinasi. Yaitu daya tangkap batin yang secara intuitif memperoleh visi yang benar tentang pengalaman dan kenyataan. Sementara fantasi adalah hasil lamunan tentang alam yang berada di luar kehidupan nyata.” Namun perkaranya tidak sesederhana itu. Boleh jadi, fantasi hanyalah baju kepatutan, semata pernak-pernik belaka. Sementara imajinasi adalah nyawa yang bergentayangan di mana-mana, yang meresapi karya dan segala yang bertaut dengannya. Demikian bagi Coleridge.

Bagaimanapun juga, antara fakta dan fiksi tetaplah menjadi suatu misteri tersendiri, setidaknya bagi Ignas Kleden, bahwa ilmu sosial (yang berdasar data dari fakta) maupun karya sastra dengan caranya masing-masing kemudian menyampaikan kepada kita jauh lebih banyak kenyataan daripada sekadar kenyataan yang dilukiskan. Sewaktu Clifford Geertz meriwayatkan perdagangan kopra di tabanan, Bali, dia sebetulnya bercerita tentang seluruh masyarakat Bali, atau pada waktu melukiskan cara orang Jawa mengadakan selamatan, dia sebetulnya menggambarkan seluruh alam pikiran dan struktur sosial orang Jawa.

Inilah yang oleh Geertz kemudian disebut dengan logika analitik a There presence in a Here text: teks yang dihadapi “di sini” sesungguhnya menayangkan kehadiran yang “di sana”. Bahwa Babad Khadiri yang terhadir saat ini merupakan bayangan atau kemungkinan -- jika itu benar -- dari kenyataan sejarah silam kota Kediri. Lepas dari kebenaran ilmiah yang masih diragukan (apakah itu fakta atau fiksi?). Atau sebaliknya a There shadow of a Here reality: menghadirkan suatu bayangan “di sana” dari kenyataan “di sini”. Di sini peran si pengabar atau penulis (tapi dalam cerita ini yang tersisa hanyalah naskah babad itu sebab pengarangnya sudah mati) menghadir sebagai semacam artefak skriptural atau fosil teks dari bentuk kesaksian atas kenyataan sebagaimana yang dikisahkan dalam naskah tersebut.

Menurut Prof DR Edi Sedyawati, dalam kata pengantarnya, bahwa teks pada Babad Khadiri ini dapat dipandang sebagai karya sejarah (karena berlabel babad), meski pada dasarnya harus digolongkan sebagai karya fiksi. Karena cerita ini bersumber dari kisah seorang dalang (Ki Sondong), dapatlah dipastikan yang tertulis di sana hanyalah rekaan belaka. Hal ini dikuatkan dengan bukti dalam teks tersebut yang menyertakan foto Raden Mas Ngabehi Mangunwidjaja di mana ia disebut sebagai pengarangnja kitab ini dan seorang yang alim dan loeas pengetahoeannja dalam hal ilmoe rasa. Bukan sebagai penyusun sejarah. Tapi lebih tepatnya sebagai ahli kebatinan Jawa. Jelaslah pernyataan ini mengarah pada kualifikasi sastrawan dan bukan sejarawan.

Nyatalah bahwa Babad Khadiri dapat dipahami sebagai teks yang bersumber dari tradisi tutur, namun dalam periwayatannya, ungkap Edi Sedyawati, terdapat indikasi kisah ini juga berkorelasi secara interteks dengan naskah lain, semisal; Serat Aji Pamasa, Serat Jangka Jayabaya, Babad Tanah Jawi, dan Serat Jaya Kusuma. Meski teks yang terakhir disebut disangkal isinya. Ada pula teks Sastramiruda yang dalam Babad Khadiri ini juga menyebutkan tokoh bernama Panji. Karya ini pun berkait lekat dengan apa yang termaktub dalam teks-teks baku seperti Pustaka Raja, Babad Tanah Jawi, dan Babad Demak.

Maka dari itu, ketika kita membaca Babad Khadiri sebenarnya tidaklah untuk mencari kebenaran sejarah dalam konteks ilmu sejarah. Semisal, nilai politis apa yang melatar-belakangi kolonial Belanda untuk mengorek data tentang cikal-bakal kota Kediri (karena motif ini tidak tersurat dalam babad tersebut). Tentu saja, prasangka lain dapat berupa indikasi adanya upaya kaum imperialis itu untuk mengetahui watak dan spirit perjuangan manusia Kediri sebagaimana sepak-terjang C.S. Hurgonje membongkar seluk-beluk perlawanan dan tradisi orang-orang Aceh. Teks ini pun dapat dikaji dalam kaitan dengan persoalan konstruksi budaya, atau dalam rangka analisa dari pelbagai tinjauan dan disiplin ilmu. Karena itu, jika yang fakta di masa lampau tak seluruhnya dapat dibabarkan, maka yang fiksi hadir sebagai bualan cerdas dari segala lupa dan kejahatan lain yang tersamar.

Jawa Pos, 11 November 2007.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com