Tampilkan postingan dengan label Imamuddin SA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imamuddin SA. Tampilkan semua postingan

25/02/21

MEMUNGUT JEJAK FIGUR RAHMATAN LIL’ALAMIN

Judul Buku: Pesan Al Quran untuk Sastrawan
Jenis Buku: Kumpulan Esai Budaya dan Agama
Pengarang: Aguk Irawan MN
Tahun: 2013
Penerbit: Jalasutra Yogyakarta
Tebal: x + 434 hlm; 15 cm x 23 cm
Peresensi: Imamuddin SA

22/10/14

KUNTOWIJOYO DALAM MAKLUMAT SASTRA PROFETIK

Imamuddin SA
sastra-indonesia.com

Siapa yang tidak kenal dengan Kuntowijoyo! Ia seorang sastrawan, budayawan, sekaligus akademisi yang lahir di Yogyakarta 18 September 1943. Ia salah seorang maestro yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karya-karyanya sungguh luar biasa dan menjadi karya besar. Melalui karya-karyanya, Kuntowijoyo mengantongi berbagai macam gelar. Cerpenya yang berjudul “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri “(1995), “Resolusi Perdamaian” (1996), “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (1997), dan “Jalan Asmara Dana” (2005), meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas.

03/01/11

ALUSI; Asap, Waktu, dan Kupu-Kupu

Imamuddin SA
http://sastra-indonesia.com/

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Ungkapan Chairil Anwar itu terasa lantang disuarakan kembali dalam dewasa ini. Kata-kata itu seolah menjiwai setiap pribadi anak bangsa. Sungguh betapa dahsyat aura perjuangan yang tecermin di dalamnya.

Dan hal itu melingkupi segala sektor kehidupan yang ada di bangsa ini. Tengok saja dari sektor ekonomi; anak bangsa kita saling berlomba memperjuangkan nasibnya demi suatu pekerjaan dan kesejahteraan hidup yang mapan. Sektor sosial kemasyarakatan lagi gencar-gencarnya menggalang kerukunan antarkelompok masyarakat. Dari sektor pendidikan, generasi muda kita tengah berjuang untuk meraih masa depannya. Mencoba berusaha mendiami lembaga pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya. Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang digencarkan anak bangsa kita demi terciptanya suatu keharmonisan hidup yang sejahtera.

Ada lagi jika dihubungkan dengan aksi teror bom belakangan ini. Pasalnya, pelaku aksi bom bunuh diri kali ini adalah seorang remaja yang berusia belasan tahun. Jangankan peluru, bom saja tengah diterjangnya. Alih-alih ia pasti berdalih berjuang demi menegakkan kebenaran. Tentunya kebenaran yang berdasar pada sudut pandang pribadi dan kelompoknya. Dari kacamatanya, mereka yang melakukan aksi itu pasti melihat banyaknya ketimpangan-ketimpangan sosial atau praktik-praktik tertentu yang dirasa kurang cocok dengan kepribadian dan ideologi meraka. Dan entah, kebenaran mana dan bagaimana yang dalam realitas fisikal ini dapat dikatakan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang muncul hanya bersifat relatif. Yang benar dan menang hanyalah yang mayoritas. Sebab segelintir kebenaran yang hadir di tengah-tengah kesungsangan akan menjadikannya berada dalam posisi yang salah dan terlihat konyol. Dan hanya butuh keajaiban saja, kebenaran itu dapat diakui realitas yang ada. Itu tampak dari tayangan film yang ada di negara kita. Kebanyakan akhir-akhir ini tayangan televisi menayangkan film-film yang berbau magic (keajaiban). Hampir seluruh film populer jebolan Indonesia berbau seperti itu. Ini sebenarnya citra kita dan bangsa kita sendiri yang menjadi pembeda dengan bangsa lain, khususnya bangsa Barat. Lihat saja, setiap film yang diproduksi bangsa Barat, mayoritas yang ditonjolkan adalah heroik logistik. Jadi, dapat diasumsikan bahwa kehidupan mereka membutuhkan pejuang kebenaran yang sesuai dengan kebenaran logika. Selama tindakan yang dilakukan itu dapat diterima akal dan berdalih kuat, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengakui bahwa itu benar. Dan ini tidak harus menunggu keajaiban datang layaknya realitas di negara kita.

Sebenarnya semua usaha yang mereka lakukan di atas itu tidak lain hanyalah agar hidupnya bermanfaat dan berkenang bagi orang lain. Bahkan akan melampaui usianya. Namanya tetap hidup walaupun jasad telah tiada. Tujuan itulah yang menjadi tonggak eksistensialisme perjuangan mereka. “Mereka ingin hidup seribu tahun lagi”.

Tidak kalah menariknya dengan aksi teror bom beberapa saat yang lalu. Tepatnya pada bulan Juni 2009 kemarin, dunia kesusastraan juga terjangkit serangan bom. Tapi amunisinya bukan mesiu atau yang lain, melainkan karya. Pelakunya adalah Pringadi AS. Pemuda kelahiran Palembang 18 Agustus 1988. Pringadi membombastis dunia kesusastraan dengan meluncurkan antoligi puisi tunggalnya yang berjudul Alusi, yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga 2009. Semangat perjuangan untuk memberi kenangan manis pada kehidupan sesemangat hari kelahiranya, di mana tanggal tersebut adalah masih berbau momen sejarah semangat perjuangan kemerdekaan negara kita. Ia ingin menjadi Chairil muda yang bisa hidup seribu tahun lagi dengan kehadiran karyanya. Semangat perjuangan yang bersifat positif seperti Pringadi inilah yang kiranya patut ditanamkan jauh lebih dalam pada jiwa-jiwa anak bangsa kita. Bukan doktrin-doktrin perjuangan negatiflah yang semestinya ditanamkan. Dan inilah jalur perjuangan hidup yang tampaknya tengah ditempuh oleh Pringadi untuk mengubah tatanan baru kepribadian manusia serta bangsa. Esensial makna sajak yang digurat Pringadi diharapkan mampu menjadi mercusuar bagi seseorang dalam setiap langkahnya.

Ini tampaknya pilihan yang tepat bagi Pringadi untuk berjuang dan menorehkan kenangan manis hidupnya. Dalam ilmu sastra ada istilah majas atau bahasa kiasan. Fungsinya cukup variatif. Dan yang paling menonjol adalah memberikan suasana yang indah bagi jiwa seseorang, meski menggigit hati. Istilahnya memukul dengan perasaan, sehingga orang yang terpukul tidak merasakan sakit, namun justru mampu membuat perubahan yang berarti dalam hidup dan kehidupannya.

Dari sisi judul antologi yang digurat, tujuan Pringadi sudah terlihat jelas. Alusi secara leksikal bermakna sindiran halus. Dengan ini ia ingin berusaha membuat perubahan dalam pribadi seseorang secara halus tanpa menyakiti perasaannya. Setiap orang yang membaca karya ini diharapkan akan tergugah hatinya dan berkenan membuat perubahan dalam hidup dan kehidupannya tanpa sakit hati, meski sedang tersindir oleh kata-kata dan maknanya. Itulah tujuan Pringadi.

Esensial makna sajak yang dibangun Pringadi cukup baik. Ia membangun jiwa manusia ke arah yang lebih positif, baik dari sisi eksistensialisme, religius, sosial, maupun politik. Hanya saja secara struktural, bangun sajak yang diguratnya terasa lemah. Mungkin ini faktor dari usia kepenyairannya. Ia baru mengawali karir kepenyairannya tahun 2007, sebelumnya ia adalah cerpenis. Ada beberapa hal yang patut dijadikan sebagai pusat perhatian dalam sajak-sajak Pringadi. Hal itu di antaranya adalah masalah enjambemen, penulisan huruf kapital, diksi, style, karakter, dan konjungsi.

Enjambemen dalam pengguratan sebuah sajak sangatlah penting. Sebab dengan penyematan enjambemen, seorang penyair akan mampu menciptakan konstruksi makna yang baru atau ambiguitas makna dalam karyanya. Pringadi dalam menggurat sajaknya masih kurang memperhatikan adanya enjambemen sehingga tafsiran sajaknya terasa datar dan kentara.

Penulisan huruf kapital dalam sebuah karya puisi Indonesia lama biasanya dilakukan dalam setiap kata pertama dalam setiap baris sajak. Itu merupakan ciri khasnya. Perkembangan puisi Indonesia baru, penulisan huruf kapital tersebut mengalami sedikit perubahan. Dalam sajak-sajak puisi Indonesia baru kebanyakan huruf kapital hanya disematkan pada awal kata dalam setiap bait serta hanya disematkan pada penulisan kata yang merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan nilai ketuhanan. Dalam puisi Indonesia kontemporer, penulisan huruf kapital sudah jarang ditemukan dalam karya-karya penyair. Kebanyakan mereka menuliskannya dengan huruf kecil semua kecuali judul puisinya. Untuk membiaskan makna dan penafsiran, mereka juga menanggalkan penulisan huruf kapital pada hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan. Alasan lain meniadakan penulisan huruf kapital adalah agar tidak mengganggu fokus dan konsentrasi pembaca saat melakukan proses penikmatan karya.

Karya-karya Pringadi sangat variatif. Dalam sajaknya, ia menggunakan gaya puisi Indonesia lama, baru, serta kontemporer. Namun kadang kala dalam penulisan sajaknya sebagian kata ada yang ditulis dengan huruf kapital semua. Ia tampaknya kurang memperhitungkan efek penulisan tersebut. Padahal dengan tindakan itu, suasana pikiran pembaca akan terusik sehingga mampu memecah konsentrasi penikmatan karya. Andaikan penulisan tersebut dilakukan pada kata-kata yang berkekuatan, ini bisa jadi berfungsi sebagai penajaman makna. Namun ini beda, Pringadi melakukannya pada kata-kata biasa yang tidak memiliki daya magis tertentu. Dan inilah yang saya kira mengganggu dalam kadar mengganggu yang bersifat negatif.

Dari sisi diksi, sajak-sajak Pringadi kurang menunjukkan kepadatan. Ia kerap melakukan pemborosan kata. Hadirnya konstruksi konjungsi juga menjadikan sajak-sajak Pringadi terasa encer. Sajaknya juga kerap terlihat menggurui pembaca. Ia seolah-olah menganggap bahwa pembaca adalah orang yang tidak mengerti akan esensial makna sajaknya. Hal itu terlihat dari penyematan dan penegasan kata-kata yang ditandai dengan tanda kurung dalam sajaknya. Tindakan ini justru malah melemahkan dan mengencerkan eksistensi sajak yang telah diguratnya.

Karakter cerpenis masih begitu mendominasi puisi-puisi Pringadi. Hal itu menyebabkan style bahasa yang dipergunakan dalam setiap puisi Pringadi terlihat dan terasa seperti style cerpen. Namun ini dapat dimaklumi sebab basik dasar Pringadi adalah seorang cerpenis. Ini terbukti dari prestasi yang tengah dirainya, yaitu sebagai juara lomba 1 Cerpen Hoki Literary Award 2008, juara harapan lomba menulis cerpen 2008 di kolomkita.com. Selanjutnya perhatikan sajak-sajak Pringadi berikut ini.

SPRINTER

BARU saja dipecahkan rekor lari seratus
meter atas namannya sendiri yang dibuatnya
tahun lalu (dalam debutnya)

dari eSDe, sehingga eSeMA, dia selalu
menjadi yang tercepat, pernah sampai
empat koma dua dalam empatpuluh yard
(dunia kecepatan cahaya yang sulit
dan langkah ditempuh manusia)

BESAR kepalanya akhirnya dengan medali
emas digantung di leher yang semakin
jenjang dan panjang dengan nama yang
semakin sering dicetak di media mana-mana

dia tak lagi shalat dan bayar zakat, dia
lupa ceramah masa kecil tentang akhirat
dan pertimbangan segala manfaat

“Orang yang paling baik adalah orang yang
paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”

DIPIKIRNYA dia sudah bermanfaat bagi negara,
Berarti seluruh rakyat yang duaratus juta jiwa itu
Harus berterimakasih kepadanya karena telah dia
Membuat negara bangga dan berjaya

TOH jikapun dia masuk neraka, dia bisa lari
kapan saja sebab tak ada yang lebih cepat
darinya – dari kakinya yang sudah sudah itu.

(Alusi, hal 51)

PEMILU

tak usah pilih kaus mana yang hendak kupakai
di masa kampanye damai. mana saja kuterima
apalagi jika disertai berlembar rupiah entah itu
bitu atau merah atau hijau pun bolehlah. asal
tak kurang itu.

kau ajak aku konvoi ke senayan pun tak masalah
asal tak lupa kau gantikan bensin yang biasa habis
untuk narik ojek sampai petang sebab tlah dipecat
aku dari kerjaku akibat krisis ekonomi kemarin.

dan tak usah kau paksa aku jadi tim sukses yang
mempromosikan dirimu sebagai caleg, entah itu
apa kepanjangannya: calon budeg kah? ah tak
masalah asal rupiah kau titipkan di kupiahku
yang sudah kumal dan bulukan.

tapi untuk hak pilih tak bisa kaupaksa. atau terima
apa saja tapi hak pilih adalah privasi seperti hak
opsi yang kautawarkan dalam perjanjian. asasi
yang dilindungi peraturan dan undang-undang
bisa kutuntut di mahkamah jika kau paksa.

(Alusi, hal 36)

Terjun Bebas

Ini areal bebas terjun kan? kita
tak perlu takut pada ketinggian
yang sering membuat kita gemetar
menyebut “akbar, akbar” padahal
sebelumnya TAK PERNAH.

TANYA dulu, berapa meter kita dari
permukaan laut? berapa cadangan
oksigen yang mampu mengembungkan
parasut yang dua dan dijamin akan
mampu membuka dalam keadaan

apapun itu?

kompensasi surga tak cukup meski
segala dosa tak digubris, lesat
saja seperti kereta tak tua di
gerbang pertimbangan kelak

TIDAK. TIDAK. kami ingin terjun
-terjunan saja, dari atas atap
rumah kami yang bocor, dari ayunan
tua kami yang ringkuh tak mau
dibohongi waktu

pun KAU!

(Alusi, hal 88)

Puisi-puisi panjang Pringadi di atas terasa begitu lemah berdasarkan kriteria yang telah saya ungkapkan sebelumnya. Justru bagi saya, puisi-puisi Pringadi yang berhasil adalah puisi-puisi pendeknya. Pringadi dengan puisi pendeknya mampu menawarkan kealaman makna yang begitu wah kepada pembaca. Pembaca seolah diberi keleluasaan dalam menafsirkan serta mengambil kandungan makna yang ada di dalamya. Namun yang begitu menarik bagi pribadi saya pada Pringadi adalah semangat bekaryanya. Ini yang tidak dimiliki dari kebanyakan orang. Pringadi begitu subur dan eksis dalam menggurat puisi sehingga dengan waktu yang terbilang relatif singkat ini, ia mampu menyuguhkan antologi puisi tunggalnya di hadapan kita semua. Sejenak marilah kita perhatikan sajak-sajak pendek Pringadi berikut.

Halaman Ini

Kau seolah paham: tak ada gerbang
di halaman ini

serumpun babmbu di sudut pertama,
ayunan dari besi tua, dan sebuah kolam yang
tak sempat kau beri nama

Kau cari jejak-jejak itu, sia-sia

(Alusi, hal 75)

Le Mois

Pada secangkir kopi,
tertinggal jejak

bulan malam tadi

(Alusi, hal 76)

Potongan Wajah

Di bibir bulan kutemukan
Sepotong wajahmu yang sempat
Kau lupakan.

(Alusi, hal 85)

Berkacamata pada beberapa puisi di atas, saya kira Pringadi butuh pengenalan karakter puisi yang diguratnya, sehingga ia mampu menentukan bentuk puisi yang bagaimana yang pas baginya. Dan ia pun pada akhirnya akan mampu menggalang kekuatan eksistensialisnya melalui kekuatan sajak-sajaknya. Hal itu tampaknya tengah terlukis dalam cover antologi puisinya ini; Alusi. Antologi ini bercover lonceng yang dikaitkan dengan kupu-kupu. Ini mengisyarahkan bahwa untuk menemukan keindahan sajak yang sesungguhnya, Pringadi masih butuh proses metamorfosa lebih jauh lagi. Ia masih butuh waktu pengenalan karakter pribadinya dan mengenal lebih jauh lagi tentang puisi. Selain itu, ilustrasi covernya yang lain adalah seolah-olah ada kepulan asap yang memerah. Ini menunjukkan bahwa Pringadi butuh semangat yang lebih gigih dan bergairah lagi dalam proses kreatifnya. Ia butuh kedekatan emosional dengan penyair-penyair yang lebih tua usia kepenyairannya untuk memberi dorongan psikologi serta motivasi fisik kepadanya. Selanjutnya, selamat berproses. Selamat bekarya. Dan jika ingin hidup anda menjadi cerita yang luar biasa, mulailah dengan menyadari bahwa anda adalah penulisnya dan setiap hari anda punya peluang untuk menulis satu halaman baru darinya (Mark Houlahan).

17/10/10

KILAS BALIK SERAT KALATIDA KARYA RONGGOWARSITO

Imamuddin SA *
http://www.sastra-indonesia.com/

Sebenarnya perjalanan kehidupan dalam alam fisik ini bersifat stagnan. Mulai dulu sampai sekarang, bahkan nanti akan bersifat sama alurnya. Sama dalam tataran peristiwa problematikanya. Yang berbeda hanyalah fenomena tempat, fasilitas, pelaku orangnya, budaya, dan peradabannya. Ini terlihat sebagai suatu siklus rotasi yang pada saatnya nanti akan teruluang kembali. Seperti suatu nasib; kadang di atas, kadang di bawah. Suatu saat akan berjaya, di saat yang lain akan terjatuh juga.

Peristiwa-peristiwa masa lalu akan terulang kembali pada masa sekarang. Begitu juga dengan sekarang, pada hari esok akan terulang pula. Namun tidak sama persis. Yang sama hanyalah suasana batiniah peristiwa itu. Seperti itulah fenomena yang seolah-olah tampak dari karya Ronggowarsito. Kita kenal bahwa Ronggowarsito adalah seorang pujangga yang konon ceritanya memiliki ketajaman batin yang khusus dan tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Dalam karya-karyanya sering terungkap prediksi-prediksi suatu kejadian masa datang. Bahkan lebih dari itu, ia juga mengetahui ajalnya sendiri.

Sebenarnya Ronggowarsito bukanlah nama asli, melainkan suatu gelar kebangsawanan di keraton Surakarta. Gelar Rongowarsito ini diberikan kepada seorang juru tulis kerajaan. Nama asli Ronggowarsito yang kita kenal saat ini adalah Bagus Burham yang lahir tanggal 15 Maret 1802. Orang yang pertama kali menerima gelar Ronggowarsito ini adalah Yosodipuro II yang tidak lain adalah kakek Bagus Burham. Ronggowarsito II bernama Panjangswara dan dia adalah ayah dari Bagus Burham. Bagus Burham inilah yang yang kemudian menggantikan ayahnya dengan gelar Ronggowarsito III setelah perang Diponegoro usai; yaitu sekitar tahun 1830. Dan Bagus Burham inilah yang sampai dewasa ini akrab kita kenal dengan nama Ronggowarsito. Yang karya-karyanya sampai di tangan kita.

Dalam karyanya, Ronggowarsito pernah menyinggung datangnya bencana yang merupakan sebagian dari kutukan Tuhan. Berdasarkan penglihatan ruhaniahnya, hari itu suatu saat akan datang. Semua ini tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Sebelum datangnya hari itu, pasti ada sebabnya terlebih dahulu. Sebab utama yang melatarbelakangi munculnya kutukan Tuhan tidak lain adalah dipicu oleh kelalaian manusia sendiri. Ia lalai dengan jati dirinya sehingga lalai pula dengan tugas kemanusiaannya di dunia. Misi kekhalifahan terabaikan. Mengobarkan api kerusakan dalam kesemestaan alam. Angkara murka bangkit di mana-mana. Bahaya, susah, dan derita meraja lela. Ilustrasi itu terungkap dalam Serat Kalatida yang diungkapkan dalam bentuk tembang Sinom. Serat tersebut berbunyi:

I
Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaruri
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun Kala Tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda.

II
Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Parandene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angreribedi
Beda-beda ardaning wong saknegara

III
Katetangi tangsisira
Sira kang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Kataman ing reh wirangi
Demimg upaya sandi
Sumaruna anerawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka.

IV
Dasar korban pawarta
Bebaratan ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yen pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu kali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

V
Ujaring Panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhak angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna.

VI
Keni kinarya darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-puluh anglakoni kaelokan.

VII
Amenangi jaman edan
Ewth aya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada.

VIII
Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

IX
Beda lan kang wus santosa
Kinarilan ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ichtiyar.

X
Sakadare linakonan
Mung tumindah mara ati
Angger kang dadi prakara
Karana wirayat muni
Ichtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kang kaesthi antuka parmaning suksma.

XI
Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan.

XII
Sagede sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruhara
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat asih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendhana
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya.

Ronggowarsito dalam karyanya di atas mengisahkan bahwa martabat negara hancur berantakan. Aturan, hukum, dan undang-undangnya tidak diindahkan dan diinjak-injak. Contoh-contoh yang luhur tidak ada lagi. Orang-orang terpelajar terbawa arus dalam kepincangan zaman. Suasananya mencekam, sebab hidup penuh dengan kerepotan. Ibarat yang salah jadi benar, dan yang benar menjadi salah. Yang halal menjadi haram, dan yang haram memnjadi halal.

Pada dasarnya kepincangan-kepincangan itu tidaklah bersumber dari pemerintahan, tetapi semuanya mengalir dari jiwa-jiwa masyarakat dan manusianya. Pemimpin pemerintahan termasuk orang yang baik. Patihnya juga cerdik. Semua anak buah hatinya baik. Pemuka-pemuka masyarakat juga baik. Tetapi semuanya itu tidak membawa kebaikan. Justru malah sebaliknya. Hal itu disebabkan oleh kutukan zaman. Bahkan keusahpayahan semakin menjadi-jadi. Lantaran perbedaan persepsi, pandangan, pikiran, serta tujuan manusiannya masing-masing. Semuanya saling membenarkan diri-sendiri. Walau sudah jelas dirinya bersalah.

Saat itulah hukum menjadi barang dagangan yang tengah diobral murah. Pemerintah tak berdaya. Yang berharta jadi penguasa. Berhak menentukan jalan hidupnya. Tak peduli benar-salah dan halal-haramnya cara yang ditempuhnya. Yang penting tujuan tercapai, segalanya digilasnya.

Melihat fenomena semacam itu, Ronggowarsito menangis sedih. Ia merasa malu dan terhina. Realitas yang ada penuh dengan fitnah dan intrik. Segalanya seolah-olah tampak menghibur dan menggembirakan. Di depan seseorang bersifat manis dan memuji-muji, tetapi jika seseorang itu tidak ada, maka ia justru balik menikamnya

Berbagai macam gosip dan rumor datang tak menentu pada zaman itu. Di mana-mana selalu ada gosip, bahkan hampir diseluruh penjuru dipenuhi dengan gosip. Bukan gosip yang positif, melainkan hanya sekedar mengumbar aib. Orang-orang banyak yang berebut kedudukan. Setiap kepala ingin duduk memerintah. Oleh sebab itu, janji-janji berhamburan demi menggapai tujuan. Tapi pada akhirnya itu hanya sekedar bualan. Kata-kata yang telah diucapkan justru malah tidak diperhatikan sama sekali. Sibuk dengan perutnya sendiri. Sebenarnya, kalau benar-benar direnungkan, menjadi pemimpin itu tidak ada guna-faedahnya. Justru malah menumpuk kesalahan-kesalahan saja. Bahkan jika lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kesusahpayahan yang berujung pada bencana.

Berdasarkan buku Paniti Sastra, sebenarnya sudah ada wawancang terlebih dahulu akan peristiwa ini. Saat zaman dipenuhi kesusahpayahan, kebatilan, serta musibah, orang baik akan tidak terpakai. Ia malah dikucilkan. Hendaknya hal ini menjadi catatan penting. Kata-kata yang tak bermakna dan gosip-gosip hanya akan menyiksa hati. Ini tidak patut untuk didengarkan. Lebih baik mendengar cerita masa lalu dan dongeng-dongeng. Itu dapat dijadikan teladan dan cermin diri yang baik guna membandingkan dan mempertimbangkan antara perbuatan yang baik dan buruk. Antara kebaikan dan kejahatan. Antara yang benar dan salah. Sebenarnya cukup banyak contoh dari kisah-kisah terdahulu yang mampu membuat hati penikmatnya tenang dan damai, bersikap ikhlas menerima yang berujung pada kepasrahan dan keridhaan terhadap segala takdir Tuhan.

Ronggowarsito mengisyaratkan bahwa hidup di zaman edan ini memanglah sangat repot. Susang menentukan sikap. Ingin mengikuti arus zaman, kita tidak sampai hati, tetapi jika tidak mengikuti, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Yang kita dapat hanyalah kelaparan. Walaupun begitu, ini sudah jadi kehendak Tuhan. Di zaman ini, seuntung apapun orang yang lupadaratan, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat kepada yang hidup dan yang mati. Ingat pada jati dirinya sendiri. Waspada terhadap kutukan tuhan yang pasti.

Ibarat pepatah. Orang yang hidup di zaman edan ini seolah-olah tampak menolak segala realitas kepincangan yang ada, namun pada dasarnya ia berminat menerima kenyataannya. Benar kata orang, dalam hati fenomena ini memang repot juga. Dari pada memikirkan arus zaman itu, Ronggowarsito lebih baik memimikirkan hal yang lain. Lebih baik ia menginstropeksi diri. Ia menyadari bahwa usianya semakin tua. Apa pula yang hendak dicari dalam dunia yang seperti ini. Lebih baik berkhalwat agar mendapat ampunan Tuhan yang sejati.

Berbeda lagi dengan mereka yang sudah kuat, yang telah menggenggam kesejatian hidup, ia pasti telah berlimpahkan rahmat tuhan. Bagaimanpun fenomena zamannya, ia selalu bernasib mujur. Tuhan selalu memberi pertolongan padanya. Ia tidak perlu bersusah payah, dengan tiba-tiba ia akan mendapatkan anugrah. Walaupun begitu, ia masih butuh ikhtiar juga.

Orang yang seperti itu, selalu menjalani realitas hidup dan kehidupan dengan bersikap sederhana dan sewajarnya. Urep sakmadyane. Ia berjalan berdasarkan tuntunan hati yang jernih. Memberikan kebahagiaan dan tak menimbulkan permasalahan. Seperti pepatah, manusia itu wajib berikhtiar dalam memilih jalan yang benar. Bersamaan dengan hal itu, ia harus senantiasa ingat dan waspada agar mendapat rahmat Tuhan yang Esa.

Setelah menginstropeksi diri, dengan segala kesadarannya, Ronggowarsito berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berwasilah kepada Rasulnya. Dengan kasih sayang-Nya, Ronggowarsito berharap agar mendapatkan pertolongan di saat ajal telah menjelang. Baik saat di dunia maupun saat di akhirat nanti. Ia sadar betul bahwa hidupnya tinggal sebentar lagi. Khusnul khotimah ataukah su’ul khotimakah akhir perjalanannya nanti? Yang jelas, hanya Tuhan-lah yang kuasa memberi pertolongan padanya. Semoga ia dikaruniai kesabaran dan kekuatan ketika menjalani mati dalam kehidupan (mati sajroning ngaurip). Jauh dari bencana serta terhindar dari keangkaramurkaan. Dengan segenap jiwa Ronggowarsito merenungkan, menyucikan lahir, batin, dan pikiran sembari menyongsong berakhirnya kutukan zaman. Ia pasrah menanti datangnya putusan (takdir) Tuhan.

Apabila serat itu kita tarik benang merah dengan realitas sekarang, maka akan terasa relevansi yang begitu kuat. Fenomena yang digambarkan Ronggowarsito dalam zamannya seolah muncul kembali pada saat ini. Ini diperkuat dengan isyu “kiamat” pada akhir tahun 2012. Konon diceritakan bahwa kiamat itu adalah hari kehancuran alam. Tanda-tandanya adalah rusaknya moral manusia. Bumi digoncang-gancingkan dengan guncangan (problematika hidup dan kehidupan) yang sangat dahsyat. Manusia bingung dengan sendirinya. Bagaikan makan buah simalakama.

Jika kita berpandangan lebih arif terhadap isyu tersebut, kita akan menemukan titik temu antara realitas sekarang dengan ujaran Ronggowarsito dan Maya Calender. Tahun 2012 berdasarkan Maya Calender merupakan titik kulminasi dari peristiwa “kiamat”. Kiamat di sini tidak sekedar kita pahami sebagai totalitas kehancuran alam semesta, melainkan bisa jadi kehancuran yang bersifat minimum. Sebab kita kenal istilah kiamat sughroh dan kiamat kubroh. Begitu juga dengan pijakan kita tentang kehancuran alam. Alam yang bagaimanakah yang hancur! Alam fisik? Alam ruhani? Alam hati? Alam pikiran? Atau bahkan alam tubuh manusia (kematian personal)? Lantas kita juga harus berpandangan pada letak titik sentrum yang paling kuat dalam kehancuran alam tersebut?

Realitas alam ruhaniah manusia sekarang ini memang benar-benar hancur. Esensi keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya kerap tergadaikan. Manusia banyak yang lari dari Tuhan dan berganti arah-mendekat pada nafsiahnya. Hawa nahsunya yang kerap ditonjolkan. Hal itulah yang menyebabkan hancurnya alam hati dan pikiran mereka. Alam hati tak tenang, tergoncang-gancingkan, dibayang-bayangi dengan ketakutan-ketakutan akan kemelaratan di dunia sehingga ia kerap mengejar harta dan tahta. Jika telah terjadi demikian, alam pikiran akan hancur. Pikiran-pikran yang baik dan positif akan tergantikan dengan kecurangan-kecurangan dan keculasan. Sehingga dalam setiap detik, ia akan dihantui dengan pikiran dan rasa bersalah, takut terbongkar kucurangan dan keculasannya. Wal hasil, benih penyakit yang aneh-aneh pun muncul dalam diri manusia sebab terlalu besar memendam beban rasa. Dan akhirnya, tubuh dilanda sakit. Hanya mengeluh yang ia bisa. Menyesal tiada guna. Lantas meninggal dunia. Inilah kronologis “kiamat” dalam tataran kecil-kecilan.

Fenomena di atas merujuk pada personal manusia. Namun jika hal itu terjadi dalam skala yang lebih besar, kita perlu melihat titik sentrumnya. Wilayah manakah yang masyarakatnya paling dominan melakukan hal tersebut. Dari sinilah konsep penghancuran umat akan berlaku. Seperti kisah kaum Nuh AS yang dihancurkan dengan banjir besar dan kaum-kaum lain sebelum kita. Dan hanya merekalah yang mau berikhtiar mendekatkan diri pada orang-orang yang benar, pada para kekasih tuhanlah yang saat itu berlimpahkan anugrah dan keselamatan.

Kenyataan saat ini; individu, masyarakat, dan pemerintah banyak yang bertindak korup. Lahan-perlahan bencana kerap melanda. Kematian masal meraja lela, baik di darat, laut, maupun udara. Tidakkah ini merupakan sebagian kecil dari kiamat? Apakah ini kutukan Kalatida? Ataukah ini kepastian Kalender Maya? Benarkah potret “kiamat” itu akan terjadi kembali dalam realitas masyarakat kita sekarang ini? Dan memang pantas-siapkah masyarakat kita menerima kepastian seperti itu? Jawabannya hanya ada dalam diri kita masing-masing, dalam ruang waktu yang masih terasing.

=========
*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).

MISTERI TAWA ALA MILAN KUNDERA

Imamuddin SA *
http://www.forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Realitas yang terjadi dalam kehidupan, sebuah ritmik dinamis yang terbentuk lewat gerak manusianya. Darinya, segala sesuatu itu mengada. Peristiwa-peristiwa serta benda-benda yang bersifat baru yang merupakan komplemen itu hadir akibat dari pola eksistensi mausia. Misalkan saja keberadaan barang-barang elektronik. Barang-barang semacam itu pada mulanya bulum ada di lingkungan ini. Itu termasuk barang baru yang difungsikan untuk mengefisienkan pribadi manusia sendiri dalam melengkapi kebutuhannya. Dulu, sebelum ada telekomunikasi, manusia masih kerap memperdayakan burung untuk memberikan kabar ke suatu tempat. Ada lagi dengan memasukkan secarik kertas ke dalam botol, lalu dilemparkan ke laut. Namun keberadaan kabar yang disampaikan lewat tindakan semacam itu memiliki nilai kecil untuk sampai pada orang lain yang dimaksud. Adakalanya kabar itu dibawa langsung oleh seorang utusan. Dan ini membutuhkan rentang waktu yang relatif lama. Baru kemudian setelah alar relekomunikasi (telepon) ada, hanya dalam hitungan detik, seseorang dapat memberi kabar kepada sesamanya yang notabenenya berada di tempat yang jauh dan berlainan.

Proses terbentuknya barang baru tersebut masuk dalam sebuah peristiwa. Jika sebuah peristiwa berkonotasi pada tindakan yang besar, itu dapat dikategorikan sebagai sejarah peradaban manusia. Lebih jauh dari itu, terjadinya peristiwa-perisriwa kecil dan sederhana dalam realitas ini juga pengaruh dari gerak manusia. Semisal adanya ramah-tamah, tolong-menolong, pencurian, pemerkosaan dan lain-lain termasuk sebagian dari eksistensi manusia. Bahkan peristiwa perang pun akibat dari ulah tangan manusia.

Semua itu terjadi akibat pola pikir seorang manusia yang mendapat sugesti dari kehendak hatinya. Baru kemudian terciptalah gerak utuk membentuk sesuatu yang baru. Membentuk suatu perubahan yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Entah itu perubahan yang bersifat universal maupun sebatas sederhana. Dan semuanya itu, juga tidak terlepas dari eksistensi tuhan yang tengah memberikan keleluasaan kepada manusia untuk mengatur dan mengolah segala yang ada dalam realitas kebendaan ini. Manusialah pemimpinya. Pemimpin bagi dirinya. Pemimpin untuk lingkungannya.

Peran serta manusia dalam realitas kebendaan ini sangatlah dominan. Namun kemutlakkannya masih berada di tangan tuhan. Eksistensi tuhan di sini kebanyakan hanya meng-amini apa yang telah menjadi kehendak manusia. Hanya dalam momen-momen tertentu, tuhan menunjukkan kebesarannya, bahwa Ia lebih kuasa ketimbang manusia. Itu dilakukan hanya untuk menunjukkan bahwa kekuasan manusia itu masih berada dalam naungan kekuasaan tuhan.

Keleluasaan itu diberikan untuk pendayagunaan akal manusia sendiri. Bagimana eksistensi akal di sini dipertanyakan dengan serius. Dengan kemampuan akal yang ada, manusia diharapkan memberikan suatu kevariatifan serta kedinamisan dalam lingkungannya. Namun hal itu masih dengan satu catatan, jangan sampai membuat kerusakan di dalamnya.

Pemberdayaan akal dalam realitas ini sangat berperan aktif. Sebab eksistensi manusia di sini ditunjukkan dengan eksistensi akalnya. Descartes juga sempat menekankan akan pentingnya akal dalam realitas ini. Dengan pernyataan; ketika aku berfikir maka aku ada, ia sebenarnya telah membongkar keberadaan manusia yang sebenar-benarnya dalam lingkungan ini. Dengan pengolahan dan penggerakan akal, maka realitas lingkungan akan turut bergerak pula. Mobilitas akan terjadi secara dinamis. Itulah yang kemudian dapat dirujukkan pada ungkapan Milan Kundera; saat manusia berfikir, Tuhan tertawa.

Tuhan tertawa saat melihat manusia berfikir sebenarnya masih menimbulkan pertanyaan. Saya kira tawa tuhan di sini masih menjadi misteri. Apakah tawa itu menunjukkan suatu kebanggaan terhadap manusia, ataukah justru malah sebaliknya. Tawa itu sebagian dari penghinaan oleh tuhan terhadap misi kemanusiaan. Pernyataan Kundera dapat mengena pada kedua premis ini. Ini tinggal tumpuan berfikir manusia ditujukan ke arah yang bagaimana. Jika orientasi berfikir seorang manusia itu ke arah yang positif, maka tuhan akan bangga dengan sikap terebut. Namun jika pola pikirnya tertuju pada sesuatu yang bersifat negatif dan buruk, maka tuhan pun akan menertawakannya. Tuhan merendahkan kredebilitas manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan keberadaan akal padanya. Misalkan peristiwa perang. Sudah jelas, tuhan membenci perpecahan, pertumpahan darah, dan kerususakan, tapi mengapa perang masih saja tetap terjadi. Semua itu tidak lepas dari kepentingan personal yang dipicu gelar, nama besar, maupun kedudukan.. Sehingga pola pikir pun terserang virus keserakahan dan eksistensinya terkendali oleh nafsu. Akal tak sanggup memfilter, menimbang dan menilai dengan baik. Akal lemah. Saat itulah tuhan menertawakannya.

Ini tidak hanya merujuk pada peristiwa universal seperti peperangan saja. Suatu tindak penilaian yang buruk dan negatif terhadap segala ungkapan, pernyataan, maupun tindakan orang lain itu juga sanggup merendahkan kredebilitas manusia di hadapan tuhan. Tuhan akan menertawakannya. Termasuk yang hanya bersifat prasangka buruk juga. Segala yang ada dan terjadi sebagai suatu rangkaian peristiwa negatif itu seyogyanya tidak dipandang dengan nilai yang buruk. Realitas semacam itu semestinya kita pandang sebagai suatu kemutlakan untuk becermin terhadap diri sendiri. Mengambil kebaikannya dan menjadikan kenegatifannya sebagai wacana serta pengalaman yang berharga. Biar tuhan bangga dengan pola pikir kita. Tuhan bangga dengan keberadaan kita dalam mengemban amanahnya.

Kundera juga memberi pandangan akan kebajikan utama yang kudu dikembangbiakkan oleh manusia. Hal itu meliputi; toleransi, humor, dan imajinasi. Toleransi berkaitan erat dengan tindakan penghormatan terhadap individu lain. Selain itu gotong royong dan tolong-menolong juga tergolong dalam tindak toleransi. Fokusnya untuk menjalin harmonisasi antarindividu. Jika ini telah tercipta, maka rasa aman, kepercayaan, serta kesejahteraan akan menjadi buahnya dalam lingkungan masyarakat.

Masalah humor tidak hanya semata-mata sebuah lelucon yang mampu membuat seseorang tertawa terpingkal-pingkal. Ini dapat dibiaskan pada persoalan usaha memberi kebahagiaan serta menciptakan suasana yang menyenangkan kepada individu lain. Sedangkan imajinasi berkonotasi pada tindak berfikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Manusia dituntut untuk berkreasi. Tentunya kreasi itu bukanlah sesuatu yang bernilai negatif. Kreasi yang tidak sekedar menguntungkan diri sendiri namun merugikan orang bayak. Ini bertalian dengan pernyataan bahwa saat manusia berfikir, Tuhan tertawa. Dan ketiga rumusan kebajikan itu bersifat menunjang-mengisi satu sama lain. Yang semestinya diaplikasikan secara bersama-sama, bukan sebagian saja. Kita tidak bisa meninggalkan salah satu di antaranya.

Pebruari 2009

*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).

11/09/10

VOTUM SANG PENYAIR: Pemikiran &Pemberontakan Octavio Paz

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Saya bukan mempengaruhi dan bukan mendoktrin siapapun. Saat ini cobalah alihkan segala bentuk imajinasi dan logika pada satu arah sudut pandang yaitu kesusastraan. Sastra merupakan satu bentuk perwujudan agung dan suci yang terpancar dari kedalaman pribadi seorang manusia. Ia menjelma dalam hidup dan kehidupan sebagai cahaya kejujuran yang memancarkan sinar kemalanya yang berbinar-binar. Ini tak pandang bentuk dan tampilanya. Walaupun kadang berbentuk rekaan maupun tampilan esensinya secara real terasa tersembunyi, ia pada dasarnya merupakan satu ungkapan kejujuran hati atau gambaran nyata dari kepribadian pengguratnya yang bertujuan agar mampu ditangkap, dipahami, dicerna, direfleksi, dan bahkan untuk diikuti oleh siapa saja yang berkenan membacanya.

Semua itu adalah keinginan yang mutlak yang timbul dari dalam diri seorang sastrawan. Semua satrawan pasti memiliki hasrat semacam itu. Hasrat agar karyanya dibaca, ditangkap, dipahami, dicerna, direfleksi, dan juga diikuti.

Di samping itu masih terdapat satu hasrat yang sangat fital dan menjadi landasan utama dalam karya yang di guratnya. Hasrat ini terkadang sama, namun kebanyakan berbeda sebab beracuan pada eksistensi logika dan daya imajinasi yang dipancarkan oleh seorang sastrawan dalam merefleksi sebuah fenomena yang sedang melintasi indra, hati, dan benaknya. Tentunya semua itu tidak lepas dari kedekatan pribadi sastrawan sendiri. Hasrat tersebut adalah hasrat pikiran dan keyakinan.

Hasrat pikiran merupakan hasrat yang terungkap dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh eksistensi logika mereka. Sedangkan hasrat keyakinan terkait erat dengan persoalan keimanan mereka yang merupakan pancaran hati sanubarinya. Keimanan tersebut merupakan suatu daya yang dahsyat yang dipancarkan oleh pribadi seseorang terhadap suatu hal yang dianggap memiliki nilai kebenaran yang mutlak bagi dirinya. Kedua hasrat ini tersugesti oleh realitas fisik maupun nonfisik yang telah menjadi pengalaman pribadi mereka.

Mari mencermati pancaran hasrat seorang Octavio Paz yang merupakan perefleksian diri atas realitras yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari pengalaman pribadi yang sempat ia temui dan menjadi ilham bagi terciptanya karya sastranya.

Mungkin aku bisa berbelok untuk hidup bersama satwa,
Mereka begitu lembut lagi percaya diri,
Aku berdiri memandang mereka begitu lama.

Gambaran hasrat yang terpancar dari kedalaman hati dan jiwa Paz memilki intensitas yang begitu dalam dan bahkan sangat jalang. Ungkapan tersebut muncul akibat adanya fenomena indrawi yang sedang melintasinya. Saat itu Paz dengan cukup lama serta dengan khusuknya memandang sekawanan satwa yang berada di depanya. Namun, ini bisa jadi tidak mengarah pada kegiatan memandang secara fisikal, memandang dapat berorientasi pada satu perenungan pengalaman masa lampau yang ia bangkitkan kembali pada masa kini. Ketika terjadi proses pengamatan tersebut, timbullah perefleksian diri yang ia bentur-benturkan dengan realitas kehidupan yang sedang terjadi di dunia sekitarnya saat itu.

Dalam realitas yang terpancar dari ungkapan tersebut, Paz memandang bahwa dunia yang berada di sekitarnya memiliki satu keganjilan tertentu. Ia merasakan satu keanehan sehingga ia tidak memiliki satu ketenangan, ketentraman, juga kelembutan perasaan saat menjalani realitas kehidupan yang ada. Dengan timbulnya perasaan semacam itu, ia berhasrat untuk mengubah pola hidup yang ada yang dimulai dari diri pribadinya terlebih dahulu. Ia bekeinginan untuk membelokkan diri untuk hidup bersama satwa.

Hasrat untuk hidup bersama satwa bukan berarti berorientasi pada pembauran diri bersama hewan-hewan. Bukan berarti harus bersosialisasi dengan hewan, namun bisa mengarah pada sikap hidup yang terpancar dari sekawanan satwa yang telah ia amati, rasakan, renungkan, serta ia refleksikan ke dalam realitas kehidupan manusia pada umumnya. Ia merasakan realitas kehidupan yang dijalin oleh sekawanan satwa mengandung nilai kehangatan, kelembutan, serta kasih sayang yang tinggi sehingga ia berpikir untuk mengubah kehidupan manusia yang penuh dengan kekerasan, penindasan, serta penganiayaan dengan pola hidup satwa yang penuh dengan cinta kasih. Tentunya pola hidup semacam ini akan ia awali dari diri pribadinya sendiri.

Mereka tidak berkeringat meratapi nasibnya,
Mereka tak berbaring dan mendelik dalam gelap
menangisi dosa-dosanya,
Mereka tidak memualkanku dengan berbicara kewajiban terhadap Tuhan,

Etape kedua yang ditunjukkan oleh Paz akan realitas kehidupan yang dijalani sekawanan satwa adalah berorientasi pada ketenangan jiwa. Kehidupan satwa ia rasakan memiliki satu pesona kedamaian dan ketenangan yang tinggi. Mereka tenang karena tak disibukkan dengan masalah-masalah dosa. Mereka dalam realitas hidupnya tidak terbebani kriteria-kriteria dosa sehingga tidak harus melakukan pertaubatan atau penebusan dosa. Semua itu tentunya tidak terlepas dari kodrati hewani yang bersifat ma’sum.

Selain itu, kehidupan satwa tidak pernah menuntut terhadap sesamanya dengan tuntutan-tuntutan yang berkaitan dengan kewajiban terhadap Tuhan. Kehidupanya lebih mengalir, yaitu tanpa adanya paksaan dan pengekangan-pengekangan tertentu yang berorientasi terhadap diri Tuhan. Hal itu dilandasi dengan satu keyakinan bahwa urusan dengan tuhan adalah urusan fundamental dari tiap-tiap personal. Sehingga hal ini tidak perlu dipaksa-paksakan pada sesamanya yang pada akhirnya memunculkan nilai ketulusan dan keikhlasan yang tinggi dan bukan malah mencipta pengekangan terhadap personalitas yang ada. Selain itu juga tidak pernah memperdebatkan atau mempertentangkan keyakinan antarsesama. Mereka cenderung mencipta satu kedamaian dan kebahagiaan, bukan malah menciptakan realitas perselisihan yang memualkan.

Yang paling mendasar dalam etape ini adalah sifat ikhlas menerima segala bentuk realitas kehidupan yang menimpa mereka. Tentunya dalam hal ini bukan sekedar tabah dan sabar dalam menerima realitas yang menimpa, tetapi mereka juga menelusuri dan menjalaninya. Sifat ikhlas menerima disamping sebagai salah satu bagian yang mendasar dalam tiap personal, ia juga merupakan bentuk tertinggi sebuah kepribadian. Mengapa demikian? Karena semuanya berawal dari sebuah peninjauan dari sisi mistikus. Sifat ini dalam tradisi mistikus menduduki tahap atau etape paling atas yang disimbolkan dengan ungkapan fana dari kefanahan. Dalam diri sudah lenyap akan sifat personalitas. Yang ada hanyalah sifat kesemestaan, yaitu segala orientasi hidup hanyalah tertuju kepada Tuhan dan bahkan kondisi fisikal dari individi akan terabaikan. Jiwa menjadi tenang karena seolah-olah tuhan telah bersamanya dan membaur dalam dirinya.

Dengan pola kehidupan semacam itu, bagi Paz dalam etape ini mendambakan satu bentuk ketenangan jiwa untuk segera melingkupi personalitas tiap manusia. Semua itu diharapkan agar tercipta suasana yang enjoi dan menyenangkan dalam menjalani realitas kehidupan yang bersifat fana ini. Tidak ada satu pengekangan, tidak ada lagi perbuatan dosa, tidak ada rasa was-was serta yang ada hanyalah kedamaian rasa dalam tiap-tiap manusia.

Lebih lanjut Paz juga mendambakan satu kehidupan dalam diri manusia untuk bersifat kaya. Yang dimaksud adalah adanya perasan cukup atau tidak merasa kurang yang selalu melingkupi hati dan pikiran manusia. Selain itu dambaan lain adalah tidak adanya orang yang bersifat melampaui batas dalam segala hal baik yang mengacu pada harta maupun perhiasan duniawi maupun lainya yang telah ditentukan Tuhan kepadanya. Semua itu tidak lain adalah pengaruh nafsiyah manusia yang selalu merincu dan selalu mengobarkan api “kewas-wisan” dalam diri seorang individu.

Tidak ada yang kekurangan, tidak ada yang jadi edan
Oleh nafsu memiliki benda-benda,

Tidak adanya sifat dan sikap penindasan maupun penghegemonian terhada sesama dalam realitas kehidupan tampaknya juga menjadi dambaan oleh seorang Octavio Paz. Penghegemonian ini bisa mengarah pada sebuah kekuasaan pemerintahan dan dapat bersifat ideologis yang telah ditelorkan atau didoktrinkan lampau hari oleh mereka yang telah hidup lebih awal. Oleh mereka yang telah mengantongi sekali atau beribu penghargaan. Oleh mereka yang diagung-agungkan, yang mampu menimbulkan pesona kedukaan yang begitu mendalam oleh penjuru dunia ketika mereka sudah tiada lagi hidup di dunia ini.

Penghegemonian ini memiliki dampak yang sangat besar dalam kreatifitas manusia. Ia mampu membunuh kreatifitas yang hendak tumbuh dan berkembang ketika ia mencoba untuk mengisi sejarah kehidupan umat manusia. Hal itu juga akan mencipta satu bentuk kehidupan yang statis dan monoton di dunia ini. Manusia-manusia seolah menjadi robot hidup yang hanya dikendalikan oleh orang-orang tertentu, oleh mereka yang berkuasa baik dari sisi pemerintahan maupun ideology
.
Tak ada yang berlutut pada yang lain, tak juga pada sesama
Yang hidup ribuan tahun silam,
Yang sekalipun dihargai atau berduka atas seluruh penjuru bumi

Ungkapan-ungkapan yang telah di ujarkan Paz mencerminkan hasrat pemberontak terhada realitas kehidupan yang begitu dahsyat. Ini akan menjadi wacana dan bahkan doktrin maupun ajaran yang begitu menyentuh hati seorang manusia yang khusuk melakukan perenungan akan realitas hidup yang sedang bergelora. Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkkan oleh adanya perefeleksian diri di dalam hakekat dasar manusia. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang paling sempurna penciptaanya. Ia sempurna ketimbang makhluk-makhluk yang lain.

Tapi, mengapa di sini berbeda dan mengandung daya ironi, sehingga kehidupan manusia dianggap jauh lebih rendah ketimbang kehidupan satwa? Semuanya tidak terlepas dari konsepsi dasarnya. Manusia diciptakan sempurna bukan mengarah pada kesempurnaan hidupnya, melainkan kesempurnaan bentuk penciptaanya yang di tandai dengan adanya kemampuan berfikirnya yang lebih. Gambaran kehidupan yang hina ketimbang kehidupan satwa ini muncul apabila sugesti nafsu selalu melingkupi tiap gerak langkahnya. Logika berfikirnya tidak sanggup menetralisir serta membendung hal tersebut. Ia cenderung hanyut ke dalamnya. Saat itulah derajatnya akan turun. Dan realitas semacam itu kini muncul dalam logika berfikir Paz, sehingga ia ingin membalik keadaan lewat diri pribadinya dahulu untuk melakukan pola hidup seperti satwa yang dirasanya lebih banyak mengandung kedamaian, ketentraman dan juga cinta kasih.

19/08/10

NIETZSCHE DAN KEMATIAN TUHAN DALAM SEBUAH REFLEKSI

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Ini bukan omong kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Ini adalah realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang. Fenomena ini kerap dipandang sebelah mata oleh kalangan-kalangan tetentu, padahal jika mereka bersedia menelisik kedalaman makna, mereka akan menemukan sesuatu yang besar yang sanggup dijadikan perenungan, permenungan serta refleksi terhadap realitas yang ada. Mereka tidak akan menganggap bahwa kata-kata ini bukan sebuah kata bualan yang terpancar dari mulut seorang radikal ateistik. Andaikan kata-kata ini benar merupakan ujaran dari seorang radikal ateistik, paling tidak mereka dapat mengambil sisi baiknya, sebab segala sesuatu yang ada pasti mengandung nilai yang dapat diambil dan dijadikan sebuah pembelajaran bagi diri pribadi.

Coba, cermati serta telisik kembali ungkapan ini serta kantongi nilai-nilainya. Ini merupakan harapan serta tantangan bagi anda semua untuk bisa menghargai kata-kata atau pengujarnya agar tidak selalu berpandangan picik atau culas terhadap realitas hidup dan kehidupan yang sedang menyapa.

“Tuhan telah mati!”! Ungkapan Nietzsche dalam Sabda Zaratustranya inilah yang dari zaman dahulu sampai sekarang seolah-olah menjelma sebagai virus dalam diri manusia. Virus ini terus menggerogoti logika dan perasaan manusia. Ungkapan ini selalu dianggap sebagai virus yang mematikan yang harus segera dibumihanguskan. Padahal jika diperhatikan lebih jauh, ungkapan ini merupakan cambuk pengingat bagi mereka yang telah lalai. Cambuk bagi mereka yang selalu mengutamakan esensi dan eksistensi pribadi hingga mereka menjual, mematahakan dan bahkan membunuh eksistensi Tuhan dalam dirinya.

Ungkapan “Tuhan telah mati”mengandung nilai filosofis yang begitu dahsyat. Kematian ini bukan mengarah pada kematian esensi (dzat), melainkan mengarah pada kematian eksistensi (wewenang dan perintah) Tuhan dalam diri seorang manusia..

Secara kodrati, dzat Tuhan bersifat kekal dan abadi. Keberadaanya selalu ada melampaui ruang dan waktu serta menjadi poros kehidupan. Begitu juga dengan eksistensi Tuhan. Secara kodrati eksistensi Tuhan juga bersifat kekal dan abadi, namun dalam realitasnya eksistensi inilah yang kerapa dikebiri oleh pribadi seseorang. Ia kerapa dibantai dan ditiadakan.

Bentuk pembantaian serta peniadaan eksistensi Tuhan mungkin terlihat jelas pada waktu itu, sehingga dengan seketika pula Nietzsche mengujarkan kata-kata tersebut. Pada waktu itu manusia banyak yang beralih pandangan. Mereka selalu mengejar kenikmatan duniawi yang bersifat sementara dibandingkan dengan mengabdi kepada Tuhan. Mereka menghalalkan segala cara demi kepuasan tersebut. Mereka kerap berbuat curang, culas terhadap sesama, dan bahkan mereka kerap membuat kerusakan-kerusakan di muka bumi hanya demi kepuasan nafsiahnya semata. Di sinilah letak pembantaian dan peniadaan eksistensi Tuhan dalam diri seorang manusia. Wewenang dan perintah-Nya untuk bertaqwa dan tidak membuat kerusakan di muka bumi telah di kebiri dan di tiadakan dari dalam diri pribadinya. Tuhan seolah tidak ada hingga mereka berbuat sewenang-wenang dan semaunya.

Tidakkah telah terungkap jelas, bahwa nafsulah yang telah mengantarkan manusia berada dalam lembah kesesatan. Dialah pengantar manusia untuk berbuat ingkar kepada Tuhan. Olehnya, manusia kini telah beralih melakukan pengagungan dan pemujaan terhadap hakekat Tuhan yang sejati. Manusia telah beralih menuhankan benda-benda, harta, tahta dan lain sebagainya yang merupakan perhiasan dunia yang bersifat semu dan menipu. Orientasi hidupnya kini telah berbelok menuju kebendaan duniawi.

Berkaitan dengan hal tersebut, fenomena semacam itu juga telah dilukiskan beberapa puluh tahun yang lalu sebelum adanya konsep Nietzcsche. Tindakan semacam ini dilakukan oleh Karl Marx. Pada saat itu ia mengkritisi realitas sosial yang terjadi dengan mengatakan bahwa “Agama Itu Candu”. Realitas sosial sudah kacau balau. Agama sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Agama hanya berposisi sebagai alat pemuas kebutuhan nafsiah manusia. Agama hanya dijadikan tunggangan dalam mempertinggi stratifikasi sosial, dan juga untuk mengeruk harta kekayaan demi kepentingan personal seseorang.

Terdapat satu fenomena lain dari konsep ujaran Nietzsche. Konsep ini mungkin juga diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar mengabdikan diri terhadap hakekat Tuhan yang sejati. Bagi mereka yang benar-benar mengorientasikan diri hanya kepada hakekat Tuhan yang sejati, maka esensi dan eksistensi tuhan-tuhan yang lain akan ditiadakan. Tuhan yang bersifat kebendaan akan ia bantai habis-habisan, hingga pesonanya tidak ada lagi melekat di dalam diri seorang individu. Contoh saja agama Islam. Dalam agama Islam sudah terlihat jelas lewat kesaksian yang dibuat oleh para pemeluknya. Secara konseptual kesaksian ini berlaku bagi siapa saja yang hendak masuk dalam agam tersebut. Semua orang pasti mengikrarkan ungkapan ini, yaitu ikrar yang bersifat peniadaan terhadap Tuhan yang bersifat kebendaan. Mereka hanya meyakini hanya ada satu Tuhan yaitu Allah. Dialah yang dijadikan sandaran dan tujuan hidup bagi mereka. Dia diyakini sebagai sesuatu yang bersifat kekal, abadi, kuasa, dsan sempurna.

Dalam realitasnya, konsep ini telah ditanamkan bagi siapa saja yang memeluk agama Islam, namun dalam praktik yang sebenarnya masih perlu dipertanyakan. Pertanyaan yang timbul adalah: sudahkah para pemeluk agama Islam menerapakna dengan sepenuh hati konsep tersebut dalam hidup dan kehidupanya? Sudahkah mereka melakukan pembunuhan dan pembantaian terhadap segala sesuatu yang besifat kebendaan dan hanya berorientasi pada Allah semata? Ini menjadi tantangan besar bagi umat Islam untuk melakukan penerapan secara real bukan hanya sekedar dijadikan lipstik atau kaligrafi yang disakralkan.

Coba tengok lebih jauh lagi tentang pembunuhan dan pembantaian Tuhan. Fenomena yang terjadi di dalam dunia sufistik, bahwa ungkapan Tuhan sudah tidak ada lagi. Ungkapan ini mereka ganti dengan istilah kekasih. Tuhan yang notabenenya masih bersifat plural, mereka spesifikkan dengan kata Kekasih. Mereka menggapai dan menuju Tuhan bukan sebagai Tuhan lagi, melainkan sebagai Kekasih yang harus didekati dengan cinta bukan dengan ketakutan-ketakutan. Mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang diberikan Tuhan kepada manusia tidak lain adalah bentuk kasih sayang-Nya, sehingga cara pendekatan diri pun harus dilakukan dengan cinta dan kasih sayang pula.

Perhatikan ungkapan yang diujarkan oleh seorang “Pir” pada Abu Sa’id saat ia berilustrasi hendak bertemu dengan Tuhan. Saat Abu Said ditanya: “Apakah kau ingin bertemu Tuhan?”. Jawab Abu Sa’id: “Tentu saja aku ingin”. Kemuduan “Pir” itu menjawab: ”Jika demikian, kapan pun saat kau sendirian, lantunkan syair ini:

“Tanpa Dikau, oh, Kekasih, setitik pun aku tidak bisa tenang;
Kebaikan-Mu terhadapku tak sanggup kubalas.
Sekali pun setiap helai rambut di tubuhku menjadi lidah,
Ribuan syukur terhadap-Mu tak akan bisa kudaras.”

Dalam syair tersebut dikatakan bahwa Tuhan diibaratkan atau disimbulkan sebagai Kekasih. Ia telah melimpahkan begitu banyak kasih sayang terhadap manusia, sehingga beribu syukur dan terima kasih yang diucapkan seorang manusia terhadap-Nya masih tidak sanggup untuk membalas cinta kasih-Nya, bahkan seumpama helaian rambut yang ada pada tubuh manusia menjelma menjadi lidah dan saling mengucap syukur kepada-Nya, itu pun masih tidak sanggup membalas banyaknya cinta kasih yang telah dianugrahkan kepadanya. Oleh sebab itu, dalam ajaran Islam, setiap kali seseorang hendak melakukan sesuatu hal, ia disunnahkan untuk membaca basmalah. Ini menunjukkan akan bentuk kesaksian terhadap cinta kasih Tuhan yang esa.

Semua orang mengetahui, bahwa seorang sufi selalu mengorientasikan hidup dan kehidupanya hanya kepada Tuhan. Yang ia tuju hanyalah esensi dan eksistensi Tuhan semata. Hal tersebut kerap tercermin melalui ungkapan-ungkapanya, termasuk ungkapan syair di atas yang mengibaratkan Tuhan sebagi Sang Kekasih. Perlu dijadikan catatan, bahwa pengungkapan tersebut merupakan simbol semata. Masih banyak simbol-simbol lain yang merupakan bentuk pembantaian dan pembunuhan terhadap penuhanan benda-benda keduniawian, yaitu harta, tahta, dan lain sebagainya.

30/05/10

S. YOGA DALAM LIMA TANGGA KEPUITISAN

Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Cukup sulit dewasa ini memberikan penilaian terhadap karya sastra, lebih khususnya puisi. Memakai standart penilaian yang bagaimana untuk diterapkan pada sebuah karya sastra? Hal itu disebabkan oleh keberadaan karya sastra itu sendiri. Karya sastra kontemporer lebih bersifat bebas dari ikatan-ikatan atau aturan perpuisian. Inilah yang kiranya menjadikan seorang kritikus sastra harus memutar otak lebih serius lagi. Ujung-ujungnya hal ini akan mengarah pada satu bentuk kritik yang bersifat impresionis. Kritik yang memberikan tafsiran-tafsiran untuk mengagumkan dan untuk menimbulkan kesan yang indah kepada pembaca. Padahal secara konsep dasar, kritik sastra itu bertumpu pada pertimbangan baik-buruk sebuah karya berdasarkan nilai-nilai tertentu.

Nilai-nilai tersebut dapat bertumpu pada pengalaman jiwa seorang pengarang. Itulah yang kemudian dapat dijadikan standart penilaian karya sastra secara objektif. Sebagaimana Rachmat Djoko Pradopo, ia melakukan penerapan kritik sastra berdasarkan lima tingkat pengalaman jiwa manusia. Kelima tingkat pengalaman jiwa tersebut meliputi neveau anorganis; tingkat jiwa yang rendah dan berorientasi pada pola bunyi, irama, baris sajak, majas dan lain-lain, neveau vegetatif; tingkat seperti tumbuh-tumbuhan dan berorietasi pada suasana, neveau animal; tingkat yang dicapai seperti hewan dan berorientasi pada unsur nafsiah, neveau human; tingkat yang hanya dicapai oleh manusia dan berorientasi pada sifat luhur kemanusiaan, dan neaveau religius/filosofis; tingkat tertinggi dan berorientasi pada renungan-renungan yang mengarah pada hakekat hidup dan kehidupan. Berdasarkan fenomena itu, marilah sejenak kita mendedah puisi S Yoga yang berjudul Jaran Goyang berdasarkan pada tingkat pengalaman jiwa kemanusiaannya.

Kita mulai dari tingkat yang paling bawah, yaitu neveau anorganis. Puisi penyair kelahiran Purworejo ini kental dengan persajakan. Rimanya tertata rapi. Persajakannya sangat konsisten dan seimbang. Itu terlihat dari jumlah baris dalam tiap baitnya. Mulai bait pertama hingga terakhir, puisi ini tersusun atas tiga baris dalam tiap baitnya.

Rima yang disematkan dalam puisi Jaran Goyang begitu mendominasi keseluruhan puisi. Ditinjau dari huruf akhir dalam setiap baitnya, S Yoga tidak banyak menggunakan variasi rima. Ia cukup menggunakan rima rata dengan pola “aaa”. Vokal “u” melingkupi bait pertama, ke tiga, ke lima, dan ke enam. Bait pertama dapat dilihat dari penyematan kata bernafsu-rayu-menjebakmu. Bait ketiga ditandai dengan kata wajahmu¬-selalu-tabu. Bait kelima terlihat dari penyematan kata merayumu¬-membenciku-apiku. Bait keenam ditandai dengan kata berbulu-rohmu-malamku. Nada-nada tersebut membangun suasana yang begitu berat, mendalam, dan mengharukan dalam kepribadian. Vokal “i” mewarnai bait ke empat, ke tujuh, dan ke lima belas. Itu ditandai dengan penyematan kata diri-kubimgkai-abadi (bait ke-4), hati-mati-berseri (bait ke-7), ati-abadi-suci (bait ke-15). Bunyi huruf tersebut terasa ringan diucapakan namun ragkaian kata-katanya mengisyaratkan sesuatu yang berat. Jadi, untuk menggapai hidup yang abadi yang penuh dengan kenikmatan itu sangat mudah diucapkan namun begitu berat untuk dilakukan. Vokal “a” menghiasi bait ke tiga belas; surga-seberapa-selamanya, dan bait ke sembilan belas; dipaksa-diminta-berlaksa. Bunyi-bunyi tersebut merupakan bunyi yang datar. Ini menggambarkan suatu kewajaran. Sudah sewajarnya seorang manusia mendambakan surga dalam keabadiannya. Sudah sewajarnya manusia hidup itu ada paksaan, persembahan, serta ada perbandingan/pertimbangan-pertimbangan. Konsonan “l” mewarnai bait ke dua; kanti¬l-kinti¬l-kekal yang membangun suasana sakral yang kental dan berkait. Konsonan “n” melingkupi bait ke delapan; penyamun-kegelapan-bulan yang mengisyaratkan akan kepastian. Konsonan “ng” terlihat pada bait ke sembila; gamang-hilang-kuning menggambarkan jiwa yang tidak tenang. Konsonan “k” mewarnai bait ke sepuluh; semak-rangkak-berjarak, dan bait ke delapan belas; kemaruk-remuk-berkecamuk. Bunyi-bunyi tersebut membangun suasana perjalanan. Konsonan “t” melingkupi bait sebelas; berkabut-pucat-nikmat, bait dua belas; aurat-kudapat-kujerat, bait empat belas; luput-langsat-keramat, bait enam belas; kabut-kusut-kalut, dan bait tujuh belas; lewat-larut-kalimat. Bunyi-bunyi tersebut mencerminkan kesakralan/kefundamentalan hidup. Konsonan “r” mewarnai bait ke dua puluh; altar-diantar-samar yang mencerminkan suatu bentuk kebenaran.

Jika ditelisik dari bunyi akhir kata dalam tiap baitnya, S Yoga menggunakan dua rima, yaitu rima patah dan rima rata. Rima patah terdapat pada bait dua, lima, tujuh, delapan, sembilan, sebelas, empat belas, tujuh belas, sembilan belas, dan dua puluh. Itu terlihat dari kata-kata; kanti¬l-kinti¬l-kekal (bait dua), merayumu¬-membenciku-apiku (bait lima), hati-mati-berseri (bait tujuh), penyamun-kegelapan-bulan (bait delapan), gamang-hilang-kuning (bait sembilan), berkabut-pucat-nikmat (bait sebelas), aurat-kudapat-kujerat (bait dua belas), luput-langsat-keramat (bait empat belas), lewat-larut-kalimat (bait tujuh belas), keamruk-remuk-berkecamuk (bait delapan belas), dipaksa-diminta-berlaksa (bait sembilan belas), altar-diantar-samar (bait dua puluh). Adapun rima ratanya adalah bait sepuluh; semak-rangkak-berjarak, dan bait enam belas; kabut-kusut-kalut.

Majas metafora tampak hadir dalam puisi S Yoga ini. Ungkapan “mantraku terbang (bait 1, baris 1), apiku (bait 5, baris 3), birahi berbulu (bait 6, baris 1), bunga-bunga (bait 7, baris 1), cahaya bulan (bait 8, baris 3), anjing malam (bait 10, baris 1), semak (bait 10, baris 1), lidi lanang (bait 13, baris 1), buah pinang yang kuning langsat (bait 14), kabut (bait 16 baris 1), kabut (bait16 baris 1 dan 3), asap dapur (bait 17, baris 1), dan nyala damar di sentong (bait 17, baris 2) merupakan gambaran metaforanya. Dalam ungkapan mantraku terbang, kata mantra yang notabenenya adalah kata-kata yang berkekuatan magis (dapat dikatakan sebagai doa) disamakan dengan seekor burung atau sesuatu hal yang dapat terbang. Ia secara visual dapat melayang-layang ke angkasa. Kata apiku merupakan persamaan dari hasrat yang diliputi oleh nafsu. Kata bulu identik dengan kehangatan. Sesuatu yang memberikan kehangatan akan mencupta kedamaian. Jadi, kata birahi berbulu disamakan dengan nafsu (jiwa) yang damai/tenang. Bunga bunga disamakan dengan kehidupan yang bahagia. Pencerahan atau petunjuk tingkah laku yang benar dimetaforkan dengan ungkapan cahaya bulan. Anjing malam mengarah pada penyepadanan dengan keberingasan dan keliaran nafsu. Semak merupakan satu bentuk penyepadanan dengan citra Nabi Musa saat beraudensi dengan tuhan di Bukit Tursina yang diwujudkan dalam bentuk semak yang terbakar. Semak tersebut merupakan isyarah akan hakekat ketuhanan. Lidi lanang biasanya dipakai oleh para pawang hujan untuk menolak hujan. Pada ungkapan ini tidaklah mengarah pada penangkalan hujan, namun mengarah pada kebajikan dan kesucian sebab ungkapan itu dirangkainya dengan kata surga. Penyair bermaksud melakukan penangkalan terhadap segala bentuk keburukan yang muncul dari dalam pribadinya dengan sedikit kebajikan dan kesucian hatinya. Jadi ungkapan lidi lanang disamakan dengan penyucian diri (hati). Buah pinang yang kuning langsat berorientasi pada buah pinang yang tengah masak/matang. Dalam hal ini unrkapan tersebut disamakan dengan buah kuldi yang pernah termakan oleh Adam dan Hawa saat berada di surga. Kabut pada baris ke-1 bait 16 disamakan dengan alam atau kehidupan yang samar (gaib) sedangkan pada baris ke-3 dimetaforkan dengan Tuhan Yang Maha Gaib. Asap dapur disepadankan dengan kepribadian yang buruk/kotor. Nyala damar dimetaforkan dengan cahaya hati/petunjuk, sedangkan sentong berkonotasi pada tempat damar menyala. Dalam hal ini sentong disepadankan dengan hati itu sendiri.

Dalam tingkat neveau vegetatif tampak bermacam-macam suasana yang membangun kepribadian si “aku” yang tecermin dalam sajak ini. Suasana-suasana tersebut berorientasi pada suasana yang begitu berat, mendalam, dan mengharukan dalam pribadi pengarang (bait 3, 5, dan 6). Suasana hati yang gontai, cemas dan tidak tenang juga telukiskan (bait 1, 9, dan 18). Hal ini seoalah-olah muncul sebagai suatu kewajaran dalam realitas perjalanan hidup si “aku” dalam mencari hakekat kesejatian tuhannya (bait 3, 4, 11, dan 12). Suatu harapan juga tertuang dalam sajak ini (bait 19 dan 20).

Tingkat pengalaman jiwa yang selanjutnya adalah neveau animal. Ini berupa nafsu-nafsu hidup, tanggapan-tanggapan indraan yang konkret, dan nafsu-nafsu jasmaniah. Nafsu-nafsu hidup dan jasmaniah tergambarkan melalui ungkapan “goda dan rayu (bait 1), merayumu dan membenciku (bait 5), murka (bait 7), rindu, cemas dan gamang (bait9), hati luka dan duka (bait 18), kebahagiaan, dipaksa (bait 19). Godaan, rayuan, kebencian, amarah, kerinduan, kecemasan, sakit hati, kesedihan, kebahagiaan, paksaan merupakan gambaran dari eksistensi nafsu. Semuanya bertumpu pada nafsu. Tanggapan indraan yang konkirit tecermin dari kata-kata uba rampe (sesaji-sesaji dalam ritual mistis), bunga mawar, kenanga dan kantiil (perkengkapan yang disediakan dalam ritual memantrai sesuatu), topeng (wajah palsu), apiku (sesuatu yang bersifat menyala, berkobar, dan membakar), berbulu (sesuatu yang menimbulkan kehangatan), bunga-bunga (gambaran yang indahdan memesona), cahaya bulan (sesuatu yang bersifat menerangi), burung hantu (gambaran dari malam dan ketakutan), anjing malam (gambaran dari sesuatu yang liar dan menakutkan), pucat (wajah yang tidak segar berseri yang menandakan bahwa diri seseorang itu sakit atau ketakutan), aurat (suatu aib atau agian-bagian tubuh seseorang yang mampu merangsang nafsu sahwat), surga (tempat yang indah yang penuh dengan kenikmatan), kulsi (buah yang enyesatkan yang menjadikan Adam dan Hawa terlempar dari surga), nyala damar (sesuatu yang bersifat menerangi dalam kegelapan), dan altar (tempat suci sebagai pemujaab/persembahan kurban kepada dew-dewa).

Tingkat keempat, neveau human dalam sajak ini tampak sebagai kesadaran si “aku” bahwa segalanya akan tiada arti jika ia tidak mampu menemukan, memandang, dan menyayangi kekasihnya (bait 3 dan 4). Kesadaran juga muncul dalam bait ke-11. Ini mengisyaratkan bahwa si “aku” mengikhlaskan penderitaan sesaat sebab ia sadar bahwa ada kebahagiaan yang lebih nikmat di balik semua itu. Si “aku” juga sadar, demi petunjuk dan jalan terang menuju sang kekasih, ia mebiarkan dirinya berada dalam kegelapan dan keheningan dari hal-hal yang mampu menggoda hatinya (bait 12). Kesadaran untuk bersabar juga muncul kembali dalam pribadi si “aku”. Ia tidak akan memaksa akan kedatangan kebahagiaan melalui kehadiran kekasihnya. Ia membiarkannya datang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu, sebab itulah yang dinamakan kewajaran hidup. Dan inilah yang akan merangkai kebahagiaan yang lebih melimpah-ruah (bait 19). Si “aku” juga sadar bahwa kasih sayang kekasihnya lebih tinggi dari kasih sayangnya. Sebab kekasihnya tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa (bait 20).

Tingkat kelima adalah neveau religius/filosofi. Tingkat inilah yang tampak begitu kental dalam keutuhan puisi. Puisi ini mengarah pada perjalanan hidup si “aku” dalam melakukan hakekat kesejatian tuhan agar ia di kemudian hari berolehkan kebahagiaan dan kemuliaan. Sudah tampak jelas dari judulnya, Jaran Goyang, ini adalah mantra pengasihan untuk memikat hati seseorang. Tapi di sini beda. Judul itu berkonotasi pada yang lain. Si “aku” berusaha memikat tuhan dengan puja-puji doa dalam munajatnya. Ia mempersiapkan hal-hal dalam persembahan cinta kasih, ketulusan, dan kesucian hatinya agar tuhan berkenan cinta padanya dan selalu dekat dengannya.

mantraku terbang bersama malam bernafsu
adakah yang tak akan goyah karena goda dan rayu
telah kusiapkan uba rampe guna menjebakmu

bunga mawar, kenanga, dan kantil
agar kau selalu terpikat dan kintil
wahai kekasih berelok rupa dalam singgasana kekal (bait 1 dan 2).

Si aku menyadari bahwa segala pancaran kenikmatan yang diberikan tuhan kepadanya tidak aka berarti apa-apa apabila ia tak mampu dekat dan cinta kepada tuhannya. Ia semakin kecewa jika tuhan hanya sebatas bayangan angan dalam jiwanya saja. Ia menganggap bahwa perjalanan hidup yang telah dilaluinya haya sebatas kepura-puraan. Ia belum menemukan kesejatian hidup yang abadi.

apakah artinya cahaya wajahmu
bila tak bisa kupandang dan kusayang selalu
hanya bayangan melayang di batas angan dan tabu

bila tak kutemukan sukmamu dalam diri
hanyalah topeng hidup yang kupakai dan kubingkai
tak terwujud kesejatian hidup yang abadi (bait 3 dan 4).

Penegasan dilakukan oleh si “aku”. Ia menegaskan bahwa ia telah melakukan usaha-usaha tertentu dengan jalan menghadirkan kesucian hati dari perbuatan-perbuat nista yang menimbulkan kebencian tuhannya. Dengan hal itu, ia semakin yakin, bahwa kini tuhan telah semain dekat bersama hasratnya yang menggebu. Ia lantas mendamaikan nafsunya agar kebajikan berselimut dalam dirinya yang kemudian mampu menjadikan tuhan jatuh hati dan iba oleh doa munajatnya.

telah lama kugiring agar semua arwah merayumu
yang tak sudi kupinang karena membenciku
kini kupastikan engkau semakin dekat dengan apiku

yang selalu kunyalakan dengan birahi berbulu
agar harum tubuh menakjubkan rohmu
hingga hati luluh melihat doa malamku (bait 5 dan 6).

14/04/10

SIHIR TERAKHIR; Antara Perjuangan, Perubahan, dan Kematian

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Orang kerap menganggap dalam realitas kehidupan ini selalu terjadi pemarjinalan terhadap kaum perempuan. Itu akar pondasinya bertumpu pada suatu kisah sejarah akan keberadaan manusia yang disimbolkan dengan keberadaan Adam dan Hawa. Berdasarkan kisah tersebut, kebanyakan orang berasumsi akan keberadaan wanita yang selalu berada dibawah bayang-bayang laki-laki. Ia sebagai kaum lemah yang berfungsi sebagai pelengkap hidup bagi kaum laki-laki.

Dikaitkan dengan tindak pemarjinalan, ada beberapa persepsi tentang kedudukan wanita yang menempatkan dirinya sebagai sosok yang selalu berada di bawah bayang-bayang kaum lelaki. Persepsi yang berkembang selama ini, kedudukan wanita tersebut dapat dilihat dari beberapa fokus, yaitu (1) dilihat dari faktor biologis, menempatakan perempuan lebih interior, lembut, lemah, dan rendah. (2) dilihat dari pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas, masalah menstruasi, melahirkn, menyusui, dst. (3) dilihat dari wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa, sedangkan laki-laki memiliki tuntutan kuat, sehingga mengakibatkan akan timbulnya stereotipe yang negatif pada diri wanita, wanita sekedar kanca wingking.

Seiring kemajuan zaman dan berkembangnya intelektualitas kaum wanita, wacana seperti di atas sedikit demi sedikit mulai dikikisnya. Kaum wanita seolah-olah menunjukkan eksistensi dirinya dalam segala bidang, sehingga ia tidak dipandang sebelah mata oleh kaum lelaki. Dengan segala talenta yang dimiliki, ia memperjuangkan hak-haknya. Ia ingin memperoleh persamaan hak dengan lelaki. Ia ingin mendongkrak legitimasi yang ada yang menempatkan dirinya hanya sekedar kanca wingking bagi kaum laki-laki. Ia ingin mendapat pengakuan yang sama dengan kaum laki-laki. Pada akhirnya muncullah gerakan feminisme yang lahir awal abad 20, yang dipelopori oleh Virginia Woolf lewat tulisan-tulisannya.

Lagi-lagi kata-kata yang dituangkan dalam bentuk tekslah yang memompa semangat perubahan sosial kemasyarakatan manusia. Bahkan peradaban umat manusia. Sengguh betapa dahsyatnya kekuatan kata-kata dalam realitas ini sehingga dalam segala hal ia menjadi pemantik semangat perubahan. Sehingga pada puncaknya, yaitu abad 21, menjadi tonggak sejarah abad kebangkitan kaum wanita dengan segala amunisinya. Sebagaimana yang diramalkan John Naisibit tentang abad itu. Pada masa-masa itulah, peranserta wanita terlihat kentara di berbagai lapisan sosial kemasyarakatan. Mulai dari sektor politik, ekonomi, hukum, pendidikan, pemerintahan, media massa, seni, dan lain-lain.

Dari sektor seni (sastra) misalnya. Ini berimbas pada perkembangan kesusastraan Indonesia. Pada saat-saat itulah mulai bermunculan para pengarang wanita di Indonesia. Di antaranya ada Sariamin, Hamidah, Maria Amin, Nursyamsu, Waluyati, Ida Nasution, S. Rukiah, Sitti Nuraini, Suwarsih Djojopuspito, NH. Dini, Titie Said, Titis Basino, Sugiarti Siswadi, Ernisiswati Hutomo, Poppy Hutagalung, Isma Sawitri Enny Sumargo, Dwi Arti Mardjono, Susy Aminah Aziz, Bipsy Soenhatjo, Toety Noerhadi, Rita Oetoro, dll. Meskipun saat ini kita jarang menemukan dan menikmati karya-karya mereka, yang jelas nama mereka tengah tercatat dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Pada masanya, peranserta mereka ikut mewarnai perjuangan emansipasi wanita melalui jalur sastra saat itu.

Dewasa ini, setelah Ayu Utami (lewat Saman) dan Jenar Mahesa Ayu (lewat Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu) tampil membombastis khasana kesusastraan Indonesia, muncullah gerakan emansipasi sastra dari komunitas ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) UPI Bandung. ASAS meluncurkan antologi puisi perempuan dengan judul Sihir Terakhir sebagai amunisi gerakan emansipasi wanita dalam kesusastraan Indonesia. Antologi ini diterbitkan oleh PUstaka puJAngga tahun 2009. Sihir Terakhir dihuni 23 penyair wanita dengan muatan 72 puisi. Secara mayoritas, mereka adalah seorang mahasiswa yang tengah menempuh gelar S1 dan hanya ada 4 wanita yang bukan mahasiswa lagi. Mereka adalah Dian Hartati, Fina Sato, Seli Desmiarti, dan Tita Maria Kanita.

Ditinjau dari judulnya, kehadiran antologi ini multi tafsir. Dengan hadirnya antologi ini, komunitas ASAS seolah berharap ini adalah suatu usaha yang maksimal dan pamungkas dalam tindak penyadaran akan emansipasi wanita. Setelah ini, para pembaca (khususnya kaum lelaki) akan tercerahkan dan tidak menganggap sebelah mata kaum wanita. Ia akan berkenan memberikan persamaan hak terhadap kaum wanita dalam realitas kehidupan yang ada. Lebih menghargai pendapat, pola pikir, dan pola kerja wanita. Ia tidak hanya sekadar menganggap wanita sebagai pelampiasan seksualitas saja. Tapi lebih dari itu, yaitu sebagai partner hidup yang sederajat dalam hak dan kewajiban. Oleh karena itu, sisi lain dari sasjak Sihir Terakhir karya Seli Desmiarti menegaskan agar kaum wanita selalu berdoa agar tidak lagi menggenggam masa-masa kelam yang sebelumnya tengah menimpa dirinya. “… … Berdoalah jangan // ada kelak // teryakini di punggung tanganmu, // menggenggam murung itu.” (Sihir Terakhir, hal: 80). Walaupun begitu, jika suatu persamaan hak telah terdapatkan, seorang wanita tidak serta merta menghapus kodrat kewanitaannya. Ia harus menguasai secara penuh apa yang telah menjadi kewajibannya. Paling tidak ia harus bisa memasak, mendidik anak, dan berhias diri. Ini adalah hal dasar yang menjadi ciri khas wanita. Dengan melakukan hal itu, maka sisi-sisi kewanitaan akan terlihat dengan jelas.

Tafsiran berikutnya mencanang pada suatu usaha final yang dilakukan oleh komunitas ASAS dalam menyuarakan emansipasi wanita lewat sastra. Konkritnya, setalah peluncuran antologi ini, maka dikhawatirkan dari komunitas ASAS tidak ada lagi usaha dan kiat-kiat yang sama; yaitu tidak ada lagi perjuangan emansipasi wanita dalam jalur kesusastraan. Baik dari komunitas maupun para penyairnya sendiri. Para penyairnya akan mandeg berproses. Terpangan siklus waktu. Terkalahkan oleh realitas hidup rumah tangga dan keadaan finansial kewanitaannya. Tafsiran ini bertumpu pada fenomena para penghuni antologi ini yang notabenenya lebih dari 85 % adalah seorang mahasiswa. Yang sangat riskan adalah masa-masa pasca perkuliahan dan masa-masa hidup berumah tangga. Semangat bersastra dan api emansipasi wanitanya saat itu akan meredup. Bahkan padam terguyur hujan keadaan. Sehingga tidak heran, jika cukup banyak sastrawan wanita yang sedikit nenunjukkan eksistensi bersastra hingga akhir hayatnya. Kita sulit menemukan dan menikmati prodiktifitas karya-karyanya lagi. Dan ini sudah jadi wacana umum yang tidak dapat dielak lagi. Selain itu mungkin ada faktor lain yang menyebabkan para sastrawan hilang termakan zaman beserta karya-karyanya.

Ini hanya sebatas tafsiran. Benar dan tidaknya, hanya waktu yang berhak menjwabnya. Selain itu eksistensi komunitas dan personalitas sastrawan yang berperan aktif di dalamnya. Kata-kata yang telah terujar, tak mungkin kembali pada artikulatornya. Dan sesunguhnya kata-kata adalah cambuk semangat bagi mereka yang mendambakan perubahan. Maka membaralah seperti api dalam pelukan minyak tanah. Ciptakan pejuang sejati emansipasi wanita dalam khasanah sastra.

18/03/10

KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Untuk tiap-tiap umat itu ada rasulnya (QS. Yunus, ayat 47). Berdasarkan ayat tersebut, dalam tiap umat manusia pasti memiliki seorang rasul di setiap zamanya. Rasul tersebut diutus tuhan hanya untuk menyampaikan ajaran kebenaran tentang esensi Tuhan yang telah diselewengkan dan bahkan diingkari oleh suatu umat. Ia mengajak sekaligus mengarahkan mereka yang berada dalam kesesatan agar kembali pada jalan yang benar serta memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hal tersebut ia lakukan dengan meneladankan sifat dan sikap yang terpancar melalui perkataan maupun perbuatan.

Ajaran-ajaran yang dibawakan oleh seorang rasul bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran-ajaran tersebut diterimanya sebagai wahyu dari Tuhan. Adapun proses penurunan wahyu itu dilakukan dalam situasi, tempat, maupun bentuk yang berfariasi. Hal ini menunjukan bahwa eksistensi wahyu berdasakan pada eksistensi Tuhan, sehingga seseorang tidak dapat mengetahui, apalagi menentukan, kapan wahyu akan diberikan.

Dalam sebuah kisah diceritakan, bahwa saat Musa AS bersama keluarganya hendak kembali ke mesir, ia melihat sinar api yang menyala-nyala di atas bukit Thursina. Melihat hal semacam itu, Musa AS kemudian mengharap kepada keluarganya untuk tenang dan berdiam diri di tempat tersebut. Ia kemudian berlari menghampiri sumber api tersebut. Tatkala ia telah sampai di sumber api itu, terdengarlah seruan kepadanya yang bersumber dari kobaran api yang menyala-nyala. Kisah ini terdapat dalam surat Thaha ayat 9-13.

Kisah tersebut di atas dilukiskan Rumi secara indah dan mempunyai kandungan makna yang lebih menyentuh sekaligus mendalam. Rumi seolah-olah mengingatkan dan memberikan gambaran secara khusus kepada orang-orang akan esensi tuhan yang sejati.

……Ingatlah kisah musa dalam semak yang terbakar, semak berkata: “Aku adalah air telaga Kautsar, lepaslah terompahmu, mari!”
“Janganlah takut pada api karena aku adalah air dan madu dalam api:”…… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Kisah ini mengandung esensi yang sama dengan surat Thaha ayat 11-14. Peristiwa itu termasuk peristiwa penurunan wahyu yang pertama kepada Musa AS. Di tempat itu, ia memperoleh wahyu ketauhidan, yaitu tentang keimanan kepada Tuhan yang berorientasi pada keesaan-Nya.

Saat itu, Tuhan memanggil-manggil Musa AS dan menyatakan diri dengan ungkapan: Aku ini tuhanmu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha, ayat:12 dan 14). Hal ini digambarkan Rumi, bahwa suara tersebut bersumber dari semak yang terbakar. Dalam ungkapan Rumi, pernyatana diri tuhan lebih disublimkan lagi. Ia mengungkapkanya dengan gaya bahasa metafora dengan pernyataan: Aku adalah air telaga Kautsar.

Kisah ini bukanlah sebuah pernyataan yang menyatakan wujud Tuhan yang sebenarnya. Tuhan bukan berbentuk semak, api, maupun yang lainya, sebab wujud Tuhan adalah sempurna yang tidak menyerupai suatu apapun. Sebagaimana Ibnu Sina menegaskan bahwa Tuhan itu tidak bersekutu dengan benda-benda apapun, karena benda yang lain termasuk sesuatu yang boleh ada dan boleh tidak, dan merupakan hasil ciptaan dari Tuhan. Dzat Tuhan berbeda dengan dzat-dzat yang lainya, Dzat Tuhan tidak ada batasnya sehingga Ia tidak ada yang menyamai-Nya. Begitu juga Ibnu Arabi menambahkan, bahwa tidak ada yang menyamai Dia dalam penciptaan-Nya. Esensi-Nya tidak dapat ditangkap oleh kita, sehingga kita tidak dapat membandingkan Dia dengan objek-objek terlihat, dan tidak pula tindakan-tindakan-Nya itu menyerupai kita. Pesona ini hanyalah sarana penurunan wahyu. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwa wahyu diturunkan dalam situasi, tempat, maupun bentuk yang berfariasi, dan suasana yang semacam ini merupakan kejadian penurunan wahyu kepada Musa AS.

Kata Aku dalam ungkapan: Aku adalah air telaga Kautsar, merupakan bentuk ungkapan tuhan yang menggunakan perantara atau medium semak yang terbakar. Air adalah sumber kehidupan yang menghidupi segala-galanya. Air bagi Thales adalah pangkal, pokok dan dasar segala-galanya. Telaga Kautsar adalah telaga yang berada di surga yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah dengan cara beribadah dan berkorban kepad-Nya, sedangkan surga adalah tempat yang indah yang dipenuhi dengan kenikmatan-kenikmatan.

Dari gambaran tersebut, maka ketauhidan yang tecermin adalah: Tuhan (Allah) adalah sumber, pangkal, serta pokok kehidupan yang mutlak Dialah yang memberi kehidupan, keindahan, serta kenikmatan-kenikmatan. Dialah tujuan hidup dan kehidupan bagi manusia, yang tidak harus didekati dengan perasaan taku terhadap sesuatu apapun sebab Dia adalah pemegang segalanya yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.

“……………….., lepaslah terompahmu, mari!”
“Janganlah takut pada api karena aku adalah air dan madu dalam api: ……” (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Sejak awal, penggambaran kembali kisah Musa AS dalam puisi tersebut dengan maksud memberikan doktrin ketauhidan kepada tiap-tiap orang. Setiap orang yang telah yakin akan esensi dan eksistensi Tuhan, seyogyanya menanggalkan perasaan takut terhadap segala sesuatu yang berada di luar keberadaan Tuhan yang sanggup menghalang-halangi proses menuju kepada-Nya. Hal tersebut disebabkan oleh hakekat Tuhan yang kuasa atas segala sesuatu termasuk kehidupan, panas, dan pembicaraan pada api yang terpancar dari kisah Musa AS.

Ketika seseorang telah yakin akan ke-kuasa-an Tuhan, mengapa dia harus takut terhadap sesuatu yang lain yang mesih berada dalam ruanglingkup kuasa-Nya? Tuhan bahkan sanggup menjadikan panas api menjadi dingin sebagaimana kisah Ibrahim AS saat dilemparkan Namrud dan pengikut-pengikutnya ke dalam tungku api yang besar. Ibrahim AS justru memperoleh tahta dan kedudukan yang mulia di sisi Tuhan dan di antara sesamanya. Ia memperoleh keselamatan sekaligus kesejahteraan dari-Nya.

……”Kesejahteran pasti saatnya datang padamu, tahta ini bagimu, selamatlah!” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Ungkapan di atas tidak mengarah pada kisah Ibrahim AS, melainkan lanjutan dari kisah Musa AS. Ungkapan tesebut memiliki kronologis yang sama dengan kisah Ibrahim AS, yaitu apabila seorang manusia sanggup melepas segala kebendaan serta yakin bahwa segalanya berada dalam kekuasaan Tuhan, maka ia akan memperoleh keselamatan, kesejahteraan dan martabat tinggi disisi Tuhan dan di antara sesamanya.

Rujukan serta lanjutan kisah tersebut dinyatakan bahwa setelah Musa AS sanggup menanggalkan rasa takutnya terhadap kobaran semak yang sanggup berbicara, ia memperoleh kesejahteraan, martabat tertinggi dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kesejahteraan hidupnya tercermin melalui penurunan wahyu dan penganugrahan mu’kizat yang diberikan kepadanya yang berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan tangan yang bisa memancarkan sinar putih yang cemerlang saat dikepitkan ke ketiaknya. Martabat tertinggi tercermin dari proses pengangkatannya sebagai nabi dan rasul. Adapun keselamtanya berupa keselamatan di dunia dan akhirat. Keselamatan di dunia berupa kemenangan dari bala tentara Fir’aun yang menyerangnya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa doktrin keimanan yang tercermin dalam sub pembahasan ini adalah: Tuhan (Allah) adalah sumber, pangkal, serta pokok kehidupan yang mutlak Dialah yang memberi kehidupan, keindahan, serta kenikmatan-kenikmatan. Dialah tujuan hidup dan kehidupan bagi manusia, yang tidak harus didekati dengan perasaan takut terhadap sesuatu apapun sebab Dia adalah pemegang dan kuasa atas segalanya yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Jika hal tersebut telah melekat erat dalam hati seseoarang, ia akan memperoleh keselamatan, kesejahteraan dan martabat tinggi di sisi tuhan dan di antara sesamanya.

23/02/09

Mengintip Dunia di dalam Dunia

Judul buku: Dunia Kecil; Panggung &Omong Kosong
Pengarang : A. Syauqi Sumbawi
Jenis buku: Novel
Epilog : Nurel Javissyarqi
Penerbit : PUstaka puJAngga, Sastra Nesia, Lamongan 2007
Tebal Buku: iv+220hal,12×19cm.
Peresensi : Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong merupakan karya yang imajinatif. Karya yang penuh dengan perjalanan yang diliputi dengan perjuangan untuk mengungkap misteri. Misteri dalam realitas cerita itu sendiri.

Sebagaimana judul yang dipakai, Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong, novel ini mengisahkan tiga dunia sekaligus dalam rentang waktu yang bersamaan. Dunia tersebut adalah dunia nyata yang diwakili oleh omong kosong yang dilakukan antara dua orang tokoh yaitu sutradara pementasan dan salah seorang penonton pertunjukan. Ah tidak, bukan seorang penonton. Bisa jadi kita sendiri selaku penbacanya. Yang kedua adalah dunia panggung atau dunia pertunjukan drama dengan tokoh utamanya, Yangrana. Dunia yang ketiga adalah kisah perjalanan Yangrana dalam menembus dan melintasi dunia kecil yang terdapat di dalam lakon pertunjukan tersebut.

Yang menjadi penggerak alur cerita dalam novel ini adalah Yangrana, Sutradara, dan seorang Penonton. Maaf bukan penonton. Maksud saya pembaca. Eksistensi ketiga tokoh ini sangat jelas, namun yang menjadi tumpuan utama penulis, A. Syauqi Sumbawi adalah Yangrana. Tokoh inilah yang menjadi wahana penyalur ide dan pemikiran penulisnya.

Perjalanan Yangrana dalam dunia kecil merupakan sebuah perjalanan yang misterius. Perjalanan yang penuh dengan teka-teki yang harus diungkap olehnya. Kalau boleh diilustrasikan, perjalanan Yangrana seolah-olah menyimbolkan perjalanan ruhaniah seorang mistikus dalam mengungkap tabir kehidupan.

Di dalam dunia kecil tersebut, Yangrana berposisi sebagai orang yang awam. Orang yang tidak mengerti apa-apa dan bahkan ia pun tidak mengerti dengan keberadaanya saat itu. Setiap orang yang dijumpainya dalam dunia kecil tersebut, justru malah membuatnya semakin bingung. Setiap kali bertanya masalah keberadaanya, ia justru dihadapakan dengan persoalan-persoalan yang baru. Ia justru dihadapkan dengan teka-teki yang sanggup memicu timbulnya amarah.

Meskipun setiap orang yang ditemui Yangrana di dunia kecil tersebut membuatnya bingung dan emosi, mereka juga kerap menanamkan nilai-nilai kepribadian yang lebih. Nilai-nilai tersebut tidak hanya tertuju kepada Yangrana semata, melainkan juga mengarah kepada para pembaca. Beberapa di antara nilai-nilai tersebut adalah nilai kesabaran, keyakinan, dan percaya diri.

Sabar merupakan modal utama dalam menjalani kehidupan. Hal itu disebakan oleh, setiap kehidupan pasti terdapat suatu bentuk hambatan, ujian, dan tantagan. Semua itu haruslah dihadapi dengan penuh kesabaran agar seseorang kuat dalam menjalaninya. Selain itu, kesabaran merupakan pondasi awal dalam diri seseorang sebelum ia melakukan suatu perubahan yang sangat besar dan menyeluruh. Nilai kesabaran yang ditanamkan adalah; “Benar sekali. Karena di mana pun, hanya yang mempunyai kesabaran yang bisa beradaptasi. Pertahanan diri yang pertama sebelum melakukan evolusi” (hal:42).

Masalah keyakian merupakan masalah yang pokok dalam kehidupan seseorang. Keyakinan berorientasi pada personalitas seorang individu yang tidak dapat diganggu-gugat dan tidak dapat dipaksa-paksakan. Hal tersebut berorientasi kepada apa saja, baik ketuhanan, agama, ideologi, kebenaran, maupun yang lainya. Meskipun demikian, keyakinan seseorang bisa berubah-ubah dan tidak tetap. Kadang kuat dan kadang melemah. Semua itu tinggal sugestilah yang memegang peranan penting. Sugesti yang kuat dalam mempengaruhi-lah yang nantinya sanggup mengarahkan pilihan seseorang selanjutnya. Nilai keyakinan yang tercantum adalah; “Anda yakin sekali, Tuan Yangrana. Akan tetapi perlu anda tahu, keyakinan sifatnya tidak permanen. Seperti iklim cuaca yang begitu mudah berubah. Seperti temperatur. Kadang di puncak dan kadang di titik terrendah. Anda harus paham itu dan berhati-hati” (hal:93).

Sifat percaya diri keberadaanya juga sangat penting dalam diri seseorang. Dengan demikian, sifat tersebut perlu untuk ditumbuhkembagkan. Hal itu disebabkan oleh sifat percaya diri mampu menciptakan daya semangat hidup dalam diri seseorang. Seseoarang akan terlihat lebih bersemangat dalam menjalani realitas kehidupan yang ada jika ia memiliki sifat percaya diri yang tinggi. Namun perlu diingat, sifat percaya diri yang sangat berlebihan juga kurang baik dalam diri seseorang. Nilai sifat percaya diri yang terungkapkan adalah; “Kenapa anda masih bingung meskipun interpretasi anda tentang dunia kecil adalah sebuah jawaban yang benar, menunjukkan bahwa anda ragu-ragu. Apalah artinya kebenaran jika disikapi dengan keragu-raguan?!” (hal:92).

Masih cukup banyak nilai-nilai lain yang terdapat di dalam novel ini. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan cermin dalam menjalani realitas kehidupan yang ada. Masuklah ke dalam dunia kecil. Berjalanlah dan telusurilah lorong-lorong misteri yang ada di dalamnya, selaksa Yangrana yang mencari hakekat keberadaanya. Sungguh, hikmah kehidupan akan bermekaran selaksa kuncup bunga yang sedang mengembang. Dan petiklah!

Dari bangun intrinsiknya, ada satu permainan alur yang cukup unik di dalam novel ini. Di dalam novel ini, penulis secara sengaja menyematkan konstruksi alur yang meloncat-loncat, namun konstan dan terarah. Alurnya tidak serampangan dan tersusun secara apik. Loncatan-loncatan itu menimbulkan efek yang baik dalam karya tersebut, yaitu menimbulkan adanya suspens antara pembaca dengan karya itu sendiri. Yang menjadi titik pangkalnya adalah timbulnya foreshadowing dalam alur cerita sehingga menjadikan pembaca bertanya-tanya dan tertarik untuk mencari dan membaca kejadian-kejadian yang akan terjadi pada tokoh selanjutnya.

Selain semua itu, susunan alur yang demikian juga mampu membingungkan pembaca. Mereka yang kurang jeli, kurang teliti, dan kurang khusuk dalam membaca, maka akan mengalami hambatan saat melakukan pemahaman. Mereka kurang dapat menikmati dalam proses membaca, bahkan sanggup mengalami kejenuhan. Mereka juga akan bingung sendiri sebab tidak mampu menemukan kesatuan ide penceritaan. Jadi, dalam proses membaca perhatikan betul loncatan sekaligus perubahan alur ceritanya. Cermati dengan seksama antara suasana dunia panggung dengan di luar panggung.

Novel ini disusun ke dalam tiga puluh bagian buku. Setiap bagianya menghadirkan loncatan-loncatan yang cukup variatif. Dan dimunculkan dalam bentuk perubahan setting penceritaanya. Yang paling unik lagi, novel ini mengajak pembaca berdialog secara langsung. Pembaca dijadikan salah satu tokoh penyusun dan penggerak alur ceritanya. Hal itulah yang kiranya sungguh fantastik dan brilian yang dilakukan penulisnya. Suatu teknik yang jarang dan bahkan bisa dibilang belum pernah di terapkan oleh penulis sebelumnya. Dan akhirnya, selamat membaca! Selamat menyelami! Selamat menikmati! Temukan segala yang menjadi misteri.

03/01/09

DIALOG ANAK LAUT

Catatan Kecil tentang Puisi Mardi Luhung
Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Siapa yang tidak kenal dengan Mardi Luhung! Penyair yang kerap dipanggil Hendry ini adalah seorang guru sebuah lembaga pendidikan di Gersik. Selain ia tekun dalam dunia pendidikan, yang tidak kalah lagi adalah ketekunannya dalam dunia kesusastraan. Ia dapat dikatakan sebagai motor kesusastraan di Gersik. Perjuangan sastranya di kota tersebut sungguh luar biasa. Hal itu terbukti dari eksistensinya sebagai gerilyawan sastra. Ia mencoba memasyarakatkan sastra mulai dari lingkungan bawah sampai atas. Dari sekolah sampai jalanan.

Mardi dalam karya-karyanya, khususnya puisi kerap menyuarakan realitas sosial kemasyarakatan kotanya. Ia kerap menyuarakan kultur sosial masyarakat kota Gersik yang notabenenya adalah kota pantai atau pelabuhan. Itu tecermin dari logat bahasa dalam puisinya. Yaitu keras tanpa dihalus-haluskan, ujaran atau kosa kata nelayan, suasana pelabuhan dan pantai, narasi keseharian masyarakatnya di pasar, jalan, dan gang, serta ruang publik lainnya.

Berbicara kultur masyarakat pesisir, memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya kita akan banyak menemukan nuansa kehidupan yang keras. Mulai dari logat bicara sampai perilaku masyarakatnya. Kondisi semacam itu tampaknya secara dominan dipengaruhi oleh letak geografis daerahnya. Dirujuk dari segi nenek moyangnya, masyarakat pesisir dalam realitas kesehariannya dituntut untuk melaut. Dalam kondisi semacam itu, pada dasarnya dalam kesehariannya, mereka dihadapkan dengan tantangan kematian, gemuruh ombak, dan nasib yang tidak menentu. Mereka masih dibayang-bayangi oleh ketidak mengertian bahwa ia akan dapat kembali ke darat atau tidak. Untung atau tidak.

Hal itulah yang pada dasarnya membentuk karakter dan mentalitas masyarakat pesisir yang keras dan berani. Mentalitas dalam kesehariannya dipertaruhkan dengan maut. Setiap hari mereka ditraining oleh kematian. Itu adalah makanan dan terapi mentalnya. Bayang-bayang akan kematian dan maut sudah terbiasa melingkupinya sehingga hal itu kurang terhiraukan lagi. Hal itu mampu mejadikan mereka berkemauan keras dan lantang menghadapi segala bentuk tantangan hidup.

Aspek tersebut juga dapat mempengaruhi logat bahasa mereka. Jika mentalitas selalu dicekoki dengan training-training semacam itu, maka lambat laun logat bahasa yang tercipta adalah logat bahasa yang bernada tinggi. Logat bahasa yang mencerminkan egosentris yang jika dirasa-rasa atau didengarkan mengandung nilai kesombongan. Padahal itu tidak sama sekali. Itu adalah logat bahasa alamiah yang terbentuk oleh alam. Belum lagi pengaruh deru ombak yang menyebabkan intonasi suara harus keras. Sebab kalau tidak keras, suara tidak akan sampai dengan jernih pada respondennya. Dan itu menyebabkan komunikasi terhambat. Jadi, logat yang keras, kasar, dan egosesntris merupakan harmonisasi bahasa yang terbangun dalam kultur masyarakat pesisir.

Puisi-puisi Mardi sangat kental menyuarakan masyarakat pesisir. Ia kerap menggambarkan bagaimana realitas sosial yang melingkupi pribadi-pribadi mereka. Dalam puisinya, Mardi pernah menyatakan kebenciannya terhadap orang-orang yang mengaggap bahwa masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang tidak tahu aturan dan tidak memiliki unggah-ungguh dalam berperilaku. Terutama dari segi ungkapan bahasanya. Orang-orang tersebut kerap menganggap mereka kosro dan kasar. Bahkan kerap dianggap sebagai masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungannya.

...... “dan tahukah kau yang paling aku benci? // adalah ketika kita sama-sama ke sekolah // dan sama-sama disebut: “Orang Laut.”
Orang yang dianggap sangat kosro // kurang adat dan keringatnya pun seamis // lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai”...... (Pengantin Pesisir, bait: 5-6 dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:3).

Anggapan-anggapan orang semacam itulah yang sangat dibenci oleh Mardi. Jika ditelisik lebih jauh, bahwa sesungguhnya mereka sendirilah yang pada dasarnya tidak memiliki unggah-ungguh bahasa. Mereka dengan seenaknya mengklaim dan menilai masyarakat pesisir tanpa memperhitungkan sebab-musabab pembentukan dialek bahasa mereka. Mereka tidak sadar bahwa dialek orang pesisir semacam itu merupakan bentukan alam yang berfungsi sebagai balance dalam kehidupan ini. Jadi, bagi Mardi tidak perlulah seseorang mengklaim ini dan itu kepada masyarakat pesisir. Biarkan saja mereka mengembangkan dialektika masing-masing. Toh pada dasarnya dialektika semacam itu tidak mengganggu harmonisasi antara masrakat yang satu dengan yang lainnya. Justru itu adalah rahmatal lil alamin.

Kehidupan orang-orang pesisir tidak terlepas dari ikan. Dalam kesehariannya, mereka selalu menumpahkan pikiran dan keringatnya untuk melaut. Untuk menangkap ikan yang sebanyak-banyaknya sebagai usaha dalam mempertahankan hidup.

Sebab terlalu kentalnya hubungan mereka dengan ikan, aroma tubuhnyapun mengandung aroma ikan. Itu secara alamiah dan tidak dimanipulasi dengan parfum-parfum pada umumnya. Baunya sedikit amis.

Fenomena semacam ini yang mungkin menyebabkan timbulnya tindakan pengucilan terhadap anak-anak laut ketika mereka membaurkan diri dalam masyarakat luas yang berada sedikit jauh dari lingkungannya. Ini biasanya terjadi ketika anak-anak laut melakukan urban ke kota. Entah itu ketika menuntut ilmu ataupun yang lainnya. Kalau di Afrika Selatan ada yang namannya Politik Apartheid mungkin di sini ada Politik Ikan Pahit. Dan Mardi seolah bertindak sebagai Nelson Mandelanya. Dengan suara-suaranya, ia berusaha menghapus kesenjangan sosial yang ada. Melenyapkan perbedaan parfum ikan dengan parfum moderen. Menanamkan image persamaan harkat dan martabat antara masyarakat kota dengan masyarakat pesisir.

Menanamkan persamaan harkat dan martabat dalam pribadi seseorang sangatlah penting. Tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya merupakan sebuah keutamaan. Ini adalah sebagian dari proses pemahaman diri. Memahami pribadi orang lain untuk diselami dan mencoba memposisikan diri sendiri pada posisi orang lain. Sebagaimana Abel Bonnard menyatakan bahwa persahabatan itu butuh pemahaman. Dengan sikap semacam itu, nilai solidaritas dan persahabatan akan terbangun kokoh. Jika solidaritas dan persahabatan telah terjalin antarindividu, maka persatuan dan kesatuan masyarakat dan bahkan bangsa akan tercipta. Sehingga perpecahan tidak akan terjadi. Tampaknya ini tidak sekedar tertuju pada masyarakat kota dengan masyarakat pesisir saja. Tapi juga untuk suku, agama, dan ras.

Kita kembali pada masyarakat pesisir. Bagi masyarakat pesisir, ikan adalah segala-galanya. Ikan adalah penopang hidupnya. Ikan adalah bulan. Dan bulan adalah ikan. Begitu kata mardi.

...... “Padamulanya bulan adalah ikan // yang menggeliat dan berdenyut // lewat jantung-tak-terbilangnya” ...... (Pada Mulanya Bulan Adalah Ikan, bait:1dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:61).

Ikan sangat berarti bagi kehidupan masyarakan pesisir. Semua tawa dan kebahagiaan bermula dari ikan. Ikan dapat dikatakan roh bagi masyarakat pesisir. Yang namanya roh, berarti ia menjadi perantaraan kehidupan. Orang yang rohnya melayang, secara otomatis ia tidak dinamakan orang. Tetapi mayat. Itulah eksistensi ikan bagi masyarakat pesisir. Kehidupannya bertumpu pada ikan. Mata pencahariaanya berorientasi pada ikan. Jika sehari saja mereka tidak mendapatkan ikan, duka bersarang tak tertahan. Tidak ada lagi bulan di pantai. Tidak ada lagi senyum masyarakat pesisir. Dan dapat dikatakan pula, ikan adalah separuh nyawa dari masyarakat pesisir. Separuh nyawanya lagi adalah wanita.

...... “Tiga ratus anak laut membuntuti. // anak-anak laut yang separuh badannya adalah ikan. // Dan separuh lagi adalah kemontokan keremajaan.// Seperti ke montokan gadis-gadis pinggir pantai. // Yang percaya pada maut dan laut.” ...... (Orang Tenggelam, bait:1 dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:133).

Orientasi wanita di sini cukup luas. Wanita dapat merujuk pada istri-istri dan gadis-gadis pesisir yang pada dasarnya keduanya itu berkonotasi pada cinta. Ikan bukan sekedar penyambung hidup sendiri, tapi ikan juga untuk menyambung hidup para wanita yang notabenenya tak mungkin melaut. Dengan mendapatkan ikan yang banyak, kesejahteraan keluarga akan tercapai. Begitu juga dengan cinta gadis-gadis remaja pun akan tegapai. Itu bagi mereka yang belum beristri.

Konon, secara mayoritas, orientasi wanita adalah materi. Siapa yang mengantongi uang banyak, dialah yang bakal menggenggam totalitas cintanya. Lihat saja, sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Ketika sang suami banyak uang, kasih sayang dan cinta sang istri begitu menyeluruh. Namun ketika uang tidak ada, yang banyak terjadi adalah emosional dan kemarahan. Dan ini sudah wajar, sebab wanita dikatakan sebagai kaum hawa. Kaum yang selalu menomorsatukan hawa nafsunya. Menomorsatukan materi dan fisik kemanusiaannya. Lebih jauh lagi, coba tengok lokalisasi. Siapa yang berkantong tebal, dialah yang bakal dimuliakan oleh para wanitanya.

Tapi tidak perlu dipikir panjang. Keberadaan wanita adalah sebuah keniscayaan. Ia sebagai penanda kesempurnaan manusia. Sebab wanita merupakan bagian dari laki-laki yang telah terbelah. Penyatuan laki-laki dan wanita, entah itu secara jasmani maupun rohani merupakan sebuah usaha dalam melengkapi kepribadian masing-masing. Berusaha menutup ruang kosong kepribadian. Jadi tidak ada lelaki yang tidak suka dengan kewanitaan. Dan tidak ada wanita yang tidak suka dengan kelelakian. Ini adalah kodrat umum kemanusiaan. Jauh dari pada itu, setiap lelaki pasti sedikit banyak memiliki sifat kewanitaan. Dan wanita juga pasti sedikit banyak memiliki sifat kelelakian. Sebab pada mulanya mereka adalah satu tubuh.

Setiap manusia pasti memiliki keseimbangan diri. Sekasar-kasarnya orang, pasti memiliki kelembutan. Dan selembut-lembutnya pribadi seseorang, kadang kala memunculkan tabiat yang keras. Entah sedikit atau banyak, itu pasti terjadi. Begitu juga dengan masyarakat pesisir, meskipun tampak terlihat kasar, ia masih memiliki kelembutan hati. Tinggal respondenya saja yang harus mampu memasuki ruang kosong itu. Dan mengambil kelembutannya. Entah dengan cara apa dan bagaimana, pikirkan saja. Sebab setiap individu itu memiliki cara yang berbeda-beda dalam memasuki kepribadian individu lain. Tentunya disesuaikan dengan karakter masing-masing.

Secara sekilas, bagi orang yang baru membaur dengan masyarakat pesisir, ia akan merasakan aura kepribadian yang keras. Itu wajar saja. Sebab ia belum terlalu akrab dan belum menjalin hubungan emosional yang kuat. Jika keakraban dan hubungan emosional telah terbangun, maka secara alamiah pasti merasakan kelembutan aura kepribadiannya. Dan bahkan cinta dan kasih sayangnya. Paling tidak kita akan mengetahui kelembutannya yang tercurah pada keluarganya. Dan bahkan lingkungan kemasyarakatannya. Sebagaiman tecermin dalam ungkapan Mardi berikut.

...... “Sejauh mata memandang, sejauh itu pula aku // memandang yang berjalan di atas laut. Siapa gerangan // mereka? Wajah dan pakaian mereka seperti gelombang // lembut yang menyisir pantai dan rumah-rumah, bakau // dan perahu-perahu yang dibalik, yang warnanya sedang // dibatik, dan lambungnya ditambal dengan keringat, cinta // dan lendir ikan yang terpukat” ...... (Yang Berjalan Di Atas Laut, bait:1 dalam Ciuman Bibir Yang Kelabu, 2007:131).

Perlu diketahui, bentuk solidaritas masyarakat pesisir itu sangat tinggi. Dan itu baru muncul jika seseorang mampu mengambil kelembutan hati mereka. Jarang seseorang mampu menyelami kepribadian masyarakat pesisir. Boro-boro menyelami, mendengar logat bicara dan perawakannya saja seseorang kebanyakan ogah bergaul. Alasan takutlah, mereka tak punya sopanlah, dan masih seribu alasan lagi diungkapkannya. Ini sebenarnya sebuah pandangan yang kurang objektif. Kebanyakan orang menilai dari segi luarnya saja dan melupakan kebatinannya. Bagi yang akrab bergaul tentunya pasti akan mengetahui hal itu.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita