Tampilkan postingan dengan label Dadang Ari Murtono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dadang Ari Murtono. Tampilkan semua postingan

04/02/11

Hasil Penelusuran Penyair S Yoga Soal Karya Plagiat di Horison Edisi Januari 2011

Pengisah Akutagawa Cerpen Kappa Cerpen yang Sama
S Yoga
http://www.facebook.com/notes/m-anshor-sjaroni/hasil-penelusuran-penyair-s-yoga-soal-karya-plagiat-di-horison-edisi-januari-201/10150093109338476

Ada cerpen Dadang Ari Murtono di Majalah Horison, judulnya Pengisah Akutagama, kok hampir mirip dan kalimat-kalimatnya banyak yang sama ya dengan cerpen Kappa, akutagama Ryunossuke, terjemahaan Bambang Wibawarta. Kalau yang di Kompas dan Lampung Post, kan udah lama dipermasalahkan dan Kompas juga udah mencabut cerpen itu dan dianggap tidak ada. Tapi ini yang di Majalah Horison yang orang jarang baca, aku beli awal Januari tapi baru sempat baca awal februari, monggo di baca sendiri. atau mungkin akutagama menjelma menjadi dadang. Kalau di Kappa dan Pengisah Akutagawa ada tokohnya yang bunuh diri dengan menembak kepalanya, apa mungkin Dadang juga sedang merencanakan bunuh diri. Entahlah.

Salah satunya yang sama adalah surat/sajak setelah tokoh Tock bunuh diri kalimatnya sama persis:

Ayo bangkit dan pergi
Melintasi dunia ini menuju jurang dalam
Jurang terjal penuh batu karang
Tempat air pegunungan mengalir jernih
Dan tercium wangi bunga rerumputan

Bahkan dalam sub judul yang sama persis dengan cerpen Kappa, yakni Laporan Tentang Arwah Penyair Tock, kurang lebih ada 21 pertanyaan dan jawaban, antara tokoh kami dan Nyonya Hop yang dirasuki arwah Tock, yang sama persis tanpa diedit, kata-kata/kalimat-kalimatnya.

Paling mudah baca aja sub judul Laporan Tentang Arwah Penyair Tock ke belakang, kurang lebih di terjemahan Bambang Wibawarta, berturut-turut ada 6 halaman, yang ditulis sama persis dalam cerpen Pingisah Akutagawa-Dadang Ari Murtono

80% hanya mengetik ulang tanpa diedit
Lihat: http://syoga.blogspot.com/2011/02/cerpen-pengisah-akutagawa-plagiat.html

Bagikan

*
*
Ricky Rayhan, Pringadi Abdi Surya dan 5 orang lainnya menyukai ini.
*
o
Syt Ethex walah…..apa yang aku pridiksi akhirnya terjawab juga
22 jam yang lalu
o
Fahri Asiza Wah, jadi itu???? Halaaah! Dadang memang plagiator ulung!!!
22 jam yang lalu
o
Pringadi Abdi Surya PARAH!
22 jam yang lalu
o
Pringadi Abdi Surya Sebagai penggemar besar Kappa, yang membuatku murung membacanya berminggu-minggu, nggak rela Kappa diplagiat.
22 jam yang lalu · 1 orangMemuat…
o
Gunawanti Armadani oalah mas dadang2,kl ga bs nulis mbok ya ga usah jadi penulis,kl BU ya cr kerja lainx jangan karya orang diobok-obok,.
21 jam yang lalu
o
Penumpang Sepur Ekonomi ha3…ini plagiat atau copy paste Mas Anshor? Mas, klo rumah sampean d daerah Sedati dan dekat dgn rumah Pak Andik kpn2 boleh main k rumah?

Salam

Dody Kristianto
21 jam yang lalu
o
Bamby Cahyadi Sebenarnya, aku sudah membaca Pengisah Akutagawa di majalah Horison awal Januari lalu. Berhubung masalah plagiatnya di Lampung Post tdk mendapat respon dari para redaktur sastra/koran dan majalah, dgn dimuatnya karya2 cerpen dadang secara bertubi-tubi di koran2 nasional dan lokal. Aku pikir sudahlah. Mungkin karya2 dia memang layak dimuat, tapi saat perempuan tua dalam rashomon dimuat ulang di kompas aku sangat geram. Dan kekesalanku kutumpahkan pada redaktur kompas. Mengenai yang Hiroson, sebaiknya ada yang menyurati redakturnya.
20 jam yang lalu · 1 orangMemuat…
o
Bamby Cahyadi Ada kecenderungan redaktur sastra koran2 papan atas memilih cerpen yang bersetting luar negeri? Atau cerpen2 dgn bahasa yang belibet (kata pak hamsad rangkuti, akrobat kata2)
20 jam yang lalu · 1 orangMemuat…
o
Faradina Izdhihary Hehehe iya kali Mas Bam… apa redaktur mikir kalau settingnya LN berarti membutuhkan daya imajinasi yang tinggi?
20 jam yang lalu
o
Sujai Marali Meski tulisan saya belum pernah sama sekali dimuat di media sastra besar, kompas dan horison, sebagai penulis, saya betul-betul SEDIH, MALU dengan peristiwa ini. ini soal kejujuran–salah satu paling krusial dari ruh kesusastraan. TIDAK SAMPAI HATI saya untuk memperlakukan sastra dan diri saya seperti itu. salam buat kawan-kawan semuanya.
20 jam yang lalu · 2 orangMemuat…
o
Pringadi Abdi Surya kemana ya teman2 pendukung dadang itu sekarang???
20 jam yang lalu · 1 orangMemuat…
o
Penumpang Sepur Ekonomi Maksudnya penjual salak tho Pri?he3.aq msh tringat dgn tukang salak!
20 jam yang lalu
o
Penumpang Sepur Ekonomi Saya salut dan hormat dgn komentar Pak Suyitno Ethex, meski sm2 brasal dr mojokerto, Pak Suyitno Ethex tetap objektif
20 jam yang lalu · 2 orangMemuat…
o
Hananto Widodo tapi tulisan ini kok diposting di fesbuk..khan kasihan orgnya..apalagi orgnya masuk dalam catatan yg ditandai..
19 jam yang lalu · 1 orangMemuat…
o
Imam Muhtarom sastra oh sastra…
17 jam yang lalu · 1 orangMemuat…
o
Ahmad Faishal Hem…
17 jam yang lalu
o
Han Gagas Email cerpen horison apa benar ini: horisoncerpen@gmail.com, nanti saya kirimi email hasil amatan Mas Yoga ini.
17 jam yang lalu · 2 orangMemuat…
o
Sumar Yoga udah aku kasih surat ke redaksi majalah horison, buat tulik,ndak apa2. karena dia sendiri juga ndak kasihan sama para pembaca setia sastra. dia tidak memiliki moralitas. sehingga moralitas dan agama pun tidak akan mampu mengikat jiwanya. saya kira dia benar-benar sakit
17 jam yang lalu · 4 orangMemuat…
o
Sumar Yoga bayangkan 80% cerpen Kappa ditulis ulang tanpa diedit, kalau yang di kompas mungkin hanya 25%/35% aja, apa bukan orang gila itu
17 jam yang lalu · 3 orangMemuat…
o
Sumar Yoga kalau ingin lihat detail-detailnya. udah saya scan cerpen dadang di horison dan cerpen kappa, silahkan lihat di www.syoga.blogspot.com
16 jam yang lalu
o
Hutasuhut Budi Barang bukti lain. Kalau di dunia hukum, namanya novum. Tolong dibuat BAP tersangka.
15 jam yang lalu
o
Faradina Izdhihary Mas Sumar, salam kenal. Saya sdh intip.Hiiiii sampai gemetar aku membacanya. Waduuuh, mgkn karena telah berhasil lolos dan apa ya namnya …. redaktur Horison dia nekad mengulang lagi di Kompas. Tidak hanya menyakiti para pembaca sastra, tetapi juga sangat tdk fair pada penulis lain yg menulis dg sungguh2, jujur,m dan harus antri buat dimuat hehehehe
15 jam yang lalu
o
Reni Teratai Air
Aku pernah membaca Kappa, akutagama Ryunossuke. Meski agak-agak lupa lagi… tapi aku belum baca Pengisah Akutagama ‘ala’ Dadang…
Mungkin maksudnya ‘Pengisah Akutagama’ versi Dadang… adalah : ‘Ini cerpennya akutagama yg aku tulis ulang’ … :D Lihat Selengkapnya
14 jam yang lalu
o
Hardho Sayoko Spb
Kasus seperti ini selain sangat menodai sejarah sastra di tanah air, juga sangat melukai hati para penulis yang selama hidupnya berdarah-darah untuk terus serius berkarya.
Betapa memalukannya mereka yang selama ini dengan berlindung di bali…k nama besar sebuah media, yang dengan kewenangan menyeleksi naskah yang masuk, dan tanpa boleh diganggu gugat meloloskan kiriman cerpen atawa puisi pemilik nama yang dianggap pakar kata belibet (maaf pinjam isitlahnya bang Hamsad lewat Bamby), atau menulis dengan seting luar negeri seperti yang disangka Bamby, ternyata wawasannya tak seluas yang dibayangkan orang. Hehe
Menurut pendapat simbah, mereka yang entah karena kelalaiannya atau sedikit karya sastra yang dibacanya, hingga ikut meloloskan karya jplakan yang sungguh memalukan itu, sebaiknya mengundurkan diri saja, dan digantikan para sastrawan lain yang jelas mumpuni dalam bidangnya.Lihat Selengkapnya
14 jam yang lalu · 2 orangMemuat…
o
Sumar Yoga ?@Reni, kalau pernah baca kappa nya akutagama,disitu ada tanya jawab antara tokoh kami dan Nyonya Hop yang dirasuki arwah penyair Tock, dana tanya jawab itu seluruhnya dioper oleh dadang tanpa diedit ke dalam cerpen ala dadang, pengisah akutagawa
14 jam yang lalu
o
Sumar Yoga selain itu masih ada lagi beberapa aline yang juga sama persis.tapi yang paling menonjol dan dominan ya tadi yang tanya jawab
14 jam yang lalu
o
Sumar Yoga ?@hardho, piye ngawi, kapan ketemu,kegiatanku wis rada berkurang ini, katanya mau bikin acara di ngawi
14 jam yang lalu · 2 orangMemuat…
o
Sumar Yoga
Ini email jamal d rahman, yang tadi malam langsung aku sms dan email, berkait keberatan cerpen dadang dimuat,karena merupakan plagiat cerpen kappa. joni aridnata juga langsung aku sms tadi malam

Kepada Yth.
Sdr. S. Yoga

…Apa kabar? Semoga baik-baik.

Terima kasih atas masukan ini. Kami akan segera pelajari masalah ini, dan tentu kami akan ambil sikap.

Sekali lagi, terima kasih.

Salam hangat,

Jamal D. RahmanLihat Selengkapnya
14 jam yang lalu · 1 orangMemuat…
o
Muntamah Sekar Cendani Ijin menyimak kepada para sesepuh, salam takzim.
14 jam yang lalu
o
Han Gagas aku merasa redaktur yg kelamaan pegang media jd ga peka dlm pembacaannya trutama kompas ma horison. Ingat Soeharto diktator, rejim sastra akankah sama sj dg rezim politik, yg makin lama bercokol makin rabun dan malas membaca buku.
13 jam yang lalu
o
Miftah Fadhli yah, paling tidak ada dua media cetak BESAR (Kompas dan Horison) yang diBODOH-BODOHI (bukan ‘kecolongan’) oleh si Dadang itu..

Damn it!! KECEWA BESAAAAAAAAARRRRRRRRRRR!!!!!!!
12 jam yang lalu
o
Hananto Widodo ?@sumar yoga:ok,tp lebih baik ini bukan sekedar forum ini menghujat dia.tp kalau bisa beri ruang utk klarifikasi.mengapa dia sampai berbuat begitu.oleh karena itu yg namanya dadang lebih baik nongol saja.
10 jam yang lalu
o
Sumar Yoga lha orangnya ndak berani nonggol, gimana lagi.
10 jam yang lalu
o
Bamby Cahyadi Apakah mungkin ada mafia cerpen, sehingga cerpen2 dadang yg plagiat itu bisa tembus media besar? Inilah yg menjadi pertanyaan saya berikutnya.

Sumber lain: http://www.facebook.com/notes/sumar-yoga/pengisah-akutagama-dan-kappa-cerpen-yang-sama/149837945074109

Perempuan Tua dalam Rashomon (dan catatan penting)

Dadang Ari Murtono
http://www.lampungpost.com/

PEREMPUAN itu berjongkok di antara mayat-mayat yang hampir membusuk dalam Menara Rashomon. Perempuan yang tua, berbaju kecokelatan, bertubuh pendek dan kurus, berambut putih dan mirip seekor monyet. Dengan oncor dari potongan kayu cemara di tangan kanannya, perempuan itu memandangi wajah sesosok mayat. Mayat seorang perempuan dengan rambut panjang.

Bagaimana bisa ada tumpukan mayat dalam Menara Rashomon, baiknya kuceritakan dulu. Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.

Perempuan itu sebatang kara, tak mempunyai keluarga. Perempuan itu tak menikah sebab tak ada lelaki yang ingin menikah dengan perempuan berwajah buruk seperti monyet. Apalagi ia bukan seorang kaya atau turunan bangsawan. Dulu, ia bekerja sebagai pelayan di rumah bangsawan Kyoto. Bertahun-tahun ia bekerja dengan baik dan tak pernah mengeluhkan gaji yang terlalu sedikit. Majikannya menyayanginya. Ia merasa bahagia. Dan sepertinya tak bakal ada alasan bagi majikannya untuk memberhentikannya. Ia sudah seperti keluarga saja dengan keluarga majikannya. Karena perlakuan seperti itulah ia tak terlalu bersedih sewaktu bapak ibunya meninggal terkena wabah penyakit.

Namun ia keliru. Kondisi Kyoto pada waktu seperti ini mengalami kemunduran yang teramat cepat. Dan majikannya yang baik itu juga merasakan dampak kemunduran itu. Majikannya memecatnya. Majikannya bilang tak mampu lagi membayar gajinya yang tak banyak dan memberinya makan. Majikannya tak sekaya dan sebaik yang ia sangka ternyata. Kemudian ia pergi dari rumah majikannya. Dan karena ia tak mempunyai sanak famili untuk menumpang tinggal, juga rumah orang tuanya yang sempit telah lama dijual untuk biaya pengobatan mereka, maka ia melantung, tidur di emper rumah penduduk atau meringkuk di relung-relung reruntuhan bangunan yang banyak terdapat di seantero Kyoto bersama pencoleng dan orang-orang buangan.

Awalnya ia kebingungan bagaimana bekerja dan mendapat uang untuk menopang kehidupannya. Ia tak punya keahlian apa-apa selain menyiapkan teh dan membikin sushi, menyapu rumah dan mencuci pakaian. Ia tahu, tak bakal ada yang mau menerimanya sebagai pelayan. Semenjak krisis berkepanjangan ini, orang-orang kaya tak lagi mencari pelayan baru, sebagian besar malah memecat pelayan mereka. Dan para istri saudagar atau bangsawan mesti belajar menanak nasi, membersihkan rumah, dan merawat kebun. Krisis berlangsung terlalu panjang dan menimbulkan akibat yang teramat hebat. Pemecatan perempuan tua itu dan pelayan-pelayan lainnya barangkali hanya sekadar riak kecil saja dari kemunduran itu.

Dalam kebingungan seperti itu, perempuan tua itu berpikir untuk menjadi pencuri. Ia kelaparan. Daripada mati kelaparan lebih baik ia mencuri. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menopang hidupnya selain dengan mencuri. Namun belum sempat menjalankan pikiran itu, kesadarannya timbul. Tubuhnya sudah lemah dimakan usia, ia tak bakal bisa berlari cepat menyelamatkan diri bila terpergok pemilik rumah. Ia akan mudah tertangkap dan menjadi bulan-bulanan penduduk Kyoto. Itu akan sangat memalukan. Memang, seringkali rasa malu lebih penting dari perut yang kelaparan.

Hingga pada suatu ketika, ia sampai di Rashomon. Dengan menaiki beberapa anak tangga, ia menuju menara yang teduh untuk beristirahat. Alangkah terkejut ia dan hampir saja semaput demi dilihatnya dalam menara itu bertumpuk mayat-mayat. Sebagian mayat-mayat itu berpakaian, sebagian lagi telanjang. Sebagian mayat laki-laki dan sebagian lagi perempuan. Mayat-mayat itu berserakan dan bertumpuk di lantai, serupa boneka-boneka dari tanah. Ada yang mulutnya menganga dan tangan terentang. Sulit baginya membayangkan bahwa mayat-mayat mengerikan itu pernah hidup sebelumnya.

Perempuan tua itu nyaris berlari balik ke arah darimana ia datang, ke jalan yang tadi ia tempuh. Namun secepat ia berbalik badan, secepat itu pula terbersit pikiran untuk mendapatkan uang dari mayat-mayat itu. Barangkali di saku baju mayat-mayat yang masih berpakaian ada barang berharga yang tertinggal, barang berharga yang bisa dijual. Tapi mayat-mayat itu adalah mayat buangan. Bagaimana bisa ada barang berharga dari mayat-mayat semacam itu. Tentu orang yang membuang mayat-mayat itu telah lebih dulu mengambilnya.

Namun ia menemukan ide yang lebih cemerlang. Dulu, sewaktu masih kanak-kanak, bapaknya pernah mengajarinya membuat cemara palsu dari bahan rambut. Itu bisa dijual. Dan kini di hadapannya, tersedia banyak sekali rambut untuk membuat cemara. Rambut mayat-mayat itu. Ia tinggal mencabutinya. Kemudian ia putuskan untuk tinggal dalam menara itu, tidur bersama tumpukan mayat-mayat itu.

Senja ini, hujan mengguyur Kyoto. Perempuan tua itu tak peduli. Ia merasa nyaman dan terlindung dalam menara itu. Tadi siang seseorang melempar mayat baru ke dalam menara itu. Mayat perempuan dengan rambut panjang yang lembut, perempuan yang seperti ia kenal, atau paling tidak pernah ia jumpai, hanya saja ia tak tahu persisnya di mana dan kapan. Ia tak tahu kenapa wanita itu mati dan dibuang ke dalam menara. Tak ada bekas luka di tubuh mayat itu, karena itulah ia menyimpulkan perempuan itu meninggal karena wabah penyakit. Tapi itu tak menjadi pikiran yang penting dan perlu berlama-lama direnungkan. Ia juga tak peduli siapa yang membuang mayat perempuan itu. Yang penting baginya adalah sesegera mungkin mencabuti rambut di kepala wanita itu untuk membuat cemara. “Alangkah bagus rambut ini. Tentu bakal jadi cemara yang bagus dan berharga mahal nantinya,” bisiknya pada diri sendiri.

Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya. Pada waktu itulah, ia teringat siapa perempuan yang kini menjadi mayat dan tengah ia cabuti rambutnya itu.

Ia terlalu bersemangat mencabuti rambut mayat itu sampai tak tahu bahwa sedari tadi seseorang tengah mengamatinya. Seorang Genin, samurai kelas rendah. Genin itu tiba-tiba saja melompat dari tangga. Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.

Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri. Ia masih meronta-ronta dengan hebat. Namun sehebat apa pun rontaan dari tubuhnya yang lemah, tetap saja tak mampu membuatnya lolos dari cengkeraman Genin itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”

Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya. Genin mengerti perempuan tua itu tengah ketakutan.

“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

“Aku mencabuti rambut…. Aku mencabuti rambut untuk membuat cemara.”

Genin itu merasa kecewa dan kaget dengan jawaban sederhana dan di luar dugaannya itu.

Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”

Genin menyarungkan pedangnya kembali. Ia mendengar ocehan perempuan tua itu dengan dingin. “Kau yakin begitu?” tanyanya dengan nada mengejek ketika perempuan itu telah selesai bicara. Lalu sambil mencengkeram leher baju perempuan itu, ia berkata geram.

“Kalau begitu, jangan salahkan aku bila aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tak melakukannya.”

Dengan kasar, lelaki itu merenggut pakaian si perempuan tua, menarik tangan dan menyepak tubuh ringkih itu hingga jatuh menerpa tumpukan mayat-mayat. Dengan mengempit pakaian hasil rampasan, Genin itu menuruni tangga dan hilang di ujung jalan.

Beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang sakit karena ditendang dan jatuh tadi. Ia memandang jasad-jasad itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia bergumam, “Alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar, dengan perkara duniawi.”

Pada waktu itu, ia ingin menjadi mayat. Terlentang di tempat itu. Tak lagi berpikir apa-apa. Tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.

Catatan:
Rashomon sering dikaitkan dengan Rajomon, pintu gerbang pada zaman Heian (794—1185), sekarang terletak di Perfektur (daerah setingkat provinsi) Nara. Mon berarti gerbang. Ketika itu, ibu kota Jepang terletak di Nara. Rashomon juga merupakan judul cerpen Akutagawa Ryunosuke yang menjadi sumber penulisan kisah di atas.
———-

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa surat kabar, majalah, dan jurnal. Sebagian yang lain menjadi bagian dari antologi bersama.

CATATAN PENTING

Ini diambil dari Catatan Sungging Raga di Facebook berikut komentar dari berbagai pihak atas catatan tersebut yang dikutip Rabu, 15 Desember 2010 pukul 14.40 WIB.

Plagiat Rashomon
oleh Sungging Raga pada 14 Desember 2010 jam 10:41

saya di sini cuma melanjutkan bukti2 plagiat Dadang Ari Murtono terhadap karya Akutagawa yg berjudul Rashomon, saya sendiri belum sempat membuat esai, tapi sebagai soft opening, saya meminta teman dekat saya yg kebetulan juga teman dekat Dadang untuk bertanya via sms, dan Dadang mengirimkan sms balasan kepada teman dekat saya itu, lalu teman saya ini lantas menerjemahkan sms Dadang yg berbahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia kepada saya yg isinya seperti ini:

“maaf ya, aku gak peduli orang bilang apa. menyelesaikan? gimana? apa aku harus datang keorang orang seluruh indonesia satu persatu buat jelasin masalahnya? lha masalahnya apa? aku gak merasa punya masalah. terserah orang mau bilang apa. lha redakturnya aja nyantai kok, gak anggap plagiat kok. ya memang aku diam soalnya aku gak merasa ada apa-apa.”

berikut ini sedikit bukti2nya antara Cerpen Dadang di Lampung Post & buku Akutagawa yg diterbitkan KPG

oya, ternyata cuplikan utuh Rashomon versi Akutagawa bisa dilihat di google books:

http://books.google.co.id/books?id=IL2M2djhQmoC&printsec=frontcover

=====

Cerpen Dadang:

Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.

Halaman 2 Akutagawa:

Kota Kyoto sesepi itu karena beberapa tahun silam didera bencana beruntun, mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Karena itu Kyoto jadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Karena kondisi Kyoto seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, juga para pelonceng, memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Akhirnya, lazim membawa dan membuang mayat tak dikenal ke gerbang itu. Karena bila senja telah tiba suasana menjadi menyeramkan. Tidak ada orang yang berani mendekat.

========

Cerpen Dadang:

Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.

Halaman 7 Akutagawa:

Perempuan tua itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat yang sejak tadi dipandanginya. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai, persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.

=======

Cerpen Dadang:

Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.

Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri.

Halaman 8:

Sambil menggenggam gagang pedang ia menghampiri nenek tua itu dengan langkah lebar.

Sekilas ia melihat ke arah Genin. Dan saking kagetnya seketika itu pula iaterlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin seraya mencengkeram tangan si nenek yang bermaksud melarikan diri,

======

Cerpen Dadang:

“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya.

Halaman 8:

“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepaskan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata si nenek. Tapi, nenek tua itu tetap bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya,

======

Cerpen Dadang:

“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

Halaman 9:

“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apapun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

========

Terakhir, yg sudah sempat di-paste Bung Bamby:

Cerpen Dadang:

Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempua…n yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”

Halaman 9 – 10:

“Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati mungkin bagimu merupakan kejahatan besar. Tapi, mayat-mayat yang ada di sini semuanya pantas diperlakukan seperti it…u. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasanya menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannnya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawal katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tidak dapat disalahkan, karena kalau tidak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat memahami pula apa yang kulakukan sekarang ini.”

====

karena terburu-buru, cukup sekian yg bisa ditampilkan :)
SukaTidak Suka · Komentari · Bagikan

*
*
Nihayatun Ni’mah, Ahmad Muhakkam El Zein, Esha Tegar Putra dan 15 lainnya menyukai ini.
*
o
Langit Biru sip bung,bakat juga jd detektif sastra, mungkin dadang bermasalah dg kejujuran
Senin pukul 21:49 · SukaTidak Suka
o
Bamby Cahyadi
Pendapatku begini, mungkin banyak di antara kita yang ingin cepat mendapat nama (popularitas) dalam dunia sastra (cerpen). Sehingga berbagai upaya dilakukan, misalnya seperti yang saudara Dadang lakukan. Memang ada keterangan dalam cerpen D…adang di Lampung Post. Tetapi, Dadang mengutip semua isi cerpen dengan membolak-balik paragrafnya.

Pada cerpen Dadang, diceritakan perempuan tua itu yang ingin menjarah mayat. Sementara dalam cerpen aslinya, Genin tersebut yang berpikiran seperti itu (menjarah mayat).

Jadi dadang hanya mengubah sudut pandang, tanpa mengembangkan cerita Rashomon tersebut. Sehingga, wajarlah kalau karya tersebut, adalah karya PLAGIAT.

Kadang popularitas itu mebuat kita BODOH. Dan, kadang juga teman-teman kita sendiri menjerumuskan ke dalam kebodohan tersebut. (Maaf, saya tidak bisa menyebut nama lembaga tersebut di sini). Semoga tulisan Raga, menjadi WARNING bagi para pencari popularitas instan.

“Katakan TIDAK! Untuk karya PLAGIAT!”Lihat Selengkapnya
Senin pukul 21:59 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Esha Tegar Putra waw
Senin pukul 22:00 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga yg aku sesalkan, dadang nggak mau mengakui, itu aja.
Senin pukul 22:02 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Esha Tegar Putra laporin ke KPK!
Senin pukul 22:04 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Bamby Cahyadi Jadi, berita bahwa dia menjadi murung, tidak makan dan menyendiri dan menarik diri dari berbagai acara sastra, hanyalah sandiwara belaka? Sungguh aku sesalkan. Semoga secara terbuka ia mengakuinya, selesai. Karena tidak ada pengadilan kasus karya plagiat.
Senin pukul 22:04 · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Kejujuran bukanlah sesuatu yang sulit, selama kita memiliki kebesaran hati. Hanya saja, semangat aku bisa menenggelamkan hasrat berjujur itu. Andai saja Mas Dadang mau berbesar hati, tentulah akan lebih melegakan. Ihwal mendatangi satu demi satu penyuka sastra di Indonesia–atau di Jepang, negeri asal kisah ini–taklah perlu dilakukan. Cukup lewat Lampung Post.
Senin pukul 22:04 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
T Agus Khaidir Hal lain yang tak kalah mengherankan adalah, kenapa cerpen ini bisa lolos seleksi redaksi Lampung Post yang biasanya ketat?
Senin pukul 22:12 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara
Perihal redaktur yang tenang-tenang saja dn tak mencap ini hasil plagiat, mestinya Mas Dadang menyadari bahwa redaktur memiliki keterbatasan untuk memeriksa kesahihan sebuah karya.

Sekadar berbagi kabar, ketika cerpen saya disabot pengarang …lain di media yang sama, sayalah yang menghubungi redakturnya. Alhasil, sang penyabot diundang redaktur untuk menjelaskan asal-muasal cerita anggitannya. Jadi, apakah perlu Akutagawa sendiri yang menghubungi redaktur sastra Lampung Post? Mustahil, kan?Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:21 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Muhammad Anhar Husyam
Terkadang memang bisa terbawa, ya gaya,kata atau penggalan penulis yang di-idolakan. tapi nggak separah ini!!
semoga cukup sampai di sini.

(skdar mengingatkan. Cerpen bg khrisna pernah diplagiat juga:
repost: http://blogkoma.blogspot.com/201…0/03/amang-oi.html)Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:23 · SukaTidak Suka
o
Komunitas Ketik astaga…
Senin pukul 22:24 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga mungkin dadang menganggap kita-kita sebagai pembaca ini gak punya hak sama sekali untuk menggugat… mngkin bagi dia, mekanisme kehidupan cerpen koran cuma berawal dari ngirim email, trus bersaing dg karya lain, trus berakhir di persetujuan redaktur utk memuatnya.
Senin pukul 22:32 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara
?@Raga: Kalau cuma sebatas itu, dalam seminggu saya bisa mengirim 5-10 cerpen ke media berbeda. Hahaha. Persoalannya adalah kejujuran dan keberanian mengakui “kesalahan”. Jika di batas itu saja kita belum lolos, bagaimana kita berharap memb…erikan sesuatu yang berharga bagi pembaca? Kasihan sekali jika kita martabat kepengarangan demi sebatas ketenaran.

Saya sangat berharap ada seseorang atau lembaga tertentu yang mau mengetuk hati Mas Dadang agar berkenan berbesar hati untuk tak melukai penyuka sastra.Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:46 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Dan, tentu saja, kepada Redaktur Sastra Lampung Post agar memberikan peringatan keras agar Mas Dadang tidak melakukan hal sama di cerpen-cerpen sesudahnya.
Senin pukul 22:50 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Langit Biru jika masalahnya kejujuran dalam berkarya,ini fundamental,jadi tertarik menelisik karya dadang sebelumnya
Senin pukul 22:56 · SukaTidak Suka
o
T Agus Khaidir
Sekali lagi komentarku harus bernada heran. Kali ini untuk oknum bernama Dadang. Taruhlah dia memang berniat untuk plagiat, tapi kenapalah yang diplagiati itu justru Rashomon, karya Akutagawa yang sudah sangat masyhur? Kenapa tidak karya la…in saja yang “tidak terlalu terkenal”?

Tapi dia memang memplagiat Rashomon dan aku curiga jangan-jangan ini orang menganggap tak ada yang tahu bahwa cerpen itu ia plagiat – lantaran ditulis orang Jepang sekian puluh tahun lalu. Atau jangan-jangan dia pakai semacam ilmu hitam sehingga Rashomon tulisannya yang hampir tak berbeda dengan Rashomon asli itu bisa lolos dari seleksi awal redaksi, menyingkirkan barangkali puluhan cerpen lain dan dimuat di media sekelas Lampung Post.

Aku tiba-tiba membayangkan, dalam minggu-minggu ke depan akan muncul cerpen karya Sungging Raga, Bamby Cahyadi, Khrisna Pabichara, atau bahkan Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya dan Budi Darma dengan nama Dadang Ari Murtono dan dimuat di Kompas, Koran Tempo, dan Suara Merdeka, karena Myrna, Nirwan Dewanto dan Triyanto Triwikromo merasa terpesona sebab sudah kena guna-guna. hahahahaha…Lihat Selengkapnya
Senin pukul 23:03 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara ?@Agus K: Yang pasti, Bang, cerpen Mas Dadang di Kompas memiliki kemiripan dengan cerpen Ratih Kumala. Saya sedang membaca ulang cerpen Mas Dadang yang dimuat di Republika. Jangan-jangan…
Senin pukul 23:13 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara ?@Anhar H: Jadi teringat kasus lama, Bang. Saya sampai mencari nomor kontak “sang penyabot” agar bisa klarifikasi langsung. Bukannya meminta maaf, yang bersangkutan malah meminta saya untuk melindungi sesama penulis. Hahaha. Miris!
Senin pukul 23:19 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Simalakama Rindu saya hanya ingin agar Dadang segera mermberikan keterangan. semoga cepat selesai.
Kemarin jam 4:43 · SukaTidak Suka
o
Imam Wahyudi
Saya hanya mau sedikit urun komentar. Diakui atau tidak, gaya dan penulisan para cerpenis, khususnya yang baru berkembang, kebanyakan memang terpengaruh oleh penulis yang kebetulan sedang menjadi anutannya. Tak jarang, cerita yang mereka tu…lis
hampir mirip dengan pengembangan disana-sini. Saya rasa itu tak masalah, asal tidak sama persis benar dengan cerpen acuannya. Meminjam istilah Agus Noor, diberi cita rasa baru yang berbeda. Soal cerpen Mas Dadang itu, saya berbaik sangka saja, mungkin ada yang ingin ditujunya, entah apa, dengan membuat cerpen semacam itu. Tetapi diatas semua itu, memang seyogianyalah mas Dadang memberikan sekedar penjelasan tentang tulisannya itu….Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 5:47 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Endah Sulwesi hari gini kok masih nyontek sih? Anak nakal! *pukul pantat Dadang* :D
Kemarin jam 8:21 · SukaTidak Suka
o
Han Gagas Sungging, di awal kau blg melanjutkan berarti ada yg sebelum ini. Wah aku terlewatkan neh. Mas bamby nt di inbox ke saya ya lembaga itu. Oya ada ketrangan di lampung pos itu apaya? Dadang oh dadang, aneh2 sj org ini. Kok redaktur lampung gak kau tandai ngging?
Kemarin jam 8:28 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Lan Fang coba tlg di tag ke wall ku ya…,
Kemarin jam 10:16 · SukaTidak Suka
o
Lan Fang
semua penulis kebanyakan “pasti” terinspirasi dengan tulisan2 yg pernah dibaca sebelumnya. “pasti” juga “mencuri” untuk eksplorasi. sebab untuk menjadi penulis itu harus memiliki “kecerdasan di atas rata2″ harus bisa menjadi “pencuri” yg ce…rdas.

jadi plagiator adalah penulis yg dengan sadar menunjukkan kedunguannya sendiri.

akh, gol bunuh diri!Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 11:44 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Sungging Raga
tp kan inspirasi lain dg plagiasi,, kadang memang sering ditemukan bbrapa frase yg sudah dipakai seorg penulis tp juga ada di karya penulis lain, atau juga karya2nya bernafas sama..

kalo dadang ini udah trbukti masuk kategori plagiasi nih. b…ahkan karya2nya yg lain pun mulai dicurigai, terutama yg di Kompas (Lelaki Sepi) yg mirip cerpennya Ratih Kumala. cuma kalo kata mas khrisna, di kompas itu Dadang bermain lebih cantik (& cerdas), hehe. di sini kacaubalau.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 11:50 · SukaTidak Suka · 1 orangKhrisna Pabichara menyukai ini.
o
Lan Fang saya tidak khusus menujukan pada dadang seorang. tapi harapan saya, semua yg berkaitan dengan tulis menulis bisa mengambil hikmah & bisa belajar dari urusan ini.
Kemarin jam 11:55 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Aida Radar Wew!
ck…ck…ck…
Kemarin jam 13:12 · SukaTidak Suka
o
Benny Arnas plagiat! apa kata dunia? *kok dadang tak kau tag, Ga?
Kemarin jam 14:03 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga aku gak jdi friend-nya dadang sih.. yg pasti sblum mnulis ini, aku udah brusaha mendapatkan pnjelasannya scara langsung. hehe. tp di acara sastra trakhir yg mncantumkan namanya sbg pmbicara, trnyata dia pun gak dtg.
Kemarin jam 14:08 · SukaTidak Suka
o
Benny Arnas HALOOOO, SEMUAAA!! KITA NGE-ADD DADANMG YUKKKKK! :-)
Kemarin jam 14:17 · SukaTidak Suka
o
Imam Wahyudi Nah, mungkin yang akan saya pertanyakan disini sebagai orang yang baru belajar sastra, kadang seorang ‘pencuri cerdas’ pun, sengaja atau tidak sengaja, akan menemui masa-masa sial terjatuh menjadi pencuri yang ‘tidak cerdas’. Bagaimana itu ? Ambil contohlah cerpen terakhir SGA di Kompas itu, yang sangat mirip karya Pablo Coelho, meski di akhir cerpen disebutkan bahwa cerpen tersebut mengambil inspirasi dari beberapa cerita yang berkembang di masyarakat. Plagiasi atau sekedar terinspirasi oleh karya lain itu ?
Kemarin jam 14:24 · SukaTidak Suka
o
Aida Radar Idem dengan K’Imam, plagiasi atau terinspirasi?
Kemarin jam 14:26 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga apakah paragraf2 di seno ada yg sama dg coelho? apakah seno melakukan copy paste sprti yg kubuktikan di atas itu?

bedakan antara eksplorasi / inspirasi dg plagiasi.
Kemarin jam 14:30 · SukaTidak Suka
o
Aida Radar Oh begitu ya… ^_^
Kemarin jam 14:31 · SukaTidak Suka
o
Lan Fang kecerdasan bukan untuk membuat semua hal tanpa kesalahan, namun untuk mempercepat amatan bagaimana membuatnya (suatu karya) menjadi (lebih) bagus.
(bertolt brecht, pujangga & dramawan Jerman, 1898-1956)
Kemarin jam 14:32 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Imam Wahyudi Intinya, mungkin begini. Bolehlah kita mengutip bagian dari karya orang lain, asal (mungkin) diberi catatan kaki, bahwa kalimat ini diambil dari karya ini atau itu, umpamanya. Dan dilihat secara utuh (keseluruhan) karya itu tidak sama persis dengan yang menjadi inspirasinya. Begitu pa ya…hehe
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Langit Biru
hal-hal teknis dan teoretis mengenai eksplorasi, inspirasi, dan plagiasi selalu bisa diperdebatkan, termasuk dalam hal ini cerpen SGA.
semua berpulang pada niatan pengarang (kejujuran).
sesorang bisa saja tidak jujur (bohong) pada orang la…in tapi dia tdk akan bisa berbohong (tidak jujur) pada dirinya sendiri.
ada kepuasan batin yang tdk bisa dibeli dg materi dan popularitas ketika menghasilkan karya sastra. dan ini saya rasa tidak akan didapatkan oleh seorang plagiat.Lihat Selengkapnya
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
o
Han Gagas Kalo kasus dadang neh plagiat wong hampir tiap katanya sama plek gt. Kalo SGA kan tdk, terinspirasi. Itu kan bedane jelas. Aneh2 aja neh teman2. Kayak haram dan halal dlm islam. Ha3. Bangkai,darah, siapa muslim yg lurus mengatakannya sbg halal? Bukan abu2 kawan. Kalo tiap kata hmpir sama apalagi ide&latar jg sejurus itu sdh jls masuk mana. Ha3. Ada org yg menghamba pd fana, semu. Ada org yg benci pd itu. Huahaha3. Glegekk.
22 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Han Gagas Kok aku dakwah, ha3. Huaha3x. Gelekgek. Trnyt ak dah agak lama hub fb ma dadang jauh sblm urusan buruk ini tp ga prnah kontak2. Kalo kau bc, dang, wah gol bunuh diri, betul kak lf. Kdg kt mmg brdosa, mns, lupa, mari brusaha trs spy jd mns yg baik. Khilaf, alpa, mari kt perbaiki. Ngomong apa aku ini. He3. Menertawai keseriusan ki namane.
22 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Han Gagas kt tmnku yg dl cerpenis hebat, sga yg di kompas kmrn sdkt abu2. Ha3
21 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara
Sepakat dengan Mbak Lan, kejujuran adalah sesuatu yang niscaya dimiliki oleh siapa saja yang berkaul jadi pengarang. Boleh jadi karya kita dianggap hebat oleh khalayak pembaca, tetapi karena proses penciptaannya tidak jujur–semisal meminda…hkan karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri–tidak akan menemukan kepuasan batin yang sama ketika kita menghasilkan satu karya dengan jujur. Istilah Bang Han, lebih menghasilkan karya yang biasa tetapi murni karya sendiri.

Kembali ke kasus Mas Dadang, dari klarifikasi yang disampaikannya lewat sms, menunjukkan ketidakseriusan Mas Dadang dalam membabarkan “ada apa dengan karyanya” dan “mengapa pembaca terus bertanya”. Secara implisit, ini menunjukkan arogansi Mas Dadang, yang sekaligus juga menunjukkan ketidakbesaran hatinya. Tentu saja, ini dengan asumsi bahwa Mas Dadang berkeras tidak ada masalah karena cerpen “palsu”-nya ini.

Karena itu, tepatlah kiranya jika ada pihak yang berkenan menyampaikan atau mengunjukkan perbincangan ini ke hadapan Mas Dadang. Dan, bagi kita semua, tentulah banyak hikmah yang bisa kita petik dari kasus ini. Salam takzim buat semuanya.Lihat Selengkapnya
16 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira mentalitas pengen dapat hasil tanpa kerja keras kayak gini nih yang mesti diberangus. masa buat cerpen sekedar kopas aja. hah…macam macam saja si dadang ini..
7 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Kartolo Kempol Geyong-Geyong setelah saya baca di kereta, kata, bahkan kalimat karya Bung Dadang itu sama persis. Dalam satu paragraf hanya beberapa kata dan kalimat yang diubah. Sebagai penulis, setidaknya Bung Dadang lebih beretika, dengan menanggapi reaksi teman-teman. Kalau memang MALAS atau KESULITAN mengeksplorasi, jujur lah sama teman-teman. Toh itu bagian dari proses kreatif, kecuali kalau terburu-buru tenar. Tidak usah begitu saja sudah tenar kok. Salam
6 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Munajat Sunyi kasihan teman-teman yang sudah berusaha mengirim cerpen ke lampung post dengan karya original, tapi yang dimuat malah karya plagiasi. ckckckckckckck…
4 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas
betul mas khrisna tuh, mending nulis banyak cerpen jelek2 drpd palsu, huahahahah, itu karyaku, asli lho. mentang2 namaku disebut jd mbetulin dia hahaha, sopan santun, hehehe.
betul juga mas munajat sunyi neh, gara2 dadang neh cerpenku gak di…muat lampung post utk ke2 kali, jan-jan, nasib-nasib.Lihat Selengkapnya
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga ?12 desember cerpen dadang ari murtono di Suara Pembaruan, cerpen yg sama dg di Nova edisi mingu sblumnya.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Kartolo Kempol Geyong-Geyong mojleng…
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas waduh alamak, kalau begitu saya dulu kalau mau ya bisa, wong cerpenku di lampung post itu juga dimaui nova, tapi aku tarik dari nova karena lampung post mau muat, alamak, dasar neh orang.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Han Gagas hahahaha, aku girang neh, rama dira kasih jempol, barti nasib baik neh
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira ?@ Han : sepakat. aku juga melakukan hal yang sama. toh kalaupun ndalalah termuat di dua media, itu bukan kesalahanku. tidak ada pemberitahuan dari redaksi yg menjadi penyebabnya sehingga tidak sempat ditarik.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas betul rama dira, aduh alamak kok kita cocok betul ya, aduh sayang kau jauh, andai dekat aku sudah tempelin kau. kayak ma sungging neh, cocok mak plek.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga rama lain tuh, dia ngirim ke dua media nggak di waktu yg sama, menggilir dulu,, trus kbtulan salah satu media lama bgt memuatnya… kalo yg DAM ini tematik. kjadian bulan lalu.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas cocok tuh maksudku pikiran2ne, wah sungging ki baca2 yg atas doooooooong
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira
ya. kalau sampai kejadian dimuat bareng di dua media (padahal kita tau) itu sama saja merampas rejeki teman penulis yg lain. cerpenku pernah hampir dimuat di nova & femina dalam waktu yg berdekatan. untung redaktur femina telpon. akhirnya a…ku tarik. ada sih cerpenku yg sebelumnya dimuat media lokal kemudian kukirimkan ke media nasional dan kemudian dimuat. itu terjadi karena honorku nda dibayar2 dan waktu nagih seolah2 aku melakukan kesalahan dan dipimpong sana sini. akhirnya aku nekat menariknya dan menyatakannya tak pernah dimuat di situ.Lihat Selengkapnya
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas ooo, gitu rama dira, okelah, aku belum pernah seh dimuat bareng, kalau pernah mungkin nanti salahku, karena kadang lewat tiga minggu aku dah pindah tuh cerpen, kenapa ya para media itu gak kasih batas waktu yg jelas gitu, sebagian memang sudah tapi gak semua.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas mas rama dira, media lokal apa tuh yg suka ping pong?inisial ajah
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira he..he.. ada ajah..tapi kayaknya setelah kejadian aku buat statement penarikan di fb itu, medianya sekarang nda kayak gitu lagi kok. honor sudah dibayar dengan baik menurut info yg kudapat dari teman sesama penulis.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas alhamdulillah dah insyaf tuh media, hahaha
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga surabaya post.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira ha..ha..ha.. akhirnya Raga membocorkannya. Ya udah deh
sekitar sejam yang lalu · Suka

Sumber: http://ceritaujungpulau.blogspot.com/search/label/Dadang%20Ari%20Murtono

Tentang Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon Dadang Ari Murtono

Indrian Koto
oleh Koto Saja pada 31 Januari 2011 jam 1:40
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150089188639318

Saya melampirkan dua tulisan dengan tidak menyertakan komentar2 di bawahnya tentang kasus cerpen Dadang Ari Murtopo yang dumuat di Kompas minggu 30 Januari 2011 dan sebelumnya di muat di Lampung Post 5 Desember 2010. Sebelumnya Bamby Cahyadi menulis di status FB-nya ketika pertama kali cerpen itu dimuat di lampung post tentang beberapa cuplikan bagian yang dianggap plagiasi tersebut (http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=173967789294627&id=1093612902). Hal itu sempat pula membuat Dadang Ari Murtono membuat semacam tanggapan atas ramainya tuduhan atas cerpennya yang diplagiasi tersebut.

Hari ini cerpen tersebut kembai menjadi perbincangan. www.indonesiabuku yang pertama kali saya baca memuat lampiran surat terbuka Bamby Cahyadi kepada Redaktur Kompas dan tanggapan Dadang ketika cerpen tersebut belum dimuat di kompas. di FB Dadang sendiri juga ada beberapa komentar yang menyayangkan kejadian tersebut. Dalam surat terbuka Bamby juga ramai(http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150134531719359&comments) serta status ‘rutin’ Bamby setiap minggu juga terjadi beberapa perbincangans eru seputar itu (http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=195850313759636&id=1093612902).

Sebelumnya di catatan M Anshor Sja’roni juga( http://www.facebook.com/note.php?note_id=478580568475) yang mengambil dari Catatan Dadang Ari Murtopo Sendiri (http://www.facebook.com/note.php?note_id=476252430274).

Saya tidak siapa lagi yang pernah membicarakan hal ini di FB dan jejaring lainnya. Sungging Raga juga memberikan beberapa catatan tentang bagian-bagian yang dicuplik oleh DAM.

Dibawah ini saya lampiran hak jawab Dadang tersebut dengan memberikan beerapa penekanan (sekaligus menjadi fokus kebingungan saya atas peristiwa semacam ini) yang saya ambil dalam catatan di FB-nya.

Perempuan Tua Membaca Rashomon

Sungguh, saya tak ingin membuat tulisan ini sebenarnya meski saya tahu kalau polemik berkaitan dengan hal ini, berkaitan dengan cerpen saya Perempuan Tua dalam Rashomon yang terbit pertama kali di harian Lampung Post hari minggu tanggal 5 Desember 2010 kemarin terus berkembang lewat situs jejaring sosil facebook (dan barangkali juga melalui beberapa media massa cetak). Saya ingin membiarkannya saja sebenarnya. Selain karena saya jarang menggunakan situs jejaring sosial itu, alasan lain yang lebih penting adalah karena saya sesungguhnya telah pula menjelaskan permasalahan ini dalam cerpen itu sendiri dan dalam catatan kecil yang menyertainya. Namun desakan beberapa kawan yang mengikuti polemik ini dari mulai mencuat hingga hari ketika tulisan ini saya buat, membuat saya tak kuasa terus mengelak.

Saya tidak hendak menjawab dan menjelaskan satu per satu tuduhan plagiatisme yang dialamatkan beberapa kawan atas cerpen saya itu. Sebab sesungguhnya saya telah menjawabnya. Dalam catatan kecil yang menyertai cerpen itu, telah saya jelaskan bahwa cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon bersumber dari cerpen Akutagawa Ryunosuke yang berjudul Rashomon. Penjelasan tentang istilah Rashomon itu sendiri pun telah saya terangkan yang merujuk persis pada terjemahan kumpulan cerpen Akutagawa Ryunosuke berjudul Rashomon hasil kerja Bambang Wibawarta yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, cetakan pertama tahun 2008. Jadi, tanpa ada satu pun yang mengata-kaitkan cerpen saya itu dengan cerpen Rashomon Akutagawa pembaca sudah akan mengetahuinya melalui keterangan yang saya cantumkan.

Inti dari cerpen saya sendiri adalah upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan terlalu berlebihan – cerpen Akutagawa ke konteks pemaknaan dunia sekarang ini yang saya yakini kebenarannya. Seperti inilah idenya: merubah sudut pandang yang dipakai Akutagawa tentang kehidupan itu sendiri, tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya.

Mari kita pelajari cerpen Akutagawa itu.

Akutagawa menghadirkan tokoh utama yang sakit, tokoh yang kecewa dengan kondisi sosial yang berubah teramat cepat di sekitarnya. Kondisi yang membuatnya menjadi gelandangan, lontanglantung, terdampar di Rashomon, gerbang dengan menara yang menjadi tempat pembuangan mayat. Akutagawa menyelesaikan perkara-perkara itu dengan tindakan merenggut pakaian perempuan tua yang membuat cemara dari rambut mayat-mayat yang berserakan di sana. Tindakan itu diakhiri dengan perginya Genin itu, pergi dengan membawa pakaian yang ia renggut.

Apa yang bisa kita ambil dari akhir cerita seperti itu? Adalah sebuah harapan, adalah sebuah kemenangan. Genin itu pergi dengan membawa harapan bahwa ia akan dapat bertahan hidup – entah berapa lama – dengan kondisi sosial yang demikian kacau. Genin itu pergi dengan membawa kemenangan atas perempuan tua yang bahkan kondisi fisiknya digambarkan demikian jelek itu.

Dalam kondisi mutakhir seperti sekarang ini, hal itu seakan menemukan pembenarannya. Dalam kondisi yang susah dan semrawut seperti sekarang ini, Genin itu adalah perwujudan mereka yang berkuasa – dilambangkan dengan samurai yang ia bawa – berkuasa dan menindas – paling tidak berkuasa atas perempuan tua itu yang saya tafsirkan berada dalam dasar rantai kekuasaan, dasar rantai makanan kekuasaan – orang-orang yang dikuasainya. Namun Akutagawa juga memberi harapan perempuan tua itu dengan menuliskan, “tubuh telanjang nenek tuan yang roboh seperti orang mati itu baru bisa bangkit dari onggokan mayat-mayat beberapa saat kemudian. Sambil menggerutu dasn mengerang ia merangkak mencapai mulut tangga dibantu cahaya obor yang masih menyala. Dari tempat itu ia melongok ke bawah gerbang dengan ubannya yang pendek menjuntai”.

Mari kita perhatikan kata-kata “bangkit” dan “cahaya obor”. Tidakkah itu simbol harapan bagi perempuan tua yang dikalahkan itu? Dan pada titik inilah saya bersebarangan dengan Akutagawa. Titik inilah yang terus mendesak saya untuk menulis Perempuan Tua dalam Rashomon. Bagi saya (sekali lagi bagi saya) tidak ada lagi harapan bagi perempuan tua itu. Jika ia terus dipaksa berharap, maka ia akan terus menerus merasa sakit. Dan ini pulalah yang terjadi pada kebanyakan orang dewasa ini. Kebanyakan orang yang tak henti-henti dikalahkan pengambil kebijakan, dikalahkan penguasa namun terus dipaksa berharap. Maka yang terjadi adalah lamunan-lamunan kosong tentang mesiah, tentang satria piningit. Ya… inilah intinya.

Pada titik ini pula saya menyelamatkan perempuan tua itu. Memberinya hak bicara. Karena itu saya menulis, “beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia menggumam, ‘alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar.’ Pada waktu itu ia ingin menjadi mayat, terlentang di tempat itu, tak lagi berpikir apa-apa, tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.”

Yang bisa kita baca dari Rashomon dan Perempuan Tua dalam Rashomon adalah bila Rashomon lebih memberi suara pada Genin, lebih berpihak pada mereka yang menang dan berkuasa, maka Perempuan Tua dalam Rashomon lebih membunyikan mereka yang kalah, lebih berpihak pada mereka yang dikalahkan.

Dan kenapa ada beberapa kalimat yang sama persis dalam Perempuan Tua dalam Rashomon dengan kalimat-kalimat dalam Rashomon adalah karena saya ingin menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon, agar dunia yang dibangun dalam Perempuan Tua dalam Rashomon tidak merusak apa-apa yang telah terbangun dalam Rashomon. Sebab ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Sebab ini perkara perlawanan dan keberpihakan.

Seperti itulah saya menulis Perempuan Tua dalam Rashomon. Seperti itulah hal-hal yang saya yakini kebenarannya dan saya berpihaki. Dan bila di kemudian hari adas yang menganggap cerpen itu gagal, mengecewakan, sekadar menyalin atau apa pun, akan saya terima dengan legawa seperti juga akan saya sambut dengan senang hati bila ada yang dapat menyelam ke kedalaman ceritanya itu, menangkap apa-apa yang saya tebar di sana.

Terimakasih.

Dadang Ari Murtono, penulis cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon. Lahir dan tinggal di Mojokerto. Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Demikian DAM menberikan penjelesan. Huruf tebal dan miring dari saya. Setidaknya ada dua hal besar yang menjadi perhatians aya di sini: Pertama mengenai catatan kecil yang menyertai cerpen itu. Saya tidak tahu apakah di Lampung Post catatan yang dimaksud itu ada atau tidak, saya sudah mencari arsibnya, karena waktu saya agak terburu2 di warnet saya belum menemukan cerpen tersebut lai di Lampost (mungkin ada yang bisa membantu). Di Kompas hari ini, sepertinya tidak terdapat catatan yang dimaksud DAM.

Catatan yang bagaimanakah itu?

Jika memang DAM menulis semacam catatan atas cerpen tersebut dan kita tidak menemukannya di koran yang dimaksud, bagaimana kita melihat soal ini? kemanakah catatan itu hilang?

Lalu soal pemuatan ganda. Dalam beberapa kasus (dan mungkin nyaris keseluruhan kasus) pemuatan ganda disebabkan lamanya naskah tertahan di media tanpa ada kabar yang pasti. penulis dalam hal ini misalnya, seelah menunggu beberapa waktu tanpa kepastian tentu ingin mengirimkan karya tersebut ke media yang lain. Siapa pun bisa mengalami kasus semacam ini. Saya juga pernah. Mungkin tidak semua orang pula, karena bisa jadi seseorang mengirimkan karya hanya ke satu koran saja dan setelah itu membiarkannya. entah.

Seringkali dalam hal ini pengarang yang menerima beban pemuatan doble tersebut. Namun demikian, redaktur juga setiap hari disesaki sekian puluh, mungkin ratusan, naskah cerpen sehingga sangat kesulitan untuk melakukan pengecekan sebelum pemuatan. Namun demikian apa koran dan redakturnya tidak pula bisa dipersalahkan dan ditanya? Saya tidak tahu jawabanya. Dan saya kira ini bisa menjadi diskusi yang bagus dan bisa memberikan gambaran setidaknya kepada kita yang memang tidak mengerti soal ini sama sekali.

Soal berikutnya adalah soal dalam istilah DAM adalah: upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan. yakni dengan

merubah sudut pandang , tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya. Bagi Dadang ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu.

Saya berharap akan ada pencerahan sebab saya tidak paha sama sekali bagaimana sebenarnya kerja mengalihkan, merubah sudut pandang dan tafsir. Apakah upaya menyelamatkan perempuan tua itu. Memberinya hak bicara. memang dibenarkan atau bagaimana? Jangan-jangan upaya penafsiran semacam ini dibenarkan, sebagai respon sebuah karya, di mana pengarang kedua hanya mengganti beberapa bagian detail atau inti cerita dan membelokkan sesuai keinginan. Namun jika upaya itu sesuatu yang salah bagaimana pula seharusnya pengarang yang ‘terpengaruh’ memberikan respon terhadap karya yang ‘mempengaruhi’nya?

sebagai gambaran ujung, saya mencoba mengira-ngira (sebab hanya DAM yang lebih tahu kronologinya) jangan2 DAM mengirimkan cerpen ini ke Kompas dulu sebelum ia mengirimkan ke Lampung Post. Sebab menurut saya hanya penulis nekat yang berani mengirimkan karyanya ke media Jakarta setelah pemuatannya di media luar Jakarta (yang kebetulan kedua2nya bisa diakses di internet). Karena bisa saja cerpen ini ‘nganggur’ lama di meja redaksi, sementara DAM sudah tak sabar menunggu. Salahkah penulis yang melakukan hal demikian?

Saya tidak berada dipihak yang mana karena ini benar2 berangkat dari kebingungan saya, sebab kasus semacam ini hanya satu dari beberapa kasus yang pastinya pernah dan akan terus terjadi. Beruntung sekali ada orang2 yang mau membicarakannya. Semoga saya dan (mungkin) banyak orang yang tidak paham akan tercerahkan.

ternyata rumit sekali ya. Setidaknya akan ada dua narasi ang berbeda atas peran Pengarang dan media (redaktur).

Terimakasih.
Tidak SukaSuka · Komentari · Bagikan

*
*
Anda, Dwi S. Wibowo, Yayan Triyansyah, Drew Aninditya, dan 12 orang lainnya menyukai ini.
*
o
Thendra Malako Sutan
Mengenai pemuatan ganda di beberapa media, itu tergantung mediannya. Aku pernah nulis satu esei, lalu dimuat di beberapa media cetak (koran) dan cyber. Yakni Minggu Pagi, Jurnal Bogor, Jambi Independent, langit-puisi.blogspot.com, sastra-in…donesia.blogspot.com mediasastra.com dan bebrp weblog personal. Untuk koran, aku bilang aja ama redakturnya, “bro men, esei aku itu dah pernah dimuat di koran lain tapi koran daerah, lho.” Ya si redaktur oke aja. Sedang yang cyber, ada yang bilang dan minta izin posting, dan yang weblog main posting aja, tapi mereka sih masih nyantumin nama aku gitu, hehe…
Cobak kalok setiap media yang memuat satu esei aku itu ngasih aku honor semua, lumayan jugak ya :) )
Oh iya, akhir tahun 2010 ini puisi Deddy Arsa yang pernah dimuat di Koran Tempo, buku kumpulan puisi TSI III, dimuat pulak di koran Jurnal Nasional. Begitupula puisi Saut Situmorang yang pernah dimuat di Jurnal Rumahlebah ruang puisi (edisi1) dimuat pulak di koran Jurnal Nasional. Kok bisa ya? Ya bisa aja lagee :) )Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 2:17 · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan Masalah plagiat, apakah DAM membaca istilah yang dipakai Harold Bloom kecemasan (atas) pengaruh” atau ” the anxienty of influnce”, yakni merupakan sebuah untuk teori yang diciptakannya yang merevisi secara radikal teori lama di atas yang menganggap pengaruh hanya sebagai sebuah “peminjaman” langsung, atau asimilasi, dari material dan unsur-unsur penting sastrawan sebelumnya. Tapi dalam hal ini Harold lebih banyak berbicara di ranah puisi, hehe…
Kemarin jam 2:25 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja
sip mas men. Berarti dalam beberapa kasus plagiasi juga tidak masalah ya. Ih dimuat banyak dan dapat honor semua? traktir doong…

nah soal Harold Bloom bagaimana mislanya masmen? jadi tetap tidak diperkenankan mengutip dua pertiga atau lebi…h ya?Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 2:34 · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan Kadang, aku berpikir nakal, bagaimana kalok aku mengganti satu kalimat di awal atau di tengah atau di akhir pada sebuah cerpen, tapi yang lainnya aku biarkan tetap utuh. Dan satu kalimat itu–yang milik aku–bisa mengubah cerpen tersebut atau malah menghancurkannya. Misalnya itu cerpen Indrian Koto. Dan itu aku lakukan dengan sadar, dan menjadikannya sebagai cerpen karyaku, hehe…
Kemarin jam 2:37 · SukaTidak Suka
o
Koto Saja hehhe.. atau DAM sedang berusaha melakukan itu? memberikan hak bicara pada sang perempuan yang oleh Akutagawa tidak diberi ‘hak bicara’? hehehe….
Kemarin jam 2:39 · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan Tenang mas men Koto, nanti aku ubah satu kalimat dalam sebuah cerpen mas men Koto yang telah pernah dimuat di koran, lalu aku jadikan itu milikku dan kukirim ke media yang menyediakan honor. Nah, kalau dimuat, dari honor cerpenku itu, kita makan-makan di angkringan Iboekoe, hehe…
Kemarin jam 2:40 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja hehehe.. boleh2 boleh, istilahnya muhidin dan ismanto ‘ngetes redaktur’ hehehe
Kemarin jam 2:44 · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Telaah yang apik, Bang Koto. Saya juga menangkap keganjilan dari pembelaan diri Dadang–seperti yang diterakan pada catatannya di atas–karena sama sekali tidak menyentuh substansi dan esensi kecurigaan. Hanya sebentuk kilah, itu pun setelah didesak oleh teman-temannya. Sekali lagi, setelah didesak oleh teman-temannya. Dan itu bagi saya sudah selesai.
Kemarin jam 3:24 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan
Oh iya, masalah plagiasi, aku pernah ngalami lho (kayaknya aku ini dah pengalaman banget yak, wekekke, duhai daku ini, hehe), malah dua kali dan yang melakukannya cewek, dua lagi. Dan puisi itu dimuat di buku, satu buku kumpulan puisi Dian …Sastro for Presiden #1 dan satu lagi buku puisi “Dongeng-dongeng Masa Tua” Iyut Fitra. Yang bikin aku jengkel, dua orang cewek tersebut (kata orang sih cantik gitu, hehe) hanya mengubah beberapa kata dalam puisiku itu, tapi tidak mengubah puisi secara makna, pun alurnya (ceile sublim banget, cyin). Cobak kalau mereka bisa mengubah puisi aku itu jadi milik mereka, aku bakal TABIK pada mereka & muaahhhh…
Nah, gimana dengan DAM. Silahkan mas men Koto baca, apakah DAM sudah melakukan perubahan terhadap cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke, sehingga cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon bisa disebut sebagai karya DAM? (Tukul2, DAM jugak telah membaca cerpen Rashomon itu dalam bahasa aslinya, wah ini keren bange, cuy). Monggo mas men koto baca, penaknya sambil minum wedang ronde, terasa istimewa lho,hehe….Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 4:22 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan Oh iya lagi ding, begitulah komen saya atas catatan mas men Koto ini. Saya yang BIJAKSANA BIJAKSINI, mohon pamit, mau jalan2 dulu. Silahkan dilanjutken. Kalau ada salah & kurang, mohon maaf sebesar-besarnya. Terimakasih. Wabillahitaufik Walhidayah Wassalamu’alaikum Wr.Wb…
Kemarin jam 4:23 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Bamby Cahyadi Terima kasih tambahan catatan bung koto ini. Semoga bermanfaat. Amin.
Kemarin jam 6:23 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Langgeng Prima Anggradinata DAM perlu belajar tentang pengaluran, hubungan kausalitas (tanggapan untuk cerpen DAM di Pikiran Rakyat 23 Januari 2011).
Kemarin jam 6:50 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Fahri Asiza Pembelaan DAM bikin aku ngakak, seperti sedang mencoba mengelabui anak kecil dengan permen. Dan apa pun itu, dia tetap sang plagiator…

Makasih tambahan infonya, Mas Koto
Kemarin jam 8:10 · SukaTidak Suka
o
Ganda Pekasih
DAM tahu itu dia memplagiat total, pengaruh lain yg ingin dia sampaikan mengada ada, naif. Lalu untuk apa pengarang mempertaruhkan jiwanya, mau di taruh kemana darah, keringat/susu dan air mata pengarang yg mencurahkan segenap pikiran,raga … bahkan harta untuk memperjuangkan kata dan keyakinannya jika hak pengarang atas karyanya bisa diveto pihak lain yg ingin meluruskan/menafsirkan ulang, dimana karya yg didapat penulis tidak mudah, dengan proses panjang dan benturan khidupan yg dilaluinya sehingga dia menghasilkan karya hebat, apalagi jika si Plagiat termasuk penulis junior pula.
Jika karya saya yg diplagiat DAM, saya tentu merasa dizalimi, sayangnya Akutagawa…Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 8:59 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Nurel Javissyarqi di jogja kurang lebih sepuluh tahun lalu ada plagiat, lantas orangnya kabur ke kota k, padahal dirinya sangat dielu-elukan menjadi gawang kepenyairan di masanya, ia sosok tekun dan pekerja keras, mungkin hanya satu yang diplagiat, namun karena kejatuhan tersebut, sulit sekali naik lagi, padahal karya-karya lainnya ampuh, –salam untuk kejujuran dalam berkarya!!!:)
Kemarin jam 9:08 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Anita Lindawaty SSi MSi
makasih dah di tag, koto :-) . sah-sah saja jika mengutip sebagian atau nyaris keseluruhan karya orang lain, tp sepanjang yg saya tau, ada etika penulisan yg jelas utk itu, yaitu menyebutkan sumber aslinya & tidak mengakuinya sbg karya sendi…ri. kecuali menjelma menjadi bentuk tulisan yg lain, misalnya mengutip puiisi atau cerpen menjadikannya sebuah essai, ok no problem. tp ini menyalin cerpen menjadi cerpen lain, yg jelas serupa. istilah yg cocok untuk kasus ini yaaa plagiarisme!
kenapa DAM tidak membuat cerpen baru saja, dengan tokoh cerita baru & konsep yg berbeda dengan akutagawa. ini pun dia wajib menuliskan sebaris pengantar: cerpen ini diilhami oleh cerpen Roshomon karya Akutagawa Ryunosuke.

catatan kaki yg katanya hilang itu, sy melihatnya hanya sebagai alibi lemah yg tidak merubah opini sy ttg plagiarisme yg dilakukan DAM. MAAF!Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 9:09 · Tidak SukaSuka · 1 orangAnda menyukai ini.
o
Endah Sulwesi masih lanjut, ya?
Kemarin jam 9:32 · SukaTidak Suka
o
Anita Lindawaty SSi MSi iya nih jeng ES, pindah lapak tapi hihi… *numpang ngerumpi di sini yak koto ;) *
Kemarin jam 9:45 · SukaTidak Suka
o
Dwi S. Wibowo makin rame aja nih…, pokoknya dukung bang koto aja lah…
Kemarin jam 10:21 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga
kalo pemuatan ganda tu mngkin bisa ditoleransi…tp yg parah ya plagiatnya, lbih parah lagi dia gak nyadar kalo dia itu plagiat… hebat kan? bikin cerpen cuma ambil karya orang, trus ganti sudut pandang tokoh, dg tetap “mempertahankan teks…” untuk “menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon”… cara sprti itu sih 1 jam bisa dapet 3 cerpen. kalo itu dibolehkan, aku pengen juga bikin novel baru dari Beauty & Sadness-ya kawabata lewat tokoh Otoko, dg mmprtahankan 90% teks asli bikinan kawabatan, haha…

dan lagi, sukur2 kalo teks yg dipertahankan itu hasil trjemahan bebasnya dadang sendiri, lah ini ngambil dr terjemahan org yg sudah dibukukan pula. berarti usahanya dia sedikit banget kan…

ditambah sekali lagi, dia pun tidak konsisten dg “teks yg sama persis / dipertahankan” itu, karena trnyata dadang juga mengganti2 pula teks terjemahan itu, semacam “nenek” diganti “perempuan tua”, dsb…Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 10:23 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo itulah parahnya ga, setidaknya DAM harus lebih bijak sejak awal dengan melampirkan penjelasannya. dan selain itu, redaktur juga harus lebih selelktif dalam memilih karya. jadi ya fokus utama tidak pada DAM semata, tapi redaktur juga cukup bermasalah dalam persoalan ini.
Kemarin jam 10:25 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Anita Lindawaty SSi MSi DWI, orang bijak taat pajak, orang bijak gak bakal melakukan PLAGIAT!
Kemarin jam 10:39 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo bener tuh… aduh, jadi inget bayar pajak bumi n bangunan…, mak minta duit…
Kemarin jam 10:40 · SukaTidak Suka
o
Munajat Sunyi disana donat disini donat, di tengah-tengahnya pasti bolong
cerpenisnya plagiat cerpennya duplikat, ternyata tukang bohong…
Kemarin jam 10:49 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo wakaka…
Kemarin jam 10:49 · SukaTidak Suka
o
Adin Mbuh asik mas he2
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani chairil anwar pernah dicap sebagai plagiat, tetapi karena karya2 lainnya begitu mencengangkan maka cap plagiat hilang dengan sendirinya. karya chairil yg lain menegaskan diri chairil yang sesungguhnya. untuk thendra, hati2 di jalan yah, nanti ditabrak becak. hehehe.
22 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Han Gagas SAYA DAH IKUT2 KEMARIN MAS, JUGA JAUH2 HARI SEBELUMNYA, SEKARANG DAH MALAS, MAU MIKIR YG LAIN MAS KOTO, MENDING MIKIRAN BETAPA BAGUSNYA PUISIMU KEMARIN DI KOMPAS, ITU MAH ASYIK, HAHAHAHA
22 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan DAM KEREN BISA NGERJAiN KOMPAS dan BIKIN FANS SASTRA KOMPAS NGAMUK, HAHAHA..SALUT BUAT KAU DADANG ARI MURTONO…
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Bode Riswandi saya ingin berkenalan dengan DAM
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan ?@kawan gani
aku baru pulang jalan2 nih, mau jalan2 lagi ntar sore, mau ikut ga? hehe…
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Adin Mbuh aku juga salut!
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani mau dong. kita ke lorong “magrib” lagi yuk, dekat kamar KKN koto waktu itu. hehehehehe.
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan ?@Adin
kamu salutnya interteks atau plagiat, nih, hahaha…

@Gani
siapkan tolak angin ya. mana tau nanti kamu menggigil gara2 angin yang berhembus sepoi2 dari paha mulus cewek2 di sekitar jalan itu, haha
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani hahahahaha. angin magrib yang membangkitkan gairah puisi….
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Adin Mbuh gimana kabar mas ghani dan mas thendraa?? hhihihi
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Muhidin M Dahlan KOK ORANG PADA RIBUTIN INI MANUSIA KECIL. PADAHAL DI ATAS SANA, DI DALAM ISTANA KEPRESIDENAN, PLAGIAT ITU KERJA TERHORMAT…………… MEMANG MUDAH NGEROYOK ORG KECIL….
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo ?:)
20 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Yadhi Rusmiadi Jashar Kejahatan Literasi. Honornya sebakul terasi.
13 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
wah-wah wa, terima kasih, terima kasih atas komentarnya yang luar biasa mas thendra, mas khrisna, mas bambi, langgeng, fahri, mas ganda, mas nurel, mbak anita, mbak endah, dwi, sungging raja, munajat sunyi, adin gani, bode, gus muh, mas yad…hi… komentar yang luar biasa dan masukan yang sngat bagus untuk saya.

kita berharap ada hikmah besra yang dapat diambil dari sini dan tidak pula menyurutkan langkah DAM untuk melahirkan karya2 besarnya nanti. komentar bung norel dan bung thendra tentang kasus plagiasi memang ngeri.

sebagai sesama pengarang tentu kita berharap juga DAM akan kembali berkarya dan kesempatan2nya atas media tidak hilang.

pertanyaan besar saya soal plagiasi dan upaya DAM dalam menafsir sudah mendapat jawaban. Mungki saja DAM berpikir upayanya itu sah-sah saja dan merupakan bagian dari kerja kreatif pengarang. dalam konteks ini sekali lagi soal sudut pandang.Lihat Selengkapnya
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
hal lain adalah dalam hal ini apakah ini akan menjadi tanggungjawab pengarang seorang? Apakah media yang bersangkutan dan redakturnya tidak pula bisa digugat? Karya pemuatan karya di media adalah kerja pengarang dan redaktur juga toh? Maksu…d saya jika pledoi DAM tentang tafsir dan semacam ‘pembelaan’ kepada salah satu tokoh sulit kita terima, bagaimana pula alasan redaktur yang cukup bingung menyeleksi naskah yang bertumpuk?

Nah kan, bingung lagi saya.

dan yang saya penasaran soal catatan kaki yang DAM maksud itu loo…

semoga DAM tetap bisa berkarya. Hal yang dialami DAM menurut saya bs teralami oleh siapa pun sehingga bisa menjadi pelajaran bersama, terutama bagi khatib yang menyampaikan. hahahaha…Lihat Selengkapnya
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja Sukses untuk kita semua, sukses untuk DAM dan saya. haha
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga kayaknya kasus udh slsai nih, soalnya kompas udah menyatakan cerpen itu gak pernah dimuat. hehe.
3 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja masa bung? kapan?? wah.. wah…
3 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga sudah tp lewat twiter

http://twitter.com/fajar_arcana?max_id=32240190743379969&page=2&twttr=true

2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja waduh kesian juga DAM.

eh katanya Bernas mau ke jogja. doi mau ada sambutan tuh. gimana penyambutannya?
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga ketika ditelp sama pak fajar pun, DAM bersikeras yg dilakukannya bukan plagiat hehe…

ayo sambut beni arnas, sabtu – minggu ya. bung Koto aja bikin acara kecil2an di blandongan aja hehe.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja RungRa: nah itu maksud saya kawan. misalnya, bahwa koran (dalam hal ini kompas) misalnya mencabut sebuah karya. konsekwensi seolah jadi tanggungjawab pengarang begitu saja.

Aku rada2 ngeri deh jadinya…
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
jangan2 DAM seperti konsep awalnya itu, semacam upaya dia untuk menafsirkan sebuah karya (memang terlalu banyak nyonteknya sih. hihihi) dan dia meyakini itu benar2 murni karya dia toh. itu upaya dia dan dengan memberikans emacam catatan dia… merasa bisa menjelaskan.

nah catatan dia itu aku gak baca je.

wah ndak bisa ada acara mendadak begitu. ngapain di blandongan. saya takut rame2. emang hari sabtu ya benny ke jogja. aku mau nyuri dia saja buat wawancara antologi cerpennya. hihihiLihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga
enak bener konsep kayak gitu… catatan apa ya? di lampost kan catatannya cuma gini:

“Rashomon sering dikaitkan dengan Rajomon, pintu gerbang pada zaman Heian (794—1185), sekarang terletak di Perfektur (daerah setingkat provinsi) Nara. Mon b…erarti gerbang. Ketika itu, ibu kota Jepang terletak di Nara. Rashomon juga merupakan judul cerpen Akutagawa Ryunosuke yang menjadi sumber penulisan kisah di atas.”

benny tgl 4 – 6 di jogja,,, jumat – minggu… tp aku nanti mau wisata kereta ke jakarta smpe jumat, jdinya sabtu – minggu aja ya..

wawancaranya ajak yg lain juga dong biar bisa denger & curi ilmunya benny, hehehe. jdi wawancara live gitu.Lihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
hehe.. aduh, aduh… kesian juga kalau begitu. Mungkin maunya DAM bereksplorasi mungkin…

wah aku mau nanya2 soal stasiun dari Bekasi menuju Karawang dong. aku mau belajar bikin cerpen soal kereta api juga nih. hehhe..

deg2an aku mau ketemu… pakbos benny arnas. takut sambutannya gak meriah diomelin saya. pengennya pinta tanda tangan juga, tapi blum punya bukunya. gimana ya?

bernas dalam rangka apa ya ke jogjanya?Lihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga dia diundang jdi pembicara di acaranya FLP, maka itu, kita arus cari2 jdwal dia yg kosong, hehehe…

coba beni ngasi info dari bulan lalu, bisa disiapin acara bedah buku tuh.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja itu dia. aku juga mikirnya begitu. cuma FLP mungkin sudah mau bikin acara juga kali ya? Sibuk. Trus soal nama2 stasiun gimana nih? Nanti dilampirkan dicatatan kaki deh, kalau cerpennya jadi, biar gak plagiat. hehe
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga karawang bekasi aku gak hapal nih, googling dulu…tp di puisi kompas kemarin, di atasnya bung koto ada tuh yg bikin puisi jdulnya “Prupuk – Linggapura”, tu jalur paling indah di purwokerto… tp puisinya gak bagus, hehe.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Budhi Setyawan
dari niatan awal waktu menulis, sebenarnya sudah ada ‘perang batin’. nah memang perlu kepekaan yang lebih dalam untuk mengambil keputusan. secara influence, tentu banyak sekali karya seni indoenesia yg terpengaruh dari karya2 di luar. terma…suk di musik juga sgt banyak. kl di musik memang lmuyn jelas, kalau ada kesamaan irama minimal 8 bar, itu adalah jiplakan/plagiat. nah di sastra mgkn blum ada aturan yg rigid & konkret.

salam kejujuran.Lihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja
mungkin dari sini kita bisa sama2 belajar. wah, dnegan begitu kita telah berhutang budi pada Dadang Ari Murtopo dong…

Tapi penjelasan dari ma sPutu Fajar Arcana yang saya sadur di punyanya mas Dedy Tri Riyadihttp://www.facebook.com/notes/d…edy-tri-riyadi/klarifikasi-kontroversi-pemuatan-cerpen-perempuan-tua-dalam-rashomon-karya-dadan/10150091857106683#!/notes/koto-saja/tentang-cerpen-perempuan-tua-dalam-rashomon-dadang-ari-murtono/10150089188639318?notif_t=note_comment

Kabarnya ini diambil dari twitter. Tapi menurut saya kompas juga harus minta maaf. karena tanpa pemuatan di korannya kasusnya tidak akan sejauh ini. Jangan cuma pengarang sajaLihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja sungging raga: kalau jadi ke jakarta inget2in ya nama stasiunnya. soalnya penting banget. mau curhat perjalanan nih. jakarta-jogja naik kereta ekonomi. hehhe….

nanti diberi catatan kaki, beneran… hahhaaha
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga nihdaftar stasiun dari bekasi ke karawang:

http://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_KA_Jatinegara-Cikampek

hehe.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja trims bung. bagaimana catatan kakinya? hehehe.. biar enggak plagiat nih
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga hhahaha, ya gak usah catatan kaki, stasiun kan milik umum :D & ternyata, setiap stasiun menawarkan budaya setempat yg berbeda. kalo dikaji lebih dalam kayaknya menarik. apalagi stasiun2 daerah bandung sip bwt cucimata ehehe…
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja wah ke bandung aku blum pernah bung. aduh, bandung ceweknya kan emnag.. gimana gituuu….. ishhh.. pengen deh.. pengeeeennnn….
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas ?2 orang ini penggemar sesuatu yg mulus dan bulat2 penuh….
20 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas KALAU DICABUT DAN DINYATAKAN TIDAK DIMUAT HARUSNYA TERTULIS DI KORANNYA DOOOONGGG, BUKAN HANYA DI TWITTER
19 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga logikanya, bakal ditulis di kompas hari minggu depan… tp g tau juga.
16 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Nurel Javissyarqi ser men:)
2 menit yang lalu · Suka

16/01/11

Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik

Dadang Ari Murtono
http://www.balipost.co.id/

mungkin malam adalah kehidupan dan
siang adalah maut
(malam)

1.
nokturno menghelaku
membelaku dari mata api

sunyi

ada yang bersiap bersemi

barangkali
cangkang tubuh mulai rapuh


2.
asin peluh
malam keruh
kuasah sangkur
kuasuh gembur

syair para penidur
mengalir dari dubur


3.
kusimpan setetes embun
sedepa humus ranum
dalam hening kambium

dan dadaku akan mekar
membawa nektar segar

menjaga yang ada
atau tak ada
atau tak perlu ada


4.
hijau membara
kelopak terjaga

ternyata

yang engkau hanyalah aku
yang rindu dan bisu


5.
sebisu retakan kun
lelubang buahku perlahan menenun

kata demi kata

bahasa yang mengada
dari yang kukira topeng senja


6.
aku meraba
akar tegar, batang tenang
rimbun daun, buah basah

namun fajar akan pecah
dan jantung akan terbelah

jangan persembahkan aku,
wahai tengah malam pilu,
kepada putih siang tercemar
(hati yang telah mengada)


7.
tetapi yang ada dan tiada
dan senantiasa
adalah tak akan
adalah tak pernah
adalah tak indah

lalu bertukar lidah

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita