Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/
SEPULUH tahun yang lalu Bariah masih mencoba mudik tiap mau lebaran, ikut berdesakan dan reboh bawa oleh-oleh. Tapi saat sampai di rumah dan tidak kebagian kamar, karena kamar depan dipakai Kang Barjan dan anak-istri, kamar tengah dipakai Kang Barjun dan anak-istri, dan di dapur dipasang amben untuk Ayah yang sakit-sakitan, maka Bariah memutuskan tak akan pulang berlebaran, seperti pada hari lebaran 10 September yang lalu.
Terlebih saat tiga bulan sebelum lebaran, Ayah meninggal dan rumah keluarga diparuh, sementara Bariah hanya diwaris ladang samping yang dianggap pantas untuk tempat membangun rumah. Sakit hati mendengar omongan Kang Barjan, yang bilang, “Kamu punya penghasilan jadi bisa nyicil mbangun rumah.” Sakit oleh rasa enggan mereka ketika merespon kepulangannya ketika itu, yang dianggap seakan-akan (Bariah) ingin menumpang tinggal selamanya. Ketika Kang Barjan menyuruh menginap di Kang Barjun, dan Kang Barjun menganjurkan menginap di Kang Barjan, sehingga Bariah memilih tidur di bulik Karsih.
Ke mana, dalam empat belas tahun beruntun, Bariah selalu datang kalau pulang kampung. Sampai akhirnya Bariah memilih pindah ke P, kerja sebagai guru tidak tetap dan kos di sana, pulang sembarang waktu serta di hari yang sama kembali dari kampung. Nanti. Karena pada tujuh tahun terakhir Bariah hanya bisa tiarap sebagai yang tidak punya apa-apa, saat intens mengaduh dalam berziarah ke makam Ibu dan Ayah, saat tak bisa tidak harus memperbaharui KTP di desa, serta terpaksa tak bisa tidak kembali kerja di kota. Balik ke trek impian dengan banyak menahan perasaan serta keinginan, senantiasa berhemat, dan menabung sebanyak mungkin. Hal yang dimungkinkan oleh menumpang hidup dan kerja full sepanjang waktu di rumah orang lain.
Mbabu. Ya! Begitu lulus SMP, tujuh bulan sebelumnya Ibu meninggal: Bariah memilih menjadi pembantu di Jakarta, karena di kampung cuma jadi beban Ayah, jadi buruh tani di sawah, dan selebihnya nganggur. Melesat ke rumah orang lain, bekerja setengah menghamba agar disukai dan terpakai terus, karena Nariah ingin bersekolah di SMA dan kuliah, agar bisa jadi guru. Berbesar jiwa menjadi si yang disuruh ini-itu setiap saat bila si bos berada di rumah, jadi yang mengerjakan ini-itu bila si bos ada di kantor dan pulang dengan kepuasaan rumah bersih.
Ya! Ya! Tapi Bariah punya kamar khusus, dijamin makan-minum, dan boleh liburan, kemudian hari Sabtu-Minggu itu jadi momentum ikut Kejar paket C. Ya! Sambil gaji aman masuk rekening. Yang satu saat, setelah jadi guru, akan bisa dipakai membangun rumah sendiri.
* * *
“KAMU serius tak pulang berlebaran, tahun ini Bariah?” kata bos Nandang, asal Garut, yang kedua di rentangan sepuluh tahun. Bariah mengangguk, bilang kalau di kampung sudah tak ada Ayah dan Ibu lagi.
“Memang masih ada kakak, tapi tak enak didatangi karena mereka selalu curiga saya menggugat rumah warisan yang dibagi berdua. Jadi saya selalu memilih mudik setelah lebaran saja. Terasa lebih enak mudik saat lebaran usai, sehingga bisa nginap di rumah saudara lain yang kosong karena keluarga mereka itu sudah balik ke Jakarta, Bandung atau Surabaya,” kata Bariah, tersipu dan tersenyum.
Bos Nandang tersenyum. Puas karena rumahnya akan ada yang menjaga. Dan Bariah dikasih uang lembur, jatah makan seminggu, dan ditinggalkan mudik. Bahkan tiga tetangga di kiri-kanan dan di depan rumah, kemudian jadi lima rumah karena ada ditambah dua rumah lagi di sebelahnya, menitipkan rumah mereka, agar ditiliki serta dibersihkan ketika ditinggal mudik. Enteng karena, minimal hanya menghidupkan dan mematikan lampu, membuka dan menutup tirai, dan menyirami tanaman. Lima bulan kemudian, saat ongkos normal, angkutan tidak berjejal, dan harga oleh-oleh normal,tanpa perlu mejeng berbaju baru, baru pulang kampung. Ketemu saudara dan kerabat, mengaduh sambil ziarah di makam Ayah dan Ibu, dan kembali ke Jakarta. “Ajak adikmu, Bariah.”
“Tapi lik, aku nggak dipesan mencari pembantu. Lagi pula bos di tempatku tidak mengizinkan pembantu pulang saat lebaran,saat mereka sangat butuh tenaga kita,”
“Dasar medit. Pelit!” “Iya, lik. Kecuali,” “Kecuali apa?” “Sekedar latihan cari pengalaman sebelum ke Arab,” Mereka menjebi. Bariah sendiri sebenarnya ingin ikut jadi TKW ke Arab, atau cuma ke Hong-Kong, Singapura atau Malaysia. Tiga atau enam tahun kontrak. Tapi Bariah bimbang dengan cara menyimpan gaji.
Apa diamankan masuk ke rekening? Tapi bila begitu, saat habis kontrak dan pulang kampung: apa tak akan digrecoki tiga ponakan dan empat orang tuanya, yang munafik demi receh mau menerima kepulangannya itu?
Mungkin mereka malah ringan minta dikirim duit untuk mbangun rumah tapi itu tidak dibelanjakan sebab tak merasa perlu membangun rumah, seperti Amrina, yang pulang dan stress karena kiriman gaji tak jadi apa-apa. Ya! Padahal Bariah kepingin sekolah di SMA, lalu berkuliah dan lulus sebagai sarjana pendidikan yang berhak jadi guru,dan seterusnya. Ya! Nanti, nun.
* * *
KARENA itu, sesuai dengan petunjuk dan arahan bos Nandang, pas tiga tahun setelah Ayah meninggal: Bariah ikut program Kejar Paket C, yang diselesaikannya dalam empat tahun. Lalu ikut kuliah UT ambil Pendidikan Bahasa Indonesia, dan baru lulus setelah tujuh tahun, saat Bariah ikut bos Markum, yang asli Tegal. Pada usia tiga puluh empat Bariah pamit pada bos Markum, dan nekad ngekos di Ponorogo, selatan Dolopo,tempat asalnya, buat jadi guru tidak tetap. Ikut tes PNS, dan lulus sebagai guru PNS setelah empat kali ikut tes. Senang saat tetap ditempatkan di Ponorogo, mengajar di SMP Slahung, di pelosok. Tinggal (kos) sendiri, hidup apa adanya, dan senantiasa menyisihkan sebagian besar gajinya untuk cita-cita murni tunggal: membangun rumah dengan uang sendiri.
Nun di sana. Di mana Bariah bisa tenang mengurung diri, mengenang semua lelakon, dan senantiasa berdoa bagi Ayah dan Ibu sehabis shalat. Dan mungkin juga berharap akan didatangi jodoh dan kekal dalam perkawinan yang berorientasi kepada mempunyai anak dan membesarkan anak. Nun.
Dan sesekali pulang kampung, untuk berziarah dan bertemu sanak saudara, dan kembali di hari yang sama ke kesendirian. Nun di sana. Hidup dalam pengabdian dengan banyak menabung. Meski tabungan itu tidak jadi apa-apa, dan cuma jadi warisan yang dibagikan di antara Kang Barjan serta Kang Barjun, ketika Bariah kontan menunaikan kewajiban hidup, dan selesai sebagai manusia di usia lima puluh tahun. Mati dan dikuburkan di pemakaman di bawah naungan bambu,yang senantiasa berdesau saat angin lewat, melintasi palung sungai dengan gemercik air yang lembut menghilir saat kemarau tinggi. Berbaring di antara entah siapa, dan dikuburkan oleh si entah siapa, tapi bersungguh-sungguh ketika memakamkannya karena mereka merasa dipintarkan atau anaknya dipintarkan olehnya di SMP pelosok itu. Meski yang selalu diceritakan kepada mereka tak selalu masalah bahasa Indonesia, tapi semangat jangan menyerah selama masih hidup dan punya cita-cita,dengan cerita bagaimana Bariah jadi sarjana dan guru dengan mbabu. “Jangan lihat apa pekerjaananya, jangan lihat mulia atau hinanya pekerjaan itu, tapi,lihatlah sejauh mana pekerjaan itu memberi uang kepadamu, sehingga kita bisa berhemat dan memanpaatkannya untuk meraih ilmu dan kesemnpatan yang lebih baik. Jangan hargai apa pangkat dan pekerjaannya tapi hargailah setiap upaya orang untuk memperoleh penghasilan halal dan tidak tergantung belas kasihan orang lain.” kata Bariah, kalimat yang seperti bergaung mengiang saat setiap lebaran banyak dari bekas murid datang berziarah, bertemu dan bersalaman, lantas bersepakat berdoa bersama di kuburannya.
Di sana, padahal mereka itu cuma si entah siapa. Dan sesekali anak-anak bos Nandang dan bos Markum, yang Bariah asuh itu datang berkunjung dan berdoa, sementara itu kedua kakak, kakak ipar, dan lima keponakannya tak pernah mampir.
* * *
DALAM tajam aroma kemenyan, suara desau daun bambu dan gema gemuruh arus air saat penghujan tiba itu seperti mengajak buat tetap tinggal di Bumi dan kekal sebagai mahluk Bumi. Tapi Bariah tidak bisa berlama-lama karena harus kembali ke kesunyian (sendiri) sebelum masa kebangkitan itu tiba dan semua berjalan memasuki ruang dacin perhitungan,serta pelan menyeberangi titian tipis baik-buruk, langsung memasuki hisab dan kekekalan siksa atau anugerah. Nanti. Tempat di mana pulang tak berkaitan dengan tempat asal, rumah di mana kita dilahirkan dan dibesarkan, serta waktu di mana kita dimatangkan kasih sayang dan keimanan agar tegar mengembara ke seluruh pelosok. Nun, nanti. Saat pulang hanya diperhubungkan dengan apa yang telah kita perbuat selama berkeliaran di muka Bumi. Nanti, nun di belum terbayangkan. ***
Catatan:
reboh : repot dengan bawaan berlebihan di kedua tangan
amben : ranjang bambu
mbangun : membuat dan mendirikan rumah
mbabu : bekerja sebagai pembantu
ditiliki : selalu dikontrol dan dicek
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Beni Setia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beni Setia. Tampilkan semua postingan
26/08/11
01/08/11
Mengorek Mistisme Jawa
Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/
AFRIZAL MALNA, via “Sebuah Novel dalam 11 Cerpen dan Politik Imajinasi Jawa dari “dia-yang-bercerita”-Kata Pengantar di dalam kumpulan cerpen Fahrudin Nasrulloh, Syekh Bejirun dan Rajah Anjing (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2011)-, menggarisbawahi tiga entitas pendukung cerita: obyek yang diceritakan, subyek sang pencerita, dan penerima cerita. Sedang Fahrudin Nasrulloh (FN), sebagai sang subyek pencerita, menulis pengantar yang menggarisbawahi peranan penting dari bahan yang mendorongnya bercerita, dengan merunut asal-usul dari semua bahan cerita yang kini berujudkan 11 cerpen. Lantas bagaimana nasib pembaca cerita yang meresepsinya?
Ketika FN bercerita tentang santri yang kerasukan dan tidak bisa disembuhkan oleh kiai di manapun karena kalah bertanding dengan jin. Bagian teks ini merupakan rujukan riil cerpen “Arung Beliung”, yang bercerita tentang santri yang secara batinia diajari ilmu sesat oleh kelompok malaikat pendosa dan jin terkeji, dan mendapat ikon tato rajah puting beliung, dan menjadi problem besar akidah di Indonesia cq sembilan “wali kutub”. Dan meski si santri mengorbankan dirinya dengan dikubur hidup-hidup, tapi rajah puting beliung-ikon nash-nash sesat-tak bisa ditaklukkan, bahkan bangkit dari kuburan, berupa ratusan cacing merah dan lintingan rajah api yang mengganyang kiai Bahlawi. Manifestasi magic’s thriller yang mencekam seperti serial Supernatural.
Sedangkan pengalamannya mempelajari ilmu tarekat dan sufisme Jawa terbuhul dalam cerpen “Surabawuk Megatruh”. Kisah tentang hamba rasionalitas yang mampu menguasai pengetahuan murni karena benang ruh bisa menghubungkan sukma, nalar murni dan kesadaran hening. Tokoh yang bertualang demi debat dengan sembarangan kiai agar mendapatkan kepastian tentang ada Tuhan-sekaligus menafsikan keimanan yang tidak didukung bukti keberadaan Tuhan. Akhirnya Surabawuk bertemu dengan Kiai Hasan Besari, dari Ponorogo-guru pujangga besar Jawa, Ranggawarsita. Terjadi debat tentang keberadaan Tuhan, antara rasionalitas yang amat membutuhkan rujukan bukti riil dengan si yang menghayati dan merasakan keberadaan-Nya ketika didatangi (kerasukan) Tuhan.
Debat soal keimanan yang disampaikan nyaris datar, tapi sengaja dibuhul dalam pengalaman Surabawuk berada dalam ketiadaan karena munculnya keberadaan-Nya- yang mutlak meniadakan segala ada yang diadakan. Aroma spiritual ini nyaris sejajar aura batini dalam cerpen “Abu Zardak”, yang bersicerita tentang mengalami alam ada dan tiada tapi tidak kerasukan “yang mengadakan” sebab berangkat dengan ilmu sesat yang mengadaikan ketiadaan. Sehingga kita tak tahu: Abu Zardak dicerahkan seperti Surabawuk, atau tersesat seperti murid kiai Bahlawi, Ali Subaka. Ini berbeda dengan cerpen “Syekh Bajirum dan Rajah Anjing”, yang bersicerita tentang kitab Arabi yang berisi aneka ajaran takhayul yang sengaja dioplos dengan ilmu sekuler, yang dipesan Majapahit untuk menjinakkan Demak (baca: Islam). Teks sinkretisme sesat yang tidak diridlai Allah, yang dieliminasi-Nya dengan bencana badai yang memusnahkan kapal pembawa kitab Arabi pesanan Majapahit.
Syeikh Bajirun-kurir penjemput-mati, teks kitab Arabi pesanan-berikon rajah anjing-musnah, karenanya babon ajaran sesat itu tak sampai di Jawa dan dipakai oleh Majapahit buat mengacaukan hakekat Islam kaffah. Sayangnya pihak yang tak punya latar pesantren tak hapal akan etos validisasi menulis buku kuning di pesantren, yang harus selalu bertolak dari ikhlas dan berharap agar kuasa Allah SWT mengujud ketika menguji yang ditulis itu merupakan ilmu yang bermanpaat. Caranya kitab yang selesai ditulis itu dimasukkan ke dalam air (al-maa’un) dan kalau saat diangkat tintanya tidak luntur maka buku itu legal dianggap Allah SWT bermanpaat. Dan bila hilang tintanya dan pembawanya mati dalam bencana laut?
Dan bagaimana Serat Centini-versi prosa Elizabeth D Inandiak-mempersona si pengarang, dan mendorongnya untuk membuat cerita rekaan bebas, sempalan dari pakem Centini. Fiksionalisasi fakta (fiktif) seperti terlihat di cerpen “Montel”, “Abu Zardak”, “Prahara Giri Kedaton”, dan “Huru-Hara Babarong”. Montel itu sisi lain dari Abu Zardak, si yang terpilih jadi sang pengemban mistisisme Jawa setelah Giri Kedaton dimusnahkan Sultan Agung dan Pangeran Pekik Seiring Amongraga dan Tambangraras jadi ulat yang dilahap oleh Sultan Agung dan Pangeran Pekik, seperti yang ditekankannya pada cerpen “Prahara Giri Kedaton”. Sekaligus cerpen “Duel Dua Bajingan” jadi versi kembang paling sekuler, melulu soal kanuragaan para murid mistisme (Jawa) dari Giri Kedaton-bersisejajar dengan cerpen “Huru-Hara Babarong” dan cerpen “Puputan Walanda Tack” yang berinterteks dengan pemberontakan Surapati di masa Amangkurat II. Sedang dua cerpen lain, “Memburu Maria van Paousten” dan “Nubuat dari Sabrang” murni fiksi. Dan meski bertolak dari si pemburu kitab kuning dan ilmu mistik Jawa sehingga si tokoh dihantui kebenaranan lain, dan bagaimana kebenaran itu bisa digunakan untuk menolong yang dikutuk oleh kejahatan masa lalu-cerpen “Memburu Maria van Paosten”-, tetapi tekanannya tetap pada cerita, usaha, rasa bersalah, dan takdir yang tidak bisa ditolak.
Cerpen “Nubuat dari Sebrang” berkisah tentang kitab Nubuat dari Sabrang yang tampaknya sengaja ditulis Snouck Hurgrunje untuk memecahbelah Islam, meski teks itu seperti ditulis bersama asistennya: Teungku Husein Goeje-sehingga isinya sama dengan Hikajat Pejalan dari Sabrang yang ditulis dan didedikasikan Teungku Husein Gouje buat Snouck Hurgronje.
Tapi, seiring dengan informasi Teungku Husein Goeje itu penganut Hamzah Fansury, si penganut dan pengamal mistisme, maka penyesatan dalam teks Nubuat dari Sabrang itu bermotif apa? Apa si Snouck Hurgronje memang sengaja menuliskan ilmu sesat sementara mereka-bersama si tokoh cerpen, Teungku Hasan Musthapa, yang dikenal sebagai mistikus Sunda-pernah bersitualang ke Jawa Timur dan Madura, dan mendapatkan hadiah kitab-kitab tentang mistisme Islam dari pesantren-pesantren di Jawa Timur dan Madura?
Apakah sosok Snouck Hurgronje itu seperti Ali Subaka atau seperti Surabawuk? Tapi untuk apa ikut memahami hal yang hakiki itu kalau Snouck Hurgronje itu hanya Orientalis yang bertugas-melakukan riset partisipasif-memahami apa landasan nash dari jihad Islam di Aceh, sehingga dengan mengetahuinya Belanda merasa akan kuasa memotong motif jihad dengan nash yang menentang anjuran jihad? Sayang pengarang merasa lebih berkepentingan dengan fakta jiwa Snouch Hurgronje itu telah dicerahkan secara mistis, sehingga (agaknya) tidak mungkin menyampaikan ajaran sesat-dengan menunjukkan kesesatan dan penyesatan itu mungkin berasal dari asistennya, Teungku husen Goeje.
Fakta-fakta itu-banyak yang dikuatkan dengan catatan kaki, yang bisa mencapai satu halaman, dan juga rujukan referensial yang menunjuk ke kitab kuning tertentu- membuat kita berkutet dengan tanya: apa yang diceritakan itu berdasar data rujukan yang valid. Karena catatan kaki itu terkadang tempat si pengarang menuliskan lanturan fiksi kecil yang imajinatif, tapi pengembangan fantasia itu tetap berlandaskan asumsi mistisme yang menuntut pengalaman dan pengetahuan mistisme Jawa tertentu.
Tanpa itu kita akan tersesat dalam ketidakpahaman. Dan lebih rumitnya, semua yang merujuk ke mistisme Jawa itu diungkapkannya dengan gaya sastra tutur berbasis diksi bersanjak ala ludruk, simbolika refresentatif yang esotermik, dan idiom berkosa kata Jawa yang dituliskannya tanpa bercatatan kaki. Rumit serta menuntut penafsiran yang lebih. Sekaligus teks (FN) jadi varian dan sisi lain sastra berbasis mistisme Jawa Danarto-sebuah varian genre sastra lokal dari sastra Indonesia modern.***
Sabtu, 30 Juli 2011
http://www.suarakarya-online.com/
AFRIZAL MALNA, via “Sebuah Novel dalam 11 Cerpen dan Politik Imajinasi Jawa dari “dia-yang-bercerita”-Kata Pengantar di dalam kumpulan cerpen Fahrudin Nasrulloh, Syekh Bejirun dan Rajah Anjing (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2011)-, menggarisbawahi tiga entitas pendukung cerita: obyek yang diceritakan, subyek sang pencerita, dan penerima cerita. Sedang Fahrudin Nasrulloh (FN), sebagai sang subyek pencerita, menulis pengantar yang menggarisbawahi peranan penting dari bahan yang mendorongnya bercerita, dengan merunut asal-usul dari semua bahan cerita yang kini berujudkan 11 cerpen. Lantas bagaimana nasib pembaca cerita yang meresepsinya?
Ketika FN bercerita tentang santri yang kerasukan dan tidak bisa disembuhkan oleh kiai di manapun karena kalah bertanding dengan jin. Bagian teks ini merupakan rujukan riil cerpen “Arung Beliung”, yang bercerita tentang santri yang secara batinia diajari ilmu sesat oleh kelompok malaikat pendosa dan jin terkeji, dan mendapat ikon tato rajah puting beliung, dan menjadi problem besar akidah di Indonesia cq sembilan “wali kutub”. Dan meski si santri mengorbankan dirinya dengan dikubur hidup-hidup, tapi rajah puting beliung-ikon nash-nash sesat-tak bisa ditaklukkan, bahkan bangkit dari kuburan, berupa ratusan cacing merah dan lintingan rajah api yang mengganyang kiai Bahlawi. Manifestasi magic’s thriller yang mencekam seperti serial Supernatural.
Sedangkan pengalamannya mempelajari ilmu tarekat dan sufisme Jawa terbuhul dalam cerpen “Surabawuk Megatruh”. Kisah tentang hamba rasionalitas yang mampu menguasai pengetahuan murni karena benang ruh bisa menghubungkan sukma, nalar murni dan kesadaran hening. Tokoh yang bertualang demi debat dengan sembarangan kiai agar mendapatkan kepastian tentang ada Tuhan-sekaligus menafsikan keimanan yang tidak didukung bukti keberadaan Tuhan. Akhirnya Surabawuk bertemu dengan Kiai Hasan Besari, dari Ponorogo-guru pujangga besar Jawa, Ranggawarsita. Terjadi debat tentang keberadaan Tuhan, antara rasionalitas yang amat membutuhkan rujukan bukti riil dengan si yang menghayati dan merasakan keberadaan-Nya ketika didatangi (kerasukan) Tuhan.
Debat soal keimanan yang disampaikan nyaris datar, tapi sengaja dibuhul dalam pengalaman Surabawuk berada dalam ketiadaan karena munculnya keberadaan-Nya- yang mutlak meniadakan segala ada yang diadakan. Aroma spiritual ini nyaris sejajar aura batini dalam cerpen “Abu Zardak”, yang bersicerita tentang mengalami alam ada dan tiada tapi tidak kerasukan “yang mengadakan” sebab berangkat dengan ilmu sesat yang mengadaikan ketiadaan. Sehingga kita tak tahu: Abu Zardak dicerahkan seperti Surabawuk, atau tersesat seperti murid kiai Bahlawi, Ali Subaka. Ini berbeda dengan cerpen “Syekh Bajirum dan Rajah Anjing”, yang bersicerita tentang kitab Arabi yang berisi aneka ajaran takhayul yang sengaja dioplos dengan ilmu sekuler, yang dipesan Majapahit untuk menjinakkan Demak (baca: Islam). Teks sinkretisme sesat yang tidak diridlai Allah, yang dieliminasi-Nya dengan bencana badai yang memusnahkan kapal pembawa kitab Arabi pesanan Majapahit.
Syeikh Bajirun-kurir penjemput-mati, teks kitab Arabi pesanan-berikon rajah anjing-musnah, karenanya babon ajaran sesat itu tak sampai di Jawa dan dipakai oleh Majapahit buat mengacaukan hakekat Islam kaffah. Sayangnya pihak yang tak punya latar pesantren tak hapal akan etos validisasi menulis buku kuning di pesantren, yang harus selalu bertolak dari ikhlas dan berharap agar kuasa Allah SWT mengujud ketika menguji yang ditulis itu merupakan ilmu yang bermanpaat. Caranya kitab yang selesai ditulis itu dimasukkan ke dalam air (al-maa’un) dan kalau saat diangkat tintanya tidak luntur maka buku itu legal dianggap Allah SWT bermanpaat. Dan bila hilang tintanya dan pembawanya mati dalam bencana laut?
Dan bagaimana Serat Centini-versi prosa Elizabeth D Inandiak-mempersona si pengarang, dan mendorongnya untuk membuat cerita rekaan bebas, sempalan dari pakem Centini. Fiksionalisasi fakta (fiktif) seperti terlihat di cerpen “Montel”, “Abu Zardak”, “Prahara Giri Kedaton”, dan “Huru-Hara Babarong”. Montel itu sisi lain dari Abu Zardak, si yang terpilih jadi sang pengemban mistisisme Jawa setelah Giri Kedaton dimusnahkan Sultan Agung dan Pangeran Pekik Seiring Amongraga dan Tambangraras jadi ulat yang dilahap oleh Sultan Agung dan Pangeran Pekik, seperti yang ditekankannya pada cerpen “Prahara Giri Kedaton”. Sekaligus cerpen “Duel Dua Bajingan” jadi versi kembang paling sekuler, melulu soal kanuragaan para murid mistisme (Jawa) dari Giri Kedaton-bersisejajar dengan cerpen “Huru-Hara Babarong” dan cerpen “Puputan Walanda Tack” yang berinterteks dengan pemberontakan Surapati di masa Amangkurat II. Sedang dua cerpen lain, “Memburu Maria van Paousten” dan “Nubuat dari Sabrang” murni fiksi. Dan meski bertolak dari si pemburu kitab kuning dan ilmu mistik Jawa sehingga si tokoh dihantui kebenaranan lain, dan bagaimana kebenaran itu bisa digunakan untuk menolong yang dikutuk oleh kejahatan masa lalu-cerpen “Memburu Maria van Paosten”-, tetapi tekanannya tetap pada cerita, usaha, rasa bersalah, dan takdir yang tidak bisa ditolak.
Cerpen “Nubuat dari Sebrang” berkisah tentang kitab Nubuat dari Sabrang yang tampaknya sengaja ditulis Snouck Hurgrunje untuk memecahbelah Islam, meski teks itu seperti ditulis bersama asistennya: Teungku Husein Goeje-sehingga isinya sama dengan Hikajat Pejalan dari Sabrang yang ditulis dan didedikasikan Teungku Husein Gouje buat Snouck Hurgronje.
Tapi, seiring dengan informasi Teungku Husein Goeje itu penganut Hamzah Fansury, si penganut dan pengamal mistisme, maka penyesatan dalam teks Nubuat dari Sabrang itu bermotif apa? Apa si Snouck Hurgronje memang sengaja menuliskan ilmu sesat sementara mereka-bersama si tokoh cerpen, Teungku Hasan Musthapa, yang dikenal sebagai mistikus Sunda-pernah bersitualang ke Jawa Timur dan Madura, dan mendapatkan hadiah kitab-kitab tentang mistisme Islam dari pesantren-pesantren di Jawa Timur dan Madura?
Apakah sosok Snouck Hurgronje itu seperti Ali Subaka atau seperti Surabawuk? Tapi untuk apa ikut memahami hal yang hakiki itu kalau Snouck Hurgronje itu hanya Orientalis yang bertugas-melakukan riset partisipasif-memahami apa landasan nash dari jihad Islam di Aceh, sehingga dengan mengetahuinya Belanda merasa akan kuasa memotong motif jihad dengan nash yang menentang anjuran jihad? Sayang pengarang merasa lebih berkepentingan dengan fakta jiwa Snouch Hurgronje itu telah dicerahkan secara mistis, sehingga (agaknya) tidak mungkin menyampaikan ajaran sesat-dengan menunjukkan kesesatan dan penyesatan itu mungkin berasal dari asistennya, Teungku husen Goeje.
Fakta-fakta itu-banyak yang dikuatkan dengan catatan kaki, yang bisa mencapai satu halaman, dan juga rujukan referensial yang menunjuk ke kitab kuning tertentu- membuat kita berkutet dengan tanya: apa yang diceritakan itu berdasar data rujukan yang valid. Karena catatan kaki itu terkadang tempat si pengarang menuliskan lanturan fiksi kecil yang imajinatif, tapi pengembangan fantasia itu tetap berlandaskan asumsi mistisme yang menuntut pengalaman dan pengetahuan mistisme Jawa tertentu.
Tanpa itu kita akan tersesat dalam ketidakpahaman. Dan lebih rumitnya, semua yang merujuk ke mistisme Jawa itu diungkapkannya dengan gaya sastra tutur berbasis diksi bersanjak ala ludruk, simbolika refresentatif yang esotermik, dan idiom berkosa kata Jawa yang dituliskannya tanpa bercatatan kaki. Rumit serta menuntut penafsiran yang lebih. Sekaligus teks (FN) jadi varian dan sisi lain sastra berbasis mistisme Jawa Danarto-sebuah varian genre sastra lokal dari sastra Indonesia modern.***
Sabtu, 30 Juli 2011
13/06/11
Perayaan Kemurungan
Beni Setia
http://www.lampungpost.com/
Mitos yang mengeliling Li Tai-Po, seorang penyair liris China klasik, berkaitan dengan arak, bersampan setengah berhanyut di arus sungai, dan menulis puisi dengan kepekaan batin merespons berdasarkan apa yang tampil di kesadarannya—baik akibat rangsangan objektif kesekitaran atau melulu hanya cetusan imajinasi instinktif dalam batin.
KATANYA, ia menulis beratus-ratus puisi untuk dihanyutkan bila secara diksiah gagal karena tak bisa direvisi lagi, dan kemurungan kehilangan emosi liris yang tidak bisa dikonkretkan itu akan menjadi sebuah energi liris (baca: level kepekaan puitik) yang membuat menulis puisi semakin membius.
Energi tranced. Mungkin itu artifisialitas menulis—katanya Li Tai-Po kehilangan orientasi ketika merasa menemukan bulan dan merengkuh bayangan bulan di air yang disangka bulan itu sendiri, dan ia mati tenggelam di arus. Tapi identifikasi pada corak energi kreatif itu itu dipertegas oleh seorang Rahmah Purwahida, ketika ia membahas 10 cerpenis muda Jawa Tengah, yang tergabung dalam antoloji cerpen Joglo 10: Paras Perempuan Padas, TBJT, Solo 2011, di TBJT, (28-05). Dosen UMS ini menyebut itu sebagai perayaan kemurungan, saat energi kreatif dan kepekaan bersinergi dengan hal-hal keseharian yang tak lagi menggugah simpati dan solidaritas kemanusiaan kita, lantas kemurungan bangkit menggarisbawahinya dalam narasi yang sepertinya hanya mimesis memotret kenyataan sosial.
Keunggulan cerpen—dan pada akhirnya novel dan puisi—simpati sosial semacam itu terletak pada penggarisbawahan yang menyebabkan sebuah potret berbeda dengan lukisan, sebuah berita dengan prosa dan puisi. Dan karenanya, meski ada kesejajaran dengan olah kepekaan puitik Li Tai-Po, tekanan Rahmah Purwahida terletak pada apa yang jadi obsesi kreatif mereka merupakan ihwal yang ada di luar diri, bersipat objek dan berlevel sosial. Ini berbeda dengan Li Tai-Po yang bersipat reflektif, menggali ke kedalaman diri, subjektif seperti bersilarat-larat dengan hal yang liris—meski mampu memotret yang objektif, yang naratif menuturkan apa yang tampak dengan nampan puitika liris yang kental. Dan seorang Isbedy Stiawan Z.S.—terutama dalam Taman di Bibirmu, Siger Publisher dan Lamban Sastra, Bandar Lampung, 2011—bermain dalam tataran ini, bergerak reflektif ke dalam dan naratif ke luar.
Ada 82 puisi dalam kumpulan puisi setebal 104 halaman ini, dan yang lebih unik puisi tertua dalam kumpulan ini ber-titi mangsa 2011—2010;23.31 dan diletakkan di sisi belakang, sedangkan yang terbaru bertarikh 5211.7:23 dengan diletakkan di depan. Ini mengesankan sebuah pemindahan dari dokumentasi file dari laptop ke ujud pra cetak secara sederhana, dan sepengetahuan saya Isbedy Stiawan Z.S. selalu membawa laptop ke mana pun pergi—kini malah dilengkapi oleh handycam untuk merekam momentum sosial yang unik sesuai dengan tuntutan sebagai si pewarta televisi di Bandar Lampung. Pada status Facebook-nya ia pernah bercerita tentang perjalanan jarak jauh dengan sepeda motor, kelelahan perjalanan, daya tahan fisik sebagai seorang karateka, dan kepekaan puitik Li Tai-Po dan instink merayakan kemurungan ala Rahmah Purwahida yang menuntut bergerak dan terus bergerak.
Tak heran kalau dari kumpulan puisi terbarunya kita bisa menemukan romatisme sentimental liris tentang cinta dan si dia seperti tersurat dalam puisi-puisi Mawar, Menjadi Api, Kupilih Wajahmu, Sebuah Pesan, Di Tepi Kolam, dan banyak lagi. Selain narasi seperti yang tertera dalam puisi-puisi Kau adalah Laut, Lelaki Penjaga Pohon, Bulan di Kota Awan, Liwa, Dalam Bayangan, Kembali ke Kotamu, Mencatat sebagai Peristiwa, dan seterusnya. Sebuah rentetan puitika yang berada dalam liris reflektif dan narasi kuyup emosi—sebuah pencapaian yang berawal dari 20 November 2010 sampai 05 Februari 2011—sebuah pencapaian kreativitas dalam rentang 10 minggu, energi kreatif yang sebenarnya tak hanya merujuk 82 buah puisi tapi juga ada sekian cerpen, esei-esai sastra dan sosial-budaya, dan mungkin beberapa berita/liputan televisi. Satu aset sastrawiah yang mencengangkan, yang dieksolorasi dan dieksploitasi dengan sangat efisien—tapi tak pernah benar-benar diapresiasi secara benar.
Bagi saya Isbedy merupakan passion serta daya tahan, terlebih ketika bersitemu dengannya selalu ada membawa ransel yang menggelembung di punggung dan tas di tangan. Dengan berjaket dan bertopi ia seperti sedang memindahkan kesiapan untuk mengeksploitasi kepekaan puitik dan mengeksplorasi wacana kemurungan (realitas) sosial—kesiapan yang dimanifestasikan dalam perlengkapan yang kayak arep minggat dalam idiom Surabayaan. Tak heran kalau keutamaan Isbedy sesungguhnya terletak pada produktivitas, bahkan produktivitas yang tak kenal jeda sejak pertengah dekade 1980-an. Rentangan produktivitas (baca: keajekan mengolah kreativitas) yang ada di sekitar hitungan 25 tahunan lebih. Dan dalam rentangan itu kita menemukan karya sastranya berada di berbagai media massa cetak di mana-mana, dan dalam bermacam-macam dan tak putusnya terbit setiap tahun—terutama dalam hitungan dekade terakhir.
Dan ia sebenarnya tak sendirian—ada Soni Farid Maulana yang berkubang dalam puisi an kemudian Bandung Mawardi yang lebih konsentrasi pada esai dan apresiasi. Celakanya, khazanah sastra Indonesia tak begitu peduli dengan fakta itu. Di tengah minat baca sastra yang lemah, yang menyebabkan buku sastra tersenggal—dan seorang Nurel Javissyarqi, sang penerbit yang memegang bendera Pustaka Pujangga, pernah mengatakan pasar ril buku sastra hanya 300 buku, sedangkan seorang penerbit lain di Solo bilang ongkos cetak yang efisien minimal 500 eksemplar dengan titik optimum 1.000 eksemplar—, penghargaan justru lebih dipusatkan pada kualitas cq Khatulistiwa Award, misalnya. Produktivitas bertahan dengan ekplorasi dan eksploitasi kreativitas yang tanpa jeda dan dalam jangka panjang dan dilakukan dengan irasionalitas berterus mengolah kreativitas tak pernah dipedulikan.
Tak ada penghargaan bagi loyalitas buat pengabdian sepanjang masa, karena itu kita berkaca-kaca melihat nasibnya Ratna Indraswari Ibrahim yang sakit dan tak bisa berkreasi. Semua itu dianggap wajar, itu dianggap risiko pribadi dari pengamalan hidup sesuai dengan filsafat Eksistensialisme—seperti pejabat yang siap pensiun dan dihantui KPK. Padahal selain Ratna Indraswari Ibrahim kita telah mencatat dan sekaligus melupakan beberapa sastrawan berbakat yang didera masa surut dan terjerembab dalam sakit dan dianggap rongsokan yang tak perlu diingat. Menurut saya, seharusnya the stakeholder yang berkepentingan dengan sastra Indonesia mau memedulikan pengabdian kreatif sastrawan, dengan hadiah yang bersipat pengabdian lifetime, dan juga semacam fund untuk mengongkosi sastrawan produktif untuk berkarya dalam acuan risidensi.
Pertamina pernah mengundang sastrawan menuliskan tentang kilang minyak di lepas pantai Papua, seorang individu membiayai penulisan novel bertemakan korban G30S/PKI dari Seno Gumira Ajidarma serta cerpen-cerpen bertema kota di Amerika Serikat dari Budi Darma dkk., TSI III meminta beberapa sastrawan menulis puisi serta cerpen tentang Tanjungpinang, dan TSI IV membiayai beberapa sastrawan berbakat ke Halmahera. Tapi itu tak cukup. Dan sebuah dana residensi pada Isbedy dkk. mungkin membuat kita menemukan sebuah tempat serta satu eksotika yang unik dalam sebuah kumpulan puisi dan prosa. Memang! Tapi siapa yang mau peduli kalau eksekutif dan legislatif lebih terpikat membiayai sepak bola dengan APBD kabupaten/kota? Karena—sebenarnya—sastra itu berada di ekor dari proyek pencitraan politis.
Beni Setia, pengarang
http://www.lampungpost.com/
Mitos yang mengeliling Li Tai-Po, seorang penyair liris China klasik, berkaitan dengan arak, bersampan setengah berhanyut di arus sungai, dan menulis puisi dengan kepekaan batin merespons berdasarkan apa yang tampil di kesadarannya—baik akibat rangsangan objektif kesekitaran atau melulu hanya cetusan imajinasi instinktif dalam batin.
KATANYA, ia menulis beratus-ratus puisi untuk dihanyutkan bila secara diksiah gagal karena tak bisa direvisi lagi, dan kemurungan kehilangan emosi liris yang tidak bisa dikonkretkan itu akan menjadi sebuah energi liris (baca: level kepekaan puitik) yang membuat menulis puisi semakin membius.
Energi tranced. Mungkin itu artifisialitas menulis—katanya Li Tai-Po kehilangan orientasi ketika merasa menemukan bulan dan merengkuh bayangan bulan di air yang disangka bulan itu sendiri, dan ia mati tenggelam di arus. Tapi identifikasi pada corak energi kreatif itu itu dipertegas oleh seorang Rahmah Purwahida, ketika ia membahas 10 cerpenis muda Jawa Tengah, yang tergabung dalam antoloji cerpen Joglo 10: Paras Perempuan Padas, TBJT, Solo 2011, di TBJT, (28-05). Dosen UMS ini menyebut itu sebagai perayaan kemurungan, saat energi kreatif dan kepekaan bersinergi dengan hal-hal keseharian yang tak lagi menggugah simpati dan solidaritas kemanusiaan kita, lantas kemurungan bangkit menggarisbawahinya dalam narasi yang sepertinya hanya mimesis memotret kenyataan sosial.
Keunggulan cerpen—dan pada akhirnya novel dan puisi—simpati sosial semacam itu terletak pada penggarisbawahan yang menyebabkan sebuah potret berbeda dengan lukisan, sebuah berita dengan prosa dan puisi. Dan karenanya, meski ada kesejajaran dengan olah kepekaan puitik Li Tai-Po, tekanan Rahmah Purwahida terletak pada apa yang jadi obsesi kreatif mereka merupakan ihwal yang ada di luar diri, bersipat objek dan berlevel sosial. Ini berbeda dengan Li Tai-Po yang bersipat reflektif, menggali ke kedalaman diri, subjektif seperti bersilarat-larat dengan hal yang liris—meski mampu memotret yang objektif, yang naratif menuturkan apa yang tampak dengan nampan puitika liris yang kental. Dan seorang Isbedy Stiawan Z.S.—terutama dalam Taman di Bibirmu, Siger Publisher dan Lamban Sastra, Bandar Lampung, 2011—bermain dalam tataran ini, bergerak reflektif ke dalam dan naratif ke luar.
Ada 82 puisi dalam kumpulan puisi setebal 104 halaman ini, dan yang lebih unik puisi tertua dalam kumpulan ini ber-titi mangsa 2011—2010;23.31 dan diletakkan di sisi belakang, sedangkan yang terbaru bertarikh 5211.7:23 dengan diletakkan di depan. Ini mengesankan sebuah pemindahan dari dokumentasi file dari laptop ke ujud pra cetak secara sederhana, dan sepengetahuan saya Isbedy Stiawan Z.S. selalu membawa laptop ke mana pun pergi—kini malah dilengkapi oleh handycam untuk merekam momentum sosial yang unik sesuai dengan tuntutan sebagai si pewarta televisi di Bandar Lampung. Pada status Facebook-nya ia pernah bercerita tentang perjalanan jarak jauh dengan sepeda motor, kelelahan perjalanan, daya tahan fisik sebagai seorang karateka, dan kepekaan puitik Li Tai-Po dan instink merayakan kemurungan ala Rahmah Purwahida yang menuntut bergerak dan terus bergerak.
Tak heran kalau dari kumpulan puisi terbarunya kita bisa menemukan romatisme sentimental liris tentang cinta dan si dia seperti tersurat dalam puisi-puisi Mawar, Menjadi Api, Kupilih Wajahmu, Sebuah Pesan, Di Tepi Kolam, dan banyak lagi. Selain narasi seperti yang tertera dalam puisi-puisi Kau adalah Laut, Lelaki Penjaga Pohon, Bulan di Kota Awan, Liwa, Dalam Bayangan, Kembali ke Kotamu, Mencatat sebagai Peristiwa, dan seterusnya. Sebuah rentetan puitika yang berada dalam liris reflektif dan narasi kuyup emosi—sebuah pencapaian yang berawal dari 20 November 2010 sampai 05 Februari 2011—sebuah pencapaian kreativitas dalam rentang 10 minggu, energi kreatif yang sebenarnya tak hanya merujuk 82 buah puisi tapi juga ada sekian cerpen, esei-esai sastra dan sosial-budaya, dan mungkin beberapa berita/liputan televisi. Satu aset sastrawiah yang mencengangkan, yang dieksolorasi dan dieksploitasi dengan sangat efisien—tapi tak pernah benar-benar diapresiasi secara benar.
Bagi saya Isbedy merupakan passion serta daya tahan, terlebih ketika bersitemu dengannya selalu ada membawa ransel yang menggelembung di punggung dan tas di tangan. Dengan berjaket dan bertopi ia seperti sedang memindahkan kesiapan untuk mengeksploitasi kepekaan puitik dan mengeksplorasi wacana kemurungan (realitas) sosial—kesiapan yang dimanifestasikan dalam perlengkapan yang kayak arep minggat dalam idiom Surabayaan. Tak heran kalau keutamaan Isbedy sesungguhnya terletak pada produktivitas, bahkan produktivitas yang tak kenal jeda sejak pertengah dekade 1980-an. Rentangan produktivitas (baca: keajekan mengolah kreativitas) yang ada di sekitar hitungan 25 tahunan lebih. Dan dalam rentangan itu kita menemukan karya sastranya berada di berbagai media massa cetak di mana-mana, dan dalam bermacam-macam dan tak putusnya terbit setiap tahun—terutama dalam hitungan dekade terakhir.
Dan ia sebenarnya tak sendirian—ada Soni Farid Maulana yang berkubang dalam puisi an kemudian Bandung Mawardi yang lebih konsentrasi pada esai dan apresiasi. Celakanya, khazanah sastra Indonesia tak begitu peduli dengan fakta itu. Di tengah minat baca sastra yang lemah, yang menyebabkan buku sastra tersenggal—dan seorang Nurel Javissyarqi, sang penerbit yang memegang bendera Pustaka Pujangga, pernah mengatakan pasar ril buku sastra hanya 300 buku, sedangkan seorang penerbit lain di Solo bilang ongkos cetak yang efisien minimal 500 eksemplar dengan titik optimum 1.000 eksemplar—, penghargaan justru lebih dipusatkan pada kualitas cq Khatulistiwa Award, misalnya. Produktivitas bertahan dengan ekplorasi dan eksploitasi kreativitas yang tanpa jeda dan dalam jangka panjang dan dilakukan dengan irasionalitas berterus mengolah kreativitas tak pernah dipedulikan.
Tak ada penghargaan bagi loyalitas buat pengabdian sepanjang masa, karena itu kita berkaca-kaca melihat nasibnya Ratna Indraswari Ibrahim yang sakit dan tak bisa berkreasi. Semua itu dianggap wajar, itu dianggap risiko pribadi dari pengamalan hidup sesuai dengan filsafat Eksistensialisme—seperti pejabat yang siap pensiun dan dihantui KPK. Padahal selain Ratna Indraswari Ibrahim kita telah mencatat dan sekaligus melupakan beberapa sastrawan berbakat yang didera masa surut dan terjerembab dalam sakit dan dianggap rongsokan yang tak perlu diingat. Menurut saya, seharusnya the stakeholder yang berkepentingan dengan sastra Indonesia mau memedulikan pengabdian kreatif sastrawan, dengan hadiah yang bersipat pengabdian lifetime, dan juga semacam fund untuk mengongkosi sastrawan produktif untuk berkarya dalam acuan risidensi.
Pertamina pernah mengundang sastrawan menuliskan tentang kilang minyak di lepas pantai Papua, seorang individu membiayai penulisan novel bertemakan korban G30S/PKI dari Seno Gumira Ajidarma serta cerpen-cerpen bertema kota di Amerika Serikat dari Budi Darma dkk., TSI III meminta beberapa sastrawan menulis puisi serta cerpen tentang Tanjungpinang, dan TSI IV membiayai beberapa sastrawan berbakat ke Halmahera. Tapi itu tak cukup. Dan sebuah dana residensi pada Isbedy dkk. mungkin membuat kita menemukan sebuah tempat serta satu eksotika yang unik dalam sebuah kumpulan puisi dan prosa. Memang! Tapi siapa yang mau peduli kalau eksekutif dan legislatif lebih terpikat membiayai sepak bola dengan APBD kabupaten/kota? Karena—sebenarnya—sastra itu berada di ekor dari proyek pencitraan politis.
Beni Setia, pengarang
04/06/10
Cekik
Beni Setia
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
PINTU terbuka. Lelaki langsing hanya berkaus masuk, dengan secangkir kopi dan rokok terselip di bibir. Ia menutup pintu dengan sepakan kecil kaki kiri. Melangkah tenang, nyaris tanpa bunyi debap sepatu. Meletakkan cangkir kopi -ruapnya menimbulkan kesan intim ruang tamu, dan bukan ruang interogasi. Menarik kursi. Duduk. Memainkan ujung bara, membersihkan sisik sisa pembakaran yang siap luruh jadi abu.
“Rokok?” katanya sambil menyorongkan kotak rokok dan geretan.
Aku termangu. Lelaki itu tersenyum. Tangan kanannya membuat gerakan isyarat. Menganjurkan. Meluruhkan sungkan. Aku ragu. Dengan tenang ia mengeluarkan sebatang, menyelipkan di mulut dan membakarnya. Setelah dua helaan ia memberikannya padaku. Aku menerima. Menyelipkannya dan mulai menarik aroma ke dada. Merasakan atmosfer udara bebas nyetrum jantung, paru-paru dan syaraf.
“Kopi?”
“Terima kasih.”
“Ayo…,” katanya, menyorongkan cangkir kopi itu ke hadapan. Menenggerak-gerakkan kedua tangannya memberi jaminan dan pembebasan. Aku menarik napas. Mengisap ruap kopi dan membiarkannya naik ke kepala lewat syaraf. Lelaki itu menarik berkas yang teronggok di kiri. Membuka stopmap yang ditangkupkan dengan kasar oleh si interogator beruang, yang cuma pinter berteriak, membentak, menggebrak, menjambak, memukul, dan membenturkan wajah di meja.
“Kau membunuh orang,” katanya, “Kenapa?”
Aku diam saja. Tak peduli.
***
“HARYOTO itu temanmu kan?” kata lelaki langsing itu sebelum mengisap rokok yang santai diselipkan di bibir.
Aku tersenyum. Mengangguk. Lelaki itu manggut-manggut. “Teman,” gumannya, sambil membaca berkas, lalu meraih bolpoint dan membuat garis bawah. Meneliti dan membacakan riwayat hidupku -lebih tepatnya: riwayat pendidikan SMP dan SMA-, dengan intonasi jelas, seperti minta dibenarkan. Ia melirik. Aku mengangguk. Mengiyakan.
“Bukan teman kuliahmu, Le?”
“Nggak! Dia di Yogya aku di Bandung. Selulus SMA kami pisah, setiap libur semester jarang ketemu. Ia jarang pulang, dan bila pulang aku yan nggak.”
“Kapan kalain terakhir bertemu?”
“Ya…semalam itu?”
“Pas kejadian itu, ya? Sebelumnya? Kapan? Ingat?”
Aku meraih cangkir kopi. Lelaki itu tersenyum. Mengangguk. Mempersilakan dengan tangan kiri -sambil bersandar ke kursi dan menyelonjorkan kaki di kolong meja sehingga ujung sepatunya yang berkulit kaku dan keras itu terasa menyentuh jari kaki. Aku tidak peduli. Sebatang rokok dan aroma kopi itu tak tertahankan. Aku menyebuli air kehitaman yang masih menyengat itu, sebelum diseruput. Kehangatan menggelusur. Mengendap di lambung. Membangkitkan gema tenang di kubah otak. Ingatan mengembara -jauh.
***
SEJAK SMP kami satu kelas, bahkan sebangku. Jadi tak heran kalau aku pulang sekolah ke rumahnya dan tidur di sana, seperti ia ikut ke rumahku dan tidur, makan, minum, dan diberi uang jajan oleh Mama. Bahkan setiap acara keluarga aku diajak orang tua Haryoto dan ia diajak oleh keluargaku. Ia dianggap adikku oleh keluargaku, dan aku dianggap kakak Haryoto oleh keluarganya -aku lebih tua dua bulanan. Bahkan orang-orang cenderung menyebut si kembar beda telur dan beda rahim. Sesekali malah ada yang menyebut homo.
Semua tahu, kami sangat intim bersahabat. Berkali-kali keluarga kami merencanakan menyewa kamar kos tunggal untuk berdua -kalau kami sama-sama kuliah di Bandung, Yogya, Jakarta, Surabaya atau Malang. Tapi nyatanya kami terdampar di kota yang berbeda. Mungkin karena lulus tes pada tempat berbeda meski menuliskan universitas yang sama -berdasar PMDK yang sama. Benar-benar karena kehendak-Nya. Karena pengaturan peruntungan dan nasib yang berbeda. Aku bablas ke Bandung dan ia cuma sampai di Yogya.
Mulanya aku berpikir tak akan bisa kerasan di Bandung -hawanya lebih dingin dibandingkan Madiun. Bahkan hari-hari pertama pulsa HP melonjak tinggi karena aku selalu konsultasi dengan Haryoto -dan menerima keluhannya. Tapi lambat laun segalanya bisa diatasi. Aku bertemu teman baru. Aku diserap kuliah dan tugas-tugas. Aku mulai menemukan keasyikan ada di lingkungan baru. Merasa enggan untuk sekadar pulang ke Madiun dan bertemu dengan Haryoto. Kontak HP mulai jarang dan menghilang pada akhir tahun pertama kuliah. Itu tanda kami bukan si kembar -dua anak yang beda telur, rahim dan pejantan.
***
“KALAU Lebaran kalian tak bertemu?” kata lelaki itu sambil mematikan rokok di asbak.
Aku menurunkan cangkir kopi yang menutup mulut dari tatapannya. Mengangkat bahu dan menurunkannya cepat sambil berkali-kali menggerakkan kepala -menggeleng.
“Setiap Lebaran Haryoto pulang ke rumah Mbah dari garis Ibu di Trenggalek, di pesisir selatan. Dan sekali ke Semarang, ke keluarga dari garis Ayah, di pantai utara. Karena itu kami cuma bisa kontak lewat HP.”
“Kenapa?”‘
“Aku langsung ke Surabaya, lalu ke keluarga Ayah di Lamongan.”
“Tapi kamu kontak kan?”
“Via HP.”
“Kenapa?”
“Kita masih teman, masih sahabat. Tapi kita hidup di dunia yang berbeda. Aku pikir, Haryoto itu seperti anak kecil yang menemukan mainan baru sehingga lupa bila hari sudah petang dan harus pulang. Membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk hari depan. Hidup yang sebenarnya.”
“Apa itu?”
“Aku punya guru di Bandung. Dia bilang, dunia ini fatamorgana. Penuh tipuan nikmat yang menyesatkan, yang bikin lupa kepada yang sebenarnya. Kita ada untuk diuji-Nya, mengatasi cobaan dan ilusi, memasuki titik akhir yang merupakan pintu belakang dari keberadaan di dunia. Ruang tempat Yang Mengadakan menerima yang diadakan, seperti cermin menampung bayang dan bayangan kembali pada Yang Bercermin. Ruang tempat Yang Mengadakan, bercermin dan membiarkan bayangan merasa perkasa di dunia ilusi, sebelum sadar dan balik kepada Yang Bercermin.”
“Mbulet. Muter-muter, Le.”
“Itu hakikat hidup. Berputar-putar, ruwet, mbulet, dan menyesatkan. Karena itu harus meretas jalan, memutuskan putaran yang menyesatkan. Dengan menarik diri. Zikir. Dengan cincin Nabi Khidir ini.”
“Bagaimana caranya?”
***
AKU sengaja menemui Haryoto. Langsung dari Bandung, ke Madiun setelah yakin ia tak ada di Yogya. Setelah berangkulan. Setelah omong kosong. Setelah banyak tertawa dan menggeleng-geleng kepala: aku langsung menanyakan kuliahnya -”Menyenangkan,” jawabnya. Aku menarik napas. “Bagaimana pergaulanmu?” kataku. Haryoto tersenyum. Mengepalkan mengacungkan jempol. Ter-tawa. Bersandar. Berselonjor sambil mengacungkan jempol di dua tangan.
Aku mengangkat tangan, memutar cincin Nabi Khidir di jari tengah -tiga kali. Lantas pandangan menemukan kesejatian Haryoto hari ini. Tubuhnya, kedua tangan dan kakinya mengembang jadi bentuk yang bulat dan besar. Kepalanya menyempit karena hidungnya memanjang. Pelan-pelan aku sadar: Haryoto berubah jadi gajah. Gajah berbelalai penis, yang digerakkan ke kiri dan ke kanan -mencari sasaran. Aku tersentak. Istigfar. Dan Haryoto terbahak-bahak.
“Masa muda yang menyenangkan.”
“Hidup yang sesat.”
“Hidup merdeka tanpa represi moral.”
“Kau tersesat!”
Haryoto terbahak-bahak. Aku mengulurkan tangan. Menangkap lehernya dan mencengkeram dengan tekanan penuh dari dua jempol di bawah jakun. Haryoto berkelojot. Aku menekan kedelapan jari dan tersenyum ketika mendengar bunyi lembut -tulang leher patah. Memutar balik cincin Nabi Khidir sambil berjalan meninggalkannya sekarat. Pulang. Bikin mi goreng dari mi instan, dengan lauk sosis iris dan telor ceplok. Kemudian polisi datang. Kemudian interogasi pra-PV.
***
POLISI langsing itu bertanya, “Bagaimana caranya?”
Aku mengangkat tangan dan memutar cincin Nabi Khidir tiga kali. Sesaat terlihat wajah lonjongnya memandak dan monyong, seperti muka srigala. Tapi sejak ruas leher tidak ada tangan dan kaki, hanya badan yang memanjang dan melancip jadi ekor. Ia ular berwajah srigala. Tanganku terulur. Spontan. Menjangkau leher dan sekuatnya mencekik -seperti biasanya. Ia berkelojot - tapi sudah terlambat. Telat.
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
PINTU terbuka. Lelaki langsing hanya berkaus masuk, dengan secangkir kopi dan rokok terselip di bibir. Ia menutup pintu dengan sepakan kecil kaki kiri. Melangkah tenang, nyaris tanpa bunyi debap sepatu. Meletakkan cangkir kopi -ruapnya menimbulkan kesan intim ruang tamu, dan bukan ruang interogasi. Menarik kursi. Duduk. Memainkan ujung bara, membersihkan sisik sisa pembakaran yang siap luruh jadi abu.
“Rokok?” katanya sambil menyorongkan kotak rokok dan geretan.
Aku termangu. Lelaki itu tersenyum. Tangan kanannya membuat gerakan isyarat. Menganjurkan. Meluruhkan sungkan. Aku ragu. Dengan tenang ia mengeluarkan sebatang, menyelipkan di mulut dan membakarnya. Setelah dua helaan ia memberikannya padaku. Aku menerima. Menyelipkannya dan mulai menarik aroma ke dada. Merasakan atmosfer udara bebas nyetrum jantung, paru-paru dan syaraf.
“Kopi?”
“Terima kasih.”
“Ayo…,” katanya, menyorongkan cangkir kopi itu ke hadapan. Menenggerak-gerakkan kedua tangannya memberi jaminan dan pembebasan. Aku menarik napas. Mengisap ruap kopi dan membiarkannya naik ke kepala lewat syaraf. Lelaki itu menarik berkas yang teronggok di kiri. Membuka stopmap yang ditangkupkan dengan kasar oleh si interogator beruang, yang cuma pinter berteriak, membentak, menggebrak, menjambak, memukul, dan membenturkan wajah di meja.
“Kau membunuh orang,” katanya, “Kenapa?”
Aku diam saja. Tak peduli.
***
“HARYOTO itu temanmu kan?” kata lelaki langsing itu sebelum mengisap rokok yang santai diselipkan di bibir.
Aku tersenyum. Mengangguk. Lelaki itu manggut-manggut. “Teman,” gumannya, sambil membaca berkas, lalu meraih bolpoint dan membuat garis bawah. Meneliti dan membacakan riwayat hidupku -lebih tepatnya: riwayat pendidikan SMP dan SMA-, dengan intonasi jelas, seperti minta dibenarkan. Ia melirik. Aku mengangguk. Mengiyakan.
“Bukan teman kuliahmu, Le?”
“Nggak! Dia di Yogya aku di Bandung. Selulus SMA kami pisah, setiap libur semester jarang ketemu. Ia jarang pulang, dan bila pulang aku yan nggak.”
“Kapan kalain terakhir bertemu?”
“Ya…semalam itu?”
“Pas kejadian itu, ya? Sebelumnya? Kapan? Ingat?”
Aku meraih cangkir kopi. Lelaki itu tersenyum. Mengangguk. Mempersilakan dengan tangan kiri -sambil bersandar ke kursi dan menyelonjorkan kaki di kolong meja sehingga ujung sepatunya yang berkulit kaku dan keras itu terasa menyentuh jari kaki. Aku tidak peduli. Sebatang rokok dan aroma kopi itu tak tertahankan. Aku menyebuli air kehitaman yang masih menyengat itu, sebelum diseruput. Kehangatan menggelusur. Mengendap di lambung. Membangkitkan gema tenang di kubah otak. Ingatan mengembara -jauh.
***
SEJAK SMP kami satu kelas, bahkan sebangku. Jadi tak heran kalau aku pulang sekolah ke rumahnya dan tidur di sana, seperti ia ikut ke rumahku dan tidur, makan, minum, dan diberi uang jajan oleh Mama. Bahkan setiap acara keluarga aku diajak orang tua Haryoto dan ia diajak oleh keluargaku. Ia dianggap adikku oleh keluargaku, dan aku dianggap kakak Haryoto oleh keluarganya -aku lebih tua dua bulanan. Bahkan orang-orang cenderung menyebut si kembar beda telur dan beda rahim. Sesekali malah ada yang menyebut homo.
Semua tahu, kami sangat intim bersahabat. Berkali-kali keluarga kami merencanakan menyewa kamar kos tunggal untuk berdua -kalau kami sama-sama kuliah di Bandung, Yogya, Jakarta, Surabaya atau Malang. Tapi nyatanya kami terdampar di kota yang berbeda. Mungkin karena lulus tes pada tempat berbeda meski menuliskan universitas yang sama -berdasar PMDK yang sama. Benar-benar karena kehendak-Nya. Karena pengaturan peruntungan dan nasib yang berbeda. Aku bablas ke Bandung dan ia cuma sampai di Yogya.
Mulanya aku berpikir tak akan bisa kerasan di Bandung -hawanya lebih dingin dibandingkan Madiun. Bahkan hari-hari pertama pulsa HP melonjak tinggi karena aku selalu konsultasi dengan Haryoto -dan menerima keluhannya. Tapi lambat laun segalanya bisa diatasi. Aku bertemu teman baru. Aku diserap kuliah dan tugas-tugas. Aku mulai menemukan keasyikan ada di lingkungan baru. Merasa enggan untuk sekadar pulang ke Madiun dan bertemu dengan Haryoto. Kontak HP mulai jarang dan menghilang pada akhir tahun pertama kuliah. Itu tanda kami bukan si kembar -dua anak yang beda telur, rahim dan pejantan.
***
“KALAU Lebaran kalian tak bertemu?” kata lelaki itu sambil mematikan rokok di asbak.
Aku menurunkan cangkir kopi yang menutup mulut dari tatapannya. Mengangkat bahu dan menurunkannya cepat sambil berkali-kali menggerakkan kepala -menggeleng.
“Setiap Lebaran Haryoto pulang ke rumah Mbah dari garis Ibu di Trenggalek, di pesisir selatan. Dan sekali ke Semarang, ke keluarga dari garis Ayah, di pantai utara. Karena itu kami cuma bisa kontak lewat HP.”
“Kenapa?”‘
“Aku langsung ke Surabaya, lalu ke keluarga Ayah di Lamongan.”
“Tapi kamu kontak kan?”
“Via HP.”
“Kenapa?”
“Kita masih teman, masih sahabat. Tapi kita hidup di dunia yang berbeda. Aku pikir, Haryoto itu seperti anak kecil yang menemukan mainan baru sehingga lupa bila hari sudah petang dan harus pulang. Membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk hari depan. Hidup yang sebenarnya.”
“Apa itu?”
“Aku punya guru di Bandung. Dia bilang, dunia ini fatamorgana. Penuh tipuan nikmat yang menyesatkan, yang bikin lupa kepada yang sebenarnya. Kita ada untuk diuji-Nya, mengatasi cobaan dan ilusi, memasuki titik akhir yang merupakan pintu belakang dari keberadaan di dunia. Ruang tempat Yang Mengadakan menerima yang diadakan, seperti cermin menampung bayang dan bayangan kembali pada Yang Bercermin. Ruang tempat Yang Mengadakan, bercermin dan membiarkan bayangan merasa perkasa di dunia ilusi, sebelum sadar dan balik kepada Yang Bercermin.”
“Mbulet. Muter-muter, Le.”
“Itu hakikat hidup. Berputar-putar, ruwet, mbulet, dan menyesatkan. Karena itu harus meretas jalan, memutuskan putaran yang menyesatkan. Dengan menarik diri. Zikir. Dengan cincin Nabi Khidir ini.”
“Bagaimana caranya?”
***
AKU sengaja menemui Haryoto. Langsung dari Bandung, ke Madiun setelah yakin ia tak ada di Yogya. Setelah berangkulan. Setelah omong kosong. Setelah banyak tertawa dan menggeleng-geleng kepala: aku langsung menanyakan kuliahnya -”Menyenangkan,” jawabnya. Aku menarik napas. “Bagaimana pergaulanmu?” kataku. Haryoto tersenyum. Mengepalkan mengacungkan jempol. Ter-tawa. Bersandar. Berselonjor sambil mengacungkan jempol di dua tangan.
Aku mengangkat tangan, memutar cincin Nabi Khidir di jari tengah -tiga kali. Lantas pandangan menemukan kesejatian Haryoto hari ini. Tubuhnya, kedua tangan dan kakinya mengembang jadi bentuk yang bulat dan besar. Kepalanya menyempit karena hidungnya memanjang. Pelan-pelan aku sadar: Haryoto berubah jadi gajah. Gajah berbelalai penis, yang digerakkan ke kiri dan ke kanan -mencari sasaran. Aku tersentak. Istigfar. Dan Haryoto terbahak-bahak.
“Masa muda yang menyenangkan.”
“Hidup yang sesat.”
“Hidup merdeka tanpa represi moral.”
“Kau tersesat!”
Haryoto terbahak-bahak. Aku mengulurkan tangan. Menangkap lehernya dan mencengkeram dengan tekanan penuh dari dua jempol di bawah jakun. Haryoto berkelojot. Aku menekan kedelapan jari dan tersenyum ketika mendengar bunyi lembut -tulang leher patah. Memutar balik cincin Nabi Khidir sambil berjalan meninggalkannya sekarat. Pulang. Bikin mi goreng dari mi instan, dengan lauk sosis iris dan telor ceplok. Kemudian polisi datang. Kemudian interogasi pra-PV.
***
POLISI langsing itu bertanya, “Bagaimana caranya?”
Aku mengangkat tangan dan memutar cincin Nabi Khidir tiga kali. Sesaat terlihat wajah lonjongnya memandak dan monyong, seperti muka srigala. Tapi sejak ruas leher tidak ada tangan dan kaki, hanya badan yang memanjang dan melancip jadi ekor. Ia ular berwajah srigala. Tanganku terulur. Spontan. Menjangkau leher dan sekuatnya mencekik -seperti biasanya. Ia berkelojot - tapi sudah terlambat. Telat.
01/05/10
Bermula dari Sriwijaya
Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/
AWAL dari fiksi berlatar Sriwijaya setebal xiv + 454 halaman ini, lihat Yudhi Herwibowo, Pandaya SriwijayaTTK2 Dendam dan Prahara di Bhumi Sriwijaya, Sebuah Novel, Bentang Pustaka, September 2009-adalah cinta buta Pramodawardhani, putri pewaris tahta Samaratungga dan keponakan Balaputradewa, si pemangku estafet trah Sailendra. Yang memutuskan menikah dengan Jatiningrat, keturunan Sanjaya, hingga kuasa atas Mataram kuno dan Sriwijaya akan jatuh ke tangan trah Sanjaya, spontan patriarki bukan milik trah Sailendra lagi.
Dan krisis legitimasi kuasa trah memuncak saat Samaratungga wapat dan tahta jatuh pada Pramodawardhani tak peduli Jayaningrat bernadar hanya akan konsentrasi pada meditasi mencari pembebasan duniawi. Dan atas pertimbangan mempertahankan kuasa tetap di garis patriarki trah Sailendra Balaputradewa adik Samaratungga serta paman Pramodawardhabi “berontak” dan “ditumpas” di Desa Iwung. Sebuah momen kekalahan dan pembantaian yang jadi trauma, terutama setelah ia “dihukum buang”, dengan jadi raja Sriwijaya di Sumatra selatan, nun di seberang Bhumijawa.
Keberkuasaan di pengasingan yang selalu dianggap sebagai kekalahan total trah Sailendra, yang memicu obsesi pribadi ingin menyerang dan menaklukkan Mataram Sanjaya. Ide penaklukan yang tidak pernah kesampaian karena beberapa datu (negara) jajahan Sriwijaya di Sumatra, beberapa anak-anak trah penguasa setempat di Sumatra terusik kelemahan hegemoni penguasa Sriwijaya, bermimpi bebas, dan berkonspirasi memberontak. Itu latar, konteks dan titik tolak novel Yudhi Herwibowo, fakta krisis hegemoni Sriwijaya, datu Telaga Batu, sekaligus nostalgia kejayaan masa lalu yang ingin dibangkitkan lagi saat melihat pelemahan hegemoni datu Telaga Batu.
* * *
IDE makro itu dikongkritkan di tingkat mikro dengan cerita tentang Biksu Wang Hoi di Sumatra, yang tersisa dari si sepasang pendekar Liang Qiang. Pasangan yang cape mengarungi kang-ouw, lembah air mata dan darah, dengan memilih mundur dari keramaian. Sayang niat itu gagal karena seluruh musuh bersatu, mengeroyok mereka. Si istri mati, sang suami memutuskan jadi biksu dan mengembara sebagai pendakwah ajaran Buddha. Bersua Tunggasamudra, anak dengan kelainan fisik, lahir dengan tiga buah tangan, dan selamat dari hanyut disapu banjir, yang diangkatnya jadi murid.
Yang menarik, semua tokoh kunci novel memiliki pertanda alam dan fisik yang luar biasa. Wantra Santra, kepala pasukan rahasia (intel) Sriwijaya adalah anak yang lahir saat letusan gunung berapi dan selamat sehingga diangkat anak oleh Mahak Ilir. Penguasa datu Minanga Tanwa. Keturunan sah Kerajaan Melayu yang memberontak, dikalahkan, dan minta imbalan balas budi untuk menuntaskan dendamnya kepada si penakluk: Abdibawasepa.
Panglima Sriwijaya yang difitnah Wantra Sentra, yang lari dan menjadi bajak laut. Kara Baday, anak Abdibawasepa, si pewaris Abdibawasepa, yang ditarik jadi panglima muda Sriwijaya setelah mencari jasa memusnahkan bajak laut yang lain, sebelum dikorbankan Jaraq Sinya, penglima angkatan laut Sriwijaya
Lantas Agiriya dan kemudian Sangda Alin, putri Ih Yatra, penguasa datu Muara Jambi yang berontak, gadis tomb boy dan tubuhnya meruapkan wangi bunga. Magra Sekta yang dikutuk memiliki kemampuan clairvoyance bisa melihat nasib orang lain dengan memandang.
Cahyadawasuna, anak penguasa Talang Bantas yang meninggal karena sakit dan kadatuannya musnah ditimbun debu gunung meletus, seperti nasib Mataram kuno. Tokoh ini meminum air rendaman Bunga Sukmajiwa, dan ia selamat dari bencana tertimbun lava dingindengan bersemedi 13 hari, kemudian ia diangkat jadi penasehat Balaputradewa.
Dan cerita berkelindanan di antara mereka. Balaputradewa, sebagai si penerima tongkat estafet trah Sailendra,yang merasa dikalahkan secara halus oleh trah Sanjata, dan ingin memerangi Mataram kuno di Jawa. Kara Baday yang ingin membersihkan nama baik ayahnya, yang difitnah berontak pada Sriwijaya sehingga mau melakukan apa saja, dan mati sia-sia di tangan Tunggasamudra setelah ia merasa dikhianati oleh Jara Sinya. Jara Sinya yang melakukan apa saja demi keagungan Sriwijaya, seperti Wantra Sentra khilaf mengiyakan tuntutan balas budi Mahak Ilik, dengan memfitnah Abdibawasepa. Atau Agiriya yang dendam sebab keluarga dan perguruannya dibantai kelompok Wantra Sentra. Dan tentu saja ambisi Mahak Ilik, Ih Yatra dan Panglima Tambu Karen yang berilusi ingin jadi penguasa dengan berontak KRGpadaKRG Sriwijaya.
* * *
SEMUA kait berkait, meski buku tebal ini mengesankan hanya satu penggalan dari sebuah serial, yang seharusnya ada awalan dan ada akhirannya, tak bisa ditutup dengan kesadaran Budhis Balaputradewa yang kembali terkenang kepada banjir darah pembantaian dari pemberontakannya yang kalah, sekaligus perasaan sedang berkukuh dengan harga diri semu duniawi karena Pramorawardhani itu telah menyerahkan tahta Mataram dan Sriwijaya padanya supaya bisa bebas bermeditasi. Apa yang sebenarnya dicari dalam hidup ini? Apakah tidak ada cara hidup lain, yang lebih sederhana tetapi tentram tanpa ilusi kekuasaan dan keberkuasaan?
Semua berkelindan, sekaligus membelit serta menjerat seperti jaring laba-laba, sebagaimana Tunggasamudra yang tiba-tiba ada dalam gebalau dendam, prahara dan cinta. Di penghujung cerita, setelah menyampaikan berita kematian Kara baday pada kekasihnya, Aulan Rema, ia memilih terlepas dari kilau dunia dan sekaligus terbebas dari gebalau duniawi, memilih jalan sunyi yang damai dan mensejahterakan orang lain. Sebuah pencerahan Budhistik yang sangat indah, dengan latar Sriwijaya tapi ada banyak jurus Mandarin yang tidak bersipat Sriwijaya tapi, hal yang tak terhindarkan karena kita terbiasa dengan teks dan budaya silat China dan Jepang. Sekaligus sebuah janji: akan ada cerita petualang Tunggasamudra berikutnya.
Karena, konteks kejiwaan yang sudah terbentuk sayang kalau tak dilanjutkan. ***
http://www.suarakarya-online.com/
AWAL dari fiksi berlatar Sriwijaya setebal xiv + 454 halaman ini, lihat Yudhi Herwibowo, Pandaya SriwijayaTTK2 Dendam dan Prahara di Bhumi Sriwijaya, Sebuah Novel, Bentang Pustaka, September 2009-adalah cinta buta Pramodawardhani, putri pewaris tahta Samaratungga dan keponakan Balaputradewa, si pemangku estafet trah Sailendra. Yang memutuskan menikah dengan Jatiningrat, keturunan Sanjaya, hingga kuasa atas Mataram kuno dan Sriwijaya akan jatuh ke tangan trah Sanjaya, spontan patriarki bukan milik trah Sailendra lagi.
Dan krisis legitimasi kuasa trah memuncak saat Samaratungga wapat dan tahta jatuh pada Pramodawardhani tak peduli Jayaningrat bernadar hanya akan konsentrasi pada meditasi mencari pembebasan duniawi. Dan atas pertimbangan mempertahankan kuasa tetap di garis patriarki trah Sailendra Balaputradewa adik Samaratungga serta paman Pramodawardhabi “berontak” dan “ditumpas” di Desa Iwung. Sebuah momen kekalahan dan pembantaian yang jadi trauma, terutama setelah ia “dihukum buang”, dengan jadi raja Sriwijaya di Sumatra selatan, nun di seberang Bhumijawa.
Keberkuasaan di pengasingan yang selalu dianggap sebagai kekalahan total trah Sailendra, yang memicu obsesi pribadi ingin menyerang dan menaklukkan Mataram Sanjaya. Ide penaklukan yang tidak pernah kesampaian karena beberapa datu (negara) jajahan Sriwijaya di Sumatra, beberapa anak-anak trah penguasa setempat di Sumatra terusik kelemahan hegemoni penguasa Sriwijaya, bermimpi bebas, dan berkonspirasi memberontak. Itu latar, konteks dan titik tolak novel Yudhi Herwibowo, fakta krisis hegemoni Sriwijaya, datu Telaga Batu, sekaligus nostalgia kejayaan masa lalu yang ingin dibangkitkan lagi saat melihat pelemahan hegemoni datu Telaga Batu.
* * *
IDE makro itu dikongkritkan di tingkat mikro dengan cerita tentang Biksu Wang Hoi di Sumatra, yang tersisa dari si sepasang pendekar Liang Qiang. Pasangan yang cape mengarungi kang-ouw, lembah air mata dan darah, dengan memilih mundur dari keramaian. Sayang niat itu gagal karena seluruh musuh bersatu, mengeroyok mereka. Si istri mati, sang suami memutuskan jadi biksu dan mengembara sebagai pendakwah ajaran Buddha. Bersua Tunggasamudra, anak dengan kelainan fisik, lahir dengan tiga buah tangan, dan selamat dari hanyut disapu banjir, yang diangkatnya jadi murid.
Yang menarik, semua tokoh kunci novel memiliki pertanda alam dan fisik yang luar biasa. Wantra Santra, kepala pasukan rahasia (intel) Sriwijaya adalah anak yang lahir saat letusan gunung berapi dan selamat sehingga diangkat anak oleh Mahak Ilir. Penguasa datu Minanga Tanwa. Keturunan sah Kerajaan Melayu yang memberontak, dikalahkan, dan minta imbalan balas budi untuk menuntaskan dendamnya kepada si penakluk: Abdibawasepa.
Panglima Sriwijaya yang difitnah Wantra Sentra, yang lari dan menjadi bajak laut. Kara Baday, anak Abdibawasepa, si pewaris Abdibawasepa, yang ditarik jadi panglima muda Sriwijaya setelah mencari jasa memusnahkan bajak laut yang lain, sebelum dikorbankan Jaraq Sinya, penglima angkatan laut Sriwijaya
Lantas Agiriya dan kemudian Sangda Alin, putri Ih Yatra, penguasa datu Muara Jambi yang berontak, gadis tomb boy dan tubuhnya meruapkan wangi bunga. Magra Sekta yang dikutuk memiliki kemampuan clairvoyance bisa melihat nasib orang lain dengan memandang.
Cahyadawasuna, anak penguasa Talang Bantas yang meninggal karena sakit dan kadatuannya musnah ditimbun debu gunung meletus, seperti nasib Mataram kuno. Tokoh ini meminum air rendaman Bunga Sukmajiwa, dan ia selamat dari bencana tertimbun lava dingindengan bersemedi 13 hari, kemudian ia diangkat jadi penasehat Balaputradewa.
Dan cerita berkelindanan di antara mereka. Balaputradewa, sebagai si penerima tongkat estafet trah Sailendra,yang merasa dikalahkan secara halus oleh trah Sanjata, dan ingin memerangi Mataram kuno di Jawa. Kara Baday yang ingin membersihkan nama baik ayahnya, yang difitnah berontak pada Sriwijaya sehingga mau melakukan apa saja, dan mati sia-sia di tangan Tunggasamudra setelah ia merasa dikhianati oleh Jara Sinya. Jara Sinya yang melakukan apa saja demi keagungan Sriwijaya, seperti Wantra Sentra khilaf mengiyakan tuntutan balas budi Mahak Ilik, dengan memfitnah Abdibawasepa. Atau Agiriya yang dendam sebab keluarga dan perguruannya dibantai kelompok Wantra Sentra. Dan tentu saja ambisi Mahak Ilik, Ih Yatra dan Panglima Tambu Karen yang berilusi ingin jadi penguasa dengan berontak KRGpadaKRG Sriwijaya.
* * *
SEMUA kait berkait, meski buku tebal ini mengesankan hanya satu penggalan dari sebuah serial, yang seharusnya ada awalan dan ada akhirannya, tak bisa ditutup dengan kesadaran Budhis Balaputradewa yang kembali terkenang kepada banjir darah pembantaian dari pemberontakannya yang kalah, sekaligus perasaan sedang berkukuh dengan harga diri semu duniawi karena Pramorawardhani itu telah menyerahkan tahta Mataram dan Sriwijaya padanya supaya bisa bebas bermeditasi. Apa yang sebenarnya dicari dalam hidup ini? Apakah tidak ada cara hidup lain, yang lebih sederhana tetapi tentram tanpa ilusi kekuasaan dan keberkuasaan?
Semua berkelindan, sekaligus membelit serta menjerat seperti jaring laba-laba, sebagaimana Tunggasamudra yang tiba-tiba ada dalam gebalau dendam, prahara dan cinta. Di penghujung cerita, setelah menyampaikan berita kematian Kara baday pada kekasihnya, Aulan Rema, ia memilih terlepas dari kilau dunia dan sekaligus terbebas dari gebalau duniawi, memilih jalan sunyi yang damai dan mensejahterakan orang lain. Sebuah pencerahan Budhistik yang sangat indah, dengan latar Sriwijaya tapi ada banyak jurus Mandarin yang tidak bersipat Sriwijaya tapi, hal yang tak terhindarkan karena kita terbiasa dengan teks dan budaya silat China dan Jepang. Sekaligus sebuah janji: akan ada cerita petualang Tunggasamudra berikutnya.
Karena, konteks kejiwaan yang sudah terbentuk sayang kalau tak dilanjutkan. ***
15/01/09
U L A R B U N T U N G
Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/
DUA PULUH LIMA tahun yang lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai, berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu, sebagai pamasok pabrik gula di M -- yang sengaja dibuat pemerintah kolonial Belanda, untuk menguras kekayaan alam C dengan memanpaatkan rakyat yang lebih suka mengalah -- hampir satu abad lampau. Maklum, dua puluh lima tahun lalu, yang namanya jalan kampung kami itu masih berupa setapak, yang melintas di atas saluran di atas empat batang kelapa yang dibaringkan berjajar begitu saja.
Tepat di mana pos kamling kini berdiri dulu tumbuh sebatang cangkring, yang gapuk dan sudah doyong miring ke setapak. Di bawah perakarannya ada rongga yang terbentuk dan menampung menampung buangan air sawah dan bermuara ke irrigais -- yang saat itu belum diberi sempadan tembok penguat. Katanya, di sana bersarang ular hitam buntung, bersama ratusan lele yang sesekali ke luar geronggang dan berkecipak bagai menantang dipancing. Tapi tak seorang yang berani menangkapnya, karena ada ular hitam buntung sehingga pohon cangkring itu dianggap wingit -- selepas Magrib tidak ada orang yang berani mendekatinya. Dan kalau lele itu mijah, menarikan gairah mau kawin, orang-orang kampung hanya berani memancingnya di siang hari, itu pun dengan melampar umpan berkail dari seberang.
Hasilnya, lumayan untuk lauk makan. Terutama ketika musim penghujan sudah memuncak dan pekerjaan di sawah dan ladang tebu tuntas, atau saat kemarau beranjak memuncak saat sawah dipusokan dan daun tebu di ladang baru mengering sebagaian -- sebagai pertanda siap dikoyak menejalang panen lima sampai enam minggu lagi.
* * *
SAMPAI sekarang orang-orang kampung selalu datang ke saluran. Menurunkan tangga kayu yang cuma memiliki dua undakan ke saluran, menyandarkan pada miring sempadan berlepa beton kering dengan permukaan paruh pecahan batu kali, lantas si bersangkutan menurunkan celana dan bertengger pada undakan pertama atau kedua -- tergantung permukaan air -- sambil tangannya memegang pathok yang ditancapkan di sepanjang irigasi. Pathok yang miring -- di sepanjang saluran banyak terdapat pathok semacam itu -- sedang pathok yang tegak dan biasanya jauh dari bibir irigasi khusus untuk mengikatkan tali penyancang kambing.
Dan karena di saluran itu banyak orang yang lewat, ke sawah, mengecek kambing atau kebelet, maka [biasanya] kaum wanita membawa payung yang kemudian dikembangkan dan dijadikan gelembung pengaling ke arah jalur inspeksi irigasi pengairan selebar 2 meter. Tapi pantat mereka terlihat dari mana-mana, dan orang-orang kampung terkadang nongkrong di jembatan -- dulu hanya batang kelapa dan cangkring ranggas -- sambil melihati setiap pantat dengan wajah manis si pemiliknya disembunyikan di balik payung -- bagai burung onta.
Sekarang terpikir, mitos ular hitam buntung itu mungkin hanya dicetuskan kaum ibu sebagai sindiran pada remaja dan bapak yang suka mengobrol di bawah cangkring ranggas di jembatan batang kelapa. Sebuah makian sayang pada fakta mata keranjang kaum lelaki kampung, dan sekaligus satu kesempatan resmi bagi mereka buat unjuk kekuatan menguji pesona seksual mereka dengan mempertontonkan bentuk bulat utuh dan warna kulit pantat mereka. Memang. Di kampung ibu-ibu berbicara tentang sedia payung sebelum bab -- bukan sebelum hujan. Dan sepanjang sore wanita kampung terkadang bagai sengaja bergilir bab. Kecuali yang sudah tua, yang mengalah dengan membiasakan diri setor di pagi buta atau malam hari. Dan banyak orang yang sengaja memberi tahu jadwal bab dari para perawan kampung, agar mereka bisa bergiliran mengawasi dan melihat pantatnya. Kemudian bertukar inpormasi, mengadu fantasi, dan saling mendorong untuk mendekati si pemilik dan berbicara tanpa pengaling.
Dulu, kata para orang tua, orang kampung masih senang mandi di saluran irigasi itu, terutama di musim kemarau ketika air di sana begitu bening dan terasa masih hangat dalam hamparan pesawahan yang dingin berangin. Sekarang tidak ada lagi yang berani mandi di saluran. Maklum, sebelum sampai di kampung kami saluran itu melalui banyak kampung, yang menggerombol jadi kesatuan kota [kecamatan], di mana mereka setia dengan kultur agraris bab di bibir saluran, dan sekaligus sampah rumah tangga dan segala sisa dibuang ke saluran secara terus terang. Lagi pula, rezim otoritarian Orba mengubah kebiasaan agraris alami itu jadi gaya artifisial perkotaan, di mana setiap rumah dipaksa harus mempunyai sumur, kamar mandi dan jamban pribadi, via program Lomba Desa atau planologi kota kecil Adipura -- program yang menuntut partisipasi penuh warga. Dengan program pelebaran jalan tanpa kompensasi ganti rugi, dan celakanya pelebaran dan aspalisasi jalan kampung itu diklaim sebagai -- selain ancang-ancang kampanye yang berikutnya -- manifestasi syukur rezim yang selalu mendominasi DPR/MPR dan didukung rakyat, lewat pemilu semu.
Sampai saat itu: sebagian dari kami masih setia bertengger. Tapi pelebaran dan aspalisasi itulah yang menyebabkan pohon cangkring ditebang -- bersamaan dengan jamban umum dibangun dan tiap rumah dipaksa berjamban dengan gerakan arisan septic tank. Tak ada yang berani menebang sesungguhnya, sehingga kamituo terpaksa turun tangan menebangnya. Kini pohon itu hilang, bekasnya ada di tengah jalan -- gua lele musnah diuruk, lele-lele ditangkapi dan digoreng atau di-bothok, tapi ular hitam buntung tidak ada --, tapi tiga bulan kemudian kamituo itu sakit parah dan meninggal. "Itulah arti peringatan orang tua," kata orang-orang kampung -- dan Syukrun, yang halaman rumahnya tergusur, sinis menyebutnya sebagai pahlawan pembangunan, dan malah mengusulkan agar nama jalan utama kampung kami itu Salkang -- penyesalan hadir belakangan. Tapi kami segera melupakan sinismenya itu, terutama karena kami harus punya pos kamling RT, yang segera saja dibangun di pinggir jembatan, karena kini kami punya pagar beton jembatan untuk duduk berjuntai sampai malam, untuk mengobrol dan tetap mengintip pantat yang membulat separuh bola dan lebih putih dari dari wajah manis dialing payung.
Kini kalau dipikir: Kami akrab sebagai komunitas guyub sekampung karena saling kenal wajah dan pantat masing-masing -- seperti aku hapal pantat istriku sejak kanak-kanak, meski baru di sepuluh tahun tahun terakhir ini itu sah diremas.
* * *
ZAMAN Orba selalu ada instruksi resmi untuk melakukan jaga malam, ronda, terutama kalau mau ada pemilu, sidang umum, atau cuma gertakan tentang gerakan subversif-seperatisme yang menyusup ke daerah, sehingga pos kamling selalu terisi dan orang-orang yang tak kabagian giliran jaga terkadang duduk menemani di pagar jembatan -- sampai jam 23.00, setelah bertengger. Mengobrol. Main catur. Dan sejak sepuluh tahun terakhir ini tidak ada lagi perintah semam itu, dan kalaupun ada orang tidak segan menghindar menolak halus dengan segala alas an tanpa takut dituduh memberontak pada negara. Kini pos kamling dan jembatan jadi tempat remaja yang tidak pergi menggarap sawah, menjadi buruh tani atau menggarap ladang tebu, dan ke pabrik di J, S, dan B. Mereka berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi sampai pagi, menenggak arak oplosan, dan berteriak-teriak mabuk -- bahkan muntah.
Terkadang kami merasa sangat terganggu tapi tak tahu harus berbuat apa lagi --karenanya terpaksa membiarkannya bernyanyi, mabuk, berteriak-teriak dan muntah. Mereka hanya anak yang lepas SMP dan ada satu dua yang lepas SMA, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah mereka lulus dan orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan mereka. Sedangkan kerja, yang cuma dengan mengandalkan tenaga otot tanpa ketrampilan, di kampung dan kota kecamatan C tidak selalu ada -- selalu sudah diambil yang lebih tua dan yang sudah menikah. Masa luang panjang menganggur itu tidak bisa ditekuk dan lunas dengan tidur sepanjang siang -- mereka terjaga di malam hari, terpaksa kembali berkumpul, menenggak arak oplosan dan bernyanyi menyerukan harapan, amarah, sumpek dan putus asa.
Mereka kehilangan motivasi karena kini tak lagi bisa menandai pantat perawan dibalik payung -- karena tiap rumah tangga mapan di kampung punya jamban pribadi -- sementara banyak gadis kampung kami menjadi babu atau buruh pabrik di J, K, B, M, atau S. Dan merekapun terus bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Di sepanjang tahun yang akan cuma bermakna sia-sia sepanjang sisa umur dan karena ulah mereka itu tak lagi membangkitkan rasa marah, malahan makin hari semakin mengiris perasaan -- karena aku membayangkan anak lelakiku yang kini berusia 8 tahun itu hanya akan bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Seakan-akan mereka hanya dilahirkan untuk bernyanyi -- senantiasa berteriak ke tengah kehampaan gurun pasir yang sesak penuh fatamorgana. Ya!***
*)Pengarang E-Mail: benisetia54@yahoo.com
http://www.suarakarya-online.com/
DUA PULUH LIMA tahun yang lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai, berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu, sebagai pamasok pabrik gula di M -- yang sengaja dibuat pemerintah kolonial Belanda, untuk menguras kekayaan alam C dengan memanpaatkan rakyat yang lebih suka mengalah -- hampir satu abad lampau. Maklum, dua puluh lima tahun lalu, yang namanya jalan kampung kami itu masih berupa setapak, yang melintas di atas saluran di atas empat batang kelapa yang dibaringkan berjajar begitu saja.
Tepat di mana pos kamling kini berdiri dulu tumbuh sebatang cangkring, yang gapuk dan sudah doyong miring ke setapak. Di bawah perakarannya ada rongga yang terbentuk dan menampung menampung buangan air sawah dan bermuara ke irrigais -- yang saat itu belum diberi sempadan tembok penguat. Katanya, di sana bersarang ular hitam buntung, bersama ratusan lele yang sesekali ke luar geronggang dan berkecipak bagai menantang dipancing. Tapi tak seorang yang berani menangkapnya, karena ada ular hitam buntung sehingga pohon cangkring itu dianggap wingit -- selepas Magrib tidak ada orang yang berani mendekatinya. Dan kalau lele itu mijah, menarikan gairah mau kawin, orang-orang kampung hanya berani memancingnya di siang hari, itu pun dengan melampar umpan berkail dari seberang.
Hasilnya, lumayan untuk lauk makan. Terutama ketika musim penghujan sudah memuncak dan pekerjaan di sawah dan ladang tebu tuntas, atau saat kemarau beranjak memuncak saat sawah dipusokan dan daun tebu di ladang baru mengering sebagaian -- sebagai pertanda siap dikoyak menejalang panen lima sampai enam minggu lagi.
* * *
SAMPAI sekarang orang-orang kampung selalu datang ke saluran. Menurunkan tangga kayu yang cuma memiliki dua undakan ke saluran, menyandarkan pada miring sempadan berlepa beton kering dengan permukaan paruh pecahan batu kali, lantas si bersangkutan menurunkan celana dan bertengger pada undakan pertama atau kedua -- tergantung permukaan air -- sambil tangannya memegang pathok yang ditancapkan di sepanjang irigasi. Pathok yang miring -- di sepanjang saluran banyak terdapat pathok semacam itu -- sedang pathok yang tegak dan biasanya jauh dari bibir irigasi khusus untuk mengikatkan tali penyancang kambing.
Dan karena di saluran itu banyak orang yang lewat, ke sawah, mengecek kambing atau kebelet, maka [biasanya] kaum wanita membawa payung yang kemudian dikembangkan dan dijadikan gelembung pengaling ke arah jalur inspeksi irigasi pengairan selebar 2 meter. Tapi pantat mereka terlihat dari mana-mana, dan orang-orang kampung terkadang nongkrong di jembatan -- dulu hanya batang kelapa dan cangkring ranggas -- sambil melihati setiap pantat dengan wajah manis si pemiliknya disembunyikan di balik payung -- bagai burung onta.
Sekarang terpikir, mitos ular hitam buntung itu mungkin hanya dicetuskan kaum ibu sebagai sindiran pada remaja dan bapak yang suka mengobrol di bawah cangkring ranggas di jembatan batang kelapa. Sebuah makian sayang pada fakta mata keranjang kaum lelaki kampung, dan sekaligus satu kesempatan resmi bagi mereka buat unjuk kekuatan menguji pesona seksual mereka dengan mempertontonkan bentuk bulat utuh dan warna kulit pantat mereka. Memang. Di kampung ibu-ibu berbicara tentang sedia payung sebelum bab -- bukan sebelum hujan. Dan sepanjang sore wanita kampung terkadang bagai sengaja bergilir bab. Kecuali yang sudah tua, yang mengalah dengan membiasakan diri setor di pagi buta atau malam hari. Dan banyak orang yang sengaja memberi tahu jadwal bab dari para perawan kampung, agar mereka bisa bergiliran mengawasi dan melihat pantatnya. Kemudian bertukar inpormasi, mengadu fantasi, dan saling mendorong untuk mendekati si pemilik dan berbicara tanpa pengaling.
Dulu, kata para orang tua, orang kampung masih senang mandi di saluran irigasi itu, terutama di musim kemarau ketika air di sana begitu bening dan terasa masih hangat dalam hamparan pesawahan yang dingin berangin. Sekarang tidak ada lagi yang berani mandi di saluran. Maklum, sebelum sampai di kampung kami saluran itu melalui banyak kampung, yang menggerombol jadi kesatuan kota [kecamatan], di mana mereka setia dengan kultur agraris bab di bibir saluran, dan sekaligus sampah rumah tangga dan segala sisa dibuang ke saluran secara terus terang. Lagi pula, rezim otoritarian Orba mengubah kebiasaan agraris alami itu jadi gaya artifisial perkotaan, di mana setiap rumah dipaksa harus mempunyai sumur, kamar mandi dan jamban pribadi, via program Lomba Desa atau planologi kota kecil Adipura -- program yang menuntut partisipasi penuh warga. Dengan program pelebaran jalan tanpa kompensasi ganti rugi, dan celakanya pelebaran dan aspalisasi jalan kampung itu diklaim sebagai -- selain ancang-ancang kampanye yang berikutnya -- manifestasi syukur rezim yang selalu mendominasi DPR/MPR dan didukung rakyat, lewat pemilu semu.
Sampai saat itu: sebagian dari kami masih setia bertengger. Tapi pelebaran dan aspalisasi itulah yang menyebabkan pohon cangkring ditebang -- bersamaan dengan jamban umum dibangun dan tiap rumah dipaksa berjamban dengan gerakan arisan septic tank. Tak ada yang berani menebang sesungguhnya, sehingga kamituo terpaksa turun tangan menebangnya. Kini pohon itu hilang, bekasnya ada di tengah jalan -- gua lele musnah diuruk, lele-lele ditangkapi dan digoreng atau di-bothok, tapi ular hitam buntung tidak ada --, tapi tiga bulan kemudian kamituo itu sakit parah dan meninggal. "Itulah arti peringatan orang tua," kata orang-orang kampung -- dan Syukrun, yang halaman rumahnya tergusur, sinis menyebutnya sebagai pahlawan pembangunan, dan malah mengusulkan agar nama jalan utama kampung kami itu Salkang -- penyesalan hadir belakangan. Tapi kami segera melupakan sinismenya itu, terutama karena kami harus punya pos kamling RT, yang segera saja dibangun di pinggir jembatan, karena kini kami punya pagar beton jembatan untuk duduk berjuntai sampai malam, untuk mengobrol dan tetap mengintip pantat yang membulat separuh bola dan lebih putih dari dari wajah manis dialing payung.
Kini kalau dipikir: Kami akrab sebagai komunitas guyub sekampung karena saling kenal wajah dan pantat masing-masing -- seperti aku hapal pantat istriku sejak kanak-kanak, meski baru di sepuluh tahun tahun terakhir ini itu sah diremas.
* * *
ZAMAN Orba selalu ada instruksi resmi untuk melakukan jaga malam, ronda, terutama kalau mau ada pemilu, sidang umum, atau cuma gertakan tentang gerakan subversif-seperatisme yang menyusup ke daerah, sehingga pos kamling selalu terisi dan orang-orang yang tak kabagian giliran jaga terkadang duduk menemani di pagar jembatan -- sampai jam 23.00, setelah bertengger. Mengobrol. Main catur. Dan sejak sepuluh tahun terakhir ini tidak ada lagi perintah semam itu, dan kalaupun ada orang tidak segan menghindar menolak halus dengan segala alas an tanpa takut dituduh memberontak pada negara. Kini pos kamling dan jembatan jadi tempat remaja yang tidak pergi menggarap sawah, menjadi buruh tani atau menggarap ladang tebu, dan ke pabrik di J, S, dan B. Mereka berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi sampai pagi, menenggak arak oplosan, dan berteriak-teriak mabuk -- bahkan muntah.
Terkadang kami merasa sangat terganggu tapi tak tahu harus berbuat apa lagi --karenanya terpaksa membiarkannya bernyanyi, mabuk, berteriak-teriak dan muntah. Mereka hanya anak yang lepas SMP dan ada satu dua yang lepas SMA, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah mereka lulus dan orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan mereka. Sedangkan kerja, yang cuma dengan mengandalkan tenaga otot tanpa ketrampilan, di kampung dan kota kecamatan C tidak selalu ada -- selalu sudah diambil yang lebih tua dan yang sudah menikah. Masa luang panjang menganggur itu tidak bisa ditekuk dan lunas dengan tidur sepanjang siang -- mereka terjaga di malam hari, terpaksa kembali berkumpul, menenggak arak oplosan dan bernyanyi menyerukan harapan, amarah, sumpek dan putus asa.
Mereka kehilangan motivasi karena kini tak lagi bisa menandai pantat perawan dibalik payung -- karena tiap rumah tangga mapan di kampung punya jamban pribadi -- sementara banyak gadis kampung kami menjadi babu atau buruh pabrik di J, K, B, M, atau S. Dan merekapun terus bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Di sepanjang tahun yang akan cuma bermakna sia-sia sepanjang sisa umur dan karena ulah mereka itu tak lagi membangkitkan rasa marah, malahan makin hari semakin mengiris perasaan -- karena aku membayangkan anak lelakiku yang kini berusia 8 tahun itu hanya akan bergitar, bernyanyi, mabuk dan berteriak sepanjang malam. Seakan-akan mereka hanya dilahirkan untuk bernyanyi -- senantiasa berteriak ke tengah kehampaan gurun pasir yang sesak penuh fatamorgana. Ya!***
*)Pengarang E-Mail: benisetia54@yahoo.com
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita