Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Sastra Etnik di Tengah Budaya Global

I.B. Putera Manuaba
Kompas, 6 Sep 2015

Setiap bangsa di dunia terbangun dari etniknya masing-masing. Bangsa yang berada dalam satu dataran pasti berbeda dengan bangsa yang terpisah-pisah. Sebuah bangsa dalam satu dataran etniknya cenderung lebih tak beragam dibandingkan dengan negara kepulauan. Jika etnik beragam, bahasanya akan beragam juga, dan sastranya pun akan beragam. Dalam konteks inilah sastra etnik amat menarik.

Melirik Dunia Kesunyian Nurel Javissyarqi

Lewat Waktu Di Sayap Malaikat, I-XXXIX dalam Antologi Puisi “Kitab Para Malaikat” Awalludin GD Mualif
1/ Selepas mengaduk secangkir kopi saya pun menyalakan laptop, kemudian membuka windows media player dan mengisinya dengan beberapa lagu yang saya kehendaki. Sesaat setelah itu saya terkenang dengan salah satu buku antologi puisi bertajuk “Kitab Para Malaikat” buah karya Nurel Javissyarqi. Entah mengapa, malam ini kenang dalam pikir saya tertuju pada karya itu. Baiklah, gumam saya lirih.

Perkembangan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Maman S Mahayana
http://riaupos.co

ENCERMATI situasi pendidikan dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di negeri ini, segalanya tampak seperti berlangsung baik-baik saja. Kurikulum yang gonta-ganti diterima dengan baik-baik saja, meskipun para guru dibuatnya kelimpungan. Adagium: ganti menteri, ganti kurikulum, dengan berat hati, disikapi, juga dengan baik-baik saja.

Hari-hari Buku dan Budaya Baca

Wandi Juhadi *
http://riaupos.co

Paling tidak ada empat hari dalam setahun kita diingatkan tentang buku dan budaya membaca, dan untuk tahun ini 2016 telah berlalu tiga hari, yaitu; Hari Buku Anak Sedunia 2 April, Hari Buku Internasional 23 April, dan Hari Buku Nasional pada 17 Mei yang lalu. Sementara satu lagi kita akan diingatkan kembali pada 8 September yang akan datang sebagai Hari Aksara Internasional.

Dan Fenomena Presiden Penyair Daerah sebagai Dagelan Populer?

Nurel Javissyarqi
Tentu kita tahu sebutan presiden penyair Indonesia tersemat dari-padanya Sutardji Calzoum Bachri. Kredonya yang fenomenal itu meluas mempengaruhi banyak penyair serta kritikus (… dengan kredonya yang terkenal itu, Sutardji memberikan suatu aksentuasi baru kepada daya cipta atau kreativitas, Ignas Kleden endosemen di buku Isyarat, lalu lihat buku Raja Mantra Presiden Penyair, 2007).

Ketika Puisi Menjadi "Sumpah"

Yoserizal Zein *
http://riaupos.co

NEGARA ini lahir dari puisi, demikian ungkapan yang dicetuskan oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri beberapa tahun lalu dan kini begitu populer di bibir berbagai orang. Suatu ungkapan yang ia kemukakan tidak saja di Jakarta, tetapi juga di Pekanbaru, dan mungkin juga di berbagai tempat, yang kesemuanya menunjukkan suatu konsistensi berpikir maupun bertindak.

Tahun 2017 dan Bayang-bayang Kebudayaan

Jumari HS
http://riaupos.co

FILSAFAT menempatkan kebudayaan pada aras metafisis yang merujuk pada penempatan nilai sebagai aspek formal intrinsik . ia tidak bicara tentang bagaimana kebudayaan menjadi norma bagi tingkah laku (learned behaviour)  sehingga membentuk way of life (suatu hal menjadi obyek studi sosio antropolgi), atau bagaimana kebudayaan dibentuk oleh representasi kuasa pengetahuan  (satu hal yang menjadi obyek cultural studies).

Mendadak Haji

Kasijanto Sastrodinomo *
Majalah Tempo, 14 Nov 2016

Bocah penjaja kantong kresek belanjaan di Pasar Depok Jaya pagi itu tiba-tiba menyapa saya dengan sebutan “pak haji”—ketika saya sedang asyik memilih ikan lele segar. “Kantongnya, Pak Haji,” begitu dia menawarkan jualannya. Sejenak saya mlenggong. Bukan karena apa; saya bukanlah haji. Saya juga belum pernah bersua atau berkenalan dengan bocah tersebut sehingga terasa aneh dia memanggil saya dengan sebutan itu.

Rokok dan Lain-Lain

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 10 Apr 2017

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan perubahan sikap terhadap rokok, setidaknya dalam perkara menciptakan slogan. Sebelumnya kita mengatakan rokok bisa menimbulkan penyakit jantung dan paru-paru, mengganggu kehamilan, dan sebagainya, sekarang awas-awas itu kita tarik lebih tegas lagi: MEROKOK MEMBUNUHMU, disertai gambar yang bisa saja menakutkan, jauh lebih telak dan ringkas dibanding awas-awas sebelumnya.

Provokasi dan Kritik

Ahmad Sahidah *
Majalah Tempo, 29 Mei 2017

Bahasa kita menyerap bahasa asing sebagai salah satu cara untuk memperkaya perbendaharaan kata. Mengingat lema asal mempunyai pandangan dunia sendiri, maknanya tentu tak sepenuhnya hadir dalam pikiran pengguna bahasa sasaran, baik dalam tulisan maupun lisan. Pendek kata, ada pengertian yang tak terangkut dalam kata yang diserap, sehingga secara otomatis turut memengaruhi pemahaman.