Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Jerawat Sastra Indonesia

Haris Firdaus
http://rumahmimpi.net

Kalau Dami N Toda pernah menyebut Chairil Anwar sebagai “mata kanan” dan Sutardji Colzum Bachri sebagai “mata kiri” dari Sastra Indonesia, Saut Situmorang menyebut dirinya sendiri sebagai “jerawat” Sastra Indonesia. Saya mendengar kelakar Saut itu saat ia menjadi pembicara diskusi “Kisruh Sastra” pada pembukaan Rumah Sastra, Solo, Minggu (18/11).

Puasa dan Peradaban Bangsa

Musa Asy’arie *
http://bagusprasetyo.blogspot.com

Marhaban ya Ramadhan. Dengan sukacita umat Islam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan berpuasa selama satu bulan. Orang tua, kaum muda, dan anak-anak menyambut bulan puasa dengan romantisme sendiri-sendiri. Suatu pengalaman spiritual yang sungguh indah.

Pascakolonialitas Katrin Bandel *

Ahda Imran **
http://boemipoetra.wordpress.com

/1/
Pascakolonialisme bukan sekadar sebuah deskripsi keadaan, tapi sebentuk perlawanan

BEGITU tulis Katrin Bandel. Perempuan kulit putih yang suatu hari membaca anekdot Gayatri Spivak tentang lelaki borjuis kulit putih yang tak mau bicara sebab sterotip yang telah dilekatkan padanya sebagai keturunan bangsa penjajah. Katrin Bandel, perempuan kulit putih kelas menengah Eropa itu, tiba-tiba merasa menjadi orang yang oleh Spivak diseru, “Kenapa Anda tidak mencoba untuk, sampai tingkat tertentu, menumbuhkan kemurkaan dalam diri Anda terhadap sejarah yang telah menuliskan naskah yang begitu keji, sehingga Anda tidak dapat bicara?”