Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Merindukan Kembali Sastra Jawa

Sutejo
Karya Darma, 2 Jan 1997

Berbicara tentang sastra Jawa sama memprihatinkannya dengan seni daerah yang lain, wayang orang (Solo-Jateng), seni nglawang (Bali), janger (Banyuwangi), ludruk (Surabaya-Jatim), dan sastra Madura.

Ada pameo yang sampai saat ini menarik untuk direnungkan. Sastra Jawa itu seperti nenek udzur yang mengidap aneka penyakit kronis yang hanya bisa disembuhkan oleh seorang dokter spesialis, begitulah Puja Sutrisna pernah menyinggungnya. Pameo itu pun rasanya naif jika menginginkan keajaiban dari tangan seorang dokter spesialis, mengingat iklim makro sastra Jawa yang demikian kompleks dan rumitnya.

Spektrum Kebudayaan Massa

Hardi Hamzah *
Lampung Post, 2 Des 2012

Secara sosiologis, kebudayaan massa yang bisa saja berujung pada disoreientasi bangsa, merupakan fenomena normal dari masyarakat yang sedang menikmati kemerdekaan (baca: euforia reformasi).
Mengapa penulis menyebutnya euforia reformasi? Karena pada kenyataannya masyarakat kita tampaknya terus-menerus mengalami euforia itu, meskipun penulis tetap mempercayai hal ini sebagai suatu proses. Namun, biasanya, kalau kita menggunakan analisis sosiolog August Comte, bahwa masyarakat menemukan jati dirinya pada sepuluh tahun pertama pascapembebasan.

Teori Sastra dan Rasisme

Donny Syofyan *
Harian Haluan, 24 Juni 2012

Sejak tahun 1970-an, ras dianggap sebagai konsep sosial, budaya dan politik yang sebagian besar didasarkan pada penampilan luar yang dangkal dan semu. Gagasan tentang ras ditanggapi secara emosional sehingga diskusi-diskusi objektif tentang signi­fikansi ras dalam kaitannya dengan isu-isu sosial menjadi sulit. Setidaknya, ada tiga teori sastra penting dalam upayanya mendefinisikan kembali istilah ‘ras’. Tulisan ini mencoba untuk mende­finisikan konsep terkini ten­tang ras di antara kebudayaan warga kulit hitam Amerika (African-American) dan gaga­san-gagasan ras lainnya yang telah terbentuk sepanjang konfigurasi teori-teori post­modernisme, feminisme dan postkolonialisme.

Komunitas dan Entitas Sastra

Sakinah Annisa Mariz *
http://www.analisadaily.com/

Sering kali karya sastra dipandang sebagai kerja mandiri yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan kreatifitas dan keahlian individualis. Hal ini benar adanya, namun perjalanan karir seorang sastrawan juga tidak bisa dilepaskan dengan interaksinya kepada sastrawan lain.

SENGKETA SASTRA DAN POLITIK

(Membandingkan Esai Wan Anwar, Afrizal Malna dan Goenawan Mohamad)
Cepi Zaenal Arifin
cepizaenal.blogspot.com

Seperti peraturan pemerintah tentang otonomi daerah, yang menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan memberdayakan daerahnya, begitupun dengan Sastra mempunyai otonomi tersendiri yang berdiri tegak dalam wilayah dengan aturan-aturan keindahan yang menggambarkan kehidupan yang ada dalam masyarakat, begitu juga dikubu politik yang mempunyai wilayah yang mengatur keberlangsungan kehidupan bermasyatakat, berbangsa, dan bernegara yang identik dengan “simbol kekuasaan”.

Memahami Ki Hadjar Dewantara

Bandung Mawardi
Bali Post, 03 Feb 2013

MENULIS ibarat berdoa untuk terang. Aku berpengharapan memiliki buku “Taman Siswa” (Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, 1952) garapan W. L. Febre dengan pamrih ingin mengerti tentang Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa di masa lalu. Keinginan itu mengacu ke “Daftar Buku Indonesia” (1954). Aku membaca keterangan tentang buku “Taman Siswa” dan melihat gambar sampul depan: perempuan menari. Aku menulis doa sekian hari lalu di tulisan berjudul Buku… Doa itu terkabulkan. Jumat, 25 Januari 2013, aku telah mendapatkan dan menghatamkan buku “Taman Siswa”.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com