Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

FRAGMEN BAWAH JEMBATAN

Bambang kempling
http://sastra-indonesia.com/

Adalah setangkai bunga rumput berkelopak ungu dalam genggam perempuan di tengah siang. Sudah tidak begitu segar dan hampir layu, seperti kisah bunga-bunga terlalu tua untuk jadi mahkota. Mengapa? Apakah hari ini telah kehilangan fantasinya juga bagi wajah yang tersembunyi dari langit terbuka di balik payung pelangi?

Menyoroti Pemakaian “Nol” dan “Kosong” di Masyarakat

Mahmud Jauhari Ali
___Banjarmasin Post

Berbahasa Indonesia dengan benar dalam komunikasi merupakan sebuah bukti kecintaan kita kepada bangsa, negara, dan tanah air kita. Bahasa Indonesia tidak dapat kita lepaskan dengan rakyat Indonesia itu sendiri karena rakyat Indonesia adalah pengguna sekaligus pendukung bahasa Indonesia. Hidup dan matinya bahasa Indonesia sebenarnya tergantung pemakaiannya oleh rakyat Indonesia. Kita sebagai rakyat Indonesia harus memakai bahasa Indonesia secara baik dan benar untuk melestarikan dan menduniakan bahasa Indonesia.

“Ekstrem Tengah” itu Bernama LESBUMI

Akhiriyati Sundari
Majalah BASIS, Nomor 09-10, Tahun ke-59, 2010

Perbincangan tentang Nahdhatul Ulama (NU) dalam banyak literatur yang beredar sejauh ini masih didominasi oleh pergulatannya dalam lingkup politik dan sosial-keagamaan. Ranah kebudayaan, dalam hal ini wacana budaya, justru sedikit sekali tampak dalam tulisan-tulisan para peneliti.

Kritik Derrida atas Strukturalisme de Saussure

Makyun Subuki
http://tulisanmakyun.blogspot.com/

1. Pendahuluan

Pascastrukuturalisme, merupakan sebuah aliran pemikiran besar yang tidak memiliki bidang kajian khusus (Ritzer 2003: 57). Lamart (1990), seperti dikutip oleh Ritzer (2003: 202), mencatat awal kelahiran pascastrukturalisme pada pidato Derrida pada tahun 1966, di mana dia memproklamirkan menyingsingnya suatu era baru, era pascastrukturalisme.

Ujian Nasional sebagai Panggung Sandiwara

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Kalau saja para guru kita tak lagi dilibatkan dalam merumuskan sistem pendidikan nasional, maka yang akan terjadi adalah sandiwara belaka. Yang paling tahu kondisi masing-masing siswa di sekolah adalah para guru. Tapi di Indonesia justru agak aneh. Menteri pendidikan sampai kepala dinas pendidikan merasa lebih tahu dan lebih pintar ketimbang para guru dan kepala sekolah. Mereka merumuskan sistem pendidikan dengan merasa paling tahu padahal hanya sok tahu.

Menyingkap Kata, Menemukan Makna

Awaludin Marwan, SH
http://ideastudies.com/

Jaring dipakai menangkap ikan, ikan di dapat, lupakan jaringnya; jerat dipakai menangkap kelinci, kelinci di dapat, lupakan jeratnya; kata-kata di pakai membawa makna, makna terpahami, lupakan kata-kata (Chuang Tzu dalam Fritjof Capra, The Tao of Phisics)

Medèn-medèni Sapardi Djoko Damono

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VII kupasan keenam dari paragraf awalnya)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Ini menuntasi tulisan-tulisan sebelumnya mengenai paragraf awal IK, sebalutan muakhir demi pijakan lanjut. Saya mulai sedikitnya merevisi pandangan kritikus Maman S Mahayana di bukunya “9 Jawaban Sastra Indonesia” sebuah orientasi kritis, diterbitkan Bening Publishing, cetakan 2005, Bagian IV: Sarana Pendekatan Sastra, dahan ke 8 berjudul ‘Sastra dan Filsafat’ halaman 343. Di bawah ini terambil dua paragraf pembukanya bagi pondasi langkah ke muka. Nan disesuaikan keimanan sorot mata saya berproses kreatif, yang berangkat dari buah keyakinan setelah baca ke belakang, demi peroleh kepurnaan sepaduan kehidupan.

Dari Jogja – Jepara, ke Blora

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Maha Suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya minal Jogja – Jepara – Kudus – Pati – Rembang wa akhirihi ilal Blora.

Seorang penyair yang diam-diam saya kagumi pernah menuliskan; salah satu rahasia terpenting dalam hidup adalah pertemuan. Ya, karena pertemuan rupanya menyimpan kemungkinan-kemungkinan, dan kemungkinan itu tertera menjadi dan kadang terjadi di dalam sebuah ruang bernama rahasia. Begitu juga dengan ragam pertemuan dalam hidup ini.