31/08/11

Puisi-Puisi Gus tf Sakai

Kompas, 3 Oktober 2010
Susi: Merah Padam

Telinga yang terang, antarlah Susi menyaksikan
tubuh tak berbayang. Jarak ini, alangkah mustahil
dicapai dengan mata. Bermilyar tahun cahaya: kau
dibungkus orbit terendah. Semua cakra melingkar
hanya mencecah, melayang di punggung tanah.
Tak cukup kata untuk rasa yang kau indera. Susi
menangis, merintih, tetapi tak sedih. Susi meraung,
memukul-mukul dada, namun tertawa. Apakah kata
untuk rasa semacam riang, namun pilu? Semacam
rindu, tetapi sendu? Susi bergetar, lampus prana.

Cahaya menyentuh apa pun rupa. Getar melepas
apa pun rasa. Jalan ke Sang Sumber, nikmat aduh
tak terkira. ”Susi, ah Susi, siapa terbakar—merah
padam, karena cinta?” Semua menanti, engkau
kembali: membawakan kami kabar gembira*.

Payakumbuh, 2009 * Dari QS 2:119.



Susi: Sengal Perahu

genting tampukmu, gelantung rawan kami meragu.
Gugurmu, Susi, ”Pucat gemerincing dalam seratku.”
anyir usiamu, geronggang musim yang tak kautahu.
Benihmu, Susi, ”Liar mendengking dalam sarafku.”
puting jantanmu, timpangan laku kami menggancu.
Sengalmu, Susi, ”Kerongkong gatal tersedak debu.”
ranum dagingmu, muara dan hulu di bandul waktu.
Kekalmu, Susi, ”Dayunglah dayung perahumu laju.”

Padang, 2009



Susi: Jerat Jantan

kenapa mesti dengan Susimu—untuk melihat
tiap sentimeter kubik dagingku. Biarkan saja dia,
Si Kehendak Bebas itu, beterbangan bagai debu:
liar gemerincing, dalam buluh-buluh daging.
kenapa harus dengan Susimu—untuk berlepas
dari jerat jantan Susiku. Biarkan saja dia, Si Kata
Pemisah, memilah, mencari sendiri dirinya: dari
kehendak bebas, dari kelamin yang dia suka.

kenapa mesti dengan Kata Pemisah, kenapa harus
dari Kehendak Bebas—kau mengikat Susi berlepas.
Lima milyar tahun, kau amuba Susi primata. Jerat
jantanku, DNA itu, kau membeku Susi meluber,
ah, sejak dari Sanskrit: ya Patr ya Pater ya Father.

Payakumbuh, 2009



Susi: Belaka Orbit

Engkau yang tidur dalam mimpi buruk Susi, masih juga
tak menyadari: akankah Kami lelah dengan ciptaan pertama?
Tidak! Tetapi mereka meragukan adanya ciptaan baru*. Yeah,
gunung-gunung menggembung, lempeng-lempeng bergeser.
Planet-planet meraung, sujud tafakur pada Sang Sumber.
Tidurkah kau dalam Susi, tidur purba mimpi buruk kami?
Empat ribu tahunmu, saat dikembalikan planet kesepuluh,
engkau melepuh. Mimpi buruk Susi: tanah-batu mengerang.
Kau pun ditandai dari dahi, dari ubun-ubun yang terang. Tak!
Tak materi, tidak pula anti-materi, yang kemudian diangkat.
Atom bergetar, melesat, panen jiwa-jiwa yang selamat**.
Tidurkah kau dalam kami, tidur purba mimpi buruk Susi?



Susi: Belaka Orbit

Engkau lepaskan diri, dari orbit, bintang quasar tepi galaksi.
Tak ada yang diangkat, katamu, di tempat materi hilang berat.
Mimpi buruk Susi: hanya orbit! Belaka orbit semesta ini. Yeah,
kesulitan itu, persoalan terbesar kami: menyelamatkan orang
yang tak tahu bahaya apa celaka apa yang mereka hadapi.

Payakumbuh, 2009

* Dari QS 50:15.
** Dari Matius 13:39

Gus tf lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965. Kolektor dan pekerja puisi. Buku puisinya yang telah terbit adalah Sangkar Daging (1997), Daging Akar (2005), dan Akar Berpilin(2009).

Prosa

Hasif Amini
Kompas, 6 Juni 2010

Puisi dan prosa sering dianggap sebagai sepasang ”lawan kata”. Bahkan, tak hanya itu, puisi dianggap lebih tinggi dari prosa. Yang ”puitis” umumnya berkonotasi positif, sedangkan yang ”prosaik” sebaliknya. Mengapa bisa demikian? Dan betulkah puisi dan prosa adalah sepasang ”lawan kata”?

Mungkin kerja sastra yang telah berabad-abad lamanya mengukuhkan dikotomi itu. Puisi digubah dengan kesadaran yang intens (bahkan ”neurotik”) terhadap bahasa, sementara prosa ditulis dengan fokus utama terhadap ”isi” (cerita, perwatakan, argumen, dan sebagainya) dan konon perhatian seperlunya saja terhadap bahasa. Jika puisi adalah sebentuk komposisi berirama, maka seolah-olah prosa ditulis tanpa irama. Jika puisi menggarap unsur bunyi (juga sunyi) dan citraan serta pilihan kata secara ketat, maka semua hal itu seakan-akan tak terjadi pada prosa. Dengan kata lain: jika bahasa berlaku sebagai ”pemeran pembantu” dalam prosa, maka dalam puisi bahasa adalah ”pemeran utama”. Ada kalanya muncul kiasan lain: prosa adalah bahasa dalam bentuk cair, puisi adalah bahasa dalam bentuk padat.

Pandangan semacam itu mungkin tak sepenuhnya keliru, tapi memang sangat menyederhanakan, tak setimbang, dan akhirnya bisa menyesatkan. Sebab, dilihat dari sisi seberang, bisa tampak gambaran sebaliknya. Puisi adalah ungkapan bahasa yang gemar bersolek, aneh, samar-samar, bahkan gelap, sementara prosa adalah ungkapan bahasa yang wajar dan terang, makin wajar dan terang-benderang, makin baguslah prosa itu. Puisi mengigau sendiri; prosa berkomunikasi. Puisi doyan melanggar konvensi, dengan tameng licentia poetica; sedangkan prosa mesti mantap menjalankan tata bahasa (tanpa mengenal licentia prosaica). Dan seterusnya.

Daftar bias dari satu dan lain pihak tentu bisa diperpanjang. Namun, ada baiknya itu diperlakukan sebagai semacam permainan ”melihat dengan sebelah mata” secara bergantian—sebelum akhirnya kedua belah ”mata” dibuka lebar hingga tampaklah segenap kedalaman dan ukuran secara lebih jernih dan tajam.

Puisi dan prosa mungkin saja adalah ”kawan” sekaligus ”lawan”: berseberangan, berdekatan, bergelutan, tapi toh menghirup udara yang sama. Ritme atau irama, misalnya—pola ungkap yang menentukan karakter ”suara” sebuah karya sastra—nyatanya bisa hadir baik dalam puisi maupun prosa. Pentingnya diksi yang jitu serta susunan yang padu juga berlaku bagi keduanya. Prosa yang mantap, sebagaimana puisi yang kuat, sama-sama mengolah segenap unsurnya hingga ke taraf ”puncak pas”, tak lebih dan tak kurang.

Sementara itu, hubungan antara puisi dan prosa telah berlangsung jauh dan dalam pelbagai cara, kadang dalam kelindan ataupun bauran yang tak sederhana. Tak sedikit pula sastrawan yang sesekali atau banyak kali bergerak di wilayah kelabu antara puisi dan prosa, misalnya menulis karya yang lazim disebut prosa lirik atau prose poem. Demikianlah, prosa bisa merasuki puisi, atau sebaliknya, saling meresap dan bersenyawa, dan menjelmakan pelbagai jenis hibrida yang membuat pemilahan (maupun pemeringkatan) antara puisi dan prosa, antara yang ”puitis” dan yang ”prosaik”, mesti dipertanyakan lagi, terus-menerus.

Dijumput dari: http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=178243292231004

30/08/11

Nasionalisme TKW Hong Kong dalam Cerpen

Kuswinarto*
http://www.lampungpost.com/

Membicarakan nasionalisme di kalangan tenaga kerja wanita (TKW) kita di luar negeri sangat menarik. Sebab, bagi TKW (dalam asumsi saya), Indonesia yang menjadi Tanah Air mereka, tempat mereka lahir dan besar, bukanlah sebuah negeri yang bersahabat. Bagi mereka (masih dalam asumsi saya), Indonesia tak berpihak kepada rakyat kecil seperti mereka.

Betapa tidak? Indonesia memaksa sebagian besar dari mereka putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena Indonesia hanya mampu memberikan sebuah kemiskinan yang mengenaskan bagi keluarga mereka sehingga tak mampu menyekolahkan mereka. Itu masih ditambah kenyataan bahwa biaya pendidikan mahal dan itu terjadi di tengah maraknya kasus korupsi terhadap uang negara (baca: uang rakyat).

Karena orang tua miskin, para TKW terpaksa mengubur cita-citanya. Padahal bukan tidak mungkin jika terus menempuh pendidikan formal, sebagian dari mereka akan menjadi para pembaharu yang akan mengangkat Indonesia dari keterpurukan. Di Hong Kong, misalnya, ada juga TKW yang sebelumnya sudah berhasil masuk sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, dari SD hingga SMA dia selalu mendapat juara kelas dan beasiswa. Tapi, ia tak jadi kuliah karena orang tua tak mampu dan terpaksa jadi TKW di Hong Kong sebagai babu. Tragis!

Lantas, meskipun negaranya tak berpihak kepada mereka, apakah para TKW luntur kecintaannya terhadap Indonesia? Ternyata tidak! Setidaknya, itu yang saya tangkap dalam sebagian cerpen karya para TKW Hong Kong. Meskipun masa depan mereka entah seperti apa jika tak berinisiatif sendiri “lari” ke luar negeri sebagai TKW, rasa nasionalisme mereka tetap tinggi. Cerpen berjudul Pertama dalam antologi cerpen Hong Kong Negeri Elok nan Keras di Mana Kami Berjuang (2002) karya Denok Kanthi Rokhmatika adalah buktinya.

Berikut kutipannya:

Lapis legit yang masih tiga perempat itu mendarat mulus di keranjang sampah, di depanku. Aku kaget. Tiba-tiba saja aku merasa harga kemanusiaan dan sekaligus kebangsaanku, manusia Indonesia, disejajarkan dengan sekerat kue yang pantas dimasukkan ke dalam keranjang sampah! Mengapa dia harus menanyaiku dulu sebelum membuangnya? Kan bisa saja dia langsung membuangnya, jika tak bermaksud menghinaku?

Terasa sekali Denok K. Rokhmatika, TKW Hong Kong asal Malang, Jawa Timur, lewat tokoh Aku mengungkapkan rasa terhinanya karena kue asli Indonesia dilecehkan bangsa lain, padahal dia bangga kue itu terkenal di luar negeri. Dia tetap cinta Indonesia, tetapi saat itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain merasakan perih di dada. Itu karena yang melakukan penghinaan adalah orang yang baru saja akan mempekerjakannya sebagai pembantu rumah tangga.

Rasa cinta Tanah Air juga ditunjukkan Syifa Aulia lewat cerpen Hong Kong Topan ke-8 dalam antologi berjudul sama (2006). Dalam cerpen itu, TKW Hong Kong asal Kendal, Jawa Tengah, itu mengisahkan tokoh Aku, TKW yang juga aktivis HAM dan berteman dengan aktivis HAM lain dari beberapa negara di Hong Kong. Di kalangan aktivis HAM berbagai negara itu, Indonesia (pejabat dan masyarakatnya) terkenal dengan berbagai tradisi buruk. Salah satunya, orang Indonesia terkenal paling tidak menghargai waktu, suka ngaret kalau berjanji. Ini juga terjadi pada aktivis HAM dari Indonesia di Hong Kong, sedangkan aktivis HAM lain sangat menghargai waktu. Meskipun kesibukan seabrek, mereka selalu menepati janji, tak pernah terlambat menghadiri meeting, bahkan sering hadir 20 atau 15 menit lebih awal. Kalau yang dari Indonesia (kecuali tokoh Aku), terlambat dua jam itu sudah biasa.

Tokoh Aku malu tiap rekan sebangsanya terlambat menghadiri meeting, apalagi yang dari negara lain akan meledek habis-habisan. Aku malu bangsanya punya trade mark buruk soal waktu dan janji. Aku berontak jiwanya Indonesia dicap buruk, tetapi ia tak bisa berbuat banyak karena itu kenyataan. Yang bisa dilakukan Aku hanyalah berusaha agar dirinya selalu tepat waktu kalau berejanji atau meeting.

Dalam cerpen Hong Kong Topan ke-8 itu, Syifa Aulia juga mengemukakan bahwa Indonesia merupakan negeri korup, sangat bertolak belakang dengan Hong Kong yang merupakan negeri bersih dan antikorupsi. Tentang ini, Syifa Aulia menulis: Ah, andai saja negeriku itu (Indonesia, Kus) bisa seperti itu (antikorupsi, Kus). Tentunya tak ada lagi anak-anak jalanan yang telantar, tak banyak lagi perempuan dan ibu muda yang terpisah dari keluarga, merantau dan berserak di negeri orang ini (Hong Kong, Kus).

Bahwa Indonesia terkenal sebagai negeri korup di luar negeri, ini juga diungkap Aliyah Purwati dalam cerpen Laki-laki Afrika Selatan dalam Antologi Yam Cha (2010). Dalam cerpen itu, TKW Hong Kong asal Rembang, Jawa Tengah, tersebut menyampaikan rasa prihatinnya terhadap korupsi di negerinya melalui tokoh Adam, lelaki asal Afrika Selatan. Berikut kutipannya:

“Setahuku Indonesia adalah negara miskin yang sangat rawan dengan yang namanya korupsi. Siapa yang tidak kenal dengan Soeharto? Seorang presiden yang telah memimpin negaramu selama 32 tahun dengan sejuta kebusukannya,” katanya (-nya = Adam, laki-laki asal Afrika Selatan) panjang lebar sambil tersenyum agak sinis.

“Tuan, bagaimana mungkin Anda tahu banyak tentang negaraku sampai sedetail itu?” tanyaku (-ku = Zando, TKW di Hong Kong) sembari mengerutkan dahi saking herannya.

Rasa bangga jadi orang Indonesia ditunjukkan Tarini Sorrita di cerpen Batal dalam kumplan cerpennya, Penari Naga Kecil (2006). Bangga karena meskipun berbeda-beda agamanya, orang Indonesia rukun dan mengedepankan silaturahmi. Ini beda dengan orang luar negeri, semisal, di Hong Kong. Dalam cerpen Batal, TKW Hong Kong asal Cirebon, Jawa Barat, ini menulis:

Turun ke bawah ada Lan Fang, yang berkomentar tentang menyambut bulan suci Ramadan. Kalau bulan suci umat Islam ini datang, bukan hanya umat Islam-nya yang menyambut, semua penganut yang lain pun ikut sibuk.

Apalagi, nanti kalau Lebaran tiba, semua umat, terutama umat Islam berbahagia dan menyambutnya.

Aku teringat sama Mbak Ariani G.A. “Maria, kalau puasa kaya gini saya penginnya pulang ke Jakarta,” curhatnya.

Di Hong Kong, dengan kemampuannya berbahasa Kantonis dan Inggris, Tarini Sorrita memang banyak bergaul dengan banyak warga negara lain, tak hanya warga Hong Kong dan warga Indonesia. Sehingga, Tarini tahu keunggulan orang Indonesia dibandingkan orang dari bangsa lain dan itu membuatnya bangga menjadi orang Indonesia.

Tania Roos lain lagi cara mengekspresikan nasionalismenya di dalam cerpen. Dalam cerpen Suara Tembakan Waktu Subuh (dimuat di Berita Indonesia, Oktober 2003), Tania Roos mengangkat kisah bagaimana para perjuang Indonesia dulu dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan dari serangan Belanda yang hendak kembali menguasai Indonesia. Dalam cerpen tersebut, TKW Hong Kong asal Malang tersebut memperlihatkan betapa berat perjuangan para pahlawan kita semasa hidupnya. Tentu cerpen ini mengingatkan bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan negeri ini tidak didapatkan dengan mudah, bernyawa-nyawa pun jadi korbannya.

Mungkin ada yang bertanya, apakah cerpen-cerpen demikian memang merupakan perwujudkan nasionalisme penulisnya atau bukan. Apakah itu bisa dijadikan ukuran kadar nasionalisme para pengarangnya? Mungkin ada kesangsian. Jika sangsi, setidaknya kita bisa mempertimbangkan apa yang dikemukakan salah seorang penulis Inggris, Samuel Butler (1835—1902): Every man’s work, whether it be literature or music or pictures or architecture or anything else, is always a portrait of himself. Jadi, kalau kita bertanya kepada Samuel Butler, jawabnya jelas. Cerpen-cerpen itu merupakan potret nasionalisme dari diri pengarangnya sendiri.

*) Kuswinarto, penikmat sastra

GELIAT SASTRA LOKAL

[Khususon Jombang, Wabil khusus Fahrudin Nasrulloh]
Nurel Javissyarqi*
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Sebelum jauh menelusuri judul di atas, diriku teringat awalkali melangkahkan kaki ke tanah Jombang, tahun 1993. Dari rumah di Lamongan, aku persiapkan niat menimba keilmuan mengeruk ketololan demi semakin menginsyafi kebodohan. Terbayang di kepalaku sosok-sosok insan ampuh pada daerah kan kudiami, para pejuang serta penyebar ajaran Islam; KH. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Sansuri, dan tokoh-tokoh masih hidup dikala itu; Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, serta tidak terkecuali budayawan Emha Ainun Nadjib, yang sampai kini menyetiai lelakunya mengayomi rakyat jelata, masyarakat pedalaman.

Setiap langkah kubaca tanda kan terjadi, kusapa dedaunan terlintas di pinggir jalan; jalur ini kelak laluan sering kulewati. Pun menyimak gemawan sambil merasai apakah pribadiku tergolong dirahmati menggapai cita. Demikian memasuki kota lain, diuntit bayang-bayang masa silam; penjajahan di Bumi Pertiwi juga nasib apakah yang bakal menimpa bangsa ini. Aku lebih suka menyuntuki alam raya, ialah lelembaran catatan yang tiada membohongi. Tentu melewati lelatihan, mengidentifikasi kemungkinan atas periodisasi, sedari sanalah perkiraan tepat searah.

Aku terkagum kualitas anak-anak bangsa yang dilahirkan di bencah tandus berpasir, dataran Jombang serupa Ponorogo yang gersang atau Cirebon bagian selatan. Terus kepalaku menggeliat, mengira-ira jikalau di jaman dulu, ada sebuah gunung besar meletus, lantas tinggal sisa-sisa abunya. Pun tak kurang teringat kabar kudengar semasa sekolah dasar, semisal wilayah berbasis agamis, biasanya berdampingan kaum begundal.

Kontradiksi itu menerbitkan pemahaman, kawasan makmur pemikiran, tentu ada tirakat lahir sejenis kemiskinan, yang ditancapkan unen-unen orang utama; ilmu kan mendekati yang berpayah-payah. Juga benturan hawa religiusitas tak berhembus kuat, jikalau tiada tekanan sedari kebalikannya. Lalu terngiang keramaian pasar, tempat segala keteledoran, yang di sebelahnya, syiar Keilahian ramai berkumandang.

Jombang kota santri, begitu orang-orang menyebutnya. Ini tak bisa dipungkiri, ada puluhan, bahkan ratusan pesantren jika ditelisik dari kecil-kecil sampai yang tersohor namanya. Adanya sekte-sekte atau mazhab ajaran Islam tersebar di sana, semua memakmurkan nalar iman, mengembangkan khasanah spiritual, mensejahterahkan umat demi nada-nada kebersatuan. Para penimbanya tak sekadar tetangga kota; Malang, Sidoarjo, Surabaya, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, bahkan luar jauh; Kebumen, Jogjakarta, Jepara, Cirebon, Jakarta, Banten &ll, disamping tidak sedikit dari luar kepulauan; Aceh, Padang, Samarinda, Makassar, tak terkeculai dari Irian &st.

Fenomena itu menghantuiku yang kuandaikan kota Mesir, akan ruhaniah pengetahuannya, mencurigai kerahasiaan di dalamnya menyembulkan aroma kesturi. Membaca alam sambil memadukan orang-orangnya, menguap embun fikirku memendarkan teka-teki silang-sengkarut mengurai benang kusut. Pelahan-lahan kuamati amis sungainya, bau menyengat pabrik tebu, nuanse kota nanggung, warga etnis Cina dipastikan penggerak perekonomiannya, ini merata pada pulau Jawa, selain di Kota Gede, Jogjakarta.

Selama tiga tahun kupelajari kota tersebut demi membaca pantulan wewajah serupa, seperti daerah-daerah di pelosok Tanah Air berlabel Kauman, diambil dari kalimah; kumpulan kaum beriman. Di Jombang aku kerap jalan kaki ke dusun-dusun terpencil, memandang perkebunan tembakau, rumput pepadian kurang subur, kuburan Cina yang mewah, suara klenteng bergaung, bioskop, kadang lelah naik becak jika di kota. Orang tuaku sempat membelikanku sepeda, sehingga leluasa menyinahui pernik mistisnya. Keluar-masuk santren, salam sungkem ke setiap kuanggap ampuh, sampai kuyakini tak keliru pilihanku ke Jombang, sebelum ke Jogja menjejaki pengalaman.

Entah terpaksa atau kebetulan, di pesantren aku tak dapati ruang ekspresikan jiwa di bingkai lukisan, yang sebelumnya terbiasa kalau ada perasaan menggejalai badan, langsung mengguratkan cat minyak di kanvas. Maka bersusah payah, kupindahkan gejolak diri dalam tulisan di lelembaran kertas dengan pena. Bacaanku minim karena sering keluyuran, jelas tidak mendukung polaku menggumuli kata, olehnya tulisan awalku potretan semata, belum menghisap perihal membetot jiwa.

Jalan ini dimungkinkan sebab pangasuh pesantren yang aku diami seorang penulis, penyusun kitab, penerjemah bahasa arab, dimana sehari-harinya tiada waktu istirah; membaca, menulis. Selama tiga tahun aku amati, seakan satu jam paling banter dua jam istirah dalam sehari. Hal tersebut membuatku cemburu, sebagai anak muda tentu tertantang melampaui. Dan kucoba membaca tak henti-henti berhari-hari sampai merasakan keadaan mabuk, hingga sang kiai menyindirku; belajar ya belajar, tapi jangan sampai mabuk.

Kesastrawanan Emha Ainun Najib kian santer bergema, kabar penyair sedari Menturo, Jombang, yang tinggal di Jogjakarta itu menghisap seluruh perhatian, apalagi bagi yang tinggal di kota kelahirannya. Yang mana diriku awal menancapkan niat menggeluti sastra. Buku Emha kubaca, nadhoman pelajaran bersyair mulai menghantui, demi aku loloskan dalam khasana Indonesia, serta semua pendukung kemauanku berbelok, tepatnya menyembuhkan sedari minat lukis yang tidak tersalurkan.

Alam pesantren meraup keilmuan Islami berbalutan lokalitas menjelmakan diri se-istilah Islam Jawa. Apakah sejarah, filsafat, ilmu hitung, perbintangan, mantek &ll, sangatlah mewarnai denyutan Jombang. Tidak ketinggalan susastra sebagai sarana berbahasa dalam penyebaran ajarannya pada kitab-kitab kuning atau klasik, menjadi lagu merdu menyusupnya faham-faham diingini sang pengarangnya.

Olehnya tak dapat disangkal, pesantren salah satu gudang susatra tersembunyi, hanya yang ingin mengangkat ke alam lebih umum, khususnya dalam bahasa Indonesia, tentu tidak terbantahkan. Tak diragukan, karya sastra bercorak Islam di bumi Nusantara, tegak bergoyang rindang sepohonan tinggi tegap melambaikan dedaun hijaunya, sebagai perlambang kemakmuran atas pupuk memberkah para pendahulunya.

Di asrama Al-Aziziyah, diriku adik kelas Moammar Emka, penulis buku “Jakarta Undercover” yang tulisannya kukira kurang berfaedah, jika ditengok sisi keberangkatan dirinya meski sempat meledak, kecuali sekadar informasi bagi insan metropolis yang haus hiburan malam. Padahal dikala itu, Emka sangat tekun belajar berpidato kayak Soekarno di depan cermin, ah menjijikkan sampai terjadi baku-hantam karenanya. Sebelah kamar kami, tepatnya dihuni siswa MAN PK, ada murid bernama Fahrudin Nasrulloh yang sama-sama nantinya melanjutkan sekolah di Jogjakarta seangkatan-ku, tapi aku tak mengenalnya. Hanya selepas kuliah, namanya baru berkibar. Demikian benturan watak bersegenap intrik dalam keseharian, membetulkan nasib masing-masing atas alasan sendiri-sendiri.

Asrama itu diasuh KH. A. Aziz Masyhuri, salah satu karyanya “99 Kiai Pondok Pesantren Nusantara: Riwayat, Perjuangan dan Doa,” Penerbit Kutub, Yogyakarta, 2006. Mungkin atas pantulan keseharian beliau yang kuceritakan di atas, kami bersaing dengan keyakinan serta resiko berlainan. Entah keakrabanku dengan Fahrudin saat kapan, yang teringat sewaktu di Jogja, aku membaca puisi di sanggar Eska, dan kulihat sekelebat bayangnya. Penulis Haris del Hakim asal Lamongan di sana pula, diriku tak mengetahui, ia berkisah di kala keakraban kami berlangsung di kampung halaman, yang bercerita kegembelanku masa itu; lontang-lantung di setiap kampus, tidur di plafon sanggar, mandi di sembarang perguruan tinggi, yang jelas aku menikmatinya.

Agar tak mbelakrak, kembali ke judul semula, tepatnya Fahrudin pulang kampung, pun diriku, dan kami kerap bertemu di Mojokerto. Kegelisahan FN sampai menganggap kota Jombang seperti kuburan, karena dengungan sastrawi berbahasa Indonesia, bukan nadhoman pesantren, sangat minim. Sementara para tokoh kelahiran Jombang banyak berada di luar daerah, entah Jogja, Jakarta pun lainnya. Ia mengutuki nasib tersebut hingga mendekati titik putus-asa, untung teman-temannya masih ada di Jogja, FN bolak-balik menimba kegairahan bersastra demi bumi kelahirannya dan ditanggapi baik Jabbar Abdullah, lantas terbentuk Komunitas Lembah Pring; salah satu wadah yang kini tampak istikomah menampung, menaburkan harum sastrawi Indonesia, sedari tlatah Jombang, banyu santren dinaungi angin bertuah.

Sebenarnya aku kurang nyaman menulis ini, tiada tantangan sekadar mengenang ulang kejadian, namun siapa tahu ada guna di hari kemudian. Selama di Jogja, aku tak menemukan jejak FN, ya dapat dibilang masih untung diriku, pernah direkam surat kabar setempat atas ulasan penulis KRT. Suryanto Sastroatmodjo (almarhum), penyair Hamdy Salad membahas berdirinya KSTI (Komunitas Sastrawan Tugu Indonesia) yang kugerakkan bersama Y. Wibowo, Akhmad Muhaimin Azzet &ll, sedang penyair Edeng Samsul Maarif asal Cirebon, mengudar terbitnya buku keduaku (yang pertama stensilan bertitel “Sarang Ruh”) kedua berlabel “Balada-balada Takdir Terlalu Dini.”

Pun aku tak mengetahui persis proses kreatif novelis A. Syauqi Sumbawi di kota pelajar itu, baru aku mengenalnya disaat pertemuan sastra di tanah kelahiran kami, Lamongan. Dari jejak kuketahui, FN bukan yang pertama mengobarkan susastra di Jombang, setidaknya alumnus Pesantren Tebuireng, sastrawan Zainal Arifin Thoha (almarhum) sempat mengajakku mengisi acara di Pesantren Tambak Beras, juga kampus Unipdu, lingkungan santren Darul Ulum, Rejoso, Jombang 2004-an. Dan Gus Zainal menemukan bibit unggul sedari santren Tambak Beras, cerpenis Azizah Hefni, yang kini bersuamikan penyair Ahmad Muchlish Amrin.

Sedangkan pecahnya kegelisahan FN dengan terbentuknya Komunitas Lembah Pring baru kemarin tahun 2007-an, ada semacam sistem waktu datangnya betapa lamban, tetapi sangat kuat aromanya di setiap tikungan tajam. Ah, jadi teringat diriku bersama FN mengisi acara di UIN Malang; menyusuri jalan-jalan tanjakan penuh guncangan mawas disaat-saat embrio komunitasnya mematangkan tekad, aku hanya mengamatinya sejarak penciuman.

Kalau membahas sastra lokal sangatlah semarak, gayeng istilah Jogjanya, namun ada hal kurang kusukai, tatkala muncul bayang-bayang senioritas, pengaku-akuan yang kurang penting, terpenting wujud capaiannya; gugusan karya. Di Lamongan sendiri dapat dicatat yang berkarya kian menggeliat, novelis A. Syauqi Sumbawi, Rodli TL, A. Rodli Murtadho, penyair Imamuddin SA &ll. Mereka tergabung dalam Forum Sastra Lamongan, yang kini tak jelas nasibnya, sebagian ke luar kota meneruskan sekolah, ada yang menikah dapat luar daerah, hanya beberapa kali bertemu sapa di dunia maya.

Khususon Jombang, setelah bergulirnya agenda Geladak Sastra pada Komunitas Lembah Pring, dapat dicatat nama-nama selain Fahrudin Nasrulloh, adanya Jabbar Abdullah, Dian Sukarno, Sabrank Suparno, Agus Sulton, Siti Sa’adah, &ll. Kini izinkan diriku membatek ruhaniah geliatnya sebagai penutupnya;

Tak sia-sia bolak-baliknya Networker Kebudayaan Halim HD, sastrawan Fahmi Faqih ke Jombang sekitarnya, mengompori cerpenis Fahrudin Nasrulloh, demi membakar diri dalam api tungku pekuburannya. Kebertemuan tidak rutin tapi dijubeli debat sengit, mematangkan denyut kesusastraan di daerah, menjelma tonggak-tonggak, semoga mampu membentengi pusaran memusat menjadi lebur, tertinggal mensaktikan karya masing-masing. Sebab tiada guna meniupi nama-nama melambung, tapi nyata karyanya kacangan, tak berani dipertanggungjawabkan depan umum, mimbar pengadilan, tidak sekadar tepuk tangan panjang, yang mencipta ketawa terpingkal-pingkal di kesunyian kamar.

FN disokong bacaannya sejak di Denanyar, didukung perpustakaan pribadinya, kukira cukup untuk sementara waktu, sebab rasa haus berbaca tak kan tuntas sebelum memasuki liang lahat. Gejolak pencarian keilmuannya menghipnotis, menularkan minat baca tulis, bagi yang sudah, kian meningkatkan obor kreativitas di tiap ubun-ubun kawan-kawannya menyaksikan tingkah pakolahnya urakan, namun juntrung dalam penulisan. Aku tersenyum saja, kala ia sms padaku mengenai menumbuhkan gairah menerus, saat itu aku curiga semangatnya melemah atau diriku sangking percaya perhatian padanya.

FN yang kini dipandang, kerap diundang acara pertemuan-pertemuan sastra di JaTim, maupun luar daerah, aku kira tak perlu lagi bakar-bakaran semangat, jika masih namanya kebacut. Darinyalah, belantikan sastra Jombang untuk bumi Nusantara mendapati tempat, mulai kerap diperbincangkan, ia telah kubur mitosnya sendiri, yakni Jombang pekuburan.

Sebagai esais tak diragukan lagi, dan sosok peneliti cukup handal mengangkat pernik-pertikaian tradisi, sedari dunia pesantren hingga kesenian ludruk. Beberapa bukunya telah terbit, “Syekh Branjang Abang” Pustaka Pesantren, 2007, “Geger Kiai” Pustaka Pesantren, 2009 &ll. Hampir semuanya berdaya kontemplatif luar biasa, perasan ruang-waktu, jejalan peristiwa diselusupkan tak sekadar dalam, tapi menyusup seakaran pepohon menghisap sumber mata air kedalaman hikmah. Dapat dipastikan hasil-hasil kerjanya memberi sumbangsih penelitian kebudayaan, para penulis mendatang untuk mentafakkuri, jika Bumi Pertiwi masih mendambai nilai-nilai adi luhung.

Penulis muda yang menempa hari-harinya berbaca, senantiasa menggenggam sikap kukuh. Jika sifat ini dipelihara, Tuhan Maha Kuasa pasti mendukung langkahnya. Tidakkah bentuk-bentuk istikomah melebihi seribu karomah, para malaikat tertunduk malu kepadanya, pula orang-orang edan memiliki gelombang netral, dapat dipastikan tersetut dinayanya. Manusia-manusia unggul mampu berbicara yang mengisari sekeliling dirinya, berkah ilmu menancapkan tiang pancang, suatu hari nanti turunannya peroleh limpahannya, sedang keikhlasan menggetarkan tiap-tiap persendian jiwa.

Ia kerap berucap kata; “jangan banyak bacot” &ls, sebagai cermin betapa hari-harinya kenyang dijejali gelisah, demi terus menulis, menuntaskan tekad memakmurkan daerah. Mengenai komunitasnya aku masih melihat, sebab banyak sekali nggelimpang atas hal-hal sepele, tetapi jiwa matang tempaan hidup, realitas nalar dipukuli kepahitan, kan selalu mengobarkan juang, apalagi bangsa Indonesia baru “50% Merdeka,” menjumput istilah dari penyair Heri Latief. Dan ruhani kepatriotikan tanah pedalaman Jombang, masih mewangi, ini tak lebih darah para pahlawan tetap segar mendenyuti nadi anak-anaknya, yang taat memegang bara keadilan.

Jombang, 22 November 2010
*) Pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, Indonesia.

Di balik tembok angkuh KJRI

Syifa Aulia
http://sastra-indonesia.com/

Berpuluh tahun gedung itu berdiri
tetap angkuh tak tersentuh
hingga kini
berkali-kali penguasa berganti
tak ada perubahan yang berarti
sebab tuhan telah bersarang
di kepala para petinggi

segala janji manis terpapar
selaksa cahaya memendar
lalu pudar

suara-suara telah terbiasa diacuhkan
padahal kami semua perempuan
datang tak berpedang
pun menabuh genderang perang
kami hanya ingin menguraikan
masalah yang tak teratasi sendiri
mengadukan ketidak-adilan
yang terpampang di depan
mata setiap hari

sebab konon kalian
perantara negara
untuk melindungi tiap warganya

tapi kalian telah memupuskan
nilai kemanusiaan
hingga kepala dipenggal
tiada dipedulikan
teriakkan di jalanan kata
LAWAN
hanya simbol perlawanan
yang tak pernah selesai
kami rumuskan

kini kulantang bertanya;
sesungguhnya apa pentingnya KJRI buat kita?

28/08/11

Belati

Noval Jubbek
http://sastra-indonesia.com/

“kalau kau hendak bertandang, bawalah belati yang kau janjikan pada hari kamis atau ahir pekan”

mungkin, tak ada yang pernah tahu seperti apa pemburuan yang terjadi dalam lingkaran dingin seperti ini. termasuk aku yang selalu saja membiarkan rasa pasrah itu berlari lebih dulu, mendahului apa saja. tangan yang tak sampai satu meter, kaki yang mulai kaku dan mata yang memandang tak lebih dari ujung marka.

“aku membawa belati yang masihlah basah, nona!”

belati yang pernah bersarang di perut bapakku, tetap menyimpan bau anyir. meski kembang tujuh rupa dari segala macam ujung kuburan paling angker aku kumpulkan, dan dicampurkan pada air yang ditimba dari ceruk tujuh sumur paling keramat aku siramkan sebagai tumbal. kilatnya yang samar masih perih.

“bagaimana aku bisa tau dan percaya bahwa belati ini masih basah, niman?”

“dengarkan saja detak jantungnya, nona”

“hah, kau sudah gila?”

“bolehlah kau berkata begitu, sebab masih banyak pemaklumanku pada yang belum membuktikan”

pada gagang yang berbentuk punuk unta, atau yang lebih mirip kepala manusia purba itu, ada detak yang teratur. seperti bunyi yang keluar dari tubuh jam pada dinding kamarku. pada malam-malam hening diselingi dengan suara lolong anjing yang membuat suasana semakin nampak cekam. detak itu akan keluar dari gagang belati dengan susah payah. entah semacam lintah atau cacing merayap melalui ujung jari manis menjalar menuju telapak tangan dan masuk pada tubuh nadiku.

maka, setiap pagi akan ada tubuh yang segar kembali. dan jika kau akan bertanya apakah detak itu masih bersemayam dalam diriku pagi ini, aku tak bisa menjawab. sebab setiap kali detak itu menyusup, aku seperti terhipnotis dan tertidur, atau semacam mabuk yang menahan muntah, hanya bisa mengeluarkan liur.

“lalu bagaimana kau bisa mengatakan tubuh segarmu bersebab dari detak belati itu, niman?”

“lihatlah, bekas luka pada pergelangan tanganku, nona!”

mungkin, pada malam penyusupan itu ada perombakan besar-besaran pada organ tubuhku. pohon akasia dan beringin yang tumbuh di dalam dadaku dipangkas dengan rapih membentuk dinosaurus seperti dalam filem-filem. rumput liar dicabuti lalu di ganti dengan rumput taman yang hijau dan rata semacam permadani, tapi aku sarankan kau tak mulai tergoda dengan kata-kata. sebab masih tersisa dan mungkin lebih banyak keliaran dalam hijau itu. telapak kakkiku diganti dengan kaki kuda. seperti pada dongeng rakyat madura tentang peri yang berkaki kuda, berparas cantik dan tampan, namun sungguh mengerikan. sedang otakku diamplas sampai licin dan mengkilat. bahkan tiap lekukannya tak tumbuh lagi lumut dan karang. tapi sekali lagi kau tak boleh mudah percaya akan hal yang mengkilat itu.

” sekarang apa maumu, niman?”

“aku hanya ingin kau percaya dan menerima belati ini, nona!”

“tapi, pada penejlasanmu tadi kau memintaku tak percaya padamu”

“itu hanya sekedar nasehat, mungkin, agar kau tak lupa padaku, nona!”

“kau punya alasan lain, niman?”

“tidak, selain karena aku mencintai kau dan anak-anakku”

***

hari kamis, tanggal tigabelas, bulan enam, tahun duaribu. belati yang aku temukan dari dalam goa tiga tahun lalu telah aku hujamkan pada perut bapakku. oleh karena terjadi perselisihan dalam perut yang menjerit-jerit dan tersebab bapakku tak mau lagi membakar tungku pada punggungku yang telah basah oleh airmata.

malang.2011

Mengapa Menerjemah Ulang?

Wawan Eko Yulianto*
http://nasional.kompas.com/

Apa perlunya sebuah buku yang pernah diterjemahkan puluhan tahun lalu diterjemahkan lagi oleh penerjemah yang berbeda?

Itulah pertanyaan yang menggantung di benak saya ketika membaca curriculum vitae Breon Mitchell, seorang profesor comparative literature asal Indiana University, Bloomington yang hadir di kampus kami sebagai penerjemah tamu. Prof. Breon Mitchell telah menerjemah ulang The Trial (Franz Kafka) dan sedang menyelesaikan penerjemahan The Tin Drum (Günter Grass) dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Sebenarnya, masing-masing buku itu telah diterjemahkan puluhan tahun sebelumnya. The Trial, dalam edisi bahasa Inggris yang terkenal, diterjemahkan oleh pasangan Muir, dan The Tin Drum diterjemahkan oleh Ralph Manheim.

Mungkin akan terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan semacam: “Apakah ada kesalahan pada masing-masing edisi terjemahan tersebut, sehingga harus 'dikoreksi'?” Namun, apa yang disampaikan oleh Breon Mitchell sendiri ternyata lebih dari sekedar salah dan benar. Banyak fakta menarik yang layak diambil sebagai pelajaran. Khusus untuk kesempatan ini, saya akan banyak menyoroti hal-hal yang terkait dengan proses penerjemahan The Tin Drum, mengingat tahun 2009 ini adalah peringatan 50 tahun penerbitan novel itu sejak diterbitkan pertama kali dalam bahasa Jerman. Lagipula, masih hangat di benak para pemerhati sastra bagaimana Günter Grass yang telah menjadi otoritas moral di negaranya itu membuat pengakuan mengejutkan dalam sebuah wawancara sebelum peluncuran bukunya Peeling the Onion (2006) bahwa dia terlibat dengan Waffen-SS, sayap militer partai Nazi.

Yang Personal

Di pihak sastrawan, Günter Grass sendiri ternyata telah sekitar 35 tahun menginginkan penerbitnya menerjemah ulang The Tin Drum. Grass menginginkan ada alternatif bagi pembaca, dan dia menunjukkan kesan kekurangpuasan dengan hasil terjemahan Ralph Manheim. Namun, penerbitnya kurang menggubris keinginan Grass tersebut. Ada kesan di pihak penerbit muncul semacam pertanyaan, 'Kenapa harus diterjemahkan ulang, mengeluarkan duit ulang, kalau edisi yang sudah ada di pasaran saja, yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah kawakan, sudah bisa menyedot pembaca dan membuat Grass seterkenal ini di kalangan publik pembaca bahasa Inggris?'. Memang, fakta itu tak bisa dipungkiri. Bahkan, menurut Breon, terjemahan Manheim ini punya andil besar mengajak publik melirik sastra Jerman secara umum. Dan sangat besar kemungkinannya edisi Inggris inilah yang akhirnya membuka jalan sehingga banyak orang tertarik kepada Grass dan karya-karyanya selanjutnya hingga akhirnya dia bisa berkesempatan menyampaikan pidato penganugerahan Nobel Kesusastraan yang legendaris itu.

Akhirnya, penerbit pun mengiyakan keinginan Grass tersebut. Itupun karena memang momennya sedang tepat, yaitu peringatan 50 tahun penerbitan edisi pertama novel tersebut.

Di pihak penerjemah, ada kisah menarik sebelum dimulainya proses penerjemahan. Sebagai seorang profesor yang harus membimbing disertasi beberapa calon doktor dan menjadi direktur Lilly Library, salah satu perpustakaan buku langka terbesar di Amerika Serikat yang merupakan bagian dari Indiana University, Breon sendiri sudah lama tidak lagi berminat mencari order menerjemah karya sastra. Namun, dia langsung berminat ketika tawaran yang terakhir datang kepadanya itu adalah tawaran menerjemahkan The Trial dan The Tin Drum.

Namun, muncul dilema karena penerjemah pertama The Tin Drum, Ralph Manheim, adalah seorang sahabat karib Breon selama 7 tahun terakhir masa hidupnya. Dan Breon sendiri terlihat sangat menghargai terjemahan versi Ralph Manheim. Waktu mendapat kabar bahwa The Tin Drum akan diterjemahkan ulang, dan penerjemahnya adalah Breon Mitchell, istri almarhum Manheim langsung menelpon Breon dan bilang, “Kenapa kamu menghianati Ralph?” Mendapat pertanyaan yang tak butuh jawaban itu, Breon segera pesan tiket pesawat dan berangkat ke Cambridge, tempat tinggal Ny. Manheim, dan menjelaskan duduk persoalannya. Alhasil Breon pun bisa mulai mengerjakan penerjemahan buku itu, dan kekagumannya kepada terjemahan versi Manheim terlihat dengan tak henti-hentinya dia gunakan terjemahan Manheim sebagai salah satu sumber utamanya dalam bekerja. Dan Breon pun menulis catatan penyerta di akhir buku yang juga membahas peran karya terjemahan Ralph Manheim dan hal-hal lain yang terkait dengan proses penerjemahannya—mungkin serupa pengantar yang dia buat untuk terjemahan The Trial olehnya yang terbit pada tahun 1999 lalu.

Yang Teknis

Kalau sebelumnya saya menyinggung bahwa banyak detil dari karya Grass yang tak tersampaikan dalam terjemahan Manheim, itu bukan berarti bahwa Manheim adalah penerjemah yang buruk. Terjemahan bahasa Inggris novel The Tin Drum itu bisa dibilang sangat mulus—Breon menyebutnya sebagai 'terjemahan yang indah'. Pembaca sangat bisa menikmati ceritanya novel tersebut dengan membaca terjemahan versi Manheim tersebut. Di sinilah yang menjadi 'masalah'. Dalam bahasa Jerman, novel itu sebenarnya bukan novel yang secara bahasa benar-benar mulus. Ada kalimat-kalimat yang dengan sadar dibuat agak susah. Ada kata-kata yang dibuat dengan pertimbangan bunyi dan ritme. Dan hal-hal yang semacam itu menjadi hilang ketika novel tersebut dihadirkan ke dalam bahasa Inggris yang lancar, yang tentunya menuntut adanya pemenggalan di sana-sini untuk menyingkirkan hal-hal yang dirasa janggal. Padahal, Grass sendiri memendam keinginan pembaca berbahasa Inggris juga merasakan tekstur kebahasaan yang dirasakan para pembaca Jerman.

Uniknya, Breon mensinyalir ada sejumlah faktor di balik hadirnya 'kemulusbacaan' tersebut. Pertama-tama, Günter Grass ketika itu adalah seorang penulis muda yang berusia 30 tahun. Tak bisa dipungkiri, meskipun berusaha bersikap obyektif, pasti ada kecenderungan seorang pembaca—tak terkecuali penerjemah—untuk tidak langsung menggali dalam-dalam karya seorang penulis yang masih muda atau masih pemula. Karena itulah, dalam proses penerjemahan itu penerjemah atau editor cenderung menganggap hal-hal agak ganjil di dalam novel itu sebagai sesuatu yang tidak memiliki signifikansi dan bisa dilewati. Lagipula, pesan yang diusung novel The Tin Drum itu sendiri sudah terasa kuat. Jadi wajar saja penerjemahnya kurang memberi perhatian pada sisi teknis bahasa novel tersebut. Ditambah lagi, sudah bukan rahasia lagi kalau penerbit, yang memberi perhatian besar kepada daya jual sebuah buku—dan ini tidak bisa dibilang salah, karena bagaimanapun ini adalah sebuah bisnis—cenderung menginginkan sebuah novel yang enak dibaca. Maka, jadilah edisi Inggris pertama novel The Tin Drum itu sebuah novel mulus-baca seperti yang bisa kita temui.

Lagipula, Ralph Manheim waktu itu hanya diberi penerbit waktu menerjemahkan selama 6 bulan!

Dengan tujuan menghidupkan detil-detil yang ingin ditampilkan Günter Grass itu, Breon Mitchell pun memulai proses penerjemahan dari awal—dengan kesadaran sepenuhnya bahwa dirinya sedang menerjemahkan sebuah karya pemenang Nobel, karya yang banyak dibahas oleh para sarjana sastra, karya yang tak hanya isi ceritanya tapi juga bentuk bahasaannya juga dibuat dengan pertimbangan masak. Breon mengaku sudah menyukai novel The Tin Drum itu sejak pertama kali dia membaca edisi Jerman-nya ketika novel itu baru diterbitkan. Bahkan, dia menganggap The Tin Drum itu adalah novel berbahasa Jerman paling penting selama paruh kedua abad ke-20. Meski demikian, Breon masih membutuhkan buku-buku referensi untuk membantunya menerjemahkan novel tersebut. Referensi itu mencakup terjemahan karya Ralph Manheim dan buku-buku telaah kritis yang telah ditulis banyak sarjana atas buku tersebut. Di sini Breon mengembalikan lagi kalimat-kalimat panjang Grass yang telah 'dicacah' Manheim menjadi kalimat-kalimat pendek yang lebih akrab bagi pembaca berbahasa Inggris. Grass sendiri agak keberatan kalimat-kalimat panjang yang menurutnya memiliki ritme khusus itu dicacah sedemikian rupa oleh Manheim dengan alasan lebih mengakrabkan bahasanya bagi pembaca berbahasa Inggris. Sebab, menurut dia, bahkan pembaca berbahasa Jerman pun juga merasakan semacam ketidaknyamanan dengan kalimat-kalimat panjang itu. Dan dia juga ingin pembaca bahasa Inggris merasakan hal yang kurang lebih sama dengan yang dirasakan para pembaca Jerman. Dengan bekal cinta dan 'amunisi' semacam itu, Breon menerjemahkan The Tin Drum sambil bisa memperhatikan hal-hal renik yang penting, dan tentunya menghadirkannya kepada pembaca berbahasa Inggris dengan penguasaan seni penerjemahan yang terasah selama puluhan tahun.

Untungnya, Breon mendapat waktu tiga tahun untuk menyelesaikan terjemahan tersebut...

Ada satu pernyataan Breon Mitchell, yang dia sampaikan dalam diskusi dan pembacaan The Tin Drum di Goethe Institute New York pada tahun 2005, yang kiranya perlu dikutip di sini: “Sebagai teks, buku ini sangat kaya. Saya berani bilang tidak akan pernah ada yang bisa menerjemahkannya hingga seratus persen. Namun yang penting menurut saya adalah si penerjemah harus menyadari bahwa di situ ada masalah, dan bertanya 'Terus bagaimana kita menyiasatinya? Apa yang bisa kita lakukan?' Ada kalanya kami tidak bisa mendapatkan jawabannya.”

Yang Unik

Satu hal yang menarik di balik penerjemahan The Tin Drum ini adalah bentuk kolaborasi antara sastrawan dan penerjemah. Günter Grass dan penerbitnya rupanya ingin 'merayakan' 50 tahun penerbitan The Tin Drum secara besar-besaran, yaitu dengan penerjemahan (termasuk penerjemahan ulang) novel ini ke dalam 10 bahasa untuk diterbitkan pada tahun 2009 ini. Tidak hanya itu, Günter Grass kali ini tidak mau 'kecolongan' seperti yang terjadi dengan terjemahan karya Manheim. Dia mengundang 10 penerjemah yang sedang menggarap The Tin Drum untuk menyatukan visi di Gdansk, sebuah kota di Polandia.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama seminggu ini, menurut Breon sebagai salah satu peserta, para penerjemah menyerahkan pertanyaan/komentar terkait kalimat-kalimat dalam novel yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan di antara mereka. Dari kesepuluh penerjemah itu, terkumpul sekitar 3500 poin pertanyaan/komentar. Selama seminggu itu, Grass dan 10 penerjemah ini mengadakan konferensi yang berlangsung antara pukul 9 pagi sampai 5 sore, persis seperti orang kantoran. Mereka membaca novel itu dan membahas poin-poin pertanyaan dari para penerjemah. Selain itu, Günter Grass sendiri menyoroti bagian-bagian yang menurutnya penting untuk dijadikan perhatian para penerjemah. Pembacaan dengan sumber yang seperti itu semakin diperkuat lagi dengan 'napak tilas' ke tempat-tempat yang menjadi latar novel tersebut dengan dipandu oleh Günter Grass sendiri yang menunjukkan benda-benda, bangunan, dan sebagainya, yang diacu juga dalam novel itu.

Ini mengingatkan kita tentang hubungan erat antara sastrawan Argentina Jorge Louis Borges dengan penerjemah 'resminya', Norman Thomas di Giovanni, yang menghabiskan banyak waktu bersama-sama dan membahas tuntas karya-karya Borges yang sedang diterjemahkan.

Ada proses yang unik di sini. Di satu sisi si penerjemah seolah-olah 'tak lebih dari sekedar' mengantarkan apa yang ingin disampaikan si penulis ke bahasa yang berbeda. Seolah-olah, si penerjemah membiarkan egonya melebur dan menyerahkan diri sepenuhnya mengalihbahasakan apa yang diinginkan si penulis. Si penerjemah benar-benar mengekang dirinya menafsir dengan semaunya sendiri. Sebaliknya, dia sepenuhnya tunduk kepada teks dan si pencipta teks. Seolah mereka bersinergi, kembali ke masa sebelum buku aslinya diterbitkan.

Dengan begini, tidak penting lagi yang namanya 'penghianatan', sebuah tema yang kerap diusung para penerjemah atau pengkritik penerjemahan. Yang ada hanyalah bersama-sama masuk ke dalam pikiran si sastrawan dan mencoba mengikuti apa yang dimaksud si sastrawan ketika dia sedang menciptakan novel itu—meskipun tak bisa diingkari bisa saja yang dia ceritakan kepada para penerjemah ini bisa-bisa berbeda dengan perasaan si penulis ketika menulis karya tersebut.

Namun, demi menyadari kemustahilan mencari padanan untuk setiap hal yang ada dalam bahasa Jerman ke dalam bahasa-bahasa lain dunia, Grass juga memberi kebebasan kepada para penerjemahnya untuk berkreasi terkait dengan hal-hal tersebut. Di sini tampak ada yang perlu diperhatikan, yaitu 'penghianatan' itu hanya bisa terjadi pada tahap pembahasaan, sementara pada tahap pemahaman isi karya, penerjemah dituntut selaras dengan si sastrawan.

Demikianlah, meskipun penerjemahan ulang bukanlah sesuatu yang harus dilakukan atas karya-karya yang terjemahannya sudah usang, ternyata banyak yang bisa dipelajari dari situ. Selain itu, sepertinya para penerjemah Indonesia juga harus mengikuti langkah yang ditempuh Breon, yaitu membaca habis-habisan karya sekunder yang mendukung pemahaman pembaca atas karya sastra yang sedang digarap. Tapi, lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah memungkinkan melakukan penerjemahan yang 'doyan' seperti itu dengan upah penerjemahan seperti yang ada di pasaran seperti sekarang ini.

The Tin Drum edisi peringatan ulang tahun emas ini akan diluncurkan pada bulan Oktober tahun 2009 ini. Sementara itu, saat ini Breon sedang merampungkan detil terjemahannya tersebut di tengah kesibukannya membimbing para calon doktor dan mengelola Lilly Library. Oh ya, dia juga langsung bergairah ketika tahu bahwa ada dua karya sastra penting Indonesia yang mengambil latar kota tempat tinggalnya, yaitu kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dan novel Olenka, dan otomatis langsung menyatakan keinginannya untuk mendapatkan buku-buku tersebut buat perpustakaan manuskrip dan buku langka yang dipimpinnya.

2 Februari 2010
* Wawan Eko Yulianto, seorang penerjemah dan blogger di http://berbagi-mimpi.info

26/08/11

Setelah Lebaran

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

SEPULUH tahun yang lalu Bariah masih mencoba mudik tiap mau lebaran, ikut berdesakan dan reboh bawa oleh-oleh. Tapi saat sampai di rumah dan tidak kebagian kamar, karena kamar depan dipakai Kang Barjan dan anak-istri, kamar tengah dipakai Kang Barjun dan anak-istri, dan di dapur dipasang amben untuk Ayah yang sakit-sakitan, maka Bariah memutuskan tak akan pulang berlebaran, seperti pada hari lebaran 10 September yang lalu.

Terlebih saat tiga bulan sebelum lebaran, Ayah meninggal dan rumah keluarga diparuh, sementara Bariah hanya diwaris ladang samping yang dianggap pantas untuk tempat membangun rumah. Sakit hati mendengar omongan Kang Barjan, yang bilang, “Kamu punya penghasilan jadi bisa nyicil mbangun rumah.” Sakit oleh rasa enggan mereka ketika merespon kepulangannya ketika itu, yang dianggap seakan-akan (Bariah) ingin menumpang tinggal selamanya. Ketika Kang Barjan menyuruh menginap di Kang Barjun, dan Kang Barjun menganjurkan menginap di Kang Barjan, sehingga Bariah memilih tidur di bulik Karsih.

Ke mana, dalam empat belas tahun beruntun, Bariah selalu datang kalau pulang kampung. Sampai akhirnya Bariah memilih pindah ke P, kerja sebagai guru tidak tetap dan kos di sana, pulang sembarang waktu serta di hari yang sama kembali dari kampung. Nanti. Karena pada tujuh tahun terakhir Bariah hanya bisa tiarap sebagai yang tidak punya apa-apa, saat intens mengaduh dalam berziarah ke makam Ibu dan Ayah, saat tak bisa tidak harus memperbaharui KTP di desa, serta terpaksa tak bisa tidak kembali kerja di kota. Balik ke trek impian dengan banyak menahan perasaan serta keinginan, senantiasa berhemat, dan menabung sebanyak mungkin. Hal yang dimungkinkan oleh menumpang hidup dan kerja full sepanjang waktu di rumah orang lain.

Mbabu. Ya! Begitu lulus SMP, tujuh bulan sebelumnya Ibu meninggal: Bariah memilih menjadi pembantu di Jakarta, karena di kampung cuma jadi beban Ayah, jadi buruh tani di sawah, dan selebihnya nganggur. Melesat ke rumah orang lain, bekerja setengah menghamba agar disukai dan terpakai terus, karena Nariah ingin bersekolah di SMA dan kuliah, agar bisa jadi guru. Berbesar jiwa menjadi si yang disuruh ini-itu setiap saat bila si bos berada di rumah, jadi yang mengerjakan ini-itu bila si bos ada di kantor dan pulang dengan kepuasaan rumah bersih.

Ya! Ya! Tapi Bariah punya kamar khusus, dijamin makan-minum, dan boleh liburan, kemudian hari Sabtu-Minggu itu jadi momentum ikut Kejar paket C. Ya! Sambil gaji aman masuk rekening. Yang satu saat, setelah jadi guru, akan bisa dipakai membangun rumah sendiri.

* * *

“KAMU serius tak pulang berlebaran, tahun ini Bariah?” kata bos Nandang, asal Garut, yang kedua di rentangan sepuluh tahun. Bariah mengangguk, bilang kalau di kampung sudah tak ada Ayah dan Ibu lagi.

“Memang masih ada kakak, tapi tak enak didatangi karena mereka selalu curiga saya menggugat rumah warisan yang dibagi berdua. Jadi saya selalu memilih mudik setelah lebaran saja. Terasa lebih enak mudik saat lebaran usai, sehingga bisa nginap di rumah saudara lain yang kosong karena keluarga mereka itu sudah balik ke Jakarta, Bandung atau Surabaya,” kata Bariah, tersipu dan tersenyum.

Bos Nandang tersenyum. Puas karena rumahnya akan ada yang menjaga. Dan Bariah dikasih uang lembur, jatah makan seminggu, dan ditinggalkan mudik. Bahkan tiga tetangga di kiri-kanan dan di depan rumah, kemudian jadi lima rumah karena ada ditambah dua rumah lagi di sebelahnya, menitipkan rumah mereka, agar ditiliki serta dibersihkan ketika ditinggal mudik. Enteng karena, minimal hanya menghidupkan dan mematikan lampu, membuka dan menutup tirai, dan menyirami tanaman. Lima bulan kemudian, saat ongkos normal, angkutan tidak berjejal, dan harga oleh-oleh normal,tanpa perlu mejeng berbaju baru, baru pulang kampung. Ketemu saudara dan kerabat, mengaduh sambil ziarah di makam Ayah dan Ibu, dan kembali ke Jakarta. “Ajak adikmu, Bariah.”

“Tapi lik, aku nggak dipesan mencari pembantu. Lagi pula bos di tempatku tidak mengizinkan pembantu pulang saat lebaran,saat mereka sangat butuh tenaga kita,”

“Dasar medit. Pelit!” “Iya, lik. Kecuali,” “Kecuali apa?” “Sekedar latihan cari pengalaman sebelum ke Arab,” Mereka menjebi. Bariah sendiri sebenarnya ingin ikut jadi TKW ke Arab, atau cuma ke Hong-Kong, Singapura atau Malaysia. Tiga atau enam tahun kontrak. Tapi Bariah bimbang dengan cara menyimpan gaji.

Apa diamankan masuk ke rekening? Tapi bila begitu, saat habis kontrak dan pulang kampung: apa tak akan digrecoki tiga ponakan dan empat orang tuanya, yang munafik demi receh mau menerima kepulangannya itu?

Mungkin mereka malah ringan minta dikirim duit untuk mbangun rumah tapi itu tidak dibelanjakan sebab tak merasa perlu membangun rumah, seperti Amrina, yang pulang dan stress karena kiriman gaji tak jadi apa-apa. Ya! Padahal Bariah kepingin sekolah di SMA, lalu berkuliah dan lulus sebagai sarjana pendidikan yang berhak jadi guru,dan seterusnya. Ya! Nanti, nun.

* * *

KARENA itu, sesuai dengan petunjuk dan arahan bos Nandang, pas tiga tahun setelah Ayah meninggal: Bariah ikut program Kejar Paket C, yang diselesaikannya dalam empat tahun. Lalu ikut kuliah UT ambil Pendidikan Bahasa Indonesia, dan baru lulus setelah tujuh tahun, saat Bariah ikut bos Markum, yang asli Tegal. Pada usia tiga puluh empat Bariah pamit pada bos Markum, dan nekad ngekos di Ponorogo, selatan Dolopo,tempat asalnya, buat jadi guru tidak tetap. Ikut tes PNS, dan lulus sebagai guru PNS setelah empat kali ikut tes. Senang saat tetap ditempatkan di Ponorogo, mengajar di SMP Slahung, di pelosok. Tinggal (kos) sendiri, hidup apa adanya, dan senantiasa menyisihkan sebagian besar gajinya untuk cita-cita murni tunggal: membangun rumah dengan uang sendiri.

Nun di sana. Di mana Bariah bisa tenang mengurung diri, mengenang semua lelakon, dan senantiasa berdoa bagi Ayah dan Ibu sehabis shalat. Dan mungkin juga berharap akan didatangi jodoh dan kekal dalam perkawinan yang berorientasi kepada mempunyai anak dan membesarkan anak. Nun.

Dan sesekali pulang kampung, untuk berziarah dan bertemu sanak saudara, dan kembali di hari yang sama ke kesendirian. Nun di sana. Hidup dalam pengabdian dengan banyak menabung. Meski tabungan itu tidak jadi apa-apa, dan cuma jadi warisan yang dibagikan di antara Kang Barjan serta Kang Barjun, ketika Bariah kontan menunaikan kewajiban hidup, dan selesai sebagai manusia di usia lima puluh tahun. Mati dan dikuburkan di pemakaman di bawah naungan bambu,yang senantiasa berdesau saat angin lewat, melintasi palung sungai dengan gemercik air yang lembut menghilir saat kemarau tinggi. Berbaring di antara entah siapa, dan dikuburkan oleh si entah siapa, tapi bersungguh-sungguh ketika memakamkannya karena mereka merasa dipintarkan atau anaknya dipintarkan olehnya di SMP pelosok itu. Meski yang selalu diceritakan kepada mereka tak selalu masalah bahasa Indonesia, tapi semangat jangan menyerah selama masih hidup dan punya cita-cita,dengan cerita bagaimana Bariah jadi sarjana dan guru dengan mbabu. “Jangan lihat apa pekerjaananya, jangan lihat mulia atau hinanya pekerjaan itu, tapi,lihatlah sejauh mana pekerjaan itu memberi uang kepadamu, sehingga kita bisa berhemat dan memanpaatkannya untuk meraih ilmu dan kesemnpatan yang lebih baik. Jangan hargai apa pangkat dan pekerjaannya tapi hargailah setiap upaya orang untuk memperoleh penghasilan halal dan tidak tergantung belas kasihan orang lain.” kata Bariah, kalimat yang seperti bergaung mengiang saat setiap lebaran banyak dari bekas murid datang berziarah, bertemu dan bersalaman, lantas bersepakat berdoa bersama di kuburannya.

Di sana, padahal mereka itu cuma si entah siapa. Dan sesekali anak-anak bos Nandang dan bos Markum, yang Bariah asuh itu datang berkunjung dan berdoa, sementara itu kedua kakak, kakak ipar, dan lima keponakannya tak pernah mampir.

* * *

DALAM tajam aroma kemenyan, suara desau daun bambu dan gema gemuruh arus air saat penghujan tiba itu seperti mengajak buat tetap tinggal di Bumi dan kekal sebagai mahluk Bumi. Tapi Bariah tidak bisa berlama-lama karena harus kembali ke kesunyian (sendiri) sebelum masa kebangkitan itu tiba dan semua berjalan memasuki ruang dacin perhitungan,serta pelan menyeberangi titian tipis baik-buruk, langsung memasuki hisab dan kekekalan siksa atau anugerah. Nanti. Tempat di mana pulang tak berkaitan dengan tempat asal, rumah di mana kita dilahirkan dan dibesarkan, serta waktu di mana kita dimatangkan kasih sayang dan keimanan agar tegar mengembara ke seluruh pelosok. Nun, nanti. Saat pulang hanya diperhubungkan dengan apa yang telah kita perbuat selama berkeliaran di muka Bumi. Nanti, nun di belum terbayangkan. ***

Catatan:
reboh : repot dengan bawaan berlebihan di kedua tangan
amben : ranjang bambu
mbangun : membuat dan mendirikan rumah
mbabu : bekerja sebagai pembantu
ditiliki : selalu dikontrol dan dicek

Kabut Sepanjang Jalan ke Arah Rumah

Alexander G.B.
http://www.lampungpost.com/

Empat jam dari Bakauheni sampailah aku di Terminal Rajabasa. Sengaja tak banyak barang bawaan, hanya beberapa helai baju dalam tas ransel hitam yang terlanjur berubah abu-abu. Debu berterbangan, beberapa di antaranya hinggap ke sepatu, baju, dan paru-paru. Rencana kepulanganku tak akan lebih dari seminggu. Aku menduga pasti tak akan kerasan di rumah. Aku tidak tahu mengapa perasaan tidak nyaman semacam ini bermekaran di kepala.

Aku tertarik dengan kesibukan orang-orang di terminal, ada yang merasa asing melangkah ragu-ragu. Tampak raut cemas dan lelah begitu lekat sebagian besar pengunjung, menunggu keberangkatan untuk pulang dan pergi. Tetapi sebagian—yang menganggap terminal sebagai rumah—tampak santai, kerap matanya berubah seperti mata serigala melihat mangsa. Mereka selalu tahu siapa yang sering bepergian dan yang tidak. Ketenanganku membuat mereka tak hendak mengusik atau mengganggu. Aku bersyukur atas itu.

Ya, sementara aku selamat, aku pantas lega karena mereka tak melakukan hal yang sama dengan pengunjung terminal lain yang menyeret ke sana kemari. Kudengar seorang lelaki berteriak Talangpadang—Kotaagung beberapa kali. Maka lekas kupilih bus menuju kota kecilku. Kupilih bangku di dekat jendela, dengan harapan jalan-jalan yang dulu kerap kulalui kembali hidup dalam ingatan. Lima belas tahun tak kusapa dan begitu banyak perubahan di sepanjang jalan menuju rumah. Aku turut bahagia dengan itu. Sepanjang jalan berbagai kendaraan menyesaki jalan. Semakin ramai rupanya. Dua jam kutempuh perjalanan dari Rajabasa menuju Talangpadang.

“Jangan lupa, jika sudah sampai di Talangpadang segera panggil becak, karena tukang ojek sering kali meminta ongkos yang terlalu tinggi dan tidak masuk akal,” ujar kakak perempuan yang kerap terlampau khawatir,

“Tetapi bukankah aku bisa menolaknya?”

“Mereka akan memaksa. Dan jika kamu tidak mau mereka akan terus mengikuti. Jadi untuk lebih amannya, sebaiknya kamu panggil becak.”

Aku teringat beberapa kisah menjelang Lebaran, ketika ramai orang-orang kampung mengadu nasib di Tangerang, Serang, Jakarta, atau ke luar negeri menjadi TKI di Taiwan, Malaysia, Hong Kong, Arab Saudi, dan sebagainya. Maklum tanah di kampung kian gersang. Hutan penyangga yang sempat dilarang untuk disentuh sudah lama berubah menjadi kebun kopi, cengkeh, lada, dan sebagainya.

Mengenang perjalananku, mengingatkan saat mudik Lebaran. Ketika para perantau dari kampung hendak merayakan Lebaran di kampung. Jika mereka selamat di Rajabasa, tukang ojek akan siap menghadang di Talangpadang. Kabarnya kita sudah merdeka. Beberapa di antara mereka diminta ongkos beratus kali lipat dari ongkos yang sewajarnya. Jika hari-hari biasa Rp25 ribu—Rp30 ribu, tetapi menjelang Lebaran terkadang mesti mengeluarkan Rp50 ribu sampai tak terhingga. Ada yang harus membayar Rp100 ribu, bahkan sampai Rp300 ribu. Keinginan menjumpai keluarga demikian besar sehingga mereka tetap memaksa diri untuk menempuh bahaya semacam itu, terkadang harus merelakan jerih payahnya diambil paksa oleh orang lain.

Lantas aku teringat sajak Saijah dan Adinda karya W.S. Rendra: “Orang-orang miskin menghabisi orang-orang miskin.” Aku menundukkan kepala. Saat ini semakin banyak teman dan saudara keluar dari kampung mengadu nasib di negeri orang, berharap mendapatkan pekerjaan dan sedikit uang tambahan, ada yang jadi pembantu rumah tangga, buruh pabrik, berjualan keliling, sales, dan lain sebagainya. Gaji mereka pasti di bawah UMR. Jadi ketika tukang ojek itu meminta ongkos yang tidak masuk akal, mendung segera bergelayut di wajah-wajah lelah yang rindu kampung halaman itu, yang sekadar ingin merayakan dua hari Lebaran bersama keluarganya.

Ketika memasuki Talangpadang, kucium aroma yang nyaris sama 10 tahun lalu. Amis ikan, jalanan berlubang, genangan air di mana-mana, ratusan tukang ojek yang mangkal di setiap gang dan sisi pasar. Aku menikmati keriuhan dan kesemrawutan ini. Menikmati mata-mata jalang yang mengamati laju becak yang kutumpangi.

Kucari warung nasi untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Tiga jam menunggu, dua gelas kopi kuhabiskan, tapi kendaraan yang kutunggu tak menampakkan batang hidungnya. Terik dan penat kuabaikan. Aku menunggu mobil yang bisa mengantarku ke rumah. Kendaraan sederhana yang biasa digunakan untuk mengangkut sayuran atau barang belanjaan para pedagang. Tak ada kendaraan khusus untuk penumpang. Mengenang hal tersebut aku jadi tersenyum kecut. Lebih 50 tahun merdeka, ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi berkembang pesat, tetapi tidak bagi Ulubelu dan sekitarnya. Aku percaya kampungku masih Indonesia.

Sudah hampir pukul dua sore. Mobil yang kutunggu tak kunjung menampakkan batang hidungya.

“Naek ojek saja. Tapi cari mereka yang mangkal di dekat pos penjaga dekat Alfamart. Jangan yang di tempat lain.”

Aku mengangguk. Lalu melangkah menuju tempat seperti yang disarankan kakak perempuanku. Mengabaikan mata-mata beringas yang sesekali menawarkan jasanya. Oia, beberapa tahun terakhir kampungku sudah ramai dengan telepon seluler. Tak ada telepon rumah karena tempatnya memang sulit dijangkau.

***

Segera kubayangkan jalanan berkelok yang harus kutempuh. Satu jam perjalanan. Tidak terlalu jauh. Hawa dingin sudah mulai membayang dalam ingatan. Pohon-pohon rimbun di sisi kiri dan kanan jalan, sungai dari mata air Gunung Rendingan yang dipenuhi batu-batu hitam yang berjajar rapi. Kabut yang turun sejak pukul emapt sore. Uap belerang, hamparan kebun kopi, sawah, dan teman-teman lama.

Rumah tampak sepi, hanya ada Rani, kakak perempuanku yang sedang menjahit pakaian pelanggannya. Tak tampak ayah. Mungkin masih di pasar, atau sedang berkebun seperti biasanya. Tiba-tiba aku merindukan ayah. Sosok yang sejak dulu kuhindari. Bahkan kepergianku ke Jawa adalah usaha menjauh darinya. Aku tidak tahu mengapa aku demikian membenci ayah. Bahkan, setelah 10 tahun pergi dari rumah, perasaan semacam itu masih tampak begitu kuat. Sempat ada keraguan ketika hendak membuka pintu. Tampak sepi. Hanya ada Rani yang langsung memelukku begitu aku membuka pintu.

***

“Sudah lama ayah menunggumu. Ia bangga kamu sudah semakin hebat sekarang. Kabarmu selalu ia ikuti. Ia selalu bertanya tentang dirimu. Berkali-kali ia memandangi foto-fotomu dari album yang kamu kirimkan. Ia begitu bangga, hingga hampir setiap hari ia ceritakan tentang dirimu kepada para tetangga dan keluarga lainnya. Banyak yang iri dengan dirimu.”

Aku terdiam. Benarkah apa yang diucapkan wanita yang dulu selalu melindungiku dari kemarahan ayah. Jika menilik matanya tak ada kesan untuk membohongi atau menipuku. Sungguh, hanya dialah aku percaya. Selama ini aku hanya memberi kabar padanya. Tentang ibu, ia meninggal ketika kami masih duduk di sekolah dasar. Sejak kematian ibu, aku membenci ayah. Ayah di mataku seperti serigala. Barangkali kebencianku bermula dari Ibu yang sering bercerita tentang keburukan ayah. Kata ibu, ayah tak pernah sungguh-sungguh menafkahi keluarga. Ayah pemarah dan mau menang sendiri. Kesimpulan masa kecilku.

Tak bisa kupungkiri, aku begitu dekat dengan sosok yang biasa kupanggil ibu. Sikap ayah pun kasar kepadaku. Perlakuannya membuat aku semakin yakin cerita ibu bahwa ayah bukan seorang yang baik. Matanya yang menyala tampak seperti menyimpan dendam atau kebencian pada ibu. Wanita yang kemudian melahirkan adikku yang ketiga dari hubungannya dengan lelaki lain. Kabarnya ibu lakukan itu sebagai balasan atas perlakuan ayah. Kakak perempuanku yang berkisah. Ia pasti bisa dipercaya. Rani juga menyayangi ibu, ia juga tidak menyukai ayah, tetapi kebenciannya tidak sebesar kebencianku.

Tak lama sejak kematian ibu, ayah menikah lagi. Aku kian membencinya. Setelah menyelesaikan SMA, aku melanjutkan kuliah atas usaha Rani agar hidupku bisa berubah lebih baik. Akhirnya jauh dari kampung. Akhirnya lepas juga rumah yang tak beda dengan penjara. Aku juga tidak tahu apa yang mendorong ayah mengikuti saran Rani. Ia hanya seorang pedagang kecil dengan sepetak tanah yang ditanami kopi dan palawija.

***

Setelah sesaat diam. Duduk dan meneguk segelas kopi yang dihidangkan Rani, kutatap langit sore. Kulihat wajah Rani yang tampak kelelahan, meski ia mencoba menyembunyikan di balik senyumnya yang sejak dulu indah. Aku menukasi senyum Rani. Rani bercerita sudah lama berpisah dari suaminya. Aku mengangguk. Pantas saja ia tampak lebih tua dari yang semestinya, mungkin karena harus menanggung biaya hidup dan sekolah anaknya yang baru saja masuk SMP tahun kemarin. Begitu banyak hal terjadi, dan aku tak tahu. Lebih tepatnya aku tak ingin tahu. Aku meninggalkan rumah dengan perasaan benci kepada ayah, kepada rumah, kepada hidupku. Bahkan, aku tak pernah bangga dengan apa yang sudah aku lakukan meski bertahun-tahun bergelut dengan dunia ideal yang banyak diimpikan orang.

Hawa dingin mulai merasuk. Sudah lama tak kurasakan dingin seperti ini.

“Besok aku mau ke kebun. Aku mau mandi di sungai. Kebun dan sawah kita masih ada kan?”

“Tidak, semuanya sudah dijual untuk membiayai kuliahmu. Meski banyak keluarga yang menentang, ayah tetap menjualnya. Iya tidak ingin kamu berhenti kuliah karena putus biaya. Ia merasa kamu satu-satunya yang pantas dibanggakan. Aku sendiri gagal membangun rumah tanggaku. Sementara Dani meninggal karena berkelahi waktu ada keramaian di kampung tetangga. Kamu satu-satunya harapan keluarga. Dan ia selalu membanggakanmu.”

Ada sebersit rasa yang aneh. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaanku.

“Ayah di mana sekarang? Kenapa sudah lewat magrib tidak pulang juga.”

Rani diam. Beberapa kali menghela napas.

“Ia meninggal setahun yang lalu. Kamu masih ingatkan, waktu aku kasih kabar ayah sakit kepadamu?”

Aku mengangguk.

“Kamu bilang tak bisa pulang karena sedang ada pementasan di Makassar. Ayah melarangku untuk menghubungi lagi. Takut kegiatanmu terganggu. Tak lama dari situ ia meninggal. Tetapi ia tersenyum. Sebelum meninggal ia berpesan agar aku menjagamu. Ia minta maaf karena tak bisa menunggumu pulang.”

Kepalaku terasa berat sekali. Bagaimana jika Rani dan ayah tahu aku tidak selesai kuliah? Bagaimana jika mereka tahu pengorbanannya sia-sia? Hampir setiap hari aku dan teman-teman berbincang tentang hati nurani, estetika, filsafat, kemanusiaan, tentang masyarakat yang sakit. Seolah-olah kami yang paling sehat, karena masih punya cita-cita dan idealisme. Tetapi ayah dan Dani meninggal. Aku tidak sempat berterima kasih dan meminta maaf kepadanya.

Gelas yang kugenggam terlepas. Suara pecahannya mengejutkan Rani. Lantas gelap. Gelap sekali.

April—Mei 2011

Mudik Lebaran

Asep Yayat
http://www.suarakarya-online.com/

Setiap lebaran aku selalu pulang kampung. Mudik. Tak terkecuali lebaran kali ini. Segala persiapan sudah beres. Jadi, tinggal berangkat saja. Beberapa hari lalu mobil sudah kubawa ke bengkel: ganti oli plus servis mesin dan penyejuk udara alias AC. Dengan demikian, meski terbilang sudah uzur, mobilku tetap nyaman dan bisa diharapkan tidak mogok di perjalanan.

Sementara itu, oleh-oleh buat ibu di kampung sudah dibungkus rapi dalam rupa kado dengan hiasan pita sehingga berkesan istimewa. Beberapa kardus juga sudah dilakban. Isinya: bingkisan untuk kerabat, terutama Nung yang sehari-hari menemani dan merawat ibu.

Nanti pagi menjelang adzan shubuh, ketika orang-orang sedang santap sahur, aku bersama istri dan anakku semata wayang mulai meluncur meninggalkan Jakarta. Mudah-mudahan arus kendaraan di jalur pantura sudah tidak macet lagi seperti heboh diberitakan di televisi tadi sore. Tapi kalaupun perjalanan mudik lebaran ke arah timur Jakarta masih dihadang macet, aku sudah siap mental. Paling tidak, pengalaman bermacet-macet saat mudik lebaran di tahun-tahun yang lalu telah membuat mentalku tahan banting. Jadi, hadangan kemacetan lalu lintas di perjalanan tak bakal membuatku senewen.

Boleh jadi, sikap mentalku membaja juga karena aku demikian bersemangat menyongsong mudik lebaran ini. Ya, karena bagiku mudik lebaran sudah menjadi semacam ritual tahunan. Mudik lebaran kuanggap sebagai momen istimewa yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Dengan mudik lebaran, aku bisa bersilaturahmi dengan keluarga di kampung. Terutama dengan ibu yang sudah sepuh.

Lebih dari itu, mudik lebaran juga menjadi istimewa karena membuatku merasa bisa berbakti kepada ibu: menunjukkan perhatian sekaligus memohon ampun dan doa.

Karena itu, setiap selesai sungkem kepada ibu di pagi pertama idul fitri, aku selalu merasa bahagia. Batinku terasa mendadak jadi lapang. Jiwa dan pikiranku jadi kembali jernih dan segar. Tak lagi sumpek akibat sehari-hari terus didera berbagai masalah.

Boleh jadi, momen idul fitri membuatku merasa tercerahkan secara spiritual karena dalam keseharian aku senantiasa dibebani pikiran tentang ibu. Hati kecilku tak bisa menerima kenyataan bahwa ibu yang sudah sepuh hidup jauh dari kami, anak-anaknya. Terus-terang aku merasa berdosa. Mestinya kami yang sehari-hari menjaga dan merawat ibu di hari tuanya sekarang.

Aku malu kepada Nung. Sepupuku itulah yang selama ini berbaik hati menggantikan kami mendampingi ibu. Nung bukan saja sehari-hari menemani ibu, melainkan juga merawatnya dengan telaten. Pokoknya, berkat Nung, kami tak beralasan mencemaskan soal ibu di kampung.

Tapi sampai kapan? Kalau suatu hari nanti Nung mendapat jodoh, apa mungkin dia tetap bisa mengurus ibu seperti selama ini? Rasanya tidak! Aku yakin, suami Nung nanti – siapa pun dia – hampir pasti berkeberatan kalau Nung tetap mengurus ibu. Terlebih lagi kalau Nung nanti dibawa suaminya keluar dari kampung kami.

Andai pun setelah berkeluarga nanti ternyata tetap tinggal di kampung kami, Nung boleh jadi tak bakal mendapat izin suaminya untuk tetap mengurus ibu! Atau kalaupun suami Nung memberi izin sekalipun, dan Nung sendiri masih bersedia merawat ibu, situasinya tentu lain. Paling tidak, perhatian Nung jelas tak bisa diharapkan lagi sepenuhnya untuk ibu. Sebagai istri dan mungkin ibu anak-anaknya, perhatian Nung kepada ibu niscaya tak mungkin lagi bisa seperti selama ini.

Sebenarnya, kami – tiga bersaudara anak ibu – sudah berulang kali membujuk ibu agar tinggal bersama salah satu di antara kami di rantau. Entah dengan aku di Jakarta. Atau dengan Mbak Rum di Palembang. Atau juga dengan Mas Tono di Banjarmasin. Tapi ibu beralasan, tak kerasan hidup di luar kampung halaman kami.

Boleh jadi, batin atau psikologi ibu memang amat kuat terikat dengan lingkungan kampung kami. Namun alasan yang lebih mungkin, menurutku, ibu enggan hidup bersama kami karena dia sungkan merepotkan anak-cucunya. Mungkin juga ibu khawatir kalau-kalau suatu saat berkonflik dengan mantunya seperti cerita-cerita pengalaman tetangga ibu di kampung.

Tapi apa pun yang menjadi alasan ibu, aku tak pernah bisa nyaman dan tenang oleh kenyataan bahwa ibu menjalani sisa hidup di kampung tanpa diurus anak-anaknya sendiri. Bagiku, meski didampingi Nung, ibu tetap saja seolah-olah hidup telantar.

Karena itu, ibu senantiasa menjadi beban pikiranku. Terlebih karena di luar momen lebaran aku nyaris tak pernah bisa sempat menengok ibu. Kesibukan di kantor benar-benar membelengguku. Libur akhir pekan selama dua hari sepenuhnya kumanfaatkan untuk beristirahat: agar pada pekan berikutnya aku mampu menjalani kesibukan tanpa loyo. Sementara kalaupun tergelar hari besar nasional, sehingga kantor libur, kesempatan untuk pulang kampung tetap tak serta-merta bisa kumanfaatkan. Selalu saja ada halangan yang membuatku tak bisa menyempatkan pulang kampung untuk menengok ibu. Halangan itu terutama ajakan atasanku di kantor untuk menemaninya memancing di laut!

Memang, bisa saja aku menolak ajakan bosku itu – meskipun dengan perasaan rikuh dan sungkan. Tapi, jujur saja, aku sendiri menikmati keasyikan memancing ini. Terlebih lagi bosku biasa memberiku tips sebagai penghargaan atas kesediaanku menemaninya memancing. Lumayan buat menambah-nambah uang dapur!

Karena itu, ajakan bos menemaninya memancing di laut hampir tak pernah kuasa kutampik. Akibatnya, itu tadi, setiap kesempatan untuk menengok ibu di kampung saat hari libur nasional pun menguap begitu saja.

Memang, libur dalam rangka cuti tahunan bisa menjadi kesempatan lain untuk itu. Tapi, soalnya, aku justru selalu mengambil cuti bersamaan dengan momen lebaran. Alasanku sederhana saja: selain agar bisa berlibur lebih panjang, juga karena ketika lebaran aku mengantungi uang tunjangan hari raya. Nah, itu menjadi bekal bagi kami untuk bersenang-senang menikmati libur, termasuk untuk ongkos pulang kampung.

Sementara itu, dua kakakku pun sami mawon. Sama-sama jarang menengok ibu di kampung. Bahkan Mas Tono sudah tiga kali lebaran secara berturutan tidak mudik. Tahun ini, dia juga tak bisa berlebaran di kampung karena pergi beribadah umrah sekeluarga.

Satu lagi kakakku, Mbak Rum, juga tak lebih baik dalam memberikan perhatian kepada ibu. Kesempatan dia mudik lebaran sangat tergantung kesadaran suaminya. Sayangnya, kesadaran itu sungguh tipis! Seingatku, selama hampir dua puluh tahun ikut suami di Palembang, Mbak Rum baru empat atau lima kali berlebaran di kampung. Di luar itu, dia praktis tak pernah mudik. Dia seolah tak peduli terhadap ibu. Oh.

* * *

Adzan shubuh masih berkumandang ketika bungsuku, Joyo, tiba di rumah. Sama seperti istri dan anaknya yang semata wayang, Joyo kelihatan lelah sekali. Bisa kumengerti, karena – seperti pengakuan dia kemudian – mereka menempuh perjalanan Jakarta-Purwodadi praktis selama 24 jam penuh. Kemacetan parah hampir di sepanjang jalur yang dilalui membuat perjalanan tidak normal – dan karena itu sangat melelahkan. Terlebih lagi buat Joyo sendiri, karena dia harus menyetir mobil tanpa tergantikan. Maklum, istrinya tak bisa mengemudi. Anaknya juga masih terbilang kecil untuk diserahi tugas sekadar menyelingi Joyo menyetir.

Bagiku, kehadiran Joyo untuk merayakan lebaran sungguh mengharukan. Pertanda kepedulian dan kecintaannya terhadapku, ibunya, begitu dalam. Dia tak hirau dan tak gentar oleh perjuangan berat menempuh perjalanan mudik ke kampung halamannya. Dia juga tak pernah kapok mengulang perjalanan melelahkan sekaligus menjengkelkan itu, sehingga tiap lebaran dia selalu pulang kampung – semata agar bisa berlebaran bersamaku.

Joyo memang penuh perhatian. Meski pulang kampung setahun sekali – saban lebaran – dia acap menelepon. Mengecek keadaanku, entah langsung berbicara denganku ataupun melalui Nung yang sehari-hari menjagaku. Joyo tampaknya selalu khawatir kalau-kalau aku jatuh sakit atau mengalami kesulitan dalam menempuh sisa hidupku. Dia juga rutin mengirim uang untuk segala keperluanku.

Joyo beda dengan dua kakaknya, Tono dan Rum. Dua kakaknya itu sesekali saja menelepon – menanyakan keadaanku. Mereka juga jarang mudik, termasuk saat lebaran. Bahkan lebaran kali ini mereka tak bisa mudik. Sejak beberapa hari kemarin, mereka sudah berkirim kabar tentang itu – tentu dengan alasan masing-masing yang sepenuhnya bisa kuterima dan kumaklumi.

Jadi, lagi-lagi hanya Joyo menemaniku berlebaran. Sementara Tono dan Rum, seperti yang sudah-sudah, pasti nanti siang menyampaikan salam idul fitri via telepon.

Joyo sendiri, usai menumpahkan kangen setiba di rumah, pamit ke kamar tidur menyusul anaknya yang sudah duluan melanjutkan mimpi. Tak lama kemudian, dengkuran Joyo terdengar nyaring seolah ingin mengalahkan gema takbir di masjid yang dipancarkan melalui pengeras suara. Mantuku yang imut, istri Joyo, beranjak ke dapur menemani Nung menyiapkan hidangan lebaran.

Joyo bangun kembali – tepatnya dibangunkan istrinya – ketika orang-orang bubar dari masjid usai melaksanakan shalat idul fitri. Joyo segera membersihkan badan dan bersalin busana dengan baju koko plus sarung. Kepalanya dibiarkan tanpa pici yang lazim dikenakan banyak orang.

Sebelum tetangga datang bersilaturahmi idul fitri, Joyo diikuti istri dan anaknya sungkem di pangkuanku. Dengan suara bergetar, Joyo memohon ampunanku. Dia menyatakan penyesalan tak bisa mengurus aku, ibunya, sebagaimana seharusnya dilakukan anak yang berbakti.

* * *

Usai acara sungkeman, ibu bergegas beranjak ke kamarnya. Wajahnya mendung. Seperti memendam sesal. Bagiku, itu aneh. Tak pernah ibu terlihat seperti itu. Apalagi di hari idul fitri. Memang, acara sungkeman selalu menggugah rasa haru sehingga air mata kami pun tak terbendung lagi menetes. Tapi biasanya itu hanya sesaat. Cuma ketika sungkeman berlangsung. Setelah itu biasanya suasana segera berubah cerah ceria.

Karena itu, aku menangkap kesan aneh ketika usai sungkeman kali ini wajah ibu terlihat mendung seperti tersaput kekecewaan. Terdorong rasa heran, aku pun menyusul masuk ke kamar ibu. Istri dan anakku tidak ikut. Mereka memilih beringsut ke ruang depan. Bergabung bercengkrama dengan sanak saudaraku.

Di kamar, kudapati ibu duduk di bibir ranjang tua sambil terisak pelan. Aku terpana. Tak mengerti apa yang terjadi. Tapi tak urung aku duduk di samping ibu.

“Ibu kenapa? Ingat bapak, ya?” kataku menebak-nebak. “Ibu tak usah bersedih. Nanti siang kita berziarah ke makam bapak.”

Ibu menoleh. Lalu menatapku dalam-dalam. Ibu terlihat ingin berkata-kata. Tapi seperti ragu, sehingga tak sepatah kata pun keluar dari mulut ibu.
“Ada apa, Bu? Katakan …”

Ibu menghapus air matanya dengan ujung kerudung yang dia kenakan. Lalu, dengan sendu, dia berkata: “Jo, terima kasih. Kamu sangat perhatian kepada ibu …”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Tangannya kugenggam penuh cinta.

“Jo, tiap lebaran selalu kamu sempatkan pulang. Aku senang. Senaaaang sekali.
Tapi …”
“Tapi kenapa, Bu?”

Ibu menghela napas. Nyata sekali beban berat memenuhi rongga dadanya. “Tapi aku juga kecewa, karena apa yang kuharap-harapkan setiap lebaran tiba tidak juga menjadi kenyataan.”
“Ibu berharap apa?”
Ibu membuang pandangan ke langit-langit kamar sambil menggeleng lemah.
“Katakanlah, Bu …” aku mendesak.

Ibu menatapku lagi. Pandangannya menusuk. Membuat batinku bergetar. Lalu katanya: “Jo … Aku ingin kamu bersyahadat lagi. Setiap kali lebaran tiba, aku selalu berharap itu kau lakukan. Tapi dari lebaran satu ke lebaran lain, selalu saja aku harus menelan kekecewaan …”

Aku terdiam. Kepala tertunduk. “Terus-terang, Jo. Aku tak pernah bisa ikhlas menerima kenyataan bahwa kamu berganti keyakinan. Aku kecewa sekali. Aku bukan tak merestui pernikahanmu. Tapi aku sungguh tak ikhlas bahwa pernikahan membuatmu berganti keyakinan.”

Aku makin tertunduk. Tak sanggup berkata-kata. Hatiku serasa disayat-sayat.***

Jakarta, 26 Juni 2011

Kegilaan Seorang Jendral: Catatan Pentas Monolog Cucuk Espe

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Dengan artistik yang minimalis dan musik yang sederhana, pentas monolog Jendral Markus pun berlangsung. Adegan awal yang dimulai dengan sapa tokoh kepada penonton, layaknya seorang yang sedang orasi ditengah kerumunan massa. Hal tersebut nampak pada pemilihan bentuk panggung arena yakni upaya tak mengambil jarak dengan penonton.

Lontaran pertanyaan-pertanyaan pada penonton tentang dirinya (Jendral Markus) terus berulang, tetapi penonton pun tak menjawab siapa Jendral Markus, hanya senyum dan bingung tampak pada ekpresi para penonton di Sasana Krida Budaya. Akhirnya Jendral Markus pun mengenalkan dirinya sendiri, bahwa ia yang menjaga kota ketika kota dilanda kekacauan, pembakaran pertokoan. Tak hanya sampai situ, penonton di bawa pada alur mundur akan pertemuan dengan seorang ibu yang menanyakan anaknya yang hilang. Anak seorang ibu yang bergabung dalam dunia aktivisme dan sering melakukan demontrasi menentang kekuasaan. Kali ini Jendral Markus tak berdaya, tak dapat menemukan anak dari seorang ibu yang hilang. Bagi Jendral, itu adalah tanggung jawabnya dengan begitu ia tak berhenti hingga anak dari ibu tersebut ditemukan sudah tewas di pinggir sungai. Jendral bingung, harus menjelaskan dengan cara apa pada ibu yang melaporkan anaknya yang hilang dan ditemukan olehnya sedang tewas.

Konfik menjadi tajam, ketika kedatangan seorang pemuda yang membawa kabar tentang keselamatan dirinya, tetapi ditolaknya bahkan ia mengatakan bahwa hidupnya jauh dari selamat. Keselamatan yang ditawarkan oleh pemuda tersebut adalah keikutsertaan akan suatu rencana dan dirinya akan dilibatkan dalam rencana tersebut. Dari penolakannya, membuat semuanya menjadi suram setelah empat orang mendatangi rumahnya tetap saja ia tak mau, akhirnya rumahnya dibakar anaknya hilang dan istrinya entah kemana.

Dibalik kesuraman hidupnya atas penolakan rencana kejahatan, ia meratap. Ratapan hanya sementara, ia pun tersenyum dan tertawa kembali karena ia masih memiliki nurani. Ia pun berkeliling ke mana-mana, tetap mengangkat hormat pada negerinya.

Tak lama kemudian setelah Jendral Markus melakukan perjalanannya dan berkeliling ke sana-kemari, menghadiri pertemuan-pertemuan dan perutnya mulai lapar, fikiranya mulai tak waras ia terjatuh. Lampu pun padam dan pertunjukan pun usai.

***

Jika kita mengingat-ingat tragedi kemanusiaan pada era Orde Baru yakni penculikan, pencekalan apabila seseorang melawan dan tidak mengikuti aturan penguasa maka nyawa akan hilang; entah nyawanya sendiri atau nyawa kerabat dekatnya. Ancaman akan bertubi-tubi datang kepadanya hingga seorang tersebut mengalami depresi dan akhirnya gila. Kewarasan nurani ternyata membawa kegilaan bagi Jendral Masrkus, hal ini menjadi berita umum hidup di bangsa ini ketika masih mengunakan nuraninya maka tak akan selamat. Banyak kisah sudah terjumpai, aktivis 98, penegak ham Munir, dan masih banyak yang lainya yang tak terberitakan. Maka hidup di bangsa ini bila ingin selamat harus mengubur nurani. Sebuah refleksi bagi kita semua, bila ingin bangsa ini menjadi lebih baik maka nurani harus tetap terjaga. Kemungkinan hal ini juga masih terjadi dalam era kekininan dalam bentu lain. Akronim nama Markus yang ramai dibicarakan oleh media massa yakni mafia kasus menjadi misteri tersendiri. Karena Markus dalam lakon pertunjukan monolog kali ini tak meiliki sikap sebagai mafia kasus, tetapi sebaliknya. Jendal Markus tokoh yang diperankan oleh Cucuk Espe dari Teater Kopi Hitam Jombang di Sasana Krida Budaya Universitas Negeri Malang pada tanggal 30 Juni 2011 pukul 19.30 yang bekerja sama dengan Teater Hampa Indonesia Univeristas Negeri Malang. Pertunjukan yang disutradarai oleh Farid Khuzaini, penata artistiknya Anjrah LB, penata musiknya Doel Khamdani dan naskah ditulis oleh antornya sendiri yakni Cucuk Espe yang telah telah berkeliling dibeberapa kota. Jika kita mengacu pada pendapat Aristotelis bahwa kesenian adalah duplikasi, maka pertunjukan monolog Jendral Markus adalah “duplikasi” kasus-kasus yang terjadi dibangsa ini yang dikemas dengan pendekatan seni pertunjukan. Selain itu memberikan kesadaran akan kondisi bangsa yang carut marut, orang benar dan baik tak bisa hidup tenang di negeri ini.

Pertunjukan monolog Jendral Markus di Sasana Krida budaya UM masih ada beberapa cela yang kurang maksimal tergarap, di antaranya adalah soal panggung arena yang tak sampai pada keutuhan tampaknya aktor di atas panggung oleh penonton yang melingkar. Hal itu dikarenakan aktor hanya bermain di titik-titik panggung yang menghadap pada penonton sebagian dan sebagaian lainya tak tampak karena tertutup properti meja kursi serta arah pandang aktor yang tak seimbang sehinga ketakterjarakan pada konsep panggung arena antara aktor dan penonton juga belum maksimal terjadi.

Begitu juga pergantian tokoh, ketika tokoh Jendral Markus kehadiran seorang ibu dan berpindah menjadi tokoh ibu yang bercerita perihal kehilangan anaknya tak ada bedanya: ada kesamaan antara Jendral Markus dan Ibu, begitu pula dengan Tokoh pemuda dan empat tamu yang datang padanya. Keterjagaan akan tokoh sebagai Jendral Markus dan tokoh-tokoh lainnya yang dihadirkan secara imajiner tak dapat nampak dengan baik.

*) Anggota Teater Sampar Indonesia Malang dan Koordinator Pelangi Sastra Malang.

PUISI DI RAGANGAN BUIH

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Tahun ini, seorang anak keponakan saya, Vivi Sudayeni memenangkan lomba Cipta Puisi di Sragen, dalam perayaan Memperingati 10 Nopember, di mana sebuah sanjak bernapaskan kepahlawanan berhasil diciptakannya dengan bagus sekali. Tahun sebelumnya, diamenjuarai lomba baca puisi. Sebenarnya, kalau hanya lomba baca puisi, saya tidak begitu puas. Kepuasan itu justru lahir karena melihatnya, bahwa diapun mampu menciptakan puisi-puisi yang merekam aneka pengalaman masa remajanya yang intens.

Mudik Primordial

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Jutaan orang kini mempertaruhkan hidupnya di kota. Dan jutaan pula yang kembali ke kampung asal ketika menjelang Lebaran. Sebagian besar pulang karena kemauan sendiri, rindu sanak keluarga dan rumah tempat dia dilahirkan. Sebagian karena ada yang diminta oleh keluarganya untuk pulang atau kembali, berkumpul bersama-sama sambil merayakan hari raya Idul Fitri dengan suka cita.

Tak heran jika mudik jadi tradisi paling menyita perhatian di Indonesia. Dari musik sampai puisi terdapat tema mudik. Dari cerita sampai berita dipenuhi oleh tema mudik. Dan rumah tidak lagi bermakna sesuatu yang hanya fisik, tapi sesuatu yang religius.

Dari sisi agama, rumah adalah tempat kembali. Dalam Kitab Suci, al-Qur’an misalnya, cukup banyak menggambarkan persoalan reantau atau hijrah, pulang dan rumah. Ada rumah Allah (bayt-al Allah) atau bayt-al-Ma’mur, rumah yang dituju. Semuanya menunjukkan makna pencarian dan kembali dalam arti fisik sekaligus batin. Idul Fitri disebut sebagai hari raya untuk meraih kesucian kembali. Kembali menjadi suci lagi setelah diri ternodai.

Idul Fitri juga bisa disebut momen nostalgis, sebuah hari untuk mengingat ikrar dan perjanjian dengan yang Mahasuci. Segala kenangan di rumah dan di kampung halaman atau di perut ibunda, yang telah kita tinggalkan, ingin kita raih kembali, ingin kita datangi kembali. Tak heran jika hanya sedikit orang di negeri ini yang tidak melakukan mudik saat Lebaran, sementara sebagian besar berbondong-bondong untuk bisa pulang ke tanah kelahiran, sekalipun yang ingin didatangi hanya rumah bambu beratapkan ilalang dan berdindingkan geribik, seperti dalam lagu Rumah Kita Ahmad Albar.

Memang ada yang kenes dan nenes di situ. Ada sesuatu yang terasa rutin dan karena itu kehilangan kedalaman di situ. Tapi apa boleh buat, kita bukan tanpa masalalu. Kita tidak lahir dalam rumah yang vakum. Karena itu, pulang dan kembali adalah bagian sah dari sebuah perjalanan. Tapi terlampau mengingat rumah dan masalalu juga, akan membelenggu ruang gerak kita sendiri. Karena itu, sikap yang jumawa adalah menerima kehilangan masa lalu dengan lapang dada.

Tanpa itu maka konflik antara masa lalu dan masa kini akan terus mewarnai perjalanan hidup kita. Memang, untuk sebagian orang ada yang sengaja mempertahankan konflik batin tersebut. Sengaja memupuk tarik-ulur antara dua dunia tersebut. Terutama di kalangan seniman. Tapi ada yang tak betah hidup dalam tarik-menarik semacam itu. Ia ingin segera membunuh yang satu dan demi menyemarakkan yang satu.

Sastra dan agama cukup banyak memberi teladan soal itu, juga pilihan-pilihan yang mestiu diambil atau tak hendak diambil. Yang jelas kita tak bisa menolak dua dunia itu, ia kenyataan yang akan selalu memergoki kita. Kita bisa saja memberi porsi lebih tinggi pada yang satu atau lebih rendah pada yang satunya, tapi ia kenyataan sejarah yang tak mungkin sepenuhnya bisa ditampik. Dualisme itu memang ada dan menjadi bagian dari hidup.

Kita tidak sedang bicara soal rumah papan atau rumah tembok, atau rumah semi permanen. Kita sedang bicara soal rumah sejarah. Sebuah tempat, sebuah identitas, bahkan sebuah kosmos. Demikian pula ketika bicara soal rantau atau hijrah; kita sedang memperkarakan sebuah pergolakan, perasaan, emosi, jatidiri, hakikatdiri, bahkan hargadiri. Semua itu syarat konflik, baik konflik fisik maupun konflik batin.

Ada cerita nyata soal kebijakan mudik di negeri ini. Pada suatu hari raya pemerintah—terutama aparat kepolisian—mengeluarkan ketentuan agar pemudik dilarang mudik membawa kendaraan roda dua dengan membawa anak dan istri serta barang-barang dalam satu motor. Hal ini terlampau berisiko. Seorang pemudik tetap saja nekat. Satu-dua orang juga nekat. Bahkan cukup banyak yang memaksakan mudik dengan melanggar ketentuan yang dikeluarkan kepolisian.

Di sebuah perjalanan ada razia kendaraan bermotor. Seorang pemudik terkena razia dan ditanya oleh polisi mengapa memaksakan diri mudik dengan membawa anak-istri dan barang-barang di atas motor. Si pemudik tak mau kalah jawab: ”Kalau saya mampu Pak, kami sekeluarga mudik dengan naik pesawat! Kami tahu risiko mudik dengan motor, apalagi penuh muatan seperti ini, tapi ini yang kami punya! Kalau tidak sini kan uang kami mudik naik pesawat! Kami mudik dengan motor semacam ini karena nanti kalau di kampung motor bisa kami pakai ke sana ke mari, untuk kendaraan berkunjung ke rumah pamiliki, teman. Kalau kami pulang naik kendaraan umum, ketika Lebaran di kampung kami hanya gigit jari. Kami tak bisa persiran ke mana-mana karena tak ada kendaraan pribadi!”

Polisi itu diam dan menyuruh si pemudik melanjutkan perjalanan. Tentu setelah memberi saran agar si pemudik berhati-hati. Si pemudik tampak begitu puas, merasa menang berdebat dengan polisi.

Itulah fenomena yang terjadi di negeri kita. Orang akan memaksakan mudik sekalipun ada aturan formal yang mencegahnya. Dengan kata lain, mudik tak bisa dicegah. Saya sendiri punya pengalaman yang cukup banyak soal mudik. Saya pernah jatuh dari motor ketika mudik. Saya pernah mengalami tabrakan dengan kendaraan motor yang berlawanan arah ketika mudik dengan motor juga. Sungguh, tak bahagianya bila seorang pemudik yang karam dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman. Betapa kecewa ia ketika tidak sampai di rumahnya dan harus mendekam di rumah sakit saat orang merayakan hari Raya Idul Fitri.

Kita tak ingin jadi pemudik yang tak sampai pada pencarian yang kita impikan, karena kita manusia yang membawa sifat ”rindu-rupa rindu rasa”, kata Amir Hamzah. Kita memang manusia yang cengeng. Baru sehari kita tinggalkan rumah dan kampung halaman sudah rindu menggebu. Hanya orang-orang tertentu yang betah jadi manusia rantau, manusia hijrah, selamanya. Kendati begitu, perasaan rindu terhadap rumah, keluarga, kampung halaman, tentu saja tak sepenuhnya bisa disirnakan.

Apa sesungguhnya hakikat mudik itu hingga setiap tahun kita menyaksikan jutaan manusia Indonesia menjalaninya. Ribuan jawaban dan alasan bisa kita cari pembenarannya. Mudik bisa dilihat secara individual, sosial, atau bisa dibaca dalam kerangka antropologi, fenomenologi, sosiologi, psikologi, filsafat, puisi, prosa, dan banyak lagi. Bagi kaum sufi makna mudik tentu berbeda bagi kaum pemuja syariat.

Saya teringat sebuah kisah tentang al-Hallaj. Dalam kitabnya dengan judul sangat simbolik, Ta-Sin (atau Tawasin), ia menamakan perjalanan menuju Tuhan sebagai lingkaran “titik primordial”. Dalam penjelasannya, titik primordial tersebut digambarkan sebagai sumber sekaligus muara kehidupan manusia, yang tak pernah bertambah atau berkurang. Tidak pula habis-kikis dengan sendirinya, karena pencarian tak pernah selesai, terus mengulang dan berputar dalam lingkaran primordial yang sama. Dosa yang pernah datang mendekat, akan terkikis, sambil mencari ia datang kembali, berhamburan ia pergi, menggairahkan ia hadir, menjauh ia terbang, sambil mencari ia datang, dari ketakjuban, ia bergegas, sambil bermaaf-maafan ia lebur, dan seterusnya, dan seterusnya.

Lingkaran primordial itu dilukiskan al-Hallaj dalam bentuk simbol tanda baca titik yang membentuk lingkaran yang tak putus-putusnya, terus berulang, belum sudah, dan berulang kembali. Dalam bahasa ibu saya, fenomena ini diistilahkan sebagai olok mulang; yang dekat dengan pemaknaan arus balik dari darat ke laut dalam roman tebal Pramoedya Ananta Toer.

Adalah menarik ketika makna mudik primordial itu juga diapresiasi oleh sastrawan peraih Nobel Sastra di bidang kepenulisan puisi, Octavia Paz, dalam karyanya The Other Voice (Suara Lain). Ia melukiskan perjalanan puisi modern ibarat perjalanan sejarah kemanusiaan yang mencari kepenuhan martabatnya dengan semangat menghadirkan kembali asal primordial: perjalanan bolak-balik ke kala mula, sebelum ketidakadilan lahir, ke kurun sebelum munculnya kesenjangan, perselisihan, ke mudian menyusuri waktu kini dan ke masa depan, terus-menerus mencari persilangan waktu, memusar ke satu titik, pertemuan yang melebur kala silam, kini dan kelak.

Kembali ke dalam konteks mudik primordial, setipa pemudik merindukan asal primordial. Ketika si pemudik telah sampai ke rumah primordial, ia ibarat telah sampai ke kampung halaman. Kemudian ia akan bergegas memenuhi panggilan-Nya; mula-mula membersihkan diri, mandi, bersalin, menanggalkan baju yang berpeluh keringat saat di perjalanan dan menggantinya dengan baju yang bersih untuk menyambut panggilan takbir dan tahmid dengan harapan agar mudik fisiknya bisa dibalas Tuhan.

Penyair yang mencari rumah sejarah akan mencari kepenuhan dirinya lewat apa saja. Ada yang lewat agama dan ada pula lewat sastra. Tatkala ia mengamati kisaran air, atau ombak suak ujung kalak, ia akan terinspirasi dan menulis puisi. Ketika ia sedang mandi di kali dan terperangkap alimbubu, ia membayangkan pusaran waktu, lalu lahirlah puisi.

Menghayati mudik primordial dalam puisi-puisi penyair kita sungguh tak ternilai harganya. Mereka jarang menampilkan identitas atau rasa kedaerahan yang sempit, sebagaimana banyak dikhawatirkan oleh para kritikus. Tak ada manusia suku Chandala dan Arya dalam puisi-puisi penyair kita yang bicara tentang rumah dan identitas. Tak pernah saya temukan adanya semangat etno-nasionalisme sebagaimana dalam karya-karya sastra Amerika Latin, yang dikhawatirkan para kritikus ketika penyair kita gandrung kembali ke asal, ke akar, ke alam lokal dan tanah air.

Penyair kita hanya kembali ke dalam pencarian kedalaman di pedalaman, yang walau meniscayakan keterbatasan karena itu memang bahasa ruang, namun lebih baik ketimbang melanglang-buana di negeri-negeri mancanegara tapi tak menghasilkan karya yang sebanding dengan jauhnya perjalanan kecuali hanya beberapa catatan perjalanan yang dangkal.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Novel yang Mengurai Peristiwa Subliminal

Catatan kecil setelah membaca novel Tembang Tolak Bala
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Mutu penginderaan manusia memiliki batas untuk mempersepsi segala hal di lingkungan sekitarnya. Tetapi, dalam aktivitas sehari-hari, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tetap direaksi oleh indera lalu diterjemahkan oleh pikiran namun tak kita sadari. Peristiwa itu disebut oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya yang bertajuk Man and His Symbols sebagai peristiwa subliminal, atau peristiwa yang diserap ke lapisan bawah dari ambang kesadaran.

Peristiwa-peristiwa subliminal ini, nantinya memiliki arti emosional tersendiri bagi seseorang, berperan mengimbangi dan memperbaharui keseimbangan psikis, mengembalikan arus ingatan pada hal-hal yang telah di/terlupakan, bahkan menjadi rangkuman padat dari kehidupan. Kesemuanya itu, diolah dalam bentuk pesan khusus oleh alam tak sadar dan disampaikan dalam mimpi.

Peristiwa subliminal itulah yang menjadi pokok penting dalam novel Tembang Tolak Bala (LKiS, 2011) karya Han Gagas. Hargo, tokoh sentral dalam novel ini, diceritakan mengalami koma selama 35 hari ketika ia berusia 9 tahun. Dalam komanya itu, Hargo mula-mula bermimpi hidup di masa-masa keruntuhan Majapahit sebagai anak asuh Ki Ageng Mirah yang merupakan leluhur para warok, lalu terpental dalam dimensi waktu yang lain menjadi gemblak warok di masa ketika Indonesia berhadapan dengan tegangan sosial politik di masa demokrasi terpimpin Soekarno. Dua dimensi waktu itu, dalam mimpi Hargo memiliki satu kaitan pesan khusus yaitu pelak-pelik sejarah kehidupan Reog yang tak terpisahkan dari riwayat leluhurnya juga rangkuman padat kehidupannya.

Darah Warok

Saat mengunjungi Telaga Ngebel di lereng Wilis, Hargo yang telah berusia belasan tahun teringat kembali pada kenangan masa kecilnya bersama ayahnya yang mengajaknya menonton upacara larung labuhan tanggal 1 Syuro. Saat itu, setelah prosesi larung labuhan usai, Hargo dan ayahnya tetap berdiri menatap telaga meski pengunjung larungan telah pergi. Di keheningan telaga, Hargo mendengar Ayahnya berkata begini: “Sebenarnya, akulah yang harusnya memimpin doa itu. Kita sebagai keturunan Eyang Tejowulan, memiliki wahyu untuk mengucap doa itu. Tapi, pemerintah tak mau menghapus dosa eyang. PKI selamanya tertancap di kening kita” (Hal. 114-115).

Kata-kata ayah Hargo adalah perisitiwa subliminal yang saat itu tidak direaksi secara sadar oleh Hargo, mungkin karena peristiwa itu dianggap tak menyenangkan karena mengindasikan hal buruk yaitu keturunan PKI yang berkaitan dengan pemberontakan komunis dan mengakibatkan dampak traumatik sosial di negeri tempat ia tinggal. Tetapi kata-kata itu tetap diserap oleh indera pendengaran dan disimpan ke lapisan bawah dari ambang kesadaran Hargo, lalu disampaikan kembali oleh alam bawah sadar dalam bentuk mimpi ketika ia mengalami koma selama 35 hari

Dari mimpi yang dialaminya, Hargo lalu tahu bahwa di tubuhnya mengalir darah keturunan Warok. Kenyataan tentang jati dirinya ini berpengaruh pada tanggapan emosinya dalam tiga hal: 1). Sebagai keturunan warok, Hargo merasa jijik dengan kebiasaan seks menyimpang seorang warok dengan seorang gemblak dalam bentuk hubungan seks sesama jenis, 2). Hargo adalah keturunan warok yang dicap memiliki kaitan dengan orang-orang PKI sehingga disisihkan secara sosial oleh warok yang lain, 3). Hargo adalah keturunan warok yang menyisahkan perselisihan antar warok yang berkembang menjadi dendam turun temurun.

Tiga hal ini terceritakan sebagai pesan dalam mimpi Hargo. Dalam mimpi itu Hargo mengalami sendiri kedukaan menjadi Gemblak Tejowulan yang secara garis keturunan adalah kakeknya sendiri. Tejowulan pulalah yang menjadi cikal bakal keturunannya dicap sebagai orang PKI, sebab ketika pemberontakan komunis meletus di Madiun, Tejowulan menampung anak-anak juga istri para pelarian orang-orang pergerakan dari Madiun. Tersebarnya anggapan bahwa Tejowulan mengayomi orang-orang komunis membuat musuh bebuyutannya bernama Wilodaya mempunyai dalih di mata masyarakat untuk membunuh Tejowulan sebagai pembalasan dendam karena ayahWiroladaya pernah dipermalukan oleh ayah Tejowulan dalam suatu pertempuran.

Dalam kehidupan nyata, pesan-pesan dalam mimpi itu, di satu sisi telah mengembalikan arus ingatan Hargo pada hal-hal yang telah di/terlupakan berkaitan dengan riwayat rangkuman kehidupan leluhurnya. Sedang di sisi lain, pesan mimpi itu berperan mengimbangi dan memperbaharui keseimbangan psikis Hargo yang terbentuk dalam keyakinan dua hal: 1) Ia adalah warok yang akan membawa risalah hidup wajar, dengan istri dan anak-anak tanpa harus mempertahankan laku gemblak, 2). Tembang tolak bala yang diberikan oleh Tejowulan dalam alam mimpi sebelum ia terbunuh oleh Wilodaya, dipahami Hargo sebagai pesan pentingnya kerendahan hati dalam sikap maaf dan damai untuk mengakhiri dendam turun-temurun, sebab secara historis tembang ini pulalah yang mendamaikan hati Ki Ageng Kutu sebagai leluhur para warok untuk menyelesaikan perselihannya dengan Raden Katong sebagai putra Brawijaya V.

Pola mimpi sebagai Strategi Literer

Uniknya, dalam novel Tembang Tolak Bala ini, struktur mimpi yang memang tak memiliki susunan logis dalam alur cerita maupun pembagian waktu dimanfaatkan oleh pengarang sebagai strategi literer yang menarik. Peristiwa demi peristiwa di dalam mimpi, berjalan seakan tanpa kesatuan tindakan dan peristiwa, tanpa memperhitungkan kelogisan cerita.

Cobalah Anda bayangkan: Mula-mula Hargo diterbangkan oleh layang-layang, lalu tiba-tiba saja ia berada di masa runtuhnya Majapahit dan diasuh oleh Ki Ageng Mirah. Di rumah Ki Ageng Mirah ini, Hargo selalu tertarik untuk bermain-main di sungai sampai suatu saat arus sungai menyeretnya ke arus waktu ketika Indonesia mengalami pergolakan politik di zaman pemerintahan Orde Lama. Ketika seseorang menodongkan pistol padanya, menembaknya, tiba-tiba badannya melesap ke dalam bumi dan ia siuman mendapati dirinya dirawat di rumah sakit akibat koma selama 35 hari.

Maka, membaca novel ini, Anda akan mendapati mimpi layaknya petualangan fiksi dengan segala kemungkinan dan kejutan yang tak terduga. Mimpi yang hadir dengan membawa muatan pesan untuk mengingatkan bahwa ada banyak peristiwa di dunia yang ter/dilupakan. Peristiwa itu bisa bersifat massal semisal kebudayaan Reog Ponorogo yang pernah dikotak-kotakkan dalam kepentingan politik tertentu hingga menyebabkan pertumpahan darah antar warok, atau bersifat personal tentang kedirian yang kehilangan identitas sebab ancaman traumatik politik. Setidaknya, inilah peristiwa subliminal kehidupan yang diurai oleh Tembang Tolak Bala.

17 Agustus 2011

Pengikut