10/03/11

Siapakah Sastrawan Kalsel?

Catatan untuk Tajuddin Noor Ganie
Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Sebagai publik sastra di Kalimantan Selatan kita beruntung memiliki Maman S. Tawie dan Tajuddin Noor Ganie. Keduanya saya takzimi dengan panggilan Pak. Kedua aktor sastra ini memiliki keajegan yang tak tertandingi dalam mencurahkan perhatian secara sukarela untuk mendokumentasikan dan mencatat perkembangan sastra di Kalimantan Selatan, terutama karya yang dipublikasikan di media cetak di Kalsel atau dalam bentuk buku yang dipublikaksikan di institusi sastra di Kalsel.

Pada tanggal 26 September dan 03 Oktober 2010, Pak Tajuddin mempublikasikan catatannya, “Antologi Biografi 643 Sastrawan Kalsel” . Jumlah yang sangat fantastis. Tapi jumlah yang berbeda semacam meralat rilis yang pertama. Tulisan tersebut sangat penting bagi mereka yang berminat meneliti sejarah sastra yang ada di Kalimantan Selatan. Tetapi dalam proses pembacaan, saya seperti diseret paksa oleh beberapa pernyataan dan konsep yang perlu didiskusikan lebih jauh.

Tulisan tersebut seperti jalan pembuka untuk mendiskusikan kembali sejarah tradisi sastra di Kalimantan Selatan yang sejauh ini masih simpang siur. Perhitungan yang dilakukan penulis antologi perlu kita perhitungkan kembali karena hitungan yang tepat dapat menjadi acuan bagi kajian yang lebih serius. Jumlah itu secara korespondensial memang benar tetapi apakah juga benar secara paradigmatik dan koherensial?

Analogi yang bisa kita pakai untuk memahami jumlah sebanyak itu adalah dengan menanyakan apakah setiap orang yang pernah menulis sebuah karya sastra adalah sastrawan? Secara analogik kita bisa mengaitkan dengan logika pertanyaan yang sama, apakah setiap manusia pasti manusiawi, orang yang punya rohani adalah rohaniawan, orang yang belajar sejarah adalah sejarawan, pemimpin negara pasti negarawan, orang yang belajar ilmu agama pasti ulama?

Berdasarkan pengalaman manusia, sastrawan tentulah bukan setiap orang yang pernah menulis karya sastra. Karya sastra bisa ditulis oleh penulis dengan latar belakang apapun, tetapi sastrawan adalah kualitas tersendiri yang diberikan oleh masyarakat sastra suatu wilayah kepada penulis yang dipandang layak menyandangnya, misalnya melalui apresiasi pembaca yang luas, penghargaan komunitas, atau penghargaan pemerintah. Oleh karena itu, penjelasan tentang pengkategorian yang jelas sangat diperlukan.

Di samping persoalan itu, beberapa masalah ada dalam pernyataan tulisan itu. Pertama, perhatikan pernyataan baris pertama: Sastrawan Kalsel adalah sastrawan yang lahir di Kalsel atau pernah tinggal di Kalsel. Hanya itu, tidak ada kriteria lain yang bersifat eksklusif secara sosial politik. Apakah kriteria ini tidak bersifat eksklusif secara sosial politik? Pikirkan kembali, apakah kelahiran bukan kategori sosial? Mari lihat KTP kita, mengapa kita ditanya tempat dan tanggal lahir? Tidak adakah maksud politik identitas? Bukankah identitas adalah milik pribadi kita? Mengapa pemerintah atau negara ingin mengetahuinya? Tentu di balik semua ini ada misi politik yang berkaitan dengan konstruksi kebijakan. Tempat dan waktu ternyata juga kategori sosial dan politik yang penting untuk menetapkan kebijakan-kebijakan sosial politik yang bisa inklusif dan juga bisa eksklusif.

Kedua, pikirkan pula kategori ini: Sastrawan Kalsel adalah siapa saja yang ketika tinggal di Kalsel dikenal luas sebagai penulis karya sastra bergenre modern dalam bahasa Indonesia di berbagai koran/majalah dan buku-buku sastra. Kata kuncinya adalah penulis, sastra, modern, dikenal luas. Frase siapa saja sangat membingungkan karena pada rangkaian pengertian selanjutnya, pengertian ini dibatasi dengan frase dikenal luas, modern, dan bahasa. Pemahaman ini pun bisa berdampak pada munculnya makna baru bahwa karya sastra yang tidak modern, yang tidak berbahasa Indonesia, bukan karya sastra sastrawan Kalimantan Selatan. Kalau pengertian ini yang dipakai maka para pujangga penulis syair Banjar bukanlah sastrawan Kalsel meskipun mereka telah menulis dan mungkin pula dikenal luas dan mendapatkan penghargaan pada zamannya. Pun bisa juga karya mereka ‘modern’ pada zamannya. Bukankah makna “modern” sangat relatif?

Penyataan tersebut sangat berbeda dengan pengertian yang ditawarkan oleh Wikipedia. Ensiklopedia berbasis internet itu mendefiniskan sastrawan seperti ini: Sastrawan adalah istilah bagi orang-orang yang menghasilkan karya sastra seperti novel, puisi, sajak, naskah sandiwara dan lain-lain. Oleh karena itu, penyair, penulis, pujangga, serta profesi-profesi terkait lainnya bisa dikelompokkan sebagai sastrawan juga.1 Jika demikian, Gusti Ali Basyah Barabai penulis Syair Brahma Syahdan, Gusti Ali Basyah Barabai penulis Syair Madi Kencana, Anang Mayur Babirik penulis Syair Teja Dewa, Anang Mayur Babirik penulis Syair Nagawati, Anang Ismail Kandangan, penulis Syair Ranggandis, Anang Ismail Kandangan penulis Syair Siti Zubaidah, Kiai Mas Dipura Martapura penulis Syair Tajul Muluk, Gusti Zainal Marabahan penulis Syair Nur Muhammad, Mufti Haji Abdurrahman Siddik Al-Banjary penulis Syair Ibarat adalah para sastrawan Kalsel juga.2 Mereka dikenal luas. Apakah tak ada modernitas dalam karya mereka? Siapa yang telah meneliti kadar modernitasnya?

Selain itu, ada persoalan terminologis dalam konsep dikenal luas. Seberapa luas? Bagaimana memastikan bahwa sastra itu telah dikenal luas? Pernyataan ini sangat sulit diklarifikasi secara empiris. Apakah penulis puisi yang memanfaatkan internet sebagai media publikasi pasti dikenal luas? Apakah internet wilayah yang sepenuhnya bebas? Apakah penulis yang memublikasikan di koran lokal dan atau nasional pasti dikenal luas? Karena luas adalah kata sifat, kata itu tetap perlu diberi batas untuk memastikan apa yang dimaksud dengan luas itu dengan kajian perbandingan yang memadai.

Ketiga, konsep tentang sastra yang bergenre modern? Apakah modernitas sastra Kalsel yang dimaksud telah diteliti? Atau malah jangan-jangan muatan sastra Kalsel sebenarnya masih belum beranjak dari tradisionalitas, kalau hal itu bisa didualismekan. Apakah yang modern sebagaimana yang dimaksudnya memang tidak mengandung dualitas struktur? Bagi mereka yang ingin meneliti sastra, persoalan di atas adalah ranah penelitian yang belum tersentuh. Kajian sastra terlalu banyak yang masik berkutat pada persoalan intrinsik yang tak dapat diharapkan kontribusinya bagi penetapan estetika sastra di wilayah kita ini.

Keempat, pertanyaan-pertanyaan berseliweran setelah itu: Apakah pengertian karya sastra abad ke-17 masih sepenuhnya bisa dipakai saat ini? Memakainya tentu juga akan berimplikasi pada penentuan termasuk kategori sastra dalam ruang dan waktu Kalsel saat ini dan masa lalu. Bukankah teori berubah mengikuti perkembangan sejarah masyarakat dan masyarakat juga punya power untuk menganggap dan tidak menganggap seseorang sebagai sastrawan? Apakah Merayu Sukma yang telah menasional laik disebut sebagai sastrawan Kalimantan Selatan? Siapa yang menganggap? Anggapan sejarawan sastra, publik sastra, atau pemerintah? Jangan-jangan dia telah termasuk sastrawan nasional? Saya kira perlu penjelasan tentang hal ini. Konsep-konsep ini saya kira perlu diterangjelaskan terlebih dahulu.

Kelima, dinyatakan bahwa: Tidak ada pembatasan dalam hal kurun waktu kelahirannya, tempat kelahiran, latar belakang suku bangsa, agama, ras, golongan, asal daerah, dan tempat tinggalnya setelah dikenal luas sebagai sastrawan. Peryataan ini bernuasa dekonstruktif, dalam pengertian mengadakan sekaligus meniadakan sastrawan Kalsel. Apa yang disebut sastrawan Kalsel oleh antologi tersebut sebenarnya juga bukan sastrawan Kalsel, karena mereka bisa berada dalam kategori dari wilayah di luar Kalsel, misalnya Indonesia, dunia, atau daerah lain.

Inilah yang saya sebut bahwa catatan Pak Tajuddin adalah pintu pembuka untuk memasuki dunia kesastrawanan di Kalsel yang sangat kaya dan memiliki tradisi sastra sangat tua melampaui tahun yang disebutkan dalam tulisannya. Ini wilayah tambang kebudayaan yang sampai saat ini belum digali oleh para generasi pewarisnya. Penelitian sastra di dua perguruan tinggi masih berkutat pada persoalan sastra modern, sementara sastra klasik di Kalsel nyaris tak tersentuh. Kondisi ini tentu mengingatkan kita pada sajak WS Rendra yang terkenal, “Seonggok Jagung di Kamar”: … Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya? Tapi saya berharap tulisan ini juga salah dan saya terbuka untuk dicerahkan kapan saja.

Dosen FKIP Unlam
Mahasiswa Pascasarjana UI
Pondok Cina, Depok, 26.09.2010

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita