Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2010

Tulisan Terbuka Untuk Bupati Suyanto Soal Seni-Budaya Jombang

Fahrudin Nasrulloh
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Dalam beberapa obrolan dan jagongan tentang seni-budaya Jombang, ada seorang pegiat seni yang dengan antusias tapi terkesan chauvinistik menyebut bahwa banyak ikon Jombang yang perlu dilestarikan keberadaannya. Misalnya ia menyebut sosok Besut, pengremo legendaris Mbah Bolet, warisan Topeng Jatiduwur, Watu Gilang di Ploso, situs Sendang Made, tradisi warga Sandur Mandura, dan lain-lain. Sejumlah pejabat pemerintah juga kerap mengkopi-ucap data inventaris kesenian itu kala memberi sambutan pada acara-acara resmi tertentu. Nimbrung nanya, seberapa akurat dan seperti apa jenis deretan kesenian itu telah ditelusuri dan selanjutnya diketahui sebagai sebuah pengetahuan yang menjadi kesadaran milik bersama warga Jombang? Boleh jadi saya keliru mengudar rasa bahwa topik macam demikian semata hanya bahan kelakaran sambil-lalu atau gosip di jedah istirahat makan siang di sebuah acara resmi pejabat atau seniman yang merasa ngurusi kesenian…

Puisi-Puisi Pringadi AS

http://www.sastra-indonesia.com/
Sebuah Jawaban di Stasiun Kereta
: wan anwar

dari Ampera, aku tidak pernah berpikir akan lupa pada seporsi
mpek-mpek yang asam, dan manisnya segelas es campur di keruhnya
wajahmu. tiga puluh menit, Wan, tiga puluh menit saja aku sudah
sampai di kereta membawa sebuah koper yang berisikan wangi
parfummu tetapi aku masih meninggalkan selembar kertas kosong
atas pertanyaanmu dulu. aku duduk di gerbong ke tiga,
sebuah televisi menyala menampilkan sakit yang sama saat aku berjanji
takkan lagi pernah menemuimu yang rubuh
di jalan raya,
di sekitaran air mancur dekat masjid Agung yang luntur
sebab mata ibu tak lagi merunduk mencari aku
di sekitaran lampu merah
di pinggir-pinggir ibukota dengan sandal jepit
dan pikiran yang selalu sempit.

dari Ampera, Wan, aku merindukan kepergianmu yang angslup
di balik dua garis sejajar yang bertemu
di satu titik milikmu, titik yang menyampaikan pesan terakhirmu

di kertas kosong itu.



Suatu Malam di Cianjur
: wan anwar

Menguburmu malam-malam, aku ter…

Puisi-Puisi Deny Tri Aryanti

http://www.suarapembaruan.com/
Kusapa Laut

Laut berbelok ke utara
Ketika keperawananmu dihembus angin selatan
Meregangkan lelah dari waktu-kewaktu,
Menyeduhkan dendam pada ubun-ubun hantu
Seperti ketika kusekatkan kata di lidahmu
Malam telah hilang
Memagut separoh usia di tengah kemaluanku
Hilang kata perkata dari sajak bebatuan
Terlindas kematian,menggerakkan karang
Dan menghancurkan setetes buih putih
Dari rahim bayangan
Aku telah hadir
Menyapa angin,laut dan bebatuan yang sunyi.

Sby, Dec 2003



Perayaan Batu-batu

Kampung-kampung pembaptisan berlumuran darah
Menghiasi daun natal dan lonceng tua sebuah misa
Kuhampiri upacara kematianmu
Diantara pelayat tanpa lentera
Disana kelelawar mengaburkan musim semi
Menggelar malam menamatkan riwayat kesunyian
Tanpa sadar kuminum sebotol arak dari tenggorokanmu
Memecah cemara yang telah kau hias
dengan darah dan kematian
mereguk mendung di atas tanah merah
Hilang seperti dendam yang telah kau pupuskan

Sby, Dec 2003



Kereta dari Surga

Berjalan dalam kamarmu,
Seperti melewati ker…

tentang Neo Pujangga Baru (dari Nirwan Ahmad Arsuka)

NB: nirwan arsuka, aku baru pulang dari acara Hut Apsas ke-4 di Jakarta, jadi gak sempat menjawabmu. aku gabungkan semua postingmu tentang Neo Pujangga Baru-ku itu di sini biar enak membaca dan meresponnya. aku kirimkan ini ke kau. silahkan kau tag siapapun yang kau inginkan ikut diskusi ini. aku juga akan melakukan yang sama. cheers!!! http://www.facebook.com/note.php?note_id=62953009697

1.
terima kasih, Saut. perumusanmu tentang “neo-pujangga baru” yang kau kecam itu cukup terang: meski pun belum tentu tepat, setidaknya ia memudahkan diskusi.

paling tidak empat kata atau frasa pokok yang bisa dipakai sebagai batu penjuru diskusi: pujangga baru, atavisme diksi, keindahan/labirin bahasa, dan mannerisme.

pujangga baru, angkatan … yang dianggap memulai sastra/bahasa indonesia modern ini jelas bukan kelompok yang seragam. dan kalaupun sejumlah tokohnya tampak kelewat asyik dengan yang “susastra” (apa yang keliru dengan keasyikan ini?), itu tak lantas membuat tulisan mereka jadi obskur. Takdi…

Mencari Titik Temu antara Sastra dan Agama

Asef Umar Fakhruddin*
http://www.infoanda.com/Republika

Membincangkan relasi antara sastra dan agama memang selalu menarik. Tidak jarang menyeruak pula perdebatan sengit terkait kedua entitas ini. Perdebatan sengit antara “dua kubu” aliran sastra (kubu Taufiq Islamil dkk dengan kubu Hudan Hidayat dkk) beberapa waktu yang lalu dan bahkan sampai sekarang, jika dirunut, juga berujung pada di mana sebenarnya posisi sastra dan agama dalam kehidupan.

Pada hakikatnya, agama maupun sastra, bermuara pada rasa atau jiwa. Agama, misalnya, meskipun juga membahas dan menyodorkan pusparagam hukum-hukum formal, juga mengetengahkan kajian-kajian kritis tentang jiwa. Bagaimana seyogyanya manusia melakukan pembersihan terhadap hati atau jiwa pemeluknya, merupakan salah satu kajian inti agama.

Sama halnya dengan karya sastra. Setiap karya sastra bisa dikatakan sebagai gelora batin penulisnya (baca: sastrawan). Gelora ini merupakan bentuk kegelisahan sekaligus harapan mereka terhadap kemanusiaan yang semakin…

Perjuangan Rakyat, Berpameran, dan ”Tak Termuat di Antologi”

HUT Ke-80 Sitor Situmorang

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Rekonsiliasi itu perlu. Namun penegakan kebenaran juga tetap harus dilakukan sejalan dengan rekonsiliasi itu. Kalimat ini mengalir dari pendapat seorang Sitor Situmorang, penyair, prosais, yang terlibat dalam aktivitas dan sejarah kebangsaan, di momen pembacaan puisi dan cerpen bersama generasi terbaru.

Dengan tajuk ”Menengok ke Belakang, Mengintip ke Depan: 1965 sampai 2004” yang diadakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin (5/10), Sitor Situmorang, tampil bersama nama lain yang tak jauh dari generasinya, Putu Oka Sukanta dan Martin Aleida. Di momen yang diadakan oleh milis Sastra Pembebasan itu, Sitor mengatakan bahwa hal terpenting adalah memperjuangkan suara rakyat dan kebenaran.

Sitor, penyair kelahiran 2 Oktober 1924 di Harianboho, Sumatera Utara ini sehari sebelumnya juga baru merayakan hari ulang tahunnya di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki. Hadir di acara itu generasi muda, dengan disiplin yang…

Nyonya Gondo Mayit

Rakhmat Giryadi
http://sastraapakah.blogspot.com/

Ketika dinyatakan tidak jadi mati, Nyonya Sugondo seperti manusia setengah mayat. Orang-orang kampung sering memelesetkan dengan Nyonya Gondo Mayit, artinya bau mayat. Namanya sendiri sebenarnya Satemi. Sugondo adalah nama suaminya yang telah meninggal dunia.

Setiap hari pekerjaannya hanya duduk di kursi sampai senja menjemput. Ketika langit tampak merona merah, Nyonya –dimikian ia terbiasa dipanggil dalam keluarga besar Sugondo- telah siap dengan dandanannya. Ketika Lastri pembantunya yang telah bertahun-tahun merawatnya, mengajak ke kamar, Nyonya melambaikan tangan pada senja yang meredup.

Nyonya Sugondo, atau tepatnya Nyonya Satemi Sugondo, sejak empat tahun yang lalu sebenarnya sudah mati. Ia sudah mati ketika suaminya, Sugondo, meninggal bersama selesainya karir politik yang disandangnya selama berkuasa, karena serangan bertubi-tubi dari lawan-lawannya. Nyonya Sugondo sebenarnya sudah mati, ketika jasad sang suami dikubur di pemakaman…

Pagar Emas

A Rodhi Murtadho
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Pagar di depan rumah mulai berkarat. Entah sejak kapan karatan itu mulai menyelimuti besi pagar. Daun yang ada di atasnya selalu saja bergerak. Sejak kapan daun itu berada di sana. Aku tak tahu pasti. Setahun yang lalu, seingatku, belum ada daun yang berada di atas pagar. Selalu saja aku bertanya dalam hati. Daun itukah yang menyebabkan pagar berkarat? Aku semakin bingung dengan pertanyaan yang muncul dalam benakku.

Aku mulai menyentuh pagar. Megingat kembali pemasangan pagar. Besi yang berkilat dan terbaluri cat warna hitam. Dan semua itu aku kerjakan sendiri.

“Pak sedang apa?” Tanya istriku sambil menggendong Rani, anak kami.

Aku mau menjawab. Apa yang sebenarnya kulakukan dan kupikirkan saat itu. Tapi aku ingat Rani, anak perempuanku, yang berada dalam gendongannya. Ingat kebutuhan susunya yang akhir bulan ini belum terpenuhi. Paling tidak, akhir bulan ini, aku harus membeli susunya.

“Tidak apa-apa, hanya menikmati udara segar.”…

Puisi-Puisi Samsudin Adlawi

http://www.sastra-indonesia.com/
RAMAH

bencana makin rajin tiba
menyemai derita
dunia makin tua
makin renta
rentan marah
marah bahaya
aku tak percaya
dunia lebih bijaksana
tambah ramah
seperti padi
makin tua makin sujud
tekuk telunjuk di kaki langit
ada sebab alam marah
ulah manusia lah
pikiran manusia lah
tangan manusia lah
lah itu pemicunya

the sunrise of java, 31102009



TUJU ABADI

awan yang ranum
awan yang pecah

sarinya memancar
menjelma janin

dari rahim gunung
aku lahir

dari hilir aku mengalir
susuri liuk sungai

dari hilir aku mengular
belah hutan belukar

dari hilir aku kenter
di muara tak mampir

ke dekap samudra
aku tirah kerna

the sunrise of java, 27102009



LARUNG

kami laron
rindu hujan
rindu malam
rindu lentera
rindu cahya

kami laron
larung di pendar
cahya lentera
malam musim
hujan menuju tuhan

the sunrise of java, 21102009



SARANG

Maaf, kalau hari ini kau lihat badanku tak sempurna. Punggungku bongkok. Bengkok. Melengkung tak kuasa menggendong duka. Lara yang sesaki saku. Saku baju usang. Ada air mata. Ada luka. Ada darah. Camp…

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
PESAN YANG TAK LAGI KELABU

perahuperahu telah ditambatkan
membujur ke arah matahari tenggelam
tapi angin belum selesai dengan rambutmu
sehelai yang terlepas nyangkut di wajah

dan aku akan selalu menunggumu
barangkali kau akan bertanya dan mencari
atau sekedar bertegur sapa sambil tertawa
meninggalkan butir garam pada jejak kaki

jangan kau hilangkan sayang
simpan baikbaik hurufku dalam kitabmu
bacalah berulang yang warnanya merah
yang seringkali bikin rindumu membiru

begitulah engkau setelah basah oleh laut

sebagian kangen akhirnya menemu jawab
dari sehelai rambut hitam panjang

yang kali ini pelahan menjerat leherku

29.05.2010



PURNAMA MEMUTIH

mesin lampulampu
kota yang riuh meriah
di atas motor menuju rumah
terbatukbatuk nyaris muntah

di teras sehabis mandi
rembulan tampak bersih
lama kita saling memandang
tenggelam dalam secangkir kopi

langit luas dan lapang
begitu tenang menelan kita
yang sedang kepengin sendiri
diam saling menemani

langitlah engkau kekasih
purnamalah kita

29.05.2010



S…

Puisi-Puisi Heri Latief

http://www.sastra-indonesia.com/
Batu

batu yang diangkatnya ke puncak bukit itu
terguling lagi ke bawah
alam sadarnya bilang ada bahaya
lalu dibacanya sajak yang berlawan
bakar-bakarlah semua impian
supaya apinya memanasi hatimu
dan jangan lagi berpaling
lihatlah apa yang telah terjadi
tiada lagi kata yang pantas untuk diucapkan
semua realitas ganas memburu mimpimu
kemana juga kau pergi bakalan ketemu batu

Amsterdam, 2 juni 2010



Konsepsi

bunganya mimpi musim semi
kembang setaman jadi impian

o gitu ya?

bersemi puisi tanpa imajinasi
meraba misteri dalam gelapnya kata

sajak terdampar di pinggir trotoar
mari kita melupakan kepedihan, proost!
jangan percaya wanginya hayalan

berkacalah pada ganasnya realitas
: srigala menangis dirayu rembulan

Amsterdam, 31/05/2010



Emosi

harumnya secangkir kopi
rayuan wanginya arak api

senyum bulan tadi malam
bukan sekedar mimpi sayang

sebaris puisi mencuci emosi?

Amsterdam, 30/05/2010



Arah Kiri

aku tau rutenya
menyeberangi jalan setapak
ke arah kaki langit
lalu di ujung sana
ke kiri

Amsterdam, 3…

Puisi-Puisi Mardi Luhung

http://www.sastra-indonesia.com/
PULAU

Pulau kita tak keliru. Tapi, memang terlalu cantik.
Padahal kita tak butuh kecantikan. Apalagi untuk
sebuah ketenggelaman yang akan tiba. Ketenggelaman
yang seluruh dirinya dibungkus asap dan kabut.

Yang cuma matanya saja menyala. Dan dengusnya
pernah mengisi setiap relung-lubang. Saat kita
yang telanjang mengingati kelalaian yang sering
merangsek. Sambil membidik bagian-tepi-pelipis.

Agar dapat mengusir si pengelabu. Memang pulau
kita tak keliru. Tapi, karena terlalu cantik, maka
banyak yang menyuntingnya. Dan banyak pula yang
akan menukarnya dengan puisi atau kembang.

Yang kelak akan berkhianat, atau menyingkap
pakaian kita di malam yang dingin. Agar kita
mematung di dermaga itu. Sambil menunjuk-nunjuk
jejak pesawat di angkasa yang memberat.

Yang pernah menyelinap di selimut-masa-kanak-kita.
Dan menidurkan kita seperti si waktu-apung.
Si waktu-apung yang selalu menjulurkan tangannya.
Untuk merapikan pulau kita. Pulau kita yang beda.

Memang, pulau kita tak keliru. Da…

Kakang Gothak, Dhimas Gathuk dan ULTAH

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Petang hari setelah dua lelaki, kakak beradik yang berperawakan sama menegakkan kewajiban, mereka berjalan beriringan di dalam gelap jalan pedesaan. Mereka berjalan yang awalnya dengan diam, begitu senyap. Langkah kaki pun tak terdengar di dalam udara. Tiba-tiba saja, lelaki muda yang bernama Dhimas Gathuk mengamit tangan kakaknya, Kangmas Gothak.

“Kang!” panggil Dhimas Gathuk pelan seperti dalam bisikan namun saudara tuanya tidak menjawab, justru semakin mempercepat langkahnya, membuat Dhimas Gathuk terseret.

“Kang!” panggil Dhimas Gathuk setelah tidak mendapatkan jawaban.

Setelah itu, tetap saja Kangmas Gothak tidak menjawab. Dengan langkah yang justru semakin memburu di dalam kegelapan jalan desa yang sepi. Sampai akhirnya, langkah kangmas Gothak menjadi pelan kembali setelah di depan mereka ada belokan ke kanan. Di sana, sebuah rumah sederhana yang sunyi telah menunggu kedatangan mereka berdua. Cahaya lampu minyak menerangi teras terlihat mo…

Venus

AS Sumbawi
http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/

Hujan jatuh di luar jendela. Angin dingin menyelusup lewat sela-sela pintu dan jendela kamar. Waktu menunjukkan pukul 22.21 di jam dinding.

Maria masuk sembari mengeringkan rambutnya dengan selembar handuk merah. Ia baru saja mandi setelah hujan mengguyur tubuhnya dalam perjalanan pulang dari rapat sebuah LSM tadi. Seperti biasa, ia langsung mandi. Kalau tidak, tubuhnya akan terserang demam. Dan ia tidak mengizinkan hal itu terjadi.

Sebenarnya, ia bisa menghindari hujan. Akan tetapi, setelah beberapa waktu menunggu hujan tak kunjung reda, akhirnya ia memutuskan pulang. Tak peduli meskipun basah kuyup. Ia ingin cepat-cepat tiba di rumah. Rapat yang ia ikuti sejak pagi sungguh menyerap banyak tenaga dari tubuhnya .

Maria melangkah mendekati jendela. Dilihatnya hujan menggerimis. Jalanan cukup sepi. Angin dingin terasa segar di tubuhnya. Setelah menggeraikan tirai, ia berjalan menuju meja rias.

Di atas kursi plastik merah, Maria menyisir r…

“Mengintip” Latar Sastra Pesantren

Aguk Irawan Mn
http://langitan.net/

Tempo hari, saya menerima posting email dari Gus Acep (Acep Zamzam Noor) dan Kang Bunis (Sarabunis Mubarok) perihal acara “Silaturahmi Sastrawan Santri” yang diselanggarakan komunitas Azan dan Desantara di Tasikmalaya. Kendati saya bukanlah sastrawan-santri yang betulan, namun jujur, ketika membaca larik barisan sejumlah santri-sastrawan yang akan berkumpul pada tanggal itu, sambil membayangkan berjalannya acara, tiba-tiba saja ada sesuatu yang tertangkap oleh benak saya, sebuah kesan, yang cukup menggetarkan. Antara sedu, bahagia dan haru.

Betapa tidak?. Mendengar kabar ini, mungkin bagi siapapun pecinta sastra yang kebetulan lahir dari latar Pendidikan Pesantren akan menemukan perasaan sama, seperti yang saya alami. Kenapa? Paling tidak, menurut hemat saya dalam gejala kebudayaan dewasa ini yang sangat getir dengan berjubelnya penulis sastra seks perempuan yang melimpah, dan penulis fiksi islami yang hanya ‘kemasan’, mungkin kehadiran acara tersebut …

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com