Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

SIHIR TERAKHIR; Antara Perjuangan, Perubahan, dan Kematian

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Orang kerap menganggap dalam realitas kehidupan ini selalu terjadi pemarjinalan terhadap kaum perempuan. Itu akar pondasinya bertumpu pada suatu kisah sejarah akan keberadaan manusia yang disimbolkan dengan keberadaan Adam dan Hawa. Berdasarkan kisah tersebut, kebanyakan orang berasumsi akan keberadaan wanita yang selalu berada dibawah bayang-bayang laki-laki. Ia sebagai kaum lemah yang berfungsi sebagai pelengkap hidup bagi kaum laki-laki.

Dikaitkan dengan tindak pemarjinalan, ada beberapa persepsi tentang kedudukan wanita yang menempatkan dirinya sebagai sosok yang selalu berada di bawah bayang-bayang kaum lelaki. Persepsi yang berkembang selama ini, kedudukan wanita tersebut dapat dilihat dari beberapa fokus, yaitu (1) dilihat dari faktor biologis, menempatakan perempuan lebih interior, lembut, lemah, dan rendah. (2) dilihat dari pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas, masalah menstruasi, melahirkn, men…

Perempuankah Aku

A Rodhi Murtadho
http://www.sastra-indonesia.com/

Perempuankah aku? Sementara aku sendiri berpikir, aku bukan perempuan. Mungkin aku seharusnya dilahirkan sebagai laki-laki. Namun alat kelamin laki-laki yang seharusnya kumiliki tertinggal di rahim ibu saat melahirkanku. Perutku tergores pisau bidan saat persalinan ibu. Membentuk tubuh bagian bawah seperi perempuan. Sehingga aku diberi nama perempuan, dirawat dan dibesarkan layaknya anak perempuan.

Erlinda Putri. Nama perempuan yang seharusnya kumiliki. Namun ketika besar, nama itu berubah menjadi Dada Putra. Tak bisa kusalahkan mereka yang mengganti nama dan menyebutnya demikian. Memang dada yang seharusnya tumbuh, jika aku perempuan, tak juga tumbuh. Hanya rambut panjang yang menggambarkan aku perempuan. Memang aneh, tubuh yang kumiliki rata. Tak seperti perempuan seusiaku. Hampir dua puluh tahun umurku. Dada dan pantat seharusnya tumbuh menonjol dan memperlihatkan aku perempuan, tak juga tampak. Seperti laki-laki badanku tumbuh.

“Mau ke…

Jalan Spiritualitas Tasawuf Kerakyatan

Judul Buku : Kunci Rahasia Ketuhanan, Iblis dan Ifrit hingga 40 Juz al-Qur’an
Penulis : Muchammad Hormus
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I (Pertama), Januari 2010
Tebal : xiv + 204 halaman
Peresensi : Humaidiy AS *)
http://oase.kompas.com/

Salah satu ciri fenomena yang paling menonjol dakam perkembangan kehidupan modern dan serba sekuleristik ini ialah bangkitnya dimensi spriritualitas. Bangkitnya spiritualitas ditandai dengan semakin marak dan berkembangnya pengkajian dan diskusi seputar tasawuf dan “tarekat” tidak hanya di pesantren-pesantren atau lembaga keagamaan, tetapi juga di wilayah perkotaan.

Konon, menurut para sejarawan Islam, kemunculan tasawuf merupakan respons terhadap gemerlapnya dunia yang sangat berlebihan. Pada saat itu Islam memuncaki kejayaannya, sehingga kekayaan melimpah, dan kemewahan menjadi tak terkendali. Namun, dalam perkembangannya, tasawuf juga dianggap sebagai biangnya kemunduran umat Islam. Konsep-konsep tasawuf seperti zuhud, khalwat, wira’i …

Sketsa Permukiman Tionghoa

M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.*
http://www.jawapos.co.id/

SETIAP kali saya tuntas menyimak buku berbobot seputar Tionghoa, selalu saja tebersit kesan keterlambatan di benak. Termasuk, ketika menyimak 311 halaman buku ini. Ya, buku hasil disertasi Pratiwo berjudul Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota ini paling tepat dihadirkan seketika setelah ditulis pada 1996 -ua tahun menjelang huru-hara 1998. Mengapa demikian? Sekali lagi, bagi kita yang mau membaca tuntas buku ini, akan terasa betapa rentetan sejarah diskriminasi politik terhadap etnis Tionghoa merupakan kekerdilan yang menggadaikan budaya dan peradaban leluhur -yang bahkan sejak abad XIV, menurut N.J. Krom, orang Tionghoa pun sudah memiliki permukiman di Pulau Jawa.

Pratiwo membuktikan kebenaran premis itu dengan kerja tekun ”menyusuri” gang-gang dan arsitektur seratus lebih rumah Tionghoa di Semarang dan Lasem. Di negeri ini, fokus kajian arsitektur tradisional Tionghoa memang amat jarang diseriusi sekaligus melu…

Prosa Rumah: Referensi dan Representasi

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

Rabindranath Tagore dalam novel The Home and The World mengisahkan politik, cinta, nasionalisme, ideologi kelas, dan kolonialisme. Tagore dalam novel itu mengonstruksi rumah dengan pandangan liris dan menegangkan. Rumah menjadi metafor untuk manusia dan negeri India yang merumuskan diri pada awal abad XX dalam kuasa kolonialisme Inggris dan modernitas.

Rumah berbeda dengan dunia (luar rumah). Rumah identik dengan runag (kurungan) yang tidak memberi kebebasan. Dunia identik dengan kebebasan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicari dan ditemukan. Tokoh Bimala berada dalam tegangan untuk lari dari rumah dan hadir di dunia atau menghidupi rumah dengan kesetiaan dan pembebasan diri yang menganut konvensi. Bimala sebagai perempuan sadar tradisi dan sadar pandangan politik-intelektual yang membebaskan dengan risiko besar. Rumah dan dunia adalah tragedi.

Rumah dan dunia dalam novel Tagore adalah kisah kekacauan dan ketertiban, politik radikal dan po…