Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

YANG LIAN: Puisi adalah Kampung Halaman Saya

Pewawancara: Luky Setyarini
http://www.ruangbaca.com/

Ketika Revolusi Budaya dilancarkan di Cina antara 1966-1976, ada sekelompok penyair yang karena gaya puisinya yang sulit dipahami, seperti berkabut, disebut sebagai Misty Poets. Salah satu dari para penyair kritis yang aktif menulis di majalah Jintian (Today) itu adalah Yang Lian.

Lahir di Swiss pada 1955, ayah Yang seorang diplomat. Ketika keluarganya pulang kampung, Yang muda dikirim ke pedesaan Changping dekat Beijing, untuk mengikuti program reedukasi. Seorang putra diplomat yang berpendidikan tinggi memang diwajibkan belajar dari petani. Metode ini digunakan di masa Mao Zedong pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Selama tinggal di pedesaan, Yang mulai menulis puisi.

Sekembalinya ke Beijing, Yang bekerja di stasiun pemancar radio pemerintah. Pada 1979, Yang bergabung dengan kelompok penyair yang menulis untuk Jintian. Gaya puisi pria berusia 54 tahun ini berubah menjadi modern, eksperimental, yang jamak dipraktekkan para penyair…

Memilih Sekolah Alternatif Romo Mangun

Judul: Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional
Penulis: Y Dedy Pradipto
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: 272 Halaman
Peresensi: Hanik Uswatun Khasanah
http://suaramerdeka.com/

BUKU ini mengaji konsep dan praksis pendidikan alternatif-eksperimental yang diwariskan oleh seorang pedagog besar bernama YB Mangunwijawa. Konsep pendidikan ini menawarkan kurikulum yang berbeda dari kurikulum nasional. Konsep tersebut sudah lama diberlakukan di Sekolah Dasar Kanisius Eksperimental (SDKE) Mangunan.

Pemikiran Romo Mangun tentang pendidikan alternatif-eksperimental bermula dari kritik-kritiknya terhadap bentuk pendidikan nasional yang cenderung seragam. Bentuk penyeragaman pendidikan nasional dapat dicermati dari kurikulum yang dibuat pemerintah, mulai Kurikulum 1974 hingga 1994. Romo Mangun tentu saja tidak berhenti pada kritik bernada ketidaksetujuan, tetapi juga berpikir tentang bentuk pendidikan lain yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Menuru…

Mengunjungi Rumah Anne Frank

M. Mushthafa
http://www.jawapos.com/

DARI luar, tak tampak sesuatu yang istimewa pada rumah itu. Di tepi sebuah kanal, berjarak sekitar 1,5 km dari Amsterdam Centraal Station, rumah yang berdiri kokoh itu tampak biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sebelahnya. Namun, di siang hari, di pintu masuk rumah itu akan sering tampak orang-orang berbaris panjang membentuk antrean.

Rumah itu tak lain adalah ”Anne Frank House”, sebuah museum yang mendokumentasikan kisah persembunyian Anne Frank dari kejaran rezim Hitler Jerman di era Perang Dunia Kedua. Gadis yang bernama lengkap Annelies Frank itu adalah satu dari jutaan korban pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler.

Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 ini pada 1933 bersama keluarganya mengungsi ke Belanda, saat Hitler memulai kekuasaannya yang anti-Yahudi di Jerman. Namun, pada Mei 1940, tentara Jerman berhasil menduduki Belanda. Perburuan Yahudi pun terjadi di Belanda.

Terhitung sejak 6 Juli 1942, keluarga Anne Frank bersembunyi di …

Sajak-Sajak Saut Situmorang*

http://sautsitumorang.blogspot.com/
aku adalah mayat*

yang terapung di sungai
di samping rumahmu
aku adalah laki laki itu yang kemarin
berpapasan denganmu tapi tak kau hirau
aku adalah laki laki itu yang
melompat masuk ke dalam bus kota
sesak dengan anak anak sekolah dan orang orang pergi kerja
aku adalah bau busuk di sungai
yang meresahkan cicak cicak kecil di rumahmu
aku duduk di bangku kayu warung pinggir jalan
dan memesan sepiring nasi, sepotong ikan asin,
dan sambal belacan
aku adalah laki laki itu yang berteduh di bawah
pohon di pinggir jalan waktu turun hujan
dan sebuah mercedes mencipratkan air lumpur
ke baju dan celanaku
aku selalu ingin makan di restauran mewah
dengan seorang perempuan muda yang jelita
menemani di meja
aku adalah mayat membusuk yang terapung
tersangkut bambu di sungai dekat rumahmu
aku adalah laki laki itu yang mendayung becak
penuh air laut dalam mimpiku
aku adalah laki laki itu yang berjalan terburu buru
tiap kali polisi memapasiku
aku adalah sepucuk surat yang ditunggu tunggu
tapi t…

Henri de Régnier (1864-1936)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=406

BULAN KUNING
Henri de Régnier

Siang panjang itu berakhir dengan satu bulan kuning
Yang pelahan bangkit di antara pepohonan,
Sementara di udara menyerbak dan berkembang:
Bau air yang antara pimping basah bertiduran,

Insyafkah kita, bila, dua-dua, di bawah Surya memanggang
Kita siksa tanah merah dan tunggal jerami yang memberkah,
Takukah kita, bila kaki menginjak pasir gersang
Ia tinggalkan bekas langkah bagai langkahnya darah,

Takukah kita, bila kasih menjulangkan nyalanya
Di hati kita yang renyai dengan siksa putus asa,
Takukah kita, bila padam api yang membakar kita,
Bahwa nanti baranya mesra berasa di senja kita,

Dan bahwa hari getir dekat silamnya, diserbak rangsang,
Bau air yang termenung di antara pimping basah,
Nanti pelahan berakhir dengan itu bulan kuning
Yang di antara pohonan meningkat jadi purnama?

Henri François Joseph de Régnier (28 December 1864 – 23 Mei 1936) penyair Perancis lahir di Honfleur. Mulanya anggota golongan Parnasse (aliran an…

Pengusaha Tikus

Haris del Hakim
http://www.sastra-indonesia.com/

Seekor tikus berlarian di antara tubuh Donggos dan keluarganya yang sedang terlelap. Kemudian puluhan dan ratusan yang lain mengikutinya. Bunyi cericitnya menggeritik telinga. Donggos membuka mata, mengangkat kepala, melirik kedua anak dan istrinya yang masih tertidur pulas, kemudian berbaring lagi.

Donggos bangun paling pagi. Hanya dia yang tahu bagaimana cara mengundang dan memilih tikus yang paling gemuk untuk ditangkap. Begitu setiap hari. Kalau salah seorang dari anak atau istrinya bangun terlebih dulu darinya, ia akan menggoyang atau mencubit tubuh lelaki berusia empatpuluhan itu. Tikus-tikus itu memang sudah akrab dengan anak dan istri Donggos, tapi mereka tidak mau ditangkap oleh selain Donggos. Bahkan, mereka tidak mau dilihat orang lain bila sedang ditangkap Donggos.

Donggos berdecak. Puluhan tikus mendekat dan berkerumun di sekelilingnya. Pada saat itu tidak boleh seorang pun menyaksikan. Pernah suatu ketika istrinya memergoki, a…

KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Untuk tiap-tiap umat itu ada rasulnya (QS. Yunus, ayat 47). Berdasarkan ayat tersebut, dalam tiap umat manusia pasti memiliki seorang rasul di setiap zamanya. Rasul tersebut diutus tuhan hanya untuk menyampaikan ajaran kebenaran tentang esensi Tuhan yang telah diselewengkan dan bahkan diingkari oleh suatu umat. Ia mengajak sekaligus mengarahkan mereka yang berada dalam kesesatan agar kembali pada jalan yang benar serta memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hal tersebut ia lakukan dengan meneladankan sifat dan sikap yang terpancar melalui perkataan maupun perbuatan.

Ajaran-ajaran yang dibawakan oleh seorang rasul bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran-ajaran tersebut diterimanya sebagai wahyu dari Tuhan. Adapun proses penurunan wahyu itu dilakukan dalam situasi, tempat, maupun bentuk yang berfariasi. Hal ini menunjukan bahwa eksistensi wahyu berdasakan pada eksistensi Tuhan, sehingga seseorang tidak dapat mengetahui, apalagi menentu…

Sajak-Sajak Persembahan Denny Mizhar

Kepada Sang Maestro Topeng Malangan

Kau Dalam Kenangan
;Mbah Karimun

Merindu waktu
kau sematkan roh
pada kayu berwajah dirimu.

Lembut tanganmu
membelah, membedah
garis-garis kehidupan
dengan rancak gemulai.

Nampak detak jantung mu
dalam bingkai foto
ketika aku pandang
saat kau menari.

Kau bangun sumber air hayati
dari guratanmu
merubah wujudmu
menjadi burung melintasi awan
;maka terbacalah
dirimu di garis cakrawala.

Di sini aku tunggu
berduaan denganmu
di tepi dunia yang beda
menggambar wajahmu
dengan harum kamboja.

Jarak antara kau
aku cukup jauh
kau tiupkan nyawa
melekat di wajahku
memainkan rindu di panggungmu.

Malang, 16 Februari 2010



Tarian Kepulangan
;Mbah Karimun

Langit gerimis
Pekat hitam
Menurunkan malaikat.

Bumi pun terbela
Mengantar pada malam duka
Kepergian nafas sukma.

Kau melintas disebuah tarian kepulangan
Memelukku yang resah akan kota bersegala warna
:Sempurnalah wajah ciptaanmu.

Kau yang pergi
kau yang hidup
kau yang menari.

Langit membuka pintu
panggung sunyi untukmu
harum kamboja pesonamu.

Malang, 15 Februari 20…

Kisah Menyerikan Melawan Patriarkat

Judul: La Grande Borne
Pengarang: Nh Dini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: 286 halaman.
Peresensi: Gunawan Budi Susanto
http://suaramerdeka.com/

YAP, inilah kisah perlawanan seorang istri. Seorang istri beranak dua, Lintang dan Padang, yang berkali-kali berpindah tempat tinggal, sesuai dengan daerah penugasan sang suami, diplomat Kementerian Luar Negeri Prancis.

Dini -begitulah nama sang aku cerita- melakukan perlawanan diam-diam menghadapi sikap patriarkat sang suami. Itulah lelaki yang pelit, suka nyusuh, kering perhatian terhadap istri dan anak, acap ingkar janji, egoistis, yang acap berkata, "Ini tidak baik, ini tidak bagus." Lelaki yang tidak peka, suami "penguasa", serba mau memonopoli segalanya (halaman 107).

Itulah "Tuan Konsul Yang Terhormat" (halaman 123), yang senantiasa disebut Dini dengan kata diaan, tanpa kehangatan cinta. Ya, setiap kali berkisah tentang sang diplomat itu, Dini selalu menyebutnya "suamiku&…

Sabda Kepada Pewarta

Pernahkah Anda mendengar kisah seorang wartawan yang bermaksud mengungkap kebenaran namun menyebabkan sahabat karibnya tewas? Cerita ini benar-benar terjadi. Bill Kovach, penulis buku ini menuturkan pada Andreas Harsono dari Majalah Pantau.

Judul Buku: Sembilan Elemen Jurnalisme
Penulis: Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
Pengantar: Goenawan Mohamad
Penerbit: Yayasan Pantau
Cetakan: Pertama, Oktober 2003
Tebal: xii + 273 halaman
Peresensi: Bonnie Triyana
http://suaramerdeka.com/

Pada 1960, ketika Richard Nixon berhadapan dengan John F. Kennedy untuk jadi Presiden Amerika Serikat, Homer Peas, sahabat Kovach membantu Kennedy untuk memenangkan Pemilu. Ia menempuh berbagai cara termasuk melakukan transaksi jual-beli suara. Hasilnya, Kennedy menang atas Nixon. Kovach menemukan kecurangan itu, lalu menulisnya. Akibatnya Homer Peas dimintai keterangan oleh polisi, lalu diadili dan terbukti bersalah. Ada dua bentuk hukuman yang harus dipilihnya: masuk penjara atau masuk dinas militer. Peas pilih jadi tent…

Teater Kontemporer

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Sudah lama dunia ini dibedakan dengan Barat dan Timur. Masa lalu masa depan. Sudah lama nilai-nilai dipatok dalam dua gawang. Buruk dan baik. Hitam dan putih. Sudah lama arah disederhanakan menjadi kanan dan kiri. Depan dan belakang. Atas dan bawah.

Sudah lama wanita dikategorikan dengan jegeg dan bocok. Dan pada gilirannya juga sudah lama seni dikampling menjadi dua pulau. Tradisional dan modern. Pertunjukan tradisional dan pertunjukan kontemporer.

Menyederhanakan persoalan, biasanya selalu dirasionalisasi dengan alasan-alasan keren yang filosofis atau pun politis. Yaitu: menotok inti persoalannya, sehingga terjadi hantaman yang telak, mendalam dan tuntas menjawab seluruh persoalan.

Sebab dengan hanya dua kategori semacam hitam dan putih, segalanya dengan amat mudah diatur. Itu refleksi khas, spontan, mentalitas birokrat, yang menganggap semua adalah barang, yang harus disusun dengan teratur, agar memudahkan para tuan-tuan untuk memanfaatkannya…

Meluruskan Tafsir Terorisme

Muhammadun A.S.
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Bangsa Indonesia kembali diguncang tragedi bom. Kalau kita mencermati lebih jauh, berbagai tragedi kemanusiaan dewasa ini sebenarnya merupakan ekses dari kepungan globalisasi. Kehidupan di tengah kepungan globalisasi (hyperglobalization) penuh dengan misteri dan absurditas. Misteri hyperglobalization terlihat dengan tercengangnya manusia terhadap berbagai penemuan yang begitu dahsyat dan mengagumkan. Ketercengangan banyak membuat manusia kehilangan identitas dan budaya lokal, sehingga manusia sering kehilangan nilai eksistensial untuk menatap masa depan.

Inilah yang terjadi dalam misteri terorisme. Walaupun era modern meniscayakan kemajuan suatu peradaban, namun ternyata ada noda hitam yang menghinggapi laju peradaban tersebut. Manusia terlibas dengan modernitas, sehingga tidak ada kendali yang cukup untuk melunakkannya. Yang terjadi justru melakukan apa saja yang malah menentang laju peradaban modern. Hypermodernization atau kepungan …

Sajak-Sajak Saut Situmorang

http://sautsitumorang.wordpress.com/
exquisite corpse

buah dadaMu
dan buah dada kanvasku
bertemu dalam birahi
kata kata puisi
penaKu terkapar
kehabisan tinta
alkohol menguap
jadi embun di rumputan
menari bersama kicau burung
di jari jari lentik
cahaya matahari pagi

semua rambut di tubuhku
basah kuyup
oleh kebinalan bulan purnama
di jalanan kota yang sunyi
ditinggalkan memori cinta
dan pengkhianatan

wajahMu adalah
buku
dengan sampul
bercecer cat
mungkin merah mungkin coklat
dan bekas jari masih
basah wangi mimpi
palette

wajahMu terlukis
dalam kalimat kalimat warna
terang benderang
seperti layang layang
di musim hujan
seperti kembang api
di pasar malam

wajahMu
tergantung di dinding kamar
tempat laba laba menyembunyikan
bekas mayat makan malamnya
tempat semut berbaris diagonal
karavan hitam merangkak dari langit di luar
masuk ke dalam mimpi malam di dalam
tempat memori bunuh diri
bersama lapuk kasur dingin
tertutup bayang jendela
berkaca buram

sepotong kepala nyamuk
terseret terantuk di
situ

jogja, september 2002



graffiti cemburu
-eine …