Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

Paul Valéry (1871-1945)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=331

Paul Ambroise Valéry (1871-1945) penyair Prancis lahir di Cette (Languedoc), mempelajari hukum di Montpellier. Masa mudanya asyik bersajak romantik dan simbolik, berkenalan Mallarmé juga André Gide 1890. Di tahun 1892 berpaling pandangan intelektualisme. Buahpena pertamanya di padang kesusastraan, esai-esai bersajak Introduction à La méthode de Léonardo da Vinci (1895), dan Les Soires avec Monsieur Teste (1896). Sesudahnya 17 tahun menghilang dari dunia sastra, bekerja di kementerian peperangan, lalu di kantor berita Haves, hanya catatan-catatan harian dimunculkan. Mencontoh Léonardo da Vinci rajin mempelajari falsafah ilmu pasti serta pengetahuan lain. 1913 muncul kembali dengan sajak-sajak pendek, pada 1917 barulah dengan sajak lebih panjang yang bertahun-tahun dikerjakannya, La Jeune Parque, disusul Palme (1919), Le cimetière marin (1920), serta Ébauche d’un serpent (1921) semuanya terhimpun dalam kumpulan Charmes. Sejak perang duni…

DEWA MABUK :Naskah Monolog karya Akhudiat

http://teaterapakah.blogspot.com/

Peran: Seorang Dionisian

Dionisian:
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Teruskan, mabukkan, pestakan, sukaria, topeng, rumbai-rumbai, musik, tari, nyanyi. Rayakan dewa anggur, kesuburan, dan ramalan. Pesta musim panas, bumi baru, kesuburan setelah membeku. Kemabukan tiada tara. Mari terbang, melayang, jungkir dan balikkan. Tanpa kemabukan bukan lagi teater namanya, dan tak ada lagi hasrat serta manfaat gunanya. Bukanlah cinta tanpa mabuk kepayang-payang, barangkali cuma letup sesaat dan tak sengaja kayak kentut. “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian,” ujar Chairil Anwar dalam Krawang-Bekasi. Tanpa kemabukan bagaimana bisa bertahan antara realitas dan mimpi?

Kami Dionisian-dionisian setiamu, dalam kemabukan, kerasukan, cinta, dan bermain.
Dengan kemabukan kami rasuki roh-roh dan mainkan mereka, peran-peran, jadi hidup, bertindak, menjalani takdir lakon. Dalam lingkaran tari dan koor “nyanyian kambing” kami sembahkan drama Dionisian, bahkan kami pera…

Orang Besar

Indra Tranggono*
http://www.jawapos.com/

ADA pertanyaan yang mengusik jiwa ketika duka itu tiba. Kenapa manusia besar dan baik dipanggil Tuhan lebih cepat? Rendra, Gus Dur, Frans Seda, Munir, dan lainnya ”begitu cepat” meninggalkan bangsa yang selalu didera derita ini.

Tentu, pertanyaan itu bernuansa egois. Tuhan selalu punya perhitungan sendiri. Dan, maksud Tuhan selalu baik. Maka, kita pun harus ikhlas melepas manusia-manusia besar itu meski dada terasa sesak.

Siapa pun berhak memberikan tafsir atas teks manusia besar. Manusia besar dapat dimaknai sebagai manusia yang mampu melampau dirinya: dari individu menjadi ”institusi” nilai yang menjadi rujukan bagi kehidupan kolektif manusia. Proses melampau diri itu terjadi melalui peminggiran kepentingan individual untuk mengutamakan kepentingan sosial, bangsa, kemanusiaan, dan peradaban. Dia mendudukkan kepentingan dirinya hanyalah bagian sangat kecil dari kepentingan besar masyarakat, bangsa, dan negara. Karena itu, dia terhindar dari nafsu …

Monumentalisme Edhi Sunarso

Djuli Djatiprambudi*
http://www.jawapos.com/

SAYA yakin, andai Bung Karno masih hidup, sang proklamator itu pasti akan marah besar. Bayangkan, patung Dirgantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, kini ditelan jalan tol yang melintang dan mendominasi ruang kota. Patung yang berbentuk lelaki kekar seakan siap terbang itu tidak lagi tampak nyaman saat dilihat dari segala penjuru. Patung itu seolah-olah sudah kehilangan maknanya. Terjepit oleh modernitas kota yang terus-menerus mengepungnya.

Tentu, patung Dirgantara dibangun di kawasan Pancoran oleh Bung Karno untuk landmark Kota Jakarta, yang dia idamkan sebagai kota modern yang beradab. Kota yang tidak hanya besar secara fisik, tetapi sebuah ibu kota kebanggaan rakyat Indonesia yang memiliki makna besar.

Patung itu punya makna tersendiri bagi Edhi Sunarso, sang penciptanya, yang diminta Bung Karno untuk mewujudkan keinginannya untuk membangun simbol-simbol perjuangan bangsa. ”Bung Karno itu tidak suka yang nylekuthis. Dia suka seni yang monum…

Catatan Anak Ideologis Gus Dur

Pemikiran dan Sikap Politik Gus Dur

Adhika Prasetya
http://suaramerdeka.com/

Sejak KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur berpulang, para penerbit tampak berlomba-lomba memublikasikan buku tentang mantan Presiden ke-4 RI ini. Pribadi Gus Dur dibahas di dalam banyak buku dari berbagai sisi. Salah satu yang ikut meramaikan adalah buku ini.

Buku ini terasa lebih istimewa dari buku-buku lain karena ditulis langsung oleh ìanak ideologisî Gus Dur yang sudah lebih dari 20 tahun menjalin hubungan yang sangat dekat dengan cucu pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Dia adalah Ali Masyur Musa, Tokoh muda NU yang saat ini menjabat sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Sebagian besar uraian menyangkut pemikiran politik Gus Dur dalam buku ini diambil dari tesis Ali Masykur Musa ketika menyelesaikan program pascasar- jana di Program S2 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Tesis tersebut diberi judul Pemikiran Politik Nahdlatul Ulama Periode 1987-1994 (Studi tentang Paham Kebangsaan Indonesi…

Buku, Ilmu, dan Peradaban ”Kacang Goreng”

Imam Cahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Buku, ilmu, dan peradaban adalah satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Siapa pun tak bisa menyangkal, bahwa tonggak penyangga peradaban adalah ilmu. Dan ilmu ini tentu saja—sebagian besar—diperoleh dari buku. Buku adalah jendela dunia. Dengan buku, kita bisa melihat, memahami dan menyerap apa saja yang ada di sekitar kita. Dengan buku, kita bisa mengetahui sesuatu hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. Buku pulalah yang mencatat, merekam setiap gerak peristiwa dan pengetahuan yang terjadi di muka bumi. Ketika ilmu bermanfaat dan dapat dimanfaatkan demi kemaslahatan umat manusia, maka di sanalah peradaban dibentuk.

Belakangan, jagad perbukuan kita sedang sedang naik daun. Penerbit-penerbit buku tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Berbagai jenis buku beredar deras di pasar. Segala macam buku dari berbagai pelosok di seluruh penjuru bumi bisa kita nikmati, tanpa halangan. Kendati, sebagian besar buku yang beredar adalah buku terjemahan, …

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com