Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2009

KADO PENGHAMPIRAN SASTRA YANG “MEMBUMI”

Suryanto Sastroatmodjo
http://pustakapujangga.com/?p=638

Lebih kurang 15 warsa silam, Pamusuk Erneste (dalam buku “pengadilan puisi” penerbit Gunung Agung Jakarta, 1986), menggambarkan bagaimana jauhnya bila jagad sastra (inklusif kepenyairan didominasi sejumlah nama, yang ingin bertahan sebagai idola, dan bukan sebagai creator), hingga publik sastra kecewa. Ia menyebut tentang Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad dan WS. Rendra di tahun-tahun 70-an (setelah menikmati kemasyhuran hampir 25 tahun lebih, sementara kader-kadernya makin meredup masa itu), sehingga timbul sekelompok penyair muda yang merasa harus bertindak untuk mengembalikan dunia sastra di sudut penglihatan netral dan imbang, selaras dengan rising demans (tuntutan semakin meningkat).

Kekristenan dalam Kesusastraan Indonesia

Suryadi
http://cetak.kompas.com/

Ada dua unsur yang menjadi sumber ’energi’ penggerak alur cerita yang hampir tidak terlalu sulit menelisik jejaknya dalam teks sastra Indonesia. Yang pertama adalah unsur kesukubangsaan (dimensi etnisitas) dan yang kedua adalah unsur keagamaan (dimensi religiositas). Representasi kedua unsur ini dalam karya-karya sastra Indonesia—dalam kadar yang berbeda-beda—hampir selalu dapat dirasakan.

Kesusastraan Indonesia modern, sejak awal kemunculannya sampai sekarang, dipenuhi oleh teks-teks fiksional yang merepresentasikan persoalan-persoalan etnisitas dan religiositas dengan menampilkan banyak wira yang mengalami guncangan psikologis akibat pertemuan dengan modernisme Barat.

Dimensi etnisitas karya-karya sastra Indonesia sudah lama menjadi topik pembicaraan di kalangan pengamat sastra. Penelitian dan polemik mengenai regionalisme dalam kesusastraan Indonesia—dengan memakai berbagai istilah seperti ”perdebatan sastra kontekstual”, ”revitalisasi sastra pedalaman”…

SUDAMALA, SENI, DAN BEDA: KE ARAH TAFSIR LAIN TENTANG KEINDAHAN

Goenawan Mohamad
http://terpelanting.wordpress.com

Sebentar lagi kita akan menyaksikan sebuah pertunjukan Slamet Gundono, yang kebetulan pernah saya tonton beberapa waktu yang lalu: Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran.

Dalam kesempatan ini, saya akan bertolak dari lakon itu untuk membicarakan setidaknya dua anggapan, atau salah anggapan, yang dewasa ini acap kita jumpai ketika orang berbicara tentang kesenian. Pada hemat saya, diskusi mengenai hal itu penting sekarang. Kita hidup di sebuah masa yang ditandai oleh tuntutan yang berlebihan kepada manusia – baik melalui kekuatan dalam pasar, maupun kekuatan dalam masyarakat, yang makin mengasingkan dunia kehidupan dari kesempatan untuk bebas, mengalir, dan berbeda.

Dalam kondisi itu, kesenian adalah bagian dari dunia kehidupan yang masih vital, betapapun terkucil. Tak mengherankan bahwa ketiga anggapan yang akan saya uraiakan ini sangat kuat berakar.

Pertama, kesenian umumnya serta merta dikaitkan dengan keindahan, tanpa orang berpiki…

terowongan maut kohar ibrahim

http://www.sastra-indonesia.com/
http://www.facebook.com/note.php?note_id=100508807545&ref=mf

Dari Penerbit :
Novel Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai « kaum kelayaban » di Mancanegara alias kaum eksilan.

Bagaimanakah jejak langkah dan warna-warni jalur jelujur kehidupan anak bangsa yang lahir dan dibesarkan serta kiprah dalam perjuangan hidup sampai usia 23 tahun tapi lantas harus terpaksa jadi pengelana buana selama lebih dari empat dasa warsa ? Bag…

Ganyang-mengganyang

A.S. Laksana*
http://www.jawapos.com/

When you got nothing, you got nothing to lose.- Bob Dylan

MUNGKIN kita diam-diam memiliki baya­ngan yang bersifat kuliner tentang Malaysia; mung­kin negeri jiran itu tampak di mata kita se­bagai seekor kambing muda –atau cempe me­nurut lidah orang Jawa– sehingga setiap kali kita terganggu oleh tabiatnya kita buru-bu­ru ingin mengganyangnya. Niat pertama untuk mengganyang si cempe muncul tahun 1963 dan di­suarakan sendiri oleh Presiden Soekarno da­lam cara yang, tentu saja, sangat menggelora.

Demokrasi Terpimpin sudah berjalan empat ta­hun saat itu dan perekonomian kita remuk di­guncang ‘’setan inflasi” yang melambungkan har­ga-harga ke tingkat yang sulit dijangkau. Na­mun Si Bung pantang kelihatan loyo. Ia meng­umumkan Deklarasi Ekonomi (Dekon) pada bulan Maret, dan bulan berikutnya me­la­kukan pemancangan tiang yang menandai pem­bangunan Toko Serba Ada (Toserba) Sarinah, gedung tinggi pertama di Jakarta yang men­­julang ke langit setinggi 14 lantai.

A…

Mengisukan Ekologi Pikiran

Audifax
http://www.jawapos.com/

SELAIN ekologi hayati yang berupa hutan, gunung, dan lautan, ternyata ada juga ekologi lain, yaitu dunia ciptaan manusia yang berupa abstraksi mental, gagasan serta cara mengolah realita. Inilah ekologi pikiran. Dalam ekologi pikiran, berbagai hal seperti tren, bahasa, ideologi, gaya hidup, dan sejenisnya, muncul, menghilang ataupun bertahan. Ekologi pikiran menjadi penting karena manusia hanya mampu memahami realitas sejauh apa yang mampu dipikirkannya. Tapi, di luar apa yang mampu dipikirkannya selalu ada sesuatu yang lain.

State of Fear, novel fiksi-ilmiah karya Michael Chrichton, menyoroti ekologi pikiran untuk membahas isu pemanasan global. Layaknya Dan Brown dengan Da Vinci Code-nya, Chrichton adalah penulis yang piawai mengombinasikan fakta dan fiksi sehingga keduanya menyatu dalam cerita. Dengan logika yang runut disertai puluhan catatan kaki yang merujuk berbagai data, jurnal, dan literatur, Chrichton mengajak pembaca untuk melihat secara lebih je…

KESATRIA

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

Ada seorang Italia bernama Silvio Berlusconi. Ia cerdik pandai, salah seorang paling terkenal di negerinya. Ia juga politikus andal. Karena itu, ia terpilih sebagai perdana menteri. Ia bukan hanya peduli negeri dan rakyat Italia, tapi juga peduli kepada rakyat Afrika yang miskin. Untuk itu, ia menandatangani dokumen KTT G 8 di Gleneagles, Skotlandia, pada 2005, yang isinya ia berkomitmen akan membantu rakyat Afrika. Tapi Berlusconi agaknya ingkar janji, sampai KTT G 8 akan digelar lagi bantuan itu tak sepenuhnya terealisasikan.

Ada orang lain lagi bernama Bob Geldof. Ia pemusik dari Republik Irlandia. Juga seorang yang peduli pada rakyat Afrika sejak 30 tahun yang lalu. Tahu akan janji perdana menteri Italia itu berbau gombal, ia kemudian menagihnya seperti yang diberitakan Jawa Pos, Selasa (7/7). Bob Geldof pun menyerang Berlusconi. Katanya, ”Bagaimana Anda akan memimpin sidang KTT G 8, sedangkan Anda tidak memiliki kredibilitas?”

Sambil memperliha…

Rendra, Puisi Pamflet, dan Gairah

Moh. Samsul Arifin
http://www.jawapos.com/

''Rendra tak pernah takut pada kekuasaan, termasuk tank dan panser, yang coba menundukkan akal sehatnya.''

DI manakah tempat kritik dalam ke­penyairan Willibrodus Surendra Broto Rendra yang dipanggil Tuhan pada 7 Agustus lalu (Senin besok 40 harinya)? Ja­wabnya, pada bentuk dan muatan puisi-puisinya. ''...Saya sang­si apa ini (sa­jak-sajak Rendra) bisa di­sebut puisi? Sajak Rendra demikian keras sehingga ka­dar puisinya tu­run,'' ujar Dick Hartoko (saat itu pe­mimpin BASIS) setelah Si Burung Merak tampil di Sport Hall Kri­do­sono, Jogjakarta, Desember 1978.

Kala itu dia membacakan sejumlah sa­jak seperti, Sajak Seonggok Jagung, Potret Keluarga, Sajak Pertemuan Ma­hasiswa, Sajak Joki Tobing untuk Widuri, Sajak Widuri untuk Joko Tobing, Bu­rung-burung Kondor, Sajak

Se­­batang Lisong, dan Sajak Orang-orang Miskin hingga Aku Tulis Pamflet Ini. Gara-gara sajak yang disebut terak­hir itu, Rendra ditahan polisi, Mei 1978. …

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com