Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

Tubuh yang Berkata-kata

Rakhmat Giryadi*
http://teaterapakah.blogspot.com/

Judul Buku: Antonin Artaud Ledakan dan Bom
Judul Asli: Blows and Bombs
Penulis: Stephen Barber
Penerjemah: Max Arifin
Penerbit: Dewan Kesenian Jakarta
Tahun Terbit I, Agustus 2006
Tebal, 200 + xxiv halaman

Antonin Artaud lahir dengan nama Antoine Marie Joseph Artaud, pada 4 September 1896, di dekakat kebun binatang Marseilles, Perancis. Artaud sendiri dalam berbagai kesempatan sering mengganti dan merusak namanya. Ia pernah mengganti namanya menjadi Eno Dailor untuk beberapa naskah awal Surrealisnya. Bahkan dalam satu periode ia mengumumkan ‘My name must disappear’ (namaku harus lenyap). Bahkan ia tak bernama sama sekali awal penahanannya di azilum. Usai pembebasannya di azilum ia memakai nama samaran ‘le Momo’ (bahasa slang Marseilles yang berarti si idiot, bodoh, atau ndeso).

Kehidupan Artaud merupakan tragedy besar, kegagalan dahsat datang silih berganti, dan tekanan demi tekanan. Tetapi ia memiliki semacam kekuatan magis dan kemapuan monume…

Doa dan Puisi

Bandung Mawardi
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

PUISI dan doa adalah urusan estetika dan religiositas. Puisi dan doa lahir dengan bahasa. Kata-kata memiliki peran dan kekuatan yang dikonstruksi untuk representasi atau realisasi. Puisi adalah konstruksi kata yang memiliki konvensi-konvensi estetika untuk mencapai sublimasi. Doa adalah konstruksi kata dengan konvensi-konvensi religius untuk mengucapkan dan mengungkapkan seruan, keluhan, pengharapan, dan kemauan. Doa dan puisi terus lahir dengan rahasia kata dan rahasia makna. Annemarie Schimmel (1996) menjelaskan bahwa doa adalah inti agama (lex orandi, lex credendi). Doa adalah suatu pengorbanan kata.

Tradisi sufistik memiliki catatan panjang kelahiran dan pewarisan doa-puisi yang mempertemukan dan meleburkan estetika-religius. Kaum sufi melantunkan kata-kata yang merepresentasikan kehidupan rohani. Kata-kata itu adalah doa-puisi yang mengantarkan sufi pada komunikasi religius dengan Tuhan dan mengabarkan pengetahuan pada manusia. Tr…

Adonis, ‘Modernitas Loakan’, Pembebasan

Damanhuri*
http://www.lampungpost.com/

SEBELUM para kritikus sastra berkali-kali mengelu-elukannya sebagai calon penerima Nobel Sastra, Adonis jelas bukan nama yang terlalu akrab di telinga kita. -lit

Sosok bernama asli Ali Ahmad Said Asbar itu barangkali baru mulai mencuri perhatian kita ketika salah satu karya terbaiknya, al-Tsabit wa al-Mutahawwil: Dirasah fi al-Ibda’ wa al-Itba ‘Inda al-Arab–menyusul penerjemahan beberapa puisinya dan dibukukan menjadi Perubahan-Perubahan Sang Pencinta (Grasindo, 2005)–diterjemahkan menjadi Arkeologi Sejarah Pemikiran Arab-Islam (LKiS, 2007).

Popularitas Adonis kian menanjak saat awal November lalu menyampaikan ceramah budaya bertajuk Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama di Teater Salihara, Jakarta. Padahal, jika kritikus sastra Adam Shatz bisa dipercaya, konon tidak pernah ada seorang pun dari sastrawan Arab modern yang dikagumi seperti Adonis.

Dalam sebuah esainya, An Arab Poet Who Dares to Differ (The New York Times, 13-7-02), Shatz bahkan menabalkan…

Membangkitkan Kembali Sastra Profetik

David Krisna Alka
http://www.sinarharapan.co.id/

Dalam membaca karya sastra khususnya puisi, mayoritas penikmat sastra mendambakan nuansa keindahan setelah membaca karya sastra. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi mereka, walau maksud dari puisi tersebut adalah kegetiran kata yang tak tampak pada kasatmata.

Sastra yang bermukim pada wilayah teologi Islam merupakan bibit dari munculnya kesusastraan Melayu. Sastra keagamaan yang merujuk pada Islam itu dapat dibagi menjadi tiga cabang; ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fikih. Di antara ketiga cabang ilmu dalam kajian Islam itu, ilmu tasawuf yang paling dekat dengan sastra, khususnya sastra Islam. Mengapa ilmu tasawuf disebut sebagai bibit dari corak sastra Islam?

Ilmu tasawuf menjelaskan tentang wilayah esoteris manusia dengan Sang Pencipta. Setelah melewati persinggahan-persinggahan (maqamat) dalam rasa kebatinan yang begitu dalam, banyak tokoh tasawuf (sufi) berharap untuk d…

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

Pionir Pamong Papua, Sebuah Kesaksian

Amiruddin Al Rahab
http://oase.kompas.com/

Proses peralihan kekuasaan di Papua dari Belanda ke Indonesia di mata elite-elite Papua tampak begitu panjang dan tersirat menekan perasaan. Ketika kekuasaan Indonesia hadir, sebagai Pamong Praja yang dididik Belanda secara modern untuk membangun politik dan pemerintahan dengan etos kerja keras, mereka ini seperti anak ayam kehilangan induk didadak oleh rajawali.

Hari-hari panjang transisi kekuasaan dari Belanda ke Indonesia di Papua hampir tak dikenal dalam literatur sejarah dan politik Indonesia. Sosok dan peranan orang-orang Papua yang telah mampu menjalankan roda pemerintahan hilang dalam peta sejarah dan politik Indonesia. Akibatnya transisi kekuasaan di Papua seakan menjadi dunia yang asing sekaligus tanpa catatan sejarah. Oleh karena itu, Papua seakan meloncat secara tetalogis ke dalam Indonesia.

Implikasinya adalah kekuasaan Indonesia yang hadir di Papua 40 tahun lebih melupakan sesuatu yang paling berharga dalam membangun politik di Pap…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com