Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Tuhan yang Dijual

Danarto
http://majalah.tempointeraktif.com/

PARA jemaah haji atau umrah biasanya "balik bertanya" bila diminta menguraikan perihal situs yang terletak di tengah Masjidil Haram, tapi memang Ka'bah itulah yang paling didambakan. Jauh-jauh datang dari Tanah Air, bisa menetap sampai empat puluh hari di Mekah, hanya Ka'bah yang ingin dinikmati di Tanah Suci. Menunaikan ibadah haji atau umrah, Ka'bah adalah tujuan peribadatan. Kalau sudah melihat Ka'bah, cukuplah hati ini terpuaskan. Sedangkan untuk berziarah di tempat lain, nanti-nanti sajalah. Lalu Ka'bah itu apa? Terserah pendapat Anda.

Boleh jadi, kedambaan akan Ka'bah sebenarnya suatu perasaan yang tak terkendali—seperti ketika kita melihat rujak, air liur kita terguncang—karena ibadah ke Tanah Suci sudah dengan sendirinya menatap Ka'bah. Nah, dengan sambil lalu pun, para jemaah bisa melihat dan menyentuh Ka'bah karena monumen itu termasuk dalam rukun haji dan umrah.

Yang paling eksotis dan mistis …

Indonesia Bergerak

Radhar Panca Dahana
http://wap.gatra.com/

Akhirnya soal itu kini menjadi jelas, jadi nyata dan terbukti faktual. Sebelumnya ia masih ditengara, sekadar rumor atau gosip, perkiraan, bahkan sebagian mengejeknya sebagai pikiran yang konspiratif. Tapi bahkan pertemuan eksekutif dan juragan top dunia di Washington beberapa hari lalu dan juga para pemimpin moneter G-8 yang akan kumpul di Korea Selatan mengakui hal itu: pelbagai krisis yang melanda dunia belakangan ini, yang membuat hipertensi politisi seluruh dunia, mengacaukan dunia bisnis global dan menyengsarakan rakyat kecil semesta, tidak lain karena ulah satu pihak ini: spekulan!

Kaum yang karena cara berpikir dan perbuatannya ini membuatnya tergolong sebagai dajal modern itu sungguh sudah dapat diidentifikasi keberadaan bahkan identitasnya. Dengan ulahnya yang semata dihela ketamakan diri, mengeksploitasi logika kapitalisme tentang kebebasan dan etos will to be rich, telah memerkosa celah perdagangan derivatif dunia untuk mempermainkan …

Syak Wasangka Kebenaran Holocaust

Judul Buku : Holocaust Fakta atau Fiksi?
Penulis : Stephane Downing
Penerjamah : Dwi Ekasari Ariyani
Penerbit : Med Press
Cetakan : I, 2007
Tebal : 172 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Peristiwa-peristiwa spektakuler yang layak dikenal dan dikenang tak lepas dari preseden sejarahnya. Ia tetap bergelantungan dideret-deret pojok bisu sejarah, meski kita mengobrak-abrik, memanipulasi, dan menutup-nutupi. Bagaimana pun, sejarah lahir dari rahim kesadaran yang dihentakkan oleh bunyi realitas faktual, tak akan hilang keotentikannya.

Kini tak sedikit batu-bata sejarah digugat, di break down, hingga ditelanjangi sampai-sampai segepok pertanyaan yang menghinggap dibenak berangsur hilang. Secara logika, kita tak lagi mampu berdialog dengan sejarah. Karena, sejarah berdialog dengan kausalitas korelasi antara massa waktu saat itu dan kejadian sejarah. Maka dari itu, kita terkesan patah ketika hendak mendefinisikan, menafsirkan, apalagi menyimpulkan eksemplar uraian sej…

Konflik Ideologi Agama dan Politik dalam Novel Teguh Winarsho

Yosi M Giri*
http://www.kompas.com/

Jika Solzhenitsyn–melalui karya-karyanya–menyuguhkan gambaran perubahan sosial (baca: masyarakat) di bawah cita-cita komunisme di Rusia sebagai sebuah penolakan terhadap gagasan historical optimism, maka seorang Prameodya Ananta Toer (Pendekar Pulau Buru) justru menyajikan historical truth, melalui Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang menggambarkan masyarakat dalam kurun sejarah tertentu beserta perubahan-perubahan sosialnya.

Masing-masing pengarang tentu saja memiliki kebebasan dalam memformulasikan masa lampau melalui karyanya untuk menolak atau justru mendukung gambaran sejarah yang telah mapan. Lalu bagaimana dengan pernyataan Kuntowijoyo tentang tidak adanya karya sastra Indonesia yang merupakan kritik sosial yang mampu membentuk public opinion masyarakatnya?

Pernyataan Kuntowijoyo itu dapat dimaklumi, karena pengarang-pengarang yang hidup pascarevolusi, terutama sejak munculnya Orde Baru, mereka mengalami tekanan (untuk tidak menyebut phobia) o…

Rendra, 70 Tahun

Goenawan Mohamad
http://www.korantempo.com/

Rendra adalah sebuah pergulatan yang penting dalam sejarah pemikiran Indonesia.

Rendra adalah sebuah pergulatan yang penting dalam sejarah pemikiran Indonesia. Hidupnya yang kini mencapai 70 tahun terbentang dalam sebuah masa yang panjang di mana percakapan, gagasan, dan kekuasaan bentur-membentur. Dan ia ada di dalam perbenturan itu, ia adalah perbenturan itu, sebagai pelaku, saksi, dan juga penderita.

Tapi baiklah saya mulai dengan mengatakan apa yang sudah umum diketahui: Rendra, sejak ia berangkat sebagai penyair, adalah sebuah suara tersendiri.

Ketika saya masih seorang murid sekolah menengah pertama pada sekitar tahun 1955, saya baca sajak seperti Litani Domba yang Kudus dengan tercengang dan terpesona. Sajak ini melantunkan pengulangan yang berbunyi seperti dalam doa, tapi juga seperti permainan anak-anak yang tangkas, dengan imaji yang datang dari khazanah yang tua namun juga terasa akrab.

Ia sungguh berbeda dari corak puisi umumnya setela…

Cerpen Versus Puisi

Alex R. Nainggolan*
http://www.hupelita.com/

SEJAK Seno Gumira Ajidarma membedah melalui gaya penulisan cerpennya, terutam dengan diterbitkannya kumpulan Cerpen “Manusia Kamar”, dunia kepenulisan Prosa Indonesia mengalami metamorfosa yang sangat liar. Remy Novaris DM, dalam salah satu esai menulis kalimat di atas. Saya justru melihatnya dalam dunia prosa ada sebuah perubahan yang berlanjut.

Semacam ada sebuah energi yang mendesaknya untuk melakukan sebuah pembaruan “radikal”. Begitu dashyatnya peta perjalanan prosa Indonesia. Apabila Sutardji berulang kali menafsirkan peta perpuisian Indonesia dianggap sudah mencapai pembaruannya, dengan menuliskan sebuah “Kredo Puisi”, yakni pembebasan sebuah kata dari makna maka tamatlah riwayat perjalanan perpuisian Indonesia.

Apa yang ditempuh para pendahulu di bidang puisi telah mencapai tahapan yang masimal. Permulaan tahun 1945, Chairil Anwar dianggap merombak diksi-diksi yang konon begitu sakral, dan dipercayai Pujangga Baru, sebagai aturan yang t…

Perpuisian Yogyakarta di Era Transisi

Abdul Wachid B.S.
http://www.mathorisliterature.blogspot.com/

1. Pengantar : Persada Studi Klub, Era Transisi, Perpuisian Yogya 1980-an

Pengertian “di era transisi” sangatlah sosiologis, yakni masa peralihan, pancaroba. Namun, peralihan dari apa ke apa, dan dalam konteks apa? Dalam konteks kebudayaan pengertian “transisi” sangatlah kompleks. Dalam konteks politik, boleh jadi, hal itu dikaitkan dengan pergantian rejim dari Soeharto ke B.J. Habibie, dan berakhir dengan Pemilu yang di sepanjang sejarah Indonesia paling demokratis yaitu dengan terpilihnya K.H. Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI ke-4.

“Transisi” dalam konteks kesusastraan dapat dibaca sebagai berikut:

(1) Suatu masa di mana sastra “terus mencoba budaya tanding”, [1] baik melalui pengungkapan yang paling keras yaitu berposisi berhadapan langsung dengan negara, maupun menjelmakan “budaya tanding” itu melalui estetisme, dan semua ini berlangsung sebelum Reformasi Mei 1998. Yang pertama, berakhir dengan pembredelan dan pencekala…