Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Saat Sastrawan Butuh Manajer

Mustafa Ismail
http://www.serambinews.com/

Di atas panggung, cerpenis Hamsad Rangkuti, sebelum membaca puisi, berguyon; Malam ini, saya menyumbang panitia Rp 2 juta. Malam itu di lapangan parkir Taman Ismail Marzuki, 28 April 2008, sekelompok sastrawan dan seniman mengadakan Malam Puisi Chairil Anwar. Acaranya cukup sederhana, digagas secara gotong royong plus sokongan pengelola Taman Ismail Marzuki (jangan salah, yang dimaksud ini bukan Dewan Kesenian Jakarta).

Remmy Novaris DM, seorang penyair (pada 1980-1990-an) dikenal sebagai penulis cerpen remaja yang produktif, satu persatu memanggil para seniman untuk tampil. Ada Sutardji Calzoum Bahri, Abdul Hadi WM, Leon Agusta, Rahmat Ali, Amien Kamil, Sri Warso Wahono, Syahnagra Ismail, Chavchay Syaifullah, dan banyak lagi. Acara dimulai sejak sore hingga sekitar pukul 21.15. Saya datang agak terlambat, menunggu sebentar langsung dipanggil membacakan puisi.

Hamsad datang tak lama setelah saya membaca puisi. Tapi benarkah Hamsad menyumbang dua…

Pengukuhan Prof Dr Abdul Hadi WM Diwarnai Diskusi Kebudayaan dan Musikalisasi Puisi

Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Hujan baru saja reda. Sehingga acara pembacaan dan musikalisasi puisi Abdul Hadi : Kado Untuk Maestro berjalan lancar yang digelar di halaman kampus Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu malam lalu.

Malam itu merupakan hari kedua acara Tapak Budaya Paramadina: Tiga Hari Bersama Prof Dr Abdul Hadi WM, menjelang pengukuhan penyair Dr.Abdul Hadi Wiji Muthari sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, pekan lalu.

Sejumlah penyair membacakan puisi-puisi karya Abdul Hadi yaitu Sutardji Calzoum Bahri membacakan puisi Sarangan dan Tanya, Slamet Sukirnanto.membacakan puisi Tuhan, Kita Begitu Dekat, Diah Hadaning memilih puisi Surat Atas Hidup. Kemudian tampil beberapa penyair lainnya seperti Leon Agusta, Wowok Hesti Prabowo, Adri Darmadji Woko, Ahmadun Yosi Herfanda, Jamal D Rahman, Endang Supriadi, dan Wanda Leopolda. Tak ketinggalan cerpenis Hamsad Rangkuti setelah membaca puisi Abdul Hadi …

Minuman Ringan Penggugah Iman

Muhammd Ali Fakih AR
http://www.surabayapost.co.id/

Pada suatu hari Abu Bakar Ar-Razi berkata kepada para muridnya, “Iman dalam hati seorang mukmin bagai sebuah pohon yang memiliki tujuh ranting: pertama, ranting yang melambai sampai ke hati, buahnya adalah kemauan yang benar. Kedua, ranting yang melambai sampai ke mulut, buahnya adalah perkataan yang jujur. Ketiga, ranting yang melambai sampai ke kaki, buahnya adalah berjalan menuju majelis taklim. Keempat, ranting yang melambai sampai ke tangan, buahnya adalah memberi sedekah. Kelima, ranting yang melambai sampai ke mata, buahnya adalah melihat untuk mendapat pelajaran. Keenam, ranting yang melambai sampai ke perut, buahnya adalah makan yang halal dan meninggalkan yang syubhat. Ketujuh, ranting yang melambai sampai ke jiwa, buahnya adalah meninggalkan syahwat.

Kisah singkat di atas dikutip dari buku Spiritual Softdrink, hasil saduran M. Tajuddin. Sebuah cerita yang di dalamnya penuh dengan hikmah dan merupakan piranti perenungan yang t…

Hantu, Perempuan Sundal, dan Kebohongan Bramanto

Fakhrunnas MA Jabbar
http://www.lampungpost.com/

Akulah hantu itu. Tertiup angin aku datang ke pulau yang mulai gemerlapan ini. Tersebab lupa, aku tak tahu darimana aku tiba. Aku bisa berumah di awang-awang atau berhimpun dalam gemuruh hujan dan petir. Tak usahlah aku berterus-terang ihwal asalku. Orang-orang Melayu kebanyakan agak berpantang membincangkan soal itu. Kecuali, para batin dan bomoh yang sewaktu-waktu bisa saja memanggilku tanpa surat perintah sekali pun. Aku hanya takluk pada mantera dan bacaan gaib serta bau-bauan kemenyan atau ramuan kembang para batin atau bomoh tadi.

Oleh karenanya, aku bisa diperalat oleh siapa saja yang mengimpikan suatu pengharapan dan cita-cita. Ya, aku mengalir dalam takhayul-takhayul orang kesurupan akan harta dan jabatan. Maaf, tak mungkin aku berterus-terang siapa saja yang pernah menggunakanku untuk mencapai ambisi-ambisi pribadinya. Sssttt...off the record-lah gitu...!

Seperti angin dan bau-bauan, aku pun bergentayangan begitu saja di pulau ini…

Puisi-Puisi Thowaf Zuharon

http://sastrakarta.multiply.com/
Suatu Siang di Tanah Itu
- buat Windy

di sebuah tanah yang telah merantaukan
muram buku harianmu, tempatmu
mencatatkan kalut, yang ternyata dulu
tertanam pada kulit pohon kepel,
pada dinding gedung-gedung yang terpugar
karena iklan dan sumbangan,
di situ, sebuah hari, bagimu
hanya kereta tua yang cepat berlalu
tanpa mau mengucap salam perpisahan,

hari yang membuatmu selalu ingin
menyusun gurauan di kantin penuh angin,
penuh pertanyaan dan jawban.
di tanah itu, kau begitu suka
menggumamkan kisah-kisah sederhana.
tentang ibumu yang bergincu kecemasan.
tetanggamu yang melesat kerja ke negeri jauh,
atau kekasihmu yang kian larut dalam kesibukan

di tanah itu, kau pun menyusup dalam langkahku,
membagi keraguanmu
pada jalan-jalan yang berlimpah
rintangan, tangis dan harapan
mimpi itu begitu pekat, katamu,
seperti raut lelah tukan batu yang kerap gugup
menatap segala harga yang terus melaju



Fantasi Hujan Siang Hari

kalau deras hujan menjelma kata-kata
tak perlu lagi kita bicara, menulis, …

Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar

http://sastrakarta.multiply.com/
Di Malam Lain Pada Sebuah Ujung

Malam pertama: kita bertemu di sela waktu
menyibukkan jarumnya pada setiap putaran
lalu melelehkan gerimis dari kisi jendela
tempat kamu gantung jam dinding

tahukan kamu? tirai jendela rumahmu
(hadiah ulang tahun, dari jejak usia yang fana)
waktu tak selalu merindukan tidurmu
dan terus bergerak mengarak nafasmu
melompat ke luar pagar tanpa kau duga
melewati jedah istirahatmu yang fana pula

Malam kedua: kita saling membuang pandang
ke bubungan

entah kapan, matahari melucuti lapisan awan
tak perlu lagi menunggu ketukan berulang
tanpa harus selangkan pandang
pada busur jam yang terus memburu jejakmu
di jalan setapak bercabang
kita mesti ke luar
meniti keluh: meski peluh membengkakkan sel tubuh

di malam yang lain: kita bersepakat

menyulut api, lalu memadamkannya

Sajak-Sajak Teguh Ranusastra Asmara

http://sastrakarta.multiply.com/
Siapakah Aku

di antara bunyi yang sepi
kulewati jalan setapak ini
tak kan jejakku berpaling pada kasih pengembara
disini ada setumpuk lengking yang bisik
seperti wajah orang dengan kerut-kerut tuanya
memandang bulan mengaca di telaga

Yogya, Awal April 1969



Jalan yang Putus

katakan bahwa kereta tak akan berhenti lagi
di rel ini yang tua
sinya-sinyal mengangguk tunduk berkarat
dulu kereta selalu lewat
dengan bunyi desah yang mengisi senja hari
termakan muatan, manusia penuh tanda tanya
mana kepala setasiun ?
disini kereta tak mau lagi berhenti
rel kembali membujur, dan setasiun
dimakan beribu-ribu kesepian

Yogya, 1969



Sebuah Ruangan Tua

sudahkan tirai ini kau buka kembali
bau busuk, dan debu menambah
ruangan makin hitam
ramat-ramat adalah lukisan dinding tanpa pigura
semua serba mendekap
mentari pertama yang menyentuh dinding
jamur pada melekat
untuk inikah kau akan memulai
langkah yang baru, jalan lenggang

bukalah tirai lebar-lebar
kalau tak ingin mati dibius kepadatan mimpi

Yogya,…

Puisi-Puisi Abdul Azis Sukarno

http://sastrakarta.multiply.com/
SEJAK LAMA KITA TELAH CACAT

terlalu sering kita berjalan dan tersesat
terlalu sering kita lukai kaki kita sendiri

mau kemanakah kita sebenarnya?
kenapa harus ada tujuan dan kita harus meyakininya?

hidup dan hiburan sepertinya tak bisa diceraikan
memisahkannya berarti sendiri dan mati

lihatlah, bagaimana kebohongan menjadi kawan
satu-satunya?

dunia adalah sarang jebakan dan perangkap
untuk kita selamanya. harapan mampu berlari kencang
adalah sikap aneh dan menyedihkan
marilah kita menololkan diri habis-habisan. atau
memintarkan diri kita dengan banyak kebodohan
jangan percaya, bahwa kita lebih hebat dari siapapun
Jangan percaya, bahwa masing-masing diri memiliki
kelebihan. itu hanya gejala 1 persen + 99 keberuntungan

ingat, kita telah lahir dalam keadaan cacat
cacat melihat, cacat mendengar, dan cacat merasakan
kebenaran! kita semua adalah produk cacat mental
sehingga, tak perlu heran, bila kita lamban dalam segalanya

dunia adalah pusat aborsi,
bagi kandungan pikiran-pikira…

Cinta, Sastra, dan Kita

Matroni El-Moezany
http://www.sinarharapan.co.id/

Cinta tak lain adalah sebuah reaksi kimia tubuh yang segalanya bisa diterangkan sebagai persoalan senyawa kimia. Belakangan ini para ilmuwan semakin tertarik menerangkan perasaan manusia sebagai gejala kimia biologi.

Bukan lagi gejala jiwa atau psike. Sesungguhnya ini sangat kontroversial. Tren penemuan-penemuan belakangan ini menunjukkan bahwa yang selama ini dianggap sebagai jiwa dalam bentuk sifat, perasaan, perilaku ini dapat dikendalikan bahkan diubah melalui manipulasi hormon dan senyawa kimia otak.

Jadi, implikasi secara ekstrem adalah tak ada jiwa, tak ada badan, tak ada psikis, yang ada biologi. Tak ada ruh, yang ada organisme, kalau tak ada ruh, ya tak ada yang namanya hari kiamat.

Bukanlah aku sangat paham akan cinta dan bila kusingkap dan kutumpahkan cinta kekasihpun telah menyingkapkan dan menampakkan dirinya sungguh aku hanyalah mencintai cinta (Puisi Amen Wangsitalaja).

Demi pemahaman akan cinta kita semua butuh pengetahuan,…

Panca Sila

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Amat minta dibuatkan nasi kuning.

“Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga.

“Merayakan kelahiran Panca Sila.”

“Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?”

“Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!”

Bu Amat tercengang, kontan membentak.

“Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!”

Amat tidak membantah. Kalau dibantah, pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.

“Tenang saja, “kata Amat pada Ami, “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbed…

MONUMEN SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Ketika Sutardji Calzoum Bachri (SCB) memproklamasikan Kredo Puisinya: “membebaskan kata dari beban makna, menghancurkan penjajahan gramatika, dan mengembalikan kata pada awalnya, pada mantera” dan coba mengimplementasikan sikap kepenyairannya itu dalam karya, jagat sastra Indonesia–khasnya puisi— seketika seperti dilanda kegandrungan eksperimentasi. Semangat kembali pada tradisi dan kultur etnik –yang dirumuskan Abdul Hadi WM sebagai kembali ke akar kembali ke sumber— laksana memasuki zaman aufklarung: menyebarkan pencerahan betapa sesungguhnya Nusantara punya warisan kultur agung.

Kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak (1973) yang sarat mantera seperti saklar yang mengingatkan sastrawan—penyair pada corak keindonesiaan yang menjelma dengan semangat dan elan baru. Bukankah keindonesiaan terbentuk melalui perjalanan panjang dan rumit proses akulturasi dan inkulturasi etnisitas berhadapan dengan kebudayaan Hindu, Buddha, Islam…

EKSPRESI RUANG DI ANTARA PENDAPAT

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

"Kecenderungan itu suatu kerahasiaan yang sedikit terungkap"

Pendapat ialah nilai, kelembutan air atau hembusan angin. Di antaranya ada nilai-nilai yang bisa digali tempat duduknya. Kita tak dapat memaksa pembaca, melaksanakan yang pernah kita geluti di alam nalar jadi keyakinan. Cukuplah diri, biar lainnya menarik jarak tempuh sebab perjalanan insan berbeda-beda.

Barangkali maksud temuan dari pendapat sebelumnya. Bagaimanapun tempat damai di hadapan orang, bisa berbalik kekacauan. Maka keadilan sebagai waktu mendiami ruang berketepatan, percakapan cahaya yang menjelma pembicaraan hangat menghadirkan kesadaran.

E.M. Cioran itu anak emas pendapat Nietzsche, tapi saudara boleh tak sefaham. Meski ada kesamaan nilai, boleh tak sama pengertian dalam batok kepala. Yang terindah mengambili sesuatu, serta mengeluarkannya dengan kemampuan melewati pengertian, sebagai keadilan penilaian atau pijakan.

Kita tidak mungkin mengikuti …

MENGUAK JENDELA KEPENULISAN DJENAR MAESA AYU

Sutejo
Ponorogo Pos

Djenar Maesa Ayu, adalah sastrawan perempuan mutakhir yang tidak pernah ambil pusing dengan berbagai sebutan. Sebutan yang mengganggu sebagian perempuan itu adalah sastrawangi. Dalam Prosa4, 2004) terungkap bagaimana sisip-sisi proses kreatifnya yang menarik untuk dikritisi sebagai cermin ajar. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa surat kabar dan majalah seperti: Kompas, Media Indonesia, Republika, Lampung Post, Horison, dan Majalah A+.

Puisi-Puisi S Yoga

http://www.kompas.com/
http://syoga.blogspot.com/
PELANCONG

mereka turun dari kapal di gelap malam
membawa senter, oncor dan peta masa lalu
dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar
di sebuah tempat yang tak terduga
sebuah semenanjung di sebuah pulau
tempat budak-budak diternak

terdengar lolong serigala di perbukitan
tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan
dan hutan yang terbakar
rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran
karena ia selalu lepas dari genggaman

beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu
ketika mendengar suara-suara binatang malam
kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang
tunggu semua burung-burung pulang ke sarang
agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan

ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu
aku pun diam di bawah pohon besar
dekat sebuah makam purba bernisan batu
aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas

di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan
sebelum esok pagi kita pergi ke besuki
panarukan, panji dan asembagus
melihat pabrik-pabrik dan bising…

Malam Menggelepar di Tanjungkarang

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

Udara dingin malam jatuh semaput merajut tubuh Pedro. Ia merasa nyerinya menusuk sampai ke tulang, barangkali kemarau telah sampai di akhir Juni ini. Tapi ia tetap saja berjalan, menelusuri jalan Tanjungkarang yang sebenarnya sudah akrab baginya. Ia ingin menuntaskan sesuatu, di kepalanya telah lama bertungkai pelbagai rencana: mungkin ke tempat hiburan malam, menenggak bergelas-gelas bir, mencari perempuan yang bisa menemaninya sebentar, atau bila segalanya tak satu pun yang terpenuhi, ia akan melamun sendiri, berdiam di dalam sunyi, menyimak kota Tanjungkarang yang dibalut warna-warni cahaya lampuan.

Ia melihat di ujung jalan, malam menggelepar, sepertinya semakin sunyi, barangkali siap-siap untuk masuk ke peraduan, ke dalam tidur yang panjang.

Ia masih saja berjalan. Mobil yang dikendarainya terus saja melaju, membelah udara. Ia merasa angin masih saja menampar dirinya, menelusup lewat jendela, yang tak bisa disingkirkan. Ia …

TINJA DABO

M. Arman AZ
http://www.suarakarya-online.com/

Kota basah kuyup jam dua malam. Dari balik langit hitam, jemari raksasa itu belum juga letih menabur serbuk-serbuk air ke bumi. Jalanan senyap. Orang-orang mengurung diri dalam rumah. Sembunyi dari gigitan dingin. Sesekali terdengar desis roda mobil berlari menyibak gerimis. Tiang lampu jalan menjulang bagai pepohon besi tanpa daun dan ranting. Di pucuknya, lampu bundar memancarkan cahaya bulat keemasan.

Dabo gelisah tak bisa tidur. Punggungnya bersandar di tembok. Sepasang kakinya selonjor di atas bentangan tikar plastik usang dan kardus bekas. Sarung cokelat kumal yang melapisi badannya kalah melawan dingin. Wajah Dabo pucat. Bukan karena cuaca atau tempias yang sesekali membentur wajah. Sedang terjadi perang dalam perutnya. Dia merasa tak enak badan. Mungkin masuk angin. Sejak tadi tangan kanannya mengeram di balik kaos kumal. Mengelus-elus perut yang terasa tegang melilit. Sesekali bibirnya gemetar lirih mendesiskan nama Tuhan. Dabo b…

Tentang Keterasingan dan Kegilaan

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Novel pertama pemenang Nobel Sastra 2008, J.M.G Le Clezio

Adam Pollo, seorang laki-laki berusia 20-an menemukan sebuah rumah kosong di sebuah pinggiran kota Prancis. Adam yang pendiam memutuskan untuk tinggal di sana. Berbulan-bulan, ia hanya ditemani kesunyian, pemikirannya, dan sebuah buku catatan tempat ia sering menulis surat yang tak pernah ia kirimkan kepada seorang perempuan bernama Michele.

Kontaknya dengan manusia lain hanya terjadi saat ia pergi berbelanja ke kota untuk mendapatkan kebutuhan sehari-harinya: rokok, roti, dan masih banyak lagi. Lama-kelamaan Adam bahkan merasa tak nyaman dengan pertemuan-pertemuannya yang teramat jarang itu. Ia berusaha menghilangkan dirinya dari kerangka penilaian-penilaian yang berlaku dalam masyarakat, dengan cara membayangkan diri sendiri menjadi seekor binatang, seekor anjing yang hidup di sekitar rumah kosong yang ditempatinya, atau tikus-tikus di rumah kosong itu.

Identitas Adam sendiri adalah sesuatu ya…